Monthly Archives: Agustus 2007

Peningkatan Kualitas Pembelajaran Internet

A. LATAR BELAKANG        

Sekarang ini, pembelajaran Information and Communication Technology (ICT) atau Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), telah menjadi tren tersendiri dalam dunia pendidikan, terutama untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) serta meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Pembelajaran TIK perlu diperkenalkan, dipraktikkan, dan dikuasai siswa sedini mungkin agar mereka memiliki bekal yang dapat membantu mereka untuk menyesuaikan diri dalam kehidupan global yang ditandai dengan perubahan yang sangat cepat. SMP Labschool Jakarta sejak tahun pelajaran 1998/1999 telah melaksanakan suatu bentuk layanan pendidikan khusus bagi anak yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa dalam bentuk program akselerasi. Melalui program tersebut, siswa dapat mempercepat belajar di SMP selama dua tahun. Sebagai salah satu sekolah perintis program akselerasi, tanpa terasa sudah hampir sembilan tahun Labschool melaksanakan program tersebut dan telah dijadikan objek studi banding untuk penyelenggaraan program akselerasi di seluruh Indonesia. Berkaitan dengan hal itu, harus ada upaya-upaya perbaikan dan optimalisasi program. Salah satu di antaranya adalah meningkatkan kualitas pembelajaran internet yang merupakan salah satu bagian dari pembelajaran TIK, sehingga program akselerasi di SMP Labschool Jakarta akan semakin baik.            Paradigma baru pembelajaran TIK menghendaki adanya inovasi yang terintegrasi dan berkesinambungan. Salah satu wujudnya adalah inovasi yang dilakukan guru dalam kegiatan pembelajaran internet di kelas akselerasi. Kebiasaan guru dalam mengumpulkan informasi mengenai tingkat pemahaman siswa melalui metode yang tepat melalui pertanyaan, observasi, pemberian tugas, dan tes kemampuan melalui teknik evaluasi yang akurat, akan sangat bermanfaat untuk menentukan tingkat penguasaan kompetensi siswa dalam pembelajaran yang berkualitas.          Pembelajaran yang berkualitas didapatkan dari penyampaian materi pengajaran yang tepat dan sistem penilaian dengan menggunakan teknik evaluasi yang akurat. Namun sangat disayangkan, selama ini bentuk penilaian berbasis kelas hanya bertumpu pada penilaian tes teori (tertulis) dan praktik serta tugas-tugas dari guru, sehingga hasilnya sangat kurang memuaskan. Banyak siswa yang kurang menyukai pelajaran teori dan mendapatkan nilai kurang maksimal pada saat tes teori atau tes tertulis. Siswa lebih menyenangi pelajaran praktik dan tes praktik daripada  pelajaran teori dan tes teori. Hal ini terlihat dari hasil belajar TIK di semester V yang nilai tes tertulisnya kurang memuaskan dari tes praktik. (Daftar penilaian siswa kelas Aksel-2 terlampir).          Perlu dicari solusi dari masalah tersebut. Mengapa nilai teori (pengetahuan /kognitif) kurang memuaskan daripada nilai praktik (keterampilan/psikomotor)? Bukankah anak aksel adalah anak yang cerdas dan berbakat? Apakah karena soalnya yang terlalu sulit ataukah antusias dan minat siswa terhadap pelajaran teori (pengetahuan/kognitif) rendah? Apakah masalah jumlah pertemuan tatap muka yang terbatas, kecepatan akses internet yang lambat, metode mengajar yang kurang menarik dan terlalu cepat, pembelajaran yang kurang kreatif dan bermakna, kurang akuratnya sistem penilaian, malasnya siswa membaca buku, siswa yang lebih senang bermain games, dan jumlah jam pelajaran yang sangat padat (36 jam/minggu) juga mempengaruhi kualitas hasil belajar TIK dengan materi internet?          Guru TIK pun merasa kurang dapat menggunakan metode pembelajaran dengan baik, sehingga fokus pembelajaran ada pada guru (teacher centered). Guru lebih banyak menggunakan metode ceramah pada saat pemberian materi. Terkesan kurang ada partisipasi dari siswa pada saat pembelajaran teori, sehingga kualitas pembelajaran internet pun menjadi kurang memuaskan. Karena itu diperlukan suatu peningkatan kualitas pembelajaran internet dengan metode yang tepat dan penilaian yang akurat sebagai kunci utama keberhasilan penilaian, sehingga kemampuan siswa dalam menguasai internet menjadi semakin baik.         

Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning / CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya juga penerapannya dalam kehidupan sehari-hari sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna. Dalam kelas kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya, maksudnya guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru hanya mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerjasama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi siswa. Sesuatu yang baru datang dari menemukan sendiri, bukan dari ”apa kata guru”. [1]CTL hanyalah sebuah strategi atau metode pembelajaran agar pembelajaran berjalan lebih produktif dan bermakna tanpa harus mengubah kurikulum yang ada. Dengan metode ini minat dan prestasi siswa diharapkan tercapai dan meningkat. Proses pembelajaran langsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil.[2]                                                                                         

Di samping itu, diperlukan pula suatu teknik penilaian yang tepat untuk mengukur keberhasilan siswa dalam pembelajaran. Teknik penilaian kelas terdiri dari penilaian unjuk kerja, penilaian sikap, penilaian tertulis, penilaian proyek, penilaian produk, penggunaan portofolio dan penilaian diri.[3] Salah satu teknik penilaian adalah dengan penggunaan portofolio. Penilaian Portofolio merupakan penilaian berbasis kelas terhadap sekumpulan karya siswa yang tersusun secara sistematis dan terorganisasi yang digunakan untuk memantau perkembangan pengetahuan, keterampilan dan sikap siswa dalam mata pelajaran tertentu yang sifatnya tidak terstruktur (open ended). Penilaian Portofolio adalah penilaian yang biasa digunakan para guru untuk memantau perkembangan pengetahuan dan keterampilan siswa dalam menguasai pelajaran. Guru harus mengalihkan penekanan dari pengukuran hasil belajar ke arah peningkatan unjuk kerja siswa melalui  umpan balik dan refleksi yang bersifat evaluatif. Dengan kata lain, melalui penilaian berbasis portofolio penilaian pun juga diarahkan pada proses belajar, bukan sekedar hasil belajar. [4]         Pendekatan CTL dan penilaian portofolio merupakan pendekatan baru yang akhir-akhir ini sering diperkenalkan para ahli pendidikan untuk dilaksanakan di sekolah selain pendekatan penilaian dan strategi pembelajaran yang telah lama digunakan. Penilaian portofolio merupakan salah satu bentuk alternatif untuk meningkatkan kemampuan siswa menguasai internet melalui evaluasi umpan balik dan penilaian sendiri. Sedangkan pendekatan CTL digunakan oleh guru untuk membuat strategi atau metode pembelajaran sehingga dapat meningkatkan kualitas pembelajaran internet melalui pembuatan makalah, questioner, pencarian informasi di internet dan presentasi hasil karya siswa. Dengan demikian, pelajaran teori internet tidak lagi didominasi oleh guru melalui metode ceramah tetapi lebih didominasi oleh siswa melalui presentasi makalah yang dibuat siswa. Dengan digabungkannya bentuk pendekatan CTL dan penilaian portofolio diharapkan kualitas pembelajaran internet menjadi semakin menarik dan hasil tes tertulisnya (pengetahuan/kognitif) sangat memuaskan dan tidak kalah dengan tes praktik (keterampilan/psikomotor). 

B. RUMUSAN PERMASALAHAN

Dari permasalahan yang telah diuraikan pada latar belakang di atas, maka rumusan permasalahan pada penelitian ini ádalah : “ Apakah Pendekatan Kontekstual / Contextual Teaching and Learning (CTL) dan Penilaian Portofolio dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran internet di kelas Akselerasi ? “  

C. TUJUAN PENELITIAN

Tujuan penelitian ini adalah untuk :1.      Meningkatkan kualitas pembelajaran internet untuk memperoleh hasil yang lebih baik dalam meningkatkan prestasi belajar siswa akselerasi di SMP Labschool Jakarta 2.      Menemukan inovasi dalam pengajaran dan pembelajaran internet di sekolah.3.      Menarik minat dan antusiasme siswa dalam mempelajari teori (pengetahuan/kognitif) internet secara mandiri serta meningkatkan keberanian siswa dalam bertanya, menjawab, menyelesaikan masalah, dan mengemukakan pendapat tentang manfaat internet dalam kehidupannya sehari-hari sehingga bermakna.4.      Menilai kemampuan individual siswa dengan teknik evaluasi yang tepat untuk mengukur keberhasilan siswa dalam menyelesaikan tugas-tugas internet melalui penilaian portofolio5.      Melatih guru untuk tidak hanya bisa mengajar, namun juga mempunyai keterampilan melakukan riset sederhana untuk kebutuhan inovasi dan menyulut kreativitas guru dalam pembelajaran di kelas 

D. MANFAAT PENELITIAN

Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini antara lain :1.      Hasil pembelajaran internet akan meningkat. Adanya proses pembelajaran yang terintegrasi melalui pendekatan CTL dan penilaian portofolio untuk memperoleh hasil yang semakin baik, dan membuat siswa termotivasi untuk lebih berprestasi dalam belajar.2.      Dapat dijadikan objek studi banding oleh sekolah lainnya, karena pembelajaran  internet belum banyak diterapkan di sekolah-sekolah di Indonesia, 3.      Menyebarluaskan berbagai pengalaman guru yang berhasil meningkatkan mutu pembelajaran sehingga dapat dimanfaatkan dan dijadikan referensi bagi guru lainnya dalam membuat rencana pembelajaran.4.      Menumbuhkan inovasi dan kreativitas guru serta menambah wawasan pengetahuan guru dalam bidang ilmu pendidikan, khususnya metode pembelajaran dan penilaian.5.      Mempublikasikan hasil penelitian Pendekatan CTL dan penilaian portofolio dalam meningkatkan kualitas pembelajaran, sehingga bermanfaat bagi guru lainnya dan dapat diterapkan di sekolahnya. 

Iklan

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!