Arsip Tag: guru

Panik Sertifikasi dan Pendidikan Minus Kebudayaan

Panik Sertifikasi dan Pendidikan Minus Kebudayaan

Usai berolah raga pagi dan menikmati nasi uduk mpok Minah, saya membaca koran kompas hari ini, Sabtu 4 Mei 2013.

Seperti biasanya, saya selalu membaca kolom opini di halaman 6 dan 7 terlebih dahulu. Ada judul yang menarik di halaman 7. Panik Sertifikasi yang dituliskan Doni Koesuma. Sedangkan di halaman 6, Acep Iwan Saidi menuliskan Pendidikan Minus Kebudayaan.

Bagi saya, kedua artikel opini itu bagus sekali, langsung menohok ke persoalan pokok, dan sangat penting dibaca oleh pejabat pemerintah yang berkantor di Kemdikbud Senayan Jakarta. 

Terus terang selama seminggu ini ada sesuatu yang tidak enak di kalangan guru. Kami menjadi berebutan jam mengajar untuk memenuhi syarat 24 jam mengajar. Sebuah syarat yang harus diverifikasi di dapodik secara online agar tunjangan sertifikasi guru yang kami terima cair.

Tentu saja, ketentuan baru yang lagi-lagi tak berpihak kepada guru diberlakukan. Telah terjadi hukum rimba dalam dunia pendidikan kita. Guru tak lagi diajak berdialog. Pokoknya, harus 24 jam mengajar dan tak peduli jumlah kelas di sekolahnya sedikit. Terutama buat sekolah swasta yang muridnya memang sedikit, dan guru yang mengajar mata pelajarannya hanya 2 jam per minggu.

Kebijakan yang baru itu tentu saja menuai panik dan kontroversi di kalangan guru di Indonesia. Buat mereka yang jam mengajarnya sudah memenuhi 24 jam akan adem ayem saja, dan telah mendapatkan haknya sebagai guru profesional. Namun buat mereka yang jumlah jam mengajarnya sebenarnya sudah 24 jam, tetapi harus mengajar mata pelajaran lainnya tidak bisa dihitung oleh sistem yang dibuat oleh dapodik. Para guru pun dibuat panik untuk mencari tambahan jam mengajar di sekolah lain.

Saya bersetuju dengan solusi yang ditawarkan oleh Doni Koesuma dalam artikelnya. Hendaknya pemerintah membuat kebijakan pendidikan berdasarkan kondisi konkret di lapangan. Jangan mempersulit urusan guru di bidang administrasi ini. Sebab urusan ini tentu akan mengganggu kinerja guru, dan kebijakan 24 jam adalah kebijakan yang jelas tidak fair. Coba bandingkan dengan dosen yang sudah tersertifikasi. Waktu merekapun tidak full di kampus seperti kondisi guru di sekolah.

Melihat akan hal ini, tentu saja saya sebagai guru menjadi bingung sendiri dengan kebijakan pemerintah. Haruskah seorang guru mengajar di dua sekolah demi untuk memenuhi jam mengajar 24 jam? Mohon kiranya pemerintah memperhatikannya. Jangan sampai ada pemberontakan di kalangan guru yang akan jauh lebih dahsyat dari demo buruh di bundaran hotel indonesia beberapa hari lalu. Mereka akan membawa peserta didiknya untuk ikutan demo karena guru adalah penguasa di kelas. (hehehe)

Dari paniknya sertifikasi, jelas akan berdampak kepada pendidikan minus kebudayaan. Saya menjadi terinspirasi dengan artikel guru besar ITB ini. Acep Iwan Saidi menuliskan bahwa pemimpin itu harus paham. Dia harus “blusukan” seperti Jokowi yang akhirnya mengerti permasalahan. Bukan hanya menunggu laporan yang pada akhirnya ujian nasional menjadi amburadul seperti tahun ini. Giliran diminta tanggung jawabnya untuk mundur, langsung menyerahkannya kepada presiden.

Dialog nanpaknya kurang dikedepankan dalam kebijakan pendidikan. Selalu saja pemerintah menunjukkan kuasanya. Sama halnya dengan pemberlakuan kurikulum 2013. Guru harus patuh dan diminta menerima begitu saja tanpa ada proses dialog. Mereka berkampanye kalau kurikulum 2013 lebih bagus dari kurikulum sebelumnya. Padahal kalau “diobok-obok”, cuma ganti casing saja. Mirip ponsel yang diganti casingnya, sementara mesinnya masih sama saja.

Mereka yang mengkritik kurikulum dianggap melawan kekuasaan atau dibilang bukan pemain inti. Padahal sudah sangat jelas guru adalah pemain inti dalam pembelajaran. Pendidikan berubah menjadi pendidikan kuasa. Siapa yang tak suka silahkan minggir dan pemerintah selalu saja merasa tidak bersalah. 

Untunglah, tahun ini mendikbud sudah meminta maaf akan pelaksanaan un yang amburadul itu, dan hanya meminta maaf pelaksanaan un di tingkat sma saja, padahal di tingkat smp pun masih banyak kesalahan dan pelanggaran yang dibuat oleh pemerintah. Anda dapat membacanya secara lengkap di berbagai media.

Pada akhirnya, pendidikan yang dibuat oleh kita menjadi pendidikan tanpa nilai. Kepongahan penguasa begitu sombongnya, dan kami para guru hanya diminta mengajar saja yang baik, dan siapkan administrasi pembelajaran dengan lengkap. Giliran evaluasi siswa, pemerintah dengan seenaknya mengambilnya. Para kroni pemerintah pun akhirnya mendapatkan rezeki dari proyek kemdikbud yang terkadang membuat kita mengelus dada. Dibutuhkan kesabaran tingkat tinggi untuk mengingatkannya. 

Panik sertifikasi dan pendidikan minus kebudayaan semestinya tak perlu terjadi di negeri ini. Para guru semestinya sudah happy atau bahagia dengan tunjangan sertifikasinya. Biarkan dia malu sendiri ketika dapat uang sertifikasi, tetapi dirinya tidak menjadi guru profesional. Masyarakat yang akan menilainya.

Bagi kami para guru yang terus memperbaiki diri dan terus belajar sepanjang hayat akan terus berjuang agar pendidikan ini menjadi berbudaya dan berkarakter. Anak-anak harus dididik dengan keteladanan. Kebudayaan dibagun dari kesadaran dan bukan pemaksaan yang terus menerus dipaksakan. Saya pun tidak tahu apa yang akan terjadi nanti bila kurikuum 2013 yang belum siap itu dipaksakan juga diterapkan tahun ajaran baru ini.

Kita tunggu saja jalan ceritanya, dan izinkan saya bernyanyi lagu Betharia Sonata, “AKU MASIH SEPERTI YANG DULU”.

Salam blogger Persahabatan

Omjay

http://wijayalabs.com/

Guru, Dosen, Buku, dan Kurikulum Baru

guru dan dosen

guru dan dosen

Begitu banyak tulisan tentang guru di berbagai media. Seolah-olah hanya guru yang disalahkan dalam lemahnya ranah pendidikan di negeri ini. Para dosen di perguruan tinggi tak mau disalahkan, sebab kunci kuatnya pendidikan terletak pada guru. Padahal kita melihat, kualitas guru kita menjadi kurang baik lantaran rendahnya mutu dosen di tingkat perguruan tinggi . Terutama dosen-dosen di lembaga pencetak para guru. Silahkan anda lakukan penelitian, pastilah anda akan mendapatkan kenyataan itu. Tak usah marah, mari kita sikapi dengan cara yang bijaksana.

Lanjut membaca

Guru dan Kurikulum

533099_10151249293086582_117301963_nSebenarnya, tulisan ini akan saya kirimkan ke media cetak. Tapi saya tak yakin akan lolos di meja redaksi. Sebab penulis hanya seorang guru biasa. Bukan pakar pendidikan, apalagi pakar kurikulum. Pastilah tulisan ini akan ditolak dan dikembalikan.  Begitulah prasangka saya yang terbiasa menulis di blog.

Lanjut membaca

Deklarasi Sekolah Damai di DKI Jakarta

Hari masih sangat pagi. Namun di sekolah Labschool Jakarta sudah ramai sekali. Banyak pelajar dari sekolah lain sudah datang ke sekolah kami untuk mengikuti kegiatan deklarasi sekolah damai di smp-sma Labschool Jakarta. Ratusan pelajar berkumpul di ruang auditorium lantai 3 Labschool Jakarta. Pagi ini Kamis, 4 Oktober 2012 mereka bertekad untuk mewujudkan sekolah damai tanpa tawuran di antara pelajar.

13493136621100409102
Deklarasi Sekolah Damai di Labschool Jakarta (Dok: Pribadi)

Deklarasi ini dihadiri langsung gubernur DKI Jakarta, Dr. Ing. H. Fauzi Bowo atau biasa disapa Bang Foke. Beliau bersama jajarannya dari dinas pendidikan DKI Jakarta sudah hadir di sekolah kami tepat pukul 07.00 wib. Nampak hadir di atas panggung kepala dinas pendidikan DKI Jakarta, bapak Dr. Taufik Yudi, dan penasehat labschool, bapak Prof. Dr. H. Arief Rachman, M.Pd.

1349313925804927462
Pak Arief, Pak Karjo, Ibu Indira, pak taufik, dan Jajaran pejabat di lingkungan Pemda DKI Jakarta

Deklarasi sekolah damai dilakukan untuk mewujudkan sekolah damai tanpa tawuran. Menjunjung tinggi kedamaian, menghargai perbedaan, dan menjaga ikatan persaudaraan di antara sesama pelajar. Kita berharap, sudah tidak ada lagi tawuran antar sekolah di jakarta. Minimal, terjadinya tawuran dapat diminimalisasi agar tidak terjadi karena dapat diselesaikan secara damai. Tak ada lagi balas dendam dan sakit hati karena sekolahnya diejek atau dihina. Kita semua menjaga agar tak saling menjelekkan antar sekolah. Itulah awal dari pemicu tawuran di natara para pelajar yang terkadang menjadi “dosa” warisan.

13493145731903774548
Deklarasi Sekolah damai yang dibuka oleh Ceramah pak Arif rachman

Belakangan ini tentu kita sangat sedih karena sudah banyak korban berjatuhan akibat tawuran antar pelajar. Saling serang dan saling serbu antar sekolah seringkali terjadi dan meninggalkan duka di antara kedua belah pihak. Hal yang lebih menyedihkan adalah mereka yang tidak ikutan tawuran malah menjadi korbannya. Oleh karena itu, semua yang hadir dalam deklarasi sekolah damai bertekad untuk mencari kawan dan bukan lawan. Pelajar yang hadir bertekad untuk menjaga kedamaian dalam ikatan persaudaraan. Kita semua adalah bersaudara. Harus saling cinta saling menyayangi.

13493148261792211804
Bang Foke memberikan sambutan dan arahannya di acara deklarasi sekolah damai

Pelajar harus bersatu, dan bukan berkelahi. Pelajar harus berprestasi, dan bukan tawuran di jalanan. Pak Fauzi Bowo atau Bang Foke dalam sambutannya langsung meminta para pelajar mendeklarasikan apa yang ingin mereka sampaikan. Sungguh sangat luar biasa sekali isi deklarasinya, dan saya uploadkan semua fotonya di facebook Omjay di sini.

134931550811448294
salah Seorang pelajar dari Perwakilan 18 Sekolah di jakarta membacakan piagam deklarasinya

salam Blogger persahabatan

Omjay

http://wijayalabs.com

Guru dan Siswa

Kalau anda bertanya kepada para siswa, apa bedanya guru dan siswa maka mereka akan dengan seragam mengatakan kalau guru mengajar, siswa diajar dan heeeem……harus belajar. Benarkah jawaban para siswa tersebut?

13490228661854076049

Guru dan Siswa (dok: Pribadi)

 

Guru adalah orang yang bertugas mendidik dan mentransferkan ilmunya kepada para peserta didiknya. Siswa adalah peserta didik yang berhak mendapatkan bimbingan dari seorang guru. Guru dan siswa adalah satu kesatuan dalam proses pendidikan. Guru dan siswa berperan dengan fungsi dan tugasnya masing-masing dalam pembelajaran. Guru dan siswa sama-sama memiliki hak dan kewajiban.

Hak seorang guru adalah mengajarkan ilmunya, sedangkan kewajiban seorang guru adalah mentransferkan ilmu yang dimilikinya dengan gaya mengajar yang unik. Anda boleh berbeda dengan saya, karena banyak hak dan kewajiban seorang guru yang bisa dituliskan di sini. tapi intinya guru berhak mendapatkan kesejahtaeraan yang layak setelah segala kewajibannya telah dia penuhi. Sama halnya dengan seorang warga negara yang baik. Dia memiliki kewajiban membayar pajak kepada negara, tetapi setiap warga negara berhak mendapatkan pelayanan yang layak dari negara.

Hak seorang siswa adalah mendapatkan bimbingan dan pelayanan prima dari guru. Sedangkan kewajiban siswa yang utama adalah belajar, berusaha memahami ilmu pengetahuan yang disampaikan oleh gurunya. Di sinilah terjadi proses interaksi guru dan siswa. Siswa dan guru sebenarnya sama-sama belajar. Mereka melakukan apa yang disebut proses pembelajaran. Dari proses pembelajaran inilah didapatkan potensi unik siswa dan hasil belajar yang diharapkan. Guru mengajar, siswa diajar. Guru mengawasi, siswa mengerjakan kegiatan yang diperintahkan guru. Semua perintah guru itu tertulis dalam apa yang disebut rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).

Namun, seiring berjalannya waktu, peran dan fungsi mereka tidak lagi diajar dan mengajar. Guru dan siswa sebenarnya sama-sama belajar. Di sanalah terjadi proses pembelajaran yang ideal. Sebuah proses yang membawa guru dan siswa saling berinteraksi dalam memahami materi pelajaran. Guru dan siswa sama-sama mengupas kebenaran yang terjadi dalam khasanah ilmu pengetahuan yang beragam. Di sanalah terjadi proses yang disebut saling memberi informasi dan saling berkomunikasi. Dimana siswa bertanya, guru menjawab. Guru bertugas sebagai fasilitator, dan bukan sebagai orang yang terlalu dominan di kelas. Begitupun sebaliknya, bila guru ingin menguji sampai dimana pemahaman siswa tentang materi yang diberikannya, ia bisa langsung mewawancarainya, atau melakukan ulangan atau tes sebagai alat evaluasi dalam pembelajaran.

Sebenarnya dalam era TIK sekarang ini banyak guru yang belajar dari siswa. Banyak guru yang belum melek TIK, dan belajar dari para siswanya. Akhirnya siswa mengajar guru, dan guru diajar siswa. Dimana pernah terjadi ada siswa SMK yang mengajari gurunya berinternet ria. Salahkah? Tidak. Itu sudah biasa. Sebab banyak guru belum melek internet.

Dalam sebuah pembelajaran yang efektif, guru dan siswa akan saling melengkapi. Dimana guru bertugas merencanakan pembelajaran dan siswa adalah peserta didik yang akan mendapatkan pembelajaran dari yang direncanakan guru. Ketika guru merencanakan pembelajarannya dengan sangat matang, maka terjadilah proses pembelajaran yang sangat menantang siswa untuk mengeksplore pengetahuan itu. Tetapi, bila guru tak matang dalam membuat perencanaan pembelajaran, maka pembelajaran menjadi terkesan membosankan. Tak terlihat lagi suasana yang saling menyenangkan, menyenangkan siswa, dan juga menyenangkan guru. Kalau itu sampai terjadi, guru harus melakukan instropeksi diri dan lakukanlah sebuah penelitian tindakan kelas (PTK).

Pembelajaran yang berkualitas dapat tercapai karena adanya guru yang memahami perannya dengan baik, sehingga siswa merasakan bahwa gurunya adalah guru yang bisa mendampinginya dalam memahami khasanah ilmu pengetahuan yang bertebaran di muka bumi ini. Guru memerlukan siswa, siswa memerlukan guru. Ada saling memberi, dan menerima.

Adakah guru tanpa siswa? Lalu adakah siswa tanpa guru? Guru dan siswa seperti romeo dan yuliet yang saling menyayangi dan membutuhkan. Kalau ada kasus, dimana guru sampai menampar siswa, itu tandanya nilai-nilai kasih dan sayang telah berkurang di hati guru. Mungkin guru itu perlu belajar dan menonton film Romeo and Yuliet. Atau juga perlu menonton film best seller laskar pelangi berkali-kali.

Guru dan siswa adalah pasangan pembelajaran yang ideal dan tak akan pernah hilang dalam dunia pendidikan kita. Tinggal kita mengolahnya menjadi pasangan yang indah, penuh warna-warni bak pelangi, dan disanalah para guru akan lebih mengenal karakter para siswanya dengan baik.

13490234991788664127

Kegiatan Upacara Bendera di SMP-SMA Labschool Jakarta

 

Salam Blogger Persahabatan

Omjay

http://wijayalabs.com

 

 

 

Lomba Blog untuk Guru Berhadiah Total Rp. 3.000.000,-

1320861785396784739
Wahai Para guru! Yuk Ikutan Lomba Blog!

Dalam rangka memperingati hari guru Indonesia yang jatuh pada 25 Nopember 2011, Blog pendidikan wijayalabs.com menyelenggarakan lomba atau kompetisi blog yang mengangkat tema “Peran Guru dalam Mencerdaskan Bangsa”.

Hal yang diharapkan dari lomba ini adalah para guru yang telah memiliki blog pribadi di internet dapat lebih menyadari perannya sebagai guru dan dapat ikut berpartisipasi dalam mewujudkan masyarakat berpengetahuan.

1.      Persyaratan Peserta

  • Semua guru yang berdomisili di Indonesia.
  • Memiliki blog pribadi di internet
  • Blog yang diikutsertakan tidak dibatasi pagerank, lama aktif, atau jumlah postingan sebelumnya.
  • Peserta tidak dipungut biaya registrasi.

2.      Ketentuan Tulisan

  • Tulisan dapat dibuat dalam bentuk esei atau narasi.
  • Panjang tulisan minimal 750 kata dalam bahasa Indonesia. Gaya bahasa bebas-santai-informal, tidak harus yang baku-formal.
  • Tulisan tidak menyinggung SARA.
  • Keyword atau kata kunci “Peran guru dalam Mencerdaskan bangsa”.

Isi tulisan yang diikutsertakan minimal dapat menjelaskan:

  • Bagaimana peran guru dalam mencerdaskan bangsa?
  • Kenapa saya mau jadi guru?
  • Apa harapan dan opini guru mengenai peranan blog wijayalabs.comsebagai media blog pendidikan?

3.      Teknis Registrasi

  • Menulis dan memposting artikel kontes blogging dalam blog guru yang sesuai dengan ketentuan tulisan.
  • Pendaftaran artikel blog dimulai tanggal 10 November 2011 sampai 28 November 2011 dengan mengirimkan tautan (link) artikel blog (bukan hanya url homepage blog) dan biodata peserta ke alamat emailwijayalabs@wijayalabs.com
  • Biodata peserta minimal berisi nama lengkap, alamat email, dan no telpon/ponsel yang dapat dihubungi.
  • Tiap peserta diperbolehkan mengikutsertakan lebih dari satu blog miliknya.
  • Aktifkan fitur komentar pada blog/artikel anda. Promosikan seluas-luasnya artikel anda melalui facebook, twitter, atau media lainnya.

4.      Penilaian Lomba Blog

  • Kompetisi menggunakan sistem kontes blogging semi SEO yang memadukan antara kualitas tulisan dengan tingkat popularitas di search engine atau mesin pencari.
  • Tautan artikel yang diambil untuk dinilai tim juri adalah artikel yang sesuai dengan ketentuan tulisan dan  muncul pada urutan 20 (tiga puluh) teratas berdasarkan halaman hasil pencarian di google.co.id dengan kata kunci “Peran Guru dalam Mencerdaskan Bangsa” pada tanggal 28 November 2011 pukul 18.00 WIB.
  • Isi artikel harus dapat menjelaskan dengan mudah dan santun tentang jawaban yang diharapkan dari Pertanyaan Umum di atas.
  • Originalitas tulisan.
  • Keterkaitan dengan tema.
  • Kualitas dan kuantitas komentar pembaca pada artikel yang dilombakan akan menjadi nilai tambah.
  • Ada waktu 5 hari untuk mengecek atau menyanggah apakah tulisan copy paste, setelah pengumuman pemenangnya. Jika diketahui dari hasil cross cek artikel pemenang adalah hasil copy paste maka pemenang akan diganti.
  • Keputusan Juri tidak dapat diganggu gugat.
  • Nama pemenang akan diumumkan di awal bulan Desember 2011

5.      Hadiah Kontes Blogging atau lomba blog Wijaya Kusumah

Tiga orang pemenang utama akan mendapatkan hadiah:

  • Juara pertama mendapatkan uang Rp. 1.000.000,- + buku yang disusun oleh wijaya kusumah + Sertifikat + domain+hosting untuk website berbayar dengan kapasitas 300 MB dari PT. Excellent Infotama Kreasindo.
  • Juara kedua mendapatkan uang Rp. 750.000,- + buku yang disusun oleh wijaya kusumah + Sertifikat + domain+hosting untuk website berbayar dengan kapasitas 300 MB dari PT. Excellent Infotama Kreasindo..
  • Juara ketiga mendapatkan uang Rp. 500.000,- + buku yang disusun oleh wijaya kusumah + Sertifikat + domain+hosting untuk website berbayar dengan kapasitas 300 MB dari PT. Excellent Infotama Kreasindo.

13209037281733744591

6.      Dewan Juri Lomba

7.      Pendukung Kompetisi

  • Penerbit Indeks
  • Donatur

8.      Informasi Kompetisi blog

Info lengkap dapat mengunjungi http://www.wijayalabs.com dan contact person sebagai berikut:

  • Wijaya Kusumah (hp. 0815-915-5515)
  • Dahli Ahmad (hp. 082117923273)

Facebook         : wijayalabs

Twitter             : @wijayalabs

Email                :  wijayalabs@wijayalabs.com

Ketika Guru Melek Internet. So what Gitu Loh!

Ketika Guru Melek Internet, So what Gitu Loh!

Ketika banyak guru melek internet ada perasaan bangga di dalam hati. Setidaknya sudah semakin banyak guru yang akan menjadi pemandu. Pemandu bagi para peserta didiknya. Setidaknya, guru dapat memperhatikan peserta didiknya yang sedang online, dan mengarahkannya ke arah yang positif.

  Lanjut membaca

Belajar Menyenangkan di Sucofindo Cibitung Bekasi

Jum’at , 3 Desember 2010 saya diminta oleh bapak Abdul Hadi Wijaya untuk memberikan materi belajar yang menyenangkan di Aula Sucofindo Cibitung. Acara yang digagas oleh konsutan pendidikan PT. SAGA Bandung ini bekerjasama dengan dinas pendidikan kabupaten Bekasi. Ada sekitar 400 orang guru SD dan SMP Negeri di kabupaten Bekasi hadir.

Lanjut membaca

Selamat Hari Guru, dan Jadilah Guru Profesional yang Berkarakter

Setiap tanggal 25 November 2010, para guru berulang tahun. Ulang tahun yang usianya sama dengan ulang tahun kemerdekaan republik Indonesia. Artinya, sudah 65 tahun perayaan ulang tahun guru rutin setiap tahun diselenggarakan. Kebetulan tanggal itu adalah tanggal dimana Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dibentuk. Tentu kita berharap banyak kepada organisasi PGRI di hari ulang tahunnya yang ke-65 ini.

Dengan usianya yang sudah masuk usia manusia lanjut usia (manula), seharusnya PGRI sudah semakin bijaksana, dan mampu menjalankan program kerjanya yang berpihak kepada peningkatan kinerja guruuntuk menjadi guru profesional. Bukan hanya profesional, tetapi juga berkarakter. Sebab guru yang berkarakter akan mampu menularkan karakter yang baik kepada para peserta didiknya.  Bila guru tak memiliki karakter yang baik, maka akan jadi apa para peserta didiknya kelak.

Hal itulah yang terjadi saat ini. Korupsi begitu merajalela. Kejujuran dan Kepedulian nampaknya menjadi sesuatu yang langka dimiliki oleh para pendidik. Demi sebuah prestise menjadi guruprofesional, banyak oknum guru yang  menanggalkan kejujurannya, hanya demi selembar sertifikat guru profesional. Kepedulian kepada sesama gurupun sudah mulai pudar, dimana kolaborasi guru dalam melakukan kegiatan ilmiah seolah-olah hilang ditelan bumi. Hanya sedikit sekali guru yang mampu membuat karya tulisnya sendiri.

Terungkapnya kasus plagiasi 1.700 guru di Riau menunjukkan sebagian kecil dari kecurangan dalam memenuhi portofolio sertifikasi guru. Banyak masyarakat yang merisaukan aneka pelanggaran itu, tetapi program sertifikasi terus saja melaju atas nama pemenuhan amanat peraturan perundang-undangan.

Tentu kita berharap ada perbaikan terus menerus dalam sistem sertifikasi guru yang menguntungkan para guru itu sendiri. Sebab tujuan sertifikasi itu sendiri sangat mulia, dimana harkat dan martabat guru ditingkatkan dan profesi guru diakui sama dan sejajar dengan profesi lainnya.

PGRI sebagai induk organisasi yang mengayomi para guru, harus mampu berkiprah lebih baik lagi dalam melaksanakan program kerjanya. Sebab sampai saat ini, PGRI terkesan hanya milik elit tertentu dan pengurusnya kurang membumi. Sehingga wajar banyak guru yang tak merasa memiliki induk organisasi seperti PGRI.

Mereka-mereka yang tak puas degan kinerja PGRI akhirnya membentuk organisasi baru yang dibentuk bukan untuk menyayingi PGRI, tetapi menjadi mitra PGRI agar kualitas dan kompetensi guru menjadi lebih baik lagi dengan mengadakan berbagai pelatihan guru. Diantara organisasi itu adalah Ikatan Guru Indonesia (IGI) yang diketui oleh Satria Darma dengan sekjennya Mohammad Ihsan.

IGI telah mampu membuktikan diri untuk terus menerus meningkatkan profesionalisme guru, dan menjadkan guru berkarakter. Semua program kerja IGI telah didukung oleh kementrian pendidikan nasional, disambut baik oleh menteri pendidikan nasional, Prof. Dr. Moh. Nuh.

Sebagai seorang guru, tentu saya banyak terlibat dalam kegiatan IGI ini, dan saya merasakan benar kehadiran IGI telah membawa wara baru bagi dunia pendidikan kita, khususnya dalam meningkatkan kompetensi guru agar mampu profesional di bidang mata pelajaran yang diampunya.

Hal ini tentu membuat para guru senang dan berbondong-bondong untuk hadir dalam kegiatan yang dilaksanakan oleh IGI. Hampir setiap kegiatan yang dilakukan oleh IGI selalu dipenuhi oleh para guru, dan mereka sangat antusias  dengan program-program IGI yang berpihak kepada peningkatan mutu pembelajaran.

Akhirnya, saya ucapkan selamat hari ulang tahun buat para guru di Indonesia. Jadilah guru profesional yang berkarakter dan benahi karakter bangsa melalui pendidikan. Kita persiapkan generasi muda kita dengan pendidikan karakter yang membawa peserta didik menjadi cerdas dan berakhlak mulia.

salam Blogger Persahabatan

Omjay

http://wijayalabs.com

 

 

Mengapa Jadi Guru Harus Narsis?

Banyak teman saya bilang kalau saya ada dimana-mana. Kalau buka internet dan cari-cari artikel tentang pendidikan, pastilah ada wajah saya yang imut dan gendut disitu. Cari tentang humor, eh ada juga foto omjay disitu. lalu teman saya berkata,“Guru kok narsis?”

Baca Selengkapnya di sini.

Salam Blogger Persahabatan

Omjay

http://wijayalabs.com