KUPAS TUNTAS KREATIVITAS

APAKAH KREATIVITAS ITU?

Kreativitas adalah kemampuan untuk mencipta/berkreasi. Tidak ada satu pun pernyataan yang dapat diterima secara umum mengenai mengapa suatu kreasi timbul. Kreativitas sering dianggap terdiri dari 2 unsur, Pertama: Kefasihan yang ditunjukkan oleh kemampuan menghasilkan sejumlah besar gagasan pemecahan masalah secara lancar dan cepat. Kedua: Keluwesan yang pada umumnya mengacu pada kemampuan untuk menemukan gagasan yang berbeda-beda dan luar biasa untuk memecahkan suatu masalah.

Istilah kreativitas digunakan untuk mengacu pada kemampuan individu yang mengandalkan keunikan dan kemahirannya untuk menghasilkan gagasan baru dan wawasan segar yang sangat bernilai bagi individu tersebut. Kreativitas dapat juga dianggap sebagai kemampuan untuk menjadi seorang pendengar yang baik, yang mendengarkan gagasan yang datang dari dunia luar dan dari dalam diri sendiri atau dari alam bawah sadar. Oleh karena itu, kreativitas lebih tepat didefinisikan sebagai suatu pengalaman untuk mengungkapkan dan mengaktualisasikan identitas individu seseorang secara terpadu dalam hubungan eratnya dengan diri sendiri, orang lain, dan alam.

MENGAPA MANUSIA BERKREASI?

Para ahli psikologi tidak sependapat mengenai kebutuhan dan motif dasar yang dimiliki manusia untuk berkreasi. Meskipun demikian, imbalan dan penghargaan nyata yang dapat diamati dapat diidentifikasikan sebagai motif manusia untuk berkreasi. Manusia yang menjadi lebih kreatif akan menjadi lebih terbuka pikirannya terhadap gagasannya sendiri maupun gagasan orang lain. Sekalipun beberapa pengamat yang memiliki rasa humor merasa bahwa kebutuhan manusia untuk menciptakan berasal dari keinginan untuk “hidup diluar kemampuan mereka”, namun penelitian mengungkapkan bahwa manusia berkreasi adalah karena adanya kebutuhan dasar, seperti: keamanan, cinta, dan penghargaan. Mereka juga termotivasi untuk berkreasi oleh lingkungannya dan manfaat dari berkreasi seperti hidup yang lebih menyenangkan, kepercayaan diri yang lebih besar, kegembiraan hidup, dan kemungkinan untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka.

HAMBATAN UNTUK MENJADI LEBIH KREATIF

Kebiasaan:

Kebiasaan adalah reaksi dan respons yang telah kita pelajari untuk bertindak secara otomatis tanpa berpikir atau mengambil keputusan terlebih dahulu. Biasanya sulit dan tidak enak mengubah suatu kebiasaan, apakah kebiasaan itu baik atau buruk.

Waktu:

Kesibukan merupakan salah satu alasan orang untuk tidak menjadi kreatif. Di lain pihak, ada orang yang mempunyai waktu untuk menjadi lebih kreatif dengan mencari waktu dari 24 jam yang sama yang tersedia bagi setiap orang.

Dibanjiri Masalah:

Sebagian dari kita merasa bahwa kita berhadapan dengan begitu banyak masalah yang penting dimana kita tidak mempunyai cukup waktu dan tenaga untuk mengatasi beberapa masalah secara kreatif. Kita lalu mengabaikan semua masalah dan tidak mau mengolahnya dengan otak kita.

Tidak Ada Masalah:

Kita adalah makhluk pemecah masalah yang terus-menerus menghadapi dan memecahkan sejumlah masalah. Jika masalah kita dipecahkan secara otomatis atau menurut kebiasaan, maka kita tidak akan pernah mengenal masalah tersebut dan kita merasa bahwa kita tidak akan pernah mempunyai masalah.

Takut Gagal:

Kegagalan dapat berbentuk pengasingan, kritik, kehilangan waktu, kehilangan pendapatan, atau kecelakaan. Akan tetapi, lebih baik gagal daripada tidak pernah mencoba sama sekali.

Kebutuhan akan Sebuah Jawaban Sekarang:

Manusia tidak mau mengalami kesulitan karena tidak memilik suatu jawaban langsung. Ketika suatu masalah dikemukakan, kita secara langsung memberikan sebuah pemecahan. Hanya jika pemecahan pertama tidak berjalan, barulah kita mau mencoba cara yang lain.

Kegiatan Mental yang Sulit Diarahkan:

Banyak diantara kita menemukan kenyataan bahwa mengerahkan tenaga fisik jauh lebih mudah dibandingkan dengan mengerahkan tenaga mental. Kita biasanya melaksanaan pekerjaan kita selama periode waktu yang cukup lama dengan hanya sedikit berpikir.

Takut Bersenang-senang:

Bagian proses pemecahan masalah secara kreatif mencakup kegiatan-kegiatan yang bersifat santai seolah-olah main-main, tetapi dipikirkan dan dipertimbangkan secara serius. Barangkali ketidaksempatan kita untuk bersantai pada waktu memecahkan masalah ada kaitannya dengan besarnya masalah yang kita hadapi atau adanya perasaan tidak aman yang kita rasakan bila menghadapi suatu masalah.

Kritik Orang Lain:

Secara tak sengaja kreativitas sering terhambat oleh kritik-kritik orang lain. Bila suatu gagasan baru diperkenalkan, kebanyakan gagasan tersebut sering dipatahkan dan diobrak-abrik orang lain. Memang kadangkala hal tersebut penting untuk membantu orang supaya tetap berpijak pada kenyataan, namun seharusnya kritik-kritik tersebut dapat menjadi pendorong bagi perbaikan kreativitas Anda sendiri.

BAGAIMANA MEMUNCULKAN GAGASAN KREATIF?

Kuantitas Gagasan:

Teknik-teknik kreatif dalam berbagai tingkatan keseluruhannya bersandar pada pengembangan pertama sejumlah gagasan sebagai suatu cara untuk memperoleh gagasan yang baik dan kreatif. Kecenderungan manusia untuk mendapatkan gagasan, pemecahan, atau penjelasan pertama yang muncul dan melekat dalam pikiran merupakan kerugian besar bagi kreativitas. Jika masalahnya kecil seperti misalnya apa yang dihidangkan untuk makan siang, maka pendekatannya mungkin tepat. Akan tetapi, bila masalahnya besar dimana kita ingin mendapatkan pemecahan baru dan orisinal, maka kita membutuhkan banyak gagasan untuk dipilih.

Teknik Brainstorming:

Teknik brainstorming mungkin merupakan cara yang terbanyak digunakan, tetapi juga merupakan teknik pemecahan kreatif yang tidak banyak dipahami. Banyak orang mempergunakan istilah brainstorming untuk mengacu pada suatu proses yang menghasilkan suatu gagasan baru, atau menggunakan istilah tersebut untuk mengacu pada suatu kumpulan proses pemecahan masalah. Sebenarnya teknik brainstorming adalah kegiatan yang menghasilkan gagasan yang mencoba mengatasi segala hambatan dan kritik. Kegiatan tersebut mendorong timbulnya banyak gagasan, termasuk gagasan yang menyimpang liar, dan berani dengan harapan bahwa gagasan tersebut dapat menghasilkan gagasan yang baik dan kreatif. Teknik ini cenderung menghasilkan gagasan baru yang orisinal untuk menambah jumlah gagasan konvensional yang ada.

Sinektik:

Analogi telah lama digunakan sebagai salah satu alat bantu bagi proses penyusunan secara kreatif. Sinektik merupakan suatu metode atau proses yang menggunakan metafora dan analogi untuk menghasilkan gagasan kreatif atau wawasan segar ke dalam permasalahan. Guna menghentikan kebiasaan lama serta gagasan usang dan untuk memperkenalkan suasana rileks ke dalam proses penggalian ide, maka proses sinektik mencoba membuat yang “asing” menjadi “akrab” dan juga sebaliknya.

Memfokuskan Tujuan:

Dr. Maxwell dalam bukunya Psycho Cybernetics menguraikan metode untuk mencapai hasil yang diharapkan secara kreatif. Buku tersebut menguraikan pengalaman membentuk pola reaksi baru yang otomatis melalui imajinasi. Caranya adalah dengan berbuat seolah-olah apa yang diinginkan akan terjadi besok, telah terjadi saat ini. Apabila proses itu dilakukan secara berulang-ulang, maka pikiran Anda akan terpusat ke arah tujuan yang dimaksud dan melibatkan automatic servo-mechanism Anda. (bsb/dni)

Kreativitas tidak lepas dari proses menjawab sebuah pertanyaan. Namun sering kali kita (seakan) tidak memiliki pertanyaan sehingga kita “menidurkan” otak kita. Otak kita jarang kita latih sehingga saat diperlukan (apa lagi mendesak) otak kita tidak siap akhirnya membuat kita stress dan frustasi.

Kita sering kali merasa tidak punya pertanyaan, tetapi lain dengan Leonardo da Vinci, dia selalu bertanya dan bertanya. Hasilnya? Dia menjadi orang yang jenius, banyak sekali karya-karya bahkan untuk berbagai bidang ilmu, mulai dari atonomi, seni, dan mesin. Sayangnya kita malas untuk bertanya sehingga pikiran kita tidak terlatih untuk berpikir.

Saya bantu Anda untuk melatih berpikir dengan menjawab berbagai pertanyaan. Saya baru saja membuat blog yang dikhususkan untuk melatih kreativitas dengan cara menjawab berbagai pertanyaan. Sengaja, saya tidak fokus pada satu topik untuk membiarkan pikiran kita lebih luas daya jelajahnya.

Kreativitas adalah bukan sesuatu yang magis, yang hanya dimiliki oleh orang-orang titisan. Kreativitas juga bukan bakat alami, dimana dibawa sejak lahir. Kreativitas adalah sesuatu yang bisa dipelajari oleh siapa pun, saya dan Anda. Karena kreativitas bukan sesuatu yang sakral, maka tidak alasan bahwa kreativitas tidak bisa diganggu gugat sehingga bisa berjalan seenaknya. Kita tetap harus melihat rambu-rambu agama dalam berkarya.

Pada dasarnya, kita semua kreatif. Selama manusia bisa berpikir dengan baik, maka dia kreatif. Kreatif tidak lebih dari proses berpikir dalam menghasilkan sesuatu. Menghasilkan bukan berarti dari yang tidak ada menjadi ada, kita bisa menghasil bentuk baru, format baru, bahan baru, dan sebagainya yang “baru”. Bahkan ada yang mengatakan bahwa kreativitas adalah suatu perjalanan menemukan sesuatu yang belum ditemukan oleh orang lain.

Explorasi
Langkah awal proses kreativitas adalah explorasi, yaitu mencari keluar dari pemikiran dan pengalaman “normal”. Untuk menjadi kreatif, kita harus melakukan perjalanan ke suatu area yang belum kita ketahui dengan baik.

Menemukan
Kreativitas adalah proses menemukan. Setelah kita berjalan, tentu kita akan menemukan sesuatu. Membuka tirai atau membawa sesuatu ke tempat yang terang. Menjadi kreatif bukan hanya harus berpikir tetapi juga harus mencari.

Sesuatu
Kreativitas adalah mengolah sesuatu. Kreativitas bukan menghasilkan dari “tidak ada” menjadi ada. Apa yang kita temukan sebenarnya sudah ada tetapi belum ditemukan sebelumnya, atau dilihat dengan cara yang berbeda, atau potensinya tidak diketahui.

Menjadi Berguna
Apa yang kita temukan harus bisa memberikan manfaat bagi sosial, sebab jika tidak memberikan manfaat maka tidak ada artinya. Sebagian orang mengatakan bahwa inilah yang disebut dengan inovasi.

Tidak bisa disangkal, sex merupakan daya tarik yang memiliki kekuatan sangat tinggi. Bagaimana tidak karena itu memang kebutuhan dasar manusia untuk melanjutkan keturunan. Oleh karena itu oleh para pemasar, sex dijadikan alat untuk menarik perhatian orang. Lihat saja, iklan, film, sinetron, dan berbagai hal lainnya sering kali menggunakan sex sebagai “bumbu utama” agar lebih menarik.

Tetapi, kita sebagai umat beragama, tentu ada batasan dalam mengeksporasi sex. Dalam agama, terutama Islam yang saya tahu, sangat membatasi kita dalam mengeksplorasi sex. Saya tidak akan berdebat mengapa harus dibatasi, bagi saya jika sudah diperintahkan oleh agama, maka kita tidak bisa menawarnya lagi. Lalu, mengapa sex masih saja digunakan sebagai daya tarik, padahal mayoritas rakyat Indonesia itu adalah umat Islam?

Salah satu jawabannya ialah karena mereka kurang kreatif, mereka sudah kehabisan akal dalam mencari cara lain yang bisa digunakan sebagai daya tarik. Mereka yang kehabisan akal ini seharusnya belajar lagi tentang kreativitas, karena bukan hanya sex yang bisa menarik orang.

Mau tidak?

Tekonologi adalah hasil kreativitas, bahkan inovasi jika teknologi tersebut bermanfaat dan dapat diterima oleh masyarakat. Sementara teknologi juga memudahkan kita untuk berkreasi. Sebagai contoh dalam menggambar. Jika dulu kita menggunakan kanvas dan cat, sekarang kita bisa menggambar menggunakan program komputer. Kita dengan mudahnya mengubah warna, kombinasi gambar, bahkan menduplikasi gambar yang sudah ada.

Maka wajar jika perkembangan teknologi begitu berkembang pesat karena hadirnya sebuah teknologi akan mendorong lahirnya teknologi baru, teknologi baru akan mendorong lahirnya teknologi yang lebih dari begitu seterusnya. Lahirnya sebuah teknologi setidaknya akan memberikan ide baru untuk lahirnya sebuah teknologi baru. Teknologi juga bisa membantu kreativitas kita dalam menghasilkan teknologi baru.

Jangan jauh dengan teknologi jika Anda tidak mau ketinggalan jaman.

Semakin hari, kreativitas dalam bisnis akan sangat diperlukan. Coba saja tengok, bidang bisnis apa yang tidak perlu kreativitas? Mulai dari penciptaan produk atau jasa, dengan semakin sengitnya persaingan bisnis, produk dan jasa baru bermunculan terus, maka kita harus bisa bertahan dengan memunculkan produk atau jasa kita yang tetap bisa bersaing dengan produk-produk baru yang bermunculan. Inovasi atau mati, dan tidak ada inovasi tanpa kreativitas.

Pemasaran. Hermawan Kertajaya mengatakan bahwa saat kita melakukan segmentasi, kita harus melihatnya secara kreatif agar kita bisa memunculkan peluang-peluang baru. Kreativitas terlihat jelas diperlukan dalam bidang periklanan, seorang agen periklanan harus sekreatif mungkin membuat materi-materi iklan yang bisa menarik perhatian orang. Lihat saja iklan-iklan di TV, dari satu produk ke produk yang lain seolah terjadi perlombaan kreativitas yang tinggi.

Proses produksi juga memerlukan kreativitas. Diperlukan ide-ide baru agar bisa melakukan perbaikan secara terus menerus. Diperlukan kreativitas untuk menyelesaikan berbagai macam masalah yang muncul diperusahaan. Diperlukan kreativitas untuk menghasilkan terobosan-terobosan baru dalam produksi, mulai dari meningkatkan produktivitas, meningkatkan kualitas, dan menurunkan biaya produksi.

Kreativitas akan membuat hidup kita lebih indah karena kita akan dikelilingi oleh hal-hal yang bervariasi tidak monoton. Rutinitas yang monoton akan membuat kita lebih cepat mengalami kebosanan dibanding melakukan berbagai hal yang bervariasi yang memberikan sesuatu yang baru dan segar dalam kehidupan kita sehari-hari. Inilah yang membuat remaja mengapa suka berjalan-jalan, karena dengan berjalan-jalan kita akan menemukan berbagai hal yang baru.

Kehidupan yang kreatif akan meningkatkan pengertian dan apresiasi akan berbagai gagasan baru, sesama manusia, dan dunia secara umum. Orang yang kreatif senang akan ide baru dan memiliki apresiasi yang tinggi, saat menemukan ide baru, baik dia yang menghasilkan maupun orang lain, dia akan merasa senang. Berbeda dengan orang yang tidak menghargai ide, tidak ada kesenangan yang muncul saat dia melihat ide baru. Jelas, bahwa orang yang menghargai gagasan dan ide baru memiliki satu kelebihan tentang kebahagiaan. Saat orang lain mencibir, dia tersenyum.

Kreativitas membuka pikiran dan menjadikan motivasi hidup lebih tinggi. Kenapa tidak? Dia tidak takut akan kehilangan peluang, karena orang kreatif bisa menciptakan peluang sendiri. Dia tidak takut menghadapi masalah karena orang kreatif memiliki kemampuan menyelesaikan masalah yang tinggi. Dia juga tidak hidup dalam kebosanan karena bisa menciptakan berbagai hal yang membuat dirinya tidak bosan.

Kreativitas adalah proses mental yang melibatkan pemunculan gagasan atau konsep baru, atau hubungan baru antara gagasan dan konsep yang sudah ada.

Gagasan atau ide adalah istilah yang dipakai baik secara populer maupun dalam bidang filsafat dengan pengertian umum “citra mental” atau “pengertian”. Terutama Plato adalah eksponen pemikiran seperti ini. Gagasan menyebabkan timbulnya konsep, yang merupakan dasar bagi segala macam pengetahuan, baik sains maupun filsafat. Sekarang banyak orang percaya bahwa gagasan adalah suatu kekayaan intelektual seperti hak cipta atau paten.

Dari sudut pandang keilmuan, hasil dari pemikiran kreatif (kadang disebut pemikiran divergen) biasanya dianggap memiliki keaslian dan kepantasan. Sebagai alternatif, konsepsi sehari-hari dari kreativitas adalah tindakan membuat sesuatu yang baru.

Konsep adalah abstrak, entitas mental yang universal yang menunjuk pada kategori atau kelas dari suatu entitas, kejadian atau hubungan. Suatu konsep adalah elemen dari proposisi seperti kata adalah elemen dari kalimat. Konsep adalah abstrak di mana mereka menghilangkan perbedaan dari segala sesuatu dalam ekstensi, memperlakukan seolah-olah mereka identik. Konsep adalah universal di mana mereka bisa diterapkan secara merata untuk setiap extensinya. Konsep adalah pembawa arti. Suatu konsep tunggal bisa dinyatakan dengan bahasa apa pun. Konsep ANJING bisa dinyatakan dengan ‘Hund’ dalam bahasa Jerman, ‘chien’ dalam bahasa Prancis, ‘perro’ dalam bahasa Spanyol.

Ilmu bisa berarti proses memperoleh pengetahuan, atau pengetahuan terorganisasi yang diperoleh lewat proses tersebut. Proses keilmuan adalah cara memperoleh pengetahuan secara sistematis tentang suatu sistem. Perolehan sistematis ini umumnya berupa metode ilmiah, dan sistem tersebut umumnya adalah alam semesta. Dalam pengertian ini, ilmu sering disebut sebagai sains.

Tetapi, ilmu dapat pula bermakna jauh berbeda dari pengertian sains. Di masyarakat kita, biasa kita dengar istilah “ilmu hitam”, yaitu ilmu yang berkonotasi buruk, misalnya bisa bermakna ilmu yang muncul dari kekuatan gaib yang ditujukan untuk melakukan perbuatan jahat.

Wisata kreativitas

Bila mendengar kata Ferrari, kebanyakan dari kita akan teringat Formula One Grand Prix, Michael Schumacher, atau mobil mewah buatan Italia. Tidak banyak yang tahu kalau perusahaan dengan karyawan sekitar 3.000 orang ini adalah salah satu perusahaan paling kreatif di Eropa. Kreativitas tersebut tidak saja tercermin pada produk-produknya, tetapi pada cara mereka membangkitkan kreativitas para karyawannya.

Sebagai contoh, Ferrari secara teratur menyelenggarakan program Creativity Club untuk para stafnya. Setiap kali pertemuan klub diselenggarakan, mereka akan mengundang para artis dari bidang seni yang berbeda-beda. Daftar undangan tersebut umumnya terdiri dari para pelukis, pemahat, pemusik, penulis, DJ, fotografer, chef, aktor, dan konduktor orkestra. Selain berbincang-bincang dengan para karyawan Ferrari, para artis tersebut juga diminta mengajarkan ketrampilan mereka melalui kursus-kursus singkat. Para peserta klub tersebut tidak dibatasi. Selain eksekutif dan kalangan manajer, para pekerja pabrik juga boleh ikut serta. Klub ini sangat diminati, karena selain menawarkan nuansa baru, juga memberi kesempatan bagi keluarga besar Ferrari untuk belajar melihat masalah secara berbeda.

Selain Creativity Club, perusahaan berlambang kuda jingkrak ini juga meluncurkan program-program seperti English@breakfast, English@tea, English@lunch, German@breakfast, dan sejenisnya, yang diperuntukkan untuk para karyawan yang ingin belajar bahasa asing dalam suasana santai.

Dari Ferrari, kita beralih ke perusahaan otomotif lainnya, Nissan. Ketika para staf Nissan Design International (NDI) mengalami kebuntuan di tengah-tengah proyek merancang model Pathfinder, wakil presiden NDI kala itu, Jerry Hirshberg, membuat keputusan yang mencengangkan. Dia mengajak seluruh staf, termasuk para teknisi dan sekretaris, untuk menonton film Silence of the Lambs. Nonton setelah jam kerja selesai? Tidak, mereka menonton di siang hari. Hasilnya? Menurut penuturan Hirshberg, setelah acara tersebut, ketegangan di perusahaan tersebut berkurang perlahan-lahan. Dalam beberapa hari, ide-ide berdatangan dan masalah-masalah berhasil diselesaikan.

Cara Pixar lain lagi. Perusahaan pembuat film animasi 3 dimensi ini mendirikan Pixar University. Universitas ini menjalankan kelas-kelas, event, atau workshop yang berkaitan dengan pembuatan film animasi 3 dimensi, termasuk kelas-kelas melukis, memahat, atau creative writing. Setiap karyawan diharapkan menghabiskan 4 jam setiap minggu di universitas tersebut untuk terus mengembangkan diri dan kreativitas mereka, dan mereka dianjurkan mengambil kelas-kelas yang tidak berhubungan dengan pekerjaan mereka.

Ferrari, Nissan, dan Pixar adalah dua contoh perusahaan yang benar-benar serius mengembangkan dan memanfaatkan kreativitas staf mereka. Program-program yang kadang kelihatannya tidak berhubungan dengan pekerjaan tersebut justru sering membawa para staf belajar melihat pekerjaan dan masalah mereka dengan kaca mata lain. Ketiga perusahaan tersebut memahami pentingnya pemberian stimulus acak pada otak-otak yang bekerja di sana agar mampu melahirkan ilham-ilham kreatif.

Upaya memperoleh stimulus acak tersebut bisa juga dilakukan dengan melakukan benchmarking ke perusahaan lain. Akan tetapi, benchmarking paling efektif bukanlah dengan mengunjungi perusahaan pada industri yang sama atau yang masih berkaitan. Pilihlah industri yang berlainan. Perusahaan manufaktur yang ingin meningkatkan hubungan dengan distributornya bisa belajar dari divisi customer service hotel bintang lima atau call center perusahaan kartu kredit. Perusahaan minuman ringan yang ingin memastikan distribusinya selalu lancar bisa melakukan jiarah ke kantor FedEx atau UPS. Belajar dari industri yang tidak berhubungan tersebut lebih sering memberikan ide-ide kreatif.

Bagaimanakah Menumbuhkan Kreativitas di Tempat Kerja?

Oleh Johanes Papu

Team e-psikologi

Anda mungkin sependapat dengan saya bahwa Garin Nugroho, sutradara penuh bakat yang telah meraih berbagai penghargaan di dalam maupun luar negeri, adalah seseorang yang sangat kreatif. Kreativitas beliau dapat terlihat dari karya-karyanya yang cenderung lain dari pada yang biasanya. Ditengah-tengah suasana dunia perfilman dan sinetron Indonesia yang cenderung menonjolkan kemewahan & thema-thema yang jauh dari realitas (dunia mimpi), Garin mampu melahirkan film-film yang berkisah tentang realitas kehidupan dan dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari. Lebih dari itu, Garin dapat memadukan antara kemampuan mengexplorasi berbagai realitas yang ada ke dunia film/sinetron dengan prinsip-prinsip seni. Sehingga hal-hal yang sederhana menjadi menarik dan penting, meskipun di Indonesia belum banyak orang yang memahami hal itu.

Pertanyaan kita adalah bagaimana seseorang bisa begitu kreatif sementara yang lainnya tidak. Apakah kreativitas dapat dipelajari? Jika ya, bagaimana menumbuhkan kreativitas di tempat kerja?

Menurut para ahli, seseorang yang kreatif selalu melihat segala sesuatu dengan cara berbeda dan baru, dan biasanya tidak dilihat oleh orang lain. Orang yang kreatif, pada umumnya mengetahui permasalahan dengan sangat baik dan disiplin, biasanya dapat melakukan sesuatu yang menyimpang dari cara-cara tradisional. Proses kreativitas melibatkan adanya ide-ide baru, berguna, dan tidak terduga tetapi dapat diimplementasikan.

Tahap-Tahap Kreativitas

Secara umum tahapan kreativitas dapat dibagi dalam 4 tahap: Exploring, Inventing, Choosing dan Implementing.

1. Exploring. Pada tahap ini pekerja atau businessman mengidentifikasi hal-hal apa saja yang ingin dilakukan dalam kondisi yang ada saat ini. Sekali mereka mendapatkan jawaban dari pertanyaan tersebut maka proses kreativitas sudah dimulai.Hal penting yang harus diperhatikan pada saat ini adalah menciptakan iklim yang menunjang proses berpikir kreatif

2. Inventing. Pada tahap ini, sangat penting bagi perusahaan untuk melihat atau mereview berbagai alat, teknik dan metode yang telah dimiliki yang mungkin dapat membantu dalam menghilangkan cara berpikir yang traditional.

3. Choosing. Pada tahap ini perusahaan mengidentifikasi dan memilih ide-ide yang paling mungkin untuk dilaksanakan.

4. Implementing. Tahap akhir untuk dapat disebut kreatif adalah bagaimana membuat suatu ide dapat diimplementasikan. Seseorang bisa saja memiliki ide cemerlang, tetapi jika ide tersebut tidak dapat diimplementasikan, maka hal itu menjadi sia-sia saja. Sama saja dengan syair lagu “layu sebelum berkembang”.

Model Kreativitas

Menurut Charles Prather, dalam bukunya Blueprint for Innovation, gaya atau model kreativitas seseorang bersifat menetap. Prather membagi 2 gaya kreativitas:

1. Adaptive Problem Solving. Orang-orang yang memiliki gaya ini dalam bekerja cenderung menggunakan kreativitas untuk menyempurnakan system dimana mereka bekerja. Hal-hal yang terlihat pada orang yang memiliki gaya ini adalah bahwa mereka akan berusaha sebaik mungkin untuk membuat system menjadi lebih baik, lebih cepat, lebih murah dan efisien. Apa yang mereka lakukan akan dapat dilihat hasilnya secara cepat. Oleh karena itu mereka lebih sering mendapat penghargaan.

2. Innovative Problem Solving. Orang-orang yang memiliki gaya ini dalam bekerja cenderung untuk menantang dan mengubah sistem yang sudah ada. Mereka dapat disebut sebagai “agent of change” karena lebih memfokuskan pada penemuan sistem baru daripada menyempurnakan yang sudah ada. Dalam perusahaan mereka dapat dilihat pada bagian-bagian yang melakukan riset, penciptaan produk baru, mengantisipasi kebutuhan pelanggan tanpa diminta, dan orang-orang yang menjaga kelangsungan hidup perusahaan di masa yang akan datang.

Hambatan untuk Berpikir Kreatif

Meskipun kreativitas dan inovasi sangat dihargai di banyak perusahaan, namun hal tersebut tidak selalu dikomunikasi kepada para pegawainya. Perusahaan bahkan seringkali tidak memberikan ruang gerak bagi para pekerjanya untuk berkreasi dan berinovasi. Banyak perusahaan di Indonesia merupakan contoh dimana ide-ide kreatif hanya berakhir diruang-ruang rapat semata.

Hambatan lain yang mengganggu kreativitas adalah jika pekerjaan yang kita jalani tidak sesuai dengan minat dan bakat yang kita miliki. Selain itu gaya kreativitas yang dimiliki tidak “match” dengan tuntutan pekerjaan sehari-hari. Contoh: gaya kreativitas Anda adalah sebagai “agent of change” tetapi pekerjaan Anda lebih bersifat rutin, mekanistik dan menuntut anda untuk melakukannya sesuai dengan aturan atau prosedur yang sudah baku.

Hambatan lain datang dari unsur psikologis. Untuk menjadi kreatif seseorang harus berani untuk dinilai aneh oleh orang lain. Lihat saja para penemu dan seniman-seniman besar yang pada saat menciptakan karyanya seringkali dianggap “gila”. Nah, karena itu tidak semua pegawai siap untuk berbeda pendapat/ide dengan orang lain meskipun ide tersebut kemudian terbukti benar. Pola pendidikan kita yang kurang mendorong adanya variasi atau perbedaan pendapat juga sangat mendukung kurangnya kreativitas pegawai.

Menumbuhkan Kreativitas

Pada dasarnya kreativitas dapat terjadi di semua bentuk organisasi atau perusahaan sejauh organisasi tersebut menghargai atau mendorong individu-individu untuk berkreasi. Jika tidak, maka individu yang kreatif akan menjadi frustrasi dan selanjutnya terjebak dengan rutinitas yang ada.

Berdasarkan hasil penelitian, untuk menciptakan kreativitas dibutuhkan lingkungan kerja kondusif yang menyenangkan (fun), penuh rasa humor, spontan, dan memberi ruang bagi individu untuk melakukan berbagai permainan atau percobaan. Membentuk lingkungan yang kondusif seperti itu sangatlah tidak mudah bagi sebuah organisasi. Mendorong kreativitas dalam dunia kerja menuntut iklim yang permissif terhadap existensi individualitas dan penerimaan terhadap rasa humor, disamping tetap memegang teguh rasa hormat, kepercayaan dan komitment sebagai norma yang berlaku.

Salah satu cara terbaik untuk mendorong kreativitas dan inovasi dalam sebuah perusahaan adalah dengan cara mengukur sejauhmana hal tersebut telah dilakukan. Perusahaan dianjurkan untuk memasukkan unsur kreativitas dan inovasi ke dalam proses evaluasi kerja. Sebagai contoh: masukan unsur penilaian tentang berapa banyak ide dari seseorang atau kelompok (teamwork) yang dapat diimplementasikan oleh perusahaan. Jika hal ini terkomunikasi dengan baik maka setiap individu akan berusaha untuk memberikan ide secara konstruktif.

Penempatan pegawai dengan konsep the right people with the right job juga merupakan cara yang tepat untuk menstimulasi munculnya kreativitas dan inovasi. Hal ini karena penempatan pegawai pada posisi yang tepat akan mengurangi supervisi sehingga memberikan otonomi bagi individu dalam menyelesaikan masalah-masalah pekerjaannya.

Root-Bernstein, salah seorang penulis buku Sparks of Genius, mengusulkan pentingnya pegawai untuk keluar dari cara kerja yang rutin sehingga dapat melihat masalah pekerjaan dengan cara yang baru. Salah satu cara untuk mewujudkan hal tersebut menurut Bernstein perlu dilakukan brainstorming secara regular. Dengan melakukan brainstorming pegawai diharapkan dapat memberikan ide dan solusi yang baru. Selamat mencoba.(jp)


MENGEMBANGKAN KREATIVITAS ANAK

Conny Semiawan: Buka “Gembok” dari Otak Anak Jakarta,
Kompas – Cara guru mengajar dan mendidik siswanya dengan mengabaikan perkembangan imajinasi dan kreativitas anak justru telah membuat “gembok” dalam otak belahan kanan anak-anak. Gembok itu harus segera dibuka sehingga perkembangan otak kanan anak Indonesia bisa seimbang dengan otak kirinya.
Cara untuk membuka gembok itu antara lain dengan memberikan latihan kepada anak lewat kegiatan pengamatan, interpretasi, ramalan, dan eksperimen atau penerapan teori.
Psikolog Prof Dr Conny Semiawan menyatakan itu dalam seminar “Kiat Menggali Potensi Anak: Kompromi Antara Ambisi Orangtua Vs Kapasitas Anak” yang diadakan Persatuan Orangtua Murid dan Guru TK Lab School Jakarta, Sabtu (2/10). Melengkapi uraian mantan Rektor IKIP Jakarta itu, panitia menampilkan pula psikolog Elly Risman, pemilik Yayasan Kita dan Buah Hati Jakarta.
Conny lalu memberi contoh sikap guru yang mengunci kreativitas dan imajinasi anak. Mereka memberi soal yang punya lebih dari satu jawaban, tetapi ketika siswa memberi jawaban tak sama dengan keinginan guru, jawaban itu dianggap salah. Padahal, fungsi belahan otak kanan adalah berpikir divergen yang menuntut lebih dari satu jawaban benar terhadap masalah multidimensial. Sementara belahan otak kiri lebih banyak merespons hal bersifat linear, logis dan teratur.
“Cucu saya mendapat pertanyaan: Ayah bekerja di kantor, ibu ? hm-hm-hm. Dijawabnya, ibu juga bekerja di kantor, tetapi gurunya menyatakan jawaban itu salah. Menurut gurunya, ibu memasak di rumah. Cucu saya bilang, ibu saya tidak memasak, karena itu mereka rantangan…,” ujar Conny membuat peserta seminar yang terdiri atas para orangtua dan guru anggota POMG tertawa.
Pola mengajar dan mendidik seperti itu harus berubah dengan lebih banyak mengajak anak mengamati untuk membuat perbandingan, interpretasi untuk menemukan maksud dan hubungannya, serta menyarankan kemungkinan alternatif penemuan jawaban serta kesimpulan. Kegiatan lain, ramalan untuk melatih penalaran dari pengamatan dan menyimpulan dari pengamatan dan interpretasi, sedangkan eksperimen untuk melatih perencanaan pengamatan dari penerapan teori sampai menguraikan kesimpulannya. Diingatkan pula agar orangtua tak menjejali anak dengan bermacam les atau memaksakan masuk kelas akselerasi sehingga mereka kehilangan masa bermainnya.
(TRI) –
Sumber Kompas, 4/10/04 ed KS.

Menjadi Kreatif dan Produktif

Ketika kita mendengar kata kreativitas, seringkali yang muncul di benak kita adalah para penulis, pelukis, penyair, musisi – para seniman yang bergerak di dunia seni. Padahal kreativitas mencakup hal-hal yang lebih luas, misalnya: mengelola bisnis yang berkembang pesat, meningkatkan nilai penjualan produk kita, melakukan negosiasi bisnis, menyusun program komputer, menjadi orang tua yang inovatif, memiliki hidup yang menyenangkan dan membahagiakan, semuanya memerlukan tingkatan tertentu kreativitas. Kreativitas dan saat-saat penuh inspirasi merupakan hal yang sangat penting bagi segala aspek yang kita lakukan dalam hidup ini – hubungan, keluarga, bisnis, pekerjaan, dan komunitas sosial.

Pengelola rubrik:
Aribowo Prijosaksono dan Roy Sembel

Aribowo Prijosaksono (email:aribowo_ps@hotmail.com) dan Roy Sembel (http://www.roy-sembel.com) adalah co-founder dan direktur The Indonesia Learning Institute – INLINE (http://www.inline.or.id), sebuah lembaga pembelajaran untuk para eksekutif dan profesional.

Kita semua dilahirkan dengan potensi kreativitas. Salah satu ciri yang membedakan manusia dengan ciptaan Tuhan yang lain adalah kreativitas kita atau kemampuan kita mencipta. Hal ini merupakan sifat hakiki kita sebagai manusia dan merupakan bagian dari siapa kita. Kreativitas merupakan instink kita yang terbawa sejak lahir. Sebagaimana yang pernah kita bahas dalam edisi Mandiri 18, bahwa sesungguhnya alam telah mengajarkan kita untuk menjadi kreatif.
Segala sesuatu di dunia ini dibuat atau dibentuk dari sejumlah kecil unsur. Misalnya dalam ilmu fisika dikenal bahwa semua zat dibentuk dari partikel proton dan elektron. Dalam kimia kita ketahui bahwa berbagai jenis bahan kimia terbentuk dari senyawa karbon dan hidrogen. Lebih jauh lagi kita ketahui pula bahwa semua perhitungan yang rumit dalam matematika, statistika maupun akuntansi keuangan, pada dasarnya terdiri hanya sepuluh lambang angka. Berbagai karya tulisan, sastra dan ilmu pengetahuan tersusun dari hanya 26 alfabet! Demikian halnya musik baik itu berupa musik klasik, rock n roll, new wave, pop tercipta dengan sebuah harmonisasi yang indah dari 7 nada dasar.

Pelajaran apa yang dapat kita petik dari semua ini? Jawabannya adalah kreativitas. Kita dapat menciptakan banyak hal dari sumber daya yang terbatas dengan melakukan proses kreativitas. Kreativitas berasal dari kata dasar kreatif yang memiliki akar kata to create yang artinya mencipta. Inilah sesungguhnya Kuasa yang diberikan oleh Tuhan (ingat bahwa we are given the authority to use the Power of God – Kita diberikan wewenang untuk menggunakan Kuasa Tuhan). Inilah yang membedakan manusia dengan ciptaan Tuhan yang lainnya. Kita diberi kemampuan untuk mencipta, termasuk menciptakan realitas baru dalam kehidupan kita.

Sehingga apa pun situasi atau keterbatasan kita, kita memiliki potensi untuk menciptakan berbagai hal, termasuk keberhasilan dan kebahagiaan dalam hidup ini. Kita tidak memerlukan banyak sumberdaya untuk dapat menciptakan banyak hal yang memberi arti bagi kehidupan.
Oleh karena itu penting sekali bagi kita untuk mulai belajar mengembangkan kreativitas dalam diri kita. Seorang anak kecil dapat membuat berbagai macam bentuk dari misalnya 50 potongan lego. Demikian halnya telah jutaan bahkan milyaran penemuan manusia yang berasal dari unsur-unsur yang terbatas atau sederhana. Penemuan roda yang berbentuk lingkaran misalnya telah menyebabkan terciptanya ribuan bahkan jutaan produk seperti mobil, kereta api, sepeda, ban berjalan, dan sebagainya.
Sebelum kita lebih jauh membahas tentang kreativitas, ada baiknya kita mengetahui bagaimana proses atau cara berpikir kita, sehingga kita bisa mengoptimalkan cara otak kita memproses informasi dan kemudian menemukan jalan untuk memecahkan masalah maupun memunculkan gagasan-gagasan tertentu.

Perilaku dan Cara Berpikir

Sistem identifikasi gaya belajar Visual-Auditory-Kinestetik yang pernah kita bahas dalam Mandiri edisi 40 (tentang membaca dengan efektif) membedakan bagaimana kita menyerap informasi. Sedangkan untuk menentukan dominasi otak dan bagaimana kita memproses informasi, kita dapat menggunakan model yang dikembangkan oleh Anthony Gregorc, seorang pakar bidang pendidikan dan pengajaran di Universitas Connecticut. Menurutnya ada dua kemungkinan dominasi otak, yaitu: persepsi konkret dan abstrak, dan kemampuan pengaturan secara sekuensial (linear) dan acak (nonlinear).


Kedua kemungkinan dominasi otak ini dapat dipadukan menjadi empat kombinasi kelompok yang disebut dengan cara berpikir kita. Gregorc menyebut model cara berpikir ini: sekuensial konkret, sekuensial abstrak, acak konkret, acak abstrak. Orang yang termasuk dua kategori ”sekuensial” cenderung memiliki dominasi otak kiri (logis, analitis, sekuensial, linear dan rasional), sedang orang-orang yang berpikir secara ”acak (random) biasanya termasuk dalam dominasi otak kanan (acak, tidak teratur, intuitif dan holistik).

Pemikir Sekuensial Konkret

Pemikir sekuensial konkret memperhatikan dan mengingat detail dengan lebih mudah, mengatur tugas dalam proses tahap demi tahap, dan berusaha mencapai kesempurnaan. Mereka selalu memecahkan masalah, dan mengambil keputusan berdasarkan fakta atau kenyataan dan mengolah informasi dengan cara yang teratur, linear, dan sekuensial. Bagi para sekuensial konkret, realitas terdiri dari apa yang mereka ketahui melalui indra fisik mereka, yaitu: indra penglihatan, peraba, pendengaran, perasa dan penciuman. Mereka memperhatikan dan mengingat realitas dengan mudah, dan mengingat fakta-fakta, informasi, rumus-rumus, dan aturan-aturan dengan mudah. Orang sekuensial konkret selalu mengatur tugas-tugas menjadi proses tahap demi tahap dan berusaha keras untuk mendapatkan kesempurnaan pada setiap tahap. Mereka menyukai prosedur baku dan pengarahan. Karena kebanyakan dunia bisnis diatur dengan cara ini, mereka menjadi profesional bisnis yang sangat baik.

Berikut ada beberapa kiat bagi orang-orang sekuensial konkret: (1) atur atau rencanakan minggu atau hari-hari anda secara realistis, (2) pastikan anda mengetahui semua detail yang anda butuhkan untuk menyelesaikan tugas, (3) tentukan deadline dan pecah tugas anda menjadi beberapa tahap, (4) aturlah lingkungan kerja anda sehingga nyaman dan tentram.

Sekuensial Abstrak
Realitas bagi pemikir sekuensial abstrak adalah dunia teori metafisis dan pemikiran abstrak. Mereka suka berpikir dalam konsep dan menganalisis informasi. Proses berpikir mereka logis, rasional dan intelektual. Aktivitas favorit pemikir sekuensial abstrak adalah membaca, dan jika suatu proyek perlu diteliti, mereka akan melakukannya dengan mendalam. Mereka ingin mengetahui sebab-sebab di balik akibat dan memahami teori serta konsep. Para pemikir sekuensial abstrak biasanya adalah filsuf-filsuf besar dan ilmuwan.
Kiat-kiat bagi para pemikir sekuensial abstrak adalah: (1) latih diri anda berpikir: ketika memecahkan masalah, ubah masalah anda menjadi situasi teoritis dan pecahkan dengan cara itu, (2) perbanyak rujukan anda dan pastikan anda mendapat semua fakta yang anda inginkan jika anda terlibat suatu proyek, (3) upayakan keteraturan, buatlah tabel-tabel, grafik langkah-langkah dan waktu yang diperlukan untuk setiap tugas anda, (4) analisislah orang-orang yang berhubungan dengan anda.

Acak Konkret
Pemikir acak konkret mempunyai sikap eksperimental yang diiringi dengan perilaku yang kurang terstruktur. Seperti pemikir sekuensial konkret, mereka berdasarkan pada fakta dan kenyataan, tetapi ingin melakukan pendekatan coba-coba (trial and error). Karenanya, mereka sering melakukan lompatan intuitif yang diperlukan untuk pemikiran kreatif yang sebenarnya. Mereka mempunyai dorogan kuat untuk menemukan alternatif dan mengerjakan segala sesuatu dengan cara mereka sendiri. Mereka lebih berorientasi pada proses daripada hasil; akibatnya, proyek-proyek sering tidak berjalan sesuai dengan yang mereka rencanakan karena eksplorasi dan kemungkinan-kemungkinan yang muncul selama proses.

Kiat-kiat bagi pemikir acak konkret antara lain: (1) percayalah bahwa melihat segala sesuatu lebih dari satu sudut pandang adalah hal yang baik. Temukan ide-ide alternatif dan eksplorasi semuanya, (2) Libatkan diri anda dengan proyek yang memerlukan pemecahan masalah, atau kerjakan tugas anda sendiri dengan memunculkan pertanyaan dan kemudian memecahkannnya, (3) tentukan deadline untuk setiap tugas anda dan kemudian usahakan untuk menyelesaikannya tepat waktu, (4) kalau anda merasa bosan, buatlah perubahan-perubahan kecil untuk tetap menajamkan pikiran anda, (5) carilah orang-orang yang menghargai pemikiran divergen untuk mendukung anda.

Acak Abstrak
Bagi para pemikir acak abstrak, realitas adalah dunia perasaan dan emosi. Mereka tertarik pada nuansa bahkan sebagian cenderung pada mistisisme. Pemikir acak abstrak menyerap ide-ide, informasi, dan kesan, kemudian mengaturnya dengan refleksi. Mereka mengingat dengan sangat baik jika informasi dipersonifikasikan. Mereka merasa dibatasi ketika berada di lingkungan yang sangat teratur sehingga biasanya tidak betah bekerja di bank atau sejenisnya.
Kiat-kiat bagi pemikir acak abstrak antara lain: (1) carilah rekan-rekan yang bisa bekerja sama dengan anda dan (2) ketahuilah betapa kuat emosi mempengaruhi konsentrasi anda, sehingga hindari orang-orang negatif, (3) ciptakan asosiasi visual dan verbal seperti metafora, cerita-cerita lucu, dan ungkapan kreatif untuk membantu anda mengingat, (4) bekerjalah dengan konsep yang besar, baru kemudian ke detail-detail yang ada, (5) berhati-hatilah untuk memberikan waktu yang cukup untuk menyelesaikan pekerjaan anda, (6) gunakan isyarat-isyarat visual, seperti menempel catatan di dinding kamar kerja, cermin, mobil atau di mana saja yang sering anda lihat. Warnai kalendar dan catatan anda.

Bagaimana meningkatkan kreativitas kita?
Dengan mengetahui kreativitas sebagai sifat hakiki kita sebagai manusia dan memahami bagaimana cara dan proses kita berpikir, kita akan mampu meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam memecahkan masalah, mengambil keputusan maupun mengembangkan gagasan atau ide. Kreativitas dalam hal ini tidak terbatas pada pengembangan gagasan atau inspirasi ide, tetapi termasuk kreativitas dalam pengambilan keputusan maupun pemecahan masalah. Berikut ada sejumlah kiat-kiat untuk mengembangkan kreativitas kita:

Jadilah penjelajah pikiran

Salah satu ciri orang yang kreatif adalah selalu terbuka dengan gagasan atau kemungkinan baru. Namun terbuka dengan hal atau gagasan baru, berbeda dengan proses secara aktif mencari dan mengembangkan gagasan. Kreativitas berarti kita secara aktif mencari dan mengembangkan gagasan secara terus-menerus. Seperti halnya seorang penjelajah, seorang kreatif senantiasa berusaha mencari berbagai cara yang berbeda untuk mengerjakan sesuatu. Seorang penjelajah pikiran meyakini bahwa ada banyak kemungkinan, peluang, produk, jasa, teman, metoda dan gagasan yang menunggu untuk ditemukan. Banyak kemajuan yang signifikan di bidang seni, bisnis, pendidikan dan ilmu pengetahuan terjadi karena seseorang yang senantiasa menjelajahi alam pikiran dan mengeksplorasi hal-hal yang belum pernah dipikirkan oleh orang lain sebelumnya. Para penjelajah tidak takut dengan ketidaktahuan dan ketidakpastian. Mereka yakin bahwa kebahagiaan dan kesuksesan tidak datang dari mengikuti jejak orang lain, melainkan mencari dan mencari jalannya sendiri. Seperti yang dikatakan oleh Robert E. Peary penjelajah pertama yang mencapai Kutub Utara: In veniam viam aut faciam (I will find a way or make one – saya akan menemukan jalan atau membuat jalan baru).

Kembangkan pertanyaan
Bertanyalah tentang apa saja. Kata pertanyaan dalam bahasa Inggris question diambil dari bahasa Latin quarere (yang berarti mencari), sama halnya dengan kata quest (mencari). Kehidupan yang kreatif merupakan upaya mencari terus-menerus (continuing quest). Selalu bertanya merupakan keharusan untuk kita dapat bertumbuh dan berkembang. Jangan menganggap segala sesuatu sudah semestinya (take it for granted), senantiasa pertanyakan dan bertanyalah tentang apa pun yang anda lihat dan anda lakukan dalam kehidupan ini.

Kembangkan gagasan sebanyak –banyaknya
Seorang pemenang hadiah Nobel di bidang Kimia, Linus Pauling pernah mengatakan: ”the best way to get good ideas is to get a lot of ideas.” Cara terbaik untuk mendapat gagasan yang bagus adalah dengan mengumpulkan banyak sekali gagasan. Jika kita senantiasa membatasi dengan satu gagasan, satu jawaban, satu cara, dan satu kehidupan yang kita jalani, kita tidak akan pernah memperoleh hal-hal terbaik yang dapat diberikan oleh kehidupan ini kepada kita. Latihlah pikiran anda untuk senantiasa mencari banyak solusi atau alternatif. Kembangkan kreativitas dan imajinasi anda senantiasa. Jika kita hanya memiliki satu cara atau satu jawaban atas masalah kita, maka kita harus ingat bahwa banyak sekali pilihan dan alternatif untuk masalah tersebut, siapa tahu justru alternatif kedua, ketiga dan seterusnya justru yang merupakan jawaban atau solusi terbaik. Terbukalah terhadap alternatif dengan cara membuka pikiran kita.

Langgar peraturan dan hancurkan kebiasaan lama
Menjadi kreatif seringkali berarti melanggar aturan atau pola-pola lama yang sudah ada, dan mengembangkan cara-cara baru dalam melakukan sesuatu. Jika kita tidak memperoleh hasil yang baik seperti yang kita inginkan, baik itu dalam hal hubungan, pekerjaaan, maupun bisnis, cobalah untuk melakukan hal yang berbeda. Bagaimana anda mengharapkan hasil atau keadaan yang berbeda dengan apa yang anda miliki sekarang, jika anda tetap melakukan hal yang sama. Jika anda menginginkan hasil yang berbeda, lakukan hal yang berbeda. Keluarlah dari zona kenyamanan (comfort zone) anda dan lakukan sesuatu dengan hidup anda.
Saya dulunya adalah orang yang tidurnya selalu larut malam di atas jam 12 malam dan bangun kesiangan di atas jam 7 pagi. Namun dua tahun yang lalu saya berketetapan untuk mengubah kebiasaan ini. Saya tidur sekitar jam 9-10 malam dan jam 2-3 pagi saya bangun untuk melakukan meditasi dan saat teduh, kemudian menulis. Sehingga saat ini saya adalah salah satu penulis yang produktif dan buku-buku kami adalah buku best selling.

Gunakan imajinasi
Imajinasi kita tidak dibatasi oleh batasan dunia nyata kita. Imajinasi kita tidak mengenal batas dan apa pun yang ditangkap oleh pikiran kita dan kita yakini, akan dapat mewujud menjadi realitas. Imajinasi kreatif kita membantu kita untuk mengeksplorasi pilihan-pilihan atau opsi yang berbeda dan melihat banyak sekali skenario dan peluang hasilnya. Berikut adalah cara menggunakan imajinasi kita untuk mengembangkan gagasan inovatif.

Bayangkan bagaimana orang lain melakukannya. Pilihlah teladan bagi anda, misalnya anda adalah seorang musisi, maka bayangkan apa yang akan dilakukan oleh John Lennon ketika akan menciptakan lagu masterpiece-nya. Atau bagaimana misalnya seorang CEO sekaliber Jack Welch menyelesaikan masalah yang anda hadapi. Anda bisa mengetahui perilaku dan cara berpikir tokoh-tokoh ini melalui biografi atau buku-buku yang mereka tulis. Salah satu buku yang menarik yang sedang saya baca adalah Lessons from the Top: the 50 most successful business leader, karangan Thomas J. Neff dan James M. Citrin. Buku seperti ini dapat memberi inspirasi dan mengembangkan imajinasi kita, tentang bagaimana para CEO atau pemimpin perusahaan yang terkemukan menangani masalah dan membawa perusahaannya ke tingkat kemajuan yang berarti.

Hal berikutnya yang dapat kita lakukan adalah dengan membayangkan kita berbicara dan memperoleh nasihat dari mereka. Teknik ini menjadi sangat terkenal di tahun 1996, ketika wartawan Bob Woodward melaporkan bahwa Ibu negara Amerika ketika itu, Hillary Clinton memanggil arwah mantan ibu negara Eleanor Roosevelt. Padahal sebenarnya Hillary Clinton sedang mempraktekan teknik imajinasi dengan dipandu oleh akademisi dan penulis buku terkenal Jean Houston di Camp David. Teknik ini sederhana, caranya adalah dengan membayangkan diri kita sedang ”melakukan dialog dan diskusi” secara nyata dengan seseorang yang kita kagumi dan hormati, serta kita mendengarkan nasihat mereka atas setiap persoalan dan masalah yang kita hadapi.

Isilah sumber inspirasi anda
Mengisi sumber inspirasi berarti mengembangkan diri kita untuk lebih waspada, menyeimbangkan kehidupan kita. Karena seperti kata pepatah Zen: ”The bow kept forever taut will break.” Busur panah yang terus menerus ditarik, lama-lama akan patah. Peliharalah keseimbangan antara kerja dan relaks, antara kantor dan keluarga, antara dunia dan akhirat. Banyak sekali mereka yang berhasil dalam bidang kehidupan, menemukan jalan kesuksesan (breakthrough) setelah menarik diri, melakukan kontemplasi dan perenungan.
John Kehoe, penulis buku Mind Power mengatakan bahwa ”when you are idle your conscious mind, your subconscious mind (creative mind) advances full steam ahead.” Jika anda mengosongkan pikiran anda, maka kreativitas anda akan maju ke depan.
Inilah yang menjadi pesan utama kami dalam mengembangkan manajemen diri, yaitu membiasakan diri untuk melakukan relaksasi dan meditasi, sehingga kita dapat mencapai kesadaran yang lebih tinggi dan memasuki alam kreativitas yang membawa kita pada jalan kesuksesan. Bahkan banyak sekali para ahli mind power meramalkan bahwa abad ke-21 akan menjadi abad kebangkitan berpikir (the Renaissance), jika banyak orang mempraktekan kehidupan yang meditatif dan mengembangkan kreativitas melalui pendayagunaan kekuatan bawah sadarnya.n

Mengenal Aral Kreativitas

Kreatifitas adalah jantung dari inovasi. Tanpa kreatifitas tidak akan ada inovasi. Sebaliknya, semakin tinggi kreatifitas, jalan ke arah inovasi semakin lebar pula. Sayangnya, banyak pendapat keliru tentang kreatifitas. Misalnya, kreatifitas itu hanya dimiliki segelintir orang berbakat. Lebih salah kaprah lagi, kreatifitas itu pembawaan sejak lahir. John Kao, pengarang buku Jamming: The Art and Discipline in Bussiness Creativity, (1996), membantah pendapat ini. “Kita semua memiliki kemampuan kreatif yang mengagumkan. Dan benar kreatifitas bisa diajarkan dan dipelajari,” kata Kao.

Kreatifitas selalu dimiliki orang berkemampuan akademik dan kecerdasan yang tinggi. Ini juga pendapat keliru. Berbagai penelitian membuktikan, sekalipun kreatifitas bisa dirangsang dan ditingkatkan dengan latihan, namun tidak berarti orang cerdas dan berkemampuan akademik tinggi otomatis bisa kreatif. Lagi pula, untuk jadi kreatif ternyata tidak cukup berbekal skill dan kemampuan kreatif belaka. John G. Young, pengarang buku berjudul Will and Won’t: Autonomy and Creativity Blocks (2002), berkesimpulan bahwa kreatifitas juga membutuhkan kemauan atau motivasi. Mengapa?

“Sebab memiliki ketrampilan, bakat, dan kemampuan kreatif tidak otomatis membuat seseorang melakukan aktivitas yang menghasilkan output kreatif. Ia bisa memilih tidak melakukan aktivitas kreatif. Jadi faktor dorongan atau motivasi sangat penting di sini,” tegas Young.

Creativity blocks

Pendapat-pendapat di atas diperkuat oleh Madhukar Shukla, pengarang buku The Creative Muse: Story of Creativity and Innovation. Ia menyatakan, “Beda antara orang kreatif dan yang tidak hanyalah pada kemampuan orang kreatif dalam menghalau aral (penghalang) kemampuan kreatifitas.”

Paparan-paparan para pakar di atas makin menegaskan bahwa semua orang memiliki karunia yang menakjubkan dalam hal kreatifitas. Namun, sekalipun semua orang berpotensi dan punya bakat kreatif, ada penghalang tertentu yang menyebabkan adanya kecenderungan orang yang satu bisa lebih kreatif daripada yang lain. Ini menghantarkan kita pada pertanyaan; bagaimana cara menghilangkan aral atau penghalang-penghalang kreatifitas tersebut?

Tentu saja langkah awalnya adalah dengan mengenali anatomi aral kreatifitas. Ringkasnya, aral kreatifitas (creativity block) adalah kondisi internal maupun eksternal (lingkungan) yang menghalangi proses kreatif. Aral internal berasal dari dalam diri individu sendiri dan bisa berbentuk pola pikir, paradigma, keyakinan, ketakutan, motivasi, dan kebiasaan.

Ada kalanya seseorang mempunyai bakat-bakat kreatif dan tertantang untuk mengembangkannya. Sayang, lingkungan sekitar bukannya mendukung dan mewadahi, namun malah menghalanginya. Kondisi lingkungan yang menghambat kreatifitas dan ini bisa berupa aral sosial, organisasi, dan kepemimpinan. Secara singkat, pembahasan kedua jenis aral kreatifitas tersebut adalah sbb:

Aral pola pikir

Dalam konteks kreatifitas, dikenal dua pola berpikir. Pertama adalah pola pikir produktif yang artinya jika dihadapkan pada suatu masalah, seseorang akan berusaha menemukan cara berpikir berbeda, cara pandang baru (sekalipun tidak selalu orisinil), sikap dan perilaku berbeda, merespon dengan cara-cara non konvensional, bahkan unik. Pola semacam inilah yang membuka jalan dan selalu merangsang kreatifitas seseorang.

Kedua, adalah pola pikir reproduktif yang artinya jika dihadapkan pada masalah, seseorang akan cenderung merespon dengan cara yang sama, mengulang pola pikir atau cara pemecahan lama yang sudah terbukti berhasil. Itu sebabnya pola pikir reproduktif menjadi salah satu penyebab utama kekakuan berpikir, dan dengan demikian menjadi aral kreatifitas.

Seringkali, pola pikir reproduktif berlangsung secara mekanikal atau nyaris otomatis. Dan ini terkondisikan oleh hasil pendidikan model skolastik atau lingkungan yang menuntut cara-cara berpikir praktis dan sangat terstruktur. Sampai pada saat kita mentok dalam upaya pencarian variasi solusi, di titik itulah baru kita sadari keterbatasan pola pikir reproduktif.

Aral paradigma

Tak beda jauh dengan aral pola pikir adalah aral paradigma. Sebagai cara mempersepsi, memahami, dan menafsirkan dunia sekelilingnya, atau alat untuk melahirkan gambaran batin, paradigma seseorang sangat mempengaruhi kreatifitas. Seorang dengan paradigma anti konflik umumnya kurang menyukai perubahan, atau bahkan membenci perubahan yang lebih dianggap sebagai ancaman terhadap kemapanan daripada dipersepsi sebagai peluang perbaikan. Padahal, kreatifitas seringkali merupakan aktivitas yang melampaui kemapanan. Kreatifitas dapat terlahir atau terstimulasi melalui benturan, persinggungan, percampuran, dan penyatuan berbagai unsur yang berbeda atau bahkan saling bertentangan.

Aral keyakinan

Turunan dari paradigmaadalah keyakinan yang bisa menjadi pendorong atau justru menjadi faktor penghambat kreatifitas. Kreatifitas sering memunculkan output baru yang berlawanan atau bahkan mengalahkan hal lampau, mengalahkan senioritas, mengalahkan pengalaman, atau mengalahkan hirarki. Dalam hal keyakinan yang dianut menabukan inisiatif, mengharuskan penghormatan pada senioritas, hirarki, atau pengalaman misalnya, maka manifestasi kreatifitas umumnya relatif terhambat. Nah, sampai batas mana individu bisa mengelola aral ini, sampai pada batas itulah ia bisa menyediakan ruang kreatifitas bagi dirinya sendiri.

Aral ketakutan

Barangkali aral kreatifitas yang paling mudah dikenali adalah rasa takut. Aral ini bisa berupa takut diabaikan, takut dicemooh, takut dievaluasi, takut dihakimi, takut dianggap bodoh, takut pada ketidaksempurnaan, takut mencoba, takut ambil risiko, takut ide tidak berjalan seperti yang diharapkan, takut gagal, dll. Salah satu sebab mengapa banyak rapat-rapat kurang maksimal atau kurang kreatif adalah karena masih kuatnya aral ketakutan yang membelenggu para pesertanya. Pendek kata, kebanyakan rasa takut membuat seseorang cenderung enggan mewujudkan potensi dan mengembangkan kreatifitasnya.

Aral motivasional

Motif sangat mempengaruhi sikap, perilaku, keinginan, atau tindakan-tindakan sengaja lainnya. Tanpa motivasi orang cenderung tidak terdorong dan tidak tergerak untuk meraih sesuatu yang diinginkannya. Padahal kreatifitas sering menuntut satu rangkaian persiapan, pemikiran, pendefinisian persoalan, dan pemecahannya. Semuanya membutuhkan –dalam derajat tertentu– usaha dan kerja keras. Bila motivasi rendah, orang cenderung kurang menyukai kerja keras, kurang tekun, dan enggan memanfaatkan kemampuan kreatifnya untuk memecahkan tantangan.

Aral kebiasaan

Sebagai perpaduan antara pengetahuan, ketrampilan, dan keinginan, maka kebiasaan pun jelas berpengaruh pada kreatifitas. Orang-orang kreatif umumnya memiliki kebiasaan- kebiasaan yang menstimulasi kreatifitas. Sementara orang- orang yang kurang kreatif juga memiliki kebiasaan-kebiasaan tertentu, yang sayangnya bisa meredam kreatifitas. Misalnya; suka menghindari masalah (bukannya mencari solusi), malas berpikir, menghindari tantangan, menghindari tanggung jawab, menghakimi ide-ide baru, berpuas diri, menghindari hal-hal imajinatif, dll. Dihadapkan pada kebiasaan-kebiasaan maka tantangan kreatifitas tidak ada artinya.

Aral sosial

Kreatifitas kadang bukan semata aktivitas individual sehingga langsung atau tidak juga dipengaruhi aspek sosial. Situasi sosial tertentu cukup apresiasif dan menghargai kreatifitas dengan layak sehingga bisa lebih memotivasi indvidu-individu untuk produktif dan kreatif. Sementara situasi sosial lainnya relatif kurang apresiasif atau bahkan mengekang. Pendidikan tradisional misalnya, sering dianggap sebagai salah satu produk sosial yang kurang memberi tempat bagi kreatifitas.

Aral organisasi

Kini organisasi bisnis menempatkan kreatifitas sebagai motor sekaligus bahan bakar inovasi. Sekalipun peran kreatifitas diakui besar, namun banyak organisasi gagal menyediakan lingkungan atau iklim yang kondusif bagi kreatifitas. Organisasi yang konservatif biasanya kurang merangsang kreatifitas. Sebut pula batasan-batasan seperti hirarki, aturan yang tidak fleksibel, ketiadaan wadah bagi ekspresi kreatif, egoisme antar departemen, buruknya komunikasi, atau situasi organisasi yang sangat terpolitisasi. Potensi kreatif individu sering tidak maksimal dalam iklim seperti ini.

Aral kepemimpinan

Dalam kehidupan sosial dan organisasional, faktor gaya kepemimpinan juga berpengaruh secara signifikan terhadap proses kreatifitas. Jika pemimpin organisasi kurang memberi ruang kebebasan, kurang bisa momotivasi, tidak mampu memberi tantangan, tidak mampu mengelola hasrat kreatif, kurang memberi penghargaan, tidak memberi kepercayaan, tidak mendukung, dan tidak mampu menciptakan lingkungan yang kondusif, maka kreatifitas individu-individu dalam organisasi jelas akan terhambat. Seberapa kreatif individu- individu dalam tim, namun jika tidak didukung oleh kemampuan manajemen kreatif pemimpinnya, hasilnya juga kurang menggembirakan.

Sumber: Mengenali Aral Kreatifitas oleh Edy Zaqeus

www.car.co.id


Mau tahu lebih dalam materi LF 6 Mei 2005 ? Ikuti Workshop "NLP for Trainer" pada tgl 9-10 Juni 2005 di Hotel Cempaka. Pembicara Bp. Hingdranata Nikolay (Timezone) & Bp. Bambang Y (Club Store). Biaya Ekonomis, Peserta terbatas hanya 30 orang. Outline: Introduction to NLP, Learning Process, Trainers Preparation, Trainers State, Delivering, Meta Model.

20-12-2005

Kreatif dan Kreativitas

Oleh Polisi EYD

Perhatikan beberapa petikan paragraf berikut ini.

Sebagai pekerja seni, Pablo Picasso, Lord Byron, dan Dylan Thomas memiliki kreatifitas yang lebih besar dibanding umumnya orang. (Kompas)

Menurut saya tidak semua keisengan itu sifatnya negatif, walaupun konotasinya cenderung demikian. Keisengan bisa jadi medium ekspresi kreatifitas seseorang. (ronny.haryan.to: Iseng dan Kreatifitas)

Berbagai perlombaan yang melibatkan kreatifitas pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) seluruh Kabupaten Bekasi meriahkan kawasan Lippo Cikarang. (Tempo Interaktif)

Kagum banget deh, dengan para peserta yang menampilkan kreatifitasnya, walaupun sambil di guyur hujan. (dinny’s blog)

Kita mengenal kata kreatif yang diserap dari kata creative. Akhiran -ive atau -ief (Belanda) memang disesuaikan menjadi -if sehingga terbentuklah kata-kata serapan seperti kreatif, demonstratif, aktif, dan selektif. Setelah diserap, kata-kata tersebut dapat kita beri imbuhan menjadi kekreatifan, pengaktifan, dan lain-lain.

Namun, ketika menyerap sebuah istilah asing yang berakhiran, kita harus menyerap akhiran pada kata tersebut sebagai bagian kata yang utuh di dalam bahasa Indonesia. Dengan demikian kata creativity akan kita serap menjadi kreativitas, bukan kreatifitas (unsur v tetap diserap menjadi v dan akhiran -ty menjadi -tas).

Contoh kata serapan lain yang senasib antara lain aktif dan aktivitas (bukan aktifitas), sportif dan sportivitas (bukan sportifitas), sensitif dan sensitivitas (bukan sensitifitas), produktif dan produktivitas (bukan produktifitas).

Oh ya, pada petikan ke-4, “di guyur hujan” seharusnya ditulis “diguyur hujan”.

  1. Pujiono berkomentar,

Orang yang kreatif memang kadang-kadang menuliskan kata kreativitas mennggunakan huruf ‘f’ bukan ‘v’. Mereka melakukan aktivitas ini karena kekreatifan mereka, bukan karena kepasifan mereka untuk belajar bagaimana menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Betul?

  1. Dinny berkomentar,

Makasih udah dikoreksi D. Dan makasih juga dah promosi gratis ;P

  1. mencreto berkomentar,

Kalau ‘kreatip’ gimana? terutama buat saudara-saudaraku the Sundanese, karena sulit untuk membedakan f, v, dan p. Tapi tidak berarti mereka tidak kreatip.

  1. Ronny berkomentar,

Wah, baru tau -)

Terima kasih sudah dikoreksi.

  1. Deddy berkomentar,

wuih! ada polisi EYD. klo ada razia bisa kena nih D

  1. BlackManta berkomentar,

Apa bedanya singkatan dan akronim, Pak Pol? Kapan harus menggunakan singkatan dan kapan akronim?

Saran saya ditambahkan tempat untuk bertanya, agar tidak mengganggu topik yang disampaikan.

  1. Alia berkomentar,

Biasanya gue sebagai seorang penulis naskah, selalu berpatokan pada KOMPAS untuk mencari tahu ejaan yang benar.

Tapi ternyata, KOMPAS juga masih salah toh huhuhu

  1. azil berkomentar,

#7 berpatokan pada KOMPAS? hari gini?

  1. Seno berkomentar,

#6 Kalo ngga salah, singkatan itu misalnya EYD,PRT, DPR, MPR, MA, dll.
Trus kalo akronim misalnya rutan, ABRI, IGOS, IPA, dll.

Wah, semoga pak polisi ngga pernah razia blog jadul™

  1. saylow berkomentar,

wah saya selama ini malah pake “p”…*menunduk

  1. Polisi EYD berkomentar,

#6: Singkatan ialah bentuk yang dipendekkan yang terdiri atas satu huruf atau lebih.

Akronim ialah singkatan yang berupa gabungan huruf awal, gabungan suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata yang diperlakukan sebagai kata.

Seno (#9) sudah memberikan contoh-contohnya.

  1. hasan berkomentar,

hi,

bagaimana mau mengajukan pertanyaan kepada polisi eyd yah -)

mau tanya perbedaan ‘dikarenakan’ dan ‘karena’

thx

  1. Bawoer berkomentar,

Boss, tak tunggu-tunggu dari dulu kok gak ada yang membahas MINIMALISASI, MINIMISASI, OTOMATISASI, OTOMASI? Ada yang punya referensi?

  1. Nectar berkomentar,

Wahhh…wahhh…bahasa indonesia tuh amat sangat njelimet ya…. D

  1. qothrunnada berkomentar,

boleh juga tuh komentarnya. Yang pasti bahasa kita akan mencerminkan siapa kita, bukan? Bahasa menunjukkan bangsa. Apakah kita bangsa beradab, bangsa berpendidikan atau bangsa … at?! coba pelajari bahasa pejabat dan politisi negara kita, …??

  1. wibowo berkomentar,

Bagaimana dengan kata serapan dari “design”? Apakah “desain” atau “disain”?

  1. Orgi berkomentar,

wah makasih atas pencerahannya. dulu saya sering disalahin dosen karena salah ejaan. Bahasa indonesia seharunya ngikuin trend juga, bukan nyiptain seenak udel dewe (tetikus) )

  1. danang berkomentar,

tapi kalo saya biasanya kreatov bener apa salah ini yak

  1. Samraka berkomentar,

Kita kalau perlu tidak usah ‘nyalin “daripada” kata-kata asing. Lebih baik kita ciptakan ‘aja istilah sendiri. Dipungut dari bahasa daerah-kah atau bikin yang baru sama sekali.
‘G(a)imana?

  1. Budi Rahardjo berkomentar,

Akhirnya jadi tahu teorinya …

  1. joan t berkomentar,

ada yg tau ngga bahasa indonesia yg baik dan benar dan dapat membedakan dng jelas antara orang asing sebagai stranger dan orang asing sebagai foreigner. sebab kalau aku melarang anak kecil berbicara dengan orang asing mereka selalu mengira kalau orang asing itu bule.makasih sebelumnya

  1. qq berkomentar,

mana yang benar?detail atau detil?

  1. qq berkomentar,

ada lagi.. provinsi atau propinsi?

  1. sitey berkomentar,

benar juga kata dosen saya,,,itu lo tentang kreativitas saya jadi g salah nulis lagi,,,kebetulan gi nyusun jadi so thank U banget deh………..”””

  1. jeroan berkomentar,

saya sangat setuju penjelasan yang dilakukan oleh polisi EYD tentang kata kreativitas. tapi alangkah bijaknya jika contoh yang diambil bukan dari media online karna kita sama-sama tahu jika media online itu sangat up-date sehingga kemungkinan salah ketik atau salah berbahasa itu sangat besar. alngkah baiknya jika contoh juga diambil dari media yanh telah diedit oleh staf bahasanya. ini hanya usulan. usul saya bagaimana jika pengasuh polisi EYD lebih selektif dalam memilih contoh. maju terus.

Kreativitas

Kreativitas akan semakin lengkap bila terlahir dari kehernihan hati sebagai buah dari ibadah yang berkualitas. Biasanya, hati yang jernih akan melahirkan firasat dan ide-ide cemerlang yang akan menjadi nilai tambah dalam kehidupan. Saudaraku, setiap hari usia kita bertambah; setiap hari terjadi perubahan, dan setiap hari pula masalah semakin bertambah, semakin kompleks, dan semakin rumit. Karena itu, bila kemampuan kita tidak bertambah, maka cepat atau lambat masalah akan membinasakan dan menghancurkan kita.

Ada satu kemampuan hal yang harus selalu kita tingkatkan agar hidup kita makin berkualitas. Itulah kreativitas. Kreativitas adalah daya cipta dan kemampuan untuk menciptakan sesuatu dari tidak ada menjadi ada. Biasanya, kreativitas akan memunculkan inovasi, yaitu kemampuan untuk memperbaharui hal-hal yang telah ada. Bila kreativitas itu daya atau kemampuan, maka inovasi itu hasil atau produk.

Kreativitas begitu penting dalam hidup manusia. Kenapa? Tanpa kreativitas kita akan larut dan tergilas roda perubahan. Tanpa kreativitas kita tidak akan mampu bertahan menghadapi perubahan yang semakin cepat. Perusahaan-perusahaan besar yang mampu bertahan, biasanya memiliki tradisi untuk mengembangkan budaya kreatif yang kemudian menghasilkan produk-produk yang inovatif.

Bagaimana caranya agar kita mampu menjadi orang yang kreatif? Ada lima cara. Pertama, selalu memiliki rasa ingin tahu. Orang yang kreatif adalah orang yang gemar mencari informasi, gemar mengumpulkan input, dan cinta ilmu. Tiada berlalu waktu kecuali bertambah dengan input-input yang baru dan segar. Karena itu, kita harus selalu bertanya, sejauh mana kecintaan kita terhadap informasi dan ilmu.

Ada banyak cara yang bisa lakukan untuk mendapatkan input tersebut. Bisa lewat buku, sikap meneliti, menyimak, melihat tayangan televisi yang bermanfaat, berdiskusi, merenung, mendengar, menghadiri majelis ilmu, dan sebagainya. Kedua, terbuka pada hal-hal yang baru. Setiap saat selalu terjadi perubahan. Sangat ruginya orang yang tidak mau berubah dan tidak menyukai hal-hal baru. Orang kreatif adalah orang yang tidak terbelenggu dengan pendapatnya sendiri. Tentu, terbuka dengan hal-hal baru tidak harus menjadikan kita mengikuti hal-hal baru tersebut. Kita bisa mengolahnya, menyaring hal-hal yang baik, dan menyesuaikan dengan nilai-nilai yang kita anut.

Ketiga, berani memikul risiko. Semua tindakan kreatif biasanya akan mengundang resiko. Adalah mimpi melakukan sesuatu yang baru tanpa adanya resiko. Rasulullah SAW adalah orang yang kreatif dengan membawa ajaran baru (Islam) ke tengah-tengah umatnya. Konsekuensinya, beliau dimusihi dan diperangi. Demikian pula dengan Thomas Alfa Edison. Ia adalah orang kreatif yang berani gagal beribu-ribu kali sebelum menemukan bola lampu. Untuk menjadi kreatif, kita harus berani menganggung resiko, keluar dari zona nyaman.

Keempat, memiliki semangat yang membara untuk sukses dalam hidup. Tanpa semangat, mustahil kita akan mendapat banyak hal dalam hidup. Semangat biasanya akan melipatgandakan kemampuan seseorang untuk berprestasi. Orang yang kreatif, hari-harinya akan selalu bersemangat untuk berproses dalam menggapai semua hal yang diinginkannya. Kita harus bertanya, bersemangatkah kita dalam hidup? Apakah kita ini seorang yang bermental lemah dan selalu kalah dalam memperjuangkan cita-cita? Kita sendiri yang bisa menjawabnya.

Kelima, nilai kreativitas akan makin lengkap dengan hati yang jernih sebagai buah dari ibadah yang berkualitas. Biasanya, kejernihan hati akan melahirkan firasat dan ide-ide cemerlang yang akan menjadi nilai tambah dalam kehidupan seorang Muslim. Biasanya, karya-karya monumental selalu berawal dari kejernihan hati dan ketajaman pikiran yang direalisasikan dalam tindakan nyata. Semoga Allah Yang Mahaagung, memberi kemampuan pada kita untuk menjadi seorang yang kreatif dalam hidup; kreatif yang positif; kreatif yang lahir dari kejernihan batin sebagai buah dari ibadah yang berkualitas.

Kreativitas!

Bagaimana mengajarkan kreativitas? Poincare, Brouwer, Einstein, Heisenberg, Bohr, Gödel adalah sejumlah ilmuwan yang berpendapat bahwa penemuan pengetahuan berbeda dengan validasi pengetahuan. Lebih jauh lagi, mereka berpendapat kreativitas adalah sesuatu yang irasional, intuitif, melibatkan insting, dan terjadi di bawah alam sadar.

Apa yang diungkapkan oleh para ilmuwan tersebut dapat terlihat pada sosok Chad Meredith Hurley, salah seorang pendiri situs YouTube yang selain berdarah seni juga memiliki minat yang besar terhadap teknologi dan bisnis. Situs yang memungkinkan Anda menonton video tersebut pada usianya yang ke-21 bulan berhasil dijual dengan harga 1,65 miliar dollar AS kepada Google. Kisah Google, merupakan cerita lain lagi mengenai dua mahasiswa Stanford, Sergey Brin dan Larry Page dalam memadukan kecerdasan dan kreativitas.

Adanya kreativitas yang diperlukan dalam keberhasilan sebuah usaha, baik bisnis maupun dalam menciptakan persamaan-persamaan baru, menyebabkan ruang irasional, intuitif, insting menjadi hal mutlak. Lalu mungkinkah hal-hal tersebut dipelajari? Dalam Art, Mathematics and Music, Moiseiwitsch mengungkapkan adanya skala Pythagoras yang ditemukan dalam musik gubahan Johann Sebastian Bach dan Chopin. Begitupula dalam rancangan bangunan Panthenon di Athena yang mengikuti kaidah segi empat emas.

Persamaan antara seni yang acap dikategorikan sebagai subjektif dengan pengetahuan yang objektif mengindikasikan beberapa hal. Pertama, proses kreativitas tak mengenal batas-batas subjektif-objektif. Bagi para matematikawan spiral pada cangkang nautilus menimbulkan ketakjuban karena mengikuti deret Fibonacci(1,1,2,3,5,8,…), sedangkan bagi seniman atau pujangga, keindahan nautilus mampu menjadi inspirasi bagi paduan warna-warni di kanvas ataupun kata-kata puitis.

Sama halnya ketika Newton sedang duduk di bawah pohon apel dan terinspirasi mengenai gaya gravitasi. Terlepas dari kebenaran adanya pohon apel tersebut, sebagaimana yang dituliskan oleh James Gleick, peristiwa alam tersebut menjadi pemicu atas akumulasi pengetahuan yang dimiliki Newton. Bagi saya, dan mungkin juga Anda, ketika ada apel jatuh yang terpikir langsung betapa enaknya jika apel tersebut dimakan.

Kedua, kreativitas adalah sesuatu yang alamiah. Hal yang menentukan keberhasilan sebuah proses kreatif adalah langkah-langkah untuk mewujudkan ide-ide liar tersebut dalam sebuah formula baku. Para ilmuwan dalam sebuah metode formal, para seniman dalam karya yang keindahannya dapat dipersepsi oleh panca indra.

Peran keindahan juga tampak pada sejarah astronomi. Sejak diajukan oleh Eudoksus (409-356 SM), diterima oleh Aristoteles, dan dirumuskan kembali oleh Ptolemeus, bumi dianggap sebagai pusat dari tata surya. Tata surya yang berpusat pada bumi ini memiliki persoalan untuk menjelaskan gerakan Merkurius sampai Saturnus yang memiliki gerakan beragam. Ptolomeus, astronom ternama pada zamannya, mencoba menutupi persoalan ini dengan membuat sistem yang memuat 80 lingkaran agar dapat menjelaskan pergerakan planet-planet yang beragam.

Meski demikian, masih ada ketidakcocokkan antara model yang dibuat Ptolemeus dengan pengamatan. Sistem rumit inilah yang memancing revolusi yang diusung oleh Copernicus. Pandangan Copernicus yang dibukukan dalam De Revolutionibus Orbus Caelestium(1543), mengganti posisi bumi dengan matahari. Pergantian ini memberi implikasi sistem pergerakan planet yang lebih sederhana dan

Keindahan dan pengetahuan menjadi dua hal yang tak terpisahkan. Hal yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana sistem pendidikan formal dapat mengakomodasi kreativitas ini?

Akibat Kreativitas Berlebihan

Kalau kita memutari dunia blogosphere, kita bisa menemui banyak orang-orang kreatif yang bertebaran. Mulai dari kreatif menulis, menggambar, bercerita, hingga mendesain. Bagaimana seandainya orang-orang yang memiliki kreativitas tersebut tergabung menjadi satu? Jawabannya cuma satu. HANCUR™!

Anak-anak CahAndong yang super kreatif mulai menebarkan sayap mereka dengan membangun wiki.cahandong.org yang berisikan artikel-artikel mantap mulai dari definisi bloger sampai dengan istilah-istilah seperti blogwalking, bloger jalang, hingga pisuhan. Sedikit mirip dengan wikipedia, namun isinya lebih menjurus ke arah menyesatkan™. Saya tidak menjamin anda akan sehat walafiat setelah membaca isi tulisan-tulisan dalam Wiki CA tersebut. Minimal, anda bisa njengking, atau koleps.

Tidak hanya membuat Wiki CA saja, rupanya kadar kreativitas penghuni CahAndong.org ini overdosis. Untuk menyalurkan orgasme kreativitas mereka, maka kembali diluncurkan sebuah karya anak bangsa, yaitu klithikan.cahandong.org. Bagi yang belum mengenal anak-anak bangsa ini, mungkin akan berpikiran penulis klithikan ini gila! Minimal lulusan rumah sakit nonsense. Namun jika ditelusuri ternyata mereka orang-orang hebat yang ada di balik CahAndong.

Mau ngakak? Silakan baca Wiki CA dan Klithikan hasil godokan CahAmbyar. Namun saya tidak menanggung efek samping setelah membaca tulisan-tulisan tersebut. P

Selamat Membaca!

Mengajarlah dengan Kreativitas

S Prasetyo Utomo

Berhentilah mengajar dengan perut lapar, wahai guru wiyata bakti yang mulia! Mengajarlah dengan perut kenyang, rumah tangga yang tenang, dan pengetahuan yang terus berkembang. Tetaplah pada dedikasi yang penuh, harga diri yang utuh.

Menjadi guru bukan berarti menjadi nista, menjadi papa. Berhentilah meratap-ratap dan meminta belas iba. Meski honor yang Anda terima tak seberapa, tetaplah mengembangkan profesi guru. Milikilah kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, dan kompetensi sosial.

Percuma sudah kita melancarkan kritik. Bukankah kritik yang Anda lontarkan telah menyebabkan pemerintah murka? Percuma juga mogok makan. Berhentilah mogok makan! Sebab mogok makan hanya akan merusak kesehatan Anda, sementara pemerintah belum tentu menuruti tuntutan Anda!

Berhentilah mengutuki Undang-Undang Guru dan Dosen, karena undang-undang hanyalah konstruksi gramatik yang kosong makna selama birokrasi masih compang-camping. Kembalilah ke ruang-ruang kelas, dengan senyum, dengan keyakinan yang tak pudar, bahwa Anda bukan sebatang lilin yang menerangi ruangan dan menjadi leleh karenanya. Anda bagai matahari, yang di dalam diri Anda dikaruniai Tuhan sumber energi yang tiada tara.

Sumber energi itulah yang selama ini tak Anda duga, wahai sahabatku, para guru honorer yang mulia! Tidak pernahkah Anda dengar guru honorer yang sukses? Saya menemukan begitu banyak guru honorer yang gagah, tangguh, optimis, dan mengembangkan kreativitas di ruang kelas karena terlebih dulu ia menemukan eksistensi diri, bakat, ruang publik, dan ekspresi daya cipta untuk itu.

Ia tak hanya berharap murid-muridnya menjadi kreatif, berpikir lateral, mencari alternatif, menjalin hubungan interpersonal secara baik, tetapi dirinya sendiri memang terlebih dahulu melakukan hal itu.

Kisah para guru

Tidakkah Anda dengar kisah-kisah guru (di antaranya guru honorer) yang sukses memanfaatkan waktu luangnya untuk menopang profesi dan kompetensi pedagogiknya sebagai guru? Pertama, yang paling mudah dilakukan, guru yang menggunakan waktu luangnya untuk memberi les tambahan atau bekerja pada lembaga pendidikan yang memberikan bimbingan belajar. Honorarium yang diterima dari les tambahan atau bekerja pada lembaga pendidikan yang memberikan bimbingan belajar bisa saja jauh lebih besar dari honorarium sebagai guru.

Apa salahnya? Toh kematangan memberikan les dan bimbingan belajar dapat dikembangkannya di ruang kelas dalam kegiatan belajar-mengajar.

Kedua, tidak pernahkah Anda dengar kisah sukses guru yang kembali pada bakat karunia Tuhan dan mengeksplorasi bakatnya itu di luar waktu mengajar? Tidakkah Anda lihat teman Anda, guru biologi yang sukses dengan pertanian dan perkebunannya? Cobalah tengok kesuksesan teman Anda, guru seni rupa yang ternama dan kaya karena lukisan-lukisan dan borongan tamannya!

Tengok juga guru teknik elektro yang sukses dengan reparasi barang-barang elektronik! Belum lagi, lihat, teman Anda, guru PKK yang sukses dengan jahitan, dagangan, serta masakan-masakannya!

Nah, itu, guru bahasa dan sastra Indonesia yang gemar menulis di media massa, tidakkah hidupnya berkecukupan dan gagah dia di depan kelas?

Ketiga, tidakkah Anda melihat rekan-rekan guru Anda yang menulis buku bahan ajar, dikontrak penerbit, dan memperoleh royalti tiap kali buku itu dicetak ulang? Banyak guru yang menceburkan diri ke dalam profesi menulis buku bahan ajar berkelimpahan harta dan secara ilmu pengetahuan terus berkembang! Cara mengajarnya pun semakin menebar pesona! Mereka paling awal memahami perubahan kurikulum dan menangkap esensi pembelajarannya.

Berhenti merasa hina

Sahabat-sahabatku guru honorer yang teraniaya. Berhentilah merasa diri menjadi makhluk hina yang mesti terus meminta-minta, bahkan mesti dengan pati raga segala. Di antara impitan honor yang memang sangat kecil itu, pastilah Anda diberkati juga kelebihan: bakat, intelektualisme, kecakapan berpikir alternatif, dan kecerdasan interpersonal.

Sebelum Anda menempa anak didik untuk menemukan bakat, intelektualisme, kecakapan berpikir alternatif, dan kecerdasan interpersonal untuk mengatasi masalah hidup yang kian rumit, tempalah diri Anda terlebih dahulu untuk memperkokoh eksistensi diri. Ekspresikan bakat, intelektualisme, kecakapan berpikir alternatif, dan kecerdasan interpersonal setiap hari. Niscaya Anda akan segera menyingkap labirin yang telah menyungkap nasib hidup Anda. Dengan demikian, Anda tak perlu merasa berkubang lumpur-comberan peradaban. Anda akan bersinar sehangat matahari dan tak pernah kehabisan energi.

Janganlah Anda berpikir untuk meninggalkan profesi guru karena Anda penerus Ki Hajar Dewantoro, teratai yang berkembang di tengah lumpur peradaban. Kalau Anda meninggalkan profesi guru, meskipun sangat mencekik kehidupan, bangsa ini akan benar-benar jadi lumpur, jadi comberan. Tanpa teratai bersemayam di atasnya. Tetaplah berkembang sebagai teratai sahabat-sahabatku. Bukan teratai layu. Bukan yang terkubur lumpur-comberan.

Percayalah Tuhan telah mengaruniai bakat begitu mulia pada diri Anda. Tinggal Anda sibak labirin yang menyungkupnya! Ekspresikan pada waktu-waktu luang di luar jam mengajar. Niscaya Anda akan menemukan hasil yang menakjubkan dan tertawa, mengapa dulu mengiba- iba dalam tenda, mogok makan, dan mengutuki nasib segala.

Saudara-saudaraku guru honorer, saya berempati dengan perjuangan Anda menuntut keadilan dan kesejahteraan. Akan tetapi, sebenarnya, di dalam diri Anda bersemayam keadilan, kesejahteraan, dan kreativitas yang tiada tara, maka pancarkanlah! Begitu banyak sahabat yang saya miliki, guru honorer juga, yang kaya, cerdas, progresif, kreatif, dicintai murid-muridnya, karena memanfaatkan waktu luang selepas mengajar. Ini tak menyalahi kodratnya!

S Prasetyo Utomo Pendidik dan Penulis Cerita, Mantan Guru Honorer, Tinggal di Semarang

OtakKiri.com dan Kreativitas Orang Muda

Posted by Muhammad Rivai Andargini • Monday, March 10. 2008 • Category: Personal

Wah, tak menyangka jika kawan Okto Silaban juga ikut berada dibalik otakkiri.com

Saya mengenal otakkiri.com pekan lalu ketika sedang berkelana mencari themes untuk Zen-Cart. Pencarian saya berujung pada blog milik Dian Nandiwardhana. Saat itulah saya melihat otakkiri.com dalam bentuk yang masih minimalis karena tokonya belum diisi -).

Selang 2 hari kemudian saya browsing kembali dan menemukan catatan apa saja yang mereka kerjakan melalui blog toko mereka. Itulah bedanya toko konvensional dengan toko online yang dibangun dengan rasa cinta dan kedekatan personal (caelah). Toko online yang dibangun dengann kedekatan personal, dengan bercerita mengenai apa saja keseharian yang mereka lakukan untuk toko mereka akan jauh lebih mengena dibandingkan posting-posting mengenai promosi dan marketing secara kering.


Apa respon anda jika tiap kali membuka blog sebuah toko online dan beritanya meminta anda membeli dari toko mereka ? Awalnya mungkin biasa tapi lama-lama kan jadi jengah. Akan sangat baik jika orang-orang dibalik toko online mau sharing pengalaman atau resensi suatu produk secara netral tanpa diembel-embeli dengan promosi. Resensi yang kuat dengan gambar dan ilustrasi menarik akan jauh lebih memikat ketimbang ungkapan promosi secara lugas.

Saya menyambut baik otakkiri.com, dan terus terang saya kagum pada semangat anak-anak muda Yogyakarta. Diawali saat pertemuan saya dengan Thomas, Yanarief dan kawan-kawan saat libur Lebaran lalu dan pertemuan Indonesia Linux Conference November tahun lalu, saya melihat nilai-nilai positif anak-anak muda Yogyakarta yang jarang saya temukan pada anak muda kota lain, paling tidak jika dibandingkan dengan kota saya sendiri -). Bukankah lebih baik kita berkontribusi pada kemajuan dalam bentuk apapun itu daripada kita hanya sekedar mengeluh atau menghabiskan waktu untuk sesuatu yang kurang bermanfaat.

Terkait dengan otakkiri.com, kalau boleh saya sarankan, berikut adalah beberapa masukan berdasarkan pengalaman saya sebagai pembeli toko buku online selama ini

  1. Jumlah judul buku diperbanyak dan dilengkapi (tentu saja -D)
  2. Menggunakan bantuan rekan-rekan blogger untuk menuliskan resensi dan memberikan diskon khusus buat mereka jika ada pembeli yang datang atas resensi yang disampaikan. Promosi dari blogger bisa menjadi media yang dahsyat lho -)
  3. Menuliskan terbitan buku baru atau resensi buku yang menarik dalam blog (blog personal tak masalah). Orang biasanya menghargai ungkapan dan resensi spontan karena dianggap mencerminkan sesuatu yang apa adanya.
  4. Bekerja sama dengan rekan-rekan yang senang menulis artikel dan merekomendasikannya untuk mencetak buku dan menjualnya via otakkiri. Seingat saya ada satu perusahaan cetak buku online yang juga ada di Yogya. Kalau bisa kerja sama, tentu akan sangat baik.


Terakhir, saya sudah mutar-muter cari buku Forbes : Kisah terbesar dunia bisnis dan Kisah terbesar teknologi informasi. Ada yang punya buku ini nggak ? Saya bersedia membelinya dengan harga 2X dari harga label. Koleksi saya hilang saat beres-beres rumah…

INAICTA-2008 : Kebangkitan Nasional Melalui Kreativitas Digital

resize-foto-bersama.jpgMemasuki tahun 2008, Departemen Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia beserta seluruh pemangku kepentingan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di Indonesia akan menggelar Indonesia Information and Communication Technology Award 2008 yang disingkat menjadi INAICTA-2008. INAICTA merupakan agenda tahunan sebagai penghargaan untuk mendorong tumbuh kembangnya industri teknologi informasi dan komunikasi di Indonesia.INAICTA pertama kali digelar pada tahun 2007 dan berlangsung dengan sukses. INAICTA-2008 cukup istimewa karena pada perhelatan akbar komunitas TIK Indonesia ini bertepatan dengan 100 tahun peringatan Kebangkitan Nasional.

logo-inaicta-2008.jpgTahun ini, INAICTA mengusung tema “Kebangkitan Nasional Melalui Kreativitas Digital” dengan misi “mematangkan ICT industry di Indonesia” dan visi “memposisikan ICT sebagai pemungkin (Enablement) yang dapat digunakan oleh bangsa Indonesia untuk meningkatkan martabat bangsa di dunia International”. INAICTA-2008 bertujuan untuk meningkatkan kreatifitas profesional yang berpacu dalam pembuat solusi ICT, memacu penggunaan ICT disemua lini industri, mempersiapkan Pemain ICT Local untuk menghadapi kompetisi international, memacu pertumbuhan industri ICT.

Foto Launching INAICTA 2008

Karya ICT putra-putri bangsa Indonesia sebenarnya tidak kalah dengan karya bangsa lain sehingga INAICTA 2008 ini merupakan ajang tepat untuk mengapresiasikan para aktivis ICT. Selain itu, INAICTA-2008 diharapkan bisa memacu kebangkitan industri TIK Nasional sesuai dengan semangat Kebangkitan Nasional yang telah diikrarkan 100 tahun silam oleh putra-putri bangsa.

Berbagai persiapan dilakukan oleh tim pelaksana untuk mensukseskan INAICTA 2008. Diantara yang dilakukan adalah menyiapkan persiapan pelaksanaan lomba termasuk mengisi website, melakukan registrasi lomba dan mengkoordinasikan pelaksanaan lomba, menyiapkan sosialiasasi, publikasi dan promosi. Kemudian tim pelaksana menyiapkan dan melaksanakan kegiatan penyerahan penghargaan (award), serta administrasi dan pengadaan anggaran. Kegiatan persiapan lainnya adalah untuk menghadapi perlombaan Internasional (training center) bagi para pemenang INAICTA 2008 yang akan tampil di ajang internasional.INAICTA 2008 juga didukung sepenuhnya oleh BISKOM sebagai media partner yang mempublikasikan berbagai kegiatan pada INAICTA 2008.

INAICTA-2008 berisi serangkaian acara yang dimulai pada bulan Maret 2008 dan berakhir pada bulan Agustus 2008. Kegiatan utama INAICTA 2008 adalah perlombaan karya dan inovasi di bidang ICT, seminar, workshop, ekshibisi, business matching program dan malam penganugerahan.

Launching diadakan pada hari ini, Senin, 3 Maret 2008 sebagai pertanda dimulainya berbagai rangkaian kegiatan INAICTA-2008. Menurut Mohammad Nuh, Menteri Komunikasi dan Informatika, INAICTA merupakan salah satu faktor memajukan ICT, maka untuk mensukseskan tidak bisa berjalan sendiri yakni harus berkolaborasi dengan siapapun yang punya kepedulian dengan ICT.
“Lomba-lomba yang diadakan harus dikaitkan dengan competitivness. Namun jangan hanya sampai pada tahap kompetisi saja, kompetisi ini harus bisa sebagai pintu keluar untuk mengekspresikan talenta terhadap ICT sehingga kreativitas digital yang kita miliki bisa sebagai ujung tombak kebangkitan nasional,” ujar Muhammad Nuh saat launching INAICTA 2008 di kantor Depkominfo, Jakarta (3/3).

Selama bulan Maret hingga Mei 2008, panitia akan melakukan strategi “Jemput Bola” dengan melakukan road show kebeberapa kota di Indonesia, diantaranya Jakarta, Bandung, Surabaya, Denpasar, Makassar dan Medan dengan harapan mendapatkan lebih banyak peserta dengan kualitas yang lebih baik lagi.

Pendaftaran kompetisi dibuka mulai bulan April sampai pertengan Mei 2008. Pendaftaran dilakukan secara online di website INAICTA 2008 www.inaicta.web.id. Setelah itu dilakukan penjurian mulai bulan Juni 2008 hingga akhir Juli 2008 untuk menilai hasil dari karya peserta yang masuk.

Bulan Agustus merupakan puncak dari kegiatan INAICTA 2008 sehingga banyak acara yang digelar. Diantaranya workshop untuk semakin mematangkan pengetahuan mengenai ICT seperti Blog, Wikipedia, Open Source Software, Animasi, Robot, Game Developer dan Google Mobile. Disediakan juga Boothcamp sebagai tempat untuk menampilkan produk yang berkualitas dan memiliki potential buyer besar di Indonesia.

Kategori INAICTA-2008 yang diperlombakan sebanyak 10 kategori dengan 10 sub kategori, terdiri dari: e-Government, e-Business (finance, automation), e-Education, e-Entertainment, Supply Chain Management, Tools & Infrastructure, Research & Development, Student Project (SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi), Robot (SD, SMP, SMA, Umum), Smart Campus. Diantara beberapa kategori akan dilombakan pada saat eksibisi seperti e-inclusion, Robot, User Generated Content, Games, Festifal Film Animasi, Web Sekolah, Merakit Komputer dan Over Clocking.

Pemenang maupun peserta yang memiliki karya potensial mendapat kesempatan untuk bertemu dan ‘menjual’ karyanya kepada investor sehingga menumbuhkan jiwa technopreneurship dikalangan putra-putri bangsa untuk terus berkarya dimana karya tersebut akan digunakan dan tidak saja menjadi tuan rumah di negeri sendiri tetapi juga mampu menjadi konsumsi yang berkualitas dan berjaya di negara lain.

Dengan dukungan komunitas TIK di Indonesia, INAICTA-2008 akan menjadi tonggak penting dalam perkembangan dan kebangkitan TIK di Indonesia menuju masyarakat berbasis pengetahuan di tahun 2015.


SHARETHIS.addEntry({ title: “INAICTA-2008 : Kebangkitan Nasional Melalui Kreativitas Digital”, url: “http://www.biskom.web.id/2008/03/03/inaicta-2008-kebangkitan-nasional-melalui-kreativitas-digital.bwi” });
ShareThis

Tips Meningkatkan Kreativitas Anak

Author: rizky holic

Tips Meningkatkan Kreativitas Anak

  • Orang tua sebaiknya waspada terhadap ketertarikan anak yang spontan terhadap lingkungan sekitar. Anak sebaiknya didorong untuk menjadi anak yang penuh dengan intuisi, mau bereksplorasi dan bereksperimen.
  • Paparkan si anak dengan berbagai macam pengalaman dan aktivitas yang sesuai dengan hobi atau ketertarikan pada sesuatu.
  • Ajak mereka berbagi pengalaman.
  • Anda sebaiknya peka terhadap mood si kecil, serta kesehatannya.
  • Ciptakan waktu dan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan social, personal, fisik, intelektual dan spiritual.
  • Kembangkan kemampuan anak untuk saling mendengarkan dan berkomunikasi.
  • Bantu anak agar memiliki rasa empati dan sensitive terhadap sesame.
  • Ajarkan anak untuk bisa memerangi atau menghadapi stress.
  • Dorong anak untuk bermain.
  • Ajarkan mereka untuk mengembangkan rasa bangga menjadi dirinya sendiri dan banyak belajar dari kesalahan.
  • Jadikan Anda sebagai model mereka untuk tumbuh.

Memancing Kreativitas

Maret 16, 2007, 7:34 am
Diarsipkan di bawah: Berita, Informasi, Pengalaman

deni-triwardana-pcplus.JPG

Komputer dalam photo itu masih baru, semula hanya ada tiga unit di ruang guru dengan model lama, sekarang diganti dan di tambah menjadi lima unit semuanya masih baru (seperti tampak pada photo). Apa maksudnya ?

Maksud dari judul di atas adalah berhubungan dengan gambar photonya. Yaitu untuk memancing kreativitas guru agar lebih banyak menggunakan komputer dalam bekerja, Rincian dari Lima komputer itu adalah 1 untuk Para Guru di Program Studi Akuntansi,1 Untuk Program Studi Administrasi Perkantoran, 1 Untuk Program Studi Penjualan, 1 Untuk Program Studi Umum dan 1 yang terakhir untuk Para Staff. Digolongkan begitu agar para guru dari setiap program studi hanya boleh memakai komputer yang diperuntukkan bagi program studinya saja.

Para Kepala Program Studi -pun sudah dibekali laptop dinas begitu juga para staff pimpinan, juga para staff ahli Kepsek. dengan demikian harapan Kepala Sekolah agar para guru terpancing dengan sarana yang diberikan.

Sampai tulisan ini dibuat saya masih mengamati keterpakaian, dan keterpancingan kreativitas para guru di sekolah tempat saya mengajar dengan adanya sarana ini. walaupun masih ada yang keberatan banget dengan adanya sarana ini (aneh juga ya…) tapi guru seperti itupun tidak banyak (diberikan sarana malah tidak mau memakai).

Setiap guru sudah diberikan usb flash disk demikian juga para staff karyawan tata usaha.
Akses internetpun sudah sampai juga di ruang guru dan ruang tata usaha, juga hotspot area bagi laptop yang ber-wifi sudah dapat langsung berinternet ria di sekolah.

Keadaan yang terbaca oleh saya kepada rekan guru yang tidak mau memakai sarana ini adalah tidak terbiasa, takut dibilang bodoh, malas belajar menggunakan komputer, dan ada juga yang bebal ! artinya sarana sudah di tangan tapi benar-benar hanya sebagai asesories, tidak digunakan. (aneh juga ya…) malah dimanfaatkan oleh pihak lain.

Ada juga beberapa rekan guru yang sudah sepuh bahkan yang akan pensiun masih semangat belajar menggunakan komputer dengan pertemuan rutin setiap hari Rabu, dan sekarang telah terbiasa menggunakan komputer bahkan untuk mengisi nilai siswa untuk Kartu Hasil Studi Siswanya.

Kira-kira itulah gambaran para guru di sekolah tempat saya mengajar dengan adanya sarana komputer dan akses internet, bagaimana dengan yang di tempat Anda ?

Kreativitas, Mengubah Yang Terbatas Menjadi Tanpa Batas

By Joko Susilo | Comments (5) | Trackbacks (3)

Apa sih modal utama seorang pebisnis atau pengusaha?

Kreativitas!

Dari sekian buku tentang kiat pengusaha sukses yang saya baca, saya simpulkan kreativitas itu kunci utamanya. Mau bisnis online ataupun offline, ya sama-sama harus kreatif. Bila tidak, jangankan bertambah maju, untuk membuat bisnis bertahan saja sangat sulit.

Selanjutnya kreativitas bisa diwujudkan dalam berbagai strategi dan perencanaan. Modal sedikit bisa sukses asal kita kreatif memanfaatkan sumber daya yang ada. Bisnis internet merupakan sumber daya kita yang terbatas. Asetnya cuma produk situs web dan relasi-relasi online, tapi kreativitaslah yang membuatnya menjadi sumberdaya tak terbatas.

Inilah yang namanya tantangan bisnis. Bagaimana cara anda menghasilkan uang yang banyak dari sumber yang terbatas. Benar begitu kan?

Bagi pebisnis, memilih lahan usaha itu berarti investasi. Anda pasti berharap investasi anda sukses. Karena, uang akan terus masuk ke kantong anda. Tapi, jangan cepat senang jika investasi anda itu sudah menghasilkan uang. Karena pasar bisa cepat berubah.

Karena itu, jangan pernah berhenti.

Kembangkan…kembangkan… dan kembangkan sampai menghasilkan keuntungan yang berlipat…berlipat… dan terus berlipat…

So, jangan berhenti sampai di sini! Kembangkan terus ! Investasikan kembali keuntungan-keuntungan itu.

Ini sangat penting bagi para blogger dan pebisnis internet. Kesuksesan anda tergantung pada investasi asset-aset online, besar keuntungan yang anda dapat, dan biaya pemeliharaan situs yang anda keluarkan. Jadi, sementara anda terus memelihara satu situs, anda harus terus merencanakan membuat produk baru.

Nah, di sinilah pentingnya kreativitas. Hasilkan sesuatu yang baru lagi. Dan, yang pasti berbeda dari yang sudah ada.

Untuk mengembangkan situs web, anda bisa pelajari situs-situs web yang sudah ada. Melihat perkembangan diri sendiri itu juga penting untuk merangsang kreativitas. Pikirkan dengan cermat, kira-kira situs anda memberikan keuntungan besar atau tidak? Dan adakah spesifikasi produk yang menjadi sumber utama penghasilan?

Jika iya, maka saatnya anda konsisten menjalankannya. Sebaliknya jika tidak, jual saja situs anda !

Oh ya, investasi itu bukan cuma dalam bentuk produk atau relasi online. Waktu yang anda gunakan untuk berpikir, menyusun strategi dan perencanaan itu juga bentuk investasi. Karenanya lakukan dengan serius. Itu yang akan menjadi awal apakah situs web anda bisa menjadi sumber uang. So, luangkan waktu anda untuk mencari ide-ide baru untuk pengembangan situs Anda. Ide bisa didapat dari baca buku, ngobrol dengan teman, atau mungkin pas jalan-jalan. Prinsipnya, setiap saat jangan biarkan otak anda mogok berpikir…

Saya punya bocoran lagi agar anda bisa terus kreatif.

Masih ingat 20 Timeless Money rules yang pernah dimuat CNN? Saya sarankan anda membacanya. Nah, sambil anda membaca 20 Timeless Money Rules, lakukan 3 hal ini:

  • Coba hubungkan prinsip-prinsip dalam 20 Timeless Money Rules dengan cara anda mengelola situs web saat ini. Pelajari semua informasi penting yang anda temukan. Saya yakin anda akan menyerapnya dan menyesuaikan dengan gaya anda. Nah, ini menarik! Karena anda jadi punya tips yang unik.
  • Buatlah prinsip-prinsip itu relevan. Lakukan introspeksi dan refleksikan pada kebiasaan anda. Sesuaikan prinsip itu menurut selera anda. Ini cara yang paling baik agar anda mudah menyerap dan mengerti informasi ini.
  • Praktikkan prinsip-prinsip tersebut. Pilih satu prinsip yang bisa segera diterapkan pada situs anda. Dan, terapkan juga pada kehidupan pribadi anda. Segeralah beraksi setelah anda selesai membaca artikel itu. Bertindak segera itu penting agar informasi yang berguna tadi tidak hanya menjadi sampah di otak anda.

Cara-cara di atas bisa menyegarkan pikiran anda. Saya sudah merasakan hasilnya. Saya terus punya ide-ide baru. Dan, bisnis saya semakin maju.

Okay, selamat mencoba! Dan, pasti anda bisa jadi lebih baik dari sebelumnya.

Kreativitas Adalah Hak Anda
( 0 Komentar )
Rating Artikel :

Oleh : Soegianto Hartono

Sebenarnya anda adalah sebuah organisme penghasil ide, Kreativitas adalah hak asasi anda. Anda adalah seorang individu yang memiliki intelegensia yang tinggi dengan ide-ide cemerlang yang terus menerus mengalir sehingga dapat anda pergunakan untuk mencapai sasaran sasaran anda dan meningkatkan taraf kehidupan anda.

Orang yang kreatif adalah mereka yang secara teratur menempatkan diri mereka di sekitar ide-ide baru yang muncul dari berbagai sumber. Orang yang tidak kreatif yaitu orang yang sering mengalami kegagalan, adalah mereka yang terus mengulang – ulang berbagai ide lama yang sudah usang dengan sedikit sekali imajinasi dan krativitas.Bagaimana seseorang bisa menjadi kreatif ? Agar anda mampu menghasilkan ide – ide kreatif anda harus mengisi pikiran anda dengan acuan – acuan baru dan segar. Lihatlah pada gambar dibawah yang menjelaskan sebuah proses untuk berpikir kreatif.

Orang orang kreatif selalu membaca dengan teratur. Tidak hanya terbatas pada bacaan tentang apa yang terjadi dalam bidang yang mereka geluti, tetapi juga bidang yang lain. Yang mereka baca terutama adalah bacaan ilmu pengetahuan yang berhubungan atau terkait dengan bidang pekerjaannya, biografi orang – orang sukses, kiat – kiat sukses dan lain sebagainya.Mencari pengalaman-pengalaman baru, dan terus melatih diri.

Anda harus membuka pikiran anda untuk menerima ide-ide dan pengalaman baru ( open mind ) dan jangan menutup diri atas kehadiran pengetahuan, dan informasi yang baru. Cara kedua yang bisa anda lakukan yaitu biasakanlah membaca dengan memegang pena atau spidol di tangan. Ketika anda mendapatkan pemahaman tertentu akan apa yang sedang anda baca, tuliskan hal itu, sehingga memperkuat pemahaman anda. Bila anda mendapatkan sebuah ide ketika anda sedang membaca, tuliskan ide tersebut dalam buku catatan anda. Jangan anda tunda – tunda ketika ide, gagasan serta pemahaman itu sudah muncul, tuliskan segera, karena dia muncul dalam waktu yang singkat dan kemudian menghilang. Ketiga, bertanyalah kepada diri sendiri.

Tuliskan masalah – masalah yang sedang anda hadapi, atau tuliskan sasaran – sasaran anda dalam bentuk pertanyaan dalam kalimat tanya yang spesifik agar terfokus, misalkan ” apa yang harus saya lakukan untuk melipat gandakan penghasilan saya dalam waktu 12 bulan ke depan ? ” .

Dan jawablah pertanyaan itu dan paksakan diri anda untuk mencari sedikitnya 20 jawaban yang berbeda atas pertanyaan tersebut. Biarkan pikiran anda mengalir, kalau anda menemukan jawaban yang aneh dan tidak masuk akal tetap tuliskan saja. Setelah anda menuliskan jawaban tersebut, bacalah kembali jawaban tersebut, lalu berikan urutan prioritas yang mana yang akan anda kerjakan terlebih dahulu, pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Barulah anda bertindak sesuai prioritas ide anda itu.Keempat, ide -ide itu sebetulnya selalu muncul dalam pikiran anda setiap saat, namun kebanyakan anda tidak memberikan perhatian karena anda terlalu sibuk bekerja, dan kurang percaya sehingga anda mengabaikan.

Biasakan diri anda untuk mengambil waktu rileks, ketika anda rileks, anda akan lebih perhatian terhadap ide, dan gagasan yang muncul dalam pikiran anda.Ketika pikiran anda sedang dalam keadaan tegang, sibuk, dan stress, pikiran anda akan buntu, ide – ide akan menghilang dari pikiran anda. Oleh karena itu, bila anda merasa buntu, tegang atau stress, tinggalkan pekerjaan anda sejenak dan rileks lah beberapa saat. Setelah tubuh dan pikiran anda kembali segar, ide – ide akan kembali mengalir.Jadi anda adalah makhluk kreatif, kreatif adalah hak anda, dan buktikan melalui tindakan anda. Selamat mencoba.

Mengapa Membaca?
( 0 Komentar )
Oleh : Gim Hok MM

All leaders are readers. –Jim Rohn

Salah satu kegiatan yang paling saya senangi adalah membaca. Membaca memberikan wawasan dan pengetahuan yang berguna bagi hidup kita. Seperti fisik yang perlu diberi makanan, demikian juga dengan pikiran kita. Membaca merupakan salah satu makanan terbaik untuk pikiran.

Ada ungkapan, jika kita bertemu dengan seorang teman yang berpisah lama, biasanya perubahan yang terjadi terhadap orang tersebut disebabkan oleh 3 faktor. Pertama, pengalaman hidup yang dilaluinya; kedua, lingkungan sekitarnya; dan terakhir, buku-buku yang dibacanya.

Melalui buku kita dapat menambah pengetahuan tentang suatu bidang ilmu. Melalui

buku kita bisa menjelajahi dunia, termasuk tempat-tempat yang belum pernah kita kunjungi. Melalui buku kita bahkan bisa ‘mengenal’ orang-orang ternama, walaupun kita mungkin belum pernah berjumpa sebelumnya, dan belajar dari pengalaman hidup mereka. Melalui buku kita juga bisa mengetahui banyak hal yang sebelumnya menjadi ‘rahasia’. Dan melalui buku kita bisa lebih mengerti hidup ini.

Selain manfaat-manfaat di atas, pembicara ternama, Jim Rohn, bahkan mengatakan bahwa kita dapat menjadi pakar dalam suatu bidang jika kita hanya mau menginvestasikan waktu 1 jam setiap hari selama 5 tahun untuk mempelajari buku-buku mengenai bidang tersebut. Mari kita berhitung sejenak. Setahun 360 hari kerja dikali 5 tahun sama dengan 1.800 jam. Siapa pun yang belajar suatu bidang ilmu selama 1.800 jam tentunya sudah pasti menguasainya secara mendalam.

Membaca juga menaikkan kualitas hidup kita ke tingkat lebih tinggi. Membaca menyebabkan terjadinya perubahan cara berpikir, yang tentunya diikuti dengan perubahan kualitas hidup, baik segi fisik, keuangan, karir, mental, sosial, dan bahkan spiritual.

Kita dapat memulai kebiasaan membaca dengan cara membuat komitmen untuk membaca sebuah buku setiap minggu. Dalam setahun ada 52 buku, berarti telah terjadi kemajuan sebesar 52 buku dalam hidup. Bayangkan perubahan positif yang terjadi terhadap hidup kita dengan penambahan pengetahuan dan wawasan 52 buku.

Ada sebuah fakta menarik tentang para pemimpin besar. Mereka semuanya memiliki kesamaan dalam satu hal: kebiasaan membaca secara teratur. Benjamin Franklin, Soekarno, Gandhi, Bill Gates, Barack Obama, Oprah Winfrey, dan Susilo Bambang Yudhoyono merupakan segelintir contoh para pemimpin yang meluangkan waktu di antara kesibukan sehari-hari untuk memberi makanan bagi pikirannya melalui buku-buku bagus. Dan konon katanya Bill Clinton membaca lebih kurang 300 buku selama kuliah hukum di University College, Oxford.

Tokoh yang sangat saya kagumi, pendiri Kyocera Group, seorang filantropis, dan pengarang buku favorit saya A Passion for Succes, Kazuo Inamori, mengatakan dalam bukunya: Your own experiences and those of others that you acquire through reading can provide a spiritual framework to succeed in life. Ternyata, selain pengalaman hidup kita, buku merupakan faktor sangat penting lain dalam membawa keberhasilan dalam hidup.

Jika membaca ternyata memberikan begitu banyak manfaat, mengapa tidak kita lakukan secara kontiniu mulai dari sekarang? Ayo, mari kita lakukan bersama-sama.

Orang-orang yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk memikirkan bonus yang akan mereka terima tidak banyak melakukan pekerjaan kreatif.

“Kreativitas” adalah hal yang sangat populer belakangan ini. Setiap orang menyadari bahwa untuk dapat bertahan dan memenangkan persaingan, perusahaan-perusahaan harus kreatif. Namun, karena setiap orang mempelajari kreativitas dengan terburu-buru, mereka menyerap banyak informasi yang salah mengenai kreativitas.

Walaupun penting bagi Anda untuk mengetahui sebanyak mungkin informasi tentang kreativitas, penting juga bagi Anda untuk menyadari konsep-konsep yang salah tentang kreativitas.

Berikut ini beberapa konsep yang salah tentang kreativitas:

1. Kreativitas hanya dihasilkan oleh tipe-tipe orang yang kreatif
Banyak orang memiliki gagasan yang salah bahwa kreativitas adalah bawaan sejak lahir dan oleh karenanya hanya orang-orang yang memiliki karunia tersebut dapat memikirkan ide-ide kreatif. Penelitian telah membuktikan bahwa siapa saja dengan kecerdasan normal mampu berpikir kreatif. Kreativitas tergantung pada beberapa faktor: pengalaman (termasuk pengetahuan dan keterampilan teknis), talenta, dan kemampuan untuk berpikir dengan cara-cara baru. Motivasi dari dalam diri sangat penting. Orang-orang yang menikmati dan termotivasi oleh pekerjaan mereka, sering kali memiliki ide-ide kreatif. Organisasi mencurahkan begitu banyak waktu dan usaha untuk membuat anggota-anggotanya berpikir kreatif. Namun, sebagian besar orang tidak dapat berpikir kreatif karena lingkungan kerja mereka sama sekali tidak mendorong pemikiran kreatif!

2. Uang memotivasi kreativitas
Uang bukanlah faktor penting untuk meningkatkan kreativitas seseorang. Sebaliknya, orang-orang yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk memikirkan bonus yang akan mereka terima sesungguhnya tidak banyak melakukan pekerjaan kreatif. Tentu saja, orang-orang perlu merasa bahwa mereka mendapatkan gaji yang layak. Namun, penelitian telah menunjukkan (dan sebagian besar dari kita akan sependapat) bahwa orang cenderung jauh lebih kreatif di lingkungan kerja tempat kreativitas didukung, dihargai dan diakui. Orang menginginkan kesempatan untuk dilibatkan secara penuh dalam pekerjaan mereka dan untuk membuat kemajuan yang nyata. Orang menjadi sangat kreatif ketika mereka mencintai pekerjaan mereka dan memaksimalkan keterampilan mereka.

3. Tekanan waktu menciptakan kreativitas
Pendapat umum menyatakan bahwa orang-orang menjadi sangat kreatif ketika mereka berada di bawah tekanan tenggat waktu. Namun, studi telah menunjukkan kenyataan yang sebaliknya. Orang menjadi paling tidak kreatif ketika mereka harus berjuang memenuhi target tenggat waktu. Kenyataannya, studi yang sama menemukan bahkan kreativitas orang-orang bahkan merosot pada hari-hari setelah batas tenggat waktu! Tekanan waktu tidak menciptakan suasana kondusif bagi kreativitas karena orang tidak memiliki waktu untuk memikirkan masalah secara mendalam. Sebagian besar ide muncul setelah orang diberi cukup waktu untuk membiarkan benih ide tersebut ‘meresap’ ke dalam pikirannya dan berkembang sampai matang.

4. Ketakutan mendorong terobosan
Konsep yang salah lainnya adalah ketakutan dan kesedihan meningkatkan kreativitas. Sebaliknya, studi menunjukkan bahwa sukacita dan kasih berdampak positif bagi kreativitas, sementara itu kemarahan, ketakutan dan kekhawatiran berdampak negatif bagi kreativitas. Penelitian menunjukkan bahwa orang memiliki kemungkinan terbesar untuk menghasilkan ide kreatif ketika mereka gembira, bahkan ketika kegembiraan itu mereka alami sehari sebelumnya! Ketika orang-orang bersukacita dengan pekerjaan mereka, kemungkinan besar mereka akan memikirkannya pada hari tersebut, mematangkan ide tersebut pada malam harinya dan menghasilkan ide kreatif pada hari berikutnya.

5. Pengurangan jumlah karyawan membuat orang menjadi kreatif
Tentu saja kebalikannyalah yang benar. Kreativitas mengalami kemerosotan tajam selama pengurangan karyawan. Akibat pengurangan jumlah karyawan, semua faktor yang kondusif bagi pemikiran kreatif mengalami penurunan. Antisipasi terhadap pengurangan jumlah karyawan dan kekhawatiran terhadap masa depan yang tidak pasti membuat mereka tidak antusias dengan pekerjaan mereka. Akibatnya, kreativitas merosot drastis.

Jadi, pahamilah fakta-fakta ini, dan mulailah mengembangkan lingkungan kerja tempat orang-orang dihargai atas usaha kreatif mereka.

Penulis : James Gwee, T.H., MBA

05

Miskinnya (Kreativitas) Dalam Pendidikan di Indonesia

Social Add comments

Beberapa waktu belakangan ini saya jadi banyak berpikir (makin tua kali yee), kenapa kualitas pendidikan di Indonesia dalam kacamata komparatif saya sangat rendah. Saya perhatikan kualitas lulusan S1, (bahkan S2), akademi, sekarang sangat parah. Kacamata saya selaku pelaku ekonomi, calon employer, pengamat, dan sebagai masyarakat awam, kadang cuma bisa mengelus dada. Sedemikian rendahnya kah kualitas pendidikan kita sehingga lulusannya hampir semua dikategorikan tidak bermutu! Mengapa sampai bisa terjadi demikian? Apakah yang menjadi sebabnya? Dan bagaimana mungkin Indonesia bisa mengejar ketinggalannya dibandingkan negara-negara lain dengan kondisi demikian? (yang ada kata gue mah makin jauh gapnya ()

Saya akan serahkan topik ini untuk menjadi bahan perenungan bersama, silahkan disimpulkan oleh masing-masing, terutama apabila kadang timbul rasa sedikit apatis, apa yang dapat dikontribusikan oleh masyarakat biasa seperti kita (disisi lain perimbangan akan perasaan ingin berkontribusi justru besar).

Here’s the hint: Kalo menurut pandangan saya sih, ada beberapa hal yang membuat kualitas pendidikan kita parah seperti sekarang. Diantaranya adalah : Rendahnya atmosphere kreatif dikembangkan di lingkungan didik di kampus/sekolah. Dari kecil sampe lulus kuliah, para siswa hanya dijejelin kurikulum. For what? Mereka bahkan tidak pernah tahu untuk apa, karena ya daya nalar dan sisi kreatifnya tidak pernah diasah (distimulus). Selama ini kita hanya dijejali tugas-tugas sekolah, itung-itungan, tanpa mengerti esensinya akan dipergunakan untuk kebutuhan real di dunia nyatanya sebagai apa. Exception? Ada. Dari sebagian kecil saja para pendidik yang cukup “creative” untuk berani tampil beda. The rest? Hmm tidak berani berexperiment atau mungkin ya karena dicocok dengan target kurikulum, dan bahkan tidak dibekali dengan kemampuan untuk menjadi seorang pengajar (Menjadi seorang pengajar itu tidak bisa otomatis bisa, bakat dan teknik harus ditularkan). Saya sendiri penganut aliran mencimplak dan praktek, dengan demikian mereka menjiwai apa yang dikerjakan.

Beberapa waktu yang lalu saya sedang bertugas ke luar negeri. Betapa mata batin saya tersentuh ketika menyaksikan puluhan anak-anak taman kanak-kanak sedang berlarian di bandara dan “diperkenalkan” dengan dunia oleh para pembimbingnya (yang lebih terkesan sebagai ibu-ibu rumah tangga). Oh. Kapan Indonesia bisa mengejar ketinggalan dibanding dunia lain, apabila kita tidak pernah merevolusi sistem belajar mengajar di dunia pendidikan kita. Salah satu cerita yang paling berkesan dari kaisar Hirohito yang ketika itu kalah perang setelah dibombardir bom atom Amerika adalah…. munculnya satu pertanyaan dari beliau “Berapa banyak guru kita yang tersisa?”. Sedemikian pentingnya posisi pendidik bagi suatu bangsa, kenapa tidak pernah menjadi perhatian serius bagi kita. Membangun generasi jauh lebih mulia demi kemajuan bangsa daripada mengurus persoalan lain yang cuma kental unsur politisnya.

Hmm apa Pak SBY demen baca blog ga ya? Lah tulisan ginian ga masuk untuk di SMS ke 9949 D

30 Responses to “Miskinnya (Kreativitas) Dalam Pendidikan di Indonesia”

  1. Priyadi Says:
    August 5th, 2005 at 10:09 pm

heheheh SAMA PERSIS ama pikiran gua. gua pikir penyebabnya adalah kekolotan pelaku pendidikan: guru, ortu dan siswa itu sendiri

* skill menghafal lebih diutamakan
* hasil akhir lebih dipentingkan daripada proses menuju hasil akhir
* baru masuk sekolahan udah kena bantai di-OS
* guru2/ortu menegakkan disiplin dengan cara kasar yang sama sekali belum diperlukan
* kurikulum terlalu ketat, sehingga gak ada ruang untuk pengembangan di bidang lain
* dst

akhirnya kita cuma punya workforce yang kerja bagus sekali di bawah supervisi ketat dan jenis pekerjaannya monoton, tapi jelek banget dalam kerjaan yang bersifat research yang butuh kreativitas tinggi.

  1. Wajah Pendidikan Indonesia Says:
    August 5th, 2005 at 11:21 pm

Miskinnya (Kreativitas) Dalam Pendidikan di Indonesia

Publikasi: Adinoto’s Blog
Judul: Miskinnya (Kreativitas) Dalam Pendidikan di Indonesia
Penulis: Adinoto Kadir

Saya perhatikan kualitas lulusan S1, (bahkan S2), akademi, sekarang sangat parah. Kacamata saya selaku pelaku ekonomi, calon employer…

  1. Bayu R Says:
    August 5th, 2005 at 11:24 pm

Satu perbedaan yang terasa nyata banget.

Waktu saya sekolah di Jakarta, semua rumus2 matematika, fisika, kimia, blablabla semuanya harus dihafal. Penekanannya pada hafalan.

Pas saya pindah ke Australia, saya kaget waktu murid2 disuruh guru untuk menyiapkan catatan rumus2 pada selembar kertas, untuk dibawa masuk ke ruang ujian.
Guru saya menekankan bahwa yang penting kalian mengerti cara pakai rumus itu pada case study yang bermacam dan bahkan tricky sekalipun.
Waktu kuliah malahan ada beberapa ujian yang mempersilahkan murid untuk membawa buku teks ke ruang ujian.

Disini saya melihat bedanya adalah antara _menghafal_, dan _memahami_.

Di Indonesia terlalu banyak menghabiskan waktu untuk menghafal, dan menyisakan waktu yang sedikit untuk memahami.
Masih inget jamannya ulangan di Jakarta, temen2 bilang “ah, hafalin aja, susah2 amat”.

Berapa kuat sih ingatan seseorang? Cepat atau lambat, sudah tidak muat lagi di ingatan.
Tapi kalau punya kemampuan untuk memahami sesuatu, kemampuan ini bisa dipakai berulang2 untuk berbagai bidang pengetahuan.

  1. adinoto Says:
    August 5th, 2005 at 11:44 pm

Pri said on August 5, 2005 @ 10:09 pm
heheheh SAMA PERSIS ama pikiran gua. gua pikir penyebabnya adalah kekolotan pelaku pendidikan: guru, ortu dan siswa itu sendiri

Pak, kok ya gue rasa kurang pas ya kalo kesalahannya musti ditimpakan ke guru, ortu dan siswa ya karena : guru? apakah memang mereka dipersiapkan untuk menjadi pengajar yang baik? apa mereka memang guru2 yang berkualitas? berapa persen dari orang yg brilian memimpikan profesi jadi guru? (… dan malah yang ada IKIP karena gengsi di Universitaskan? (… IKIP ini mustinya ujung tombak, karena mengajar itu punya trik tersendiri bukan sekedar mengerti berarti bisa membuat orang lain juga bisa mengerti? (keahlian untuk menjadi pendidik), kalo ortu ya kalo emang ortunya dari kalangan kurang mampu yang berarti tingkat pendidikannya kurang baik gimana ya? dan kalo siswa gue selalu ibaratkan kertas kosong, harus ada yang membentuk polanya dulu baru dia bisa ngisi diarynya.

Salah satu memotong jalur kemiskinan adalah dengan meningkatkan pendidikan (dalam arti kata mencerdaskan masyarakat), dengan berbagai langkah strategis yang mustinya di”telurkan” dan di”tularkan” oleh pemerintah sebagai contoh. Kalo pendidikan dari rumah, lingkungan rasanya masing-masing sudah memulai, tapi yang gue concern bagaimana langkah pemerintahnya nih (… sampe amburadulnya saja, rata-rata masyarakat Indon cara bermasyarakat saja tidak mengerti (disiplin). Hidup sekarang udah kayak di negara barbar, nyeberang seenaknya, aturan jadi tidak penting (… dan lulusan sekolah? waduh semua cuma mengejar gelar. So sad.

  1. sueng Says:
    August 5th, 2005 at 11:50 pm

Kalau melihat kurikulum anak-anak sd-sma sekarang sepertinya anak didik itu ingin dijadikan super-human , mesti segala serba bisa jadi bebannya sangat berat , boro mau berpikir kreatif ngapalin aja sudah susah banget.
Mungkin karena yang nyusun kurikulum dikita orang-orang pinter kali yah semuanya profesor doktor jadi semua orang dianggap seperti itu harus segala bisa.
Kalau menurut-ku sih anak sd tuh yang penting sehat,senang,bisa baca,bisa nulis (sukur-sukur nulis kreatif), bisa ngomong (sukur-sukur bisa ngomong kreatif) dan bisa ngitung ndak perlu yang aneh-aneh lainnya.
Untuk yang sudah punya momongan di sd pasti ngerasain seberapa berat beban belajar anak-anak sekarang , kalau jamanku dulu sih PR juga gak tentu seminggu sekali , jam 12 dah sampe rumah , yang jelas happy ………. toh tetep idup juga sampe sekarang , memang blum bisa jadi presiden RI sih ……..

  1. adinoto Says:
    August 6th, 2005 at 12:04 am

hmm bener pak, kadang gue mikir apa anak gue ga usah disekolahin aja ya? diajarin non-formal and got all education he needs in life. Masalahnya kalo ga ada certificate sama sekali gmana mau diakui =))

Hush anak aja blon punya Dblon-blon udah keder mikirinnya… wakakaka… Ueng juga perhitungannya udah jauh ke depan wakakaa :))

  1. Priyadi Says:
    August 6th, 2005 at 1:22 am

#5 #6: kalo punya duit sih sekolahin anaknya di international school, ini juga butuh skill negosiasi karena hampir semua international school gak mau nerima siswa pribumi CMIIW, resikonya udah jelas: sekali masuk internasional school, susah untuk adaptasi di sekolah biasa, untuk kuliah pun ada kemungkinan anaknya susah adaptasi. kalau money bukan problem sih sekalian aja disekolahin di luar negeri (negara barat) dari awal sampai selesai

  1. Priyadi Says:
    August 6th, 2005 at 1:28 am

oops, sorry, elo pake markdown ya D

  1. sunardi Says:

Kayaknya kurang setuju dengan Mas Sueng. Karena yang perlu dibekali dengan ilmu yang baik itu malah waktu SD. Maksudnya bukan dijejali berbagai fakta seperti kurikulum sekarang, tetapi lebih pada penggemblengan cara berpikir, berdisiplin, bersosialisasi yang baik, menyenangi ilmu pengetahuan dengan pendekatan yang aplikatif dan lainnya. Sehingga ketika mereka melanjutkan pendidikan sudah punya pondasi yang kuat.

Masalahnya tinggal meningkatkan standar Assessment guru-gurunya. Nah loh… pasti kebentur lagi… )Ujung-ujungnya terdengar terlalu idealis yak… )

  1. adinoto Says:
    August 6th, 2005 at 4:46 am

Iya Pak, kalo nyekolahin anak sih buah simalakama, gue juga blon mau kepikiran at least not for this 1-2 years, lah gue blon kawin wakakaka.. bukan ga well prepared ya. tapi yang gue concern itu gimana dengan masyrakat Indonesia semuanya? bukannya tujuannya itu yang ingin dibahas/dicapai bukan pribadi.

Hik, pribadi juga mana sanggup nyekolahin anak ke luar negeri dari kecil sampe selese. Gue sih merasa itupun mungkin ga mendidik, karena yang dibutuhkan anak adalah bagaimana bisa survival di lingkungannya, kalo cuma pinter tapi ga adapt karena stimulus nya beda repot juga.

  1. adinoto Says:
    August 6th, 2005 at 4:48 am

Sunardi, setuju gue dengan peningkatan standar Guru. Ya masalahnya gimana mulainya? Bukannya yang dibutuhkan perhatian ke IKIP yang merupakan buffer penghasil pendidik guru terbesar. Masalahnya kok ya pemerintah malah ngeliatnya IKIP tidak bersaing sampe harus dinamain UPI segala.

  1. Dedhi Says:
    August 6th, 2005 at 8:36 am

sedikit cerita dari Singapore dan Jepang, yang kualitas Politeknik Swasta aja kampus dan lab serta fasilitas pendukung seperti kolam renang jauh lebih keren dari ITB sekalipun. Bayangin, politeknik, yang di Indonesia cuman dianggap kaum 2nd class.

Di situ, dunia pendidikan Primary and Secondary (SD-SMP-SMA kalo di Indonesia) itu SANGAT membebani anak sekolah. Walaupun metoda pengajarannya lebih baik, alat bantu lengkap, jumlah siswa di kelas sedikit, tapi ternyata anak sekolah juga STRESS berat bahkan ada yang kepingin bunuh diri karena pelajaran sekolah (kalo di Indo kan mau bunuh diri karena gakbisa bayar, tapi bukan karena pelajaran). Ternyata kejadiannya sama saja, semua orang dewasa itu berusaha menjejali berbagai KEPINTARAN kepada anak kecil yang TIDAK TAHU cara membrikan negative feedback kepada orang dewasa. Mereka gak punya wakil di parlemen yang bisa say ENOUGH! Kondisi diperburuk dimana streaming process (penjurusan) itu sudah dimulai sejak SMP. Satu kali aja anak buruk nilai, bye bye deh impian kuliah di Perguruan Tinggi (Graduate Degree, bukan Polytechnics). Akibatnya sepulang sekolah, anak anak itu lagi lagi kursus-kursus-kursus sampe sore, dengan mata yang sipit sipit berkaca mata. Bandingkan ama kita deh. SMA gue jarang sekolah, paling ngetem di tepi jalan. Ebtanas cuman dapat 5,00 buat Biology, tapi asal cukup buat ambil formulir UMPTN lalu bisa masuk ITB.

Bottom line, pendidikan di Indo buat dasar dan menengah isinya kok banyak yang sia sia yah, tapi setidaknya tidak bikin stress gue D

  1. Eep si kasep Says:
    August 6th, 2005 at 6:22 pm

pola pendidikan di indonesia lebih mengarah ke penggunaan otak kiri. ambil contoh anak kecil kalau disuruh gambar di sekolah hampir 90% pasti gambar pemandangan degnan 2 buah gunung, tepat di dua gunung itu ada gambar matahari lengkap dengan jembutnya eh sinar mataharinya, kemudian jalan yang berkelok menuju gunung, ya ada tambahan dikit lah pohon kelapa miring.

aku setuju dengan adinoto, tidak harus di sekolahkan ke luar negeri sejak kecil, tapi lebih penting lagi kita sebagai orang tuanya yang harus lebih banyak lagi menggunakan otak kanan. kalau sekolah lebih banyak mengajarkan anak dengan otak kirinya, ya mau ga mau kita sebagai orang tuanya yang harus mengembangkan otak kanan si anak.

aku sampai hari ini selalu berusaha tidak melarang anak-anak melakukan apa pun selama itu tidak berbahaya bagi fisiknya. contoh, kalau diberi buku mewarnai, aku bilang sah-sah saja jika warnanya bleber dari garis gambar, malah, anakku yang pertama lebih sering gunain tangan kirinya untuk menggambar dan menulis. aku ga pernah larang, meskipun kadang kala aku mesti berantem dengan orang tua dan mertua aku bahwa jangan dibiasakan pake tangan kiri untuk menulis.

anak balita sangat ajaib, perkembangan otaknya sangat luar biasa. dalam hitungan kurang dari satu tahun sudah banyak hal yang bisa dia lakukan, yang ga mungkin lagi dilakukan oleh para orang tua dari segi kecepatan pertumbuhan motorik, sensor dan otak. kita ingat, sewaktu kecil, anak-anak yang belum bisa berjalan suka diberi semangat: ayo kamu pasti bisa jalan, ayo jalan terus. sudah gede eh dilarang: awas jangan naik kursi, awas nanti jatuh, awas nanti kejedot…. kayaknya artificial intelligence aja bakalan bingung dapet pelajaran begini (jadi inget film Stealth yang baru diputar).

dan satu hal…, kalau anak tanya sesuatu hal yang baru jangan pernah kita bilang ga tahu, kita harus jawab sebisa mungkin. kalau ga bisa, ya jujur saja katakan nanti kita cari di buku, atau referensi. sekali kita bilang ga tahu, maka anak kita ga pernah mau atau ragu-ragu buat bertanya lagi… dan itu sempat aku alami dengan anakku.

jadi dengan pola pendidikan seperti ini di Indonesia, maka tugas kita sebagai orang tua menjadi sangat berat. so…, bagi yang sudah punya anak, coba pikirkan untuk memiliki waktu luang yang lebih banyak dengan anak-anak, jangan terlalu sibuk dengan pekerjaan & bisnis. lalu kita yang sudah tua-tua ini, mau ga mau juga harus belajar bagaimana lebih mengoptimalkan otak kanan kita.

  1. Eep si kasep Says:
    August 6th, 2005 at 7:10 pm

#6 adinoto,
baik juga Di…., kalau lu ntar punya anak ga mau sekolah, ya ga usah dipaksa, beri saja dia kemampuan non formal, pendidikan citra diri yang baik, kemampuan human relationship yan bagus. toh rata-rata orang kaya di dunia ini juga ternyata…, hampir semua membenci sekolah dan ga selesai sekolahnya (jadi inget pidato SJ).

kalau aku punya anak ga mau sekolah, maka aku akan:
1. tanya anak maunya atau senang mendalami bidang apa? musik, komputer, seni grafis, etc? gue akan masukan anak ke sekolah (formla/non formal) dibidang yg dia sukai.
2. aku akan bekali anak gue dengan pendidikan pengembangan diri (pasti non formal)
3. aku akan bekali anak gue dengan pendidikan keuangan dan bisnis (mungkin non formal), misalkan masuk ke semacam entrepreneur university-nya Purdi Chandra

2 & 3 akan tetap aku berikan meski anakku sekolah di sekolah formal.

  1. sunardi Says:
    August 7th, 2005 at 1:17 am

Yang memprihatinkan adalah pendapat bahwa karena guru tidak sejahtera, maka mutu pendidikan jadi rendah. Kayaknya jarak pandangnya kok terlalu pendek.
Di satu sisi memang dengan kurang sejahteranya guru mengurangi kualitas pendidikan. Tetapi yang paling penting yang harus dilakukan adalah peningkatan kualitas guru, misalnya dengan melakukan berbagai training dan ‘uji kelayakan’/Assessment Test.
Kemarin kami mencoba melakukan Training untuk guru SD/SMP se kab. Kampar di Riau sekaligus melakukan Assessment Test bekerjasama dengan Training Centre di Jakarta dengan metode dari UNSW Australia – hasilnya huhhh… sesak nafas saya.
Sekali juga nyoba ngadain test internasional Bahasa Inggris dan Komputer bekerjasama dengan UNSW untuk siswa SLTP dan SLTA… Jangankan siswanya… gurunya yang ikut test juga hasilnya hanya sebagai PARTICIPANT boro-boro dapet level CREDIT.
)

  1. sai Says:
    August 7th, 2005 at 7:22 pm

Yups .. gue setuju dengan kang Eep si kasep ….
anak gue yang nomer 2 otak kanannya sangat aktif …. bahkan hampir tiap sebelum tidur malam masih banyak ide yang dilontarkan di atas tempat tidur … belum lagi ide2nya bikin gambar, wayang2an, mainan, dll.
tapi yang nomer 1 dan 3 otak kirinya yang aktif … good planner, kalo mengerjakan sesuatu sangat tertata en rinci ….

All in all, kita musti liat dulu si anak personality-nya seperti apa … kalau jaman dulu gue pernah baca buku Personality Plus-nya Florence Littaeur buat mengenali diri en orang sekitar …. eh ternyata pola perilaku tersebut sudah muncul pada usia yang sangat dini pada anak … (bersama istri sedikit banyak kami bisa mengenali pola perilaku anak bahkan sejak hitungan usia beberapa bulan)

Tapi untuk survive … kita juga musti tricky dong …:D …kalo di Indonesia kira2 pola penghargaan terhadap gelar masih belum luntur, ya mau ga mau yang otaknya mampu disekolahin setinggi-tingginya … kalau yang ga mau sekolah formal .. ya musti dicarikan cara agar di bidang yang diminati bisa mendapatkan semacam certificate gitu ….

Dan emang peran ortu untuk hal ini semakin besar .. dan itu BUKAN HANYA TUGAS ISTRI lho ….

BTW … di kampus gue sering ngecek ke mahasiswa utk ngegambar pemandangan … lebih dari 90% emang nggambarnya seperti yang kang Eep bilang …kalo ditanya apa warna daun … lebih dari 90% juga jawabnya ijo … Emang ga biasa kreatif ….

  1. andriansah Says:
    August 7th, 2005 at 9:38 pm

hhmmm pendidikan kadang menjadi buah simalakama antara murid dan guru
Untuk guru ada target bahwa nanti waktu ujian siswanya sudah harus bisa rumus/pelajaran ini, sedangkan guru itu tahu kalo siswa belom siap, lalu kalo siswa nya tidak lulus maka gurunya akan kena tegur/sangsi/whateverthenameis.

Untuk murid ada keharusan harus dapat ranking atau nilai 10 semuanya, sedangkan dia sendiri tidak siap dengan pelajaran yang di berikan.

Kata Alm Kakek saya yang menjadi guru dan kepsek waktu jaman belanda, pendidikan itu kurang lebih
TK: bermain-main sepenuhnya
sd: banyak bermain dan sedikit belajar
smp:1/2 antara bermain dan belajar
sma: 1/4 bermain bermain dan 3/4 belajar
kuliah: bermain dan belajar, terserah pengaturannya karena sudah kembali kepada cara belajarnya sudah beda dengan 3S (sd, smp, sma)

Artinya pendidikan itu harus sesuai umur murid itu jangan sampe berlebihan.
gw punya sepupu yang belajar teorema pitagoras (perhitungan segitiga sama sisi, kalo gak salah) pada kelas 3/4 sd, padahal gw belajar itu kelas 1/2 smp. Yang ada Alm kakek gw kaget waktu harus ngajarin itu ke sepupunya karena waktu jaman dia ngajar, dia ngajarin itu bukan untuk anak sd.

Jadi sepertinya kurikulum jama belanda masih lebih bagus dari jaman sekarang.

  1. sunardi Says:
    August 7th, 2005 at 11:35 pm

Untuk mas Andri…
Teori itu mungkin dapat diberlakukan untuk sebagian orang. Tetapi tidak untuk yang lain. Zamannya gak cocok lagi.
Contoh…
Anak saya umur 4 thn. tetapi sudah lancar baca – tulis (maksudnya udah bisa menulis sambil di dikte). Udah bisa ikut baca koran malah walaupun gak ngerti artinya, padahal belum masuk TK. Sementara saya dulu mau naik kls 2 SD baru bisa baca (blm menulis). Padahal saya gak pernah maksa harus belajar ini dan itu. Karena memang kemauan anak itu aktif untuk bertanya terus, bahkan dia sendiri yang setiap kali meminta untuk diajari ini dan itu. Bahkan sekarang menginjak umur 5 thn pada bulan Agustus ini, sudah lancar baca Al-Qur’an, sementara saya dulu kelas 5 SD baru bisa baca huruf Arab – belum Al-Quar’an. Walaupun tidak tertutup kemungkinan banyak anak-anak seusianya belum mampu untuk menerima pelajaran setinggi itu.
Jadi sebenarnya kalau fokusnya pada pendidikan anak, tidak bisa kita menumpukkan beban hanya kepada guru di sekolah. Jadi di rumah pun peran orang tua juga sangat besar untuk membimbing si anak untuk dapat belajar tanpa harus terbebani. Contoh, kita menyuruh anak kita ngerjain PR, sementara kita duduk nonton TV dengan suara yang keras, itu namanya menyiksa anak.
Dari umur 3 tahun anak saya udah saya rangsang untuk banyak bertanya dan belajar tanpa dia sadar bahwa dia sedang belajar, yaitu dengan bermain., menggambar, bernyanyi dan lainnya. Saya menerapkan prinsip Multiple Intelligence untuk merangsang pertumbuhan anak saya. Jadi bakatnya akan ketahuan sejak dari kecil. Karena usia 2 – 5 tahun adalah usia keemasan pertumbuhan otak anak.
Untuk berlatih menggambar misalnya, saya menggunakan tehnik “Drawing With Children”nya Mona Brooks yang melatih anak menggambar bukan hanya dengan mengaktifkan fungsi otak kiri saja tetapi juga melatih potensi otak kanan, sehingga menggambar juga merangsang keahlian anak pada bidang yang lain.
Dan sebagai orangtua kita juga harus tahu perkembangan psikologi anak.
(Rumit kan jadi orang tua? ) :) )
Sampai sekarang anak saya genap umur 5 thn pada tgl 24 Agustus 2005 ini, dan saya tidak memasukkannya ke TK atau Playgroup, karena saya tahu kurikulum TK sampai dimana dan kualitas pengajarnya (khususnya di tempat saya tinggal ini) bagaimana. Jadi saya pikir buang-buang biaya saja. Yang jelas pada sekolah TK titik beratnya pada pelajaran sosialisasi saja.

Masalahnya secara skala besar adalah, tidak semua tingkat pendidikan orangtua sama. Dan kalau guru ada sekolahnya, untuk jadi orang tua tidak ada sekolahnya. Makanya kita harus belajar dan mencari metode yang terbaik untuk jadi orangtua supaya kita tetap bisa membimbing keluarga dengan baik.

Sebagai gambaran bagi yang belum jadi orangtua, Anda harus siap-siap ditanya seperti ini:
“Pa, kalau mimik mama untuk mimik, Adik. Jadi mimik Papa untuk apa Pa?” )
“Pa, pusar di perut kita ini untuk apa Pa?”
“Pa, kalau mata kan untuk melihat. Jadi pipi kita untuk apa, Pa?”

Itulah beberapa pertanyaan yang pernah ditanyakan anak saya yang sekarang udah 5 th yang kelihatannya sederhana tetapi harus saya jawab dengan cara yang tidak boleh serampangan ..
Jadi ‘be prepare’ deh untuk calon Bapak/Ibu. Jangan cuma berbicara pendidikan selingkup sekolah saja, tapi juga di rumah.

  1. jesie Says:
    August 8th, 2005 at 2:51 am

satu lagi “mungkin” penyebab mandegnya pendidikan di Indonesia, Kurikulum (seringkali) diatur oleh (mantan) penguasa sesuai dengan kemauan.

Salah satunya adalah ketika seorang ibu guru Retno Listyarti di gugat oleh mantan pejabat Akbar Tandjung, hanya karena pada salah satu buku karangannya ada satu bagian membahas Dissenting Opinion kasus Bulog, yang diwacanakan sebagai bahan penalaran kepada murid-murid SMA kelas II.

Ini membahayakan, karena guru-guru yang mengajak muridnya berpikir kritis terhadap realitas harus di “sunat” oleh tangan-tangan kekuasaan (bahkan buku tersebut harus ditarik !).

Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) seharusnya (teoritis) bisa secara minimal membantu meningkatkan kualitas insan Indonesia. Toh pada akhirnya semuanya hanya akan menjadi hambar (menurut saya) bila guru dan (calon) muridnya susah untuk “makan” dan kesadaran pemerintah untuk memperbaiki hal itu tidak ada.

  1. Eep si kasep Says:
    August 9th, 2005 at 3:30 am

betul jesie..,
terutama pelajaran sejarah, itu pasti sesuai kepentingan penguasa pada saat itu. contoh adalah peristiwa janur kuning (serangan 12 jam di jogja), peristiwa gestapu, supersemar, yang hingga hari ini tidak jelas.

  1. adinoto Says:
    August 9th, 2005 at 7:10 pm

wah wah wah… ga ikutann.. politik … hiiii serem D

  1. Budi Says:
    August 10th, 2005 at 2:58 am

Saya juga termasuk penganut menjiplak dan praktek, ternyata sangat efektif. Entah apa sistem kayak gituh bisa ditiru di blantika pendidikan indon.

  1. Lawren Says:
    August 14th, 2005 at 9:29 am

Duh, seandainya pak menteri pendidikan baca ini ya…. tp gak ada gunanya juga. Lha wong pak menteri kita kyknya belum sadar juga artinya pendidikan. Saya ngiri dengan Bayu yang sempat sekolah di Australia. Tapi boleh juga tuh cara guru disana. Ulangan matematika boleh liat rumus… yang penting memahai dan bukan rumus.Betul juga tuh… pas saya ngajar Inggris juga gitu… dan hasilnya lebih baik juga ketimbang disuruh hapalin formula…..
tapi yang saya heran, waktu saya sekolah dulu pake cara menghapal kok ya bisa ya? sekarang kok sulit dan cenderung malah gak bisa. Heran saya…..
Ada apa ya?

  1. alia Says:
    August 21st, 2005 at 3:13 am

hi! sorry nyasar ke blog nya yaa… mungkin ada beberapa catatan yang memang membuat system pengajaran kita seperti sekarang. latar belakang (budaya) kita yang terlalu mengagungkan orang yang lebih tinggi kedudukannya udah masuk mendarah daging baik terhadap subyek maupun obyeknya. subyek merasa priyayi, objek merasa abdi dalam. sehingga apabila abdi dalam ingin bertanya atau berpendapat ada perasaan sungkan karena merasa takut, lebih rendah atau apalah namanya. sedangkan, priyayi, karena merasa tidak ada yang bertanya berpikiran apa yang saya ucapkan adalah benar. sehingga pola tukar pikiran yang diterapkan di dunia barat tidak bisa sampai ke indonesia.

selain itu, keadaan finansial (siyahhhhh!) menjadikan faktor andalan. di luar, pekerjaan dosen adalah HANYA dosen! tidak dibebankan oleh tetek bengek untuk cari gaji tambahan dengan proyek di luar kerja utamanya. dengan terfokusnya pada satu pekerjaan dan fasilitas yang memadai (mis. ruang kerja pribadi) atau adanya persyaratan bagi seorang dosen untuk terus meningkatkan kualitasnya (research.red) menjadikan satu tamparan bagi dosen tersebut untuk terus berkarya. pengalaman sayabelajar di luar, mencari profesor adalah sangat gampang.. cukup kirim email jam 7 pagi.. jam 7.15 udah ada balasannya… di indonesia?? huaaaaa tau sendiri kan? *wink2. dengan adanya hambatan ini, proses diskusi untuk tukar pikiran menjadi terhambat dan muncul keengganan diantara mahasiswa untuk berpikir *ahhh susah nyari dosennyaaa…* hiks… saya berharap mahasiswa saya tidak berpikiran seperti ini pada saya :))

saya pelaku universitas tidak menyatakan sepenuhnya saya benar karena sayapun manusia biasa. senang membaca tulisan anda.alia

  1. ireng Says:
    August 22nd, 2005 at 5:34 am

wah ramenya… ikutan!

saya pernah bahas masalah ini di warung rujak sama temen² praktisi IT. oh iya di sebelah warung rujak itu ada kebetulan ada international school, dan temen² sering ngajak hang-out pengajar di situ.

saya sempet iseng tanya ‘yang diajarkan di sekolah ini apa saja sih?’, dan jawaban yang saya terima bener² unexpected, bayangin aja kelas 1-3 ato 4 diajarin maen game (puzzle, lego etc…) tiap hari lage, baru kelas selanjutnya diajarin berhitung dll.

trus, saya balik tanya ‘hmmm… trus kedepannya gimana?’, dan jawabnya ‘ya itu terserah mereka mau jadi apa? mereka sudah bisa menentukan sendiri mau melanjutkan study kemana, yang tertarik sejarah, mereka ambil major in history, begitu juga yang tertarik dengan berhitung mereka akan ambil major di bidang itu…’.

kemudian ada yang reply ‘beda dengan sekolah yang ada di indonesia, mereka kasih pelajaran yang campur aduk’, ya jadinya gini typical orang yang multi-tasking (sembarang bisa, asal coba², tanpa baca manual book… dijamin bisa, modal learning by doing). (OOT: jadi inget teman yang tidak bisa baca-tulis bisa menjalankan mesin berat sekelas traktor, fork-lift etc… [hanya modal coba²])

dan satu lage, di Indonesia yang dibutuhkan masih selembar kertas yang orang bilang ‘ijazah’, padahal sudah kebanyakan perusahaan yang memberikan persyaratan pada lowongannya, ‘calon pelamar harus lulus sertifikasi (sekelas CCNA etc…)’, dan mereka tidak butuh yang namanya ijazah…

eof… ^_^

we hope indonesia could be better day by day by day by day…

  1. anonymuis » Blog Archive » The knowledgement Says:
    September 7th, 2005 at 3:17 pm

[…] e it to the education in another countries? For Indonesian readers, this author probably has the similar thought on his entry

This entry was posted

on Thursday, S […]

  1. ChibunCutE Says:
    November 17th, 2005 at 6:16 am

hehe…emank bener tuh dunia pendidikan kita perlu dibombardir abis-abisanbiar gak kolot terus…
Betapa saya merasakan perlakuan sedikit diskriminatif dari guru2 SMA saya ketika mengetahui saya “berlabuh” di SeniRupa ITB 2005,bukannya di fakultas “teknik sesuatu” ataupun meretas jalan sebagai calon dokter !!! mereka memandang dengan tatapan ”Sangat menyayangkan apa yang saya lakukan”,sementara mereka menyalami dengan sukacita teman2 saya yang berhasil masuk teknik atau kedokteran.
Bahwa saya masih ingat tatapan kaget dengan alis sedikit naek ketika saya dengan bangga memperkenalkan diri sebagai mahasiswa calon desainer…
Tapi saya senang di tempat saya berada sekarang…komunitas seni rupa,karena kami adalah orang yang berani tampil apa adanya,melihat sesuatu yang aneh menjadi COOl,dalam upaya pembuktian pada dunia bahwa….kami adalah kami,kami ingin membuat dunia menjadi lebih indah,damai,dan bersahabat…
Dan saya akan membuktikan bahwa saya mampu membuktikan impian2 yang saya pendam,,,,bahwa saya tidak salah jalan untuk ”terjun” dalam lautan senirupa

  1. ade lang lang Says:
    June 21st, 2006 at 10:00 am

kalau anak gak bisa baca tulis dipaksa aja …jangan dikasih ampun kekerasan sangat penting,jangan buat anak manja,,pukul aja klau perlu.kalau belum sadar ditempeleng biar kapok .jadi anak akan takut dan mau belajar selamat mencoba

  1. shasha Says:
    October 11th, 2006 at 6:12 am

yah mao gimana lagi semua kan tergantung ma orangnya. sebenarnya tingkat kreativitas seseorang tergantung pada bagaimana seseorang memproses informasi yang telah didapatkannya.jika informasi yang diproses tersebut sederhana maka tingkat kreativitaspun yang dihasilkan juga sederthana.tetaPI JIKa pemrosesan informasi secara kompleks maka kreativitaspun yang dihasilkan juga kompleks dan banyak. sebenarnya kreativitas bener-bener ada pada usia anak-anak sehingga pada usisa tersebut kudu harus diarah.

  1. Agustiani Says:
    March 27th, 2007 at 1:30 pm

Ikutan ah…!
pendidikan di Indonesia lebih mementingkan hasil daripada proses dulu memang benar tapi sekarang lain lagi ceritanya.Indonesia berusaha untuk meningkatkan mutu pendidikan baik dalam hal perbaikan kurikulum maupun dalam peningkatan tunjangan terhadap guru.Hal ini terbukti dengan adanya KTSP dan UU Guru dan Dosen. Implikasinya… tau donk!

Tragedi A.S. : Keunggulan Kreativitas

Sarlito Wirawan Sarwono

Tanggal 11 September 2001, tiba-tiba New York dan Washiington DC jadi neraka. Ratusan, atau mungkin ribuan, orang mati sia-sia setelah tiga pesawat terbang komersial AS ditabrakkan ke dua menara WTC (World Trade Centre) di New York dan Pentagon di Washington DC (sebuah pesawat terbang lagi jatuh di Pensylvania sebelum bisa ditabrakkan ke White House).

Walaupun ada sebagian orang yang senang dengan kejadian itu, namun pada umumnya seluruh dunia, temasuk negara-negara Arab dan Rusia, mengutuknya. Presiden Bush sendiri menyatakan bahwa terorisme ini bukan hanya ditujukan kepada Amerika Serikat, tetapi juga kepada seluruh umat manusia yang cinta kebebasan dan demokrasi. Sedangkan kita sendiri, sebagai manusia Indonesia yang percaya pada Peri Kemanusian, tentunya ikut berduka.

***

Pada saat tulisan ini dibuat, FBI sudah menemukan beberapa bukti yang mulai mengarah kepada identifikasi pelaku terror tersebut. Tetapi masih sangat terlalu awal untuk menuduh seseorang atau suatu golongan tertentu sebagai pelakunya. Namun yang jelas, para pelaku itu pastilah golongan yang sangat membenci bangsa Amerika Serikat. Bukan hanya membenci presiden, tentara atau intelijen Amerika (CIA), tetapi membenci seluruh orang Amerika, termasuk orang-orang sipil, perempuan dan bayi-bayi yang terbunuh dalam tragedi di atas. Pendeknya, para pelaku terror itu adalah musuh bangsa AS.

Musuh bangsa AS ini memang banyak sekali. Demikianlah yang selalu kita dengar dari para pakar dan pengamat politik internasional. Mulai dari Muamar Khadafi dan Saddam Husen sampai Osama bin Laden. Mulai dari sebagian bangsa Arab, sampai ke bangsa Rusia. Tetapi tidak satu pun yang se-adi daya AS dalam segala bidang: ilmu pengetahuan dan teknologi, persenjataan, ekonomi dan keuangan serta politik. Dulu Uni Sovyet merupakan saingan terkuat, sehingga selama puluhan tahun pasca Perang Dunia II, dunia berada dalam kondisi “perang dingin” antara Blok Barat (AS dan kawan-kawan) dan Blok Timur (Rusia dan kawan-kawan). Kedua negara itu sama-sama mampu mengirim orang ke ruang angkasa dan sama-sama punya persenjataan nuklir yang tercanggih. Tetapi setelah kehancuran Uni Sovyet, maka AS merupakan negara terunggul satu-satunya di dunia ini.

Itulah sebabnya banyak orang terperangah dan tidak mengerti, bagaimana mungkin sebuah negara yang se-adi daya AS sampai kecolongan seperti itu. Buat AS sendiri, tragedi ini sangat memalukan, karena itu berarti bahwa seluruh sistem keamanan dan pengamanan negara yang sangat terkenal kecanggihannya itu (dilengkapi dengan pesawat tempur dan kapal-kapal perang modern, sistem radar yang super peka, aparat intelijen yang sangat lihai, sampai sistem pengamanan bandara yang juga luar biasa canggihnya) ternyata dibuat tidak berdaya sama sekali. Di sisi lain, para pelaku terror itu sendiri, hampir-hampir tidak bermodal apa-apa, selain beberapa bilah pisau, keterampilan mempiloti pesawat terbang (yang dipelajari di AS juga), tekad atau ideologi, keberanian, kecerdasan dan … kreativitas.

***

Kreativitas itulah yang ternyata telah menghasilkan operasi terror yang sukses dan hampir sempurna (kecuali sebuah pesawat yang jatuh di Pennsylvania). Kreativitas itulah yang menyebabkan suksesnya unsur dadakan (suatu hal yang sangat penting untuk strategi agresi yang sukses) dan pihak keamanan AS sama sekali tidak bisa mendeteksi persiapan serangan itu yang sangat boleh jadi makan waktu beberapa tahun di bunmi AS sendiri. Kreativitas itulah yang menyebabkan orang AS (termasuk presidennya sampai CIA-nya) sama sekali tidak menduga bahwa serangan tidak datang dari darat (dengan bom bunuh diri), melainkan dari udara. Serangan udara itu pun tidak dengan pesawat-pesawat tempur MIG bikinan Rusia, melainkan menggunakan pesawat komersial milik perusahaan-perusahaan AS sendiri (sehingga tidak tertangkap oleh radar-radar AS yang manapun). Pembajakan pesawat udara juga tidak menggunakan senjata api atau granat, melainkan pisau-pisau kecil yang selama ini memang diijinkan untuk dibawa ke kabin pesawat. Pendeknya, segala yang tidak pernah terpikir oleh otak-otak cerdasnya bangsa AS, itulah yang dilakukan oleh para teroris itu. Itulah yang dinamakan kreativitas.

***

Bangsa AS, walaupun bisa menamakan diri bangsa terpandai di dunia (karena itulah ia bisa mengirimkan orang ke bulan) tetap saja merupakan bangsa yang paling konvensional sedunia (padahal konvensional, atau kebiasaan untuk mengikuti aturan saja, adalah salah satu cirri ketidak-kreativ-an).. Orang Amerika sangat Amerika-sentris. Banyak yang tidak tahu tentang bangsa-bangsa dan negara-negara lain di luar Amerika (dikiranya Indonesia adalah salah satu kota di Bali). Banyak yang mengira bahwa di luar bangsa dan negara Amerika adalah bangsa primitif. Ketika Indonesia dilanda kerusuhan pada bukan Mei 1988 (yang sangat kecil skalanya dibandingkan dengan tragedi AS), seluruh orang AS dihimbau untuk tidak pergi ke Indonesia, karena negara ini dianggap sangat tidak aman. Orang AS juga sangat empiris (ini memang cirri ilmuwan), artinya seluruh pengalaman masa lalu dijadikannya landasan untuk membangun pengetahuan untuk mengantisipasi masa yang akan datang. Konsekuensinya, yang belum pernah terjadi tidak ikut diperhitungkannya sebagai sesuatu yang akan terjadi.

Di sisi lain, para teroris justru memanfaatkan segala sesuatu yang belum pernah terjadi dan dianggap tidak mungkin terjadi. Inilah cirri kreativitas. Memang, salah satu prasayarat dari kreativitas adalah harus berani melanggar konvensi (kesepakatan, aturan, norma) yang ada. Itulah sebabnya pelukis Picasso bisa sangat terkenal (karena ia berani melukiskan mata di paha dan jari tangan berjumlah enam) dan Colombus bisa menemukan benua Amerika (karena ia berani melawan pendapat umum ketika itu bahwa bumi ini datar, bukan bulat). Nah, para teroris ini pun berani melanggar segala konvensi yang ada, termasuk membunuh orang-orang sipil, wanita dan anak-anak yang tidak berdosa (yang oleh orang AS sangat dilindungi haknya dengan HAM), dan tentu saja temasuk membunuhdirinya sendiri.

Semua pelanggaran konvensi itu dapat dilakukan oleh orang-orang yang sangat membenci Amerika. Sudah barang tentu bukan oleh orang yang permohonan visanya pernah ditolak oleh kedutaan Amerika, tetapi oleh orang-orang yang sejak lahirnya mengalami penderitaan sebagai dampak politik luar negeri Amerika dan hidup di lingkungan yang selalu bermusuhan dengan bangsa itu.

Ironisnya, orang Amerika bukannya tidak kreatif sama sekali. Produser-produser film Hollywood sudah banyak membuat film spektakuler tentang pembajakan pesawat terbang dan Towering Inferno, tetapi justru musuh-musuh AS yang memanfaatkan kreativitas produser-produser film itu, sementara orang-orang AS sendiri hanya menganggapnya sebagai khayalan untuk hiburan belaka. Maka mungkin sudah saatnya bangsa AS (dan mungkin juga seluruh umat manusia) mulai memikirkan kemungkinan film-film Jurasic Parc, Indeoendence Day dan Star Wars juga menjadi kenyataan.


Manusia Indonesia Abad 21 yang Berkualitas Tinggi Ditinjau Dari Sudut Pandang Psikologi

Ieda Poernomo Sigit Sidi

Bernadette N. Setiadi

Himpunan Psikologi Indonesia

Jakarta

I. PENGANTAR

Kondisi sebelum abad 21 menampilkan komunikasi antar bangsa, negara, wilayah yang tidak mudah dilakukan. Banyak keterbatasan yang dihadapi, sehingga peristiwa yang terjadi di satu tempat tidaklah mudah diketahui oleh orang-orang yang tinggal di tempat lain. Dunia menjadi terpisah-pisah dalam ruang dan waktu. Kejadian di Amerika tidak akan mudah diketahui oleh mereka yang tinggal di belahan bumi lainnya seperti Eropa, Asia, Afrika, dan Australia. Dengan demikian pikiran, pandangan, gaya hidup masyarakat di wilayah tertentu bersifat lokal dan khusus, mengacu pada kebiasaan dan budaya setempat. Kondisi tersebut memunculkan berbagai ragam tatanan masyarakat dan gaya hidup.

Keterbatasan komunikasi juga mengisolir peristiwa yang berlangsung di wilayah tertentu. Peristiwa di Banda Aceh, misalnya, akan lama sekali sampai pemberitaannya di Merauke, Irian Jaya. Namun, berkat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menjelang abad 21, jarak tampaknya tidak lagi menjadi masalah. Menit ini peristiwanya terjadi, menit berikutnya seluruh dunia bisa mengetahuinya. Ditemukannya satelit membuat komunikasi menjadi lebih mudah. Kemudahan komunikasi inilah yang membawa penghuni dunia ke dalam kehidupan bersama, yang memungkinkan mereka saling berinteraksi, mempengaruhi dan dipengaruhi, juga dalam memilih dan menentukan pandangan serta gaya hidup.

Abad 21 ditandai dengan semakin membaurnya bangsa-bangsa warga masyarakat dunia dalam satu tatanan kehidupan masyarakat luas yang beraneka ragam tetapi sekaligus juga terbuka untuk semua warga. Gaya hidup yang menyangkut pilihan pekerjaan, kesibukan, makanan, mode pakaian, dan kesenangan telah mengalami perubahan, dengan kepastian mengalirnya pengaruh kota-kota besar terhadap kota-kota kecil, bahkan sampai ke desa. Bentuk-bentuk tradisional bergeser, diganti dengan gaya hidup global. Kesenangan bergaya hidup internasional mulai melanda. Perbincangan mengenai pengembangan hubungan antar negara menjadi mirip pembahasan tentang pengembangan komunikasi antar kota dan desa. Teknologi komunikasi memang memungkinkan dilakukannya pengembangan hubungan dengan siapa saja, kapan saja, di mana saja, dalam berbagai bentuk yakni suara dan gambar yang menyajikan informasi, data, peristiwa dalam waktu sekejap. Secara psikologis kondisi tersebut akan membawa manusia pada perubahan peta kognitif, pengembangan dan kemajemukan kebutuhan, pergeseran prioritas dalam tata nilainya.

II. KONDISI DAN SITUASI DI ABAD 21

Proses menuju abad 21 telah berlangsung sejak tahun tujuh puluhan. Dalam percaturan internasional tak ada yang bisa menghindar atau mengelakkan diri dari proses ini. Pengaruh yang datang tak lagi bisa dibendung, mengalir deras tanpa kenal batas. Film, surat kabar, majalah, radio, televisi gencar menyuguhkan pemikiran, sikap dan perilaku yang sebelumnya tidak dikenal. Gaya hidup baru yang diberi label ‘modern’ diperkenalkan secara luas. Naisbitt dan Aburdene (1990) sebagaimana dikutip oleh Sri Mulyani Martaniah (1991) mengatakan bahwa era globalisasi memungkinkan timbulnya gaya hidup global. Tumbuhnya restoran dengan menu khusus dari mancanegara semakin menjamur, menggeser selera masyarakat yang semula bertumpu pada resep-resep tradisional. Gaya berpakaian dipengaruhi oleh garis-garis mode yang diciptakan oleh perancang kelas dunia. Kosmetika, aksesori, dan pernak-pernik lainnya untuk melengkapi penampilan tidak lepas dari pengaruh era globalisasi, seperti halnya tata busana. Selain mode, dunia hiburan juga tersentuh. Munculnya kafe, kelab malam, rumah bola (bilyard) memberi warna baru dalam kehidupan masyarakat. Demikian pula kegiatan pasar. Bentuk-bentuk pasar tradisional yang memungkinkan terjadinya keakraban antara penjual dan pembeli, sehingga keterlibatan emosional ikut mewarnai, perlahan menghilang dan berganti dengan transaksi ekonomi semata ketika muncul pasar-pasar swalayan.

Seiring dengan perubahan jaman, masyarakat pun mengembangkan norma-norma, pandangan dan kebiasaan baru dalam berperilaku. Era globalisasi yang mewarnai abad 21 telah memunculkan pandangan baru tentang arti bekerja. Ada yang lebih luas dari sekadar makna mencari nafkah dan ukuran kecukupan dalam memenuhi kebutuhan keluarga. Orang cenderung mengejar kesempatan untuk bisa memuaskan kebutuhan aktualisasi diri, sekaligus tampil sebagai pemenang dalam persaingan untuk memperoleh yang terbaik, tertinggi, terbanyak. Untuk bisa mengikuti gaya hidup yang baru, diperlukan dukungan kemampuan ekonomi yang tinggi. Kebutuhan ini sangat terasa. Tawaran gaya hidup modern yang ditawarkan melalui kaca-kaca ruang pamer toko atau distributor benda-benda yang digandrungi masyarakat telah memacu banyak orang untuk bekerja tak kenal waktu. Orang sibuk mencari uang untuk bisa memiliki gaya hidup seperti yang ditawarkan. Apalagi media massa juga rajin menggelitik masyarakat untuk dapat mengikutinya, antara lain melalui iklan, sinetron, acara-acara hiburan, dan sebagainya. Kemajuan teknologi komunikasi abad ini telah memungkinkan berita dan cerita segera menyebar ke seluruh pelosok, menyapa siapa saja, tak peduli penerima pesannya siap atau tidak.

Wajah keluarga juga berubah. Perkembangan jaman yang merubah gaya hidup masyarakat ikut mewarnai kehidupan keluarga. Peran suami istri, pola asuh dan pendidikan anak tidak bisa mempertahankan pola lama sepenuhnya. Pengaruh yang diterima suami istri, juga yang diterima anak dalam proses perkembangannya, tak lagi bisa dipisahkan dari dunia di luar rumah. Melalui perangkat teknologi anak bisa langsung menerima pengaruh dari luar, yang tentu saja akan selalu mempunyai dua sisi, baik dan tidak baik, positif dan negatif. Situasi inilah yang akan mewarnai kehidupan anak dan orang tua di abad 21. Orang tua tak lagi menjadi pewarna tunggal dalam pengembangan pola sikap dan tingkah laku anak. Ada lingkungan yang lebih luas dan leluasa memasuki kehidupan keluarga dalam menawarkan berbagai bentuk perilaku untuk diamati, dipilih, dan diambil alih anak. ‘Teman’ dan ‘pesaing’ orang tua menjadi bertambah, sebab lingkungan memang tidak hanya terdiri dari dukungan atau penguat pesan-pesan dan nilai yang ditanamkan orang tua, tetapi juga menjadi penghambat dan pengganggu penerimaan pesan dan nilai tersebut.

Perkembangan kehidupan keluarga yang mewarnai abad 21 memunculkan penampilan ibu yang berbeda dalam peran dan fungsinya selaku penyelenggara rumah tangga dan pendidik anak. Seiring dengan pemunculan ibu dalam kegiatan di luar rumah (bekerja, melakukan kegiatan sosial-budaya), kehadiran ibu yang tidak lagi 24 jam di rumah menimbulkan pertanyaan tentang hasil yang bisa diharapkan dari pola asuhan dan pendidikan dalam situasi seperti itu. Apa jadinya setelah ibu juga sibuk di luar, padahal ibu dikenal selaku pendidik pertama dan utama? Bisakah anak tetap diharapkan mampu berkembang optimal tanpa kehadiran ibu? Kalau ibu tidak ada, siapa yang layak ditunjuk dan diserahi tanggung jawab sebagai pengganti? Pertanyaan ini menjadi terasa lebih bermakna karena ayah tak juga menjadi surut dari kegiatannya di luar rumah, bahkan cenderung meningkat seiring dengan tuntutan kehidupan abad 21. Nah, kalau ayah dan ibu sama-sama tidak bisa hadir penuh, lalu siapa yang harus menjadi pengganti mereka berdua? Padahal, kehadiran itu sangat diperlukan anak, tak peduli berapapun umurnya, sebab proses pendidikan berlangsung selama masa perkembangannya, sejak kanak-kanak sampai dewasa. Jadi, bukan hanya balita (anak berumur di bawah lima tahun) yang memerlukan kehadiran bapak dan ibu, tetapi juga anak pada tahapan perkembangan selanjutnya, yakni mereka yang berada dalam tahap perkembangan kanak-kanak, pra remaja, remaja, dewasa muda, dewasa.

Mencari pengganti ibu tampaknya merupakan masalah yang akan mewarnai abad 21. Tidak mudah memperoleh pengasuh anak.. Hampir tak ada lagi pengasuh anak dalam keluarga yang bisa membantu ibu dan berperan turun temurun, dari generasi ke generasi, seperti yang pernah dialami pada era sebelumnya. Unsur kesetiaan dan pengabdian sudah berubah menjadi transaksi ekonomi semata, sekadar menjual dan memakai jasa. Sementara itu gagasan untuk mengatasi masalah ini dengan mendirikan Tempat Penitipan Anak (TPA) masih memerlukan banyak pengkajian dan pertimbangan.

Masalah pendidikan anak yang mewarnai abad 21 perlu disikapi sungguh-sungguh sejak sekarang. Bekal untuk anak agar bisa tumbuh dan berkembang sebagai sosok pribadi yang sehat jasmani dan rohani, tangguh dan mandiri serta mampu beradaptasi dalam era globalisasi ini menjadi semakin perlu diperhatikan kualitasnya. Kondisi abad 21 yang memberi peluang besar bagi bangsa-bangsa di dunia untuk saling berinteraksi, sekaligus membawa ke suasana kompetisi atau persaingan yang semakin ketat dalam memperoleh kesempatan untuk mengisi kehidupan dan membuatnya menjadi bermakna (bisa sekolah, bisa bekerja dan mencari nafkah, dan sebagainya). Persaingan ini memerlukan ketangguhan dan keuletan dalam menghadapinya. Kebutuhan untuk “menjadi seseorang” dan “menjadi bagian” yang jelas kedudukannya bisa menjadi landasan untuk menumbuhkan motivasi pengembangan diri dan kemampuan beradaptasi. Kebutuhan ini erat kaitannya dengan pembentukan rasa percaya diri dan menumbuhkan motivasi untuk berusaha dan meraih kesempatan agar dapat senantiasa meningkatkan diri. Sikap yang mandiri, tak gentar menghadapi rintangan, mampu berpikir kreatif dan bertindak inovatif tapi juga peduli lingkungan adalah sosok yang diperlukan untuk menjalani kehidupan dalam era globalisasi. Jelas bahwa pengembangan sikap dan perilaku tersebut merupakan tuntutan yang lebih berat daripada hasil pendidikan yang menjadi tanggung jawab generasi sebelumnya. Kemampuan mengantisipasi masa depan dengan berbagai alternatif untuk mengatasi permasalahannya menjadi sangat penting untuk diperhatikan dalam proses pengasuhan dan pendidikan anak. Situasi ini tidak hanya merupakan masalah keluarga, melainkan juga seluruh pendukung proses pendidikan anak, yaitu masyarakat, bangsa dan negara.

III. PERILAKU MANUSIA INDONESIA

1. Kehidupan masyarakat pasca proklamasi kemerdekaan RI 17 Agustus 1945

Kehidupan berbangsa dan bernegara mempengaruhi pembentukan pola perilaku masyarakat, yang tercermin dari perilaku individu selaku anggota masyarakat. Sebagai bangsa yang bangkit dari penjajahan (Belanda dan Jepang), di awal kemerdekaan manusia Indonesia mengembangkan perilaku penuh gairah membangun bangsa dan negara. Kebanggaan menyandang identitas sebagai bangsa dan negara yang merdeka dan berdaulat penuh mendorong terjadinya interaksi yang saling mengisi antar berbagai suku bangsa dalam semangat kesatuan dan persatuan, yang tercermin dalam lambang Bhinneka Tunggal Ika, walaupun berbeda tetap satu jua. Ada kebutuhan untuk saling mengenal, memahami dan menghayati agar kesatuan dan persatuan tidak hanya sekadar simbol, melainkan merasuk dalam kehidupan sehari-hari.

Kebanggaan dan cita-cita mempertahankan kemerdekaan serta keinginan untuk tampil sebagai bangsa yang dikenal dan dihormati dalam percaturan dunia telah membawa masyarakat dalam pengembangan perilaku kebersamaan, yang cenderung tidak mempertajam perbedaan latar belakang suku, pendidikan, agama, dan sebagainya. Menjadi Manusia Indonesia adalah tujuan yang diharapkan dapat dibentuk bersama oleh masyarakat “seribu pulau” ini. Ada kebutuhan yang ditumbuhkan untuk memotivasi masyarakat agar bisa tampil sebagai “Orang Indonesia” sebagai identitas diri yang baru, dengan tetap mempertahankan latar belakang warna suku bangsanya. Perpaduan berbagai ragam budaya pun dicari dan diusahakan bersama. Dengan falsafah gotong royong, semangat persatuan dan kesatuan, pembangunan bangsa dan negara mendapat dukungan dari berbagai lapisan masyarakat.

2. Pembentukan perilaku manusia Indonesia dalam masa Orde Baru

Peristiwa di tahun 1965 (pembubaran Partai Komunis Indonesia) kemudian memunculkan arah baru dalam pembentukan perilaku manusia Indonesia. Masa yang dikenal sebagai Orde Baru mengarahkan pembangunan di bidang ekonomi sebagai fokus utama. Masyarakat pun berpaling. Segenap lapisan berusaha mengikuti derap pembangunan yang baru, sesuai dengan kemampuan dan harapannya. Sejalan dengan perkembangan ini maka sikap dan gaya hidup masyarakat pun berubah. Manusia Indonesia seolah dipaksa masuk ke dalam persaingan global yang berciri khas kapitalisme. Para pengusaha siap menjelajah seluruh pelosok dan menelan siapa saja untuk mencapai tujuannya demi laba yang ingin diraih. Arief Budiman (1991) mengemukakan bahwa salah satu aspek ekspansi kapitalisme global adalah diciptakannya manusia-manusia yang serakah dan materialistis, sesuai dengan yang dibutuhkan oleh sistem kapitalisme. Produksi akan macet kalau manusia merasa sudah cukup dan tidak mau berkonsumsi lagi. Akibatnya, melalui iklan dan berbagai bentuk promosi lainnya manusia dibentuk menjadi berperilaku konsumeristis. Sikap serakah, materialistis, dan konsumeristis inilah yang mendorong orang untuk bekerja sekeras-kerasnya, demi memenuhi keinginannya yang tak kunjung terpuaskan. Kekayaan menjadi simbol status dalam sistem kapitalis. Ukuran tidak lagi pada kualitas manusianya, melainkan pada jumlah atau kuantitas harta yang dimiliikinya. Kejujuran tak lagi menjadi ukuran keluhuran perilaku. Menurut istilah Arief, “orang yang jujur tapi miskin tampak bodoh ketimbang orang yang kaya meski kurang jujur.”

Sisi lain dari pengembangan sistem kapitalis adalah ditimbulkannya semangat individualistis, baik dalam berkonsumsi maupun berproduksi. Kolektivitas dan solidaritas dianggap tidak rasional. Kemampuan berkompetisi untuk meraih yang terbanyak, tertinggi, lalu berkonsumsi dalam jumlah banyak untuk meraih simbol status adalah tuntutan untuk bisa masuk dan bertahan dalam kehidupan sistem kapitalis. Akhirnya, kapitalisme bukan lagi sekadar sistem perekonomian belaka, tetapi sudah mencampuri nilai-nilai kehidupan dan menentukan arah tujuan hidup. Suasana inilah yang mewarnai periode pemerintahan Orde Baru. Upaya menciptakan manusia yang materalitis, individualistis, memiliki daya saing tinggi agar bisa menjadi pemenang dan mengalahkan pesaing-pesaing lainnya (siapapun dia) menjadi arah pembentukan perilaku oleh berbagai pihak.

Ada pemenang ada pecundang (the winner and the looser). Mereka yang mampu akhirnya memang ‘berhasil’ mengikuti gaya hidup global. Tapi, sebagian besar masyarakat Indonesia belum memiliki dukungan untuk bisa mengikuti gaya hidup yang baru. Keadaan ekonominya masih sangat jauh untuk bisa tampil dalam persaingan tersebut. Akibatnya, banyak orang menempuh jalan pintas. Korupsi, kolusi , koncoisme, nepotisme dilakukan orang dalam berbagai bentuk, yang sama buruknya dengan perilaku menipu, mencuri, merampok, melacurkan diri. Cara ini ditempuh orang-orang yang tidak memiliki kemampuan untuk bersaing tetapi sangat mendambakan kehidupan yang diciptakan oleh sistem kapitalis. Berdasarkan kondisi kemampuan ekonomi sebagian besar masyarakat Indonesia, Sri Mulyani Martaniah (1991) melihat banyak aspek dalam era globalisasi yang dapat berdampak negatif dan bisa menyebabkan patologi sosial dan memerlukan pengembangan psikologi komunitas sebagai salah satu cara mengatasinya.

Ada lagi kelompok lain, yaitu mereka yang tidak dapat melakukan cara-cara tersebut, tetapi tetap terimbas oleh kehidupan sistem kapitalis. Akibat bagi kelompok ini adalah perilaku yang menunjukkan perasaan tertekan (stress), depresi, bunuh diri, melarikan diri ke pemakaian obat-obatan dan minuman keras. Sebagian lainnya dari kelompok ini mengembangkan perilaku yang bersifat apatis. Mereka hanya menjadi penonton pasif dan mencoba bertahan dengan apa yang dimilikinya dan bisa dilakukannya, entah sampai kapan.

Manusia tak lepas dari lingkungannya. Kecenderungan mengikuti gaya hidup yang baru, yang “trendy” dan menempatkan nilai-nilai baru dalam ukuran keberhasilan telah merusak dan menghancurkan nilai-nilai tradisional yang sebelumnya dipegang teguh dan diyakini sebagai kebenaran. Nilai yang mementingkan kebersamaan dan menumbuhkan sikap gotong royong dilibas oleh nilai individualistis. Nilai yang meletakkan unsur spiritual berganti dengan unsur materi. Sikap yang mementingkan keselarasan dalam kehidupan bersama, sebagaimana yang telah mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia, diubah menjadi sikap yang selalu mau bersaing dan memenangkan persaingan, tak peduli apapun caranya dan siapapun yang dihadapi.

Dalam periode ini semua pihak, mau tidak mau, suka atau tidak, seolah dipaksa masuk ke dalam pembentukan perilaku persaingan global. Namun, di sisi lain, pada saat yang bersamaan tidak ingin meninggalkan cita-cita bangsa, yaitu terwujudnya masyarakat yang menjunjung tinggi kemanusiaan dan keadilan sosial. Benturan antara keyakinan terhadap nilai-nilai tradisional dan kenyamanan serta keamanan, yang pernah diberikan dalam cara kehidupan yang menjunjung tinggi kebersamaan, dengan kehidupan sistem kapitalis melahirkan konflik-konflik pribadi yang cukup tajam pengaruhnya dalam proses pembentukan perilaku.

Bayang-bayang kehidupan masyarakat dalam masa Orde Baru dengan berbagai benturan kepentingan dan kebutuhan itulah yang kemudian memunculkan Era Reformasi, yang ditandai oleh “lengsernya” Soeharto dari jabatannya selaku Presiden Republik Indonesia setelah berkuasa selama 32 tahun. Wajah masyarakat muncul beraneka ragam. Berbagai bentuk perilaku tampak mencerminkan kondisi dan situasi yang dimiliki masing-masing, baik sebagai individu maupun kelompok, yang semula ditekan kuat-kuat agar tidak muncul ke permukaan dan tidak menimbulkan konflik terutama bagi mereka yang berbeda pendapat. Demonstrasi, pembentukan partai-partai baru, penjarahan, perkosaan, doa bersama, tuding menuding, menghujat dan dihujat mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia saat ini. Negeri seribu pulau dengan nyanyian nyiur melambai yang melambangkan kenyamanan dan kedamaian seolah terpuruk dalam tangis Pertiwi yang meratapi nasib bangsa dan negara yang tampak ‘carut marut’ oleh berbagai kepentingan dan kebutuhan. Kondisi dan situasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang dirasakan dalam keadaan terpuruk itu menjadi bertambah sulit proyeksinya ke depan, karena perilaku yang tampil di masyarakat tidak lagi mencerminkan kepedulian terhadap hukum dan aturan kehidupan bersama yang menimbulkan ketenteraman dan kenyamanan.

IV. MAKNA HUKUM DALAM PEMBENTUKAN PERILAKU

Hukum dapat mengarahkan masyarakat ke arah pembaruan perilaku yang sesuai dengan kebutuhan mereka untuk dapat menghadapi berbagai tantangan, sekarang dan di masa yang akan datang. Ditinjau dari segi budaya hukum, yaitu bagaimana masyarakat mempersepsikan hukum, maka secara umum hukum dipersepsikan sebagai:
suatu tatanan normatif dalam kehidupan bernegara
berfungsi mengatur kehidupan warganegara dengan memberikan batasan tentang apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan
bertujuan untuk melindungi tiap warganegara dengan mengacu pada nilai-nilai dasar seperti kemanusiaan dan keadilan
ditetapkan oleh otoritas yang legitimasinya diakui oleh seluruh warganegara.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dari sudut perilaku masyarakat, maka hukum memiliki dua fungsi, yaitu:
memantapkan pola perilaku masyarakat yang sudah ada dan ingin dipertahankan dan/atau
mengubah pola perilaku masyarakat yang ada saat ini ke arah perilaku baru yang dicita-citakan.

Persepsi masyarakat terhadap hukum dan kenyataan yang dirasakannya dalam menerima perlakuan hukum adalah unsur penting dalam pengembangan perilaku hukum. Bila masyarakat sungguh mempersepsikan bahwa hukum melindungi kepentingan mereka dan dalam pelaksanaannya dilakukan oleh otoritas yang diakui legitimasinya oleh warga, maka proses pemantapan ataupun perubahan perilaku yang dilakukan melalui pendekatan hukum akan dapat terlaksana secara teratur dan terencana.

Kepastian hukum dan jaminan pelaksanaannya merupakan landasan bagi masyarakat dalam pengembangan perilaku normatif yang diperlukan bagi keamanan dan kenyamanan kehidupan bersama. Kepercayaan masyarakat terhadap aparat penegak hukum dan proses penegakan hukum merupakan unsur penting dalam mengembangkan perilaku yang peduli hukum, yang tampil dalam bentuk perbuatan yang memahami aturan, melaksanakan aturan, dan kesediaan menanggung konsekuensi akibat pelanggaran hukum yang dilakukannya. Perasaan diperlakukan secara adil juga penting bagi dipatuhinya aturan-aturan dalam kehidupan bermasyarakat sesuai hukum yang berlaku. Sebaliknya, perlakuan hukum yang dirasakan berpihak akan mendorong timbulnya perilaku yang cenderung mengingkari, yang bisa muncul dalam bentuk “menghindari” atau bahkan melawan hukum (denda ‘damai’ atau suap).

Setiap anggota masyarakat diharapkan bisa secara mandiri memahami makna dan tujuan ditegakkannya hukum, sehingga dalam pelaksanaannya tidak terlalu memerlukan pengawasan. Dengan demikian jumlah aparat yang diperlukan untuk pengawasan dalam pelaksanaan hukum bisa lebih efisien. Salah satu ciri kemandirian adalah kemampuan memilih yang benar dari yang salah berdasarkan norma atau aturan yang berlaku di satu tempat dalam kurun waktu tertentu. Kesiapan seseorang untuk bisa mandiri dalam membedakan yang benar dan salah berdasarkan norma yang diyakininya dan dijadikannya sebagai pegangan dalam berperilaku memerlukan proses yang bertahap. Menurut Lawrence Kohlberg ada tiga tahapan pokok yang dilalui seseorang untuk mampu bersikap adil dan mengembangkan sikap dan perbuatan berdasarkan pertimbangan moral., yaitu:
Moralitas Prakonvensional. Pada tahapan ini dasar yang menjadi pegangan dalam bersikap dan bertingkah laku adalah pujian dan hukuman yang diberikan oleh lingkungan. Tingkah laku yang diancam hukuman tidak akan dilakukan lagi. Sebaliknya, perbuatan yang mendatangkan pujian atau hadiah akan cenderung diulang.
Moralitas Konvensional. Pada tahapan ini perilaku sudah lebih disesuaikan dengan norma yang dianut dalam lingkungan sosial tertentu. Sikap dan perilaku diarahkan supaya bisa dikelompokkan sebagai perbuatan seorang anggota atau warga masyarakat yang baik.
Moralitas Pascakonvensional. Pada tahapan ini prinsip-prinsip moral digunakan dalam arti luas, tidak sekadar hitam putih dan tidak mengacu pada batasan-batasan sempit yang berlaku hanya untuk kalangan masyarakat tertentu.

Perilaku masyarakat terbagi dalam tiga kelompok tersebut, yang dipengaruhi oleh proses perkembangannya. Tingkat kematangan pribadi sangat menentukan moralitas yang mendasari perilakunya.

Ada dua mekanisme belajar yang utama dalam membentuk perilaku manusia, yaitu:
Cara belajar instrumental
Cara belajar observasional

Belajar instrumental pada dasarnya mengatakan bahwa suatu perilaku yang diikuti oleh konsekuensi yang positif (reinforcement) akan diulangi, sedangkan perilaku yang diikuti oleh konsekuensi negatif (punishment) tidak akan diulangi. Contoh: Bila dalam pengalaman sehari-hari seseorang selalu mengalami bahwa “mengurus KTP dengan mengikuti prosedur yang berlaku” (perbuatan menaati peraturan) membuat dia kehilangan jam kerja berhari-hari, sedangkan dengan “mengurus KTP dengan memberi uang pelicin” (perbuatan melanggar peraturan) petugas malahan mengantar KTP baru ke rumah, maka menurut belajar instrumental, dia akan cenderung memberi uang pelicin setiap kali harus mengurus KTP di masa yang akan datang, walaupun perbuatan itu melanggar hukum. Menurut persepsinya, perbuatan itulah yang menghasilkan reinforcement sedangkan menaati hukum justru menghasilkan punishment.

Tentu dalam hal ini keterkaitan (contingency) antara suatu perilaku dengan konsekuensi yang menyertainya harus terjadi secara konsisten untuk suatu jangka waktu tertentu sebelum pola perilaku yang diinginkan dapat terbentuk. Tanpa adanya konsistensi ini maka perilaku yang diinginkan tidak akan dapat terbentuk. Misalnya bila pada suatu waktu si Anu akan melewati lampu merah dilarang oleh polisi, sedangkan ketika ia melakukan hal yang sama pada waktu lain polisi membiarkan saja hal tersebut maka tidak akan terjadi proses pengkaitan antara “melewati lampu merah” dengan “penilangan oleh polisi.” Sebagai konsekuensinya tidak akan terbentuk perilaku “berhenti setiap kali melihat lampu merah.”

Belajar observasional mengatakan bahwa seseorang dapat mempelajari perilaku baru atau memperkuat perilaku yang sudah dimilikinya hanya dengan mengamati orang lain (model) melaksanakan perilaku tersebut. Besarnya pengaruh perilaku model terhadap perilaku si pengamat tergantung pada tiga hal, yaitu:
penilaian pengamat tentang kemampuannya untuk dapat melaksanakan perilaku yang ditunjukkan oleh model
persepsi pengamat tentang hasil perilaku yang ditunjukkan model, yaitu apakah menghasilkan konsekuensi positif atau negatif
perkiraan pengamat, apakah ia akan menghasilkan konsekuensi yang sama bila ia juga melaksanakan perilaku yang ditunjukkan model.

Contoh: Si Polan belum pernah mangkir dari pekerjaan karena hal tersebut melanggat peraturan kerja yang ada. Namun si Polan mengamati bahwa atasan dan rekan kerjanya yang sering mangkir tidak pernah ditegur atau dihukum, malahan dapat menikmati uang dari hasil pekerjaan sampingan (reinforcement) yang dilakukan pada saat mangkir kerja. Dalam situasi ini si Polan pun akan cenderung untuk ikut mangkir kerja dan melakukan pekerjaan sampingan, sesuai dengan perilaku model yang diamatinya. Menurut Bandura (1986) belajar observasional dari model ini telah terbukti sebagai sarana yang ampuh untuk meneruskan nilai-nilai, sikap dan pola perilaku dalam masyarakat. Bila persepsi masyarakat tentang peranan hukum dikaitkan dengan kedua mekanisme belajar tadi, maka hukum sebenarnya merupakan suatu instruksi atau pemberitahuan dari otoritas yang diakui kewenangannya mengenai:

a) perilaku yang diharapkan dari semua individu yang dikenai oleh hukum tersebut

b) konsekuensi yang akan dialami individu pelaku bila ia melaksanakan atau menolak

melaksanakan perilaku yang dimaksud.

Agar hukum ini dapat berfungsi secara efektif, ada dua syarat yang perlu dipenuhi, yaitu:
hukum tersebut harus dimengerti oleh individu yang melaksanakannya dan oleh individu yang akan dikenai oleh hukum tersebut
konsekuensi dari dipatuhi atau tidak dipatuhinya hukum tersebut harus dijalankan secara konsisten dan berlaku umum tanpa pengecualian.

Arah pembangunan Indonesia dalam tiga dasa warsa terakhir ini, yang dikenal sebagai era Orde Baru, pada hakekatnya adalah pembangunan yang sangat menekankan pengembangan bidang ekonomi. Dalam konteks ini segala sesuatu diarahkan agar pertumbuhan ekonomi dapat terus berlangsung tanpa mengalami gangguan. Untuk itu harus selalu diupayakan terciptanya stabilitas ekonomi agar dapat menarik para investor. Stabilitas ekonomi memerlukan dukungan stabilitas politik, yang kemudian oleh para pejabat negara seringkali diinterpretasikan sebagai perlunya pendekatan keamanan (security approach). Tanpa terasa, secara bertahap, semakin banyak kebijakan, keputusan dan kebijaksanaan yang dibuat dengan dalih mempertahankan pertumbuhan ekonomi nasional, padahal dalam kenyataannya tidak jarang hal tersebut hanya menguntungkan pihak tertentu saja dan kadang-kadang bahkan merugikan rakyat kecil. Hal ini antara lain terlihat dengan dikeluarkannya peraturan-peraturan yang bertentangan dengan hukum, seperti pemberian hak monopoli untuk komoditi tertentu, keputusan-keputusan pengadilan yang dirasakan kurang adil, misalnya penyelesaian kasus Kedung Ombo dan hak tanah ulayat di Irian Jaya. Dalam bentuk lain, hal yang sama sering terlihat dalam proses penegakan hukum ataupun proses pengadilan di mana status, kekuasaan atau uang yang dimiliki pelanggar hukum ikut mempengaruhi jalannya persidangan maupun keputusan yang diambil.

Berbagai hal yang kurang menguntungkan dalam pengembangan perilaku masyarakat yang sadar hukum, sebagai bagian dari kehidupan berbangsa dan bernegara, masih diperburuk lagi dengan adanya dua hal yang sangat berpengaruh dalam pembentukan perilaku:
budaya feodalisme dan paternalistik yang membuka banyak peluang bagi yang berkuasa di berbagai tingkat untuk membuat aturan sendiri atau melakukan interpretasi subyektif terhadap hukum dan perundang-undangan yang ada, sehingga peraturan yang sama dapat diartikan berbeda oleh pejabat yang berbeda, di wilayah yang berbeda atau dalam kurun waktu yang berbeda.
adanya kecenderungan budaya untuk menghindari konflik terbuka dan mencari jalan kompromi yang menyebabkan orang sering lari ke prosedur penyelesaian konflik alternatif di luar pengadilan, padahal bentuk penyelesaian alternatif ini sangat dipengaruhi oleh kekuasaan atau status dari pihak-pihak yang ikut berperan dalam proses tersebut.

Berbagai hal tadi dengan sendirinya menurunkan wibawa para penegak hukum seperti hakim, pengacara, polisi, dan lain sebagainya serta menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap sistem peradilan dan sistem penegakan hukum itu sendiri.

Apa arti kenyataan itu dilihat dari pendekatan belajar dalam rangka pembentukan perilaku menurut mekanisme belajar instrumental dan observasional?
Kenyataan bahwa seringkali ada peraturan-peraturan yang bertentangan atau tidak konsisten satu dengan yang lain akan menimbulkan kebingungan, baik di tingkat pelaksana maupun pada mereka yang dikenai oleh peraturan tersebut. Padahal untuk dapat terjadi proses pembentukan perilaku sesuai dengan yang dianjurkan oleh peraturan tertentu, syarat pertama yang harus terpenuhi adalah bahwa orang-orang yang terlibat di dalamnya harus mengerti dengan jelas, apa yang dimaksud oleh peraturan tersebut. Sebagai konsekuensinya, kondisi di mana terdapat kebingungan jelaslah bukan situasi yang memungkinkan terjadinya pembentukan perilaku yang sesuai peraturan.

Adanya penerapan hukum secara berbeda, tergantung pada status dan kekuasaan orang yang ikut dalam proses penyelesaiannya maupun pada status dan kekuasaan individu yang dikenai oleh hukum tersebut, menyebabkan konsekuensi dari hukum/peraturan tersebut tidak dapat dilakukan secara konsisten tanpa pengecualian. Bila kondisi ini tidak terpenuhi, maka pembentukan perilaku yang dituju oleh hukum tersebut tidak akan terjadi.
Kenyataan bahwa orang yang memiliki kekuasaan seringkali mendapat perlakuan yang menguntungkan (reinforcement) secara konsisten akan menjadikannya sebagai model bagi para pemegang kekuasaan pada tingkat yang lebih rendah. Sebagai akibatnya, semakin banyak para pemilik kekuasaan pada tingkat yang lebih rendah meneladani pola perilaku para pemimpin yang lebih tinggi. Namun, sayangnya peneladanan ini lebih jarang terjadi dalam hal menaati hukum tanpa pengecualian dan lebih sering terjadi dalam hal memperoleh perlakuan yang berbeda dan menguntungkan, sesuai dengan kedudukan atau kekuasaan mereka. Hal ini agaknya dapat menjelaskan semakin meningkatnya praktek korupsi, kolusi, koncoisme dan nepotisme di kalangan penguasa di berbagai tingkatan di negara kita.

Dengan perkataan lain, hukum tertulis yang berisikan instruksi atau pemberitahuan mengenai perilaku yang diharapkan dan sanksi yang merupakan konsekuensinya tidak efektif karena tidak dapat dilaksanakan secara konsisten dan berlaku umum tanpa pengecualian. Di sisi lain, hal-hal yang ingin dicegah oleh hukum, yaitu adanya perlakuan yang berbeda pada orang dengan status yang berbeda, justru menjadi semakin tumbuh subur di antara para pemegang kekuasaan. Hal ini disebabkan oleh karena mereka mengamati banyak sekali teladan dari penguasa yang lebih tinggi, yang menunjukkan bahwa “tidak menaati hukum secara konsisten dan tanpa pengecualian” justru memberikan konsekuensi positif (reinforcement) pada mereka. Dalam kondisi demikian kiranya akan sangat sulit untuk berharap bahwa pelaksanaan hukum secara konsisten tanpa pengecualian akan dapat ditegakkan.

Namun, yang tidak kalah pentingnya untuk direnungkan adalah konsekuensi yang mungkin terjadi bila keadaan seperti ini terus berlanjut. Dalam hal ini ada beberapa hal yang mungkin terjadi:
Mereka yang merasa dirugikan akan berusaha untuk memperjuangkan perbaikan melalui cara-cara yang dimungkinkan oleh hukum. Alternatif ini semakin mungkin untuk dipilih bila situasi dan kondisi memungkinkan dan cukup banyak anggota masyarakat yang memiliki pengetahuan dan mau bertindak asertif untuk mengupayakan perubahan (memiliki self-efficacy tinggi).
Bila situasi dan kondisi tidak memungkinkan alternatif di atas atau alternatif tersebut sudah diusahakan tetapi tidak membuahkan hasil maka akan muncul perasaan frustrasi. Dengan adanya stimulus tertentu sebagai pemicu, frustrasi ini dapat dengan mudah menjelma menjadi perilaku agresif. Pengamatan terhadap pengalaman di masa lalu menunjukkan bahwa dalam pola budaya yang berorientasi kekuasaan, orang-orang yang berstatus rendah lazimnya mencari perlindungan dalam kolektivitas (Lev, 1991). Bandura (1986) menemukan hal yang kurang lebih sama, yaitu bila cukup banyak orang yang memiliki self-efficacy tinggi, maka mereka cenderung untuk melakukan protes dan usaha kolektif untuk mengubah keadaan.
Bila perasaan frustrasi yang diakibatkan oleh tidak adanya kemungkinan untuk melakukan tindakan perbaikan berlangsung dalam waktu yang relatif lama atau bila berbagai upaya yang telah dilakukan berkali-kali tidak memberikan hasil nyata, maka sebagian besar kemungkinan mereka yang terlibat akan mengalami apa yang disebut sebagai “learned helplessness”. Artinya, proses panjang dari berbagai upaya yang telah dilakukan namun tidak membuahkan perubahan yang diinginkan menyebabkan orang-orang ini belajar menjadi tidak berdaya dan tidak mau lagi berusaha, karena mereka tidak lagi percaya akan adanya hubungan antara usaha mereka dengan hasil yang ingin dicapai (bersikap apatis). Bila hal ini terjadi pada cukup banyak anggota masyarakat kita, khususnya orang muda, kiranya akan sulit bagi bangsa kita untuk dapat bersaing secara global di abad 21 dan menjadi bangsa yang percaya akan kemampuan diri sendiri.

Kondisi dan situasi negara dewasa ini, yang sedang dilanda berbagai kesulitan dalam kehidupan akibat krisis moneter berkepanjangan, serta terbongkarnya praktek-praktek pelanggaran hukum justru oleh mereka yang seharusnya dijadikan panutan masyarakat, baik sebagai penentu kebijakan maupun selaku aparat penegak, berdampak luas terhadap kondisi kepercayaan masyarakat kepada pemerintah. Krisis kepercayaan ini kemudian melahirkan sikap yang cenderung mengabaikan hukum. Perilaku masyarakat yang akhir-akhir ini menunjukkan kecenderungan melanggar hukum dalam memenuhi kebutuhannya dan ‘main hakim sendiri’ dalam menyelesaikan masalahnya, harus ditanggapi secara sungguh-sungguh dan tidak bisa dibiarkan berlarut-larut, apalagi sampai dijadikan pola perilaku menetap karena ‘dilegalisir’ secara tak langsung oleh pejabat negara. Tanpa disadari pernyataan pejabat negara yang dimaksudkan sebagai simpati terhadap kesulitan hidup yang dialami warga masyarakat (atau justru menarik simpati masyarakat?) telah menimbulkan persepsi yang mengesankan ‘disahkannya’ perilaku hukum yang menyimpang. Contoh: pengungkapan dan penyelesaian masalah perbankan, tanah, operasi becak di Jakarta, kasus orang hilang, penjarahan, dan sebagainya.

Peristiwa huru hara di Jakarta dan kota-kota lainnya pada tanggal 13 dan 14 Mei 1998 dan hari-hari berikutnya semakin membawa negeri ini dalam keadaan terpuruk dengan krisis kepercayaan yang sangat berat. Situasi yang tak kunjung stabil, sementara masyarakat menantikan kepastian dalam penegakan hukum, akhirnya menumbuhkan sikap apatis dan putus asa dengan segala konsekuensinya. Kondisi ini mengantar pemerintah pada beban yang amat berat, terutama dalam hal pemulihan kepercayaan masyarakat kepada pemerintah. Diperlukan sikap yang mampu menampung aspirasi ketiga kelompok masyarakat dalam pengembangan moral (prakonvensional, konvensional, pascakonvensional) agar kehidupan bersama bisa ditata kembali. Komunikasi yang digunakan, baik bentuk maupun jalurnya, harus sangat memperhitungkan karakter kelompok masyarakat secara cermat, sehingga tidak terjadi salah tafsir atau keliru interpretasi. Dalam kaitan ini pernyataan pejabat, penjelasan pemerintah, penetapan kebijakan harus mengacu pada kepentingan segala lapisan masyarakat, dengan memperhatikan karakteristik masing-masing, sehingga dapat dipahami dengan baik.

Bagaimana mengubah pola perilaku masyarakat melalui hukum? Seperti telah diuraikan terdahulu, salah satu fungsi hukum adalah untuk mengubah perilaku masyarakat ke arah yang diinginkan. Bila dikaitkan dengan prinsip-prinsip perubahan perilaku berarti diperlukan hukum yang berisikan batasan perilaku yang diinginkan dan uraian yang jelas tentang konsekuensi yang akan diterima bila hukum tersebut ditaati atau dilanggar. Namun, agar sistem hukum yang baru dapat berfungsi secara efektif diperlukan persyaratan berikut:
Sistem hukum tersebut harus dimengerti oleh mereka yang akan melaksanakannya maupun oleh mereka yang akan dikenai oleh hukum tersebut. Hal ini berarti perlu dilakukan peningkatan keahlian (memiliki expert power) dari para penegak hukum sehingga keputusan-keputusan mereka dihargai dan dihormati oleh semua pihak. Di samping itu perlu pula dilakukan pendidikan/penyuluhan hukum bagi seluruh anggota masyarakat sehingga mereka mengetahui apa yang merupakan hak mereka dan apa yang merupakan tanggung jawab mereka.
Sistem hukum tersebut harus dilaksanakan secara konsisten dan mengikat semua warga tanpa pengecualian termasuk si pembuat hukum sendiri (Golding, 1975). Keberhasilannya terutama akan sangat ditentukan oleh keteladanan (memiliki referent power) dan political will dari para pemegang kekuasaan serta komitmen dari semua pihak.
Sistem hukum tersebut didukung oleh sistem dan budaya demokratis di mana masyarakat dan pers dapat menjalankan fungsi kontrol.

Bagaimana proyeksi kita ke depan? Pengalaman selama enam Pelita menunjukkan bahwa pembangunan yang hanya menekankan pertumbuhan ekonomi tanpa disertai dengan pertumbuhan yang seimbang di bidang sosial, politik dan hukum ternyata tidak berhasil meningkatkan daya saing kita di dunia internasional. Berarti kita memerlukan suatu pembaharuan yang menyeluruh sifatnya dan mencakup berbagai aspek kehidupan bangsa. Beberapa hal yang dapat disebutkan antara lain adalah:
Upaya mencerdaskan kehidupan bangsa agar dapat menjadi bangsa yang percaya diri dan sekaligus mampu berkiprah di dunia internasional. Untuk mencapainya diperlukan suatu transformasi sosio-kultural dari budaya feodal, paternalistik dan berorientasi kekuasaan menuju budaya yang lebih bersifat demokratis, partisipatif dan berorientasi ke depan.
Untuk dapat berkiprah di dunia internasional kita perlu memperoleh kepercayaan dari dunia internasional. Untuk itu kita perlu memiliki hukum yang mengacu pada nilai-nilai universal seperti penghargaan terhadap Hak Asasi Manusia, demokrasi, dan lain sebagainya. Selain itu, salah satu hal pokok yang dapat membina kepercayaan dunia internasional ialah adanya sistem hukum yang berwibawa dan berlandaskan asas-asas hukum modern dengan dukungan sistem peradilan yang dapat diandalkan.

Dalam kaitan ini perlu dipahami bahwa betapapun bagusnya rencana, sistem, maupun kelembagaan yang diciptakan, kemungkinan berhasilnya akan sangat kecil bila tidak didukung oleh perubahan yang mendasar dalam pola pikir, sikap dan perilaku pada tingkat individu sebagai anggota masyarakat.

Ada dua alternatif keadaan masyarakat Indonesia berdasarkan analisis tersebut, yakni:
menjadi bangsa yang mengalami “learned helplessness”, apatis, tidak percaya diri dan tidak mampu bersaing di tatanan global atau
menjadi bangsa yang memiliki self-efficacy, percaya diri dan mampu bersaing di tatanan global.

Indonesia, sebagai bangsa dan negara, juga secara individual, memiliki dua pilihan tersebut. Namun, bila dilihat dari sudut belajar observasional di mana unsur keteladanan (referent power) memegang peranan penting dalam mengubah pola perilaku, maka sikap pemimpin bangsa dan negara ini menjadi sangat bermakna. Semakin tinggi status seseorang dan semakin besar kekuasaan/pengaruhnya, maka semakin menentukan pula pilihannya bagi masa depan bangsa.

V. PERANAN KELUARGA DALAM PEMBENTUKAN PERILAKU DAN PROYEKSI DI ABAD 21

Suasana pembangunan yang lebih terfokus di bidang ekonomi ditingkah dengan era globalisasi telah mengubah tatanan kehidupan masyarakat. Tawaran untuk menikmati gaya hidup global telah mendorong semua orang untuk sibuk mencari uang, dengan berbagai cara. Setiap orang, laki-laki dan perempuan, berusaha pagi dan petang. Mereka membanting tulang dan memeras keringat untuk meraih yang terbaik demi gaya hidup global. Tentu saja kondisi ini berpengaruh terhadap kehidupan kekeluargaan, yang menjadi kurang terbina. Mulailah terjadi kerenggangan antara suami istri, orang tua dan anak, yang tentunya sukar untuk diharapkan sebagai tempat persemaian tumbuh kembang anak secara optimal. Era globalisasi juga melahirkan kompetisi yang membutuhkan kompetensi tinggi di segala bidang untuk bisa menjadi pemenang. Hanya yang terbaik yang bisa memenangkan kompetisi. Akibatnya, orang tua memaksa anak meninggalkan dunianya dan mengisinya dengan upaya pembekalan diri untuk dapat meraih kompetensi sebanyak-banyaknya. Dunia kanak-kanak yang ceria tak lagi bisa dinikmati, berganti dengan jadwal ketat yang mengantarnya pada situasi yang selalu serius dan memandang jauh ke depan. ‘Paksaan’ yang melanda anak dalam penafsiran era globalisasi di bidang ekonomi ini tentunya bisa berdampak negatif terhadap perkembangan anak di kemudian hari, baik terhadap kehidupan pribadinya maupun dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Newman & Newman (1981) menyebutkan tiga unsur pendukung kemampuan seseorang untuk bisa menyesuaikan diri dengan baik, yaitu dirinya sendiri, lingkungan dan situasi krisis dalam pengalaman hidupnya yang sangat membekas dalam dirinya. Pada unsur pribadi (diri sendiri) tercakup kemampuan untuk bisa merasa, berpikir, memberikan alasan, kemauan belajar, identifikasi, kesediaan menerima kenyataan, dan kemampuan memberikan respon sosial. Kemampuan tersebut didasari oleh tingkat kecerdasan yang dimiliki, temperamen, bakat, dan aspek genetika. Berdasarkan konsep tersebut maka proses penyesuaian diri bagi anggota masyarakat merupakan keterkaitan yang sangat erat antara kondisi pribadi, situasi lingkungan dan kemampuan mengelola pengalaman.

Pembentukan perilaku normatif dimulai dari pengenalan terhadap aturan yang berlaku dan terapannya dalam kehidupan sehari-hari, yang kemudian menjadi pengalaman yang terekam dalam kehidupan seseorang. Selanjutnya, dengan bekal kemampuan yang dimilikinya, terjadi proses pengambilalihan norma di luar diri menjadi pengembangan nilai-nilai yang dijadikan pegangan dalam berperilaku (internalisasi). Tergantung dari tingkat kematangan pribadinya, pengembangan nilai dalam diri sendiri bisa dilakukan secara mandiri, bahkan bernuansa luas, dan mampu dipertahankan secara tangguh dalam berbagai kondisi dan situasi. Pada tingkat seperti ini orang tersebut tidak akan mudah terpengaruh atau terbawa suasana lingkungan. Dia tahu memilih yang benar, yang perlu, yang bermanfaat dan bisa dengan mudah membedakannya dari hal-hal yang bisa merugikan pribadi maupun lingkungannya. Pengalamannya berpadu dengan penalaran pikirnya, menghasilkan dialog yang terus menerus sebelum memutuskan sikap dan perilaku dengan kesadaran terhadap konsekuensinya, baik untuk diri sendiri maupun lingkungan.

Sikap dan perilaku orang tua sebagai anggota masyarakat yang menampilkan gaya hidup dan etos kerja serta pengembangan interaksi dengan lingkungan akan direkam anak, baik untuk kepentingan belajar instrumental maupun belajar observasional. Perilaku masyarakat menuju abad 21 tidak lagi mencerminkan setia kawan, gotong royong seperti yang tampak di era sebelumnya. Perilaku itu cenderung meluntur, terutama di kota-kota besar. Tingkah laku manusia di kota besar lebih mengarah pada kesibukan pribadi, tidak acuh, tidak peduli terhadap mereka yang kurang beruntung (individualis). “Pokoknya saya senang, saya berhasil, saya bisa meraih semuanya. Apa yang terjadi dengan orang lain, bukan urusan saya,” kata si individualis, yang juga masuk ke dalam rekaman anak dan bukan tak mungkin dijadikannya pola bertingkah laku.

Ketidakpastian dalam penegakan hukum berdampak pula pada perilaku yang ditampilkan orang tua dan anggota masyarakat lainnya dalam bekerja dan berorganisasi, yang selanjutnya bisa dijadikan acuan oleh anak dalam mengembangkan dirinya. Tindakan yang lebih suka memilih jalan pintas untuk mencapai tujuan, tidak tepat waktu, unjuk kerja seadanya, lebih menuntut fasilitas daripada tanggung jawab adalah melunturnya etos kerja yang diamati anak dengan leluasa, di dalam maupun di luar rumah (orang tuanya sendiri maupun orang tua lainnya). Sikap mau menang sendiri, tidak adanya kepatuhan terhadap hukum, pelanggaran terhadap tata tertib yang berlaku adalah ketidakdisiplinan pribadi yang bisa ditangkap anak dari orang tua dan lingkungannya. Tindak kejahatan dengan kekerasan, baik yang berupa pengrusakan, perampokan, penyiksaan, perkosaan juga pertikaian yang diakhiri dengan pembunuhan, walaupun penyebabnya mungkin sepele, adalah agresivitas yang masuk dalam benak anak dan bisa menjadi referensi dalam menjalani kehidupannya. Kesenangan berlebihan terhadap barang-barang simbol teknologi canggih dan kemapanan serta kenyamanan hidup sebagai kecenderungan hidup materialistik bisa dijadikan dasar pola pembentukan perilakunya. Penggunaan berlebih terhadap produk teknologi canggih tanpa memperhatikan kondisi lingkungan yang bisa dikatakan sebagai kecenderungan pendewaan teknologi adalah referensi lain yang sewaktu-waktu siap ditampilkan anak. Meningkatnya frekuensi dan intensitas perkelahian antar kelompok remaja dan dewasa muda adalah situasi lain yang diamati anak. Mereka melihat mengurangnya kemampuan menalar, komunikasi dan penyelesaian masalah melalui dialog di antara pelaku-pelakunya. Dalam hal ini pengaruh media massa terasa sangat bermakna.

Kesibukan kota besar yang segera merambah pelosok lainnya dengan gerak hidup cepat, bertubinya rangsangan kegiatan dan mobilitas pribadi yang tinggi menempatkan individu dalam situasi yang dilematis. Situasi tersebut membuat individu harus memilih antara pencarian kegiatan yang didasari oleh minat pribadi dengan pelestarian ikatan dan fungsi utama keluarga sebagai sarana dalam menyiapkan anggotanya untuk hidup bermasyarakat. Kecenderungan ini oleh para ahli dianggap sebagai melunturnya fungsi utama keluarga. Fokus perhatian yang lebih mengarah pada tugas-tugas di luar rumah agar tak kalah bersaing kemudian menjadi pilihan orang tua dan sekaligus menempatkan anak dalam kekosongan yang cukup bermakna, terutama dalam upaya pembentukan hati nurani yang akan menjadi pemandunya kelak, sebagai orang yang tangguh, mandiri, tapi juga peduli lingkungan dengan warna spiritual yang kental dan luwes. Apakah orang tua dan masyarakat menyadari kepentingan ini, juga bahwa masa depan bangsa dan negara ada di tangan anak-anak yang sekarang menjadi penonton dan pengamat perilaku orang tua, baik yang ada di rumahnya maupun di masyarakat, apapun peran dan fungsinya? Seberapa jauh kita menyiapkan anak-anak agar bisa berkualitas tinggi dalam abad 21 nanti?

Pendidikan adalah upaya membekali anak dengan ilmu dan iman agar ia mampu menghadapi dan menjalani kehidupannya dengan baik, serta mampu mengatasi permasalahannya secara mandiri. Bekal itu diperlukan karena orang tua tidak mungkin mendampingi anak terus menerus, melindungi dan membantunya dari berbagai keadaan dan kesulitan yang dihadapinya. Anak tidak akan selamanya menjadi anak. Dia akan berkembang menjadi manusia dewasa. Kalau perkembangan fisiknya secara umum berjalan sesuai dengan pertambahan umurnya, maka kemampuan kecerdasan dan perkembangan emosi serta proses adaptasi atau penyesuaian diri dan ketakwaannya sangat memerlukan asuhan dan pendidikan untuk bisa berkembang optimal. Melalui bekal pendidikan dan proses perkembangan yang dialaminya selama mendapatkan asuhan dari lingkungannya, diharapkan anak akan mampu menyongsong dan menjalani masa depannya dengan baik.

Memberi bekal adalah sikap yang mencerminkan pemikiran dan pandangan ke depan. Artinya, kondisi atau keadaan dan situasi yang akan dihadapi anak nantinya, ketika ia sudah menjadi orang dewasa, sangat perlu diperhitungkan. Kehidupan berjalan ke depan. Jadi, sangatlah penting mempertimbangkan kondisi dan situasi di masa depan itu dalam upaya memberikan bekal kepada anak. Sosok manusia dewasa hasil asuhan dan pendidikan orang tua dalam kurun waktu sekarang akan terlihat secara jelas dalam perkembangan anak menjadi orang dewasa. Berhasilkah pendidikan dan asuhan yang telah diberikan? Tercapaikah harapan dan cita-cita atau impian orang tua? Bahagiakah anak dengan yang diperoleh dan dimilikinya? Mampukah ia menjadi sosok pribadi yang diangankannya sendiri, yang mungkin sama dengan harapan orang tua dan lingkungan pendidiknya yang lain? Semua jawaban itu baru akan tampak nanti, ketika anak sudah menjadi dewasa.

Latar belakang pengertian tersebut hendaknya menjadi dasar pengembangan pola asuhan dan pendidikan untuk anak. Biasanya pendidikan diberikan berdasarkan pengalaman masa lalu, yakni ketika yang menjadi orang tua masih berstatus kanak-kanak, yang menerima pendidikan dari orang tuanya. Pengalaman masa lalu ini kerap kali cukup mewarnai pola asuhan dan pendidikan anak. Pemanfaatan pengalaman memang selalu ada gunanya. Akan tetapi sikap yang mampu mengantisipasi ke depan juga sangat penting, karena anak tidak akan hidup di masa lalu, tetapi menapak ke masa depan. Dengan demikian posisi pengalaman ketika menerima didikan dan asuhan orang tua di masa lalu hanyalah pantas sebagai acuan atau referensi, terutama dalam rangka mengembangkan empati (penghayatan, kemampuan merabarasakan dari sudut pandang atau posisi orang lain) agar komunikasinya bisa berjalan seperti yang diharapkan. Terapan pengalaman masa lalu ayah ibu, ketika dididik dan diasuh orang tuanya, perlu disesuaikan dengan kondisi dan situasi perkembangan jaman. Tanpa penyesuaian, pola asuh dan pendidikan yang dilakukan akan cenderung menyulitkan anak dalam perkembangannya, sehingga iapun akan tumbuh menjadi sosok pribadi yang sukar menemukan konsep diri, sulit menyesuaikan diri dan tentunya sulit mengaktualisasikan diri.

Proses pendidikan berlangsung dinamis, sesuai dengan kondisi perkembangan pribadi anak dan situasi lingkungan. Era globalisasi yang menandai abad 21 seyogianya tidak hanya dilihat sebagai hal yang mengancam, dengan dampak kecemasan atau kekhawatiran dalam mendidik anak, yang mungkin hanya akan menghasilkan kondisi perkembangan yang kurang menguntungkan. Kecemasan dan kekhawatiran biasanya akan menyebabkan orang tua menjadi tegang dan tertekan sehingga kurang mampu melihat alternatif, lalu justru menekan anak padahal tindakan itu lebih ditujukan untuk dapat menenteramkan dirinya sendiri.

Kondisi jaman dalam era globalisasi justru bisa dimanfaatkan untuk membangun sosok-sosok pribadi yang tangguh dan mandiri, antara lain karena terbiasa menghadapi persaingan yang ketat dan mampu memanfaatkan fasilitas dan peluang yang dibukakan oleh “pintu globalisasi.” Untuk itu orang tua sangat perlu menyadari, bahwa kehidupan terus berkembang sesuai perputaran dunia, jaman pun berubah. Sangat diperlukan kemampuan dan kemauan untuk mengikuti perubahan dan senantiasa menyesuaikan diri.

Perubahan kondisi dan situasi orang tua dalam menjalankan peran dan fungsinya selaku pengasuh dan pendidik anak perlu diikuti dengan upaya menambah pengetahuan, meluaskan wawasan, dan meningkatkan keterampilan. Dengan sikap ini maka orang tua pun bisa diharapkan melaksanakan tugasnya dalam mengarahkan, membimbing, mendorong, membantu anak serta mengusahakan peluang/kesempatan untuk berprestasi optimal, sesuai dengan kemampuannya. Berpikir positif dan bersikap adaptif adalah sikap yang diharapkan dari para orang tua yang kini tengah mendidik dan mengasuh anak-anak yang akan memasuki era globalisasi. Tugas ini tentunya tidak hanya menjadi tanggung jawab ibu. Bersama, ayah dan ibu menyikapi perubahan jaman dalam kondisi yang lebih menguntungkan bagi anak, sehingga ia mampu menyongsong era globalisasi dengan keyakinan diri yang kuat, berdasarkan bekal yang diperolehnya dan kepercayaan akan rakhmat dan karunia-NYA.

VI. BEBERAPA PEMIKIRAN TENTANG KUALITAS MANUSIA INDONESIA

Dari berbagai pembahasan mengenai kualitas manusia Indonesia dalam periode Orde Baru yang memfokuskan pembangunan di bidang ekonomi, terlihat kecenderungan untuk menyimpulkan beberapa insiden sebagai gambaran manusia Indonesia dewasa ini yang lebih menandakan sikap instrumental, egosentris, kurang peka terhadap lingkungannya, konsumtif, dan melakukan jalan pintas untuk mencapai kepuasan pribadi. Bernadette N. Setiadi dan kawan-kawan dalam penelitiannya (1989) menemukan hal-hal yang menguatkan pengamatan tersebut. Menurutnya, kualitas manusia Indonesia diwarnai oleh kurangnya etos kerja dan sangat berorientasi pada hasil akhir tanpa atau kurang memperhatikan proses pencapaian hasil akhir. Enoch Markum (1984) mengemukakan bahwa untuk menyongsong pembangunan tahun 2000 mendatang secara mutlak diperlukan manusia Indonesia dengan karakteristik tingkah laku seperti kemandirian, kerja keras, gigih dan prestatif. Saparinah Sadli dan kawan-kawan (1985) dalam penelitian tentang sistem nilai masyarakat kota besar yang dilakukan pada pertengahan dekade delapanpuluhan menemukan bahwa masyarakat kota mempunyai besar nilai terminal (preverensi tujuan hidup) yang diwarnai dengan hal-hal yang sifatnya materi. Sedangkan nilai instrumental (preverensi cara-cara pencapaian tujuan hidup) lebih ditandai oleh pengutamaan kompetensi pribadi.

Abad 21 yang memunculkan situasi makin terbukanya hubungan antar bangsa/negara membuat batasan sebelumnya menjadi tipis, sehingga berlangsung persentuhan aspek kehidupan mental psikologis, ekonomi, sosial, budaya. Bila dikaitkan dengan proses pembentukan tingkah laku manusia, maka proses globalisasi membawa kemungkinan sebagai berikut:
terjadi peningkatan interaksi, interdependensi dan saling pengaruh
terbuka pilihan pengembangan diri yang memerlukan penyesuaian prioritas tindakan secara terus menerus sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya. Secara psikologis terjadi perubahan kognitif, perubahan kebutuhan, yang kemudian membawa pembentukan nilai (pemberian skala prioritas) terhadap hal-hal yang dianggap bermakna dalam hidupnya.

La Piere (1981) mengartikan pembangunan sebagai suatu usaha yang secara sistematis direncanakan dan dilakukan untuk merubah kondisi masyarakat yang ada ke arah kondisi dan taraf kehidupan yang lebih santun. Di sini terkandung arti bahwa pembangunan sebenarnya merupakan suatu perubahan sosial, yang mau tidak mau merujuk pada terjadinya perubahan tingkah laku individu warga masyarakat yang sedang membangun. Fuad Hassan menyatakan bahwa hakiki manusia adalah kemampuan manusia untuk menjadi dirinya sendiri dan kemudian mengembangkan kehidupannya dalam suatu keadaan yang menjadi pilihannya. Manusia berpeluang untuk diarahkan agar bisa menumbuhkan motivasi, sehingga di setiap saat dan situasi ia selalu berusaha mencari peluang dan kesempatan yang menarik keinginan dan perhatiannya untuk memenuhi kebutuhan aktualisasi diri. Di setiap saat dan situasi manusia dihadapkan pada berbagai alternatif pilihan. Ia memerlukan kebebasan untuk dapat menentukan pilihan yang baik, yaitu pilihan dengan kapasitas, bakat serta minat atau kebutuhannya secara umum. Dengan kebebasan itu barulah ia leluasa melakukan aktuialisasi diri, menentukan arah dan pengembangan hidupnya.

Mempelajari hakiki manusia sebagai mahluk sosial, jelas bahwa ia membutuhkan kehadiran manusia lainnya, kebutuhan untuk berkelompok dan menjadi bagian dari kelompok. Membanjirnya peluang, kesempatan dan pilhan untuk aktualisasi diri sering membuat manusia hanyut sehingga melupakan hakiki yang sangat mendasar. Terbawanya manusia dalam banjir informasi menyebabkan kekaburan manusia untuk memahami perbedaan antara kebutuhan dengan keserakahan (needs and greed), butuh dan ingin (wish and need) yang kemudian mendorong manusia untuk secara terus menerus terlibat dalam kegiatan pemuasan pribadi. Dia lalu berkembang menjadi mahluk yang egosentris dan instrumental. Mereka yang tidak mampu sehingga tidak mungkin memenuhi kebutuhan aktualisasi diri akan memunculkan pesimisme dan kekhawatiran, yang bisa melahirkan ketidakpuasan dan protes terhadap kejadian di lingkungannya. Disonansi, kesenjangan generasi, kesenjangan kelas sosial-ekonomi, adalah efek samping lainnya karena usaha yang dilakukan tidak lagi sekadar ingin memiliki tetapi juga memuaskan, sementara kepuasan sifatnya relatif dan cenderung tidak berujung. Keserakahan menampilkan wajah egosentris yang kemudian melepaskan diri dari kasih sayang (Gromm). Kemudahan komunikasi membuat individu melupakan peran-peran lain dalam kehidupan, terutama yang menyangkut kehidupan interdependensi. AKU menjadi sangat menonjol. Situasi ini bisa menjadi pemicu bagi pemunculan pribadi yang kehilangan kontrol diri.

Psikologi sebagai ilmu yang kajian utamanya adalah perilaku manusia terkait erat dengan telaah proses pembentukan perilaku, yang hasilnya bisa disumbangkan sebagai intervensi dalam pembentukan perilaku Manusia Indonesia Abad 21 Yang Berkualitas Tinggi. Keterlibatan dalam upaya rekayasa tingkah laku, baik dalam kapasitas sebagai sarana belajar maupun bimbingan dan penyuluhan, perlu dilakukan untuk mendapatkan wawasan tentang konteks dan lingkungan serta eksistensi manusia. Cara yang bisa ditempuh dalam upaya rekayasa ini adalah melakukan usaha yang berkesinambungan dengan memperhitungkan dukungan kelompok maupun dukungan masyarakat. Untuk itu kerjasama dengan berbagai disiplin ilmu lainnya terasa sangat bermakna. Psikologi akan memfokuskan pada upaya pembangkitan kebutuhan untuk berubah agar bisa menjadi pendorong (motivasi) dalam proses perubahan tingkah laku yang diharapkan. Pembekalan individu dengan pengetahuan dan keterampilan yang cukup harus dilakukan agar ia mampu melaksanakan perubahan tingkah laku yang diharapkan, yang sudah beralih menjadi kebutuhan pribadi dan bukan kebutuhan yang bersifat eksternal. Dalam upaya ini harus diciptakan kesempatan bagi individu untuk memecahkan masalah berkaitan dengan adopsi tingkah laku dalam kondisi nyata. Penelitian yang dilakukan oleh Bernadette N. Setiadi (1987), Yaumil A. Achir (1990), Iman Santoso Sukardi (1991) dan Soesmaliyah Soewondo (1991) membuktikan bahwa usaha merubah tingkah laku manusia dapat dilakukan melalui intervensi terencana perubahan tingkah laku.

Dengan mengembangkan teori serta intervensi dalam pola asuh yang khas Indonesia, pengalaman daur belajar Kolb dan intervensi perubahan tingkah laku Mc Clelland yang diadaptasikan ke Indonesia serta pengembangan intervensi lain dalam keterampilan hubungan antar manusia, membuktikan bahwa psikologi mampu berbuat sesuatu dalam rangka menyongsong era globalisasi. Yang diperlukan adalah intervensi terencana yang menekankan analisis kebutuhan individu dan masyarakat, pengembangan iklim belajar partisipatif, penciptaan dukungan kelompok serta pemanfaatan seluruh sumber sebagai sarana belajar. Dalam rekayasa terencana perlu dilihat, mana nilai-nilai tradisional yang masih bisa dipertahankan dan dikembangkan, mana pula yang harus ditinggalkan karena sudah tidak sesuai, bahkan bisa menghambat.

Dalam rangka globalisasi ternyata manusia Indonesia mengalami perubahan peta kognitif, pengembangan dan kemajemukan kebutuhan serta pergeseran prioritas dalam tata nilainya. Kesemuanya tampil dalam perilakunya yang egosentris, instrumental, jalan pintas, etos kerja yag lemah dan kurang peka terhadap masalah yang tidak menyangkut kepentingannya. Padahal era abad 21 memerlukan manusia Indonesia yang tangguh, yang harus menampilkan tingkah laku yang diwarnai dengan etos kerja, prestatif, religius, peka terhadap lingkungan, inovatif dan mandiri. Pertanyaannya adalah, sejauh mana manusia Indonesia bisa dibantu untuk menemukan jati dirinya dan mampu beradaptasi terhadap tarikan dan pengaruh globalisasi masyarakat dunia. Selain itu perlu dicermati pula, berapa banyak yang ‘masih tersisa’ saat ini untuk bisa diajak memasuki abad 21 secara produktif? Berapa bagian dan seberapa luas kerusakan yang sudah terjadi? Di lapisan mana kerusakan itu terjadi dan di tingkat mana yang masih menjanjikan harapan untuk pembentukan perilaku yang adaptif dalam memasuki abad 21?

VII. PENGEMBANGAN POLA PERILAKU MANUSIA INDONESIA YANG BERKUALITAS TINGGI DALAM MASYARAKAT ABAD 21

Sebagaimana telah diuraikan di atas, ada dua kemungkinan pembentukan pola perilaku manusia Indonesia dalam memasuki abad 21, yang diwarnai oleh latar belakang sejarah bangsa dan negara selama ini, yaitu:
menjadi bangsa yang memiliki self efficacy
menjadi bangsa yang mengalami learned helplessness

Era Reformasi membukakan kenyataan, betapa banyak unsur penting lainnya dalam upaya pengembangan Manusia Indonesia yang seolah terlupakan dalam membangun bangsa dan negara dalam masa Orde Baru, yang antara lain menjadi penyebab munculnya perilaku yang mengarah kepada perbuatan Korupsi, Kolusi, Koncoisme, Nepotisme (KKKN). Kesadaran tersebut lalu mendorong keinginan untuk membenahi perilaku Manusia Indonesia dari sikap yang cenderung KKKN menjadi perilaku yang Bersih, Transparan, Profesional. Keinginan untuk memunculkan Manusia Indonesia yang bersih, transparan, dan profesional dalam menjalani kehidupannya sangat diperlukan, apapun yang dilakukannya, di manapun posisinya. Kehidupan Abad 21 menyiratkan tantangan yang lebih luas dalam berkompetisi di era globalisasi. Pengembangan perilaku bersih, transparan, dan profesional menjadi persyaratan bagi Manusia Indonesia agar bisa berkualitas tinggi dan mampu mengambil posisi dalam persaingan di kancah dunia dan memanfaatkannya dengan baik. Sebaliknya, perilaku yang mencerminkan KKKN harus ditinggalkan.

Peristiwa di Bulan Mei 1998 dan hari-hari berikutnya telah menunjukkan betapa kompleksnya permasalahan yang harus diperhatikan dalam upaya meningkatkan kualitas Manusia Indonesia. Ada masalah budaya, ada masalah sosial, ada masalah agama yang secara psikologis menjadi dasar pengembangan sikap dan perilaku, selain masalah ekonomi dan harapan untuk bisa mengambil posisi dalam mengantisipasi globalisasi dan perkembangan teknologi. Pemahaman diri sebagai Manusia Indonesia perlu dimiliki agar dapat menempatkan diri dan mengembangkan hubungan dengan lingkungan, baik dalam skala kecil maupun percaturan yang lebih luas. Negara dan bangsa memerlukan Manusia Indonesia yang mencerminkan pandangan, sikap, dan perilaku warga Republik Indonesia (siapapun dia, dari kelompok mana pun – etnik, kelas sosial, agama, pendidikan, kemampuan ekonomi). Era globalisasi yang semakin terasa denyutnya memerlukan penampilan Manusia Indonesia yang berkualitas tinggi, sehingga dapat mengikuti perkembangan dunia, yang selanjutnya akan dapat menghasilkan peran serta aktif di berbagai bidang (pertanian, perdagangan, perindustrian, teknologi, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya).

Manusia Indonesia yang berkualitas tinggi, dengan latar belakang berbagai periode yang telah dijalaninya memerlukan kajian lintas disiplin ilmu agar bisa dirumuskan secara jelas dan tegas. Dalam kaitan ini sangat disadari bahwa kompleksitas permasalahan yang dihadapi dalam memunculkannya sekaligus mensyaratkan adanya dialog/komunikasi yang bersifat saling isi dan melengkapi antar berbagai ilmu yang terkait, sesuai dengan kondisi dan situasinya. Forum Organisasi Profesi Ilmiah Indonesia (FOPI) yang beranggotakan berbagai Organisasi Profesi Ilmiah (OPI) diharapkan secara ilmiah mampu merumuskan Manusia Indonesia Abad 21 Yang Berkualitas Tinggi sehingga arah pembangunan bangsa dan negara pun bisa ditata lebih baik. Untuk itu perlu dicarikan upaya agar dapat memberdayakan Manusia Indonesia dengan meningkatkan kualitas ketangguhan dan kemandirian dengan tetap peduli lingkungan (alam, sosial, budaya) sehingga lebih mampu menyikapi berbagai perubahan kondisi dan situasi. Hasil kajian tersebut diharapkan dapat memunculkan karakteristik Manusia Indonesia yang berkualitas tinggi, yang menggambarkan manusia dan budayanya (akhlak, moral, budi pekerti) serta kaitannya dengan kehidupan lingkungan (kependudukan, politik, ekonomi, sosial, alam). Gambaran tersebut kemudian dikaitkan dengan kondisi dan situasi yang harus dihadapi masyarakat Indonesia di masa depan, sehingga bisa dicarikan berbagai alternatif upaya yang perlu dan harus dilakukan agar Manusia Indonesia bisa menerima dan memahami dirinya serta mampu menyesuaikan diri dengan kondisi dan situasi lingkungan pada jamannya.

John J. Macionis (1996) mengemukakan bahwa abad 21 menyiratkan ketidakjelasan terhadap ukuran keberhasilan yang bisa dijadikan keteladanan. Sukar sekali menutupi kejadian yang tak ingin disebarluaskan, baik untuk pertimbangan menghormati hak asasi manusia maupun kecanggihan teknologi komunikasi. Banyak masalah yang masih harus dijawab dalam memasuki abad 21, antara lain merumuskan makna kehidupan, pemecahan sengketa/konflik antar bangsa/negara, pengentasan kemiskinan yang tidak hanya terkait dengan masalah populasi (pertambahan penduduk) dalam hubungannya dengan ketersediaan sumber daya alam yang makin terbatas. Abad 21 mengisaratkan perlunya wawasan pikir yang lebih luas, imajinasi, rasa kasihan atau simpati, dan keteguhan hati. Pemahaman yang luas terhadap kehidupan bersama akan menjadi dasar yang kuat bagi upaya membantu manusia memasuki abad 21 dengan sikap optimis.

Ada lima cara yang dikemukakan Macionis dalam pembentukan perilaku yang mencerminkan pemahaman sosialisasi, yaitu:
teori Id, Ego, Superego dari Sigmund Freud (1856-1939)
teori Perkembangan Kognitif dari Jean Piaget (1896-1980)
teori Perkembangan Moral dari Lawrence Kohlberg (1981)
teori Gender dari Carol Gilligan (1982)
teori “Social Self” dari George Herbert Mead (1863-1931)

Jalur yang bisa digunakan untuk membentuk perilaku yang mencerminkan kemampuan sosialisasi adalah:
keluarga
sekolah
kelompok sebaya
media massa
opini publik

Sedangkan proses sosialisasi bisa berlangsung sepanjang kehidupan, yakni sejak kanak-kanak, pra remaja, remaja, dewasa muda, dewasa, lanjut usia.

Harapan untuk dapat membantu masyarakat dalam mewujudkan perilaku Manusia Indonesia Abad 21 Yang Berkualitas Tinggi bisa mengacu pada kerangka pikir tersebut (untuk pemahaman, proses dan pembentukan perilaku dalam upaya sosialisasi), terutama dalam upaya membentuk manusia yang cerdas, terampil, tangguh, mandiri, berdaya saing tinggi tapi juga punya hati nurani, yang membuatnya peduli dan tidak individualis. Untuk itu perlu dipahami dulu kondisi masyarakat Indonesia saat ini. Berdasarkan teori perkembangan moral dari Kohlberg, masyarakat Indonesia terbagi dalam tiga kelompok moralitas. Kelompok pertama menyandarkan perilakunya pada pengertian benar dan salah, baik dan buruk berdasarkan reaksi yang diterimanya dari lingkungan. Bagi kelompok ini, keputusan benar salah, baik buruk harus bisa dipahami secara nyata, bukan sesuatu yang bersifat abstrak. Bentuk hukuman dan pujian/penghargaan harus dipahami sesuai dengan tingkat kemampuan mereka, antara lain taraf kecerdasannya. Penempatan patung-patung polisi lalu lintas di berbagai kota (Bogor, pinggiran kota Bandung, Surabaya, Padang) adalah contoh pemahaman “hitam putih” dalam usaha pengawasan perilaku. Kehadiran polisi secara fisik (terlihat) menjadi penting daripada hanya sekadar penempatan rambu-rambu lalu lintas. Kelompok ini lebih terfokus pada pikiran dan pertimbangannya sendiri, menggunakan ukurannya sendiri dan tidak terlalu mampu mempertimbangkannya dalam perspektif yang lebih luas. Kelompok kedua sudah lebih luas pandangannya, sehingga pemahaman terhadap norma dalam kehidupan bersama, yang mengacu pada kehidupan bersama, bisa diharapkan. Kepedulian dan kebutuhan mendapatkan predikat sebagai warga masyarakat yang baik sudah dimiliki. Kelompok ketiga memiliki tingkat pemahaman dan kesadaran yang lebih tinggi mengenai perlunya norma dalam kehidupan bersama agar dapat mencapai rasa aman dan nyaman. Pengelompokan tersebut seharusnya dijadikan patokan dalam mengembangkan aturan berikut sanksinya. Meskipun secara umum tetap bersumber pada acuan hukum yang sama, tetapi dalam penyampaian informasi dan terapannya sangat perlu memperhatikan kondisi psikologis masing-masing kelompok, sehingga bisa diterima dan dilaksanakan dengan baik.

Bagi masyarakat Indonesia yang secara mayoritas mencerminkan pola patrilineal, adanya figur yang bisa dijadikan pegangan menjadi sangat penting. Figur tersebut harus dapat mencerminkan tokoh yang dikagumi dan bisa dipercaya, yang antara lain bisa dilihat dari sikap dan perilakunya dalam kehidupan keseharian sebagai pribadi maupun dalam melaksanakan tugasnya. Perasaan diperlakukan secara adil, yang antara lain merasa memiliki hak dan kewajiban yang sama di depan hukum, menjadi syarat utama bagi tumbuhnya kepercayaan kepada pimpinan negara dan aparat penegak hukum. Segala bentuk kekecualian akan mengurangi bobot aturan yang ditetapkan. Apalagi kalau figur yang seharusnya menjadi panutan ternyata menampilkan perilaku yang tidak sesuai dengan aturan yang telah disepakati bersama. Bentuk masyarakat Indonesia yang sangat heterogen juga harus diperhatikan. Sejalan dengan hal tersebut maka penyusunan undang-undang dan peraturan penjelasan serta kelengkapannya harus disampaikan dalam bentuk komunikasi yang efektif, sesuai karakteristik masing-masing kelompok.

Untuk bisa menjaga agar perilaku masyarakat tetap produktif dalam upaya menegakkan kewibawaan pemerintah, ketertiban dan ketenteraman bersama, masyarakat yang seolah baru terbangun dan mulai sadar atas hak-haknya sebagai individu maupun sebagai warga negara, yang kemudian memunculkan berbagai bentuk perilaku ‘terkejut’ harus segera diarahkan dan dibimbing, sehingga reformasi bisa tetap sesuai dengan jiwanya ketika diperjuangkan oleh mahasiswa. Perilaku beberapa pihak yang saling tunjuk, saling menghujat, saling menghakimi tanpa mengindahkan prosedur hukum/aturan/tatanan yang berlaku perlu segera diatasi, sebelum menyesatkan masyarakat dalam pengembangan pola pikir dan tindakan yang jauh dari kehidupan sadar hukum.

Pemulihan kepercayaan masyarakat tidak hanya diperlukan untuk mengembalikan kondisi dalam negeri, tetapi juga bagi dunia internasional dalam menentukan sikap dan kebijaksanaan politik maupun ekonomi terhadap Indonesia. Beban psikologis ini amat berat. Persoalannya adalah seberapa jauh pemerintah dan seluruh jajarannya menyadari hal ini? Apakah masyarakat juga bisa melihat persoalan ini dalam skala pikir yang lebih luas dari hanya sekadar memikirkan kepentingannya sendiri? Dapatkah mereka melihat dirinya sebagai bagian dari kepentingan bersama, selaku anggota masyarakat dan warga negara? Pemerintah dan masyarakat harus bersama-sama menyelesaikan persoalan ini sebagai kepentingan yang tak bisa ditawar untuk dapat mempertahankan keutuhan dan kesatuan bangsa dan negara. Untuk itu sangat perlu dimasyarakatkan secara luas dan terbuka mengenai kondisi dan situasi yang dihadapi bersama agar pemerintah dan masyarakat bisa bahu membahu dalam upaya penyelesaiannya, yang tentunya harus sangat memperhitungkan karakter masing-masing kelompok, sehingga bentuk dan jalur penyampaiannya bisa disesuaikan dan kemudian bisa dipahami sebagaimana mestinya.

Hal lain yang memerlukan perhatian pemerintah untuk dapat memulihkan kepercayaan masyarakat kepada pemerintah adalah koordinasi yang baik antara seluruh aparat/jajaran pemerintah. Pernyataan dan tindakan yang terkesan kontradiktif antar departemen harus dihindarkan. Sebelum memberikan pernyataan, baik sebagai tanggapan maupun rumusan kebijaksanaan, seyogianya sudah ada pemahaman dan kesepakatan di antara para anggota kabinet dan aparat/jajaran di bawahnya yang terkait. Dengan demikian masyarakat tidak seperti penonton yang kebingungan, sebab tidak ada yang bisa dijadikan pegangan secara jelas, yang akibatnya memunculkan perilaku yang dikembangkan atas interpretasi sendiri. Kondisi ini dapat memunculkan situasi yang rawan bagi kehidupan bersama, sebab tak ada acuan yang jelas dan tak ada kepastian yang bisa dipercaya untuk dijadikan pedoman.

Transparansi atau keterbukaan dalam menjalankan pemerintahan masih perlu dilakukan secara selektif, sesuai karakter masyarakat yang dihadapi supaya tidak berubah menjadi bentuk perilaku yang seenaknya menuntut dan menghujat orang/pihak lain, sedangkan di sisi lain menepuk dada atau menganggap diri paling benar dan bersih. Kehidupan demokrasi yang sesungguhnya harus dijabarkan secara operasional di tiap tingkatan kemampuan masyarakat dalam memahaminya, sesuai karakter kelompok-kelompok yang ada. Pendekatan persuasif dan tidak sekadar responsif sangat diperlukan, yang bisa dilakukan dalam bentuk pendidikan masyarakat dalam hal kesadaran hidup berbangsa dan bernegara, yang menyiratkan rasa kebersamaan, bahu membahu, saling isi, saling melengkapi. Tatanan kehidupan menurut adat dan agama harus jelas posisinya dalam tatanan hukum negara, sehingga aspirasi dan kebutuhan masyarakat bisa tertampung dengan baik dan tidak menimbulkan gejolak yang merugikan kehidupan bersama. Aturan yang meliputi seluruh kehidupan, antara lain dalam ketentuan mengenai tanah adat, kehidupan beragama, kehidupan masyarakat yang berlandaskan bhinneka tunggal ika, kesempatan memperoleh pendidikan/pekerjaan, kenyamanan dan jaminan keamanan dalam bekerja, corak kehidupan perkawinan/keluarga sesuai kondisi jaman perlu ditelaah untuk bisa memenuhi aspirasi masyarakat.

VIII. PENUTUP

Manusia Indonesia Abad 21 Yang Berkualitas Tinggi ditandai oleh lima ciri utama dari aspek-aspek perkembangan yang berlangsung secara seimbang dan selaras, yaitu perkembangan tubuh (fisik), kecerdasan (inteligensi), emosional (afeksi), sosialisasi, spiritual. Pola perawatan, asuhan, dan pendidikan anak hendaknya mengacu pada upaya pengembangan kelima aspek tersebut secara harmonis dan seimbang agar terbentuk pribadi yang sehat, cerdas, peka (sensitif), luwes beradaptasi dan bersandar pada hati nurani dalam bersikap dan bertindak. Dengan demikian meskipun ia berhadapan dengan gaya hidup global, pijakannya pada akar kehidupan tradisional yang menjadi cikal bakal kehidupan bangsa dan negaranya tidak akan hanyut terbawa arus kehidupan global. Justru ia akan dapat memilih dan memutuskan yang terbaik untuk diri, bangsa dan negaranya, baik untuk keperluan jangka pendek maupun jangka panjang. Penegakan hukum dan contoh yang diperlukan sebagai model pembentukan perilaku, baik yang ditunjukkan orang tua maupun masyarakat, menjadi penting.

Kerjasama antar disiplin ilmu dalam memecahkan masalah yang dihadapi saat ini sangat diperlukan. Pembangunan harus diarahkan pada cita-cita bangsa dan negara ketika republik ini didirikan. Kebersamaan menjadi penting untuk dapat menjaga kesatuan dan persatuan. Menyadari keterbatasan kemampuan diri sebagai individu dan kelebihan bekerja sama akan dapat menghindarkan suasana yang saling tuding, saling hujat, saling mencemooh, saling menepuk dada, saling melecehkan, adu kuasa dan adu kekuatan seperti yang tampak sekarang ini. Selain merugikan kehidupan bangsa dan negara, memunculkan ancaman perpecahan, perilaku tersebut tidak akan menempatkan individu dalam proses belajar memahami dan mentaati hukum. Padahal, era globalisasi di abad 21 akan menghadapkan manusia Indonesia pada hukum dan tatanan kehidupan bersama yang lebih luas, tidak hanya dalam batas wilayah Republik Indonesia. Perilaku sadar hukum adalah sebagian dari persyaratan yang diajukan abad 21. Siapkah kita membentuknya? Tahukah kita cara membentuknya? Jawaban pertanyaan ini akan menentukan corak individu yang menandai masyarakat Indonesia abad 21, apakah kita akan menjadi bangsa yang mengalami “learned helplessness”, apatis, tidak percaya diri dan tidak mampu bersaing di tatanan global atau menjadi bangsa yang memiliki self-efficacy, percaya diri dan mampu bersaing di tatanan global.

Agar bangsa dan negara ini tidak semakin terpuruk karena terpaksa mengalami “learned helplessness” seharusnya pemerintah dan masyarakat mampu menumbuhkan motivasi berprestasi tinggi atau dikenal sebagai need for achievement (Mc Clelland). Menurut teori Maslow, manusia Indonesia harus didorong sampai pengembangan motivasi untuk mampu mengaktualisasi diri dan tidak terhenti pada motivasi pemenuhan kebutuhan hidup yang mendasar saja.

Dalam kaitan dengan pembangunan selanjutnya, ada pertanyaan yang masih harus dijawab, terutama mengacu pada pengalaman kita selama ini, akankah kita masih terkotak-kotak dalam menyelenggarakan pembangunan? Dapatkah kita menempatkan manusia sebagai individu dengan segala keunikannya sehingga tidak memperlakukannya sebagai obyek semata? Atau kita masih tetap beranggapan bahwa masyarakat yang terdiri dari kumpulan individu adalah sekadar obyek, yang bisa diatasi dengan “dua K” yaitu kekuatan dan kekuasaan. Kalau jawabannya “Ya,” maka cita-cita untuk mewujudkan Manusia Indonesia Abad 21 Yang Berkualitas Tinggi barangkali cuma angan-angan, seperti membangun rumah di atas angin.

DAFTAR PUSTAKA

Bandura, A. (1986). Social Foundations of Thought and Action: A Social Cognitive Theory. Englewood, New Jersey: Prentice Hall, Inc

Deaux, K., Dane, F.C., Wrightsman, L.S., In association with Sigelman, C.K. (1993). Social Psychology in the ‘90s (6th Ed.). Pacific Groove, California: Brooks/Cole Publishing Company.

Feldman, R.S. (1990): Understanding Psychology (2nd Ed). Mc Graw Hill Publishing Company.

FOPI (1998): Kerangka Acuan “Curah Pikir” Manusia Indonesia Abad 21 Yang Berkualitas Tinggi. FOPI. Jakarta, Agustus 1998

Friedman, L.M. (1984). Legal Culture: Legitimacy and Morality. In American Law. London: W.W. Norton Company.

Golding, M.P. (1975), Philosophy of Law. Englewood, New Jersey: Prentice Hall, Inc.

Himpsi (1991): Membangun Manusia Tangguh Dalam Era Globalisasi, kumpulan makalah Kongres V dan Temu Ilmiah ISPSI (sekarang Himpsi), Semarang 4-7 Desember 1991. Himpsi Pusat.

Himpsi (1998): Pokok-Pokok Pemikiran Himpsi tentang Upaya Penegakan Hukum di Indonesia Dalam Rangka Memulihkan Kepercayaan Masyarakat Kepada Pemerintah, konsep masukan kepada pemerintah. Himpsi Pusat, Agustus 1998.

Lev, D.S. (1990). Hukum dan Politik di Indonesia. Penerjemah, Nirwono dan A.K. Priyono. Jakarta LP3ES.

Macionis, J.J. (1996): Society, The Basics (3rd Ed). Upper Saddle River, New Jersey. Prentice Hall, Inc.

Martin, G. & Pear, J. (1992). Behavior Modification (4th Ed.). Englewood, New Jersey: Prentice Hall, Inc.

Poernomo SS, I (1997): Era Globalisasi, Tantangan atau Ancaman? Makalah disampaikan pada Acara Seminar Sehari “Kiat-Kiat Mendidik Anak Dalam Menyongsong Era Globalisasi” diselenggarakan oleh Ikatan Isteri Dokter Indonesia Cabang Jakarta Barat, Jakarta 6 September 1997.

Poernomo SS, I (1998): Saat Tepat Mengajar Anak Hidup Susah. Makalah disampaikan pada acara Temu Pakar dan Pembaca, diselenggarakan oleh Majalah Ayahbunda, Jakarta 28 Agustus 1998.

Poespowardojo, S (1998). Kondisi Budaya Dewasa ini dan Implikasinya bagi Dunia Pendidikan. Makalah disampaikan dalam pertemuan Konsep Pendidikan Tinggi Katolik di Universitas Katolik Atma Jaya Yogyakarta, 16 Januari.

Seran, A. (1997). Hukum dan Moral: Refleksi Etis Atas Paham Mengenai Hukum Yang Baik. Atma Jaya, Tahun X No. 3, 1-15.

Setiadi, B.N. & Indarwahyanti G, B.K. (1998): Peranan Hukum Dalam Pembaharuan Pola Perilaku Masyarakat. Makalah disampaikan pada Simposium Kepedulian Universitas Indonesia terhadap Tatanan Masa Depan Indonesia, Depok 30 Maret-1 April 1998

Meniru Kreativitas Tuhan

Summary ratings: 3 stars (xx voters)

Pengarang : Julia Cameron ; Mark Bryan

Review by : Bbudoyono

Kunjungan : 91 kata: 900 Diterbitkan di: Januari 21, 2008

Judul : Meniru kreativitas Tuhan , Julia Cameron dan Mark Bryan.

Julia Cameron menyediakan cara untuk mengatasi kreativitas macet atau gagasan terhenti. Judul aslinya adalah The Artist’s way : A Spiritual Path to Higher Creativity, tapi kiatnya bisa diterapkan untuk semua orang di segala bidang, bukan hanya untuk seniman.
Prinsip dasarnya Tuhan adalah sang pencipta yang maha kreatif dan terus menerus mencipta. Tuhan adalah sumber kreativitas bagi manusia. Ada enerji kreatif yang disebut listrik spiritual. Apabila manusia mampu mengaksesnya maka kreativitas akan bangkit. Manusia harus berusaha menggapai Tuhan untuk menjadi saluran penciptaan dari Tuhan.
Ada dua cara untuk mengalirkan kreativitas. Pertama membuat catatan pagi dan kedua piknik seniman. Buatlah catatan setiap pagi sepanjang tiga halaman. Isinya apa saja yang ada
dalam pikiran. Ia bisa ditulis dengan cerdas atau tidak, dengan emosional atau tidak. Apapun, apa adanya. Singkirkan rasa terlalu sepele, terlalu sederhana, terlalu konyol dan segala macam kekuatiran lain. Cara ini akan mengatasi sensor yang ada di otak kiri yang selalu berpikir pesimis walaupun logis. Ini akan mengatasi sensor yang menjadi kendala. Menulislah setiap hari dalam keadaan apapun. Bahkan jika yang ditulis adalah tentang tidak bisa menulis. Ini akan membawa kita ke seberang, ke sisi lain dari rasa takut, pikiran negatif dsb. Kita akan melewati sensor dan berada di luar jangkauannya. Di sini kita akan mendengar suara sang pencipta dan suara kita sendiri.
Catatan pagi akan mengembangkan otak
seni jadi efeknya seperti meditasi. Ini adalah cara bertemu dengan kreativitas dan pencipta kita. Jadi ia untuk siapa saja dalam profesi apa saja.
Cara kedua adalah piknik seniman. Sediakan waktu dua jam seminggu untuk melakukan piknik sendirian ke suatu tempat di mana tidak ada gangguan. Atasi segala penolakan. Tujuannya mendengarkan kata seniman kecil yang ada di dalam kita. Ini adalah cara kita berhubungan dengan dan merawat kreativitas. Ini adalah cara membuka diri terhadap wawasan, inspirasi dan bimbingan.
Selain itu ada duabelas tahap untuk memulihkan kreativitas yang bisa dilakukan selama duabelas minggu. Tahap pertama,
pulihkan rasa aman. Ini adalah langkah untuk mengatasi kepercayaan negatif atau pesimisme yang menjadi kendala. Setelah itu kembangkan sisi positif seperti senjata peneguh. Ini akan membantu meraih harapan dan rasa aman. Peneguhan akan memperkuat kreativitas.
Kedua pulihkan rasa beridentitas. Tujuannya mendorong anda masuk dalam identitas anda sejati. Hubungan dengan Tuhan telah membuat anda kreatif. Jaga jarak dari enerji negatif agar kreativitas tetap mengalir. Jauhi orang yang berpengaruh negatif. Kendalikan musuh dalam diri anda sendiri seperti keraguan. Fokuskan perhatian pada sesuatu hal.
Ketiga pulihkan rasa berdaya. Amarah harus dimanfaatkan sebagai enerji pendorong. Doa akan membimbing mimpi manusia. Keselarasan juga akan ditemui yang akan mengarahkan kita ke sesuatu tujuan. Malu adalah rem bagi perkembangan kreativitas, jadi malu harus dikendalikan. Jangan sampai kita dikuasai rasa malu sehingga terhambat. Jadi cari lingkungan yang mendukung agar tidak membangkitkan malu dan sebagainya yang mematikan karya. Ketrampilan menerima kritik juga harus dikembangkan sehingga akan konstruktif.
Keempat pulihkan rasa berintegritas. Masuklah ke dalam diri anda untuk mengenali identitas dan potensi kreatif anda. Ekspresikan mimpi dan identitas anda.
Kelima pulihkan rasa kemungkinan. Eksplorasilah kemungkinan yang tak terbatas. Kita punya sumber tak terbatas. Tapi juga ada perangkap yang harus diwaspadai.
Keenam pulihkan rasa keberlimpahan. Eksplorasi sikap anda tentang uang dan harta. Anda tidak perlu kuatir dengan uang karena sebenarnya Tuhan sudah mencukupi rejeki kita. Yakinlah bahwa sebenarnya manusia hidup dalam kemakmuran dan kemurahan Tuhan. Tugas manusia adalah berkarya.
Ketujuh pulihkan rasa bersambungan. Buka diri terhadap mimpi anda, terhadap ciptaan Tuhan.
Anda menemukan bukan menciptakan karya seni atau yang bukan seni. Anda akan menemukan kreasi Tuhan di alam semesta. Pemberian Tuhan bisa apa saja – buku, film, gagasan dsb. Perhatikan hal hal seperti perfeksionisme, resiko, dan iri hati agar jangan mengganggu proses kreatif.
Kedelapan pulihkan rasa berkekuatan. Atasi kendala kreativitas. Eksplorasi konsep waktu agar tidak kuatir dengan waktu. Jangan kuatir terlalu tua, terlambat dsb. Kreativitas tidak peduli waktu, dia bisa bangkit kapan saja. Ambil langkah kecil tapi nyata dan efektif. Segera bertindak, tidak sekedar bermimpi.
Kesembilan pulihkan rasa kasih sayang. Atasi kendala kreativitas dari dalam diri seperti takut berkreasi, takut gagal dsb, dengan memberi kasih sayang kepada seniman kecil di dalam. Bangkitkanlah antusiasme. Antusiasme adalah enerji abadi bagi kehidupan. Seniman kecil harus diajak berkreasi seperti bermain bukan bekerja. Hindari disiplin militer untuk memaksa kreatif. Putar haluan kreatif untuk menghindari sandungan. Cara ini untuk mengatasi kegagalan yang bisa menghambat. Hancurkan semua hambatan dari dalam maupun luar agar bisa berkarya. Maafkanlah diri anda atas segala kegagalan.
Kesepuluh pulihkan rasa melindungi diri. Ada bahaya yang merintangi kreativitas. Ada hal spiritual yang menjadi racun seperti penyalahgunaan makanan, minuman seperti alkohol, seks dsb. Kenalilah mereka agar anda bisa terhindar. Gila kerja juga menjadi belenggu. Ada juga musim kemarau ketika semua kering. Popularitas juga racun lain. Demikian juga kompetisi.
Kesebelas pulihkan rasa otonomi. Fokuslah pada otonomi seni dan menerima keadaan diri sebagai seniman.
Menerima apa adanya adalah juga memfasiltasi kreativitas. Olah raga bisa membawa kita ke sumber batiniah. Gagasan akan mengalir. Buatlah altar seniman di mana saja di mana anda bisa mengontak sumber kreasi.
Keduabelas pulihkan rasa berkeyakinan. Lepaskan kekangan. Yakinlah bahwa anda hidup, kaya, bahagia, dan ada jalan di depan yang akan terbuka. Pasrahlah karena kreativitas mengandung misteri dan datang diliputi misteri. Gagasan berkembang dalam misteri. Jadi yakin saja. Lakukan hobi seperti berkebun, yang akan mendatangkan keuntungan spiritual.
Dalam epilog, jalan seniman adalah sebuah pengembaraan spiritual, ziarah dan mudik ke dalam diri. Anda akan mendapatkan sesuatu jika anda mendengarkannya.
Bukankah yang disarankan Julia ini adalah Iqra alias membaca isyarat dari Allah ?

13 LANGKAH MEMACU KREATIVITAS

Kita pasti menginginkan punya otak kreatif dengan segudang ide seperti mereka, bukan? Padahal untuk bisa kreatif seperti itu, bukan sesuatu yang tidak mungkin, lo. Karena kreativitas bukanlah bawaan lahir, jadi sebenarnya bisa kita pelajari. Tips berikut ini bisa membantu Kita agar lebih kreatif
.
1. Ubah Pola Pikir Kita

Jika pola pikir Kita yang sekarang ini tidak menghasilkan banyak ide, jelas kita membutuhkan perubahan pola pikir. Pola pikir kita yang selama ini mungkin memang berhasil untuk menerapkan gagasan, mengerjakan proyek secara logis, atau mengerjakan tugas-tugas rutin, tapi tidak untuk menghasilkan ide atau solusi kreatif.

Hanya saja, pola pikir lama ini biasanya sudah menjadi kebiasaan bagi kita, sehingga sulit untuk mengubahnya, kecuali secara sadar kita menyuruhnya untuk kreatif. Jadi, mulailah kini untuk belajar mengubah pola pikir lama atau mengeksplorasikan pikiran kita untuk berbagai ide dan masalah dari sudut pandang baru. Jangan biarkan pikiran kita terkungkung. Buka jalur baru dari pikiran kita.

Dalam menghadapi suatu situasi, misalnya, latih pikiran kita dengan berbagai variasi taktik. Tantang diri kita sendiri untuk membuat keputusan dalam cara yang berbeda atau variasikan pendekatan yang kita ambil. Mungkin bisa dengan cara memposisikan diri kita dalam “sepatu orang lain” atau dalam posisi lawan kita. Jika kita berada dalam posisi produsen, cobalah berpikir sebagai pihak konsumen sebelum kita menyelesaikan masalah. Dengan cara belajar memecahkan masalah dari sudut berbeda ini, maka kita pun akan memperluas perspektif kita.

2. “Olahragakan” Otak Kita

Bagaimanapun, otak seperti halnya tubuh, butuh dilatih dalam berbagai sisi. Jika kita tetap melakukan hal yang sama maka kita akan menerima sedikit keuntungan. Itulah mengapa orang yang bugar akan mencampur olahraga yang dilakukannya dari berbagai segi, mulai dari berlari, berenang, yoga, maupun angkat beban. Semuanya tak lain agar tubuh menerima hasil yang lebih baik. Lakukan hal yang sama pada pikiran kita. Berlatihlah melakukan rutinitas aktivitas dalam cara yang berbeda, misalnya ambil rute berbeda untuk sampai ke tempat pekerjaan, makan sesuatu yang berbeda dari yang biasa dilakukan setiap harinya, atau ubah gaya rambut dengan gaya yang baru. Semakin banyak hal yang Kita eksplorasi, lebih banyak hal lama yang terlupakan dalam otak Kita, sehingga memudahkan kita untuk berpikir lebih kreatif. Latih cara seperti ini berulang-ulang.

3. Lakukan Sesuatu yang Kita Pikir Berat

Untuk memperkuat kekuatan pikiran kita, kita juga perlu untuk membuat otak sedikit “berkeringat”. Jadi latih otak kita dengan sesuatu yang agak “berat”. Mulailah melakukan kegiatan pengisian teka-teki atau bergabung dalam permainan tebak kata anak kita. Bisa juga dengan mulai memperhatikan dokumen (yang secara normal tidak akan berada dalam ‘radar’ kita), lalu diskusikan buah pikiran kita tentang dokumen itu dengan seseorang. Cara lain, bacalah buku dengan subjek yang tak Kita ketahui tetapi menarik. Pokoknya, semakin jauh kita mengeksplor otak kita, semakin luas pikiran kita.

4. Bermimpilah

Beri juga kesempatan imajinasi kita berkelana. Bila kita terjebak kemacetan di jalan raya misalnya, daripada tidur, lebih baik layangkan mata Kita keluar dan perhatikan orang-orang di sekeliling kita. Mulailah layangkan pikiran kita ke awang-awang dan bermimpi, 5 menit saja. Buat skenario yang tak biasanya yang dapat terjadi pada kita hari itu. Bayangkan bila kita menjadi orang yang kita lihat saat itu. Lalu beri 3 argumen untuk melawan setiap pendapat yang muncul dalam pikiran kita. Latihan demikian akan membuat kita mulai memperhatikan hal-hal baru atau konsep baru.

5. Pasti Ada Jawabannya

Yang tak boleh dilupakan pula, salah satu kunci untuk menemukan jawaban yang kreatif atas sebuah pertanyaan adalah keyakinan dalam diri kita bahwa semua hal pasti ada jawabannya. Bagaimanapun peliknya masalah yang sedang kita hadapi, yakinlah bahwa pasti ada jawabannya. Yakinkan dalam diri bahwa pasti kita bisa mengatasi tantangan itu. Bila kita yakin bahwa selalu ada solusi untuk semua masalah, maka biasanya kita akan menemukan jalannya.

6. Berlatih Membalikkan Masalah (problem reversal)

Jika ada masalah yang sulit untuk dipecahkan, cobalah pikirkan kebalikan dari masalah tersebut, lalu cari jawabannya. Misalnya: “Bila semua orang ingin cuti dalam waktu bersamaan”. Coba balikkan menjadi: “Tak seorang pun ingin cuti”. Bila di kantor kita tak seorang pun ingin cuti, apa yang bakalan terjadi? Lalu pikirkan beberapa solusi untuk masalah tersebut. Dengan cara ini maka kita biasanya akan menemukan saluran berpikir baru dan menemukan gagasan-gagasan kasar yang bisa diterapkan untuk menyelesaikan masalah kita yang sebenarnya.

7. Tetap Tenang
Namun apa pun yang terjadi, cobalah tetap tenang. Semakin kita tenang saat memikirkan suatu masalah, maka semakin bebas alam bawah sadar kita dalam menghasilkan ide kreatif.

8. Tuliskan dalam Kertas

Kita juga bisa menggunakan secarik kertas dalam memunculkan ide-ide kreatif kita. Ambil selembar kertas dan tuliskan permasalah kita dalam bentuk pertanyaan. Lalu kembangkan paling sedikit 20 jawaban yang berbeda atas pertanyaan itu. Lalu pilih salah satu dari jawaban itu dan ambil langkah-langkah riil untuk menindaklanjutinya.

9. Rangsang Otak Kita

Untuk memunculkan banyak ide, maka otak kita juga harus kita “isi”. Bacalah banyak buku, majalah-majalah atau surat kabar yang ada di perusahaan. Kalau perlu, ambil beberapa kursus untuk menambah ilmu. Jangan lupa untuk banyak berinteraksi dan berbicara dengan teman-teman sebidang maupun lain bidang tentang banyak hal. Bisa juga dengan mempelajari beberapa bisnis dan industri lain. Bayangkan apa yang akan terjadi bila metode penjualan, produksi dan distribusi yang mereka lakukan ditransfer pada perusahaan kita. Munculkan beberapa gagasan dalam ide kita dan kembangkan. Jangan remehkan ide yang muncul, sekecil apa pun. Sebab, banyak sekali contoh kreativitas yang bermula dari hal-hal kecil namun akhirnya menjadi besar. Misalnya saja, ide membuat pin untuk membuka kaleng minuman ringan, asalnya ternyata dari cara orang membuka kulit pisang.

10. Lakukan pada Waktu yang Tepat

Ada beberapa orang yang merasa dapat berpikir produktif di pagi hari, beberapa orang lainnya justru di siang hari atau bahkan saat sore hari. Temukan kapan waktu “puncak” kita. Selesaikan masalah-masalah yang memerlukan pemikiran di waktu-waktu tersebut.

11. Beri “Dopping” Bila Diperlukan

Ada beberapa orang yang merasa baru bisa berpikir dan berkonsentrasi dengan baik bila setelah meminum secangkir kopi. Bila memang keadaan Kita demikian, kenapa tidak melakukannya? Namun hati-hati bila Kita rentan atau mudah terkena depresi, sebaiknya jauhkan diri dari sentuhan kopi karena akan berakibat buruk bagi sel-sel otak.

12. Menjaga Kebugaran Badan

Banyak yang percaya bahwa dengan berolah raga, maka kemampuan berpikir juga akan semakin menguat. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya kadar oksigen dan nutrisi yang dialirkan ke dalam otak, sehingga merangsang sel-sel otak untuk tumbuh lebih pesat. Meski penelitian belum membuktikan pKitangan ini akurat, rasanya tidak ada salahnya kalau dicoba.

13. Berkonsentrasilah

Bila lingkungan kita sangat berisik dan mengganggu konsentrasi, sementara Kita ingin mendatangkan ide yang bagus, cobalah menjauh lebih dahulu dari lingkungan tersebut. Bisa dengan menyendiri di tempat sepi atau masuk ke ruangan tertutup. Mulailah berkonsentrasi dan mengkreasikan banyak ide.

LATIHAN MEMPERCEPAT KERJA OTAK

1. Untuk Komunikasi yang Lebih Baik

2. Latihlah dengan menulis, sedikitnya 50 kata setiap harinya.
Topiknya bisa apa saja. Yang penting buat karangan. Susunlah kata-kata itu seolah jika kita sedang menata bata di dinding. Setiap bata harus dengan tepat berada pada tempatnya, sehingga pekerjaannya menjadi tepat benar. Demikian juga dengan kata-kata, dengan kita sering berlatih menyusun kata-kata dengan benar, otak Kita jadi terlatih dan komunikasi kita pun biasanya jadi lebih baik.

3. Untuk Konsentrasi yang Lebih Baik

Untuk latihan agar bisa berkonsentrasi dengan labih baik, cobalah nyalakan lilin dan tempatkan pada meja kosong di depan kita. Pandang lilin itu selama 5 detik, kemudian tutup mata dan visualisasi setiap detail dari lilin tersebut. Bagaimana warna dan bentuknya, nyalanya, pancarannya, panasnya, serta tetesan lilinnya. Lihatlah berapa lama kita mampu memegang gambaran detail tadi dalam pikiran kita sebelum akhirnya hilang tak berbekas. Buka mata kita, dan cobalah ulangi kembali, sehingga kita pun akan lebih mahir dalam berkonsentrasi.

4 . Untuk Memori yang Lebih Baik

5. Katakanlah kita perlu mengingat daftar sesuatu yang harus dilakukan. Pertama kita harus membagi “daftar” tersebut dalam beberapa bagian, misalnya hal-hal yang di kerjakan di rumah, di kantor, di yayasan sosial yang kita ikuti dan lain-lain. Lalu visualkan tempat yang familiar dalam alam pikiran kita. Dalam alam pikiran, kita tinggalkan sebuah catatan tentang setiap tugas di tempat yang berbeda yang familiar untuk tempat tugas tersebut. Contohnya, jika kita hendak membelikan suami hadiah ulang tahun, maka kita akan tinggalkan catatan di meja rias, atau jika kita berniat membeli sesuatu untuk teman kantor, maka catatan akan ditempelkan di komputer. Dalam alam pikiran kita, kita meletakkan semua catatan itu pada tempatnya. Jadi, jika kita perlukan, kita tinggal “mengunjungi” catatan itu pada tempatnya.

Psikologi Kreatifitas

Siapa bilang kreativitas hanya milik para seniman? Siapa bilang kreativitas hanya milik orang muda? Siapa bilang orang sukses saja yang kreatif?MenurutCarol K Bowman (Creativity in Business),setiap orang memiliki kreativitas. Bahkan, mereka yang sudah di atas 45tahun sekalipun masih dianugerahi kemampuan untuk menjadi kreatif.Pendeknya, selama otak masih berfungsi, kreativitas masih mengalir dalam diri seseorang. Lalu, jika demikian mengapa banyak orang belum mampu memanfaatkan kreativitas mereka secara optimal?
Ternyata ada banyak hambatan untuk menjadi kreatif, 7 diantaranya dapat Anda simak disini. Kenali hambatan-hambatan tersebut, siapa tahu beberapa diantaranya dapat Anda temukan disini? Lalu ambilah strategi dan tindakan untuk mengasah kembali daya kreativitas Anda.

Hambatan 1:
Rasa TakutMengapa kamu tidak mencoba cara baru saja untuk menyelesaikan pekerjaan ini dengan lebih cepat? Ah, saya takut gagal. Kalau saya gagal atau salah,saya pasti dimarahi, bos! Jadi lebih baik saya kerjakan saja sesuai dengan yang diperintahkan. Yah, rasa takut gagal, takut salah, takut dimarahi, dan rasa takut lainnya sering menghambat seseorang untuk berpikir kreatif. Tahukah Anda bahwa Abraham Lincoln sebelum menjadi presiden, berkali-kali kalah dalam pemilihan sebagai senator dan juga presiden? Tahukah Anda bahwa SpenceSilver (3M) yang gagal menciptakan lem kuat, akhirnya menemukan `post-it’notes?

Hambatan 2:
Rasa Puas.Mengapa saya harus coba sesuatu yang baru? Dengan begini saja saya sudah nyaman. Saya sudah sukses. Apa lagi yang harus saya cemaskan? Ternyata bukan masalah saja yang bisa menjadi hambatan.Kesuksesan, kepandaian dan kenyamananpun bisa jadi hambatan. Orang yang sudah puas akan prestasi yang diraihnya, serta telah merasa nyaman dengan kondisi yang dijalaninya seringkali terbutakan oleh rasa bangga dan rasa puas tersebut sehingga orang tersebut tidak terdorong untuk menjadi kreatif mencoba yang baru, belajar sesuatu yang baru, ataupun menciptakan sesuatu yang baru. Apple Computer yang pernah menjadi nomor satu sebagai produsen komputer, pernah tergilas oleh para pemain baru di industri ini karena Apple telah terpaku pada keberhasilannya sebagai yang nomor satu, sehingga menjadi lengah untuk menawarkan sesuatu yang baru pada target pasar sampai perusahaan ini terhenyak dengan munculnya pesaing yang berhasil menggeser kedudukan Apple. Namun, belajar dari kesalahan, Apple berusaha bangkit kembali dengan produk-produk baru andalan mereka.

Hambatan 3:
Rutinitas Tinggi. Coba-coba yang baru? Aduh mana sempat? Pekerjaan rutin saja tidak adachabis-habisnya. Apakah kalimat ini pernah Anda ucapkan? Jika ya, berarti rutinitas pernah menjadi hambatan bagi Anda untuk memanfaatkan kemampuan Anda untuk berpikir kreatif. Mungkin Anda perlu menyisihkan waktu khusus untuk mengisi `kehausan’ Anda akan kreativitas, misalnya baca buku tiap minggu (anda bisa menemukan ide brilian yang bisa Anda adaptasi, atau perbaiki), perluas lingkungan sosial Anda dengan mengikuti perkumpulan-perkumpulan di luar pekerjaan Anda (siapa tahu Anda bertemu dengan orang-orang yang bisa mendukung Anda ke jenjang sukses). Tahukah Anda bahwa Mariah Carey sengaja menyisihkan waktu dari kegiatan rutinnya sebagai penyanyi latar untuk memperluas pergaulannya? Mariah berusaha masuk kelingkungan pergaulan para petinggi di dunia musik internasional sebelum akhirnya bertemu dengan produser musik yang bersedia mensponsori album pertamanya yang langsung menjadi hit dunia?

Hambatan 4:
Kemalasan Mental Untuk mencoba yang baru berarti saya harus belajar dulu. Aduh, susah.Terlalu banyak yang harus saya pelajari. Biar yang lain saja yang belajar.Memikirkan cara lain? Wah, sekarang saja sudah banyak yang harus saya pikirkan. Lagipula memikirkan cara baru bukan tugas saya,biarlah atasan saya saja yang memikirkannya. Ini merupakan beberapa contoh kemalasan mental yang menjadi hambatan untuk berpikir kreatif. Tidak heranjika orang yang malas menggunakan kemampuan otaknya untuk berpikir kreatif sering tertinggal dalam karir dan prestasi kerja oleh orang-orang yang tidak malas untuk mengasah otaknya guna memikirkan sesuatu yang baru, ataupun mencoba yang baru.
Tahukah Anda bahwa Thomas Alva Edison tidak berhenti berusaha untuk memikirkan cara yang lebih baik dari eksperimen sebelumnya sampai puluhan kali sebelum akhirnya ia menemukan lampu pijar? Bayangkan apa yang akan terjadi jika pada kegagalan pertama, Edison malas berpikir untuk mengasah kreativitasnya dan melanjutkan ke eksperimen-eksperimen berikutnya?

Hambatan 5:
Birokrasi. Saya bosan menyampaikan ide lagi. Ide saya yang enam bulan lalu saya sampaikan, belum ada kabarnya apakah diterima atau tidak? Seringkali karyawan atau pelanggan mengeluh karena ide atau usulan mereka tidak ditanggapi. Hal ini bisa saja terjadi karena proses pengambilan keputusan yang lama,atau karena proses birokrasi yang terlalu berliku-liku. Kondisi seperti ini sering mematahkan semangat orang untuk berkreasi ataupun menyampaikan ide dan usulan perbaikan.Biasanya semakin besar organisasi, semakin panjang proses birokrasi,sehingga masalah yang terjadi di lapangan tidak bisa langsung terdeteksi oleh top management karena harus melewati rantai birokrasi yang panjang. Belajar dari pengalaman dan hasil studi di bidang manajemen,banyak organisasi dunia yang sekarang memecah diri menjadi unit-unit bisnis yang lebih kecil untuk memperpendek birokrasi agarbisa lebih gesit dalam berkreasi menampilkan ide-ide segar bagi parapelanggan ataupun dalam kecepatan mendapatkan solusi.

Hambatan 6:
Terpaku Pada Masalah.Masalah seperti kegagalan, kesulitan, kekalahan, kerugian memang menyakitkan. Tetapi bukan berarti usaha kita untuk memperbaiki ataupun mengatasi masalah tersebut harus terhenti. Justru dengan adanya masalah, kita merasa terdorong untuk memacu kreativitas agar dapat menemukan cara lain yang lebih baik, lebih cepat, lebih efektif.Tahukah Anda bahwa Colonel Sanders menghadapi kesulitan dalam menjual resep ayam goreng tepungnya? Namun, ia tidak terpaku pada kesulitan tersebut, ia memanfaatkan kreativitasnya sampai akhirnya ia mendapat ide untuk menggunakan sendiri resep tersebut dengan mendirikan restoran cepat saji dengan menu utama ayam goreng tepung. Idenya ini terbukti manjur membukukan suksesnya sebagai salah satu pebisnis waralaba terbesar di dunia.

Hambatan 7:
StereotypingLingkungan dan budaya sekitar kita yang membentuk opini atau pendapat umum terhadap sesuatu (stereotyping) bisa juga menjadi hambatan dalam berpikir kreatif. Misalnya saja pada zaman Kartini, masyarakat menganggap bahwa sudah sewajarnyalah jika wanita tinggal di rumah saja, tidak perlu pendidikan tinggi, dan hanya bertugas untuk melayani keluarga saja, tidak usah berkarir di luar rumah. Apa jadinya jika wanita-wanita hebat seperti Kartini, Dewi Sartika, Tjut Njak Dhien menerima saja semua pandangan umum yang berlaku di masyarakat saat itu? Mungkin Indonesia tidak akan pernah menikmati jasa yang diperkaya oleh keterlibatan para wanita profesional, misalnya: mendapatkan layanan dokter wanita, menikmati kreasi arsitek dan seniman wanita, mendapatkan hasil didikan guru wanita, mengirim diplomat wanita sebagai duta Indonesia, atau bahkan dipimpin oleh seorang presiden direktur, bahkan presiden (pimpinan negara) wanita.Kreativitas memang masih harus ditunjang dengan senjata sukses lainnya.Tetapi, orang yang memiliki dan bisa mengoptimalkan kreativitas mereka bisa menggeser mereka yang tidak memanfaatkan kreativitas mereka.Lalu, bagaimana jika Anda mengalami hambatan untuk mengoptimalkan kreativitas Anda? Tidak perlu panik. Kenali hambatannya, atasi, dan ambil tindakan untuk mengasah kembali kreativitas Anda. Kreativitas itu ibarat sebuah intan, semakin diasah semakin berkilau. Jadi sudah siapkah Anda untuk membuat kreativitas Anda agar semakin berkilau?

Oleh: Prof. Roy Sembel,
Direktur MM Finance and Investment,
Universitas Bina Nusantara
Sandra Sembel,
Pemerhati dan praktisi pengembangan SDM
(ssembel@yahoo.com)

Metode Zoom untuk meningkatkan kreativitas

Posted by balzach

June 5, 2006

Metode Zoom dikembangkan oleh Sivasailam Thiagarajan (1997) untuk mengasah daya kreatif kita. Metode ini dimainkan oleh sekelompok peserta dengan seoang fasilitator dengan langkah sebagai berikut:

  1. Bagilah peserta menjadi 2 tim atau lebih dengan anggota masing-masing sebanyak 3 sampai 7 orang.
  2. Mintalah setiap tim untuk mengidentifikasi sebuah peluang atau masalah. Peluang atau masalah tersebut dibuat dalam bentuk pertanyaan, menggunakan format sebagaimana diusulkan oleh Van Gundy: “Bagaimana cara untuk …?” (In what ways might we …?)

Contoh: “Bagaimana cara untuk menjual buku kepada para profesional melalui internet?“

  1. Mintalah tim tadi untuk mengubah pertanyaan tersebut menjadi 4 pertanyaan lain dengan tingkat abstraksi yang lebih tinggi.

Misalnya:

  • Pertanyaan asal (level 1):”Bagaimana cara untuk menjual buku kepada para profesional melalui internet?“
  • Pertanyaan level 2: “Bagaimana cara untuk menjual buku melalui internet?“
  • Pertanyaan level 3: “Bagaimana cara untuk menjual barang melalui internet?“
  • Pertanyaan level 4: “Bagaimana cara untuk menjual barang?“
  • Pertanyaan level 5: “Bagaimana cara untuk membujuk dan mempengaruhi orang lain?“
  1. Bagikan kepada setiap tim 5 kartu indeks dan sebuah karet pengikat.
  2. Mintalah setiap tim untuk menuliskan kelima pertanyaan mereka, sebuah pertanyaan pada setiap kartu. Kemudian mintalah mereka untuk menumpuk kartu tadi dengan tulisan menghadap ke atas dan urut level abstraksi. Pertanyaan yang paling abstrak (level 5) diletakkan paling atas dan pertanyaan yang paling spesifik (level 1) berada di paling bawah tumpukan.
  3. Ikatlah tumpukan kartu pertanyaan tadi dan tukarkan paket pertanyaan antar tim (setiap tim tidak boleh mendapatkan kartu mereka sendiri). Peserta tidak diperkenankan untuk mengintip pertanyaan yang ada di dalam tumpukan.
  4. Mintalah setiap tim untuk membaca pertanyaan paling atas dan berikan waktu 3 menit untuk melakukan brainstorming terhadap berbagai kemungkinan jawaban. Jawaban dituliskan pada sebuah flip chart atau selembar kertas.
  5. Setelah 3 menit, mintalah tim untuk mencabut kartu yang paling atas dan membaca pertanyaan pada kartu berikutnya. Peserta melakukan brainstroming lagi untuk menjawab pertanyaan ini selama 3 menit berdasarkan jawaban pada pertanyaan sebelumnya.
  6. Ulangi langkah ini sampai pada pertanyaan yang paling spesifik.
  7. Mintalah setiap tim untuk mengembalikan paket kartu pertanyaan tadi beserta daftar jawaban hasil brainstorming kepada tim yang membuat pertanyaan tersebut. Tim pemilik pertanyaan kemudian mereview jawaban yang diberikan, memilih ide/jawaban yang paling tepat dan mengintegrasikan dalam rencana aksi mereka (dapat dilakukan presentasi untuk action plan setiap tim)

Kreativitas bagi Seluruh IndonesiaBy dsusanti

Friday, October 05, 2007 01:00:00

Clicks: 641

Send to a friend

Print Version

Dari Anggota:

Sejak tahun 2004, sistem belajar mengajar yang berpusat pada siswa telah dicanangkan oleh pemerintah Indonesia, salah satunya adalah melalui PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan). Namun tidak banyak yang mengetahui bahwa sebelum pembelajaran ini dapat dilangsungkan, terdapat pola pikir maupun sikap yang menghambat kreativitas siswa maupun pendidik. Tanpa pendidik yang kreatif, sulit untuk membentuk siswa yang kreatif. Dengan menyadari adanya hambatan-hambatan terhadap kreativitas, pendidik akan dapat menjadi pemimpin yang lebih kreatif yang dengan lebih efektif dapat menciptakan suasana belajar mengajar yang memungkinkan pengembangan pola pikir dan sikap kreatif dalam diri siswa.

KREASI (Kreativitas bagi Seluruh Indonesia), divisi sosial Art Explore, sebuah organisasi yang bertujuan untuk mengembangkan pola pikir kreatif, mengundang Bapak/ Ibu pendidik dan fasilitator proses belajar mengajar untuk hadir dalam Lokakarya Hambatan terhadap Kreativitas. Lokakarya interaktif ini akan membahas mengenai hambatan-hambatan persepsi, emosional, lingkungan/ budaya, dan intelektual yang menyulitkan seseorang untuk menjadi kreatif. Diskusi seputar kedua pertanyaan yang dicantumkan pada bagian awal pengumuman ini akan membumbui kegiatan-kegiatan selama lokakarya berlangsung.

Karena lokakarya ini adalah bagian dari bakti sosial Art Explore untuk mengembangkan kreativitas di Indonesia, peserta tidak dipungut biaya untuk menghadiri lokakarya ini. Yang diharapkan dari peserta hanya kedatangan yang tepat waktu, kehadiran yang penuh, dan partisipasi yang aktif selama lokakarya.

Peminat dapat mendaftarkan diri ke Petra atau Titani melalui nomer telepon 021 7061 1310, melalui SMS di 0818 728 042 atau 0818 188 748, atau melalui e-mail di artexplore@cbn.net.id dengan subyek “Pendaftaran Lokakarya Hambatan terhadap Kreativitas”. Peminat diminta untuk mencantumkan tanggal yang diminati, dan nomer telepon/ alamat e-mail yang dapat dihubungi paling lambat seminggu sebelum tanggal lokakarya dilaksanakan. Lokakarya ini terbatas untuk 18 peserta yang pertama mendaftar untuk tanggal yang diminati dan tidak akan dilaksanakan apabila peminat kurang dari 10 orang. Keberlangsungan lokakarya akan dikonfirmasikan kepada peminat yang telah mendaftarkan diri melalui telepon/ SMS/ e-mail lima hari sebelum lokakarya dilaksanakan.

Untuk informasi lebih lanjut (dalam Bahasa Inggris) mengenai Art Explore silahkan merujuk ke website kami di www.art-explore.com atau di weblog kami di www.creativity-indonesia.blogspot.com. Untuk pertanyaan maupun informasi lebih lanjut silahkan menghubungi kami melalui kontak tercantum di atas.

Terima kasih atas perhatiannya dan mohon bantuannya untuk menyebarluaskan kepada mereka yang berminat.

Mengembangkan Bakat dan Kreativitas SDM
Oleh Prof. Dr. Junaidi H. Matsum, M.Pd

SUMBER Daya Manusia (SDM) Indonesia dari segi kreativitas Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) masih tertinggal oleh negara-negara lain yang lebih maju. Secara singkat dapat dikemukakan bahwa kelemahan utama SDM Indonesia adalah kurangnya penguasaan dan kreativitas dibidang IPTEK yang paralel dengan moral dan motivasi yang kuat untuk lebih maju dari bangsa-bangsa lain.

Dalam kaitannya dengan aspek sosial budaya bangsa Indonesia yang perlu kita garis bawahi adalah orientasi nilai-nilai budaya, cara berpikir (penalaran), sikap dalam menghadapi lingkungan alam dan lingkungan sosialnya, dan sikap serta perilaku siswa.

Sayang sekali bahwa bakat siswa tidak selalu tertampil dalam prestasi yang nyata karena bermacam-macam sebab. Siswa yang termasuk ”siswa berbakat” dengan kemampuannya yang unggul membutuhkan perhatian, khususnya pengalaman pemerkayaan pengetahuan. Sebab, meskipun mereka memiliki bakat-bakat istimewa dapat saja mengalami macam-macam masalah, baik dalam pembelajaran di sekolah ataupun dalam penyesuaian diri di lingkungan sosialnya. Kecenderungan tertentu dari siswa berbakat dapat berkembang menjadi ciri-ciri positif atau ciri-ciri negatif, bergantung pada bagaimana sikap dan pendekatan lingkungan sosialnya (khususnya guru) terhadap siswa berbakat.

Bakat Siswa

Bakat merupakan kemampuan bawaan, sebagai potensi yang masih perlu dikembangkan dan dilatih agar dapat terwujud. Berbeda dengan bakat, ”kemampuan” merupakan daya untuk melakukan suatu tindakan sebagai hasil dari pembawaan dan pelatihan. ”Bakat dan kemampuan menentukan prestasi seseorang. Prestasi merupakan perwujudan dari bakat dan kemampuan. Prestasi yang sangat menonjol dalam salah satu bidang mencerminkan bakat yang unggul dalam bidang tersebut. Siswa yang berbakat belum tentu akan selalu mencapai prestasi yang tinggi. Ada faktor-faktor lain yang ikut menentukan sejauhmana bakat siswa dapat terwujud. Faktor-faktor itu sebagian ditentukan oleh keadaan lingkungan sosial siswa, sarana dan prasarana, taraf sosial ekonomi orang tua; tempat tinggal di daerah perkotaan atau pedesaan, dsb. Sebagian besar faktor ditentukan oleh keadaan diri siswa itu sendiri; seperti minatnya terhadap suatu bidang, keinginan untuk berprestasi, dan keuletan untuk mengatasi kesulitan atau rintangan yang mungkin timbul. Sejauhmana siswa dapat mencapai prestasi yang unggul banyak tergantung dari motivasinya untuk berprestasi, di samping bakat bawaannya. Oleh karena itu, minat juga perlu dikembangkan sejak dini. Demikian pula, motivasi sangat penting untuk dimiliki siswa dalam kelompok belajar kooperatif.

Sangat disayangkan, biasanya jika kita melihat kegiatan-kegiatan belajar siswa di dalam kelas, maka yang kebanyakan dilatih adalah ingatan. Ia mendapat angka baik jika dapat mengingat kembali apa yang diajarkan oleh guru. Terutama bagi siswa-siswi yang berbakat, melakukan tugas-tugas yang menuntut hapalan semata-mata dapat sangat membosankan. Di samping itu, kemampuan berpikir mereka kurang dimotivasi atau dilatih. Oleh karena itu, para guru hendaknya berusaha mengembangkan macam-macam kemampuan mental siswa dari yang sederhana sampai yang majemuk dengan menggunakan taksonomi sasaran belajar.

Berpikir Kreatif

Dengan menggunakan taksonomi sasaran belajar guru dapat menentukan sasaran belajar mana yang lebih diutamakan guru untuk mengungkap berpikir kreatif. Taksonomi sasaran belajar tersebut yaitu (1) Taksonomi dari Bloom, (2) Model Struktur Intelek dari Guilford, yang terutama hendaknya menjadi perhatian guru ialah matra operasi, karena menyangkut proses-proses pemikiran. Sangat disesalkan, yang biasanya dipentingkan ialah konten (dalam artian penyampaian materi) atau produk belajar (hasil belajar). Operasi intelektual menunjukkan macam proses pemikiran yang berlangsung. Berpikir devergen (kreatif) ialah kemampuan siswa memberikan macam-macam kemungkinan jawaban berdasarkan informasi yang diberikan, dengan penekanan pada keberagaman jumlah dan kesesuaian. (3) Model Perilaku Kognitif Afektif dari Williams. dirancang untuk membantu guru menentukan tugas-tugas di dalam kelas yang berkenaan dengan dimensi kurikulum (materi/konten), perilaku siswa (kegiatan belajar), dan perilaku guru (cara pembelajaran). Dalam pembelajaran model ini, sangat penting melibatkan segi afektif dari belajar siswa yang tidak dapat dipisahkan dari segi kognitif.

Teknik-Teknik Guru

Teknik-teknik membantu siswa berpikir dan mengungkapkan diri secara kretif, yakni mampu memberikan macam-macam gagasan dan macam-macam jawaban dalam pemecahan masalah. Teknik-teknik itu beragam, mulai dari yang paling sederhana sampai dengan yang tergolong majemuk yakni menjawab pertanyaan-pertanyaan terbuka, meminta siswa memecahkan masalah, meminta siswa membuat daftar pertanyaan yang memacu gagasan, meminta siswa untuk menyatakan banyak gagasan, hubungan yang dipaksakan, pendekatan morfologis, dan pemecahan masalah secara kreatif baik individu maupun kelompok. sampai dengan yang tergolong majemuk yakni pemecahan masalah secara kreatif baik secara individual maupun kelompok.

Siswa Berbakat

Model belajar pembelajaran bermanfaat untuk menyusun rencana pendidikan perorangan bagi siswa berbakat, karena memungkinkan penentuan kegiatan sesuai dengan kebutuhan siswa. Dengan mengunakan suatu model, guru dapat menyusun tugas-tugas belajar siswa menjadi suatu keseluruhan yang terpadu. Implikasinya bagi guru siswa berbakat bahwa kita selaku guru perlu: (1) memahami diri sendiri, (2) memiliki pengertian tentang keberbakatan; (3) mengusahakan suatu lingkungan belajar yang kondusif; (4) memberikan tantangan daripada tekanan, (5) lebih memperhatikan proses pembelajaran, di samping produk atau hasil belajar siswa; (6) lebih banyak memberikan umpan balik daripada penilaian; (7) menyediakan beberapa alternatif strategi belajar; dan (8) menciptakan suasana kelas yang menunjang rasa harga diri siswa serta siswa merasa aman dan berani mengambil resiko dalam menentukan pendapat. Kesimpulan yang diperoleh bahwa: (1) Dengan menyisihkan variabel-variabel iringan berupa skor kemampuan awal dan skor tes awal, Strategi Pembelajaran Guru Pendidikan IPS Mengembangkan Bakat dan Kreativitas siswa Melalui Model Kelompok Belajar Kooperatif sangat efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa kategori tinggi, sedang, dan rendah. (2) Faktor-faktor yang menentukan keadaan dimilikinya bakat unggul (keberbakatan) yaitu: (a) mempunyai intelegensi tinggi (yang antara lain meliputi daya abstraksi, kemampuan penalaran, dan kemampuan memecahkan masalah), (b) kreativitas, dan (c) pengikatan diri atau tanggung jawab terhadap tugas.**

*) Penulis adalah dosen FKIP Untan Pontianak

Menumbuhkembangkan Kreativitas Anak

Nisa’ June 1st, 2007
Makna Kreativitas

Sebagian orang berpendapat bahwa kreativitas itu hanya dimiliki segelintir orang berbakat. John Kao, pengarang buku Jamming: The Art and Discipline in Bussiness Creativity, (1996), membantah pendapat ini. “Kita semua memiliki kemampuan kreatif yang mengagumkan, dan kreativitas bisa diajarkan dan dipelajari,” kata Kao.

Sebagian orang lain berpendapat bahwa kreativitas selalu dimiliki oleh orang berkemampuan akademik yang tinggi. Namun faktanya, banyak orang yang memiliki kemampuan akademis tinggi tetapi tidak otomatis melakukan aktivitas yang menghasilkan output kreatif.

Terdapat beragam definisi yang terkandung dalam pengertian kreativitas. Menurut pandangan David Campbell, kreativitas adalah suatu ide atau pemikiran manusia yang bersifat inovatif, berdaya guna, dan dapat dimengerti. Definisi senada juga dikemukakan oleh Drevdahl. Menurutnya, kreativitas adalah kemampuan seseorang menghasilkan gagasan baru, berupa kegiatan atau sintesis pemikiran yang mempunyai maksud dan tujuan yang ditentukan, bukan fantasi semata.

Makna kata kreatif sendiri sesungguhnya berkisar pada persoalan menghasilkan sesuatu yang baru. Suatu ide atau gagasan tentu lahir dari proses berpikir yang melibatkan empat unsur berpikir: alat indera; fakta; informasi; dan otak. Arti kata kreatif di sini harus diarahkan pada proses dan hasil yang positif, tentu untuk kebaikan bukan untuk keburukan. Kreatif juga perlu dibenturkan dengan kesesuaian, konteks dengan tema persoalan, nilai pemecahan masalah, serta bobot dan tanggung jawab yang menyertainya. Dengan demikian, tidak setiap kebaruan hasil karya dapat dengan serta-merta disebut kreatif. Yang dimaksud tanggung jawab di sini adalah landasan konseptual yang menyertai karya tersebut.

Bagi setiap Muslim, landasan berpikir dan berbuat atau berkarya adalah akidah Islam. Karena itu, sudah semestinya setiap hasil pemikiran dan perbuatan atau karyanya berstandar pada akidah Islam tersebut sebagai bentuk keyakinannya kepada Allah Swt. yang telah menciptakannya.

Di dalam makna kreatif—untuk menyebut suatu karya baru atau kebaruan—yang diutamakan adalah aspek kesegaran ide dalam karya tersebut, bukan sekadar ulangan atau stereotip. Kreatif bisa juga ditinjau dari nilai orisinalitas dan keunikan cara penyampaiannya; bisa juga merupakan sebuah alternatif “cara lain”, walau inti pesan sebenarnya tidak berbeda dengan apa yang pernah ada sebelumnya.

Kedalaman kreativitas dapat juga diukur dari nilai efektivitas atau kualitas pencapaiannya. Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam buku At-Tafkîr (1973) memberikan contoh, bahwa berpikir tentang kebenaran dapat merupakan proses berpikir kreatif (menggagas pemikiran baru). Contoh: berpikir untuk menghasilkan sebuah pemikiran (baru), kemudian mengkaji kesesuaiannya dengan fakta hingga pemikiran itu sesuai dengan fakta yang ditunjukkannya. Jika sesuai maka pemikiran itu merupakan kebenaran; jika tidak sesuai maka wajib dilakukan pengkajian terhadap kebenaran, yaitu pengkajian terhadap pemikiran yang sesuai dengan fakta yang ditunjukkan pemikiran.


Kreativitas pada Anak

Kreativitas yang tampak pada anak-anak berbeda dengan orang dewasa. Kreativitas seorang anak bisa muncul jika terus diasah sejak dini. Pada anak-anak, kreativitas merupakan sifat yang komplikatif; seorang anak mampu berkreasi dengan spontan karena ia telah memiliki unsur pencetus kreativitas.

Pada dasarnya kreativitas anak-anak bersifat ekspresionis. Ini karena pengungkapan ekspresi itu merupakan sifat yang dilahirkan dan dapat berkembang melalui latihan-latihan. Ekspresi ini disebut dengan spontanitas, terbuka, tangkas dan sportif. Ada 3 ciri dominan pada anak yang kreatif: (1) spontan; (2) rasa ingin tahu; (3) tertarik pada hal-hal yang baru. Ternyata ketiga ciri-ciri tersebut terdapat pada diri anak. Berarti semua anak pada dasarnya adalah kreatif; faktor lingkunganlah yang menjadikan anak tidak kreatif. Dengan demikian, peran orangtua sebenarnya lebih pada mengembangkan kreativitas anak.


Empat Cara Mengembangkan Kreativitas Anak

1. Membangun kepribadian Islam.

Dengan cinta, orangtua dapat membangun kepribadian Islam pada anak yang tercermin dari pola pikir dan pola sikap anak yang islami. Orangtua yang paham akan senantiasa menstimulasi/merangsang aktivitas berpikir dan bersikap anak sesuai dengan standar Islam. Menstimulasi aktivitas berpikir dilakukan dengan cara menstimulasi unsur-unsur/komponen berfikir (indera, fakta, informasi dan otak). Aktivitas bersikap adalah aktivitas dalam rangka pemenuhan kebutuhan jasmani dan naluri (beragama, mempertahankan diri dan melestarikan jenis). Orangtua dapat menstimulasi alat indera anak dengan cara melatih semua alat indera sedini mungkin. Ajak anak mengamati, mendengarkan berbagai suara, meraba berbagai tekstur benda, mencium berbagai bau dan mengecap berbagai rasa. Menstimulasi otak dilakukan dengan cara memberi nutrisi yang halal dan bergizi yang diperlukan untuk pembentukan sel-sel otak sejak dalam kandungan serta banyak menghadirkan fakta dan informasi yang dapat di cerap oleh anak. Menstimulasi informasi diarahkan untuk meyakini adanya Pencipta melalui fakta-fakta penciptaan alam. Orangtua juga bisa membacakan cerita, mengajari anak untuk selalu mengaitkan fakta baru dengan informasi yang sudah diberikan, serta menghindarkan anak dari fakta dan informasi yang merusak dengan cara menseleksi tayangan TV, buku dan majalah. Perlu dipahami oleh orangtua, bahwa anak memahami standar secara bertahap seiring dengan kesempurnaan akalnya. Anak usia dini belum sempurna akalnya. Namun, orangtua tetap perlu mengenalkan standar-standar kepada anak secara berulang-ulang tanpa memaksa anak untuk melakukannya. Biasakan pula mengenalkan dalil kepada anak. Orangtua juga hendaknya senantiasa menghadirkan keteladanan yang baik pada anak di mana saja mereka berada.

Orangtua yang paham tidak akan menuntut anaknya untuk sama dengan anak lainnya. Kita dapat membentuk kepribadian anak kita, tetapi bukan untuk menyamakan karakter mereka. Kita melihat, Sahabat Umar ra., Abu Bakar ra. dan sebagainya tidak memiliki karakter yang sama meskipun masing-masing mereka merupakan pribadi-pribadi yang islami. Keunikan mereka justru menjadikan mereka ibarat bintang-bintang yang gemerlapan di langit, terangnya bintang yang satu tidak memudarkan terangnya bintang yang lain. Begitu pula halnya dalam hal kreativitas mereka. Setiap Sahabat adalah insan kreatif. Masing-masing memiliki dimensi kreativitas sendiri-sendiri. Salman al-Farisi adalah penggagas Perang Parit; Umar bin al-Khaththab adalah penggagas ketertiban lalu-lintas; Abu Bakar ash-Shiddiq adalah penggagas tegaknya sistim ekonomi Islam; Khalid bin Walid adalah penggagas strategi perang moderen; dan banyak lagi.

Yang menjadi masalah sekarang, para orangtua sering kurang bersungguh-sungguh untuk mengembangkan kreativitas anak. Seolah-olah para orangtua lebih suka jika anak menjadi fotokopi orang lain ketimbang dia tumbuh sebagai suatu pribadi yang utuh.

Karena kepribadian menentukan kreativitas, seorang Muslim pada hakikatnya memiliki potensi kreatif lebih besar dibandingkan dengan umat-umat lainnya.


2. Menumbuhkembangkan motivasi.

Kreativitas dimulai dari suatu gagasan yang interaktif. Bagi anak-anak, dorongan dari luar diperlukan untuk memunculkan suatu gagasan. Dalam hal ini, para orangtua banyak berperan. Dengan penghargaan diri, komunikasi dialogis dan kemampuan mendengar aktif maka anak akan merasa dipercaya, dihargai, diperhatikan, dikasihi, didengarkan, dimengerti, didukung, dilibatkan dan diterima segala kelemahan dan keterbatasannya. Dengan demikian, anak akan memiliki dorongan yang kuat untuk secara berani dan lancar mengemukakan gagasan-gagasannya. Selain itu, untuk memotivasi anak agar lebih kreatif, sudah seharusnya kita memberikan perhatian serius pada aktivitas yang tengah dilakukan oleh anak kita, misalnya dengan melakukan aktivitas bersama-sama mereka. Kalau kita biasa melakukan puasa dan shalat bersama anak-anak kita, mengapa untuk aktivitas yang lain kita tidak dapat melakukannya? Bukankah lebih mudah untuk mentransfer suatu kebiasaan yang sama ketimbang harus memulai suatu kebiasaan yang sama sekali baru? Dengan demikian, sesungguhnya seorang Muslim memiliki peluang yang lebih besar untuk menjadikan anak-anak mereka kreatif. Tinggallah sekarang bagaimana kita sebagai orangtua Muslim senantiasa berusaha untuk memperkenalkan anak-anak kita dengan berbagai hal dan sesuatu yang baru untuk memenuhi aspek kognitif mereka. Tujuannya adalah agar mereka lebih terdorong lagi untuk berpikir dan berbuat secara kreatif.

Perlu dicatat, dalam memotivasi anak agar kreatif, lakukanlah dengan cara menyenangkan dan tidak di bawah tekanan/paksaan.


3. Mengendalikan proses pembentukan
anak kreatif.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh orangtua dalam pembentukan anak kreatif adalah:

  • Persiapan waktu, tempat, fasilitas dan bahan yang memadai. Waktu dapat berkisar antara 10-30 menit setiap hari; bergantung pada bentuk kreativitas apa yang hendak dikembangkan. Begitu pula dengan tempat; ada yang memerlukan tempat yang khusus dan ada pula yang dapat dilakukan di mana saja. Fasilitas tidak harus selalu canggih; bergantung pada sasaran apa yang hendak dicapai. Bahan pun tidak harus selalu baru; lebih sering justru menggunakan bahan-bahan sisa atau bekas.
  • Mengatur kegiatan. Kegiatan diatur sedemikian rupa agar anak-anak dapat melakukan aktivitasnya secara individual maupun berkelompok. Kadang-kadang anak-anak melakukan aktivitas secara kompetitif; kadang-kadang juga secara kooperatif.
  • Menyediakan satu sudut khusus untuk anak dalam melakukan aktivitas.
  • Memelihara iklim kreatif agar tetap terpelihara. Caranya dengan mengoptimal-kan poin-poin tersebut di atas.


4. Mengevaluasi hasil kreativitas.

Selama ini kita sering menilai kreativitas melalui hasil atau produk kreativitas. Padahal sesungguhnya proses itu pada masa kanak-kanak lebih penting ketimbang hasilnya. Pentingnya penilaian kita terhadap proses kreativitas bukan berarti kita tidak boleh menilai hasil kreativitas itu sendiri. Penilaian tetap dilakukan. Hanya saja, ada satu hal yang harus kita perhatikan dalam menilai. Hendaknya kita menilai hasil kreativitas tersebut dengan menggunakan perspektif anak, bukan perspektif kita sebagai orangtua. Kalau kita mendapati seorang anak berusia 3 tahun dan kemudian dia dapat menyebutkan huruf hijaiyah dari alif sampai ya, apakah kita akan mengatakan, “Ah, kalau cuma bisanya baru menyebutkan begitu, saya juga bisa.” Tentu saja, dalam mengevaluasi proses dan hasil kreativitas harus “open mind” atau dengan “pikiran terbuka”. Setiap kali kita mengevaluasi hasil tersebut, kita harus selalu memberikan dukungan, penguatan sekaligus pengarahan. Begitu juga sebaliknya; jauhi celaan dan hukuman agar anak kita tetap kreatif.

Wallâhu a‘lam biash-shawâb. d

[Yuliana; Penulis adalah Dosen Universitas Negeri Padang, Ketua Kelompok Peduli Ibu dan Generasi El-Diina Pusat dan anggota Dewan Pakar Bidang Pemberdayaan Perempuan ICMI Muda.]

MEMOMPA KREATIVITAS

Dalam situasi pasar yang kompetitif, inovasi mendapat kedudukan yang terhormat. Agar dapat bertahan dan menang, perusahaan mengandalkan inovasi, yang dapat berupa inovasi produk, inovasi layanan, inovasi sistem, dan berbagai inovasi lainnya. Terkadang inovasi memang membutuhkan teknologi yang tinggi, dan dibutuhkan orang yang pintar agar dapat menelurkan produk-produk inovatif.

Lingkungan bisnis ti, telekomunikasi, otomotif, dan sejenisnya memang membutuhkan kepintaran ekstra untuk melakukan inovasi. Tetapi sering pula inovasi bercerita tentang hal-hal yang sangat sederhana. Post-it yang legendaris bukanlah hal yang rumit. Banyak inovasi yang sebenarnya bukan menjadikan tambah canggih, tetapi menjadi makin sederhana. Karena tujuan inovasi adalah membuat hidup lebih mudah. Ketika kodak menguasai dunia dengan kamera yang serba canggih untuk para profesional, canon justru mengeluarkan kamera kompak untuk orang amatiran. Lantas dari mana datangnya inovasi? Kreativitas.

Kreativitas bukan hanya dibutuhkan untuk inovasi yang sifatnya breakthrough saja, tapi juga perbaikan yang berkesinambungan seperti dalam konsep kaizen. Bagi seorang karyawan, kreativitas dapat membantu meningkatkan kemampuan melaksanakan tugas-tugas yang diberikan dan kesuksesan dalam karier atau pekerjaan. Karyawan yang kreatif akan selalu hadir dengan gagasan-gagasan baru agar ia dan juga perusahaan dapat melaksanakan aktivitasnya dengan lebih efektif dan efisien.

Masih banyak yang berpikir bahwa kreativitas bukanlah hal yang terlalu penting bagi mereka. Mereka mengasosiasikan kreativitas yang tinggi hanya diperlukan untuk bagian-bagian tertentu organisasi, sementara bagian-bagian lainnya tidak memerlukannya. Misalnya, orang-orang yang bekerja di bagian pemasaran, penjualan, desain, atau pengembangan produk sajalah yang memerlukan kreativitas yang tinggi. Bagian-bagian yang lain, seperti akuntansi atau administrasi tidak memerlukan kreativitas yang tinggi.

Benarkah demikian? Bukankah sebuah perusahaan dituntut untuk selalu mampu menciptakan ide-ide baru dan juga cara-cara baru untuk melakukan segala sesuatunya lebih baik? Dengan demikian kondisi ini menuntut karyawan yang selalu siap dengan ide-ide baru. Bukankah sistem akuntansi dan administrasi perusahaan juga perlu secara berkala diperbarui agar dapat secara optimal mendukung aktivitas operasional perusahaan? Berarti kreativitas diperlukan di semua sudut perusahaan.

Kreativitas yang tinggi menjadikan posisi tawar menawar meningkat, yang amat mendukung lancarnya karier. Tetapi ingat, kreativitas bukanlah sesuatu yang netral, dan harus diletakkan dalam konteks tertentu. Kreatif dalam konteks pekerjaan berarti melakukan sesuatu yang baru untuk memberi nilai tambah bagi perusahaan. Ini dapat berarti pendekatan baru terhadap misalnya efisiensi produksi, mengelola dinamika karyawan, dan pelayanan kepada pelanggan.

Karena tidak jarang pula ada kreativitas yang tidak memberi nilai tambah bagi pelanggan.

Mitos yang menyatakan bahwa kreativitas hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu, adalah keliru. Sebaliknya kreativitas dapat ditumbuhkembangkan pada setiap orang melalui proses yang sifatnya bertahap. Sebuah penelitian menunjukkan, pemimpin yang memberikan stimulasi intelektual dan mendorong bawahannya untuk berpikir lebih terbuka dapat meningkatkan kreativitas bawahannya. Kreativitas juga dapat ditumbuhkan melalui pelaksanaan tugas yang dilakukan bersama-sama dengan orang lain. Kerjasama dengan orang lain dalam sebuah tim, terutama yang memiliki latar belakang yang beragam, dapat mendorong kreativitas.

Kreativitas berarti keberanian untuk mengambil risiko, karena mencoba hal-hal baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya dan hasilnya belum pasti. Tentu lebih aman jika memakai metode lama yang hasilnya sudah teruji. Ini berarti harus lebih berani melakukan kekeliruan secara berlebihan. Tentu saja harus mempertimbangkan segala risiko dan konsekuensi dengan cermat terlebih dahulu.

Agar kreativitas meningkat, kita harus rajin mempelajari hal-hal baru. Ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti membaca, berdiskusi, atau bergabung dengan milis atau asosiasi profesi. Tidak jarang solusi untuk memecahkan suatu masalah terinspirasi dari hal-hal yang baru dipelajari tersebut. Tidak ada salahnya pula jika seorang karyawan bergabung dengan bagian lain yang berbeda dengan latar belakang yang dimilikinya. Misalnya orang produksi yang bergabung di bagian pemasaran agar memperluas wawasannya dan mendapatkan ide-ide baru.
Terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan untuk membantu tumbuh dan berkembangnya kreativitas di tempat kerja. Para karyawan dapat didorong untuk mengemukakan ide-ide perbaikan bagi perusahaan. Banyak karyawan yang sebenarnya penuh dengan ide-ide kreatif takut mengemukakan idenya karena kuatir tidak diterima atau bahkan dianggap tidak masuk akal.

Tentu lingkungan sangat mempengaruhi, jika lingkungan terbuka dapat lebih memancing kreativitas. Lantas, jika menghadapi masalah ini langkah apa yang mesh dilakukan? Kemaslah ide dengan sangat menarik. Tentu ini membutuhkan kompetensi untuk mempersuasi.

Banyak sekali ide baru yang pada mulanya kelihatan tidak biasa bagi kebanyakan orang ternyata di kemudian hari dapat menjadi sumber inspirasi bagi orang lain dalam meningkatkan kualitas kehidupan manusia. Leonardo da vinci adalah sosok orang yang kreatif, yang pada jamannya mungkin dianggap jago mengkhayal. Namun khayalannya pada saat ini banyak yang menjadi kenyataaan. Ide-ide ini hanya dapat muncul dari orang-orang kreatif yang memang secara terus-menerus mau mempelajari hal-hal baru dan tidak mudah menyerah oleh kesulitan yang dihadapi. Sudah siapkah anda menjadi orang kreatif? (www.pengetahuan-kita.blogspot.com)

Tips/Tehnik Menggali Kreativitas Menulis !

Sering kita buntu mau menulis apa lagi ya ? berikut saya sharingkan suatu tips meningkatkan kreativitas termasuk kreativitas menulis dengan metoda SCAMPER yang dibuat oleh “Michael Michalko Author of thinkertoys” . Berikut tehniknya :

1. Modify — modifikasi sesuatu

• Modifikasi = mengubah bagian dari suatu subyek agar lebih menarik dan lebih baik. Bisa arti, tujuan, kegunaan, proses, aturan, warna, gerakan, suara, bau, bentuk, fungsi, dll.

Contoh : saat semua menulis kematian soeharto, saya buat kematian soeharto dari sudut lain : Soeharto meninggal dalam alunan musik Jazz

2. Magnify — menguatkan/membesarkan sesuatu

• Ide baru muncul dengan menambahkan, melebarkan, atau melebih-lebihkan subyeknya.

Contoh : artikel sederhana tentang rekening bank emosi (kualitas hubungan antar manusia) tapi coba dikuatkan dengan dengan tokoh SBY & Mega : SBY-JK selalu menjawab kritik Mega

3. Put to other uses — memberikan fungsi yang lain

  • Melihat suatu subyek bebas dari persepsi yang terbentuk selama ini, seolah2 pertama kali kita melihat, pasti kita dapat melihat hal yang lain dari subyek tsb.
  • Cth: yang ini saya rada sulit kasih contoh artikel WP. Tapi ada contoh umum mengenai Cake coklat bantat yang tadinya dianggap sebagai produk gagal, ternyata dapat menjadi sebuah produk yang sangat digemari yaitu BROWNIES COKLAT.

4. Eliminate — menghilangkan sesuatu• Ide2 bisa muncul saat mengurangi sesuatu. Misal dengan bertanya: Dapatkah masalah disederhanakan/ dibatasi/ dipecah2 menjadi yang lebih kecil/ diringankan?; Mana fungsi/atribut yang sebetulnya tidak penting ?

• Cth: banyak artikel mengenai UN, saya menghilangkan soal-soal UN yang sudah banyak menjadi hanya : Tips menghadapi UN (sebuah pengalaman mencapai NEM tertinggi..)

5. Reverse – membalikkan sesuatu

• Membalikkan perspektif untuk membuka cara pandang baru dan dapat melihat hal-hal yang lain. Misal dengan bertanya: Apa kebalikan dari hal ini? Apa yang akan terjadi?

• Cth: Orang berlomba-lomba ingin masuk toplist, tapi pak Budi rahardjo menulis Setelah Populer, lantas ?

6. Rearrange-menata ulang

Bagaimana ? sudah ada ide sekarang ? selamat menulis dan berkreasi ……

Menumbuhkan Kreativitas Menulis Siswa

Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) khususnya internet yang begitu pesat membuat kita harus kreatif dalam pemanfaatannya. Dampak positif dan negatif dari perkembangan internet telah jelas kita rasakan bersama. Salah satu dampak positif yang kita rasakan dari perkembangan itu adalah menjamurnya tempat membuat web blog gratis di internet.

Blog di internet sangat baik sekali manfaatnya untuk kita. Manfaat paling terasa dari blog adalah menumbuhkan kreativitas kita dalam keterampilan menulis. Blog ibarat buku tulis atau buku diary kosong yang siap untuk diisi dengan ide, gagasan, dan pemikiran berupa tulisan-tulisan orisinil kita. Dengan Blog, kita dituntut untuk kreatif membuat tulisan-tulisan kita sendiri yang enak dibaca, bermanfaat untuk orang lain, dan mengundang orang untuk membacanya.

Dengan blog, guru juga dapat memasukkan materi pelajarannya, sehingga siswa dapat belajar dari blog yang dibuat guru. Proses pembelajaran akan terjadi, bila blog yang dibuat guru menarik siswa untuk membacanya, sehingga terjadi interaksi antara siswa dan guru. Yang menarik dari blog, menungkinkan untuk saling link atau saling mendukung satu sama lain hingga akhirnya dapat menjadi alternatif sumber informasi di internet. Kebermanfaatan teknologi CMS (Content Manajement System) ini sudah tidak diragukan lagi.

Akan tetapi, kecepatan akses internet yang lambat di sekolah tidak memungkinkan guru mengajarkannya secara langsung. Diperlukan media pembelajaran berupa CD tutorial atau blog yang berisi langkah-langkah untuk membuat blog siswa untuk belajar secara mandiri di rumah. Melalui cd tutorial dan blog yang dibuat sendiri oleh guru TIK,( http://www.wijayalabs.blogspot.com, http://www.wijayalabs.multiply.com, dan http://www.wijayalabs.wordpress.com) siswa dapat membaca, memahami, dan belajar (mendownload/upload) cara membuat blog dimana saja dan kapan saja. Siswa tidak harus belajar di dalam kelas. Mereka dapat belajar mandiri membuat blognya sendiri. Melalui media internet, mereka berlatih sendiri bagaimana membuat blog yang cantik dan enak untuk dibaca.

Dalam proses pembuatan blog akan terlihat kreativitas menulis siswa. Namun sangat disayangkan, menjamur dan tumbuhnya blog di internet tidak diimbangi dengan budaya menulis di kalangan siswa, sehingga banyak blog yang tidak terupdate dengan baik, bahkan isinya (contentnya) banyak yang kosong melompong alias tidak terisi dengan baik. Hal ini sungguh memprihatinkan kita dan harus dicari solusinya dalam proses pembelajaran TIK di sekolah.

Maraknya model pembelajaran berbasis TIK juga berakibat pada perubahan budaya belajar dalam konteks pembelajarannya. Termasuk pula budaya belajar dengan menggunakan internet. Dimana siswa dituntut belajar secara mandiri melalui pendekatan yang sesuai agar siswa mampu mengarahkan, memotivasi, dan mengatur dirinya sendiri dalam pembelajaran.

Dr. Wina Sanjaya menuliskan bahwa masalah yang dihadapi dunia pendidikan kita saat ini adalah masalah lemahnya proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, anak didik kita kurang didorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir. Proses pembelajaran di kelas hanya diarahkan kepada proses kemampuan anak untuk menghafal informasi; otak anak dipaksa untuk mengingat dan menimbun berbagai informasi tanpa dituntut untuk memahami informasi yang diingatnya itu untuk menghubungkannya dengan kehidupannya sehari-hari. Akibatnya ketika mereka lulus dari sekolah, mereka pintar secara teoritis, akan tetapi miskin dalam aplikasi.
Saat ini belum banyak sekolah yang memanfaatkan jaringan internet dan intranet sebagai sarana pemanfaatan TIK dalam proses pembelajarannya. Biaya akses internet masih mahal, dan jaringan intranet (LAN) di sekolah pun kurang berjalan dengan baik. Akibatnya guru harus pandai mencari metode pembelajaran yang tepat agar materi yang diberikan sampai ke otak siswa. Belum banyaknya sekolah yang berkonsentrasi penuh terhadap hal di atas membuka lahan penelitian terbuka lebar untuk diteliti oleh para guru di sekolah.

SMP Labschool Jakarta adalah sekolah yang pertama kali (1998) membuka program kelas akselerasi, yaitu kelas yang melaksanakan program belajar di sekolah hanya dua tahun. Kelas Akselerasi bukan hanya kumpulan anak cerdas dan berbakat istimewa, tetapi juga diharapkan kumpulan siswa yang mampu untuk belajar secara mandiri.

Sekarang ini, jumlah kelas akselerasi semakin banyak dan tersebar di seluruh Indonesia. Karena itu perlu dibangun sebuah sistem pembelajaran berbasis TIK yang mengharuskan siswa belajar melalui media internet, sehingga siswa belajar dimana saja dan kapan saja melalui proses pembelajaran mandiri. Dengan jumlah pertemuan tatap muka yang sedikit (4 bulan/semester), membuka peluang pembelajaran internet dapat dimanfaatkan meningkatkan hasil belajar siswa aksel.

Standar Kompetensi Lulusan (SKL) mata pelajaran TIK dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada tingkat SMP adalah siswa diharapkan mampu memahami penggunaan TIK dan prospeknya di masa datang, menguasai dasar-dasar keterampilan komputer, menggunakan perangkat pengolah kata dan pengolah angka untuk menghasilkan dokumen sederhana, memahami prinsip dasar internet/intanet dan menggunakannya untuk memperoleh informasi. Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) tercantum dalam Standar Isi 2006 dalam KTSP dimana siswa dapat menggunakan, menyebarkan, dan memperoleh informasi dari internet yang salah satunya adalah membuat blog.

Dari proses pembuatan blog siswa inilah, guru TIK ingin menumbuhkan kreativitas menulis siswa yang kurang tergarap dengan baik. Guru merasa proses menulis belum berjalan dengan baik, sehingga siswa hanya mampu membuat blog saja tetapi tak mampu mengisinya dengan tulisan-tulisan yang kreatif. Blog yang dibuat belum bermanfaat untuk orang lain. Kemampuan menulis siswa lemah. Padahal di dalam pelajaran Bahasa Indonesia di SMP ada materi untuk menulis (mengarang). Mengapa siswa malas untuk menulis? Bukankah siswa aksel adalah kumpulan anak yang cerdas dan berbakat? Apakah karena mereka yang kurang kreatif atau gurunya yang kurang memberikan dorongan/motivasi eksternal kepada siswa untuk mampu menulis? Berdasarkan hal tersebut di atas, guru merencanakan tindakan menumbuhkan kreativitas menulis siswa melalui pembuatan blog di internet dengan banyak memberikan tugas-tugas internet. Banyaknya tulisan di blog dan kemampuan siswa menulis artikel di blog setiap bulannya menjadi indikator tumbuhnya kreativitas menulis siswa.

Tindakan yang Dipilih dan Perumusan Masalah

Guru merencanakan tindakan memotivasi siswa untuk membuat blognya sendiri di internet dengan metode pembelajaran mandiri. Siswa ditugaskan untuk membuat Blog di tempat yang mereka sukai dan mencari sendiri di internet bagaimana membuat blog. Guru hanya menyampaikan alamat website atau blog yang menuliskan proses pembuatan blog gratis untuk mereka baca seperti di http://www.ilmukomputer.com atau blog guru. Lalu guru pun membuat media pembelajaran berupa cd tutorial langkah-langkah membuat blog di internet yang direkam melalui program power point dan camtasia 4 lalu disebarkan kepada siswa. Pembuatan media pembelajaran dilakukan untuk mengatasi kecepatan akses internet yang lambat di sekolah (384 kpbs) dengan sebuah harapan pesan yang disampaikan masuk ke dalam otak siswa dan dapat dipraktikkan langsung.

Dari hasil pengamatan dalam proses pembelajaran membuat blog di internet, ternyata membuat blog itu mudah dan cepat, tapi mengisinya yang sulit. Perlu adanya dorongan atau motivasi dari guru bahwa sebenarnya mereka mampu untuk menulis. Prof. Dr. Winarno Surakhmat mengatakan motivasi dari guru di sekolah merupakan strategi meningkatkan kulitas pembelajaran. Proses belajar memerlukan motivasi; tanpa motivasi, proses belajar tidak terjadi. (process learns to need motivation; unmotivated, process learns doesn’t happen).

Perumusan masalah penelitian ini adalah : ”Apakah dorongan kuat/motivasi eksternal dari guru dengan memberikan tugas-tugas internet secara mandiri dapat menumbuhkan kreativitas siswa untuk menulis di blog?”

Tujuan Penelitian

1.Menumbuhkan kreativitas menulis siswa akselerasi SMP Labschool Jakarta melalui pembelajaran mandiri pada pembuatan blog di internet
2.Memilih metode pembelajaran yang tepat dan membuat multimedia pembelajarannya melalui program Camtasia 4 dalam membuat blog siswa
3.Meningkatkan kualitas pembelajaran internet di kelas akselerasi SMP Labschool Jakarta dan mendekatkan anak didik pada internet

Lingkup Penelitian

Penelitian ini hanya dibatasi untuk merencanakan tindakan yang akan dilakukan guru untuk menumbuhkan kreativitas menulis siswa melalui pembuatan blog siswa (tanpa pernak-pernik blog) dengan memberikan tugas-tugas di internet, dan membuat multimedia pembelajarannya dengan software camtasia 4 yang dapat dimanfaatkan oleh siswa secara mandiri. Guru memberikan penghargaan (reward) kepada siswa yang mampu mengerjakan tugas dengan cepat.

Penelitian ini lebih dititikberatkan kepada perkembangan kemampuan/ keterampilan menulis siswa yang terlihat dan terbaca di dalam blog siswa yang memunculkan tulisan baru seperti layaknya menulis dalam sebuah diary. Dari pembuatan blog ini diharapkan siswa menjadi semakin dekat dengan internet.

Guru berperan memberikan motivasi dan mengarahkan minat siswa dalam membuat dan mengisi blog sesuai dengan teori psikologi pendidikan.

Signifikansi Hasil Penelitian

Manfaat yang didapatkan dari pembuatan blog di internet ini adalah :

1.Bagi Guru
Guru dapat menemukan metode dan membuat multimedia pembelajaran yang tepat, dan mendorong siswa dalam menumbuhkan kreativitas menulis pada pembuatan blog di internet.

2.Bagi Siswa
•Siswa mempunyai blog atau media untuk mengaktualisasikan dirinya melalui tulisan-tulisan yang dibuatnya
•Siswa dapat meningkatkan kemampuannya untuk menulis dalam blog pribadi di internet yang selalu terupdate dengan baik.
•Siswa menjadi terbiasa menulis dan mempublikasikannya dalam blog pribadinya

3.Bagi Sekolah
PTK ini akan sangat bermanfaat bagi sekolah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran internet di SMP Labschool Jakarta. Dengan semakin banyaknya siswa yang mempunyai blog di internet, maka nama besar sekolah sebagai sekolah favorit ikut pula tersebar luas dalam dunia maya.

Wijaya Kusumah

Nama : evita purnamaari
kelas/absen : 8c/13

Menurut saya, metode pembelajaran lewat blog akan memudahkan siswa memahami pelajaran dan akan membuat siswa tertarik untuk belajar. Apalagi, di zaman sekarang ini siswa lebih memilih untuk membuka internet dibandingkan dengan belajar dengan cara membaca buku. Tetapi perlu diingat juga bahwa tidak semua siswa mampu untuk membayar tagihan internet. Jadi kesimpulannya metode belajar lewat internet sangat baik tapi perlu diingat bahwa tak semua anak mampu membayar tagihan internet. Saran saya, disekolah disediakan fasilitas internet gratis untuk metode pembelajaran.

nama : cheryl manafe
kelas. absen : 8e. 11

menurut saya , membuat blog dan belajar melalui internet sudah baik dan sesuai dengan visi misi labschool, tapi, ada beberapa anak2 yang kurang mempunyai cukup waktu untuk belajar melalui internet dan tidak semua anak memasang internet di rumahnya, sarannya agar di sekolah memiliki fasilitas internet gratis yang mencukupi murid2 agar murid2 tidak berebut jika ingin menggunakan internet

Dhitya Berkata…

Nama : Dhitya Prasetya D.N
Kelas/Absen : 8f/12

Komentar saya, pelajaran melalui internet ini sangat bermanfaat karena siswa lebih bisa mengerti tentang cara penggunaan internet. Dengan penggunaan blog ini kita dapat lebih tahu tentang informasi secara lebih cepat tidak terbatas dengan tempat maupun waktu, dimanapun kita berada dapat membuka internet secara cepat. Sekarang banyak siswa tidak suka membaca buku tapi, dengan cara pebelajaran blog ini siswa pasti akan lebih senang belajar.

About these ads

2 responses to “KUPAS TUNTAS KREATIVITAS

  1. jejer munardi, s.pd

    pak wijaya yang saya hormati untuk menjadi orang kreaktif saya berharap bisa memberikan hasik karyana ke MTs Saya berupa PTK dan contohnya

  2. bloh mas jejer, silahkan saja bapak mengirimkan email kepada saya.

    salam
    Omjay