Bali Tak Seindah Dulu

Wijaya di Bali

Wijaya di Bali

Pagi ini saya kembali ke Jakarta setelah melepas liburan sekolah dan melakukan studi banding ke SMP negeri 1 Denpasar. Banyak pelajaran yang saya dapatkan dari kunjungan dan rekreasi ke Bali. Namun Bali Pasca Bom Bali Tak seindah dulu, perlu penataan dan publikasi besar-besaran agar Bali seperti dulu lagi. Indah dan mempesona. Setiap bagian pulaunya memancarkan keindahan dan memberikan kenyamanan bagi siapa saja yang mengunjunginya. Kalau tidak segera berbenah, maka negera lain seperti Malaysia dan Singapura akan menjadi saingan utama kita, belum lagi seperti negara lain di Asia (Kamboja, Tailand, Vietnam, dll).

Tanggal 4 Juli 2008 kami rombongan dari SMP Labschool Jakarta berangkat dari Jakarta menuju Bali menggunakan pesawat Mandala Airlines pada pukul 20.00 dan tiba di Bali sekitar pukul 09.00 WITA. Dalam pesawat kami belum merasakan kenyaman, walaupun pesawat yang digunakan relative baru, namun pelayanan pramugrari dan sikap mereka yang kurang melayani dengan tulus mendapatkan kritikan pedas dari kami. Di samping itu, tak adanya snack dalam perjalanan menambah keki kami dalam satu rombongan di pesawat. Berbeda dengan pelayanan awak pesawat di Sriwijaya Airlines pada saat kami pulang. Mereka para pramugari melayani kami dengan penuh ketulusan sehingga kami merasakan kenyamanan dalam pesawat, disamping juga snack yang oke untuk mengganjal perut kami.

Sesampai di Bali rombongan diterima oleh pihak travel Palmmas dengan penyambutan cukup wah. Satu persatu kami dikalungi bunga oleh dara cantik gadis kecil Bali, sehingga perjalanan kami yang sebentar itu menjadi bergairah karena telah sampai di Pulau Dewata. Tak lupa saya menukar dollar dulu di Bandara Ngurah Rai agar bisa membeli oleh-oleh. Kami pun langsung diantar ke restoran untuk makan malam. Wah nikmatnya masakannya, karena kami semua sudah lapar…. sampai-sampai tak ada lauk dan nasi yang tersisa.

Setelah kenyang menyantap makanan, kami pun diantarkan ke hotel tempat kami menginap namanya saya lupa kalau tak salah Palm Beach Hotel di daerah Pantai Banjar Segara Kuta Bali. Setelah cukup lama menunggu, kami pun mendapatkan kunci kamar masing-masing dan saya berada di kamar 307 bersama dengan bapak Diono Yudhi guru olahraga SMP Labschool Jakarta. Syukurlah saya mendapatkan teman yang sama-sama memiliki persaman, yaitu suka ngorok kalau tidur. Untungnya saya tertidur lebih dulu sehingga saya tidak merasakan kalau saya ngorok.

Esok harinya setelah makan pagi kami diajak menonton tari Barong. Rasanya tak ada yang baru. Masih sama ketika 14 tahun lalau saya mengunjungi Bali. Tempatnya agak kurang terawat dengan baik, dan pemain gamelannya masih banyak yang lam dan sekarang sudah kelihatan tua dengan rambutnya yang memutih. Semoga ada kaserisasi yang terus menerus agar budaya Bali ini tidak hilang di tengah zaman globalisasi yang terus menerus berubah. Siang harinya kami belanja di pasar Sukawati dan membeli beberapa oleh-oleh buat keluarga dan teman sejawat. Malamnya kami makan malam di Jimbaran. Tepatnya di Bali Sea cafe. Menikmati makan malam dengan seafood dan suasana pantai yang indah. Ini baru terasa suasana bali yang oke dan menggairahkan. Dengan Tarian Bali dan masakan ikan laut bakar yang lezat.

Minggu 6 Juli 2008 kami diajak berkunjung ke bedugul, makan siang di restoran bedygul dan pergi ke tanah lot. Di sana kami saling berfoto menikmati indahnya Bali. Di tanah Lot kami juga menikmati air suci yang bening, dan meminta kepada Tuhan YME agar selalu diberkahi. Malamnya kami makan di restoran sunda dan bermain karaoke dan menyanyikan lagu-lagu pop dan dangdut. Ternyata Labschool memiliki banyak artis, dari ibu dyah sampai pak Sarmilih yang sudah bisa menyanyi, OOh Kamu Ketahuan!!.

Senin, 7 Juli 2008. Pagi itu kami berkunjung ke SMP Negeri 1 Denpasar yang pernah menjadi peringkat pertama rata-rata nilai Ujian Nasional . Mengunjungi sekolah yang sudah mengikuti progran RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional) rasanya seperti mimpi. Sekolahnya cukup bagus, bersih dan nyaman serta fasilitas yang lengkap. Mereka banyak mendapatkan bantuan dari Komite sekolah dan juga pemerintah dari segi peralatan. Mereka juga sangat disiplin dalam mengembangkan karakter siswanya. Sehingga memiliki budaya sekolah yang kokoh dan tetap eksis sampai saat ini. Rata-rata gurunya sudah mengabdikan diri di atas 25 tahun kerja. Prestasi sekolah ini cukup membanggakan dan dapat kita lihat di website mereka http://www.smpn1-dps.net.

One response to “Bali Tak Seindah Dulu

  1. bali…..

    saya berencana bersama teman akhir bulan 10 sehabis wisuda akan berpetualang ke bali melalui jalur darat..
    mengunjungi ITB, UGM
    dan pada akhirnya menikmati keindahan alam hasil desain sang-pencipta yang bernama BALI…
    moga ja bali makin baik ya pak..
    salut to u…
    goog luck…^_^
    rudi di UNIVERSITAS NEGERI MEDAN