Daily Archives: Juni 14, 2008

CREATIVE LEARNING ENVIRONMENTS

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Proses belajar sesungguhnya bukanlah semata kegiatan menghafal, banyak hal yang diingat akan hilang dalam beberapa jam. Mempelajari bukanlah menelan semuanya, karena untuk mengingat apa yang telah diajarkan siswa harus mengolahnya atau memahaminya. Seorang guru tidak dapat dengan serta merta menuangkan sesuatu ke dalam benak para siswanya karena mereka sendirilah yang harus menata apa yang mereka dengar dan lihat menjadi satu kesatuan yang bermakna tanpa peluang untuk mendiskusikan, mengajukan pertanyaan, mempraktikan bahkan hinggga mengajarkannya kepada siswa lain. Proses belajar berlangsung secara bergelombang karena belajar memerlukan kedekatan materi yang hendak dipelajari, jauh sebelum memahaminya.

Belajar juga memerlukan kedekatan dengan berbagai hal, bukan sekedar pengulangan tetapi langsung diajarkan dengan media yang konkret, melalui buku-buku latihan dan dengan mempraktikan kegiatan sehari-hari dalam menyajikan konsep yang akan menentukan pemahaman siswa. Dan untuk menarik keterlibatan siswa, guru harus membangun hubungan yaitu dengan menjalin rasa simpati, saling pengertian, hubungan akan membangun jembatan menuju kehidupan bergairah siswa, membuka jalan memasuki dunia mereka, mengatahui minat kuat, berbagi kesuksesan puncak, dan berbicara dengan hati mereka. Membina hubungan bisa memudahkan guru melibatkan siswa memudahkan dalam pengelolaan kelas, memperpanjang focus, dan meningkatkan kegembiraan dalam belajar.
Lingkungan kelas mempengaruhi kemampuan siswa untuk berfokus dan menyerap informasi, sedangkan alat Bantu/media belajar dapat membantu dalam memahami pelajaran dikelas. Lingkungan belajar yang baik harus diciptakan dan dijaga sepanjang tahun. Salah satu cara untuk melakukan hal ini adalah dengan mencoba prefentif terhadap masalah-masalah yang mungkin akan muncul. Namun ketika masalah-masalah muncul-sebagaimana biasanya-respon yang tepat merupakan hal yang penting.
Kecenderungan sekarang ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah, belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa ynag dipelajarinya, bukan mengetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi `mengingat` jangka pendek tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang, dan itulah yang terjadi dikelas-kelas sekolah kita.
Suatu konsep belajar atau suatu metode belajar yang membantu guru mengatikan antara materi yang diajarkan nya dengan situasi dunia nyata siswa yang mendorong siswa untuk membuat hubungan antara pengetahuan yan dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebaagi anggota keluarga dan masyarakat, diharapkan melalui konsep atau strategi pembelajaran menghasilkan sesuatu yang lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung ilmiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru dan siswa karena strategi pembelajaran lebih dipentingkan dari pada hasil.
Siswa perlu mengerti apa makna belajar, manfaatnya, daalm status apa mereka dan bagaimana mencapainya, siswa sadar bahwa yang mereka pelajari berguna bagi hidup siswa nanti dengan begitu dapat memposisikan sebagai diri sendiri yang memerlukan suatu bekal untuk hidupnya dan mempelajari apa yang bermanfaat bagi diri siswa itu sendiri. Dalam upaya itu siswa memerlukan guru sebagai pengarah dan pembimbing.
Tugas guru sekarang adalah membantu siswa mencapai tujuannya, maksudnya guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi, dengan mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekarja sama untuk menemukan sesutau yang baru bagi anggota kelas/ siswa. Sesuatau yang baru (baca pengetahuan dan keterampilan) data dari `menemukan sendiri` bukan dari apa kata guru, begeitulah peran guru dikelas yang dikelola dengan pendekatan kontekstual.
Kontekstual hanyalah salah satu strategi pembelajaran, seperti halnya strategi pembelajaran yang lain (CBSA, Pendekatan Quantum Learning, Student active Learning, meaningful Learning, Problem Based Learning, Cooperative learning, Work–Based Learning dan lain-lain), kontekstual dikembangkan dengan temuan agar pembelajaran berjalan lebih produktif dan bermakna, dengan menghidupkan kelas yang memberdayakan siswa atau berfokus pada siswa yaitu kelas yang produktif dan menyenangkan dan dapat dijalankan tanpa harus mengubah kurikulum dan tatanan yang ada.
Permasalahannya adalah bagaimana menciptakan lingkungan sosial dan fisikal untuk pembelajaran sehingga siswa menjadi kreatif belajar aktif dan menyenangkan?

Baca lebih lanjut

Iklan

Action Research (AR)

Paradigma dan Karakteristik Action Research (AR)

Oleh: Conny Semiawan

I. Pengantar

AR adalah salah satu jenis riset sosial terapan yang pada hakekatnya merupakan suatu eksperimen sosial dengan mengintrodusir policy baru dengan memonitor efek-efeknya. AR berusaha mengidentifikasi masalah sosial yang dirancang untuk mewujudkan suatu test emperis sebagai vehicle (Greenwood, et. al., 2003) terhadap pengujian tingkat efektivitas atau aplikabilitas suatu teori tertentu pada pemecahan masalah-masalah sosial yang relevan. Selain itu, AR juga merupakan suatu inovasi untuk menghasilkan perubahan dalam prosedur kebijakan dengan dimonitor melalui metoda riset sosial (Payne & Payne, 2004).

Baca lebih lanjut

Penelitian Tindakan

Eligibilitas Action Research (AR) sebagai Disertasi
di Program Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta
Oleh: Conny R. Semiawan

I. Pendahuluan

Akhir-akhir ini ahli pendidikan profesional berpendapat bahwa nilai dari suatu riset harus dipandang sebagai suatu aktivitas yang merupakan bagian integral dari suatu karya profesional. Sebaliknya, sebelumnya, para akademisi menuntut bahwa riset adalah hak mereka untuk diperlakukan terhadap pekerja profesional. Riset (research) ditandai oleh suatu systematic inquiry yang memiliki ciri, prinsip, pedoman, prosedur yang harus memenuhi kriteria tertentu.
Baca lebih lanjut