Makan satu, bayar satu

M. Sujai Anhar

M. Sujai Anhar

Ini adalah rumus hidup yang paling sederhana dan paling mudah dipahami. Makan satu, bayar satu. Anda tidak diminta untuk makan satu, tapi waktu membayar, anda membayar dua kali. Tidak, di dunia ini sudah menjadi aksioma, bahwa manusia pada dasarnya adalah, mendapatkan ganjaran dan mendapatkan segala sesuatu sesuai dengan apa yang ia perbuat.

Berapa yang anda makan, itulah yang anda harus bayar. Ketika anda membayar satu, semua orang akan maklum, tidak ada tanda tanya, kenapa anda bayar satu. Tapi, kalau anda membayar lebih, yakni membayar dua, maka anda termasuk orang baik. Ada sifat ketuhanan dalam diri anda. Tuhan akan memberikan ganjaran kebaikan kepada manusia yang berbuat baik, bukan sekedar sama nilainya dengan yang kita lakukan, Tuhan memberi lebih. Bisa 2 kali, bisa 10 kali, bahkan lebih.

Anda akan menjadi seorang yang ditunggu-tunggu kedatangannya oleh semua warung makan, jika anda adalah orang yang selalu membayar lebih untuk segala sesuatu yang anda makan.
Jangan pula sebaliknya, anda makan dua, tapi bayar satu. Curang namanya. Ketika anda memakan lebih dari sesuatu yang semestinya anda bayar, maka anda telah mengambil hak orang lain. Sederhananya adalah, dalam diri anda ada sifat-sifat setan. Mendapatkan lebih dari yang seharusnya dilakukan.

Bagaimana dengan kebalikannya, jika kita analogikan dengan perbuatan. Maka kita adalah orang yang selayaknya melaksanakan sesuatu dan kita akan mendapatkan imbalan sesuai dengan nilai pekerjaan itu sendiri. Jika kita menambal ban satu lubang, maka upah yang akan kita terima adalah senilai 1 buah tambalan ban, tidak lebih.
Adil dan fair, tidak ada yang dirugikan, anda melakukan dan anda menerima sesuai dengan nilai pekerjaan yang telah dilakukan. Manusiawi, memanen hasil dari hasil keringat sendiri, tidak ada yang disabotase, tidak ada yang dirugikan, baik secara materil maupun moril.
Kalau kita melakukan suatu pekerjaan yang nilainya 1000 rupiah, maka sudah selayaknya kita menerima bayaran 1000 rupiah. Jika kita memanipulasi, sehingga seolah-olah kita melakukan 5000 rupiah, maka kita telah memiliki sifat-sifat setan tadi. Mengharapkan imbalan dari sesuatu yang tidak kita kerjakan atau mengharapkan lebih dari sesuatu yang tidak semestinya.

Juga kebalikannya, tidak perlu menyematkan sifat Ketuhanan dalam diri kita, yakni melakukan lebih banyak dan mengharapkan lebih sedikit untuk imbalannya. Karena, didunia yang sudah semakin sempit ini, rasanya untuk tidak menambah, apalagi tidak tergoda untuk tidak mengambil jatah orang lain saja, kok… rasanya sudah sulit banget.
Bok, ya kerjaan orang jangan diaku-aku kerjaan kita, tulisan orang jangan diaku tulisan kita. Yang wajar-wajar sajalah, kita panen dari hasil tanaman kita, rasanya akan lebih nikmat, daripada makan besar, tapi manen punya orang.

Kita ga perlu ngawasi pengawas, untuk cari kesempatan makan dua, bayar satu. Toh, lebih nikmat, kita makan santai, makan satu, bayar satu. Tuhan pun akan tersenyum bangga, terhadap hambaNYa yang jujur.

Penulis:
M. Sujai Anhar

Mahasiswa PascaSarjana UNJ

Komentar ditutup.