CREATIVE LEARNING ENVIRONMENTS

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Proses belajar sesungguhnya bukanlah semata kegiatan menghafal, banyak hal yang diingat akan hilang dalam beberapa jam. Mempelajari bukanlah menelan semuanya, karena untuk mengingat apa yang telah diajarkan siswa harus mengolahnya atau memahaminya. Seorang guru tidak dapat dengan serta merta menuangkan sesuatu ke dalam benak para siswanya karena mereka sendirilah yang harus menata apa yang mereka dengar dan lihat menjadi satu kesatuan yang bermakna tanpa peluang untuk mendiskusikan, mengajukan pertanyaan, mempraktikan bahkan hinggga mengajarkannya kepada siswa lain. Proses belajar berlangsung secara bergelombang karena belajar memerlukan kedekatan materi yang hendak dipelajari, jauh sebelum memahaminya.

Belajar juga memerlukan kedekatan dengan berbagai hal, bukan sekedar pengulangan tetapi langsung diajarkan dengan media yang konkret, melalui buku-buku latihan dan dengan mempraktikan kegiatan sehari-hari dalam menyajikan konsep yang akan menentukan pemahaman siswa. Dan untuk menarik keterlibatan siswa, guru harus membangun hubungan yaitu dengan menjalin rasa simpati, saling pengertian, hubungan akan membangun jembatan menuju kehidupan bergairah siswa, membuka jalan memasuki dunia mereka, mengatahui minat kuat, berbagi kesuksesan puncak, dan berbicara dengan hati mereka. Membina hubungan bisa memudahkan guru melibatkan siswa memudahkan dalam pengelolaan kelas, memperpanjang focus, dan meningkatkan kegembiraan dalam belajar.
Lingkungan kelas mempengaruhi kemampuan siswa untuk berfokus dan menyerap informasi, sedangkan alat Bantu/media belajar dapat membantu dalam memahami pelajaran dikelas. Lingkungan belajar yang baik harus diciptakan dan dijaga sepanjang tahun. Salah satu cara untuk melakukan hal ini adalah dengan mencoba prefentif terhadap masalah-masalah yang mungkin akan muncul. Namun ketika masalah-masalah muncul-sebagaimana biasanya-respon yang tepat merupakan hal yang penting.
Kecenderungan sekarang ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah, belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa ynag dipelajarinya, bukan mengetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi `mengingat` jangka pendek tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang, dan itulah yang terjadi dikelas-kelas sekolah kita.
Suatu konsep belajar atau suatu metode belajar yang membantu guru mengatikan antara materi yang diajarkan nya dengan situasi dunia nyata siswa yang mendorong siswa untuk membuat hubungan antara pengetahuan yan dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebaagi anggota keluarga dan masyarakat, diharapkan melalui konsep atau strategi pembelajaran menghasilkan sesuatu yang lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung ilmiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru dan siswa karena strategi pembelajaran lebih dipentingkan dari pada hasil.
Siswa perlu mengerti apa makna belajar, manfaatnya, daalm status apa mereka dan bagaimana mencapainya, siswa sadar bahwa yang mereka pelajari berguna bagi hidup siswa nanti dengan begitu dapat memposisikan sebagai diri sendiri yang memerlukan suatu bekal untuk hidupnya dan mempelajari apa yang bermanfaat bagi diri siswa itu sendiri. Dalam upaya itu siswa memerlukan guru sebagai pengarah dan pembimbing.
Tugas guru sekarang adalah membantu siswa mencapai tujuannya, maksudnya guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi, dengan mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekarja sama untuk menemukan sesutau yang baru bagi anggota kelas/ siswa. Sesuatau yang baru (baca pengetahuan dan keterampilan) data dari `menemukan sendiri` bukan dari apa kata guru, begeitulah peran guru dikelas yang dikelola dengan pendekatan kontekstual.
Kontekstual hanyalah salah satu strategi pembelajaran, seperti halnya strategi pembelajaran yang lain (CBSA, Pendekatan Quantum Learning, Student active Learning, meaningful Learning, Problem Based Learning, Cooperative learning, Work–Based Learning dan lain-lain), kontekstual dikembangkan dengan temuan agar pembelajaran berjalan lebih produktif dan bermakna, dengan menghidupkan kelas yang memberdayakan siswa atau berfokus pada siswa yaitu kelas yang produktif dan menyenangkan dan dapat dijalankan tanpa harus mengubah kurikulum dan tatanan yang ada.
Permasalahannya adalah bagaimana menciptakan lingkungan sosial dan fisikal untuk pembelajaran sehingga siswa menjadi kreatif belajar aktif dan menyenangkan?

BAB II
PEMBAHASAN

A. BELAJAR
1. Proses Belajar

  • Belajar tidak hanya sekedar menghafal, siswa harus mengkonstruksikan pengatahuan di benak mereka sendiri.
  • Anak belajar dari mengalami, dengan mencatat sendiri pola bermakna dari pegetahuan baru bukan diberi begitu saja oleh guru.
  • Pengetahuan yang dimiiki seseorang itu terorganisasi dan mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang sesuatu persoalan (subject matter).
  • Pengetahuan tidak daapt dipisah-pisahkan menjadi fakta-fakta atau proposisi yang terpisah tetapi mencerminkan ketrerampilan yang dapat diterapkan.
  • Manusia mempunyai tingkat yang berbeda dalam menyikapi situasi baru.
  • Siswa perlu dibiasakan memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya dan bergelut denagn ide-ide.
  • Proses belajar dapat mengubah otak, perubahan itu terus berjalan seiring dengan perkembangan organisasi pengetahuan dan keterampilan seseoran, untuk itu perlu dipahami strategi belajar yang salah dan terus menerus akan mempengaruhi struktur otak, yang pada akhirnya mempengaruhi perilaku.

2. GAYA BELAJAR
Kalangan pendidik menyadari bahwa peserta didik memiliki berbagai macam cara belajar, sebagian siswa dapat belajar dengan sangat baik hanya dengan melihat orang lain melakukannya. Biasanya mereka menyukai penyajian informasi yang runtun, dengan menuliskan apa yang dikatakan guru dan selama pelajaran lebih suka diam dan jarang jarang terganggu oleh kebisingan. Peserta didik visual berbeda dengan peseta didik auditori, yang sering memperlihatkan apa yang dikerjakan oleh guru dan menuliskannya dalam saebuah catatan, mereka mengandalkan kemampuan mendengaar dan mengingat selama pelajaran mereka banyak bicara dan mudah teralihkan perhatiannya pada suara dan kebisingan.
Para peserta didik kinestetik terlibat langsung dalam kegiatan belajar, mereka cenderung impulsif, kurang sabar, selama pelajaran dan gelisah bila tidak bisa leluasa bergerak dalam mengerjakan sesuatu. Cara belajar yang digunakan boleh jadi tampak sembarangan dan tidak terarah.
Menurut Bandler dan Grinder, 1981) gaya belajar berperan sebagai saringan untuk pembelajaran, pemrosesan dan komunikasi, hampir setiap manusia memiliki akses ketiga gaya belajar yaitu: visual, auditorial, kinestetik.
Seorang siswa tidak hanya cenderaung pada satu gaya belajar mereka memanfaatkan kombinasi gaya belajar tertentu untuk memberi bakat mereka dan mengisi kekurangan (Markova, 1992)
a. Visual (MELIHAT)
Gaya belajar ini mengakses citra visual, yang diciptakan maupun diingat dan mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1. Lebih sering melihat sesuatu yang rapi dan teratur
2. Cenderung berbicara cepat
3. Perencna dan pengatur yang baik
4. Pandai dan cermat pada masalah-masalah yang terperinci
5. Berpenampilan rapi
6. Pandai mengeja dan mendeteksi pikiran orang lain
7. Mengingat hal-hal yang diingat lebih baik dari pada yang didengar
8. Menghafal dengan daya ingatnya
9. Umumnya tidak terganggu oleh suara bising
10. Masalah yang dihadapi adalah intruksi-instruksi yang bersifat lisan
11. Pembaca yang ulet
12. Lebih suka membaca dari pada dibacakan
13. Lebih suka pandangan konsep-konsep yang global (Menyeluruh dan teliti)
14. Berjalan pada saat bercakap-cakap
15. Sering lupa pada pesan-pesan lisan
16. Sering menjawab dengan cara lisan
17. Lebih suka berdemontrasikan sesuatu dari pada berpidato
18. Lebih suka pada karya artistik dari pada musik
19. Mengetahui apa yang akan diucapkan tapi sulit mengungkapkannya dengan kata-kata.
Tips untuk guru:
1. Sediakan pinsil warna dan lembaran kertas untuk membuat gambar dan tulisan.
2. Anjurkan agar mereka membuat coretan-coretan atau gambar ala kadarnya sambil mendengarkan pengarahan
3. Tekankan mereka untuk mengaris bawahi atau mewarnai atau memberi stabilo untuk kalimat pada buku yang dianggap penting
4. Sarankan mereka untuk membuat gambar yang bisa dikaitkan dengan kata-kata atau kejadian dibuku pelajaran (sekalipun gambarnya tidak bagus)

b. AUDITORI (MENDENGAR)
Dengan ciri-ciri sebagai berikut
1. Ketika belajar kadang-kadang berbicara sendiri
2. Menggerakan bibir dan mengucapkan kata-kata ketika berbicara.
3. Sering membaca dengan keras dan mendengarkan lagu-lagu dengan keras juga
4. Sulit mengarang dan menulis, lebih baik mengatakan langsung
5. Berbicara dengan naik turun dan berirama
6. Lebih suka musik dari pada seni lukis, kadang-kadang menjadi pembicara yang hebat
7. Lebih mudah mengigat dari pada yang pernah didengar
8. Belajar lebih mudah dengan cara mendengar lebih muda diingat
9. Gemar berdiskusi, pandai menjabarkan masalah-masalah.
10. Cenderung bermasalah pada yang bersifat visual, terutama bila merampungkan pencatatan masalah
11. Lebih suka lelucon
12. Tidak bisa ditebak
13. Pendirian tidak teguh
14. Terlalu sensitif terhadap kritikan
15. Tidak sabar pada keterbatasan waktu
16. Tidak suka meredakan masalah dari pada memecahkan masalah
Tips guru
1. Memberi kesempatan mereka menolong orang lain
2. Jangan terlalu cemas memberi masukan positif dan negatif
3. Jangan mengkritik seenaknya
4. Harus ingat mereka akan menyelesaikan masalah sekalipun tidak dengan cara anda.
5. Tidak menempatkan mereka ditengah konflik
6. Harus membiarkan mereka bersifat spontan
7. Menunjukan bahwa anda menghargainya
8. Tidak menggap bodoh jika ada perbuataan yang salah
9. Perlu diketahui bahwa tidak semua orang harus dilakukan terang-terangan.

c. KINESTETIS ( MELAKUKAN)
Dengan ciri-ciri:
1. Berbicara lamban dan halus
2. Menyentuh bibir dan mengungkapkan kata-kata ketika membacanya
3. Ketika berbicara umumnya mendekati lawan bicara
4. Sering bergerak
5. Pandai mengkopi dan meniru kata-kata yang diungkapkan orang lain
6. Menghapal dengan cara bergerak
7. Sering menggunakan alat petunjuk
8. Peraga dengan menggunakan bahasa gerak tubuh
9. Tidak dapat duduk diam
10. Sulit pada mata pelajaran geografi kecuali letak lokasi
11. Pandai beristilah
Tips guru
1. Dorong mereka untuk sering beristirahat (antara 5-10 menit) sewaktu mempelajari sesuatu
2. Sediakan kertas besar untuk membuat gambar atau tulisan saat belajar
3. Suruh mereka membuat catatan atau mewarnai apa yang harus dihapal sewaktu mereka mendengarkan

3. TRANSFER BELAJAR
– Siswa belajar dari mengalami sendiri bukan dari pemberian orang lain.
– Keterampilan dan pengetahuan diperluas dari konteks yang terbatas (sempit) sedikit demi sedikit.
– Penting bagi siswa tahu untuk apa ia belajar dan bagaimana ia menggunakan pengetahuan dan keterampilannya.

4. SISWA SEBAGAI PEMBELAJAR
a. Manusia mempunyai kecenderungan untuk belajar dalam bidang tertentu,dan seseorang anak mempunyai kecenderungan untuk belajar dengan cepat hal-hal baru .
b. Strategi belajar itu penting, anak dengan mudah mempelajari sesuatu yang baru. Akan tetapi, untuk hal-hal yang sulit, strategi belajar amat penting
c. Peran orang tua guru membantu menghubungkan antara yang baru dan yang diketahui.
d. Tugas guru menfalitasi agar informasi baru bermakna, memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan dan menerapkan ide mereka sendiri, dan menyadarkan siswa untuk menerapkan strategi mereka sendiri.

5. LIMA ELEMEN BELAJAR YANG KONSTRUKTIVISTIK
Menurut Zahorik (1995:14-22) ada lima elemen yang harusdiperhatikan dalm praktek pembelajaran kontektual.
a. Mengaktivkan pengetahuan yang sudah ada (Activing knowledge)
b. Memperoleh pengetahuan baru dengan cara mempelajari secara keseluruhan dulu ,kemudian memperhatikan detailnya
c. Pemahaman pengetahuan yaitu engan cara menyusun (a) konsep sementara(b) melakikan sering dengan orang lain agara mendapat tanggapan.(C)Dari tanggapan akan didapat konsep
d. Mempraktekan pengetahuan dan pengalamana tersebut
e. Melakukan refleksi terhadap stategi pengembangan pengetahuan tersebut.

PERBEDAAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL DENGAN PENDEKATAN KONVENSIONAL (BEHAVIORISME/ STRUKTURALISME)

NO PENDEKATAN KONTEKSTUAL PENDEKATAN KONVESIONAL
1. Siswa secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran Siswa adalah penerima informasi secara pasif
2. Siswa belajar dari teman melalui kerja kelompok, diskusi, saling mengoreksi. Siswa belajar secara individual
3. Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata atau masalah disimulasikan Pembelajaran sangat abstrak dan teoritis
4. Perilaku dibangun atas kesadaran sendiri Perilaku dibangun atas kebiasaan
5. Keterampilan dikembangkan atas dasar pemahaman Keterampialn dikembangkan atas dasar latihan
6. Hadiah untuk perilaku baik adalah kepuasan diri Hadiah untuk perilaku baik adalah pujian atau nilai (angka) di rapor.
7. Seseorang tidak melakukan yang jelek karena sadar hal itu keliru dan merugikan. Seseorang tidak melakuakn yang jelek karena hukuman
8. Bahasa yang diajarkan dengan pendekatan komutatif, yakni siswa diajak menggunakan bahasa dalam konteks nyata. Bahasa yang diajarkan dengan pendekatan struktural, rumus diterangkan sampai paham kemudian latihan (drill)
9. Pemahaman rumus dikembangkan atas dasar skemata yang sudah ada dalam diri siswa. Rumus itu ada di luar diri siswa yang harus diterangkan, diterima, dihafalkan, dan dilatihkan.
10. Pemahaman rumus itu relatif berbeda antara siswa yang satu dengan yang lainnya sesuaidengan skemata siswa (on going process of development) Rumus adalah kebenaran absolut (sama untuk semua orang) hanya ada dua kemungkinan yaitu pemahamn rumus yang salah atau benar.
11. Siswa menggunakn kemampuan berpikir kritis, terlibat penuh dalam mengupayakan terjadinya proses pembelajran yang efektif, ikut bertanggung jawab atas terjadinya proses pembelajaran yang efektif membawa pengetahuan masing-masing kedalam proses pembelajaran Siswa secara pasif menerima rumus atau kaidah (membaca, mendengarkan, mencatat, menghafal) tanpa memberikan kontribusi ide didalam proses pembelajaran.
12. Pengetahuan yang dimiliki manusia dikembangkan oleh manusia itu sendiri, menciotakan atau membangun pengetahuan dengan cara membari arti dan memahami pengalamannya. Pengetahuan adalah penangkapan terhadap serangkaina fakta, konsep, atau hukum yang berada didalm diri manusia.
13. Karena ilmu pengetahuan itu dikembangkan (dikonstruksi) oleh manusia sendiri, sementara selalu mengalami peristiwa baru maka pengetahuan tidak pernah stabil, selalu berkembang (tentative & incomplete) Kebenaran bersifat absolut dan penmgetahuan bersifat final.
14. Siswa diminta bertanggung jawab memonitor dan mengembangkan pembelajaran mereka masing-masing. Guru adalah penentu jalannya proses pembelajaran.
15. Penghargaan terhadap pengalaman siswa sangat diutamakan Pembelajaran tidak memperhatikan pengalaman siswa.
16. Hasil belajar diukur dengan berbagai cara seperti: proses bekerja, hasil karya, penampilan, rekaman. Tes dll. Hasil belajar diukur hanya denga tes.
17. Pembelajaran terjadi di berbagai tempat, konteks, dan setting. Pembelajaran hanya terjadi didalam kelas.
18. Penyesalan adalah hukuman dari perilaku yang jelek. Sanksi adalah hukum an dari perilaku yang jelek.
19. Perilaku baik berdasar motivasi instrinsik.
Perilaku baik berdasar motivasi ekstrinsik.
20. Seseorang berperilaku baik karena yakin itulah yang terbaik dan bermanfaat bagi dirinya sendiri. Seseorang berperilaku baik karena dia terbiasa melakukan, kebiasaan ini dibangun dengan hadiah yang menyenangkan.

6. PENTINGNYA LINGKUNGAN BELAJAR
– Belajar efektif itu dimulai dari lingkungan belajar yang berpusat pada siswa, dari guru akting didepan kelas, siswa menonton ke siswa akting bekerja dan berkarya, guru mengarahkan.
– Pengajaran harus berpusat pada bagaimanan cara siswa menggunakan pengetahuan baru mereka dengan strategi belajar lebih dipentingkan dibandingkan hasilnya.
– Umpan balik amat penting bagi siswa yng berasal dari proses penilaian (assessment) yang benar.
– Menumbuhkan komunitas belajar dalam bentuk kerja kelompok itu penting
a. Manajemen Kelas
Berbagai cara yang dilakukan para guru untuk menciptakan lingkungan sosial dan fisikal untuk pembelajaran dengan mengevaluasi manajemen kelas-salah satu hal yang sangat dipedulikan oleh para guru-khususnya guru baru. Karakteristik kelas, pengajaran, dan siswa menempatkan manajemen yang baik sebagai sebuah komposisi kritis untuk kesuksesan; kita akan mencari tahu mengapa hal ini benar adanya. Manajer yang sukses menciptakan lebih banyak waktu untuk pembelajaran, melibatkan lebih banyak siswa, dan membantu siswa untuk mampu mengendalikan diri.
Pengetahuan dan pengalaman dalam manajemen ruang kelas adalah suatu tanda pengalaman di bidang mengajar; stres dan kelelahan akan kesulitan manajerial merupakan hal yang sangat mempengaruhi pengajaran (Emmer & Stough, 2001). Ada apakah dalam ruang kelas yang mebuat manajemen menjadi sangat penting?
Kelas adalah sebuah bagian dari lingkungan. Mereka memiliki tampilan berbeda yang mempengaruhi penghuninya bagaimanapun para siswa atau meja ditata atau apa yang dipercayai guru berkaitan dengan pendidikan (Doyle, 1986). Ruang kelas adalah sesuatu yang multidimensional. Ruang kelas penuh dengan orang-orang,tugas , dan tenggat waktu. Berbagai individu, semuanya dengan tujuan, prioritas,dan kemampuan yang berbeda, harus berbagi bahan, menyelesaikan berbagai tugas, menggunakan dan menggunakan kembali materi tanpa perlu kehilangan materi tersebut,bergerak ke dan dari dalam ruang kelas, dan sebagainya. Sebagai tambahan, suatu aksi dapat mengakibatkan berbagai efek.
Dan berbagai hal terjadi secara berkesinambungan-segala sesuatu terjadi pada saat yang bersamaan dan dalam waktu yang cepat. Para guru mengalami beratus-ratus aktivitas bersama para siswanya hanya dalam satu hari saja. Sebagai tambahan, sejarah beberapa minggu pertama di sekolah akan mempengaruhi kelangsungan kelas sepanjang tahun.
Tak ada aktivitas produktif yang akan terjadi dalam sebuah kelompok tanpa adanya kerja sama dari seluruh anggota. Hal ini sangat jelas berlaku dalam sebuah ruang kelas. Bahkan jika beberapa siswa tidak berpartisipasi, mereka harus mengijinkan yang lain untuk melakukan hal yang sama. (Kita telah melihat satu atau dua orang siswa dapat menghentikan perkembangan seisi kelas.) Jadi tugas manajemen mendasar dari seornag guru adalah untuk menumbuhkan kepatuhan dan harmoni dengan menumbuhkan dan menjaga kerja sama siswa dalam aktivitas kelas (Doyle, 1986). Kondisi kelas yang multidimensional, berkelanjutan, cepat, tak terduga, publik, dan bersejarah bagaimanapun juga merupakan sebuah tantangan.
Tujuan dari manajemen kelas adalah untuk menjaga lingkungan belajar yang positif, dan produktif. Namun jika kita hanya terpaku pada hal ini, maka tujuannya sendiri bernilai nol. terdapat tiga alasan untuk mengatur manajemen kelas:
a. Waktu yang lebih banyak untuk pembelajaran.
Siswa hanya dapat mempelajari apa yang mereka alami waktu pembelajaran dan pembelajaran itu sendiri telah menemukan hubungan yang erat antara waktu yang dibutuhkan secara keseluruhan dan pembelajaran siswa itu sendiri (Berliner, 1988). Pada kenyataannya, hubungan antara isi pembelajaran dengan apa yang dipelajari siswa biasanya lebih besar daripada hubungan antara perilaku tertentu guru dan pembelajaran siswa (Rosenshine, 1979). Jadi salah satu tujuan penting dari manajemen kelas adalah untuk memperbanyak waktu yang tersedia untuk belajar. Hal ini biasanya disebut alokasi waktu.
Hanya meningkatkan jumlah waktu untuk belajar tidak secara otomatis memberikan hasil tertentu. Agar lebih berarti, waktu yang tersedia harus digunakan secara efektif. cara siswa memproses informasi merupakan faktor yang menentukan apa yang mereka pelajari dan ingat. Pada dasarnya, siswa akan belajar apa yang mereka lakukan dan pikirkan tentang sesuatu (Doyle, 1983). Waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan satu tugas pembelajaran biasanya disebut waktu keterlibatan-engaged time-, atau kadang-kadang juga disebut time on task.

b. Akses untuk Pembelajaran.
Setiap aktivitas kelas memiliki peraturannya masing-masing berkaitan dengan partisipasi. Kadang-kadang peraturan ini dikatakan dengan jelas oleh para guru, namun juga sering hanya disampaikan secara implisit atau tersirat dan tidak dikatakan. Guru dan siswa bahkan tidak peduli bahwa mereka memiliki peraturan yang berbeda untuk aktivitas yang berbeda (Berliner, 1983). Contohnya, dalam sebuah kelompok membaca, siswa mungkin harus mengangkat tangannya untuk memberikan komentar, namun dalam lingkaran tunjukkan dan katakan pada kelas yang sama, yang mereka butuhkan hanya menatap mata guru mereka, peraturan mendefinisikan siapa yang dapat berbicara, apa yang dapat mereka bicarakan, dan kapan, pada siapa, serta berapa lama mereka dapat berbicara sering disebut struktur partisipasi.
Dalam rangka berpartisipasi secara sukses dalam aktivitas yang diberikan, para siswa harus memahami struktur partisipasi. Beberapa siswa, bagaimanapun, terlihat datang ke sekolah dengan kemampuan yang lebih rendah untuk berpartisipasi daripada siswa yang lain. Struktur partisipasi yang mereka pelajari di rumah dalam interaksi dengan saudara, orang tua mereka, dan orang dewasa lainnya tidak sesuai dengan struktur partisipasi dalam aktivitas sekolah (Tharp, 1989). Sayangnya, para guru biasanya tidak melihat masalah ini. Sebaliknya, para guru yang melihat bahwa anak tersebut tidak cukup menyesuaikan diri, sepertinya selalu mengatakan hal yang salah pada waktu yang salah, atau sangat lambat dalam berpartisipasi, dan mereka tidak yakin apa yang menyebabkan hal tersebut terjadi.
Apa yang dapat kita simpulkan? Untuk mencapai tujuan kedua dari manajemen kelas-memberikan akses pembelajaran kepada seluruh siswa-anda harus yakin bahwa semuanya tahu bagaimana caranya untuk dapat berpartisipasi dalam aktivitas yang tengah berlangsung di kelas. Kuncinya adalah kepedulian. Anda harus dapat melihat dan menyadarinya. Apa peraturan dan harapan anda? Apakah sudah cukup dapat dimengerti, memberikan pengalaman pada latar belakang budaya mereka? Aturan atau nilai tak terucap apa yang dapat diterapkan? Apakah anda mencontohkan dengan jelas cara untuk berpartisipasi?bagi beberapa siswa, khususnya mereka dengan tantangan emosi dan perilaku, pengajaran dan praktek beberapa peran penting secara langsung mungkin diperlukan (Emmer & Stough, 2001).
c. Manajemen untuk Pengendalian Diri-Self-Management-.
Tujuan ketiga dari sistem manajemen manpun adalah untuk menolong siswa menjadi lebih baik dalam mengatur diri mereka sendiri. Pergerakan dari meminta kepatuhan ke mengajarkan peraturan-pribadi dan kontrol-diri merupakan pergeseran fundamental dalam diskusi mengenai manajemen kelas pada saat ini (Weinstein, 1999). Tom Savage (1999) dengan mudah mengatakan, “tujuan yang paling mendasar dari disiplin adalah pembentukan kontrol-diri. Pengetahuan akademik dan kemampuan teknologi tidak akan memberi pengaruh terlalu besar jika mereka yang memilikinya tidak memiliki kontrol-diri yang cukup” (hlm. 11.). Melalui kontrol-diri, siswa menunjukkan tanggung jawab-kemampuan untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri tanpa mengganggu hak dan kebutuhan orang lain (Glasser, 1990). Siswa mempelajari kontrol-diri dengan membuat pilihan dan mengatasi konsekuensi yang timbul, menentukan tujuan dan prioritas, menata alokasi waktu, berkolaborasi untuk belajar, memediasi perselisihan dan menciptakan perdamaian, dan membangun hubungan saling percaya dengan guru dan teman sekelas yang dapat dipercaya (Lewis, 2001; Rogers & Frieberg, 1994).
Meningkatkan pengendalian diri membutuhkan waktu lebih, namun mengajarkan siswa bagaimana mengambil tanggung jawab merupakan investasi yang sangat berharga lebih dari kerasnya usaha yang ditempuh. Ketika guru sekolah dasar dan sekolah menengah memiliki sistem manajemen kelas yang sangat efektif namun mengesampingkan pengendalian-diri siswa dari tujuan, siswa mereka sering menemukan masalah ketika bekerja sendiri setelah menyelesaikan kelas “yang teratur dengan baik” tersebut.
d. Menciptakan Sebuah Lingkungan Pembelajaran yang Positif
Dalam membuat rencana untuk kelas anda, banyak hal yang telah anda pelajari di buku ini terbukti menolong. Anda tahu, sebagai contoh, bahwa kita akan cukup prefentif terhadap masalah ketika variasi individu, dimasukkan dalam perencanaan instrusional. Kadang-kadang siswa menjadi terganggu karena pekerjaan yang diberikan terlalu sulit. Dan siswa yang merasa bosan dengan aktivitas dibawah level kemampuan mereka biasanya ertarik untuk menemukan kativitas lain yang lebih menarik untuk mengisi waktu kosong mereka.
Di satu sisi, guru mencoba prefentif tehadap masalah kedisiplinan setiap saat mereka melakukan usaha untuk memotivasi siswa. Seorang siswa yang terlibat dalam pembelajaran biasanya tidak terlibat perselisihan dengan guru atau temannya pada saat yang bersamaan. Seluruh rencana untuk memotivasi siswa merupakan langkah-langkah prefentif terhadap masalah.
Langkah-langkah dalam manajemen kelas untuk menciptakan lingkungan belajar yang mendukung pembelajaran :
a. Kesepakatan
Kesepakatan adalah daftar cara yang sederhana dan konkret untuk melancarkan jalanya pelajaran
b. Kebijakan mendukung tujuan dalam belajar juga menjelaskanurutan tindakan untuk situasi tertentu.
c. Prosedur memberi tahu siswa apa yang diharapkan dan tindakan yang harus diambil, prosedur yang akrab akan menciptakan rutinitas merupakan hal yang penting untuk siswa dalam melaksanakan pembiasaan hidden curicullum (kurikulum yang tersembunyi) yang mengesankan adanya kestabilan, kendali, dan struktur.
d. Peraturan lebih ketat dari pada kesepakatan dan kebijakan, peraturan menimbulkan konsekuensi yang jelas. Kadang-kadang konekuensi menjadi lebih rumit karena terdapat Weistein dan Mignano (2003) konekuensi negatif (pinalti, hukuman) dan konsekuensi positif (penghargaan). Tentang semua itu harus dibuat dengan jelas, jadi siswa telah mengetahui apa yang mereka lakukan sebelum melanggar peraturan atau menggunakan prosedur yang salah dengan memberi motivasi kepada para guru untuk membuat salinan peraturan sekolah dan peraturan diantara guru-guru kemudian merancang peraturan mereka sendiri.
Cara lain dalam merencanakan adalah memperhatikan pengaruh lingkungan pembelajaran yang termasuk merancang pengaturan furniture kelas, materi, dan alat bantu/media pembelajaran. Karena lingkungan kelas mempengaruhi kemampuan siswa untuk berfokus dan menyerap informasi, peningkatan seperti poster, akan menampilkan isi pelajaran secara visual, dengan menguatkan dialog antar siswa. Alat bantu belajar dapat menghidupkan gagasn abstrak dan mengikutsertakan pelajar kinestik, pengaturan bangku juga mendukung hasil belajar dengan menggeser bangku atau meja agar siswa dapat berfokus pada tugas yang dihadapi, dengan gaya lain yang daapt digunakan pada saat jeda dengan membuat jurnal, kerja kelompok, dan transisi.
Belajar itu bertaraf ganda dengan kata lain belajar terjadi baik secara sadar atau tidak sadar dalam waktu bersamaan, otak senantiasa dibanjiri stimulus dan otak memilih fokus tertentu saat demi saat, misalnya saat membaca tidak mugkin juga fokus terhadap pendengaran, meskipun secara sadar hanya memperhatikan masukan satu-satu otak mampu secara tak sadar memperhatikan banyak hal dari banyak sumber sekaligus (Lazanov, 1979)

7. MERENCANAKAN LINGKUNGAN PEMBELAJARAN YANG KONDUSIF
Awal yang baik hanyalah sebuah permulaan. Guru yang efektif membangunnya pada awal pertemuan. Mereka merawat sistem manajemen mereka dengan mencegah masalah dan memastikan siswa berada dalam aktivitas belajar yag produktif. Kita telah mendiskusikan beberapa cara agar siswa tetap terlibat. Pada bab tentang motivasi, contohnya, kita mempertimbangkan untuk menstimulasi rasa ingin tahu; mengaitkan aktivitas dengan minat siswa, membangun tujuan belajar bukan tujuan performance, dan memiliki harapan yang positif.
a. Wilayah Minat
Penataan wilayah minat dapat mempengaruhi cara siswa memanfaatkan area tersebut. Contohnya, bekerja dengan guru kelas, Carol Weinstein (1977) dapat membuat perubahan pada wilayah minat yang membantu guru mencapai tujuannya untuk melibatkan lebih banyak siswa perempuan dalam sudut ilmu pengetahuan alam dan melibatkan seluruh siswa untuk lebih bereksperimen dengan materi lainnya. Pada penelitian yang kedua, perubahan di sudut perpustakaan memungkinkan keterlibatan lebih bagi seluruh siswa pada aktivitas sastra (Morrow & Weinstein, 1986). Jika anda merancang wilayah minat untuk kelas anda
b. Wilayah Pribadi.
Dapatkah penataan fisik mempengaruhi kegiatan belajar dan mengajar di sebuah ruang kelas yang diorganisasi berdasarkan wilayah? Tempat duduk di depan sepertinya benar-benar meningkatkan partisipasi siswa yang sebelumnya jarang berbicara dalam kelas, sebaliknya bangku di bagian belakang membuat siswa lebih sulit untuk ikut berpartisipasi dan memudahkan mereka untuk duduk diam dan melamun (Woolfolk & Brooks, 1983). Namun action zone-wilayah kerja- dimana siswa biasanya berpartisipasi aktif mungkin berada pada sisi lainnya-bukan di depan-seperti di belakang, atau dekat sudut belajar tertentu (Good, 1983a; lambert, 1994). Untuk “menyebarkan semangat kerja,” Weinstein dan Mignano (2003) menyarankan agar guru bergerak di dalam kelas jika memungkinkan, membangun kontak mata dan pertanyaan langsung dengan siswa yang duduk agak jauh, dan menggilir urutan bangku agar siswa tidak terus menerus duduk di belakang.
Baris horisontal memiliki lebih banyak keuntungan dibandingkan pengaturan baris dan kolom seperti biasanya. Keduanya berguna untuk pekerjaan individu di bangku masing-masing dan guru, siswa, atau media presentasi; hal ini mempermudah siswa untuk fokus pada presentasi dan serta mempermudah perawatan ruang kelas. Baris horisontal juga memungkinkan siswa lebih mudah bekerja sama dengan teman sebelah. Bagaimanapun, pengaturan ini tidak cocok untuk diskusi dalam kelompok besar.
Dalam penelitian mereka terhadap guru sekolah dasar dan menengah, Evertson, Emmer, dan kolega mereka menemukan bahwa majer kelas yang efektif di kedua tingkatan ini memiliki sistem yang teratur untuk memotivasi siswa agar dapat mengerjakan tugas mereka (Emmer, Evertson, & Worsham, 2003; Evertson, Emmer, & Worsham, 2003).
Kounin menyimpulkan bahwa manajer kelas yang efektif khususnya memiliki kemampuan di empat wilayah: “aktual”, menguasai aktivitas, fokus kelompok, dan manajemen pergerakan (Doyle, 1977). Penelitian yang dilakukan belakangn ini membuktikan pentingnya faktor-faktor ini (Emmer & Stough, 2001; Evertson, 1988).
POINT/COUNTERPOINT Apakah zero tolerance merupakan ide yang baik?
Dengan tingakt kekerasan yang sangat nyata di sekolah pada saat ini, beberapa daerah menerapkan “zero tolerance” sebagai aturan untuk mengatasi pelanggaran peraturan. Hasilnya? Salah satunya adalah dua orang siswa berumur 8 tahun dituduh melakukan “ancaman teror.” Mereka menodongkan pistol kertas pada temannya saat bermain. Apakah zero tolerance dapat dikatakan masuk akal?
Zero tolerance berarti tidak ada alasan. Zero tolerance tepat diterapkan pada saat ini. Opini pada bagian ini banyak menekankan pada keselamatan dan tanggung jawab sekolah dan guru untuk melindungi siswa dan diri mereka sendiri Dan peraturan tersebut dibuat atas permintaan orang tua yang mengingnkan kehidupan sekolah yang terjamin aman.
Albert Shanker (1995), ketua Federasi Guru Amerika menyatakan bahwa sekolah harus mengajari siswa bahwa beberapa perilaku tidak dapat diterima di masyarakat; ketika kita mentoleransi perilaku-perilaku tersebut maka kita mengajarkan sebaliknya pada siswa padahal hal tersebut dapat membuat mereka terjatuh dalam penjara atau hidup dalam kemiskinan sepanjang hidup mereka.
c. Komunikasi
Komunikasi antara guru dan siswa merupakan maslah penting yang sering terjadi. Komunikasi lebih dari sekedar “guru bicara-siswa mendengar.” Juga lebih dari pertukaran kata-kata antara dua orang atau lebih. Kita berkomunikasi dengan berbagai cara. Apa yang kita lakukan, gerakan kita, nada bicara, ekspresi wajah, dan banyak sikap ninverbal lainnya yang mejadi pesan bagi siswa. Berkali-kali, pesan yang kita kirimkan bukanlah apa yang siswa terima.
Disini guru menggunakan empathetic listening untuk mempermudah siswa menemukan solusinya. (Seperti anda lihat, pendekatan ini bergantung pada kemampuan parafrase.) Dengan mencoba mendengarkan siswa dan menghindari kecenderungan untuk terlalu cepat memberi saran, solusi, kritik, penolakan, atau interogasi, guru membuka jalur komunikasi selebar mungkin. Berikut ini respon kurang membantu yang biasanya diberikan guru:
Empathetic listening yang aktif lebih dari sekedar mendengarkan kata-kata siswa; dalam proses itu harus mampu menangkap emosi, keinginan, dan maksud di baliknya. Sokolove, Garrett, Sadker, dan Sadker (1986, hlm. 241) telah merumuskan komponen active listening: (1) mencegah stimulan eksternal; (2) memperhatikan dengan hati-hati pesan verbal dan nonverbal; (3) membedakan antara isi pesan akademik dan emosional; dan (4) membuat kemungkinan-kemungkinan berkaitan dengan perasaan yang sedang berbicara.
Ketika siswa menyadari bahwa mereka telah didengarkan dan apa yang mereka rasakan atau katakan tidak dinilai secara negatif, mereka merasa lebih bebas untuk mempercayai gurunya dan berbicara lebih terbuka. Kadang-kadang masalah yang sebenarnya ditemukan pada pembiacaraan selanjutnya.

Komentar ditutup.