CALEG NARSIS & EGO YANG DIMILIKINYA

Liburan kali ini saya berkeliling ke daerah propinsi Jawa Barat. Dari mulai Bekasi, Cikarang, Bandung, Sukabumi, Garut, Ciawi, dan Tasikmalaya. Sepanjang jalan saya temui foto-foto para calon legislatif (caleg) dari berbagai partai. Foto-foto itu dipajang cukup banyak. Ada yang ukuran besar dan ada yang ukuran kecil. Kata orang itu namanya Baliho. Dengan terpasangnya baliho itu mungkin ini adalah salah satu cara para caleg untuk memperkenalkan diri dan meraih simpati calon pemilih agar mencoblos namanya dalam pemilu 2009 yang sebentar lagi akan kita ikuti.


Ada pepatah mengatakan”Tak Kenal Maka Tak Sayang”. Dari foto-foto itu seolah-olah mereka ingin mengatakan“PILIH AKU DONG dan JANGAN PILIH YANG LAIN”.
Coba kalau kita hitung dengan rupiah. Pasti banyak sekali jumlah dana yang keluar dari kantong para caleg itu. Apalagi bila sampai menjadi caleg anggota DPR RI, mungkin milyaran rupiah uang habis untuk mempromosikan diri.

Para caleg itu sudah seperti para blogger baru di internet. Memunculkan fotonya agar mendapatkan simpati dari para pembacanya. Itulah yang disebut NARSIS. Memamerkan dan mempromosikan diri sendiri. Di sanalah akan terlihat ego atau keinginan dari pemilik foto itu. Ada yang memancarkan kesederhanaan, dan ada pula yang memancarkan kemewahan.

Caleg narsis dan ego yang dimilikinya jelas terlihat dari foto yang terpampang di pinggir jalan itu. Masing-masing tokoh berusaha menampilkan dirinya yang jauh lebih baik dari para calon lainnya. Apalagi, pemilu sekarang mengharuskan para caleg untuk mendapatkan suara terbanyak agar terpilih menjadi anggota dewan. Tak peduli berapa duit yang harus keluar dari kantongnya. Pokoknya, “AKU” terpilih menjadi wakil rakyat.

“AKU” adalah singkatan dari Ambisi, Kemampuan, dan Usaha.  Masing-masing caleg berambisi memenangkan pemilu 2009 ini. Tak peduli saingan itu datang dari partai lain dan bahkan dari dalam partainya sendiri. Ambisinya yang tinggi untuk memenangkan perolehan suara terbanyak telah membawa egonya yang tinggi untuk menang dan menjadi juara dalam pemilu.

Segala Kemampuan yang dimiliki diperlihatkan. Semua titel berbagai jenis gelar akademik yang disandangnya terpampang jelas dari nama aslinya. Kalau perlu panjang banget kayak kereta api parahiyangan tujuan Bandung. Misalnya, Ir. Drs. H. Wijaya Kusumah, M.Pd, MM, MBA, M.Sc. M.Si. Pokoknya harus ada gelar di depan atau belakang nama saya. Biar kelihatan kalau saya adalah orang yang sangat terpelajar.

Yang tak kalah penting dari para caleg adalah usaha. Para caleg berusaha dengan sekuat tenaga dan berbagai cara agar dapat mengungguli para caleg lainnya. Mulai dari kata-kata yang tidak hanya sekedar memberikan janji tapi juga bukti. Mulai dari pemberian stiker sampai kalender. Semua usaha itu telah dilakukan agar sang caleg dikenal masyarakat.

Tapi ingat, cara yang dipakai haruslah halal dan berada di jalan Tuhan. Sebab buat caleg yang kurang kuat imannya, jalan harampun akan dia tempuh. Nauzubillah Minzalik.

Caleg narsis dan ego yang dimilikinya membuat saya tersenyum dan merenung sepanjang perjalanan saya mengelilingi Jawa Barat. Parta-partai besar dan banyak duit terlihat jelas memimpin, sedangkan partai kecil dan tak punya uang cukup gigit jari dan meletakkan fotonya di rumah agar bisa menakut-nakuti tikus di rumahnya. (he,…3x).

Ada hikmah yang saya petik dari foto Caleg narsis itu. Sebagus apapun foto yang diperlihatkan, namun kualitas dan fakta jualah yang akan lebih banyak menentukan. Rakyat sekarang sudah pintar memilih siapa yang akan jadi pilihannya. Caleg yang berpihak pada rakyat, jelas akan mendapatkan simpati dari para pemilihnya.

Namun, menurut pendapat saya, alangkah lebih baiknya bila foto-foto itu tidak dipajang sendirian dengan baliho besar. Bukankah setiap partai mencalonkan lebih dari satu orang untuk dipilih oleh rakyat? Alangkah lebih baiknya bila mereka foto bersama dengan para caleg lainnya yang berada dalam satu partai. Akan terlihat kebersaman dalam partai itu.

Disamping dapat menghemat biaya, akan terlihat bahwa mereka adalah para caleg yang solid dan saling bekerjasama dengan sesama caleg lainnya dari dalam partainya sendiri. Rakyatpun akan menilai bahwa perjuangan caleg itu bukan untuk dirinya sendiri tetapi untuk semua. Tak ada iri hati dan tak ada kedengkian bilamana teman satu partainya jumlah suaranya melebihi dari dirinya. Mereka sudah siap menang dan siap kalah.

Melalui perjalanan itu, ada salah satu contoh sebuah partai yang memamerkan foto seluruh caleg dari partainya. Terlihat sekali kebersamaan, kemesraan, dan keceriaan dari foto mereka. Mereka tidak berusaha mengungguli caleg lainnya yang berada dalam satu partainya.  Misi mereka hanya satu, Bersatu untuk maju memenangkan pemilu.

Tak terlihat Narsis dan ego dari para caleg itu. Saya pun tersenyum sendiri, Ah..mungkin ini caleg dari partai pilihan saya. Tidak Narsis dan egois.  Bagaimana dengan Anda? Saya yakin anda berbeda, karena kita diajarkan untuk menghargai keragaman dan bukan keseragaman.

Wijaya Kusumah, Caleg Narsis dan Ego yang dimilikinya.

3 responses to “CALEG NARSIS & EGO YANG DIMILIKINYA

  1. betul banget om! saya setuju di jakarta jg banyak..
    saya juga bingung kok kayaknya dari partai mereka juga gak ngurus alias gak mau tau tuh gmn cara calegnya berkampanye. Mudah2an rakyat semakin cerdas, shg gk gampang ditipu sama caleg (foto) pinggiran jalan.

  2. MAKSUD TERSELUBUNG CALON LEGISLATIF

    Pesta demokrasi 2009, pestanya calon legislatif merebut simpati rakyat. Calon legislatif berlomba merebut garis terdepan berjanji memperbaharui kehidupan.

    Namun, tatkala pesta itu usai dan mereka terpilih, anggota dewan mulai menampakkan kekakuannya. Tujuan utama mendapatkan kekayaan sebesar-besarnya melekat benar dalam saraf ingatan anggota dewan.

    “Tiada hari tanpa korupsi ” slogan wajib bagi mereka. Hidup tanpa korupsi bagaikan sayur tanpa garam atau dengan kata lain hidup tiada mengenal korupsi sama dengan mati di dalam hidup, itulah prinsip mereka. Mumpung jadi anggota dewan.

    Setelah itu,

    Aku hanya bisa diam!! diam!! diam!!

    Membawa semua penyesalan, menuju alam baka.

    sumber:www.asyiknyaduniakita.blogspot.com

  3. Dengan cara seperti itu (buat baliho) coba dihitung juga berapa kubik kayu yang habis untuk membuat baliho, berapa meter plastik dihabiskan untuk membuat posternya… sepertinya pemilu di indonesia perlu ditinjau ulang sistemnya, agar ramah ligkungan. Disaat isu dunia sekarang adalah hemat energi, Go Green, save the world, dan meminimkan sampah pastik, Indonesia dengan seenaknya membabat pohon dan bambu serta menggunduli hutan mangrove untuk keperluan kampanye… Sedih sekali jadinya…
    Bisakah kita mengadakan pemilu yang “waste paperless”? menggunakan seminim mungkin kertas?
    Pasti Bisa! Asal kita mau berfikir lebih keras mencari akal..