Monthly Archives: Januari 2008

TUTORIAL PAGE MAKER 7.0

TOTORIAL PAGE MAKER 7.0PageMaker merupakan merupakan program Desktop Publishing yang menjadistandar industri publikasi . Bagi orang yang bekerja pada dunia penerbitan maupunadvertising tentu sudah tidak asing lagi karena PageMaker dirancang untuk membuattampilan halaman majalah, buku, leaflet, booklet, kartu undangan, kartu nama, dansejenisnya menjadi mudah dan inovatif. Dengan kemampuannya untuk menggabungkantulisan, foto dan ilustrasi, PageMaker membuat proses produksi berlangsung secara efisien

Silhakan dilihat di file.pdf

Iklan

THE POWER OF ICT IN EDUCATION

rapat-seminar.jpg

Perubahan era industrialisasi menjadi era informasi telah terjadi, era industri yang ditandai dengan dibangunnya pabrik-pabrik berskala menengah dan besar telah mengguncang dunia, baik secara ekonomi maupun secara sosial. Tahun 2000, era informasi juga telah mengguncangkan dunia, bahkan lebih dahsyat dari yang pernah dibayangkan oleh masyarakat, informasi dapat diakses dengan mudah dan cepat. Setiap perkembangan, dapat dengan mudah dan cepat diinformasikan kepada masyarakat, batasan ruang dan waktu telah dihilangkan. Alvin Toffler benar, era industrialisasi akan berakhir dengan dimulainya era baru, yakni era informasi. 

Era informasi telah dimulai, teknologi menjadi suatu keharusan, tidak ada satu bidang pun didunia ini yang tidak tersentuh oleh teknologi, termasuk teknologi informasi dan komunikasi. Kecepatan dan ketepatan kita dalam mendapatkan informasi menjadi suatu peluang dan kekuatan, karena dengan mendapatkan informasi, kita dapat menentukan sesuatu lebih akurat. Information and communication technology (ICT) atau lebih dikenal dengan istilah Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) adalah suatu alat, alat untuk mempermudah dan mempercepat kita dalam mendapatkan informasi. Perkembangan ICT di Tanah Air masih tertinggal jauh dibandingkan negara-negara lain. Cina, Singapura, Malaysia, dan India, lebih maju dari kita dilihat dari sisi pengetahuan dan pemanfaatan ICT.

Perkembangan ICT sangat dipengaruhi oleh peran pemerintah dan dukungan masyarakat, peran pemerintah dapat dinilai dari upaya-upaya yang telah ditetapkan, baik regulasi  pemerintah dari segi peraturan atau perangkat hukum, maupun regulasi dari segi penyediaan sarana dan prasarana ICT. Masyarakat, selaku pengguna dan pemakai secara langsung, juga menentukan cepat atau lambatnya perkembangan ICT. Namun kesadaran masyarakat juga tidak terlepas dari peran pemerintah. Di Indonesia sudah ada badan yang mengurus perkembangan teknologi informasi, yaitu Tim Koordinasi Telematika Indonesia (TKTI). Salah satu target mereka adalah pelaksanaan pemerintahan online atau e-government. Dengan e-government, pemerintah dapat menjalankan fungsinya melalui media internet. Tujuannya adalah memberi pelayanan kepada publik secara transparan dengan akses yang lebih mudah.          

Pendidikan tidak dapat terlepas dari ICT, karena proses pembelajaran dalam pendidikan akan lebih cepat dan efektif ketika dapat memanfaatkan ICT. Selain perubahan paradigma guru, dosen dan praktisi pendidikan dalam menggunakan ICT untuk proses pembelajar tentu sangat berharap adanya kebijakan yang mendukung dalam bidang ICT dari pemerintah. Kebijakan Depdiknas, Depkominfo dan lembaga-lembaga lainnya untuk mensukseskan percepatan dan maksimalisasi pemanfaatan ICT dalam pendidikan sangat ditunggu-tunggu oleh dunia pendidikan, karena kebijakan tersebut akan menjadi salah satu kunci suksesnya penerapan ICT dalam pendidikan di Indonesia. Untuk suksesnya penerapan ICT dalam pendidikan di semua lini, Selain dukungan Pemerintah, maka diperlukan penguasaan para guru, dosen dan praktisi pendidikan di bidang ICT. Dengan meleknya mereka pada ICT, diharapkan pendidikan di Indonesia lebih maju dan cepat berkembang. 

Penelitian Kuantitatif

Pengaruh Tehnik Pembelajaran Kreatif dan Kemampuan Penalaran Terhadap Hasil Belajar Siswa SMP 
The Effects Of CreatiVE Intructional Techniques And LogicaL Thinking Ability On Students Process Skills In Science 
oleh : Ahmad Sopyan
Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Semarang (UNNES)  

Abstrak

Tujuan penelitian ini untuk menentukan pengaruh tehnik pembelajaran, kemampuan penalaran dan hubungan antara kedua variabel terhadap penguasaan keterampilan proses IPA. Penelitian dilakukan secara experimen pada SLTP di Tasikmalaya dengan sampel berjumlah 94 siswa yang dipilih secara acak. Hasil yang diperoleh sebagai berikut: (1) Penerapan tehnik pembelajaran kreatif divergen memberikan hasil keterampilan proses yang lebih baik dalam IPA ( CD = 28.14 ) dibandingkan dengan tehnik pembelajaran kreatif konvergen ( AK = 26.60) ( Fo = 11.67 > Ft  = 3.92 ). (2) ada interaksi antara teknik pembelajaran dan kemampuan penalaran yang memberikan pengaruh yang berbeda terhadap keterampilan proses IPA (3) untuk siswa yang berpenalaran formal, tehnik pembelajaran kreatif divergen yang menghasilkan perbedaan prestasi yang tidak signifikan dibandingkan dengan aktif divergen (Fo = 2.28 < F’ = 8.04), (4) untuk siswa yang kemampuan penalaran pada oprasi konkrit, tehnik pembelajaran kreatif divergen memberikan prestasi yang lebih baik ( CD = 29.39) dibanding dengan aktif konvergen ( AC = 24.33) (Fo = 28.76 > F’ = 8.04). Kata kunci: Tehnik pembelajaran kreatif, kemampuan penalaran, dan  keterampilan proses dalam IPA

Abstract

 The aims of this research were to determine the effects of instructional techniques, logical thinking ability and the interaction of both variables on students process skills in science. The research was conducted in a goverment junior high school in Tasikmalaya with a simple of n = 94 selected randomly.           The results obtained were as follows: (1) The application of the creative-divergent instructional technique gives a better process skills in science ( CD = 28.14 ) compared to that of the active-convergent one ( AK = 26.60) ( Fo = 11.67 > Ft  = 3.92 ). (2) There is an interaction between  instructional  technique and logical thinking ability which exert differences on students’ process skills in science   (Fo=20.73  > Ft=3.92).  Further analysis using the Scheffe’s test revealed that (3) for students having a formal logical thinking ability, the creative divergent instructional technique resulted in a non-significant difference of achievement compared to the active-convergent one (Fo = 2.28 < F’ = 8.04), (4) for students having concrete operational logical thinking ability, the creative-divergent instruc-tional technique give a better achievement ( CD = 29.39) compared to active-convergent one ( AC = 24.33) (Fo = 28.76 > F’ = 8.04).

Key words: Creative instructional techniques, logical thinking ability, and the process skill in science

  


PENDAHULUAN

       Faktor penting dalam penguasaan teknologi adalah sumber daya manusia yang dikembangkan melalui pendidikan. Karena itu pendidikan sebaiknya berisikan program yang diarahkan untuk menyiapkan anak didik agar mampu menyerap teknologi yang selalu berubah. Program pendidikan terarah mendidik siswa selalu siap dengan perubahan-perubahan. Untuk membina fleksibilitas  ini maka perlu ditingkatkan kemampuan berpikir logis, kritis, berinisiatif, dan kreatif. Kesadaran dan skebijakan pentingnya pengembangan berpikir kreatif menjadi modal dasar untuk   melakukan inovasi  pada pendidikan IPA. Pengembangan kreativitas pada pendidikan IPA telah diterapkan dalam bentuk “Keterampilan Proses”, sesuai dengan definisi kreativitas oleh Torrence (1988). Conny Semiawan (1989) menyatakan bahwa pengembangan kreativitas anak didik dapat terlaksana jika dalam pembelajaran diterapkan keterampilan proses.

            Mengkaji tujuan pengajaran IPA untuk SD, SLTP, dan SMU, baik pada kurikulum  1975, 1984, maupun 1994, terlihat bahwa upaya menerapkan pendekatan keterampilan proses atau mengembangkan kemampuan siswa dalam menggunakan metode ilmiah telah dilakukan sedini mungkin, dan secara berkelanjutan, serta telah berlangsung selama dua puluh tahun.  Namun lamanya waktu yang telah dilewatkan sejak pencanangan pelaksanaan pendekatan keterampilan proses, tidak menjamin tercapainya keberhasilan yang diharapkan. Hasil-hasil penelitian yang dilakukan Muhamad Nur (1993) dan Ratna Wilis Dahar (1985) menunjukkan bahwa penguasaan siswa terhadap keterampilan proses belum utuh. Penerapan pendekatan keterampilan proses yang dilaksanakan sejak kurikulum 1975, 1984, sampai 1994, belum dapat meningkatkan minat dan motivasi siswa terhadap pelajaran IPA seperti diharapkan.             Penerapan pendekatan keterampilan proses dalam pembelajaran IPA tampaknya bukan sekedar masalah teknis metodologis saja, melainkan berkaitan dengan masalah yang lebih mendasar  yaitu sosial budaya dengan lebih khusus faktor psikologis anak. Karena itu perlu kiranya dilakukan inovasi dalam pembelajaran IPA untuk meningkatkan minat dan motivasi siswa terhadap IPA dengan mengembangkan tidak hanya berpikir logis dan analitis namun juga inisiatif dan kreatif.  

Rumusan Masalah    

Masalah penelitian dirumuskan sebagai berikut: (1) Secara keseluruhan, apakah ada perbedaan hasil belajar berupa keterampilan proses IPA antara siswa SLTP yang diajar dengan Teknik Pembelajaran Kreatif divergen dan mereka yang diajar dengan Teknik Pembelajaran Aktif konvergen?, (2) Apakah terdapat interaksi antara Teknik Pembelajaran dengan Kemampuan penalaran yang memberikan perbedaan pengaruh terhadap hasil  belajar IPA siswa SLTP?, (3) Untuk siswa yang berpenalaran operasi formal, apakah hasil belajar IPA siswa yang diajar dengan Teknik Pembelajaran Aktif konvergen lebih tinggi daripada siswa yang diajar dengan Teknik Pembelajaran Kreatif divergen?, (4)  Untuk siswa yang berpenalaran operasi konkrit, apakah hasil belajar IPA siswa yang diajar dengan Teknik Pembelajaran Kreatif divergen lebih tinggi daripada siswa yang diajar dengan Teknik Pembelajaran Aktif konvergen?

Tujuan

Tujuan dari penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui apakah ada perbedaan hasil belajar antara siswa SLTP yang diajar dengan tehnik pembelajaran kreatif divergen dengan tehnik pembelajaran aktif konvergen. (2) untuk mengetahui apakah ada interaksi antara teknik pembelajran kreatif dan kemampuan penalaran terhadap keterampilan proses IPA ManfaatPenelitian ini diharapkan bermanfaat bagi pelaksanaan pengembangan pembelajaran IPA untuk menumbuhkembangkan keterampilan proses dan dapat menjadi dasar dalam mengembangkan model-model pembelajaran yang berbasis keterampilan ilmiah 

Hipotesis 

           Berdasarkan diskripsi teoritis,  dan  kerangka  berpikir yang telah disajikan, maka hipotesis  penelitian  dirumuskan sebagai berikut: (1) secara keseluruhan hasil belajar berupa keterampilan proses IPA pada  siswa  yang  belajar dengan teknik kreatif-divergen lebih baik daripada siswa yang  belajar dengan teknik aktif-konvergen, (2) ada interaksi antara Teknik Pembelajaran Kreatif dan Kemampuan Penalaran terhadap hasil belajar siswa, berupa penguasaan keterampilan proses IPA, (3) bagi  siswa  berpenalaran  formal,  hasil belajar berupa keterampilan proses IPA pada  siswa  yang  belajar dengan teknik aktif-konvergen lebih baik dari-pada siswa yang  belajar dengan teknik kreatif-divergen, (4) bagi  siswa  berpenalaran konkrit,  hasil belajar berupa keterampilan proses IPA pada  siswa  yang  belajar dengan teknik kreatif-divergen lebih baik daripada siswa yang  belajar dengan teknik aktif-konvergen.  

METODOLOGI PENELITIAN

            Populasi dari penelitian ini adalah, siswa kelas 2 SLTP  Negeri 9 Tasikmalaya. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara berkelom-pok (cluster Sampling). Pertama pengacakan dilakukan terhadap sekolah tempat penelitian dilaksanakan. Pengacakan kedua dilakukan pada kelas yang digunakan untuk pelaksanaan perlakuan.  Satu kelas dilakukan perlakuan berupa pengajaran IPA dengan teknik pembe-lajaran kreatif-divergen, dan satu kelas lagi pengajaran IPA dengan teknik pembelajaran aktif-konvergen.

            Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen, yang dilaksanakan dengan menggunakan rancangan faktorial 2×2, dengan variabel-variabel bebas adalah  teknik pembelajaran dan kemampuan penalaran  siswa. Variabel terikat adalah hasil belajar berupa penguasaan keterampilan proses IPA.

            Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data terdiri dari dua buah instrumen, yaitu (1) Tes Hasil Belajar berupa kemampuan keterampilan proses IPA. Uji validitas isi dilakukan dengan mengacu kepada Kurikulum Pendidikan Dasar Tahun 1994 bidang Studi IPA. Penghitungan koefesien reliabilitas dilakukan dengan menggunakan rumus Kuder Richardson (KR-20) dengan hasil koefesien reliabilitas 0,71, dan (2) instrumen kedua berupa tes kemampuan penalaran Formal Siswa. Instrumen ini dikembangkan oleh Tobin & Capie (1991). Instrumen ini telah diuji kembali reliabilitasnya dengan menggunakan KR-20, dan menghasilkan r = 0,48 dan digunakan untuk memilah siswa ke dalam dua kelompok yaitu kelompok siswa berkemampuan penalaran formal, dan siswa berkemampuan penalaran konkrit. Teknik analisis data yang digunakan untuk pengujian hipotesis adalah ANAVA 2-jalan yang dilanjutkan dengan uji perbandingan ganda teknik Scheffé.

  

HASIL PENELITIAN DAN Pembahasan

Tabel 1  : Deskripsi Data Hasil Belajar

                 

Sumberstatistik  A-1  A-2  å
 B-1 ns 2026,403,21 1628,183,31 3627,193,33
 B-2  ns 2829,392,88 3024,334,25 5826,704,43
 å ns 4828,143,34 4625,604,33 9426,943,63

Keterangan:

A-1           = Kelompok siswa yang belajar IPA dengan teknik pembelajaran kreatif-divergen
A-2 = Kelompok siswa yang belajar IPA dengan teknik pembelajaran aktif-konvergen
B-1 =  Kelompok siswa berkemampuan pena-laran formal
B-2 =  Kelompok siswa berkemam-puan pena-laran konkrit
n =  Banyak sampel pada setiap kelompok
=  Rata-rata skor hasil belajar
s =  Standar deviasi

   

Pengujian hipotesis

            Pengujian hipotesis penelitian dilakukan dengan teknik analisis varian dua jalan, dan kemudian dilakukan uji lanjut dengan menggunakan uji Scheffé.  Hasil analisis varians disajikan pada tabel 2.    

Tabel 2. Daftar Anava Skor Hasil  Belajar  IPA

Sumber varians Jumlah kuadrat   ( KJ )    ( dk ) rata-ratakuadrat(MK) FHitung FTabel(a 5%)
Antar kolom(Tek. Pemb.)      63,74  1     63,74                             5,16*     3,92
Kolom dan baris(interaksi)    274,00  1    274,00   22,20ns     3,92
Dalam kelompok 1110,58 90     12,33    
Total 1453,02 93      

 * signifikanns non signifikan  Perbedaan hasil belajar IPA siswa yang belajar dengan Teknik Kreatif-divergen dengan Teknik aktif-konvergen.

Hasil perhitungan menunjuk-kan bahwa  Fo =  5,16  >  Ft  = 3,92  ini berarti  hipotesis nol pertama ditolak. Kesimpulan, secara keselu-ruhan terdapat perbedaan hasil belajar IPA antara kelompok siswa yang belajar dengan teknik kreatif-divergen dengan kelompok siswa yang belajar dengan teknik aktif-konvergen.

Ditinjau dari besarnya angka rata-rata skor hasil belajar IPA  siswa yang belajar dengan teknik kreatif-divergen  lebih besar ( A1 = 28,14) dibanding dengan siswa yang belajar dengan teknik aktif-konvergen ( A2  = 25 ,60).

Untuk meyakinkan hal ini maka dilakukan uji lanjut dengan cara Scheffe, ternyata hasilnya menunjukkan bahwa perbedaan angka tersebut signifikan. Dengan demikian hipotesis penelitian yang menyatakan, bahwa hasil belajar IPA berupa penguasaan keterampilan proses pada siswa yang belajar dengan teknik kreatif-divergen lebih baik daripada siswa yang belajar dengan teknik  aktif, teruji kebenaranya

  Interaksi antara teknik pembelajaran dan kemampuan penalaran terhadap hasil belajar IPA siswa SLTP

            Berdasarkan hasil perhitungan yang ditunjukkan pada tabel 2 bahwa  pada taraf kepercayaan  a = 0,05 harga F hitung lebih besar daripada F tabel (Fo = 22,20  > Ft  = 3,92)  ini berarti  hipotesis nol ketiga ditolak. Dengan demikian hipotesis penelitian yang menyatakan, bahwa ada interaksi antara Teknik Pembelajaran dan kemampuan penalaran terhadap hasil belajar siswa berupa penguasa-an keterampilan proses teruji kebenarannya.

            Jadi dapat disimpulkan bahwa terdapat interaksi antara teknik pembelajaran dengan kemampuan penalaran siswa yang memberikan perbedaan pengaruh terhadap hasil belajar berupa keterampilan proses IPA siswa. Dengan terbuktinya secara signifikan interaksi tersebut, maka dilakukan uji lanjut dengan menggunakan Uji Scheffé.

            Hasil perhitungan uji lanjut analisis varian dengan menggunakan teknik Scheffé untuk kelompok yang dibandingkan, disajikan pada tabel 3.

  

Tabel 3. Hasil Uji Lanjut Analisis Varians dengan Teknik Scheffe

Perbandingan

Rerata Kelompok

F  hitung

1 dengan 2

2,28 ns

3 dengan 4

28,76*

7 dengan 8

12,76*

 Catatan alfa = 5% Keterangan: 

1 = Kelompok siswa berkemampuan penalaran operasi formal yang belajar IPA dengan teknik pembelajaran kreatif-divergen
2 = Kelompok siswa berkemampuan penalaran operasi formal yang belajar IPA dengan teknik pembelajaran aktif-konvergen
3 = Kelompok siswa berkemampuan penalaran operasi konkrit yang belajar IPA dengan teknik pembelajaran kreatif-divergen
4 = Kelompok siswa berkemampuan penalaran operasi konkrit yang belajar IPA dengan teknik pembelajaran aktif-konvergen
7 = Kelompok siswa yang belajar IPA dengan teknik pembelajaran kreatif-divergen secara keseluruhan
8 = Kelompok siswa yang belajar IPA dengan teknik pembelajaran kreatif-divergen secara keseluruhan

Perbedaan hasil belajar IPA antara siswa yang diajar dengan teknik kreatif-divergen dan teknik aktif-konvergen untuk kelompok siswa berpenalaran formal

            Tabel 3 di atas menunjukkan bahwa harga F-hitung untuk perbandingan antara kelompok siswa berkemampuan penalaran operasi formal yang belajar IPA dengan teknik pembelajaran kreatif-divergen dan aktif-konvergen lebih kecil dibandingkan F-tabel ( Fo = 2,28 < F’ = 8,84 ). Dengan demikian, Ho diterima yaitu bahwa untuk siswa berpenalaran formal tidak ada perbedaan pengaruh antara mereka yang diajar dengan teknik pembelajaran kreatif-divergen dan aktif-konvergen. Hal ini memberikan arti bahwa hasil belajar IPA kelompok  siswa berkemampuan penalaran tingkat formal yang belajar dengan teknik kreatif-divergen (Kel.1) sama dengan kelompok siswa berkemampuan penalaran tingkat formal yang belajar dengan teknik aktif-konvergen (Kel. 2).

 Perbedaan hasil belajar IPA antara siswa yang diajar dengan teknik kreatif-divergen dan teknik aktif-konvergen untuk kelompok siswa berpenalaran konkrit.

            Berdasarkan hasil uji lanjut dengan cara Scheffe di atas terlihat bahwa harga F-hitung untuk perbandingan antara kelompok siswa berke-mampuan penalaran operasi konkrit yang belajar IPA dengan teknik pem-belajaran kreatif-divergen dan aktif-konvergen lebih besar dibandingkan F-tabel ( Fo = 28,76 > F’ = 8,84 ). Dengan demikian, Ho ditolak dan menerima H1 yaitu bahwa untuk siswa berpenalaran  konkrit, pengaruh teknik pembelajaran kreativ-divergen lebih tinggi secara signifikan daripada teknik pembelajaran aktif-konvergen. Hal ini memberikan arti bahwa hasil belajar kelompok  siswa berkemam-puan penalaran tingkat kongkrit yang belajar dengan teknik kreatif-divergen   ( Kel. 3), berbeda secara signifikan dengan siswa berkemampuan pena-laran tingkat kongkrit yang belajar dengan teknik aktif-konvergen (Kel.4). Rata-rata hasil belajar kelompok siswa berkemampuan penalaran tingkat kongkrit yang belajar dengan teknik kreatif-divergen (  = 29,39) lebih baik daripada kelompok siswa berkemampuan penalaran tingkat kongkrit yang belajar dengan teknik aktif-konvergen (  = 24,33 ).

Pembahasan

            Hasil-hasil yang diperoleh dari penelitian ini memberikan manfaat bagi pelaksanaan pengembangan pembelajaran IPA untuk menumbuhkembangkan keterampilan proses. Ada beberapa aspek yang dibahas berkaitan dengan hasil penelitian.

            Pertama, perancangan dan pengembangan  pembelajaran  IPA harus sampai pada tingkatan yang dapat menjamin terjadinya proses belajar mengajar yang dapat meningkatkan minat dan kemampuan siswa, sesuai dengan karakteristik siswa. Agar dapat mencapai maksud tersebut proses perancangan harus dilakukan secara berencana dan sistematis. Rancangan pembelajaran IPA yang bertujuan mengembangkan keterampilan proses siswa, harus berorientasi dan dirancang berdasarkan keterampilan berpikir ilmiah. Langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam merancang pembelajaran IPA yang mengembangkan keteram-pilan proses adalah: a) mengidentifikasi sifat-sifat keterampilan proses yang akan diajarkan, b) merencanakan pembelajaran keterampilan proses,  c) menyediakan media atau alat yang dibutuhkan  dan d) mengintegrasikan pembelajaran keterampilan proses dengan materi IPA.

            Dari keempat langkah tersebut di atas, langkah pertama adalah langkah terpenting yang sering terlupakan oleh guru. Kegiatan mengidentifikasikan sifat-sifat keterampilan proses yang akan diajarkan adalah kegiatan yang menentukan langkah selanjutnya, yang pada akhirnya menentukan hasil yang akan diperoleh.

            Kegiatan mengidentifikasikan sifat-sifat keterampilan proses yang akan diajarkan, diawali dengan memilih keterampilan proses yang akan diajarkan,  menentukan apa yang “dibutuhkan” untuk menguasai beberapa keterampilan proses yang akan diajarkan, kemudian melakukan analisis reflektif terhadap sifat-sifat keterampilan proses yang akan diajarkan, dan akhir kegiatan ini menentukan sifat kunci dari keterampilan proses yang akan diajarkan tersebut.

            Temuan yang menunjukkan bahwa terjadi interaksi antara teknik pembelajaran dan kemampuan penalaran siswa membawa implikasi bah-wa dalam pengembangkan pembelajaran IPA, faktor karateristik siswa harus menjadi pijakan pengembangan. Pembelajaran bukan hanya mentransfer konsep. Sejak lahir siswa telah berinteraksi dengan lingkungan dan alam sekitar, sehingga pada dirinya telah terbentuk berbagai persepsi tentang berbagai hal. Pembelajaran IPA harus dimulai dari persepsi siswa menuju kepada pembentukan konsep, prinsip, dan teori yang benar menurut IPA.

            Sesuai dengan perkembangan penalaran dan mental manusia, maka teknik pembelajaran IPA harus beroperasi dan berjenjang. Ada tiga tahapan yang diajukan, yakni tahap fenomenologis pada usia muda, tahap analitis pada usia remaja akhir dan awal dewasa, dan ketiga tahap abstraksi pada usia dewasa.

            Pembelajaran IPA sebaiknya diawali dengan penyajian fenomenologis dari gejala alam yang menimbulkan gairah rasa ingin tahu. Penyajian ini dapat melalui peragaan atau pengamatan kejadian alam seharihari. Kegiatan semacam ini dalam pendidikan ilmu pengetahuan alam sering dinamakan “discrepant events” atau “puzzlers and problems”.

             Berbeda dengan penyajian fenomenologis dimana gejala fisika ditanggapi secara induktif, maka pembelajaran IPA pada tahap analitik menuntut tanggapan yang aktif, kritis, deduktif, dan analitik. Pembelajaran IPA pada tahap analitik misalnya dilaksanakan dengan praktikum-praktikum dengan media lembar kerja siswa (LKS), disamping dengan membahas soal-soal atau pemahaman-pemahaman.

            Tahap ketiga dalam pembela-jaran IPA adalah tahap abstraksi yang berkaitan dengan kemampuan penalaran seseorang. Tahap ini hanya mungkin diterapkan setelah peserta didik mempunyai cukup kemampuan analitik dalam menelaah gejala alam. Dalam tahap abstraksi, orang menciptakan model untuk menerangkan gejala fisis yang dihadapinya, dan selanjutnya model ini diterjemahkan pada konsep abstrak yang diuji kebenarannya dengan suatu eksperimen yang direncanakan secara logis dan sistematis.

            Kedua, peranan guru dalam pembelajaran IPA harus dikembangkan bahkan ada kebiasaan guru yang harus dirubah. Guru hendaknya mengusahakan suatu lingkungan belajar sesuai dengan perkembangan mental dan penalaran siswa. Sehubungan dengan itu guru hendaknya lebih berfungsi sebagai fasilitator belajar daripada sebagai instruktor (pengajar) atau director (pengarah) yang menentukan segalanya.

            Guru harus lebih banyak memberikan tantangan daripada tekanan. Tantangan memberikan siswa kesempatan memperoleh kepercayaan terhadap kemampuan-kemampuannya untuk berpikir, menganalisa, dan bertindak. Cara yang termudah agar siswa merasa tertantang adalah dengan mengajukan pertanyaan. Melalui kegiatan bertanya siswa akan berlatih menyampaikan gagasan, dan memberikan respon yang relevan terhadap suatu masalah yang dimunculkan.

            Guru lebih memperhatikan pro-ses IPA daripada produk IPA. Pembelajar IPA yang utuh adalah pembelajaran IPA yang mencakup tiga hakikat IPA, yaitu produk, proses, dan nilai (sikap). Ketiga aspek IPA itu dikembangkan dengan mempertimbangkan keseimbangan segi-segi teoritis dan praktis. Konsep, teori, dan hukum seharusnya tidak diajarkan pada siswa sebagai suatu pengeta-huan yang sudah jadi, melaikan perlu selalu diusahakan agar para siswa juga belajar bagaimana mendapat pengetahuan itu.

            Guru hendaknya dapat menciptakan suasana di dalam kelas yang menunjang rasa harga diri siswa, sehingga merasa aman dan berani mengambil resiko dalam menentukan pendapat dan keputusannya.

            Ketiga, sistem evaluasi pembe-lajaran IPA. Aspek terpenting yang berkaitan dengan teknik pembelajaran IPA adalah sistem evaluasi yang digunakan. Sistem evaluasi yang dilakukan guru sangat menentukan pola belajar siswa. Jika dalam evaluasi yang ditanyakan hanya hapalan, jangan mengharapkan bahwa siswa akan mempelajari di luar hapalan. Jika guru tak pernah mengevaluasi kemampuan keterampilan proses, wajar mereka enggan atau tak suka mempelajari atau melakukannya. Jika evaluasi pembelajaran IPA selalu berupa soal-soal yang mengutamakan perhitungan matematik, maka wajar mereka tertarik belajar soal-soal dan penyelesaiannya, tanpa belajar memahami konsepnya lebih dulu.

            Sistem evaluasi yang ada sekarang perlu dikembangkan sesuai dengan teknik pembelajaran yang selaras dengan tujuan pendidikan IPA itu sendiri. Pengembangan pertama yang terpenting adalah bahwa evaluasi pembelajaran IPA tidak cukup hanya mengevaluasi aspek produk IPA yang berupa pemahaman ter-hadap konsep, prinsip, teori, dan hukum IPA saja. Evaluasi pem-belajaran IPA hendaknya mencakup ketiga aspek yang ada pada IPA yaitu produk, proses, dan sikap.

  SIMPULAN DAN SARAN 

Simpulan

          Berdasarkan perolehan data, pengujian hipotesis, dan pembahasan hasil penelitian, maka dapat disimpulan sebagai berikut: (1) Teknik pembelajaran yang diterapkan dalam proses belajar mengajar IPA di SLTP N 9 Tasikmalaya pada penelitian ini, mempengaruhi hasil belajar yang berupa penguasaan keterampilan proses. Penerapan teknik pembelajaran kreatif-divergen memberikan hasil belajar IPA lebih tinggi, dibandingkan dengan penerapan teknik pembelajaran aktif-konvergen.  (2) Terdapat interaksi antara teknik pembelajaran dan kemampuan penalaran  siswa yang memberikan pengaruh yang berbeda terhadap hasil belajar IPA berupa keterampilan proses. (3) Hasil analisis data menunjukkan bahwa, bagi siswa berpenalaran operasi formal, teknik pembelajaran kreatif-divergen menghasilkan perolehan belajar IPA yang sama dengan teknik pembelajaran aktif-konvergen. (4) Bagi siswa Bagi siswa berpenalaran operasi konkrit, teknik pembelajaran kreatif-divergen menghasilkan perolehan belajar yang lebih baik daripada teknik pembelajaran aktif.

Saran            Berdasarkan hasil temuan, pembahasan, dan keterbatasan yang ada pada penelitian ini, maka dapat dikemukakan beberapa saran sebagai berikut:

            Pertama,  saran pada guru. Para guru SLTP disarankan melakukan pengembangan berpikir kreatif (divergen) bagi siswa-siswanya, baik berupa program khusus yang terpisah dengan mata pelajaran, maupun terintegrasi dengan setiap mata pelajaran.  Program khusus yang terpisah dengan mata pelajaran dapat berupa bagian dari kegiatan ekstrakurikuler yang telah ada, atau merupakan salah satu kegiatan ekstrakurikuler baru yang sengaja diselenggarakan. Program kegiatan pengembangan berpikir kreatif berupa bagian dari kegiatan ekstrakurikurel misalnya menyatu dengan kegiatan pramuka, atau PMR (Palang Merah Remaja).  Pengembangan berpikir kreatif dapat pula berupa kegiatan ekstra-kurikurel tersendiri, misalnya berupa forum diskusi, forum curah pendapat, atau latihan kepemimpinan.  Jika pihak sekolah belum siap untuk melakukan kegiatan pengembangan berpikir kreatif secara terpisah, maka minimum para guru melakukannya pada mata pelajaran yang diampunya masing-masing. Para guru IPA mempunyai kewajiban untuk mempeloporinya.

            Berkaitan dengan tujuan pengembangan berpikir kreatif para guru disarankan mulai melakukan perubahan sikap dan pandangan pada siswa. Guru perlu bertindak sebagai fasilitator daripada sebagai pengarah atau instruktor. Guru perlu memandang siswa sebagai individu yang mempunyai otonomi berpikir sendiri, berhak berpendapat, menyampaikan ide, bahkan menolak ide guru.

            Dalam menunjang berkembangnya berpikir kreatif bentuk evaluasi yang digunakan guru tidak boleh selalu dan hanya bentuk tes pilihan ganda. Bentuk tes harus sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Evaluasi tidak hanya diperlakukan sebagai penilaian, namun harus lebih berfungsi sebagai umpan balik terhadap perbaikan dan penyempurnaan kemampuan sisiwa.

            Kedua, saran untuk para ahli dan peneliti pendidikan IPA

            Hasil penelitian yang memberikan indikasi bahwa latihan berpikir divergen mempunyai pengaruh terhadap penguasaan keterampilan proses siswa, dapat dijadikan informasi empirik guna melakukan inovasi baru dalam pengembangan pembelajaran IPA. Para ahli pendidikan IPA disa-rankan mendesain dan mengembangkan pembelajaran IPA yang khusus mengembangkan keterampilan berpikir divergen.

            Berpijak dari hasil penelitian yang diperoleh, dan keterbatasan yang ada pada penelitian ini, maka penelitian lanjut yang disarankan pada peneliti pendidikan IPA adalah dilakukannya reflikasi penelitian dengan subyek penelitian tidak hanya siswa SLTP, tetapi juga dengan siswa SMU. Hal ini dilakukan guna meneliti perbedaan nyata pengaruh kemam-puan penalaran operasi konkrit dan formal terhadap penguasaan keterampilan proses.

   
DAFTAR PUSTAKA Dahar, Ratna Wilis. (1989). Teori belajar.  Jakarta: Erlangga. Nur, Mohamad. (1991). Pengadaptasian Test Of Logical Thinking (TOLT) dalam seting Indonesia. Laporan Penelitian. Pusat Penelitian IKIP Surabaya. 1991.Semiawan, Conny. (1992). Pengembangan kurikulum berdiferensiasi. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana.Semiawan, Conny. (1987). Memupuk bakat dan kreativitas siswa sekolah menengah  Jakarta: PT Gramedia.Semiawan, Conny. (1996). Perspektif pendidikan anak berbakat. Jakarta Dikti Depdikbud, Proyek Pendidikan Tenaga Guru.Sudjana. (1989). Metoda statistika. Bandung: Tarsito.

Sudjana. (1994). Desain dan analisis eksperi-men. Bandung.

  


 

Kisah di balik Pembuatan Film Ayat-Ayat Cinta

KISAH DI BALIK LAYAR AAC I  Nov 29, ’07 2:39 PM  

  Aku mulai sadar bahwa tidak mudah membuat film agama. Itulah kenapa ibuku dulu berpesan kalau kamu sudah bisa membuat film, buatlah film tentang agamamu: Islam. Awalnya aku cuma tersenyum mendengar kata-kata ibuku. Senyum yang menyangsikan. Sebab pada waktu itu buatku film agama tidak lebih dari sekedar petuah-petuah yang membosankan. Lelaki berpeci dengan baju koko, bertasbih, kadang berewokan, mulutnya nerocos soal ayat dengan cara menghadap kamera. Membuat dirinya tampak suci dengan mengumbar ayat-ayat Quran. Ah, tidak terbayang olehku sebuah film agama. Tapi aku tidak begitu saja lantas menyerah. Aku coba berangkat dari apa yang aku kenal: Muhammadiyah. Lalu merentet ke sebuah nama: Ahmad Dahlan. Hmm, aku memang menyukai film yang mengangkat satu tokoh: Gandhi, Erin Brokovich, Henry V, Shakespeare, Baghad Sigh, Malcom X, dan mungkin juga nanti Sukarno (kalau memang jadi difilmkan oleh Hollywood). Film yang mengangkat tokoh bisa membuat penonton bercermin. Dan Agama adalah cermin bagi manusia untuk senantiasa melihat kembali dirinya: Kotor atau bersih?

    Lalu aku membuat proposal Ahmad Dahlan untuk aku tawarkan ke PP Muhammadiyah. Ditolak! Muhammadiyah tidak ada uang, katanya  . Aku cuma bengong saja. Tidak ada uang? Kataku dalam hati. Ah, sudahlah. Mungkin waktu itu aku belom dipercaya. maklum masih kuliah di IKJ semester Akhir.

Lalu kutinggalkan itikadku membuat film Agama. Aku terjun membuat film Cinta: Brownies, Catatan Akhir Sekolah, Jomblo, dsb … dsb … Tapi aku tetap yakin bahwa suatu saat akan datang masa aku membuat film tentang agama.

    Alhamdulillah, benar. MD Entertainment menawari membuat Film Ayat-Ayat Cinta (AAC).

    ‘Kenapa anda membuat film ini?’ Tanyaku

    ‘Sederhana. Pertama, Ini film dari Novel best seller. Kedua, penduduk indonesia 80 persen muslim. Kenapa saya tidak membuat film tentang mereka? Kalau saya minta 1 persen dari 80 persen masak tidak bisa.’    1% dari 80% penduduk muslim Indonesia berarti sekitar 2 juta penonton. dikalikan 10 ribu per tiket. Berarti pendapatan kotor 20 milyar. Kalau bujet produksinya 10 milyar, keuntungan yang didapat 10 milyar.    Aku jadi berfikir, kenapa Muhammadiyah tidak berfikiran begitu ya? Kalau cuma mengumpulkan 2 juta penonton, masa Muhammadiyah tidak sanggup? Bukankah dari 80% tersebut 40% adalah warga Muhammadiyah? Ah, dasar stupid pikirku. Banyak orang Islam tidfak berfikir luas seperti orang-orang Yahudi. Oleh sebab itu Islam selalu dimarjinalkan, mudah diadu domba, dibohongi … diakali.    Lalu aku mulai memasuki tahap persiapan dan riset.

    Wallohu … Aku melihat islam dari dekat sekali. Sangat dekat. Di Kairo, aku menatap Menara Azhar, aku menyentuh dinding dan lantai Azhar university, aku mencium bau apek baju-baju dan karpet mahasiswa Alzhar tetapi memiliki roman muka bersih dan santun. Aku melihat keikhlasan mereka saat bersujud diatas sajadah buluk. Bibir mereka pecah-pecah oleh panas sekaligus dingin hawa Kairo, tetapi dibalik bibir pecah itu terlantun dzikir panjang menyebut: Alloh … Alloh …

    Lalu aku melihat seorang syaih duduk bersila dihadapan murid-muridnya. ‘Tallaqi’ mereka menyebutnya. Aku mendengar seorang melantunkan ayat-ayat Al quran di sudut masjid. Dan juga di pinggiran jalan. Seolah quran bagaikan bacaan novel. Allohu Akbar … Allohu Akbar. Inikah caramu membuatku dekat dengan agamaku, Ibu?

    Darahku menggelora membuat mataku terbelalak. Islam sangat indah. Islam sangat eksotis. Tapi orang-orang islam seperti tidak mengerti semua itu. Orang-orang Islam di Jakarta lebih memilih jalan-jalan ke eropa daripada ke Kairo.    ‘Saya akan membuat film ini eksotis, pak’ begitu kata saya ke producer.

    Dan mulailah persiapan dimulai. Semangatku menggelora. Aku baca buku-buku tentang Fiqih dan sunnah. Aku libatkan mahasiswa Al Azhar untuk mendampingiku. Aku sangat hati-hati sekali melakukan ini agar apa yang tertulis dalam novel dengan indah pula tersampaikan lewat gambar. Sebuah film yang lembut, yang indah, yang suci tergambar di depan mataku dan aku yakin sekali bisa mewujudkannya.

    Namun semua impianku itu tidak begitu saja mudah diwujudkan.

    Pertama kali berita tentang pembuatan film AAC tersebar, halangan pertama datang justru dari pembaca. Diantara banyak yang berharap, mereka juga menyangsikan, sinis, dan mencemooh. Bahkan ada yang bilang : ‘Wah, sayang sekali novel sebagus ini akan difilmkan. Jadi ill Feel, deh’. ada juga yang bilang ‘Tidak pernah aku lihat Novel yang di filmkan hasilnya bagus, sekalipun Harry Potter. Apalagi ini.’    Pada suatu hari ada sekelompok orang datang ke kantor MD, mereka bilang dari organisasi Islam. Mereka datang dengan membawa seorang lelaki berwajah putih dan seorang gadis berjilbab. Mereka bilang …    ‘Ini calon pemain Fahri dan ini calon pemain Aisha’ sambil menunjuk ke lelaki berwajah putih dan gadis berjilbab itu.    ‘Kami dari organisasi Islam’ lanjutnya ‘Kami sangat concern terhadap dakwah islamiah. Kami tidak ingin film Ayat-Ayat Cinta melenceng dari novel dan ajaran Islam. Kang Abik (Nama panggilan Habiburrahman El Shirasy) sudah tahu tentang ini.’    Kami hanya saling pandang dan tersenyum. Aku … malu sekali.    Tentu saja kami menolaknya. Kami tahu bahwa film ini harus dibuat dengan hati-hati sekali. Kami juga tidak begitu saja memilih pemain hanya semata-mata ganteng dan ‘menjual’. Karena itu kami menggandeng ketua PP Muhammadiyah Din Syamsudin sebagai penasehat kami.    Sebelum aku melakukan casting, aku berdiskusi dulu dengan kang Abik. Kang abik sangat concern dengan sosok Fahri. Dia harus turut serta memilih tokoh Fahri. Semula kami membuka casting di pesantren-pesantren. Tetapi hasilnya Nol. Bukan berarti para santri tidak ada yang ganteng dan pintar seperti fahri. Tetapi banyak diantara mereka sudah menganggap ‘Film’ adalah produk sekuler. Oleh sebab itu banyak diantara mereka tidak mau ikut casting. Saya pernah membaca satu hadist, jangankan membuat film, menggambar manusia saja hukumnya Haram. Nanti di Neraka hasil gambar yang kita buat harus kita hidupkan. Kalau tidak bisa, Malaikat Jibril akan mencambuk kita dengan cambuk api.    Kami melakukan casting lebih dari 5 bulan. Semua yang ikut casting adalah pemain-pemain terkenal. Tapi diantara mereka banyak terjebak pada tuntutan atas ‘Kesucian Fahri’. Banyak diantara mereka beracting ‘sok suci’ dengan melantunkan ayat-ayat dan menyebut asma Alloh dengan berlebihan, mirip seperti ustadz-ustadz di TV-TV. Pernah aku menemukan seorang yang menurutku pas bermain sebagai Fahri. Tetapi lelaki itu tidak beragama Islam. Kang Abik tidak setuju. Lalu ditengah keputusasaan kami datang seorang lelaki. Ganteng, tetapi tidak sombong (tidak merasa dirinya ganteng). Sering kita lihat di Mal-Mal, banyak lelaki pesolek, sadar sekali bahwa dirinya ganteng. Tetapi lelaki ini tidak . Dia sangat santun. Bahasanya pun santun. Ketika berucap Alloh, dia agak-agak canggung. Bahkan tidak fasih seperti ustadz. Pada saat dia sholat aku melihat gerakannya jauh dari sempurna. Tetapi lelaki itu punya mata yang didalamnya mengandung semangat belajar. Dia adalah Fedi Nuril. Aku berdiskusi dengan kang Abik. Terjadi tarik ulur dan perdebatan panjang. Akhirnya kita sepakat memutuskan dia yang main sebagai Fahri. Alasanku adalah, Fahri bukan lelaki sempurna. Tapi yang membuat Fahri tampak sempurna karena dia sadar bahwa dirinya tidak sempurna. Keputusan Fedi Nuril sebagai Fahripun mengundang banyak kesangsian di kalangan pembaca fanatik AAC, terutama di Malaysia. Karena film Fedi Nuril sebelumnya menampilkan Fedi ciuman dengan perempuan bukan muhrim. Fedi pun mengakui itu. Yang membuat aku terharu, Fedi menganggap film AAC sebagai media dia buat dekat dengan Islam. Belajar kembali tentang Islam. Karena film ini, Fedi jadi rajin membuka-buka lagi buku tentang Islam. Bahkan Fedi menyadari segala tingkah lakunya yang tidak Islami selama ini setelah memerankan Fahri. Sungguh, baru kali ini aku rasakan dampak film yang begitu besar mempengaruhi keimanan seseorang. Terima kasih kang abik. terima kasih Ibu.    Pada saat kami mencari sosok Aisha dan Maria, semula kami bersepakat untuk mencari pemain Mesir. Tetapi setelah kami melakukan riset disana, sangat mengagetkan. Perempuan-perempuan Mesir lebih tua dari umurnya. Aku mengcasting seorang perempuan mesir bernama Roughda untuk berperan sebagai Aisha. Tidak hanya cantik, tetapi mainnya luar biasa. Tetapi setelah di sejajarkan dengan Fahri, terlihat Roughda lebih pas sebagai kakaknya daripada isteri Fahri. Padahal umurnya lebih muda 3 tahun dari Fedi Nuril. Lalu kami mencari pemain dengan umur 8 tahun lebih muda dari Fedi. Pada saat kami sejajarkan, sangat pas. Tetapi disaat dia berdialog tentang perkawinan, tidak bisa dipungkiri ‘kedewasaannya’ tidak tampak. Alias belum matang. Kami bingung dan akhirnya kami sepakat untuk mencari pemain indonesia saja.

    Tidak gampang mencari pemain indonesia yang cantik sekaligus solihah. Pak Din Syamsudin berpesan kalau bisa pemain Aisha kesehariannya ber jilbab. Lihatlah siapa artis kita yang bertampang Bule yang seperti itu. Hanya Zaskia Meca saja yang berjilbab dan cantik. Selebihnya tidak ada. Sementara itu Zascia tidak bertampang bule. Dia sangat sunda. Pernah kita meng casting Nadine Candrawinata. Dia sangat cantik dan bermain bagus. Dangat cocok pula berdampingan dengan Fedi Nuril. Tapi Nadine bukan Muslim. Padahal Nadine sudah mau bermain sebagai perempuan Muslim. Aku pernah berdiskusi panjang dengan kang abik soal itu. Aku bilang padanya …

    ‘Suatu hal yang unik, ketika tokoh Maria yang kristen dimainkan oleh seorang muslim, sementara tokoh Aisha yang Islam dimainkan seorang kristen. Ini akan memperlihatkan sikap toleransi dan demokratisasi dalam Islam seperti di India.’

    Tetapi kang abik dan pak Din Syamsudin menyarankan untuk jangan bertaruh terlalu besar di film ini. Masyarakat Islam di Indonesia berbeda dengan India. Di India, masyarakat moslem dan  Non Moslem sudah terdidik tingkat kedewasaan dalam toleransi, sementara di Indonesia belum. Akhirnya dipilihlah Ryanti sebagai Aisha dan Carrisa Putri sebagai Maria.

    Ketiga pemain itu dikursuskan bahasa arab secara privat untuk mendalami kehidupan Muslim di kairo. Mereka sangat antusias. Namun antusiasme itu harus berhadapan dengan kenyataan bahwa mereka juga punya kesibukan lainnya. Ryanti sebagai VJ di MTV dan Carrisa bermain sinetron. Ryanti yang bagiku sangat keteter ketika berperan sebagai Aisha. Asiha adalah sosok yang memiliki beban berat. Sementara Ryanti sebagai VJ MTV harus selalu tampak riang dan ringan. Sering sekali benturan itu membuat proses pendalaman karakter tidak sempurna. Aku frustasi sendiri. Tetapi aku ingat, bahwa di Film ini kesabaranku benar-benar di uji. Impianku mewujudkan keindahan dan kedalaman Islam terbentur oleh kenyataan sebaliknya: Ringan, Riang, Hedonistik dan Pop. Apalagi ketika producer tiba-tiba berubah pikiran melihat kenyataan penonton Film Indonesia banyak di dominasi anak-anak muda yang pop, ringan dan tidak menyukai hal-hal bersifat perenungan. Dia lantas ingin mengubah karakterr film AAC menjadi sangat pop seperti Kuch Kuch Hotahai … Tuhanku! Tuhanku! selamatkan film ini …

    Tidak jarang aku berperang mulut dengan producerku ketika meminta adegan Talaqi dibuang. Karena boring dan membuat penonton mengantuk. Lalu beberapa adegan yang bersifat perenungan, seperti pada saat Fahri dipenjara dan menemukan hakikat kesabaran dan keikhlasan dari seorang penghuni penjara yang absurd (dalam novel digambarkan sebagai seorang professor agama bernama Abdul Rauf), Tetapi di Film saya adaptasi sebagai sosok imajinatif, bergaya liar, bermuka buruk tetapi memiliki hati bersih dan suara yang sangat tajam melafatskan kebenaran. Semua adegan itu diminta untuk dibuang atau dikurangi dan lebih mementingkan adegan romans seperti AADC ataupun Kuch Kuch Hotahai …

    Sabar … Sabar … Ikhlas … ikhlas!!!

    begitulah yang aku dapatkan di film ini. Film ini tidak hanya mampu merobah pandanganku tentang Film. Film ini mampu dan sudah merobah pandangan hidupku: tentang agama, kesetiaan, kerjakeras, komitmen, dan … cinta. Berkali-kali aku berucap syukur yang besar kepada Tuhanku yang sudah memberikan aku jalan menuju kedewasaan. Berkali-kali aku berucap terima kasih kepada Kang Abik yang sudah secara tak langsung mempercayaiku menyutradarai film ini, dimana telah membuatku kembali merasa dekat dengan Islam yang indah, bersahaja dan penuh dengan toleransi. Dan terakhir, berkali-kali aku berucap syukur kepada Ibuku yang telah berpesan untuk membuat film tentang agama. Sekarang aku mengerti, kenapa Kau berpesan begitu Ibu. Tidak lain hanyalah untuk membuatku selalu dekat dengan Islam …

    La haula wa kuwwata illa billahi …

                         KISAH DI BALIK LAYAR AAC II Nov 29, ’07 2:46 PM  

    Kairo adalah kota dimana manusia-manusia Fahri, Aisha, Maria, Noura, Nurul, dan segudang manusia-manusia ciptaan Kang Abik bertebaran, hidup, saling bicara dan saling mencinta. Kairo sangat indah kata kang Abik. Sudut-sudut pasar El Khalili, jalanan di Down Town, Menara-menara masjid termasuk didalamnya Masjid Al Azhar dan University of Azhar Cairo. Sangat detil kang Abik menggambarkan itu dalam novelnya, yang membuat aku tertantang untuk mewujudkan dalam gambar: Bangunan-bangunan tua peninggalan 3 Dinasti (Firaun, kesultanan dan Penjajah Perancis), Kios-kios berdempetan berhadapan dengan trotoar-trotoar sempit yang penuh dengan pejalan kaki, terkadang diisi kursi-kursi rotan café pinggir jalan yang meletakkan seorang tua sedang menyedot shisa. Lalu 5 jam dari tempat itu, menuju matahari terbit, kita melihat kampung tua El Giza dengan aroma kotoran unta yang … hmmm, sekilas menjijikkan, tetapi … tertutup oleh eksotisnya lingkungan khas kairo. Bangunan  itu berdiri dari tumpukan bata-bata merah yang dipoles campuran semen dan pasir. Menjadikan warna coklat muda dominan, berpadu selaras dengan warna tanah, warna kain-kain yang dipakai membalut tubuh gadis-gadis kairo, dan warna kulit unta. Bangunan itu ada banyak. Bertebaran. Saling berdiri begitu saja. Tidak begitu rapi seperti bangunan-bangunan kuno di Itali atau paris, tapi sangat menarik bagiku. Apalagi dengan latar belakang sepasang pyramid yang gagah menjulang menyentuh langit.

Kairo … ah, Kairo. Di kota ini aku akan meletakkan kamera, melukis dengan cahaya, membangun set dan meletakkan pemain-pemain didalamnya. Pemain Indonesia yang bergaya selayaknya orang kairo asli.

    Aku datang bersama tim kecil, menjalin kerjasama dengan local production house, Egypt Production. Mereka sangat senang menyambut kedatangan kami.  Kata mereka, tidak mudah membuat film di kairo. Skenario film harus dapat ijin dari sensor film. Tidak seperti di Indonesia. Bisa dengan gampang membuat film apa aja. Karena waktu yang kita punya sangat sempit, ijin yang seharusnya 3 bulan, bisa diurus dalam 2 minggu oleh seorang local producer bernama Tammer Abbas; seorang muslim kairo, cerdas, berpengalaman di bidang film dan kharismatis. Tammer mem-provide apa yang kita butuhkan: Hunting Lokasi, akomodasi dan transportasi hingga penyewaan alat. Di benankku, sedemikian jelas tergambar film ini akan sedetil seperti yang kang abik tuliskan di novel.

    Setelah riset selesai dan scenario jadi, 20 tim dari Jakarta datang untuk melakukan hunting lokasi sekaligus test kamera. Kami melakukan shooting di sebuah tempat di El Giza. Alat-alat yang di sediakan buat kami jauh lebih bagus dari yang sering kita pakai di Indonesia. Kami sangat di support disana. Kami melakukan persiapan di kairo selama 2 minggu. Tammer akan mensupport semua shooting di Kairo berikut kostum, lokasi, crew dan pemain pendukung. Film ini benar-benar akan menjadi film Indonesia yang shooting total di Luar Negeri. Baru pertama kali terjadi dalam sejarah perkembangan film nasional. Bisa dibayangkan, bagaimana perasaanku waktu itu. Ibu, aku akan persembahkan yang terbaik buatmu … sebuah film agama yang indah dan bersahaja. Yang akan kau kenang … dan semua umat muslim Indonesia dan dunia tentunya …

    `Mendadak semua berhenti begitu saja. Impian itu kandas. Producer membatalkan shooting di Kairo dengan alasan bujet produksi yang ditawarkan Egypt Production tidak masuk akal. Tammer Abbas menawarkan angka 3 kali lipat produksi standart Film Indonesia. 1 Film AAC di produksi sama saja memproduksi 3 film layar lebar di Jakarta. Siapapun producer di negeri ini akan berfikiran sama: Membatalkan produksi Film.

    Seakan runtuh bangunan  mimpi yang sudah aku bangun. Satu persatu menimpaku.

    Tapi producerku tidak begitu saja berniat membatalkan produksi film ini.

    ‘Kita sudah terlanjur berjanji dengan banyak orang.’ Katanya …

    Bersama-sama kita mulai memikirkan bagaimana AAC bisa diproduksi sesuai dengan apa yang kita inginkan. Kemudian kita mencari sponsor untuk bisa tetap shooting di Kairo. Kita menjalin kerjasama dengan The Embassy of Egypt di Jakarta. Lewat hubungan baik dengan ketua PP Muhammadiyah Din Syamsudin, mereka setuju dengan tawaran ini. Kata Dubesnya, Film ini akan dikelola oleh dua Negara: Indonesia dan mesir. Sebelum di putar di bioskop, film ini harus diputar dihadapan presiden Negara-Negara Islam di Asia dan Timur Tengah, begitu kata Dubes. Betapa senangnya aku mendengar kabar ini. Impianku bangkit. Ku kabarkan berita ini ke teman-teman crew dan pemain. Mereka kembali semangat. Akhirnya dibuatkan kesepakatan antara dua Negara melalui Dubes Mesir-DepBudPar-PP Muhammadiyah. Bersama-sama kita melakukan pers conference, mengabarkan berita gembira ini ke masyarakat.

    Namun lagi-lagi semua itu tidak ada artinya. Pemerintah mesir, sekalipun memberikan dukungan buat kerjasama ini, tidak bisa melakukan intervensi terhadap harga-harga termasuk di dalamnya Equiptment, lokasi, property. Itu adalah hak perusahaan swasta. Artinya, sekalipun di dukung pemerintah, tetap tidak bisa mempengaruhi harga. Harapan shooting di Kairo akhirnya kandas. Terlebih lagi pihak Egypt Production tiba-tiba mengirimkan tagihan atas hunting, pelayanan persiapan dan test kamera selama di kairo sebesar 500 juta rupiah. Angka yang tidak masuk akal buat producer untuk harga test kamera dan hunting. Biasanya di Jakarta kami melakukan hunting sekitar 5 juta sampai 10 juta. Test kamera gratis kita lakukan karena itu salah satu fasilitas perusahaan penyewaan alat.

Akhirnya producer tidak mau membayarnya. Terjadilah perselisihan antara keduanya. Pihak Egypt Production melayangkan surat gugatan ke pihak KBRI di Kairo. Pihak KBRI kairo mengirimkan surat ke Departemen Luar Negeri Indonesia dan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata yang isinya terjadi penipuan pihak MD kepada perusahaan Kairo. Berita ini membuat Deplu dan Depbudpar menarik kembali dukungannya. Begitu juga dengan pihak Dubes Mesir. Seperti sebuah drama tragedy saja, nasib produksi Ayat-Ayat cinta tidak terselamatkan. 

    Terbayang olehku bangunan-bangunan  bersejarah, menara-menara masjid Azhar yang tinggi menjulang, kios-kios berjajar, pasar-pasar tradisional, pyramid, guran sahara, pantai Alexandria yang indah … hilang … hilang ditelan angin begitu saja. Lalu pesan ibu terngiang : … Kalau kamu sudah bisa membuat film, buatlah film agama …

    Ana aasif … ya ummi …

                               KISAH DIBALIK LAYAR AYAT-AYAT CINTA (bag.3)  Dec 4, ’07 5:26 AM  

    Bukan sekali ini aku mendapatkan persoalan pada saat membuat film. Persoalan buatku adalah sahabat karib. Di Dapur Film aku menekankan ke teman-teman, jika mau terjun ke dunia film, persoalan adalah bagian hidup kita. Bukan berarti kita mencari persoalan, tapi persoalan harus kita sikapi sebagai tantangan. Akan tetapi persoalan yang menimpaku sekarang ini seolah tak berujung. Menangis sudah bukan suatu yang luar biasa lagi.

    Sejak kabar kita bakal sulit shooting di kairo aku jadi tidak bergairah. Tapi kabar film AAC bakal diproduksi sudah beredar. Posisiku sulit. Bersamaan dengan itu film produksi pertama MD yang berbujet besar drop di pasaran. Sebuah film yang dianggap idealis, bahkan tidak mampu menembus angka 100 ribu penonton. Keyakinan producer mulai goyah.

    ‘Apakah kamu masih yakin AAC akan diproduksi?’ Kata producer padaku,

    ‘Iya’ jawabku yakin. Sekalipun aku sendiri tidak tahu apakah keyakinan itu sekuat dulu.

    ‘Apakah AAC adalah film yang bakal di tonton?’ tanyanya kemudian.

    Aku lalu ingat pernyataannya tentang 80% penduduk Indonesia adalah muslim. Kemudian aku membalikkan pernyataan itu kepadanya. Jawabnya …

    ‘Ya, tetapi setelah melihat realitas, penonton kita masih belum bisa menerima film-film berat.’

    Beberapa detik aku sempet bingung dengan istilah film berat. Aku tahu pada waktu itu kondisi psikologis producerku sedang drop. Tidak hanya satu-dua juta kerugian yang dia tanggung di film pertama. Wajar jika sudah menggoyahkan keyakinannya. Aku berusaha meyakinkan dia lagi  kalau AAC adalah film yang ditunggu penonton. Aku juga meyakinkan kalau kita di dukung oleh Muhammadiyah. Tapi alasan itu tidak cukup buat dia. Sebuah dukungan bisa dengan gampang dicabut. Tetapi sebuah produk yang sudah diproduksi tidak bisa diuangkan. Investor tetap menanggung beban besar. Intinya, dia butuh keyakinan kalau AAC adalah film yang bakal ditonton lebih dari 1 juta penonton. Jumlah tersebut diperhitungkan secara bisnis untuk balik modal, mengingat bujet yang dipersiapkan untuk memproduksi AAC duakali lipat bujet standart Film Indonesia. Yah, sekitar 7 Milyar.

    Lalu produk seperti apa yang ditonton oleh satu juta penonton?

    Pertanyaan itu yang akan merobah karakter Film Ayat-Ayat Cinta yang selanjutkan menjadi persoalanku kemudian.

    Pertama yang dilakukan untuk menset-up produk agar ditonton oleh satu juta penonton adalah mengubah scenario menjadi light. Scenariopun dirombak total. Producer sempat menghubungi Musfar Yasin untuk menggantikan Salman Aristo, karena pada saat itu Nagabonar jadi 2 meraih 1,3 juta penonton. Musfar menolak dengan alasan tidak etis. Salman Aristo kemudian bersedia merubah scenario dengan catatan sedikit keluar dari novel. Kita sepakat. Dalam hal ini Kang Abik sedikit kita abaikan dengan maksud segalanya berjalan lancar. Mengingat kang Abik kondisinya waktu itu tidak di Jakarta, sehingga untuk melakukan diskusi scenario harus menghadirkannya dari semarang.

    Skenario dibuat dalam 2 minggu.  Selama 2 minggu itu kegiatan persiapan menjelang shooting dihentikan. Di minggu ketiga seharusnya kita sudah melakukan shooting, terpaksa dilakukan persiapan lagi. Jadwal akhirnya mundur satu bulan. Keberatan muncul dari para pemain. Sebagian pemain Ayat-Ayat Cinta adalah pemain dengan jadwal ketat. Fedi Nuril sibuk dengan album dan tour Garasi. Ryanti sibuk dengan jadwal MTV, Carissa dan tante Marini  sibuk dengan sinteron striping, Melanie putria dan Surya Saputra sibuk dengan presenter. Kalau produksi ini mundur schedule pemain yang akan sulit. Di bulan kedepan para pemain tersebut sudah masuk schedule lain diluar Ayat-Ayat Cinta. Hal itu membuat Iqbal Rais, asistenku kelabakan mengatur schedule. Dalam 2 minggu itu pekerjaan Iqbal berkali-kali melakukan revisi schedule dan breakdown shooting. Sedangkan Amelia Oktavia (amek) dan Ruth Damai Pakpahan (Iyuth) yang bertugas sebagai casting director me-loby pemain kembali. Itu tidak mudah tentunya. Schedule di luar AAC sudah terlanjur di booking oleh para manajer. Malah beberapa ada yang sudah kontrak.

    Seperti yang disepakati bersama, scenario rampung dalam 2 minggu. Tapi bukan berarti persoalan selesai disitu. Tahap berikutnya adalah menentukan dimana shooting dilakukan, mengingat kairo sudah tertutup buat MD. Oh,ya … Hal mendasar yang membuat produksi ini mengalami kendala kreatif adalah producer mulai menekan bujet produksi akibat kerugian di film pertama. Pemindahan shooting di Indonesia dilakukan dengan asumsi bujet produksi tidak semahal di Kairo. Padahal kenyataan di lapangan tidak semudah asumsi itu. Sesuatu yang diciptakan dengan set akan lebih mahal dibanding kita menggunakan set yang sudah jadi. Kalau toh ditemukan rumah yang mirip dengan yang ada di Kairo, perabot didalam rumah itu tidak bisa dipakai.

    Menjelang shooting aku dan producer banyak bertengkar soal itu. Pengajuan bujet untuk tata artistic di potong. Begitupun dengan pengajuan lampu. Aku seperti berada dalam ruang isolasi yang semakin lama dinding itu bergerak menghimpit. Pada awal persiapan, konsep film AAC adalah menghadirkan keindahan kota kairo dengan memotret lansekap sebagaimana tertulis di novelnya kang Abik. Kini, terpaksa harus aku persempit mengingat lokasi shooting tidak memadai dan peralatan pendukung dikurangi. Aku dan Salman Aristo memutuskan memperkuat dramatik cerita daripada keindahan gambar. Oleh sebab itu beban jatuh pada para pemain. Pemain harus mampu secara meyakinkan membawakan karakter yang diperankan. Disini muncul persoalan baru. Sekalipun Amek dan Iyuth berhasil me-loby pemain untuk mundur shooting, tapi tidak bisa dapat waktu untuk latihan. Jangankan untuk melakukan riset dan observasi peran, untuk melakukan reading scenario saja waktunya terbatas. Kepalaku mendadak berat sekali. Hari-hari shooting tinggal beberapa hari, tapi permainan mereka masih jauh dari harapanku. Ya Alloh, selamatkan aku. Selamatkan film ini …

    Pernah suatu kali aku minta mundur lagi karena pemain belum siap, terutama Rianti dan Carrisa. Producer tidak memberikan ijin. Aku bingung. Aku melihat Rianti dan Cariisa masih jauh dari harapanku. Pada awalnya tokoh Aisha diperankan Carrisa dan Rianti sebagai Maria. Saat latihan berlangsung, aku merasa keduanya tidak pernah mencapai klimaks. Selalu saja ada yang salah. Kemudian mas Whani Darmawan selaku acting coach (Penata laku) mencoba merobah posisi. Rianti sebagai Aisha dan Carrisa sebagai Maria. Aku melihat ada perubahan ke lebih baik. Mungkin tepatnya: Lebih pas … Tapi aku masih belum yakin dengan itu, dikarenakan banyak persoalan kreatif lain yang menghimpitku. Aku tidak bisa dengan jernih memutuskan. Lalu Aku minta bantuan Salman Aristo untuk ikut memutuskan. Setelah melewati test kamera, aku, Salman Aristo dan Producer bersama-sama melihat dan memutuskan siapa yang pantas menjadi Aisha. Aku ingat waktu itu rapat untuk memutuskan siapa yang pantas menjadi Aisha dilakukan 10 menit sebelum acara pers conference yang menghadirkan PP Muhammdiyah Din Sayamsudin dan wartawan dari media cetak dan TV. Di ruang lain, Rianti dan Carisa menunggu keputusan itu, karena berhubungan dengan siapa yang akan memakai cadar dan jilbab pada saat acara pers conference. Akhirnya, kami memutuskan Rianti yang menjadi Aisha. Cadarpun terpasang menutup sebagian wajah cantik Rianti

    Ketika hari Shooting ditentukan, pemain sudah disiapkan secara schedule, Set sudah dibangun, mendadak ada kabar Ryanti akan di deportasi karena masa tinggalnya sudah habis (Rianti masih menjadi warag Negara Inggris saat ini), sehingga dia harus kabur ke Singapura beberapa hari sambil mengurus perpanjangan masa tinggalnya di Indonesia. Shooting yang sudah kita tentukan harus mundur lagi. Set yang sudah dibangun harus dibongkar. Kepalaku mulai berat. Mataku mulai kabur. Allohu akbar! Apa lagi yang harus aku hadapi? Berapa tetes lagi air mataku kutumpahkan dan berapa lapang lagi dadaku aku rentangkan? Ingin rasanya aku lari dari semua ini. Tapi aku selalu ingat pesan ayahku, wong lanang kui kudu mrantasi … (Lelaki itu harus menyelesaikan segala persoalan). Aku melihat sisi positif dari kemunduran ini. Aku bisa focus latihan buat pemain. Akhirnya kamipun mundur. Karena set yang sudah dibuat tidak bisa dibongkar, kita terpaksa shooting satu hari tapi setelah itu break seminggu.

Pada saat shooting, aku melihat kairo berdiri di Jakarta dan semarang. Aku melihat metro yang dibangun bangsa Prancis di stasiun Manggarai. Aku melihat perpustakaan Al Azhar dan ruang Talaqi masjid Al Azhar di Gedung Cipta Niaga Jakarta Kota. Flat Fahri, Flat Maria dan Pasar El Khalili di kota lama dan Gedung Lawang Sewu Semarang. Ruang sidang pengadilan Fahri di Gereja Imanuel Jakarta. Apa yang dibangun Allan, art directorku, berhasil meski dengan berbagai kendala keuangan yang tidak lancar. Untuk membangun set dan menyediakan property, Allan sering mengeluarkan uang pribadinya untuk menutup aliran uang yang tidak lancar. Gajinya yang seharusnya di bagi-bagikan kepada krunya, habis buat belanja property dan membangun set. Karenanya banyak krunya pada marah-marah dan kabur.

    Pada saat shooting berlangsung, tidak begitu saja mulus dan on schedule. Hari-hari pertama kami berhasil menghadirkan suasana kairo dengan menyewa orang-orang arab sebagai extras. Karena shooting selalu selesai tengah malam, orang-orang arab lama-lama tidak mau diajak shooting lagi. Maklumlah, mereka bukan berprofesi sebagai pemain. Kebanyakan dari mereka pedagang, mahasiswa, karyawan bahkan ada yang dokter. Suatu kali pernah si dokter marah-marah karena shooting sampai malam, padahal sebagai dokter dia tidak pernah berpraktek sampai malam. Di hari-hari menjelang akhir shooting AAC, bahkan untuk mengajak gembel Arab pasar Tanah Abang pun tidak bisa. Masya Alloh!!

    Di Kota lama dan Lawang sewu Semarang, kami menghadapi persoalan kamera terbakar, hujan, berhadapan dengan preman Kota Lama, ruang sempit dan lapuk karena tua yang membuat set lampu lama. Dengan begitu scene yang seharusnya diambil jadi banyak terhutang. Untuk membayarnya, kita menunggu jadwal pemain kosong, Amek dan Iyuth kembali me-loby, iqbal rais kembali membongkar break down. Hal itu terus menerus mereka lakukan sampai-sampai Amek dan Iyuth kehilangan muka di hadapan manajer dan pemain. Tidak jarang aku melakukan improvisasi demi efisiensi. Banyak adegan aku sederhanakan. bahkan dibuang. Tapi aku cukup senang karena aku bisa merobah salah satu sudut kota lama semarang menjadi pasar di El-Giza. Aku menghadirkan unta dari Kebun Binatang Gembiraloka Jogjakarta. Penduduk kota lama Semarang dibikin heboh dengan munculnya unta secara tiba-tiba di sana.

    Shooting paling berat yang aku rasakan pada saat adegan sidang Fahri. Aku memilih gereja Imanuel Jakarta untuk di set sebagai ruang pengadilan. Aku menghadirkan lebih dari 300 ekstrass. Semua pemain utama kumpul jadi satu. Penata kostum, penata make up kewalahan menghadapi banyaknya pemain. Ini salah satu scene dengan jumlah pemain paling banyak. Aku melihat hal yang unik di sana. Banyak pemain memakai Jilbab bahkan bercadar, tapi mereka berada di dalam gereja. Tanda salib bertebaran di atas kepala mereka. Suatu yang lucu dan menarik aku lihat. Lalu aku ingat, pada saat aku masuk masjid Al Azhar, bahkan untuk ijin memotret saja tidak mudah. Apalagi shooting. Tapi di gereja Imanuel ini, aku tidak hanya membawa kamera dan lighting. Aku bahkan memasukkan teralis penjara sebesar 3 meter persegi didalamnya. Aku tertawa kalau memikirkan itu …

    Tidak terasa, persoalan sudah menjadi bagian dari produksi ini. Malah, ketika persoalan tidak muncul aku merasa ada yang aneh. Terlepas dari semua itu, aku senang bisa terlibat dalam persoalan. Terlebih lagi, persoalan itu bisa terpecahkan sekalipun dengan air mata. Semoga kedepan, aku bisa lebih dewasa.

    Robbana afrigh alaina shabran wa tsabit aghda mana fanshurnaa ala qaumil kafiriin …

    ( …Ya Alloh, limpahkan kami kesabaran. tegakkanlah kaki kami kembali. Lindungilah kami

atas orang-orang yang membenci kami …)

    Hingga shooting ini selesai, kami masih berhadapan dengan puluhan persoalan lagi. Nantikan di bagian IV (AAC hijrah ke India untuk menghadirkan Sungai Nil, Padang Pasir dan kota) …

                              KISAH DI BALIK LAYAR AAC bag. akhir           Dec 13, ’07 2:51 AM  

    Shooting di Jakarta sudah selesai. Aku puas dengan kerja tim AAC yang solid. Sekalipun berat, tetap commit untuk menyelesaikan film ini apapun hambatannya. Padahal secara legal, kontrak crew sudah habis 1 bulan sebelumnya. Artinya, mereka bekerja tanpa ikatan kontrak lagi. Ini yang membuat aku terharu atas commitment mereka. Terlebih lagi,  banyak diantara mereka  non-muslim. Tapi tidak satupun dari mereka yang mengkaitkan keyakinan itu dengan kualitas kerja mereka.

    Sebagaimana sudah direncanakan sebelumnya, meski Allan bisa menyulap Semarang dan Jakarta jadi kairo. Secara geografis, tidak akan tergambar jika tidak ada shooting di Kairo. Awalnya producer sudah puas dengan hasil shooting di Indonesia tanpa perlu shooting di Kairo. Saya sangat keberatan.

    Sebenarnya, dari hasil sisa adegan yang belum diambil, hanya membutuhkan waktu 5 hari saja shooting di kairo. Akhirnya producer mengerti dan menjalin hubungan dengan local production lain di kairo. Local producer itu sering menangani film-film asing yang shooting di Cairo. Sebuah perusahaan yang juga berpengalaman d bidang produksi film. Setelah melihat konsep film AAC, dia menawarkan harga untuk shooting disana selama 5 hari. Jumlah yang diajukan sebesar 3 Milyar untuk shooting 5 hari. Nilai yang bahkan di Indonesia bisa membuat satu film.

    ‘Angka yang tidak masuk akal’ kata producerku.

Aku sepakat dengan producerku, meski aku tahu konsekwensi membuat film sesuai dengan novel Kang Abik memang berbujet besar. Tapi aku tetap tidak percaya degan penawaran itu. Setelah kita cek quote yang diajukan, aku melihat item-item yang tidak rasional. Misalnya, makan per orang dia budjet kan 100 US$ sehari. Padahal pada saat riset di sana, aku bisa makan dengan 25 ribu sehari. Bujet penawaran itu tidak bisa ditawar kecuali kita mengurangi jumlah hari dan kru. Negosiasi tertutup.

    Kemudian muncul gagasan shooting di India dari salah seorang staf perusahaan MD yang orang India. Dia berjanji bisa menyediakan lokasi yang kita butuhkan mirip Cairo. Semula aku ragu, tapi setelah ditunjukkan foto-foto lokasi di India, saya jadi yakin. Dalam foto itu tergambat Sungai Nil, sudut kota kairo, Taman Al azhar University, Padang Pasir lengkap dengan unta-unta dan kafilah. Hanya pyramid saja yang tidak ada. Tapi itu bisa dibuat di studio menggunakan Computer Graphics Imagery (CGI) yang lebih dikenal dengan special effect.

    Disaat persiapan menuju India, tercetus ide untuk tetap bisa shooting di Kairo dengan dibarengi workshop film buat mahasiswa Indonesia-Al Azhar. Lalu aku menghubungi PCIM (Pimpinan Cabang Islam Muhammadiyah). Mereka setuju dengan ideku. Kita bahkan dibantu KBRI. Di Kairo, aku dan PCIM berencana menggelar workshop dengan peserta anggota PCIM (mereka adalah mahasiswa Indonesia yang sekolah di Azhar Univ yang menjadi anggota Muhammadiyah) dan akan Shooting mengambil suasana kota dengan kamera kecil bersama dengan mahasiswa peserta workshop tersebut. Biasanya, kegiatan yang mengatasnamakan mahasiswa tidak perlu ijin berbelit-belit. Maka segala sesuatu dipersiapkan. Dari Jakarta, tim yang berangkat ke India 20 orang termasuk pemain, tetapi 6 diantaranya berangkat duluan ke Kairo selama 4 hari. 6 orang tersebut adalah, Fedi Nuril, Faozan Rizal (Kamera), Kasnan (Asisten Kamera), seorang pengawal alat, Adi molana (tata suara) dan aku.

    Producer setuju dengan rencana tersebut. Tapi ditengah persiapan itu, muncul kendala di pengurusan Visa. Karena hari shooting di India dan Kairo berurutan, membuat pengurusan visa tarik-tarikan antara keduanya. Waktu kita hanya 1 minggu sebelum keberangkatan shooting, sementara mengurus Visa di India membutuhkan waktu 4 sampai 5 hari karena jumlah orang yang akan berangkat banyak. Begitupun mengurus Visa Kairo. Akhirnya aku minta tolong pihak PCIM dengan bantuan KBRI menguruskan visa on arrival. KBRI setuju dan sudah menghubungi pihak emigrasi cairo bahwa akan datang tim dari Indonesia berjumlah 6 orang untuk workshop. Kamipun senang dengan kabar tersebut. Terbayang eksotisnya kota kairo, kios-kiosnya, menara-menara masjid yang menjulang, jalan raya yang macet, kampung- el giza. Bahkan pihak KBRI bisa menyediakan fasilitas khusus masuk kawasan pyramid dengan bebas. Rasa optimisku bangkit lagi. Akhirnya … aku bisa shooting di Kairo …

    Tapi, lagi-lagi semua itu cuma mimpi. Sesampainya di bagian Check In Bandara Sukarno-Hatta, aku dan 5 kru lainnya tidak boleh berangkat. Waktu itu kami berencana terbang ke Kairo dengan Sinagpore Airlines (SQ). Pihak SQ tidak bisa memberangkatkan kami dengan alasan tidak ada visa. Aku menjelaskan, bahwa kita dapat fasilitas Visa on Arrival dari KBRI Cairo. Mereka minta bukti tertulis dari pihak KBRI sebagai pegangan. Aku tunjukkan undangan dari PCIM untuk workshop atas nama Muhammadiyah ke pihak SQ. Mereka tidak mau terima. Yang mereka minta adalah surat tertulis yang menjamin 6 orang yang diterbangkan SQ bisa diterima di Kairo. Itu tanggungjawab Airlines atas keselamatan penumpang. Aku segera telpon pihak PCIM untuk menghubungi KBRI. Ternyata hari itu kantor KBRI libur. Sekalipun bisa terhubung secara pribadi dengan bagian konsulat KBRI, tapi untuk urusan administrasi harus melalui kantor. Akhirnya, kami tidak jadi berangkat. Kamera yang sudah kita sewa, tiket yang sudah kita beli dan segala harapan untuk bisa shooting di Kairo buyar … Dada ini terasa sakit sekali. Dalam perjalanan meninggalkan bandara Soekarno-Hatta, tanpa sadar, air mataku meleleh lagi. Ya Alloh, Apakah aku terlalu kotor memproduksi film ini, maka kau berikan hambatan buatku untuk yang terbaik?

    Tidak ada harapan lagi kecuali shooting ke India saja. Untuk saat ini, sebuah kemewahan bisa membayangkan film ini sesuai dengan harapan Kang Abik dan pembaca fanatik AAC. Yang bisa aku lakukan hanyalah menyelesaikan film ini semaksimal yang aku bisa.

    Pesawat Malaysia Airlines take off  dari Jakarta membawa 20 Kru dan pemain AAC beserta dua kopor berisi Kostum pemain, 3 kopor berisi property keperluan Artistik dan dua kopor lain berisi bahan baku film 35mm serta kabel-kabel. Kira-kira 8 jam perjalanan, kami mendarat di Banglore untuk transit. Saat itu malam hari. Udara agak dingin. Pesawat yang membawa kita ke Bombay baru besok pagi sekitar jam 10  take off dari bandara. Menurut travel agent di Jakarta, di Banglore kita disediakan penginapan. Tetapi kenyataannya bukan penginapan sebagaimana layaknya sebuah hotel transit di bandara international. Kita disediakan satu apartement dengan 6 kamar. Padahal kami berjumlah 20 orang dimana tidak semuanya laki-laki. Kopor kami juga banyak. Tidak layak buat kami untuk menempati satu apartement. Malam itu sudah jam 12 malam. Pihak administrasi apartement sudah tutup untuk meminta tambahan satu apartement lagi. Kami kebingungan sendiri. Setelah beberapa lama terkatung-katung, salah seorang pembantu apartement lain menawari bisa memakai apartementnya kalau cuma buat semalam, karena pemiliknya sedang keluar kota. Akhirnya kami patungan menyewanya. Apartement itu untuk crew dan pemain perempuan. Aku bersama crew laki-laki lainnya saling tumpang tindih di apartement satunya. Aku dan Rajish (Make up artist) tidur di sofa depan. Faozan Rizal dan tim kamera tumpuk-tumpukan satu kamar. Fedi, Oka dan Iqbal tidur satu ranjang bertiga. Lainnya tidur sekenanya.

    Tepat jam 11 siang kami meninggalkan Banglore menuju Bombay. Kami sudah dijemput sebuah bis yang akan membawa kami 15 jam menuju Jodhpur. Bayangan kami, Jodhpur adalah kota kecil yang tidak ada bandaranya disana. Tapi ternyata Jodhpur adalah kota wisata. Banyak turis eropa-Amerika datang kesana menggunakan pesawat, apalagi di bulan-bulan November. Bandaranya-pun lebih bagus dari Halim Perdanakusuma. Jadi penggunaan bis semata-mata buat ngirit bujet produksi, mengingat harga tiket Bombay-Jodhpur di bulan-bulan libur naik. Kami cuma menghela nafas. 15 jam perjalanan, bayangan kami, seperti perjalanan Jakarta Surabaya. Tidak apalah, aku bisa istirahat di bis, pikirku.

    Setelah keluar dari bandara Bombay dengan tumpukan kopor-kopor, kami melihat bis yang disediakan kami kecil. Warnanya kuning. Bis tersebut bukan selayaknya kendaraan tempuh Jakarta-Surabaya. Bis itu seperti bis Jakarta-Sukabumi yang diberi AC. Tempat duduknya sempit hanya memuat 20 orang saja. Sedangkan kopor-kopor kami banyak. Aku komplain dengan orang india (staff MD) yang mengurusi kami disana. Dia bilang, bis ini disediakan berdasarkan bujet dari producer. Kami tetap tidak mau naik. Aku melihat wajah teman-teman kusut. Tika (line producer AAC) marah dan meminta local unit menyediakan tiket pesawat. Sayangnya, tiket pesawat ke jodhpur habis sampai 3 hari kedepan. Setelah berdebat lama, akhirnya kami disediakan satu mobil kijang khusus untuk kopor-kopor. Allan menyertai kopor-kopor itu di mobil Kijang. Yang lainnya naik bis. Fedi yang berkaki panjang menduduki bagian belakang tepat di selasar tengah bis diapit Rianti, Prita (Pencatat Script), dan Clarissa. Ditengah diisi Oka, Pao, Tarmiji, Kasnan (tim kamera), Adi molana dan pak Rajish. Di depan ada Aku, Retno Damayanti (kostum), mbak Tia (asisten Retno) dan Tika. Seorang supir bernama Ganesh membawa kami membelah negeri India melintasi Gujarat. Sebuah perjalanan panjang dan melelahkan terbayang …

    Perjalanan Bombay-Jodhpur mirip seperti perjalanan Jakarta-Surabaya. Padang Ilalang terbentang di kiri kanan. Rumah-rumah gubuk, warung-warung tempat mangkal bis dan Container berderetan sepanjang jalan seperti di film Iran Café Transit, jajaran rumah-rumah pedesaan diselingi pohon-pohon besar dan sawah-sawah tandus berseliweran. Pemandangan luar biasa buatku. Eksotis. Bis kami melaju bersama dengan puluhan bahkan ratusan truk-truk. Kadang bis kami berhenti sekedar minum teh hangat India yang dicampur susu bersama sopir-sopir berkulit hitam. Di perbatasan Gujarat. Kami mendapat persoalan. Bis kami dilarang melintasi perbatasan karena dokumen tidak lengkap. Selama 2 jam kami dicuekin, sementara Ganesh mondar-mandir dari post satu ke post lainnya yang jaraknya 1 km untuk menyelesaikan administrasi. Terlihat dia begitu stress, dia meminjam Hp Tika untuk menghubungi seseorang. Terlihat dari cara bicaranya, Ganesh sedang bertengkar. Mungkin orang itu yang menyebabkan Ganesh mendapat persoalan. Kami nyaris balik ke Bombay karena tidak ada ijin melintas. Ditengah situasi panik itu Rianti, Clarrisa, Oka dan Fedi didatangi militer bersenapan karena mereka foto-foto.

    ‘Ini bukan tempat wisata!’ kata Militer itu.

    Terlihat wajah Rianti pucat karena takut. Akhirnya Ganesh menjelaskan ketidaktahuan kami. Merekapun mengerti. Setelah 2 jam lewat dengan perasaan tidak menentu, kami bisa melintasi perbatasan, melanjutkan perjalanan atas perjuangan Ganesh. Malam yang panjang terasa. Sekalipun sulit buat kami tidur di tempat sempit seperti itu, kami tidak bisa melewatkan rasa ngantuk. Pagi berikutnya kami berhenti di sebuah kota kecil. Kami menyewa losmen kecil buat mandi dan sarapan. Kami istirahat selama 4 jam memberikan kesempatan Ganesh tidur. Di tempat itu kami diliatin penduduk sekitar. Apalagi Rianti dan Clarissa. Orang-orang India memiliki keramahan berbeda dengan Indonesia. Apalagi bukan di kota besar seperti Bombay, Delhi atau Madrass. Suara mereka yang keras membuat kami mengira mereka marah. Tetapi sebenarnya tidak. Di tempat itu kami baru sadar bahwa kami sudah menempuh 15 jam perjalanan. Tetapi kami masih berada setengah perjalanan menuju Jodhpur. Setelah membuka peta baru kami sadar berapa jarak sebenarnya dan berapa waktu tempuh sebenarnya antara Bombay-Jodhpur. Bombay-Jodhpur berjarak 850km, Kira-kira 24 jam waktu perjalanan darat jika ditempuh secara non-stop. Kami merasa ditipu. Fedi yang biasanya diam, kini marah-marah, dia protes ke producer atas perlakuan ini. Jawab producerku, pihak MD tidak tahu menau soal ini. Mereka juga minta maaf. Pak Rajish, salah satu karyawan MD dari India bagian make up artis banyak membantu kami. Setidaknya membantu kami berkomunikasi. Ternyata, dibalik semua itu ada yang tidak jujur, memanfaatkan situasi ini untuk mengambil keuntungan. Aku marah, tetapi aku tahu itu tidak ada gunanya. Akibat dari kesalahpahaman ini kami kehilangan waktu dan tenaga yang seharusnya bisa dimanfaatkan buat Shooting. Kami cuma bisa pasrah …

    Jam 8 malam, tepat 30 jam perjalanan dari Bombay, kami masuk Hotel. Alhamdulillah, akhirnya kami bisa merebahkan diri di tempat yang layak. Diatas tempat tidur aku melepaskan pikiran. Sepanjang hidupku, tidak pernah aku membayangkan melintasi negeri Gujarat naik bis. Tanpa asuransi, tanpa perlindungan apapun. Untung tidak ada teroris menghadang kami. Sungguh, aku sudah tidak kuat. Aku ingin lari saja dari produksi. Toh, tidak ada jaminan apapun buatku untuk menyelesaikan film ini? Uang? Demi Alloh, gajiku tidak sebanding dengan persoalan yang aku hadapi. Kalau orang mengira aku melakukan ini semua demi uang? Demi jualan? Kehormatan? Wallohi, orang itu benar-benar picik. Tidak ada keuntungan materi yang aku dapat di film ini. Semata-mata hanya idealismeku saja yang berharap Film Indonesia tidak hanya diisi oleh Horor dan percintaan remaja Kota. Tapi apa itu idealisme? Apakah Kang Abik dan jutaan pembaca AAC mengerti soal idealisme ini? Apa yang mereka bisa berikan buat mengganti segudang persoalan kami disini? Mereka tidak lebih dari sekedar penonton yang menuntut hiburan atau membanding-bandingkan Film dengan Novelnya. Lantas jika tidak sama dengan Novelnya terus mencaci maki, menganggap bodoh dan kafir sutradara yang membuat. Karena hal-hal islami dalam Novel tidak tampak, tidak terasa.

    Lagi-lagi dadaku sesak. Tapi aku tidak bisa lari. Aku sudah berjanji kepada diriku, anakku dan ibuku untuk memberikan yang terbaik.

    ‘Kalau kamu sudah bisa membuat film. Buatlah film tentang agamamu.’ Kata ibuku yang terus menerus terngiang.

    Pagi harinya aku mulai shooting. Dan persoalan seperti tidak selesai. Dari mulai peralatan yang kami pakai sudah ditinggalkan industri India 5 tahun yang lalu alias butut: Lampu-lampu yang fliker (menghasilkan cahaya kelap-kelip seperti neon yang habis watt nya), Kamera tua yang ketika dipakai mengeluarkan bunyi berisik, generator kami yang lebih layak dipakai buat menyalakan mesin pemarut kelapa dibanding buat shooting. Lalu kru-kru India yang disediakan untuk membantu kami bukan kru profesional. Di bagian akomodasi makanan kami selalu datang telat sehingga banyak yang protes. Tidak hanya kru Jakarta saja yang protes, kru India juga begitu. Suatu kali pernah mereka mogok kerja tidak shooting karena hanya di kasih makan sekali sehari. Padahal shooting sampai jam 12 malam. Di lokasi gurun, kami harus mendaki gunung pasir dengan jalan kaki sebelum menuju lokasi utama. Kami menggunakan Unta buat mengangkat Kamera dan perlengkapannya. Kaki-kaki kami sakit tertusuk tanaman duri. Bibir kami banyak yang pecah karena panas matahari. Sebelum mencapai tempat lokasi, kami istirahat mirip kafilah-kafilah yang kehausan ditengah sahara.   

    Tapi dari semua kesulitan itu, Alhamdulillah aku bisa menyelesaikannya dengan baik. Lokasi yang aku dapatkan luar biasa. Kecuali lokasi Gurun, lokasi Nil, Taman, Rumah Sakit berada di satu hotel peninggalan Kasultanan Pakistan. Lokasi gurun Pasir kami tempuh 4 jam perjalanan dari Jodhpur. Melelahkan tapi juga menyenangkan.

    3 hari kami melakukan shooting dan 2 hari sisanya adalah perjalanan. Di hari ketiga, rombongan kembali ke Jakarta. Aku bersama 20 cann film hasil shooting di Jodhpur terbang menuju Madras untuk editing dan processing lab. Sastha Sunu, editor Ayat-Ayat Cinta sudah menungguku disana. Sampai tulisan ini dikirim, aku masih menyelesaikan proses film Ayat-Ayat Cinta yang semakin lama semakin rumit secara teknis. Sehingga mengakibatkan jadwal Tayang Ayat-Ayat Cinta mundur di bulan Januari. Aku tidak berani menjelaskan kerumitan itu, karena sifatnya technical sekali. Pendeknya, produksi Ayat-Ayat Cinta adalah produksi yang penuh dengan cobaan dibandingkan 6 filmku sebelumnya.

Semoga Cobaan ini membuktikan Cinta Alloh masih bersama Kami semua …

School Culture

MENCIPTAKAN BUDAYA SEKOLAH YANG TETAP EKSIS(Sebuah Upaya Untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan), 
I. PENDAHULUANSalah satu keunikan dan keunggulan sebuah sekolah adalah memiliki budaya sekolah (school culture) yang kokoh, dan tetap eksis. Perpaduan semua unsur  (three in one) baik siswa, guru, dan orang tua yang bekerjasama dalam menciptakan komunitas yang lebih baik melalui pendidikan yang berkualitas, serta bertanggung jawab dalam meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah, menjadikan sebuah sekolah unggul dan favorit di masyarakat. Menurut Deal dan Peterson (1999), budaya sekolah adalah sekumpulan nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh kepala sekolah, guru, petugas administrasi, siswa, dan masyarakat sekitar sekolah. Budaya sekolah merupakan ciri khas, karakter atau watak, dan citra sekolah tersebut di masyarakat luas. Sebuah sekolah harus mempunyai misi menciptakan budaya sekolah yang menantang dan menyenangkan, adil, kreatif, terintegratif, dan dedikatif terhadap pencapaian visi, menghasilkan lulusan yang berkualitas tinggi dalam perkembangan intelektualnya dan mempunyai karakter takwa, jujur, kreatif, mampu menjadi teladan, bekerja keras, toleran dan cakap dalam memimpin, serta menjawab tantangan akan kebutuhan pengembangan sumber daya manusia yang dapat berperan dalam perkembangan iptek dan berlandaskan imtak. Budaya sekolah yang harus diciptakan agar tetap eksis adalah mengembangkan budaya keagamaan (Religi), Budaya kerjasama (team work), Budaya Kepemimpinan (team work).
  1. BUDAYA KEAGAMAAN (RELIGI) :

Menanamkan perilaku atau tatakrama yang tersistematis dalam pengamalan agamanya masing-masing sehingga terbentuk kepribadian dan sikap yang baik (akhlaqul Karimah) serta disiplin dalam berbagai hal.

Bentuk Kegiatan :

Budaya Salam, Doa sebelum/sesudah belajar, Doa bersama menyambut UN/US Tadarus dan Kebaktian, Sholat Dzuhur Berjamaah, Lima Hari Belajar, LOKETA (Lomba Keterampilan Agama), Studi Amaliah Ramadhan, RETRET, Hafalan Juz Amma, Budaya Bersih; Konferensi kasus, Kegiatan Praktek Ibadah, Buka Puasa Bersama, Pengelolaan ZIS, PHBI

  

  1. BUDAYA KERJASAMA (TEAM WORK) :

Menanamkan rasa kebersamaan dan rasa sosial melalui kegiatan bersamaBentuk Kegiatan :MOS, Kunjungan Industri, Parents Day, Baksos, Teman Asuh, Sport And Art, Kunjungan Museum, Pentas Seni, Studi banding, Ekskul, Labs Channel, Labs TV, Labs Care, Pelepasan Siswa, Seragam Sekolah, Majalah Sekolah, Potency Mapping, Buku Tahunan, PHBN, PORSENI. 

  1. BUDAYA KEPEMIMPINAN (LEADHERSHIP) :

Menanamkan jiwa kepemimpinan dan keteladanan dari sejak dini

Bentuk Kegiatan :

Career Day; budaya kerja keras, cerdas dan ikhlas, budaya Kreatif; Mandiri & bertanggung jawab, Budaya disiplin/TPDS, SAKSI, Lintas juang OSIS, Ceramah Umum, upacara bendera, Olah Raga Jumat Pagi, Studi Kepemimpinan Siswa, LKMS, OSIS

Dengan motto yang disepakati bersama oleh sekolah misalnya kreatif dan berprestasi, akan menjadikan  sekolah itu unggul dan berkualitas. Hal ini akan dapat dibuktikan dengan banyaknya tamu yang akan datang ke sekolah tersebut, dan banyaknya para orang tua yang mendaftarkan anaknya untuk bersekolah di tempat itu, tetapi sekolah memiliki keterbatasan tempat. Sehingga sekolah itu sering disebut sebagai sekolah favorit.

Sekolah favorit menurut pendapat saya secara pribadi adalah :

1.      Definisi sekolah favorit salah satu indikatornya apabila banyak peminat yang ingin bersekolah 
di sekolah itu melebihi dari batas daya tampungnya. Sekolah yang banyak diminati dan sering 
dijadikan pilihan pertama. Sekolah yang memiliki prestasi di bidang akademik maupun non akademik 
(banyaknya kejuaran yang diikuti), tentunya konsekwen dengan aturan dan tata tertib yang dibuat 
sesuai dengan budaya sekolahnya. 
2.      Sekolah favorit adalah sekolah yang menciptakan anak peduli dengan lingkungan, 
dikenal luas oleh masyarakat, dan merupakan kombinasi antara pendidikan sekolah dan 
pendidikan orang tua yang berimbang. Dapat mengembangkan potensi kreatif siswa melalui 
ekstrakurikuler.
3.      Sekolah favorit itu adalah Sekolah yang pengelolaannya profesional. Guru-guru yang profesional 
dalam menangani para siswanya. Sekolah yang dapat melahirkan generasi-generasi penerus bangsa 
yang dapat berguna, sehingga menjadi contoh bagi sekolah-sekolah yang lain untuk lebih maju.
4.      Sekolah favorit adalah sekolah yang memiliki kemampuan memuaskan siswa dan orang tua 
dalam hal pelayanan (services) dengan mengedepankan tujuan pendidikan dan sekuat tenaga 
mencetak manusia yang beriman dan bertaqwa serta memiliki ilmu pengetahuan yang luas 
yang dapat digunakan untuk dirinya sendiri dan akhirnya menciptakan keberhasilan untuk sekolah itu sendiri. 
5.      Sekolah favorit adalah sekolah yang mampu menyediakan fasilitas memadai yang dapat menunjang 
kegiatan belajar, konsisten terhadap KBM, Suasana sekolah yang mendukung, lingkungan yang aman, 
nyaman, dan tentunya tercipta hubungan yang baik antara setiap komponen sekolah sehingga tercipta 
budaya sekolah yang tetap eksis dan menjadi rujukan bagi sekolah lain (sasaran studi banding). 

 Bila sebuah sekolah sudah favorit, maka sebagai sekolah favorit di masyarakat harus melaksanakan aktifitasnya secara profesional dan bertanggung jawab. Profesional memiliki pengertian bahwa sekolah  melaksanakan tugas pokok menyelenggarakan proses belajar mengajar dan manajemen yang baik. Bertanggungjawab memiliki pengertian bahwa sekolah melaksanakan pendidikan secara akuntabilitas kinerja/ dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat dan pemerintah.Tuntutan sekolah yang profesional membutuhkan pengelolaan yang tepat melalui pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Sebab dengan MBS, lembaga dapat menginventarisir kekuatan-kekuatan dan kebutuhan-kebutuhannya, kelemahan, peluang, hambatan, dan tantangan yang mungkin ada. Pendekatan ini sering disebut dengan analisa SWOT. Dari analisis tersebut akan tampak perbedaan karakteristik sebuah sekolah dengan sekolah lainnya. Karenanya, dalam konteks penerapan MBS, Sergiovanni (2005) menyarankan agar para pengambil kebijakan, para penilik, dan kepala sekolah menggunakan pendekatan budaya sekolah atau school culture approach. Alasannya: Pertama, pendekatan budaya lebih menitikberatkan faktor manusia di atas faktor-faktor lainnya. Peran manusia amat sentral dalam suatu proses perubahan berencana. Sesuai dengan pepatah man behind the gun, manusia adalah faktor yang menentukan keberhasilan perubahan, bukan struktur atau peraturan legal. Kedua, pendekatan budaya menekankan pentingnya peran nilai dan keyakinan dalam diri manusia. Aspek ini merupakan elemen yang sangat berpengaruh dalam membentuk sikap dan perilaku. Karenanya, pendekatan budaya menomorsatukan transformasi nilai dan keyakinan terlebih dahulu sebelum perubahan yang bersifat legal-formal. Ketiga, pendekatan budaya memberikan penghormatan dan penerimaan terhadap perbedaan-perbedaan yang ada. Sikap menerima dan saling hormat menghormati akan menciptakan rasa saling percaya dan kebersamaan di antara anggota organisasi. Rasa kebersamaan akan memunculkan kerja sama, dan kerja sama akan mewujudkan sikap profesionalisme yang membawa perubahan sehingga mengubah nilai-nilai lama yang menghambat dengan nilai baru yang mendukung MBS.Berbeda dengan kurikulum sebelumnya, dengan kurikulum baru KTSP 2006 (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) membuat guru lebih aktif, kreatif, kompetitif, inspiratif, inisiatif, independen dan inovatif dalam menemukan dan mengembangkan kurikulum baru. Sekolah diberi kebebasan dalam membuat program kerja oleh pemerintah melalui Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang merupakan salah satu dari delapan standar nasional pendidikan sebagaimana tertuang dalam  Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permen) No.23 Tahun 2006.Sekolah yang favorit pasti memiliki sistem pengembangan budaya sekolah yang terintegrasi dan terimplementasi dalam proses pembelajaran. Sekolah juga telah melakukan inovasi-inovasi kegiatan budaya sekolah dan terinventarisasikannya budaya sekolah yang sesuai dengan nilai-nilai lokal, nasional, dan internasional. Semuanya itu telah menyatu ke dalam kegiatan akademik dan kegiatan kesiswaan melalui kegiatan yang bersifat intrakurikuler dan ekstrakurikuler sehingga nantinya sekolah itu akan menjadi Sekolah Bertaraf Internasional (SBI).

Pengelola sekolah harus membangun sebuah sistem yang di dalamnya mengutamakan kerjasama atau team work. Kesuksesan dibangun atas dasar kebersamaan dan bukan kerja satu orang kepala sekolah atau one man show. Kepala sekolah setiap periode akan berganti, tetapi sistem akan terus berjalan mendampingi siapapun pemimpinnya. Setiap sekolah harus dapat menciptakan budaya sekolahnya sendiri sebagai identitas diri, dan juga sebagai rasa kebanggaan akan sekolahnya. Kegiatan tidak hanya terfokus pada intrakurikuler, tetapi juga ekstrakurikuler yang dapat mengembangkan otak kiri dan kanan secara seimbang sehingga melahirkan kreativitas, bakat dan minat siswa. Selain itu, dalam menciptakan budaya sekolah yang kokoh, kita hendaknya juga berpedoman pada misi dan visi sekolah yang tidak hanya mencerdaskan otak saja, tetapi juga watak siswa serta mengacu pada 4 tingkatan umum kecerdasan yaitu : kecerdasan intektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), kecerdasan rohani (SQ) dan kecerdasan sosial.Budaya sekolah akan subur dan tetap eksis bila orang tua siswa dilibatkan dalam menunjang kegiatan kesiswaan. Kegiatan POMG atau komite sekolah harus menjadi budaya sekolah yang kental dan didukung penuh oleh pimpinan sekolah. Bila itu terjadi, maka hasilnya POMG dapat mengumrohkan atau menghajikan para guru ke tanah suci Mekah, menyekolahkan guru ke pasca sarjana, rekreasi guru dan keluarga, dan lain-lain yang sangat menunjang untuk kegiatan siswa dan kesejahteraan para guru. Namun demikian, kegiatan POMG tetap berjalan dalam koridor tidak ’mengobok-obok’ kurikulum sekolah yang telah dibuat oleh sekolah dan pemerintah atau Depdiknas.Keterlibatan orang tua dalam menunjang kegiatan sekolah, keteladan guru (mendidik dengan benar, memahami bakat, minat dan kebutuhan belajar anak, menciptakan lingkungan dan suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan serta memfasilitasi kebutuhan belajar anak), dan prestasi siswa yang membanggakan adalah tiga hal yang akan menyuburkan budaya sekolah. Kegiatan-kegiatan itu menjadi gengsi tersendiri dalam suatu sistem yang utuh (komprehensif) melalui indikator yang jelas, sehingga ”karakter atau watak siswa” dapat terpotret secara optimal melalui kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh sekolah. Kegiatan itu akan menjadi budaya dan berpengaruh dalam perkembangan siswa selama bersekolah di sekolah itu.Karena budaya sekolah yang tetap eksis itulah yang akan tertanam di hati para siswa. Sehinga sekolah akan terbebas dari narkoba, rokok, minuman keras, tawuran antar pelajar, dan ’penyakit’ kenakalan pelajar lainnya. Pastikan siswa terbaik yang lulus, akan terukir namanya dalam batu prasasti sekolah. Pastikan pula para alumninya tersebar ke sekolah-sekolah favorit ’papan atas’ baik di tingkat propinsi maupun nasional dan akan menjadi ’leader’ di sekolahnya masing-masing.Lingkungan pendidikan yang harmonis dalam suasana kekeluargaan merupakan faktor yang mendukung terselenggaranya KBM yang baik. Sebab dengan lingkungan yang aman dan nyaman serta bersahabat siswa akan tenang dalam belajar. Salah satu usaha menciptakan keharmonisan tersebut adalah dengan budaya salam yang kental tanpa membedakan Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA) sehingga terbangun ’tata krama yang sistematik’ dan dapat membangun akhlaqul karimah yang dicontohkan oleh nabi Muhammad SAW. Budaya sekolah yang harus diciptakan selain hal-hal tersebut di atas adalah budaya unggul dan mampu bersaing di dunia global. Memiliki daya juang yang tinggi, tanpa kehilangan jati diri suatu bangsa, dan tak mengenal kata ’putus asa’. Sekolah harus dapat melestarikan budaya lokal dengan tetap mengikuti tren budaya global yang berkembang, misalnya bahasa daerah, gamelan, dan tarian tradisional perlu dilestarikan sebagai warisan budaya bangsa. Tetapi tidak dapat kita pungkiri pula bahwa penguasaan bahasa asing, band, dan modern dance harus juga dipelajari sebagai budaya global yang disukai remaja saat ini.Karena itu, nuansa religius di sekolah dengan pelaksanaan tadarus dan kebaktian sebelum pembelajaran yang dilaksanakan harus dijadikan aktivitas rutin. Membudayakan salam dan saling menegur dengan bahasa yang ramah harus menjadi fenomena yang  biasa. Budaya keteladanan, kedisiplinan, dan kerja sama, baik orang tua, guru, dan siswa harus terus dikembangkan dan memiliki tanggung jawab untuk memajukan sekolah. Melalui kegiatan POMG atau komite sekolah, para orang tua harus berperan aktif membantu program-program yang dibuat oleh sekolah sehingga dapat membawa nama baik sekolah di masyarakat. Rendahnya mutu pendidikan kita saat ini disebabkan oleh lemahnya komitmen warga sekolah dalam mewujudkan budaya sekolah dan kurangnya pemahaman masyarakat terhadap pendidikan sehingga akan berdampak pada rendahnya peran serta dan partisipasi masyarakat terhadap pendidikan baik secara moril maupun materiil.Kredibilitas sekolah di mata masyarakat, akuntabilitas kinerja sekolah, dan sigma kepuasan orang tua siswa harus sudah terbentuk, sehingga membawa sekolah memiliki budaya sekolah yang tetap eksis. Guru, orang tua, dan siswa harus dapat bekerja sama menciptakan budaya sekolah yang tetap eksis di tengah era derasnya globalisasi dan pesatnya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi (TIK).Budaya sekolah terbentuk dari eratnya kegiatan akademik dan kesiswaan, seperti dua sisi mata uang logam yang tak dapat dipisahkan. Melalui kegiatan ekstrakurikuler yang beragam dalam bidang keilmuan, keolahragaan, dan kesenian membuat siswa dapat menyalurkan minat dan bakatnya masing-masing. Sekarang ini, keunggulan suatu sekolah tidak ditentukan oleh besar kecilnya dana yang tersedia, tetapi lebih pada komitmen dan dedikasi para guru juga peran serta orang tua dalam memajukan sekolah dan dapat menciptakan budaya sekolah yang tetap eksis dengan terus membangun kredibilitas dan akuntabilitas kinerja, sehingga melahirkan sigma kepuasan di kalangan masyarakat dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan.


BIODATA PENULIS MAKALAH

Wijaya Kusumah, SPd. Lahir di Jakarta, 28 Oktober 1972. Sarjana Pendidikan Teknik Elektro (S1) IKIP Jakarta (1990-1994), Mendapatkan beasiswa dari Pasca Sarjana UNJ dan menjadi Mahasiswa Program Magister (S2) Teknologi Pendidikan UNJ (2007). Pengajar Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) SMP Labschool Jakarta (1992-2007). Suami dari Ibu Siti Rokayah (Asli Bandung). Ayah dari dua orang putri cantik yaitu : Intan Rahmadhani Kusumah (9th) dan Berliana Nurhaliza Kusumah (4th). Semasa kuliah di IKIP Jakarta aktif di beberapa organisasi kemahasiswaan, diantaranya : Ketua Umum HMJ Teknik Elektro FPTK UNJ, Ketua HMI Komisariat FPTK IKIP Jakarta, Ketua Musholla ”Al Biruni” FPTK IKIP Jakarta, dan Sekretaris Senat Mahasiswa FPTK IKIP Jakarta. Menjabat sebagai Kepala LP2TK IKIP Jakarta Bidang Software (1994-1996) dan Dosen POLMIKA di Jakarta (1996-1998). Pada saat ini aktif di kegiatan Alumni Fakultas Teknik Elektro UNJ dengan menjabat sebagai Sekretaris Alumni Elektro FT-UNJ (2006-2009). Pembina OSIS/MPK dan Pembina Redaksi majalah ”Gema” SMP Labschool Jakarta. Beberapa karya ilmiah yang ditulis untuk lomba karya tulis tingkat nasional adalah : Proses Pembelajaran Internet dalam Meningkatkan Imtak Siswa (2005),  Pembelajaran Berbasis ICT di Kelas Akselerasi dalam meningkatkan Imtak-Iptek Secara Terpadu (2006), Peningkatan Imtak Siswa Berbasis Proses Pembelajaran Word melalui CTL dan Portofolio (2007), Peningkatan Kualitas Pembelajaran Internet di Kelas Akselerasi dengan metode CTL dan Penilaian Portofolio (2007).  Motto Hidup    : Kejujuran Kunci Keberhasilan dan Kesuksesan.Telp./Hp           : 4755542 /08159155515 Fax. 4897289. Rumah              : Komplek AL Jatibening Indah B.144 Pondok Gede, Bekasi 17412Kantor             : SMP Labschool Jkt, Jl. Pemuda Komp.UNJ Rawamangun JaktimEmail                : wijayalabs@hotmail.com  & wijayalabs@yahoo.com Website            : http://www. omjay.8m.com & wijayalabs.wordpress.com

BILA GURU MAU MENULIS

bila-guru-mau-menulis.doc Oleh Tabrani Yunis *)  
            Beberapa penulis yang telah berpengalaman, seperti Eka Budianta, pernah mengungkapkan kepada public bahwa menulis itu mudah. Kalau tidak percaya, baca saja bukunya yang berjudul menggebrak dunia mengarang. Bahkan sang penulis yang berambut gondrong, yang menerbitkan sebuah tabloid remaja terkenal di tanah air, Arswendo Atmowiloto, mengatakan bahwa menulis itu gampang. Tidak juga percaya ? Baca saja bukunya Menulis itu gampang. Banyak lagi penulis lain yang selalu memotivasi para remaja, orang tua atau siapa saja untuk menulis. Hernowo, lelaki kelahiran Magelang yang kini menjadi penulis best seller di penerbit MLC yang sangat produktif dalam menuliskan kiat-kiat menulis juga mengatakan menulis itu sangat mudah. Salah satu bukunya yang masih baru adalah Menjadi Guru Yang Mau dan Mampu Membuat Buku. Berbagai kiat atau resep menulis ditawarkan kepada guru. Dalam kata pengantar di buku terbitan MLC itu, Hernowo berpesan berharap” saya ingin para pengajar di seluruh Indonesia dapat menulis buku untuk para muridnya. Saya ingin sekali para pengajar itu dapat memperkaya para muridnya dengan cerita-cerita yang mengasyikkan, ditulis oleh mereka di karya-karya tulis mereka. Hernowo dengan bahasa yang cair itu menyuguhkan cara-cara yang mudah untuk menulis. Namun, mengapa tidak banyak guru yang mau menulis ?         
 
            Banyak bukti untuk menerangkan tentang rendahnya budaya menulis di kalangan guru. Kita tidak perlu membuat indikator terlalu banyak. Cobalah amati buku-buku di perpustakaan atau di toko-toko buku. Hitunglah, berapa banyak buku yang ditulis oleh para guru. Anda membaca surat kabar ? Hitunglah berapa banyak artikel yang ditulis oleh para guru. Pasti jarang sekali. Bukan ? 
 
            Benarkah guru tidak mampu menulis atau tidak terbiasa menulis? Jawabannya pasti bermacam ragam. Namun dalam realitasnya, memang sangat sedikit guru yang menulis. Jangankan untuk menulis di media massa, jurnal atau yang lainnya, untuk membuat karya tulis yang diajukan dalam pengurusan kenaikan pangkat saja, banyak yang tidak bisa. Padahal, guru harus membuat karya tulis kalau mau cepat naik pangkat. Ketidak mampuan ini telah melahirkan sebuah kebohongan baru di dalam diri sebagian guru yang ingin cepat naik pangkat. Caranya banyak, bisa dengan meminta tanaga orang lain, dengan cara membayar dan bahkan bahkan dengan melakukan tindakan pemalsuan. Ini sebuah tindakan memalukan dan merendahkan kredibilitas guru. Padahal, kalau bisa menulis karya tulis sendiri, aktivitas ini adalah sebuah upaya pengembangan diri guru dalam mengekspresikan diri.
Namun sekali lagi, budaya menulis di kalangan guru itu sangat rendah. Idealnya, seorang guru harus mau dan pintar menulis. Mengapa demikian ? 
 
            Dilihat dari perspektif guru sebagai subjek, sebagai praktisi pendidikan para guru memiliki potensi menulis yang sangat besar. Ya, guru sebenarnya memiliki segudang bahan berupa pengalaman pribadi tentang system dan model pembelajaran yang dijalankan. Guru bisa menulis tentang indahnya menjadi guru, atau bisa juga menuliskan soal duka cita menjadi guru. Bisa pula memaparkan tentang sisi-sisi kehidupan guru dan sebagainya. Di pihak lain, sebagai objek, selama ini banyak orang menjadikan guru sebagai bahan perbincangan, sebagai bahan tulisan. Berbagai sorotan dan kritik dilemparkan orang dalam tulisan mengenai profesi guru yang semakin marginal ini. Berbagai keprihatinan terhadap profesi guru yang semakin langka ini, menjadi sejuta bahan untuk ditulis. Sayangnya, tulisan-tulisan mengenai guru, kebanyakan tidak ditulis oleh para guru. Padahal, kalau semua ini ditulis oleh guru, maka penulisan sang guru itu akan menjadi sebuah proses pembelajaran bagi semua orang.         
 
            Betapa banyak hikmah dan keuntungan yang dapat dipetik guru, kalau mereka mau menulis. Keuntungan-keuntungan itu antara lain: *Pertama*, kegiatan menulis adalah sebuah aktivitas yang dapat memberikan motivasi tinggi kepada guru.
Ketika tulisan–tulisan (karya tulis) dipublikasikan di media, kita biasanya sangat senang (fun) serta terdorong untuk menulis lagi. Kita juga merasa bangga (pride) dengan pemuatan itu. Ini sering menjadi motivasi. Nah, bila guru banyak menulis, maka sang guru akan sangat termotivasi bahwakan mendapat nilai tambah (added value) karena bisa digolongkan ke dalam kelompok intelektual. Ini salah satu nilai positifnya. *Kedua,*kegiatan menulis bisa membuat guru menjadi manusia pembelajar (istilah yang dipakai penulis Harefa). Karena kalau guru mau atau akan menulis, ia pasti harus melakukan aktivitas membaca. Membaca dalam arti ril seperti membaca berbagai referensi atau literature dan juga membaca realitas social. Pada proses ini sang guru yang suka menulis akan terbiasa dengan aktivitas belajar mengidentifikasi masalah, belajar menganalisisnya serta mengasah kemampuan mencari solusi. Pembelajaran yang demikian bisa membuat guru menjadi sosok pendidik yang kritis. Kalau ini dilakukan, kesan guru malas belajar akan pupus. *Ketiga*, percaya atau tidak, menulis bisa memberikan keuntungan popularitas. Para penulis yang sering menulis di media massa, biasanya akan dikenal oleh banyak orang. Apalagi kalau ia mampu menyajikan hal-hal yang menarik, pasti para pembaca akan selalu teringat dengan si penulisnya. Guru juga akan bisa memiliki banyak penggemar di bidang ini.
            Sekali lagi, kalau guru mau menulis. “Keempat”, tak dapat dipungkiri bahwa menulis sebenarnya bisa menambah *income*. Tidak percaya ? Coba saja kirim tulisan atau karya tulis ke media. Bila tulisan dimuat, maka kocek akan bertambah. Bagi guru menulis bisa mengatasi kesulitan ekonomi yang dihadapi para guru yang selama ini dirasakan masih rendah tingkat kesejahteraannya. Dan Andai guru mau aktif menulis di media atau menulis buku, performance guru pasti berubah. Hasil menulis di media, bisa lebih besar dibandingkan gaji guru yang diterima setiap bulannya. Tidak percaya ? Silakan coba. *Kelima*, ada nilai tambah dari menulis yang bisa dipetik sang guru. Dengan menulis, guru bisa menambah angka kredit. Kredit ini lebih bergengsi dan jumlahnya lebih besar dari mengajar selama satu semester. Bayangkan saja, satu artikel yang dimuat di media massa, nilai kreditnya 2 point. Kalau guru bisa menulis dengan baik, guru tidak perlu mengeluarkan banyak uang untuk membayar ongkos menulis sebuah karya tulis untuk kenaikan pangkat. Banyak sekali keuntungan menulis bagi guru,kalau guru mau menulis. Betapa sayangnya, kalau guru malas, atau tidak bisa menulis. Padahal, kata Dylan Thomas “Menulislah, karena hanya itu cara untuk membuat dunia tahu apa yang engkau pikirkan”
 
            Agaknya, memang tidak ada kata terlambat bagi para guru untuk mengembangkan kreativitas menulis. Banyak jalan agar para guru bisa menulis. Bukankah para guru sebenarnya memiliki potensi yang besar dalam menulis. Guru memiliki sejuta masalah yang membutuhkan langkah analisis dan solusif ? Bukankah merubah paradigma pembelajaran itu lebih cepat terjadi kalau guru banyak membaca dan kemudian mengekspresikan hasil bacaan itu ke dalam sebuah tulisan, apapun bentuknya. Apakah para guru harus diberikan dorongan ekstra ?        
 
            Wah, alangkah bermakna dan berharganya kalau guru mau berlatih, bertlatih dan berlatih menulis. Betapa terangkatnya martabat guru, kalau guru bisa dan mau menulis. Kalau guru mau menulis,pasti akan banyak anak didik yang b
isa menjadi penulis andalan. Kiranya tidak ada kata terlambat bagi para guru untuk menulis. Yang ada mari mencoba, membangun diri dengan menulis Semoga.          
 
*) Tabrani Yunis (Peminat masalah sosial dan Pendidikan, berdomisili di Banda Aceh)     
Director Center for Community Development and Education (CCDE)          
Jl.
Elang Timur No. 64 Blang Cut – Lueng Bata    
PO. Box 141 Banda Aceh 23001 Indonesia                     
Telp. +62 651 7428446  
Fax. +62 651 26995      
Email.
ccde.aceh@gmail.com    
 

Sumber : http://groups.yahoo.com/group/pendidikan/message/3190

SERTIFIKASI GURU YANG MELELAHKAN

SERTIFIKASI GURU YANG NELELAHKANSenang rasanya karena mendapatkan panggilan untuk mengikuti sertifikasi guru. Namun, perasaan senang itu hanya sebentar. Mengapa? Karena kami harus mengumpulan berkas portofolio untuk sertifikasi hanya dalam dua hari saja. Coba anda bayangkan! Dalam waktu hanya dua hari kami harus mengumpulkan dokumen portofolio yang merupakan kumpulan kinerja selama kami menjadi guru.

Kami mencoba menginventarisasi dokumen portofolio, mulai dari sertifikat sampai dengan modul pembelajaran yang telah kami buat. Di internet tertulis: kelulusan guru dalam program sertifikasi guru nasional akan dititikberatkan pada penilaian portofolio atau riwayat hidup guru tersebut. Jika penilaian portofolio masih dirasa kurang, baru diberi pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan portofolio guru tersebut.Mengumpulkan dokumen portofolio tidak semudah yang kami bayangkan. Perlu kerja keras, kerja cerdas, dan kerja tuntas. Kita sering melupakan hal-hal kecil. Kita letakkan begitu saja sertifikat yang telah kita dapatkan, baik dalam mengikuti seminar maupun pelatihan. Guru belum memiliki kemampuan untuk mengumpulkan berkas portofolionya dengan manajemen yang baik. Alhasil, sistim kebut semalam (SKS) itulah yang sering dikerjakan oleh para sebagian guru. Pusing rasanya mencari dokumen yang kita sendiri lupa meletakkannya. Mulai dari ijazah S1, sertifikat pelatihan, surat-surat tugas, SK pengangkatan guru, rencana pembelajaran dan lain-lain.Portofolio adalah bukti dokumen yang menggambarkan pengalaman berkarya yang dicapai dalam menjalankan tugas profesi sebagai guru dalam interval waktu tertentu. Dokumen ini terkait dengan unsur pengalaman, karya, dan prestasi selama guru yang bersangkutan menjalankan peran sebagai agen pembelajaran (kompetensi kepribadian, pedagogik, profesional, dan sosial). Sertifikasi bagi Guru dalam Jabatan, komponen portofolio meliputi: (1) kualifikasi akademik, (2) pendidikan dan pelatihan, (3) pengalaman mengajar, (4) perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, (5) penilaian dari atasan dan pengawas, (6) prestasi akademik, (7) karya pengembangan profesi, (8) keikutsertaan dalam forum ilmiah, (9) pengalaman organisasi di bidang kependidikan dan sosial, dan (10) penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan.

Hampir saja saya terjebak dalam memenuhi berkas penilaian portofolio. Teman saya yang menjadi asesor mengingatkan ”guru-guru dalam mengikuti uji sertifikasi jangan terjebak pada upaya memenuhi penilaian portofolio semata. Sebab, penilaian portofolio yang kurang masih bisa diatasi dengan mengikuti pendidikan dan pelatihan (diklat). Untuk memenuhi portofolio jangan sampai guru itu mengada-adakan apa yang tidak ada. Sekarang ini, kesannya banyak guru yang panik. Karena merasa seolah-olah kelengkapan portofolio sebagai satu-satunya jalan untuk lulus”.Saya jadi tertawa geli sendiri kalau ingat itu. Teman-teman yang ikut sertifikasi sudah tidak berkonsentrasi lagi dalam mengajar. Mereka semua mengakui itu dengan jujur. Termasuk saya. Belum banyaknya dokumen yang diperlukan membuat kami panik, dan kepikiran terus, dimana kami menyimpan berkas itu. Belum lagi ijazah yang belum dilegalisir, tanda tangan pengawas, dan lain-lain yang sangat memusingkan. Sertifikasi guru dengan penilaian portofolio telah mengunci pikiran kami. Dalam otak kami adalah bagaimana caranya agar dapat lulus sertifikasi, sehingga tidak perlu lagi ikut diklat. Mulailah kami bergotong royong sesama guru. Kebetulan ada 20 orang disekolah kami yang dipanggil untuk mengikuti sertifikasi. Kami mulai berbagi tugas. Ada yang kebagian mengumpulkan kegiatan-kegiatan pelatihan yang telah dilakukan, mengumpulkan surat tugas,  SK pengangkatan guru sampai mengumpulkan foto dan sertifikat teman-teman yang hilang atau tercecer karena lupa. Semua itu kita lakukan dengan penuh ketekunan, kejujuran, dan keikhlasan.

Kami saling melengkapi, dan tidak mementingkan diri sendiri. Bila dari kami banyak yang lulus, maka kredibilitas sekolah pun akan terangkat. Kami pun sangat bersemangat dalam mengumpulkan berkas. Bahkan sampai menginap di sekolah. Tak ada yang santai. Semua bekerja, dan saling mengingatkan kalau ada diantara kami yang kurang dalam mengumpulkan point yang harus dilampaui agar mendapat nilai 850 sebagai syarat kelulusan.

Sertifikasi guru sungguh melelahkan. Semua mencoba berbagi tugas. Kepala TU pergi ke rumah pengawas untuk meminta tanda tangan.  Kepala sekolah, dengan penuh kesabaran menanda tangani berkas-berkas kami sebagai syarat legalisasi. Ketua MPO (Majelis Pembina Osis) membagikan surat tugas kegiatan. Ketua MPE (Majelis Pembina Ekskul) memberikan surat keterangan bagi guru yang mendampingi siswa dalam berbagai perlombaan. Tak ada yang tertidur pulas. Point demi point kami kumpulkan. Kami baca kembali buku panduan portofolio.                                   Sayangnya, kami lemah dalam pembuatan media pembelajaran dan kurang melakukan kegiatan sosial di luar, karena waktu kami sudah habis di sekolah. Kemampuan menulis karya tulis pun lemah. Dari 20 orang guru itu hanya ada satu orang yang sudah mengikuti lomba karya tulis guru tingkat nasional. Padahal setiap tahun depdiknas melaksanakan lomba karya tulis, baik lomba keberhasilan guru dalam pembelajaran, karya inovasi guru, lomba karya tulis imtak, dan lomba karya tulis untuk siswa akselerasi. Kemampuan guru juga sangat lemah dalam membuat buku. Hanya beberapa guru saja yang membuat sendiri buku pelajarannya. Belum ada diantara kami yang mendapatkan penghargaan sebagai guru teladan tingkat nasional. Kalaupun ada baru tingkat sekolah dimana tempat kami bekerja dan berkarya.                                      Portofolio berfungsi untuk menilai kompetensi guru dalam menjalankan tugas dan perannya sebagai agen pembelajaran. Kompetensi pedagogik dinilai antara lain melalui dokumen kualifikasi akademik, pendidikan dan pelatihan, pengalaman mengajar, perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran. Kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial dinilai antara lain melalui dokumen penilaian dari atasan dan pengawas.  Kompetensi profesional dinilai antara lain melalui dokumen kualifikasi akademik, pendidikan dan pelatihan, pengalaman mengajar, perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, dan prestasi akademik.                                       .          

Sertifikasi guru memang melelahkan. Tetapi kalau kita sudah menyiapkan diri dari jauh-jauh hari, maka kelelahan itu akan menjadi kegembiraan. Dari teman yang telah lulus sertifikasi di gelombang pertama mengatakan,” perlu waktu enam bulan untuk mengumpulkan berkas-berkas portofolionya”. Sebenarnya masalah sertifikasi itu berakar pada masalah kualitas guru dan kesejahteraan guru. Bila guru berkualitas, maka kesejahteraan pun akan datang menghampirinya.

Dalam bulan Januari 2008, kita berdoa agar lulus dan tertulis di website sertifikasiguru.org. Kalau ternyata tidak lulus, harus siap ikut diklat. Walaupun akhirnya waktu untuk keluarga terkurangi, karena dilakukan pada hari Sabtu-Minggu.Sertifikasi guru sungguh melelahkan. Tapi buat dosen sebagai asesor sangat membahagiakan. Semoga pemerintah kita selalu memperhatikan terus nasib para guru.  Wijaya Kusumah, S.Pd

Guru SMP Labschool Jakarta HP. 08159155515