DAPATKAH ORANG BUTA MELEK TEKNOLOGI?

Iptek : Teknologi bagi Tunanetra
oleh : Dimas Prasetyo M.

Mungkin kita masih tidak percaya ketika mendengar bahwa tunanetra bisa mengoperasikan komputer atau bahkan berselancar di belantara internet. Tapi pada kenyataannya, semua hal tersebut sudah terjadi. Para tunanetra dengan bantuan teknologi maju sudah bisa mengoperasikan komputer. Baik itu operating system windows, program microsoft office, atau hanya sekedar memutar musik berformat mp3 yang tersimpan di hardisk komputer.

Teknologi bagi tunanetra ini dengan sendirinya telah membantu proses pengwujudan masyarakat yang inklusif. Paradikma masyarakat mulai terbuka dan sadar bahwa tunanetra bukan hanya tukang pijit, pemain alat musik, atau peminta-minta. Tapi sekarang masyarakat tahu bahwa ada yang bisa mengoperasikan komputer, melakukan tugas tulis menulis, membuat musik melalui keyboard dan komputer, menjadi penerjemah bahasa, dan lain-lain.

Bukti nyata bahwa tunanetra bisa mengoperasikan komputer, berselancar di internet, atau bahkan membuat website sendiri adalah situs kartunet.com. Situs yang beralamat di http://www.kartunet.com ini merupakan website yang benar-benar karya tunanetra. Kartunet itu sendiri adalah singkatan dari “karya Tunanetra”. Di dirikan oleh empat orang penggagas yaitu Irawan Mulyanto, Dimas Prasetyo M, Ikhwan Toriqo, dan Aris Yohanes, website ini bertujuan untuk mensosialisasikan kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh para tunanetra. Dalam website ini terdapat berbagai karya sastra, baik itu yang ditulis sendiri oleh para tunanetra atau masyarakat umum pengunjung situs kartunet.com. Di dalamnya juga terdapat beberapa fasilitas lain yang bisa diakses oleh semua orang seperti forum diskusi, halaman curhat, buku tamu, game sederhana, dan ramalan bintang. Website ini bukan hanya bisa dinikmati secara audio oleh tunanetra melalui software yang akan dijelaskan dibawa ini, tetapi juga oleh orang normal kebanyakan yang menggunakan metode visual. Pada intinya, situs kartunet.com ini adalah wadah tempat berkreasi bagi para tunanetra yang diperuntukan bagi tunanetra dan juga semua kalangan.

Dari fakta di atas, mungkin anda masih bingung, bagaimana para tunanetra ini bisa membuat website tanpa anda mengetahui bagaimana keadaan komputer yang dipergunakan oleh mereka. Komputer accessible bagi tunanetra yang kemudian disebut komputer bicara ini adalah sebuah PC atau Laptop standard. Tak ada bedanya dengan yang mungkin anda gunakan sekarang. Tapi ada sebuah software yang harus diinstall terlebih dahulu dalam komputer tersebut sehingga bisa dipergunakan oleh seorang tunanetra. Program ini untuk selanjutnya disebut program pembaca layar atau Screen reader. Sebagai contoh salah satu merek dari program ini adalah JAWS yang merupakan singkatan dari Job Access with Speech yang bisa anda lihat info lebih lengkapnya di homepagenya di alamat http://www.freedomscientific.com. Prinsip kerja dari program pembaca layar adalah memperoses tulisan atau teks yang muncul di layar untuk kemudian direproduksi dalam bentuk suara yang bisa didengar oleh seseorang melalui headset atau loud speaker. Untuk program jaws misalnya, ia masih menggunakan sistem speling dan pronunciation bahasa inggris, jadi sebuah teks dalam bahasa apapun, akan dieja dalam bahasa inggris. Tapi perlu ditekankan, bukan diterjemahkan dalam bahasa Inggris, hanya dibaca dengan dialeg Inggris. Jadi pada intinya, semua yang muncul dan tertulis dilayar, dapat dibaca oleh tunanetra dengan mendengarkan suara yang membacakan lafal dari teks tersebut. Hanya teks yang dapat dibaca, tidak bisa buat gambar atau grafik. Singkat cerita, mekanisme ini seperti seorang pembaca pribadi bagi tunanetra yang terdapat dalam sebuah komputer.

Selain dipergunakan untuk mengetik dan mengolah data, tunanetra juga bisa membaca buku atau naskah dalam format tulisan awas (istilah untuk tulisan biasa) melalui komputer bicara ini. Dengan bantuan alat yang disebut scanner, tunanetra bisa dengan mandiri membaca naskah awas tanpa perlu dibacakan lagi oleh orang normal. Sehingga pekerjaan membaca buku yang sebelumnya harus dalam bentuk tulisan braille atau direkam dalam kaset atau CD dapat dipersingkat dengan langsung membacanya melalui komputer.

Walaupun membaca buku melalui komputer sudah memungkinkan, tapi media buku bicara masih efektif untuk dipergunakan. Media ini disebut buku bicara karena teknik pembuatannya adalah dengan merekam suara pembacaan sebuah buku oleh seseorang yang disimpan dalam bentuk kaset atau digital CD. Sehingga jika seseorang memutar kaset atau CD tersebut, maka akan terdengar suara seseorang membaca buku yang kemudian disebut buku bicara.

Buku bicara ini pada umumnya lebih digemari oleh tunanetra. Karena dapat lebih dimengerti dengan adanya intonasi dan ekspresi dari pembaca buku bicara. Sejauh pengetahuan penulis, produksi buku bicara ini baru dilakukan oleh Yayasan Mitra Netra yang bergerak dibidang pendidikan dan rehabilitasi tunanetra. Buku bicara ini pada awalnya diproduksi dalam bentuk kaset, kemudian Yayasan Mitra Netra sudah mulai memproduksi dalam bentuk digital CD yang lebih praktis. Tapi sekarang juga sudah diproduksi dalam bentuk ebook halaman-halaman HTML. Yang bisa diakses melalui program internet browser.

Kemudian mungkin anda juga ingin tahu, apakah tunanetra bisa mengakses telepon genggam yang populer disebut handphone. Kita semua mengetahui bahwa telepon genggam khususnya untuk tipe-tipe terbaru memiliki feature dan menu-menu yang rumit. Tapi ternyata, handphone tersebut pun bisa diakses oleh tunanetra. Mekanismenya sama seperti komputer yang menggunakan screen reader atau pembaca layar. Handphone terlebih dahulu diinstall program yang disebut talks. Program ini berjalan pada handphone yang berbasis operating system symbian. Jadi program sscreen reader yang sudah terinstall, akan membacakan menu-menu dan perintah-perintah yang terdapat dalam handphone. Program ini sangat membantu bagi tunanetra terutama dalam membaca dan menulis sms. Sehingga tunanetra juga memiliki privasi dalam hal tersebut. Tidak perlu lagi meminta orang awas (sebutan untuk orang normal) membacakan isi sms yang kemungkinan tidak ingin isinya diketahui oleh orang lain.

Semua teknologi yang sudah penulis sebutkan di atas, sangatlah membantu sekali bagi tunanetra. Mereka bisa mengfungsikan kembali kemampuan administrasi atau tulis menulis yang sebelumnya sangat sulit dilakukan secara mandiri. Tapi sayangnya, hal-hal tersebut belum tersosialisasi dengan baik dalam masyarakat. Mereka masih menganggap instalasi teknologi bagi tunanetra membutuhkan biaya yang sangat mahal. Walaupun penulis juga akui instalasi teknologi bagi tunanetra cukup mahal, tapi manfaat yang dihasilkan jauh lebih besar jika dibandingan dengan harganya.

Penulis menginginkan setiap warnet memiliki minimal dua komputer bicara yang bisa diakses oleh tunanetra. Sehingga tunanetra yang tidak memiliki komputer di rumah, bisa mengakses teknologi dan informasi yang serupa lewat warnet. Sebenarnya hal tersebut tidak terlalu sulit untuk direalisasikan. Harga program pembaca layar sekitar 250USD. Tapi juga tersedia versi trial yang bisa dipasang gratis tanpa biaya.

Perpustakaan juga akan menjadi aksesibel jika menyediakan buku-buku dalam versi tulisan braille atau buku bicara. Sebelumnya, tunanetra menganggap perpustakaan adalah tempat yang tak bisa diakses. Tapi jika tersedia buku braille dan buku bicara, maka mereka juga bisa membaca buku langsung di perpustakaan atau meminjamnya untuk dibaca di luar perpustakaan. Selain itu bisa juga perpustakaan tidak perlu menyediakan buku braille atau bicara, tetapi cukup komputer bicara yang akses katalog atau tulisan braille yang memuat informasi buku-buku apa saja yang tersedia di perpustakaan tersebut. Sehingga tunanetra tidak perlu meminta pertolongan orang awas untuk mencari buku dan membacakan katalog.

Teknologi bagi tunanetra memang sangat bermanfaat. Hal ini bisa memberikan hak-hak tunanetra yang sama dengan orang lainnya. Jangan pernah jadikan tunanetra dan penyandang cacat yang lainnya sebagai beban, tapi izinkan pula mereka dalam peran serta menyukseskan pembangunan bangsa. Penulis berharap teknologi ini bisa cepat tersosialisasikan dalam masyarakat. Sehingga bisa melahirkan ahli-ahli ilmu pengetahuan berikutnya yang berasal dari kaum penyandang cacat. Karena mereka juga warga negara yang memiliki hak dan kewajiban untuk memajukan kehidupan bangsa. (DPM)

(Artikel ini pernah diperbitkan pada Harian Media Indonesia Rabu, 27 Februari 2008)

About these ads

Komentar ditutup.