SERTIFIKASI GURU, MERUGIKAN ATAU MENGUNTUNGKAN?

Betapa terkejutnya saya ketika dari sudin Jakarta Timur, bapak Sutrisno menghubungi saya dan mengatakan kalau berkas sertifikasi portofolio saya hilang dan saya diminta untuk menyerahkan 1 berkas copynya kembali. Bagaimana mungkin berkas berkas yang begitu tebal bisa tercecer apalagi hilang??? Yang lebih terkejut lagi, beliau mengatakan bahwa kalau saya tidak mengumpulkan, maka saya dianggap gugur dari sertifikasi guru.

Sertifikasi guru, buat saya justru merugikan. karena waktu saya habis hanya untuk mengumpulkan berkas-berkas portofolio. Apalagi berkas portofolio saya sebagian ada yang terkena banjir  jadi sulit buat saya mengumpulkan berkas dalam waktu dekat.

Sertifikasi guru sebenarnya meguntungkan guru, Karena bila lulus guru akan mendapatkan tambahan penghasilan. Besarnya cukup lumayan untuk membeli  sembako yang nilainya mulai meninggi.

Guru oh guru. Sertifikasi bukan membuatmu gembira tapi justru bersedih hati. Sertifikasi guru sungguh melelahkan. Semoga ada perbaikan yang lebih baik dari pemerintah yang mengupayakan perbaikan kualitas guru.

Iklan

35 responses to “SERTIFIKASI GURU, MERUGIKAN ATAU MENGUNTUNGKAN?

  1. Kapan pengumuman sertifikasi guru ? Kok belum ada juga ya? Gelombang satu saja belkum menerima honornya. Oh lama banget ya prosesnya

  2. saya minta gaji guru ditambah karena harga sembako pada naik dan harga2 semakin mahal !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  3. sertifikasi tidak menjamin profesianalisme guru. buang uang negara untuk prosess dan bayar yang memeriksa fortopolio.toh yang penting tua dan lama ngajar. kan lebih baik pemerintah langsung nambah gaji menurut lama ngajar dan memberi reward bagi guru yang berprestasi klo mau nambah kesejahtraan guru.

  4. saya setuju denga anda mbak nuraini.

    salam
    Omjay

  5. saya setuja sekali dengan mba nuraini tuh lebih baik gajinya aja dinaikan… portofolio banyak yang curang datanya, lebih baik itu untuk guru2 yang benar2 berprestasi saja.

  6. Sungguhpun saya telah lulus sertitifikasi, pada dasarnya hati kecil saya dari dulu pun tidak setuju. Mungkin alasannya sama dengan orang lain yang tidak setuju, yaitu untuk mengukur profesionalisme seorang guru bukan dengan dengan cara “Mengumpulkan Kertas”, melainkan dengan diinvestigasi (diintip, disupervisi, dinilai) secara berkelanjutan dalam rentang waktu tertentu. Jika dinilai baik dan memenuhi kriteria profesional, ya tak perlu lagi diharuskan ini-itu yang tetek bengek.. langsung keluarkan sertifikat dan segera bayar uang tunjangannya. Itu baru “ILMIAH…”

  7. Pada dasarnya program pemerintah tentang sertifikasi guru ini mempunyai tujuan yang positif, yaitu untuk meningkatkan dan mengetahui sejauh mana kemampuan seorang guru dalam mendidik peserta didiknya dan diharapkan setelah lulus nanti siswanya menjadi lulusan yang berkualitas. Dan perlu di ingat juga bahwasanya dengan adanya sertifikasi ini bukan hanya uang – uang dan uang yang ada di kepala seorang guru. Karena tugas seorang guru adalah tugas yang MULIA,(tanpa mengharapkan tanda jasa) agar kelak nanti generasi penerus muda bangsa indonesia ini, bisa lebih baik dari yang sekarang. amin.

  8. saya setuju dengan mas Wartono.

    salam
    Omjay

  9. Sertifikasi itu baik tapi lebih baik naikkan gaji semua guru baik negeri maupun swasta secara adil dan bijaksana, perbaiki gedung plus sarana prasarananya yang komplit, beri penghargaan lebih bagi yang dah terbukti berprestasi…Insya Allah pendidikan kita maju.

  10. INDRO SLB WD3 NGAGLIK

    Kita harus selalu berpikir positif tentang sertifikasi guru. Saya yakin sertifikasi profesi guru ini bertujuan baik terutama untuk peningkatan kualitas pendidikan di negeri ini yang sekarang tertinggal dengan negara-negara tetangga. Bagi kita sebagai guru yang penting harus berusaha meningkatkan kualitas diri, terutama yang sudah bersertifikasi. Maju terus guru…… anak didik selalu merindukanmu….

  11. Sebaiknya guru yang tidak lulus sertifikasi tidak perlu didiklat atau dipaksakan lulus. Selain biaya yang dikeluarkan pemerintah sudah cukup besar untuk proyek pelatihan, guru akan seenaknya maju sertifikasi tanpa bekal yang cukup alias pasrah/bonek, yang penting lulus sertifikasi walau kena diklat. Ini mirip anak yang tidak lulus Ujian Nasional, lalu disuruh ikut ujian ulangan. Sebaiknya pemerintah membuat aturan guru yang maju sertifikasi harus siap segalanya, baik data, sertifikat, karya tulis, dll. Bila tidak siap, guru tidak usah maju sertifikasi dan harus mempersiapkan diri dulu dengan matang. Kalau memang tidak lulus ya tidak lulus, tidak perlu di diklat. Bila tidak lulus guru bisa maju tahun yang akan datang. Jalur portofolio tidak selamanya jelek. Bagi guru yang benar-benar berkualitas jalur portofolio bisa digunakan untuk unjuk kemampuan guru. Banyak guru yang masih jujur. Program sertifikasi guru juga tidak menjamin guru jadi profesional. Ukuran profesional bukan dilihat dari sertfikasi/selembar sertifikat pendidik, tapi banyak aspek yang mempengaruhi. Di lapangan banyak guru yang berkualitas walau tidak ikut sertifikasi. Jadi jangan mengatakan bahwa guru yang tidak ikut sertfikasi bukan guru profesional. Ukuran profesional untuk guru di Indonesia masih jauh dari harapan, karena pendidikan di negeri ini banyak dikaitkan dengan kepentingan proyek, dan ujung-ujungnya uang. Jujur saja di lapangan banyak guru setelah ikut sertifikasi bukan tambah baik mengajarnya, bahkan ada yang seenaknya sendiri dalam mengajar….yang penting dapat TPP/uang tunjangan (dalam benaknya selalu berpikiran uang dan uang….). Bahkan yang lebih memprihatinkan uang tunjangan (TPP) digunakan untuk kepentingan yang tidak menunjang profesinya, misalnya untuk bayar utang, beli sepeda motor, nyicil rumah, dsb. Memang tidak ada larangan orang menggunakan uang tunjangan (TPP), tapi seharusnya tunjangan profesi diberikan dalam rangka untuk membiayai kegiatan guru dalam mengajar yang memerlukan dana banyak. Mustahil pendidikan yang berkualitas tanpa biaya. Dan banyak dijumpai tunjangan sertifikasi (TPP) membuat iri guru yang tidak dapat tunjangan/tidak ikut sertifikasi. Sebaiknya kalau pemerintah memberikan tunjangan kepada guru seharusnya disamaratakan saja baik PNS, Non-PNS, GTY/GTT. Dan yang lebih aneh lagi masih adanya upaya membeda-bedakan julukan antara guru Tetap dan Guru Tidak Tetap. Guru yang tetap guru, tidak perlu ada perbedaan status/sebutan yang membuat perlakuan terhadap guru jadi berbeda-beda/diskriminatif, Guru Tidak Tetap tidak boleh ikut sertfikasi, hanya guru tetap yayasan saja. Ini namanya tidak adail, sama-sama jadi guru tapi perlakuan tidak sama, baik status atau pemberian tunjangan.
    Kalau sistem pendidikan di Indonesia seperti ini terus, maka jangan harap pendidikan di Indonesia bisa maju. Tolong pemerintah segera memperhatikan masalah akut ini.

  12. Kewajiban yang sudah lulus sertifikasi harus mengajar……………. tapi aneh di satu sekolahan dia malah kayak BOS alias tidak ngajar…. makan gaji apa ituuuuuuuuuuuu…..?>?

  13. Saya setuju,tinjau lagi masalah sertifikasi,daripada buang uang negara

  14. yes. saya setuju. Tinjau lagi sertifikasi guru.

    salam
    Omjay

  15. saya merasa sebagai guru yg masih jauh dari sertifikasdi seperti guru sampah!!!
    banyak hutang, bayar kuliah,biaya keluarga,harus surfaif di masyarakat, wuahhh berat…beruat sekali dehh ehek..ehek..!!!

  16. Saya juga menemukan keanehan dengan program sertifikasi guru. Bayangkan “guru” yang sebelumnya tidak pernah mengajar tapi lancar naik golongan IV/A, berhasil lolos sertifikasi guru dan menerima tunjangan profesi. Setelah itu tidak (bisa) mengajar. Ada juga guru yg suka bolos mengajar, lolos sertifikasi guru dan menerima tunjangan profesi. Setelah itu bolos lagi, bahkan tidak mengajar…..Lebih aneh lagi tidak ada sanksi…Sehingga saya berkesimpulan sertifikasi guru seperti dagelan. Jadi yang merusak pendidikan itu sebenarnya siapa?

  17. semoga kita tak menjadi guru yg seperti itu ya

    salam
    omjay

  18. Sertifikasi guru saya pandang sebagai sisi positif untuk meningkatkan tugas dan peran guru untuk mencerdaskan anak bangsa.jika masih ada yang menilai negatif,itu hal yang wajar . yang terpenting adalah bagi guru yang telah mendapatkan tunjangan tsb dapat menjadikan motivasi dan daya kreasi bagi lingkungan pendidikan. sebaik apa kita berbuat sebaik itu pula yang kita peroleh.jangan pernah menilai sesuatu yang belum tentu umum kebenarannya
    sudah atau belum sertifikasi hanyalah soal waktu. terima,syukuri dan sebarkan pengabdian.berikan solusi terbaik untuk perbaikan dunia pendidikan kita . ditanganmu para guru negeri ini akan maju.

  19. sertifikasi guru sebenarnya pelecehan terhadap pengawas, dinas pendidikan karena dianggap nggak berguna untuk meningkatkan mutu guru…at yg muda sudah dapat, terjadi kecemburuan , padahal guru sudah punya akta V, akta itu adalah sertifikat, ini melecehkan perguruan tinggi kependidikan, sementara PNS/TNInon guru mendapat remunerasi tanpa syarat…bayangkan kalau TNI/Polri harus sertifikasi…..para jenderal yg perutnya buncit nggak bakalan lulus sertifikasi hehehe…..

  20. saya tidak setuju dengan adanya SERTIFIKASI guru karena hanya akan membuat sombong dan bisa menimbulkan kesenjangan sosial…uang sertifikasi hanya tuk beli perlengkapan rumah,beli motor, tp ngajarnya enak2an aj…

  21. itulah yg kita sayangkan mas, hehehe

    salam
    Omjay

  22. walaupun saya bkn guru tp klo liat spt ini kasihan guru yg honorer,..yg kaya makin kaya yg miskin makin miskin…toh,klo liat krj guru yg punya sertifikasi krjny mlh enk2 aj..hanya nyuruh guru yg honorer(“maaf nnt saya ad kpntingan tlg ank2 diajr dulu”)tinggal printah aj..tp yg dpt gaji GEDE mlh seneng2 yg pntng dpt uang sertifikasi bs belanja beli mobil,byr utng,renovasi rumah,beli motor dll…ehm…trs ank didikny dikemanakan…………emg pendidikan indonesia sdh baex…mlh semakin memburuk.kasihan yg ank didiknya klo mo bljr hrs nyebrang sungai..sdngkan guru laen kipas2..dg uang sertifikasih…sgguh ta ADIL………

  23. ya begitulah yg terjadi dalam dunia pendidikan kita mas

    salam
    omjay

  24. Ping-balik: Sertifikasi Guru: Merugikan atau Menguntungkan? | JEJARINGKU.com

  25. Sertifikasi guru = harapan dan angan-angan . Harapan meningkatnya kualitas ternyata belum nampak . namun saya setuju dengan sertifikasi karena menguntungkan ,pertama bisa meningkatkan kesejahteraan guru PNS dan honor. kedua, mengangkat derajat guru. ketiga, menambah kepercayaan diri guru. keempat, sarana pengawasan publik, jadi guru sekarang merasa diawasi oleh publik atau masyarakat. keloima menumbuhkan rasa tanggung jaweab yang tinggi

  26. setuju mbak

    salam
    omjay

  27. Secara finansial tentulah menguntungkan, asalkan guru tersebut dapat memanfaatkannya dg baik. Tujuan dari pemberian tunj sertifikasi oleh pemerintah itu untuk peningkatan profesionalisme kita para guru, peningkatan yang lain itu menjadi nomor kesekian … seharusnya. Membeli sarana belajar dan pengajaran, mengikuti pendidikan latihan yg bermanfaat, melanjutkan pendidikan ke S2, jika perlu S3 dll, yang dulunya hanya sebatas angan angan … pastilah bisa kita wujudkan.
    Dengan meningkatkan pendidikan dan kualitas diri kita, tentunya akan menambah pula rezeki kita nantinya.

    Tapi jika TS kita pergunakan unt menambah (maaf) barang barang sekunder bahkan meningkatkan intensitas kualitas dan kuantitas belanja kita, kondisi ini tentunya akan membuat kondisi ekonomi kita semakin terpuruk. Tagihan bulanan meningkat, yang ditunggu tunggu g datang2 juga. Tekanan darah naik, hilang konsentrasi mengajar, mencari akal biar tdk masuk kelas, … hal ini yang seharusnya kita hindari ada ataupun tdk ada TS.

    Kesenjangan sosial antara PNS dan non PNS, itu hanya masalah waktu dan kesempatan saja. Guru honor sekarang jauh lebih baik daripada ketika saya menjadi guru honor. Tak ada tunj dari Sudin Wilayah apalagi tunj sertifikasi.
    Mari teman2 senasib dan seperjuangan, kita kembali ke visi kita yang mulia. Rezeki biar Allah yang mengatur.

  28. sekarang kan sdh gak pakai portopolio… meunbtungkan?>rudikan atau meng

  29. apapun bentuknya, kit berharap sertifikasi benar-benar menguntungkan guru.

    salam
    Omjay

  30. bagi saya dengan adanya sertifikasi sangat menguntungkan dan menolong guru dalam hal kesejahteraan dan akan meningkatkan etos kerja guru

  31. Bagi saya sertifikasi untung, baik , bagus,, cuma yang harus diperbaiki adalah pelaksanaannya, tata cara, aturan atau proses, jangan di jadikan ajang pencarian penghasilan tambahan bagi pejabat tingkat kecamatan dan kabupaten/kota, dan bagi guru yang sudah di sertifikasi harus menunjukkan kinerja yang baik.

  32. Sertifikasi guru hanya administrasi belaka,bukan peningkatan kwalitas mengajar.Otomatis bukan peningkatan kwalitas belajar siswa.Buat silabus,rpp ,dll di atas kertas.Rajin datang ke sekolah,tetapi pelaksanaan di dalam kelas ” MASIH SEPERTI YANG DULU “.Seolah-olah pemerintah tidak ikhlas menaikkan kesejahteraan guru.Jadi sebenarnya bukan masalah kompetes dan kesejahteraan,i tetapi masalah mental saja.Angkat guru yang betul-betul bermental guru.Sertifikasi=Nonsen!!!

  33. Sertifikasi guru selain merugikan negara juga merugikan siswa , kenapa setelah lulus diuji ulang dalam UKG tidak lulus berarti dana itu tidak digunakan untuk penunjang profesi guru,sebaiknya bantuan itu diberi bukan dalam bentuk uang seluruhnya tapi perlengkapan dalam mengajar sesuai bid studi masing2

  34. aryapringadi@gmail.com

    Sertifikasi guru sungguh sangat merugikan Negara ini kenapa selain hanya menghamburkan uang juga yang kaya semakin kaya , guru yang sudah sertifikasi kerjanya hanya mikirkan uang sertifikasi terus bukan meningkatkan kualitas muridnya.
    coba sekarang kita lihat dilapangan dengan mata kepala kita sendiri,guru yang sudah sertifikasi sudah mulai dengan egonya ,mulai bangun rumah,beli mobil,shoping dll,itu semua hanya merugikan dan hanya menghabiskan uang negara saja.
    Sertifikasi tahun 2014 hapus saja.

  35. lucu para guru PNS setelah dapat sertifikasi masih saja mencari jam ngajar di sekolah lain ada yang mengajar di empat sekolah bahkan lebih,, hebatnya lagi sekolah penempatan mengajar sering ditinggalkan.