APLIKASI MODEL DESAIN PEMBELAJARAN

APLIKASI MODEL DESAIN PEMBELAJARAN
DI SEKOLAH

Oleh:
Wijaya Kusumah

I. PENDAHULUAN

Setelah selesai mengikuti perkuliahan disain pembelajaran, penulis merasa bersyukur mendapatkan pengetahuan baru tentang bagaimana membuat desain pembelajaran dan menerapkan model-model pembelajaran yang ada dan sesuai dengan kondisi yang ada di lapangan. Namun demikian, penulis merasa sangat kekurangan dalam memahami model-model pembelajaran yang sudah didapatkan secara aplikatif. Perlu waktu dalam mengimplementasikannya di mana penulis mengajar dan berkarya di sekolah. Karena itu dalam makalah ini penulis hanya mengambil contoh model yang paling cocok diterapkan di sekolah saat ini. Pendekatan yang sistematik dan ilmiah disebut desain pembelajaran. Pendekatan ini menurut Twelker (1972) banyak dipengaruhi oleh perkembangan di bidang industri dan militer. Pendekatan ini telah juga berkembang di AS sejak tahun 1950an.

Berbagai macam model pengembangan pembelajaran dikembangkan dengan tujuan :

  1. mudah dikomunikasikan kepada calon pemakai, baik guru maupun para pengelola pendidikan
  2. memperlihatkan tugas-tugas utama yang harus dikerjakan untuk pengelolaan pembelajaran
  3. memperlihatkan struktur semacam matrix antara tujuan belajar dan strategi belajar yang dapat dibandingkan anatar asatu dengan yang lainnya

Montemerlo dan Tennyson (1976) menyatakan adanya 100 buah model pendekatan sistematik dalam pembelajaran ini. Andrews dan Goodson (1980) mengkaji 40 buah model lain lagi. Menurut Logan (1982:5) timbulnya model yang banyak ini disebabkan :

  1. Para ahli pendidikan menganggap situasi yang dihadapinya khusus, sehingga perlu pendekatan khusus
  2. Kurangnya usaha untuk memvalidasikan model sehingga ada keraguan untuk menerapkan model orang lain.
  3. Adanya ketidakpercayaan atau persaingan akademik di antara para ahli yang merasa dirinya ahli dalam bidang pengajaran
  4. Adanya model-model yang bersifat luwes sehingga bagian-bagiannya dapat diubah atau dikembangkan lebih lanjut yang akan melahirkan model baru.
  5. Adanya model-model yang menghendaki latar dan persyaratan khusus.

Model disain pembelajaran yang paling sederhana meliputi empat langkah Hamreus (1970) dan DeCecco (1968), sedangkan model yang paling terperinci adalah model Abedor (1971) yang terdiri dari 60 langkah yang disebut “Maxi Model”. Semua model itu mengandung langkah dasar yang sama, yaitu model umum sibernetik (cybernetics) yang dikemukakan oleh Banathy (1968).

Model dasar itu digambarkan sebagai berikut :

Gambar 1: Model Sibernetik Dasar

Masukan diolah untuk menghasilkan sesuai keinginan lalu dibandingkan dengan yang diinginkan, bila terdapat perbedaan maka diolah kembali untuk mendapatkan hasil yang sesuai.

Istilah pengembangan dan desain sebenarnya mengandung pengertian yang berbeda. Pengembangan pembelajaran mempunyai arti yang lebih luas karena meliputi desain pembelajaran. Pengembangan pembelajaran adalah : suatu pendekatan sistematik dalam desain, produksi, evaluasi, dan pemanfaatan sistem pembelajaran yang lengkap, meliputi semua komponen system yang tepat dengan suatu pola manajemen untuk menggunakannya; desain pembelajaran merupakan satu tahapan dari pengembangan pembelajaran (AECT, 1986)

Reigeluth (1983) mengatakan bahwa desain pembelajaran merupakan proses yang menentukan metode pembelajaran apa yang terbaik untuk mata pelajaran tertentu bagi siswa tertentu agar mencapai tujuan tertentu.

Model desain pembelajaran
1. Model Peningkatan kemampuan Pengajar berfokus pada peningkatan penegatahuan, keterampilan, sensitivitas dan teknik pembelajaran para pengajar, dan bukannya pada subyek yang mereka ajarkan
2. Model pembuatan produk pembelajaran berfokus untuk menghasilkan paket pembelajaran, baik untuk kegunaan sendiri maupun untuk penggunaan secara meluas termasuk yang diproduksikan secara komersial
3. Model pengembangan system berfokus pada peningkatan system yaitu adanya aktivitas menyeluruh dalam menyusun kurikulum, mata ajaran/mata kuliah, program pengajaran, dan bahan ajaran. Adakalanya pendekatan ini memerlukan perubahan dalam pengelolaan kegiatan belajar dan peranan tenaga pengajar, seperti halnya yang terdapat pada UT.
4. Model peningkatan organisasi : kegiatannya meliputi perubahan pada struktur, kebijaksanaan, dan lingkungan organisasi di mana pembelajaran berlangsung. Model ini lazim dilaksanakan di lembaga diklat pada organisasi tertentu.

Karakteristik model
1. Model PPSI
Dikembangkan oleh Badan Pengembang Pendidikan (BPP) Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1972.
2. Model Rekontruksi kuliah
Model ini diciptakan oleh Tjipto Utomo, dan Kees Ruijjter, dan diberi nama “rekontruksi kuliah/kursus” karena ditujukan untuk memperbaiki kuliah yang sudah berjalan di ITB
3. Model Briggs dan Wager
Model ini khusus dibuat untuk kegunaan seseorang tenaga pengajar untuk keperluannya di kelas.
4. Model Gerlach dan Ely
Menurut Gerlach dan Ely langkah awal berupa spesifikasi isi dan tujuan merupakan langkah yang simultan dan merupakan kegiatan interaktif.
5. Model Kemp
Model ini dapat digunakan pada SD sampai perguruan tinggi
6. Model Gentry
Disain pembelajaran model Gentry dikenal dengan singkatan IPDM (Instructional Project Development and Management) mulai diperkenalkan pada tahun 1994 oleh Castelle G. Gentry.

Dari keenam model di atas, penulis lebih tertarik mengembangkan model gentry, yang menurut hemat penulis cocok diterapkan di tempat penulis mengajar. Munculnya model ini dilatarbelakangi oleh beberapa hal, antara lain banyak buku-buku teks tentang disain pembelajaran yang cenderung mengabaikan kekurangan hubungan antara proses-proses disain pembelajaran dengan proses-proses pendukungnya (supporting processes).

Banyak para ahli disain pembelajaran mendiskusikan proses-proses disain pembelajaran seperti contoh kebutuhan penilaian, disain, produksi dan implementasi secara detail, tetapi hanya sebagian kecil mendiskusikan proses-proses pendukung dan diskusi biasanya terbatas pada suatu hal yaitu manajemen.

Sebagai seorang instruktur, project manager, dan konsultan Castelle G. Gentry berulang-ulang mencoba mengkaitkan keterhubungan dan saling ketergantungan dua komponen dari proses itu yaitu manajemen, penanganan informasi, komunikasi, perolehan dan alokasi sumber daya, berbagai hal tentang personil, dan penggunaan dari fasilitas-fasilitas proyek.

Menurut Gentry seharusnya buku-buku teks tentang disain pembelajaran mengajarkan para siswa apa yang dikerjakan dan bagaimana mengerjakannya. Hal ini didasari pada banyaknya buku tentang disain pembelajaran yang hanya memfokuskan pada what needs to be done dan hanya sebagian kecil yang memfokuskan pada how something is done.

Banyak ditemukan guru/instruktur menggunakan metode pengajaran tradisional dimana dalam waktu yang relatif sedikit, mereka secara efektif mengajarkan semua teknik penting untuk penentuan proses suatu model disain pembelajaran. Disisi lain tersedia banyak waktu untuk memperkenalakan disain pembelajaran untuk mengajarkan proses-proses esensial dan teknik-teknik mereka.

Faktor lain yang mendasari munculnya model Gentri yaitu adanya jumlah yang signifikan dari para siswa yang mengambil kursus pengenalan disain pembelajaran yang lengkap tidak akan perlu lagi mengambil kursus-kursus disain pembelajaran tambahan.

Selain hal-hal di atas Gentry juga menyampaikan bahwa hanya usaha minimal yang diperlukan dari para instruktur dan pengembang pembelajaran untuk menghubungkan proses-proses disain pembelajaran umum, proses-proses pendukung, dan teknik-teknik untuk model disain pembelajaran lain yang mereka mungkin disukai.

II. PEMBAHASAN

Disain pembelajaran merupakan prinsip-prinsip penerjemahan dari pembelajaran dan instruksi ke dalam rencana-rencana untuk bahan-bahan dan aktivitas-aktivitas instruksional (Smith and Ragan, 1993). Lebih lanjut mereka mengatakan bahwa disain pembelajaran dapat dianggap sebagai suatu sistem yang berisi banyak komponen yang saling berinteraksi. Komponen-komponen tersebut harus dikembangkan dan diimplementasikan untuk kelengkapan suatu instruksional.

Sistem pengembangan instruksional sering kali direpresentasikan sebagai model grafik. Beberapa tahun terakhir sejumlah model disain pembelajaran diperkenalkan oleh beberapa ahli/tokoh. Gentry mengatakan bahwa model disain pembelajaran adalah suatu representatif gafik tentang suatu pendekatan sistem, yang dirancang untuk memfasilitasi pengembangan yang efektif dan efisien dari pembelajaran.

Tujuan dari disain pembelajaran yaitu membuat pembelajaran lebih efektif dan efisien dan mengurangi tingkat kesulitan pembelajaran (Morrison, Ross, dan Kemp, 2007).
Disain pembelajaran model Gentry (IPDM Model) secara skematis dapat digambarkan di bawah ini:

Gambar 1: Disain Pembelajaran model IPDM (Gentry, 1994)

Dari gambar di atas model Gentry terdiri dari dua kelompok/ komponen utama yaitu Development Component dan Supporting . Kedua komponen tersebut dihubungkan oleh adanya komunikasi.

A. Komponen Pengembangan
Komponen pengembangan terdiri dari 8 komponen yaitu: Need analysis, Adoptio, Desig, Production, Prototyping, Installation, Operation, dan Evaluation

1. Analisis kebutuhan (Need analysis)
Proses menetapkan validitas dari kebutuhan-kebutuhan dan tujuan-tujuan untuk keberadaan atau instruksi yang diusulkan, dan menentukan priorotas-prioritas dari semuanya. Terdapat tujuh tahap untuk menentukan analisis kebutuhan, yaitu:
a. Identifikasi masalah: mengumpulkan data untuk menentukan permasalahan-permasalahan atau ketidakcocokan dalam suatu target proses atau produk sistem instruksional.
b. Validasi/mengesahkan masalah: menentukan apakah masalah-masalah yang diedentifikasi adalah masalah yang ril atau hanya merupakan gejala dari sebuah permasalahan.
c. Merumuskan kebutuhan: menterjemahkan permasalahan kedalam statemen kebutuhan
d. Merumuskan tujuan: menterjemahkan kebutuhan kedalam statemen tujuan
e. Menyelaraskan tujuan yang sekatrang dengan tujuan yang baru: mengkombinasikan tujuan-tujuan yang baru dengan suatu program tujuan saat ini dalam suatu daftar.
f. Validasi tujuan-tujuan yang diselaraskan tadi
g. Memprioritaskan tujuan: sudahkah individu atau kelompok sesuai urutan tujuan ditetapkan dalam hal arti penting mereka
Hasil dari bebeapa model analisis kebutuhan yaitu suatu set tujuan-tujuan yang diprioritaskan atau mungkin lebih baik jika disebut ”goal analysis” atau ”goal setting”.

2. Adopsi (Adoption)
Proses menetapkan dukungan dari suatu inovasi oleh para pembuat keputusan, penentu kebijakan, dan hal-hal lain yang dipengaruhi serta memperoleh komitmen sumber daya. Proses adopsi meliputi:
a. Membantu klien-klien dan/atau sistem klien di dalam ”unfreezing” (proses dari klien-klien yang diseleksi, menjadi sadar akan permasalahan dan menjadi berkeinginan mempertimbangkan solusi-solusi potensial)
b. Membantu klien-klien dalam ”appraising” diusulkan perubahan (proses dari klien menaksir ketepatan dari satu solusi, atau dari perubahan, untuk masalah intruksional mereka, dan membandingkan hal itu untuk solusi-solusi potensial yang lain).
c. Membantu klien-klien dalam ” trying out” change (proses menuntun perubahan dari klien atau beberapa subset dari mereka, di dalam sistem mereka).
d. Membantu klien-klien dalam membuat keputusan ”accept/reject” (proses dari klien untuk membuat keputusan lanjut atau tidak tentang suatu inovasi, berdasarkan data percobaan tersebut)
e. Membantu dalam ”refreezing” pada sistem klien (proses tentang kestabilan sistem target sampai klien-klien dengan sukses mengintegrasikan perubahan atau perubahan-perubahan)

3. Disain (design)
Proses menentukan dan menetapkan tujuan, strategi, teknik-teknik, dan media untuk memenuhi tujuan instruksional. Langkah-langkah disain instruksional sebagai berikut:
a. Mengumpulkan data target audiens (untuk menentukan karakteristik, sehingga instruksi tersebut dapat dikhususkan pada audien yang spesifik).
b. Memperoleh sasaran pelaksanaan dari tujuan yang ditetapkan (untuk menyediakan bimbingan yang tepat di dalam memilih dan mengatur elemen-elemen yang terdapat dalam disain pembelajran)
c. Kategorisasi tujuan pelaksanaan, dan menuliskan beberapa tujuan/sasaran tambahan (untuk memastikan bahwa semua domain yang diinginkan dan tingkat sasaran tujuan tergambarkan dalam disain seperti domain kognitif, afektif, dan psikomotor, serta level masing-masing).
d. Mendapatkan persetujuan ketepatan dari tujuan pelaksanaan (sebagian untuk mendapatkan dukungan untuk instuksi yang diusulkan, tetapi juga memperoleh keuntungan pengetahuan relatif klien bagi tujuan dan isi dari instruksi tersebut).
e. Menetapkan hirarki tingkah laku dari tujuan pelaksnaan (untuk memastikan bahwa pembelajaran prerekuisit ditempatkan sebelum pembelajaran berikutnya.
f. Menulis butir-butir (item) tes dari masing-masing tujuan pelaksanaan (untuk memastikan bahwa tes difokuskan pada tujuan yang spesifik dari isi, stategi, atau media).
g. Melengkapi analisis tugas (task analysis), yang dibantu oleh satu set tujuan pelaksanaan (hal ini selanjutnya tujuan di ” break down” ke dalam hal-hal yang spesifik yang dilakukan oleh seorang pemelajar untuk menunjukan kompetensi)
h. Mengidentifikasi dua atau lebih strategi yang sesuai dengan tujuan instruksional (untuk membantu memilih strategi terbaik yang dipakai dan/atau strategi yang paling praktis).
i. Mengidentifikasi alternatif media cetak atau non cetak yang dapat digunakan untuk menampilkan instruksi (pastikan bahwa isi dan media yang dipilih sesuai dengan tujuan dan strategi)
j. Membandingkan strategi dan media alternatif dari segi keefektifan biaya (masing-masing dipertimbangkan secara bijaksana disesuaikan dengan kebutuhan dan sumber daya klien)
k. Menuliskan spesifikasi strategi dan media pembelajaran 9untuk membantu personil dalam memperoleh dan atau memproduksi elemen-elemen instruksional yang dibutuhkan).

4. Produksi (Production)
Proses membangun/mengkonstruksi elemen-elemen dari suatu proyek, seperti yang dikhususkan dalam suatu disain atau didasarkan pada suatu data revisi. Prose produksi meliputi:
a. Memperoleh spesifikasi disain untuk instruksional
b. Melengkapi struktur uraian pekerjaan untuk proyek produksi
c. Memecah struktur uraian pekerjaan yang terlalu luas ke dalam sub-sub proyek supaya tepat/pantas
d. Menghitung biaya produksi dari sub-sub proyek
e. Menyesuaikan biaya produksi sub-sub proyek dengan pilihan dan batasan-batasan manajemen.
f. Menetapkan sub-sub proyek (seperti individu-individu yang terlibat, spesialis produksi, dan atau tim produksi)
g. Menejer sub proyek langsung menentukan personil untuk melengkapi elemen-elemen produksi
h. Mengirimkan elemen-elemen produksi kepada tim prototipe
i. Menggunakan dan merevisi spesifikasi disain yang diterima dari tim prototipe untuk modifikasi material instruksional
j. Mengirim master elemen produksi final (akhir) ke tim prototipe.

5. Membuat prototip (Prototyping)
Proses perakitan, uji coba percontohan, mengesahkan, validasi dan menyelesaikan satu unit instruksional. Proses pembuatan prototipe secara garis besar meliputi:
a. Menganalisis tugas pembuiatan prototipe secara spesifik
b. Merakit elemen-elemen prototipe
c. Mengevaluasi prototipe secara formatif
d. Mengkombinasi, mengurutkan dan merevisi elemen-elemen tes
e. Mengevaluasi prototipe secara sumatif
f. Membuat perbaikan

6. Instalasi (Installation)
Proses menetapkan kondisi-kondisi yang perlu untuk operasi efektif dari suatu proses atau produk instruksional baru. Proses ini memuat keputusan pembuat kebijakan, mengidentifikasi dan meyakinkan hal-hal lain yang dipengaruhi, menetapkan suatu struktur dasar, komitmen terhadap sumber daya, mengidentifikasi personil pengiriman instruksional, pelatihan instruksional personil, memelihara kepatutan fasilitas untuk pengiriman produk, dan dukungan klien staff setelah implementasi.

7. Operasi (Operation)
Proses yang secara efektif memelihara aplikasi berkelanjutan dari suatu produk atau prosedur instruksional, setelah instalasi. Proses operasi ini meliputi beberapahal, yaitu: monitoring unit instruksional, memelihara unit-unit instruksional, memeliharatingkat kepantasan sumber daya, pelatihan penempatan personel, dan mengintegrasikan unit-unit instruksional ke dalam sistem.

8. Evaluasi (Evaluation)
Proses mengumpulkan dan menganalisis data dan pemberian nilai pada suatu unit instruksional yang sedang berlangsung, untuk dapat mengambil keputusan berupa pemeliharaan, perbaikan/revisi, dan atau mengeliminasi suatu bagian-bagian tertentu. Proses evaluasi meliputi: identifikasi target evaluasi, memelihara kesepakatan untuk penilaian, mengorganisasi datya hasil evalusi, menindaklanjuti hasil evaluasi, dan melaporkan hasil dan kesimpulan dari evaluasi tersebut.

B. Komponen-komponen Pendukung (Supporting Component)
Komponen pendukung terdiri dari lima komponen yaitu: Management, Information handling, Resource acquisition & allocation, Personnelm dan Facilities.

1. Manajemen (Management)
Proses mengendalikan/mengontrol, mengkoordinasikan, mengintegrasikan, dan mengalokasikan sumber daya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Proses manajemen mencakup: menganalisis, membiayai, dan penawaran proyek; menentukan perolehan dan alokasi sumber daya, membentuk tim proyek disain pembelajaran, memotivasi personal, menangani pertemuan para staf, menagani proyek informasi, mengkomunikasi informasi, monitoring, menyiapkan uraian kerja proyek, mengevaluasi proses dan produk proyek, mengembangkan kemungkinan rencana, dan menutup suatu proyek.

2. Penanganan informasi (Information Handling)
Proses memilih, mengumpulkan, mengorganisir, menyetorkan, mendapat kembali, mendistribusikan, dan menilai informasi yang diperlukan oleh satu proyek disain pembelajaran. Penanganan informasi meliputi: memilih dan menentukan spesifikasi informasi, menjaga/mengembangkan informasi, mengorganisasi informasi, memelihara informasi, menyampaian/menstransmisi informasi, dan menilai pengaruh dari informasi tersebut.

3. Perolehan dan Alokasi Sumber Daya (Resource Acquisition and Allocation)
Proses ini meliputi: penentuan kebutuhan sumber daya, menyusun anggaran, mengalokasikan sumber dana, pendekatan sumber dana, prioritas sumber dana, strukturisasi proposal untuk sumber daya yang pasti, modifikasi proposal, alokasi sumber daya, dan menutup suatu proyek.

4. Personil (Personnel)
Proses penentuan persyaratan susunan kepegawaian, pencarian/rekrutmen personal, pelatihan pekerja, evaluasi efektivitas dan efisiensi on the job, memotivasi pekerja untuk mencapai standar proyek, konseling dan teguran terhadap pekerja yang memiliki perilaku yang kurang pantas dan pemecatan personil.

5. Fasilitas-fasilitas (Facilities)
Proses untuk mengorganisir dan merenovasi ruang/space untuk disain, implementasi, dan uji coba elemen-elemen instruksional. Hal ini meliputi: penentuan tipe dan kondisi ruang yang dibutuhkan, faktor-faktor umum yang mempengaruhi ruang, penilaian fasilitas-fasilitas yang ada, spesifikasi modifikasi fasiliitas, pembiayaan modifikasi fasilitas, dan implementasi modifikasi fasilitas.

Berdasarkan bagan dan uraian setiap komponen dalam model Gentry di atas, dapat dianalisis bahwa model Gentry merupakan Model Pendekatan Sistem yang terdiri dari dua kelompok yaitu komponen pengembangan (development component) yang terdiri delapan komponen yaitu analisis kebutuhan, adopsi, disain, produksi, prototipe, instalasi, operasi, dan evaluasi dan kelompok yang kedua yaitu komponen pendukung (supporting component) yang terdiri dari lima komponen (manajemen, penangan informasi, pembiayaan/alokasi sumber daya, personil, dan fasilitas).
Menurut Gentry (1994) adanya perubahan pada satu komponen akan mengakibatkan perubahan pada komponen yang lain.
Hubungan antara komponen pendukung dengan komponen pengembang dapat terjadi jika ada komponen komunikasi. Gentry (1994) menjelaskan model komunikasi dari Shannon & Weaver yang mencakup lima elemen komunikasi, yaitu :
a. Information Source adalah yang memproduksi pesan
b. Transmitter yang menyandikan pesan dalam bentuk sinyal
c. Channel adalah saluran pesan
d. Receiver adalah pihak yang menguraikan/mengkonstruksikan pesan dari sinyal
e. Destination adalah dimana pesan sampai
Gentry tidak memasukkan elemen ke enam dari komunikasi yaitu Noise yang merupakan segala macam gangguan yang mempengaruhi pesan sehingga menyebabkan sinyal yang berbeda dari yang dikirimkan (sifatnya disfungsional).
Proses komunikasi dalam proyek pengembangan instruksional dapat berlangsung secara efektif jika dilakukan beberapa hal, yaitu:

  • Mengidentifikasi pengirim dan penerima informasi
  • Memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi komunikasi baik yang positif maupun negatif
  • Menentukan makna/arti pesan yang dikomunikasikan
  • Adanya feedback pada komunikasi individual
  • Menetapkan kebijakan dan aturan komunikasi dengan individu atau kelompok, internal dan eksternal dari proyek tersebut
  • Formalisasi prosedur untuk sistem komunikasi

Sistem komunikasi pada proyek disain pembelajaran merupakan suatu hal yang sangat penting, karena komunikasi memiliki arti sentral dimana manajemen mengontrol aktivitas-aktivitas suatu proyek. Menurut Severin dan Tankard (1988) jaringan komunikasi harus dipertahankan dan dipelihara jika suatu kelompok ingin tetap berfungsi.
Komunikasi dalam disain pembelajaran model Gentry memegang peranan yang penting karena akan menjembatani komponen pengembangan dan komponen pendukung. Masing-masing komponen mempengaruhi komponen yang lainnya.
Masing-masing komponen di dalam IPDM sengaja mempunyai satu bentuk melingkar, hal ini menekankan bahwa model ini bukan linear. Tanda panah-panah antara komponen-komponen merepresentasikan bagaimana masing-masing komponen berbagi informasi dengan satu sama lain dalam mengirimkan dan menerima informasi.

Kelebihan dan Kekurangan Disain Pembelajaran Model Gentry
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Christian Fowler (1996) dan kajian pustaka model Gentry memiliki kelebihan dan kekurangan antara lain:

Kelebihan:
1. merupakan model disain pembelajaran yang efisien dan komprehensif
2. dapat digunakan untuk pengembangan sistem
3. fleksibel, karena bisa dimulai dari komponen yang mana saya
4. dapat diterapkan di kelas, kursus, pelatihan, maupun organisasi atau perusahaan

Kekurangan:
1. keberhasilan pelaksanaannya sangat tergantung pada komponen pendukung
2. Jika salah satu komponen dalam sistem mengalami hambatan akan sangat mempengaruhi komponen lain dan hasil secara keseluruhan
3. aplikasi model ini cukup berat karena banyak mengandung komponen

III. PENUTUP


A. Kesimpulan

Disain pembelajaran model Gentry yang dikenal dengan Instructional Project Development Management (IPDM) merupakan salah satu disain pembelajaran Model Pendekatan Sistem yang saat ini cocok untuk diterapkan di sekolah.
Model Gentry terdiri dari dua kelompok/komponen utama yaitu komponen pengembangan (Development Component) dan komponen pendukung (Supporting Component) yang dihubungkan oleh komunikasi.
Development Component terdiri dari delapan komponen yaitu: Need analysis, Adoptio, Desig, Production, Prototyping, Installation, Operation, dan Evaluation, sedangkan Supporting Component terdiri dari lima komponen yaitu: Management, Information handling, Resource acquisition & allocation, Personnelm dan Facilities.
Keberhasilan komponen pengembagan sangat dipengaruhi oleh komponen pendukung dan juga komponen pendukung dipengaruhi oleh komponen pengembangan.
Sebagai suatu model disain pembelajaran tentunya model Gentry sama halnya dengan model-model yang lain memiliki kelebihan dan kekurangan tergantung dari situasi dan kondisi implementasi model tersebut. Karena itu, tidak ada model yang terbaik. Semua model baik tergantung bagaimana kita mengaplikasikannya dalam proses pembelajaran.


B. Saran

Implementasi disain pembelajaran model Gentry memerlukan dukungan berbagai faktor, oleh karena itu jika model ini akan diterapkan dukungan dana, pengambil kebijakan, kualitas sumber daya materil dan manusia, penguasaan informasi mutlak diperlukan.
Persamaan dari setiap model yang ada dapat digolongkan kedalam tiga kegiatan pokok, yang mana para pengelola di bidang pendidikan harus dapat melakukan kegiatan :

  1. Menentukan masalah dalam pembelajaran dan mengorganisasikan alat untuk memecahkan masalah tersebut
  2. Menganalisa dan mengembangkan pemecahan masalah
  3. Mengevaluasi pemecahan masalah tersebut.

Semua kegiatan tersebut dihubungkan oleh suatu sistem umpan balik yang terpadu dalam model bersangkutan. Adanya sistem umpan balik memungkinkan adanya perbaikan (revisi) sistem instruksional selama dikembangkan. Karena tidak ada satu pun model yaang terbaik, semua sesuai dengan kondisi tertentu.

DAFTAR ACUAN

Gentry, C. G. 1994. I ntroduction to instructional development: Process and technique . Belmont, CA: Wadsworth Publishing Company

Morrison, Gary R., Steven M. Ross, and Jerrold E. Kemp.2007. Designing Effective Instruction 5th edition. USA: Jhon Wiley & Sons, Inc.

Smith, P. L. & Ragan, T. J. .1993. I nstructional desig n . New York: Macmillan Publishing Company.

Fowler, Christian. 1996. Synthesis Fundamentals Seminar:Testing the nstructional Project Development and Management (IPDM) Model by
Major paper submitted to the Faculty of the VI.

About these ads

6 responses to “APLIKASI MODEL DESAIN PEMBELAJARAN

  1. Eulogia Eldisa Ayu Lestari

    Siang Pak Wijaya.

    Sya Eldisa dari 7-3. Jujur, saya sangat mengagumi semua tulisan bapak. Pilihan kata2nya menarik, juga tidak monoton.
    Betul, saya setuju, memang masih banyak guru2 yang agak monoton sehingga meminjam model pembelajaran orang lain.
    Akhirnya, masih banyak sekolah yang belum berkembang akibat dari kemonotonan yang terjadi, kurang mahir dalam mengaplikasikannya dan model pembelajaran yang kurang baik. Tapi, tidak dengan labschool. Semua gurunya sudah mahir dalam mengaplikasikan model pembelajaran yang cocok diterapkan di sekolah. Labschool memang yang terbaik.

    Eldisa

    NB: Pak, Tulisan saya tentang ruangan komputer tempo hari dipilih buat masuk majalah gema ya pak, yang di komputer nomer 13…hehe
    makasih

  2. saya sangat tertarik dengan tulisan yang bapak buat. apalagi saya kuliah di jurusan kurikulum dan teknologi pendidikan yang notabene berhubungan dengan tulisan yang bapak buat. saya sangat ber terima kasih kepada bapak karena tulisan bapak dapat membantu saya dalam menyelesaikan tugas perkuliahan, sehingga saya dapat menyelesaikannya dengan baik. oleh karena itu saya hanya ingin mengucapkan timakasih yang sebesar-besarnya kepada bapak.

    NB: pak tolong blog saya di link kan donk

  3. Takries arrasyid

    thnx a lot..

  4. saya sangat tertarik dengan tulisan Bapak, saya pengen menjadi guru yg baik, tapi saya belum mencoba mangajar, bagaimana jadi guru yg baik?

  5. jadi guru yg baik adalah banyak mendengar dan perbanyak dialog dengan peserta didik.

    salam
    Omjay

  6. asep muhammad

    Alhamdulillah, ternyata ada juga yang mau berbagi ilmu. semoga jadi amal jariah bagi penulisnya. Terima kasih.