Guru, Tentara, dan Pengusaha (Sebuah Kisah Pemilihan Ketua RT)

Guru, Tentara, dan Pengusaha (Sebuah Kisah Pemilihan Ketua RT)

Oleh wijaya kusumah – 5 Februari 2009 –

Pemilihan ketua RT sebentar lagi akan dimulai. Banyak warga yang datang hendak menggunakan hak pilihnya. Seperti biasa pemilihan ketua RT di komplek kami sangat meriah. Pesta demokrasi di wilayah kami cukup berhasil. Tibalah saatnya pemilihan ketua RT. Ketua RT yang diharapkan mempunyai visi dan misi yang jelas dalam membawa warga Rt.005 ke arah yang lebih baik, begitulah yang diharapkan warga.  Intinya saluran air lancar, jalan tidak banjir, keamanan terjamin, dan masalah sampah teratasi.

Acara pembukaan dimulai sudah. Panitia pemilihan mempersilahkan Ketua RT lama melaporkan hasil kerjanya selama tiga tahun. Sangat bagus dan program kerjanya berjalan dengan baik. Beliau pun berpesan tak akan mau dipilih lagi menjadi ketua RT. Alasannya klise, sudah banyak kesibukan menanti di depan mata. Jadi tugas sosial seperti jadi Ketua RT sudah tak menjadi nominasinya lagi.

Lantas setiap warga pun mulai saling melirik siapa yang akan jadi jagonya. Menjadi ketua RT periode 2009 s.d.2012. Bisik punya bisik, ada 3 jago yang akan dicalonkan jadi ketua RT.

Calon pertama adalah Pak guru, Calon kedua adalah pak tentara, dan calon ketiga adalah pak. pengusaha. Anehnya, tak satu pun diantara mereka yang mempunyai ambisi menjadi ketua RT. Masing-masing malah menjagokan lawan-lawan politiknya agar bisa jadi ketua RT. Tak ada satu pun yang merasa siap untuk menjadi ketua RT 005 yang baru. Namun karena diminta memberikan visi dan misinya, akhirnya masing-masing mereka pun mau memberikan orasi politiknya. Orasi politik dalam rangka pemilihan ketua RT 005 di daerah kampung kenyot, kecamatan ngalor-ngidul, kota impian.

Rupanya, pak guru mendapatkan kesempatan pertama untuk berorasi. Dalam pidatonya pak guru yang sederhana itu mengatakan, ” jangan pilih saya kalau RT 005 ini ingin maju. Sebab saya sudah tak punya waktu lagi mengurus warga. Alasannya sepele. Dengan dimajukannya jam sekolah menjadi 06.30 pagi (setengah tujuh) membuat saya harus berangkat lebih pagi dan tidur lebih awal. Saya tak mungkin melayani warga yang akan membuat KTP, membuat Kartu Keluarga dan urusan warga lainnya. Pilihlah yang lain saja, seperti pak tentara atau pak penguasaha,” begitulah orasi pak guru yang justru malah mengkampanyekan lawan-lawan politiknya. (Alangkah indahnya bila pemilihan presiden bisa seperti ini).

Lalu pak guru itu mengeluarkan jurus mautnya. “Bapak-bapak dan ibu-ibu yang terhormat. Tahukah bapak dan ibu kalau guru itu sebuah singkatan?” Semua warga terdiam mendengarkan pak guru berpidato. “Bapak dan ibu mau tahu?”tanya pak guru. “Mau”, jawab warga serempak. “Kalau mau tolong dengarkan baik-baik yah!”. GURU itu adalah singkatan dari G= gagasan dan ilmunya sangat dibutuhkan. U= untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. R= Rupa-rupanya setelah diusut-usut. U= Usahanya besar, namun  GAJInya kecil… (ha.ha..ha..3x)”. Semua warga pun tertawa dibuatnya.

“jadi intinya, sebagai guru saya tak mau dipilih, karena sebagai pendidik harus berkonsentrasi dan memberikan pendalaman materi (PM) untuk murid-murid saya yang akan menghadapi ujian nasional (UN). Karena UN itu merupakan kredibilitas sekolah. Masyarakat sekarang masih menilai suatu sekolah dari rangking UN sekolah itu. Saya tak ingin ada murid saya yang tidak lulus UN” Begitu ujarnya.

Kini tibalah pak tentara memberikan orasi politiknya. “Bapak-bapak dan ibu-ibu. Saya harapkan jangan ada yang memilih saya malam ini. Sebab saya adalah seorang tentara yang harus siap bila negara memerlukan saya. Saya sudah harus siap pula bila musuh menyerbu negeri ini. Karena itu pilihlah pak Guru atau pak Pengusaha saja. Di bawah kepemimpinan mereka saya yakin RT. 005 akan lebih baik lagi.”Begitulah pak tentara mengkampanyekan pak guru dan pak pengusaha. Lalu pak tentara melanjutkan lagi.

“Sebagai tentara saya memiliki tiga hal yang saya junjung tinggi. Pertama disiplin, kedua tepat waktu, dan ketiga bersih. Saya tak sanggup bila harus menjadi ketua RT di sini. Sebab banyak warga yang tidak disiplin, banyak warga yang tidak tepat waktu ketika rapat RT, dan banyak warga yang masih membuang sampah sembarangan. Sebagai tentara yang terbiasa disiplin, tepat waktu, dan selalu bersih saya tak sanggup untuk menjadi ketua RT. 005. Lebih baik bapak/ibu memilih pak guru atau pengusaha saja”. Begitulah pak tentara mengatakan.

Kemudian diakhir pidatonya pak tentara mengatakan.” Bapak dan ibu yang terhormat. Tentara itu sebuah singkatan. T=tampangnya  gagah dan berwibawa, E=Enak dipandang dari segala arah, N=namun sayang, T=tegapnya badan tak sepadan dengan penghasilan, A=apalagi bila sudah akhir bulan, R=rahasia dapur, A=akan ketahuan. Ha…3x.” lalu warga pun tertawa dibuatnya.

Kini tibalah giliran pak Pengusaha. Orangnya ramah dan sangat dermawan. Bila ada permohonan sumbangan datang ke rumahnya, pastilah beliau yang paling besar menyumbangnya. Maklumlah pengusaha sukses.  Apalagi beliau sudah bergabung dalam organisasi Ikatan Pengusaha Muda Indonesia.

Dalam pidatonya beliau mengatakan. “jangan pilih saya. Saya sudah tak punya waktu melayani warga. Lebih baik pilihlah pak guru yang biasa memimpin di kelas atau pak tentara yang gagah perkasa. Biasa memimpin pasukan, sehingga bila ada warga yang bandel langsung saja disemprot. Persis seperti komandan yang memarahi anak buahnya. Atau seperti seorang guru yang memarahi muridnya karena melanggar disiplin. Kita perlu ketua RT seperti itu”. Begitulah kata pak pengusaha.

“Bila bapak dan ibu memilih saya, maka warga RT 005 akan sering ditinggalkan oleh ketua RT-nya. Karena perusahaan saya banyak, jadi sudah tidak mungkin mengurus warga. Apalagi saya baru saja membuka cabang perusahaan saya yang baru di daerah Cikadul Ngibul. Jadi sulitlah buat saya menjadi Ketua RT”. Begitulah beliau berkelit.

“Bapak dan ibu tahu kalau pengusaha itu sebuah singkatan? tanya pak pengusaha”. Apa singkatan? “Seluruh warga menyimak omongan pak pengusaha. lalu pengusaha itu mengatakan, “P= Pendapatan per bulannya OK, E=Enaknya lagi bisa beli mobil dan rumah, N=namun ternyata, G=gila benar cara kerjanya, U=urusan beres duit di dapat, S=sadarilah kawan mulai sekarang, A=amplopnya besar, H=hukumannya besar, A=amati kiri kanan bila mau memberi amplop, karena KPK senantiasa mengintai”. Warga pun tertawa terbahak-bahak…ha…3x…

Akhirnya seluruh warga sepakat. Ketiga orang inilah yang pantas menjadi calon ketua RT 005. Tak ada calon lain. Karena ketiga orang ini dianggap warga telah memberikan keteladanan yang baik.

Pemilihan pun dimulai. Warga mncoblos nama-nama jagoannya. Ternyata, dalam penghitungan suara masing-masing memperoleh jumlah suara yang sama. Sama-sama 15 suara. Jadi kalau dijumlahkan  menjadi 45 suara.

Tiba-tiba datang teriakan dari ketua RT lama. “Bapak Panitia pemungutan suara. rasanya jumlah warga kita ada 46 orang. berarti ada satu orang yang belum memilih. Siapa ya? ” tanya ketua RT itu.

Setelah dilihat presensi (daftar hadir), dan bukan absensi ternyata memang ada satu warga yang belum hadir. Seorang janda kembang yang cantik jelita. Belum punya anak dan baru saja bercerai dari suaminya. Rupa-rupanya sang janda ini adalah seorang penyanyi dangdut yang terkenal. Tak ada satu pun warga yang tak mengenalnya. Sebab setiap perayaan malam Agustusan, pastilah sang janda ini ikut bergoyang dan membuat kelepek -kelepek setiap mata yang memandangnya. Tak terkecuali pak guru, pak tentara, dan pak pengusaha ikut kelepek-kelepek juga dibuatnya. Namun sebagai anggota ISTI (Ikatan Suami takut Istri) perasaan itu dipendamnya dengan baik. Memang dasar lelaki normal. Tahu saja kalau ada wanita cantik dan menggoda.

Kembali kepada pemilihan ketua RT 005. Panitia meminta satpam RT memanggil janda kembang itu. Alhamdulillah, ternyata sang janda ada di rumah dan memang berniat menggunakan hak pilihnya. tanpa waktu yang lama, tibalah sang janda di tempat pemilihan Ketua RT. Ketua panitia meminta sang janda cantik untuk memilih salah satu calon ketua RT. Pak Guru, pak Tentara, dan Pak Pengusaha.

Memang dasar janda cantik dan genit, sang janda meminta kepada calon-calon itu untuk memberikan ulang orasi politiknya.  tak ada satu pun calon menolaknya. Semua malah bersemangat dan berapi-api hendak menyampaikan orasi politiknya. Berbeda dengan tadi, kini masing-masing calon mulai terlihat egonya dan berancang-anacang agar sang janda memilihnya.

Inilah dunia begitu cepat berputar.  Kalau tadi tak ada yang mau menjadi ketua RT 005, kini ketiga kandidat ini berusaha keras melawan musuh politiknya. Kalau tadi mempersilahkan, sekarang jadi kebalikannya. Pokoknya saya harus kepilih jadi ketua RT.005. Itulah yang terjadi. Masing-masing calon menjadi narsis dan memamerken ego yang dimilikinya. Demokrasi pilihlah aku nampaknya sudah menguasai ketiga kandidat calon ketua RT ini.

Ketua panitia mempersilahkan pak pengusaha untuk berkampanye. Dalam kampanyenya pak Pengusaha mengatakan, ” Wahai juwita malang, pilihlah saya untuk menjadi ketua RT.005. Saya janji setiap ada cara malam agustusan saya akan menyumbang lebih banyak dan ibu akan saya kasih kesempatan untuk bergoyang.’ Begitulah janji-janji manis yang diberikan oleh pak pengusaha.

Kesempatan orasi kedua diberikan kepada pak tentara. ” Wahai adinda yang cantik rupawan” Begitulah pak tentara membuka awal pidatonya. ” Pilihlah saya menjadi ketua RT. Di jamin tak ada laki-laki yang berani mengganggu adinda. Bila adinda membutuhkan, saya akan lekas hadir di relung hati adinda yang terdalam” Begitulah rayuan maut pak tentara kepada janda kembang itu.

Kini tibalah pak guru yang mendapatkan kesempatan berorasi. Pak guru terdiam sejenak, sambil memandangi sang janda yang cantik jelita itu.  “Ibu Siti yang cantik rupawan. Saya mohon ibu tak memilih saya menjadi ketua RT 005. Saya tak ingin menjadi orang yang inkonsistensi. Saya harus konsisten dari apa yang telah saya ucapkan sebelumnya bahwa saya memang tidak berniat menjadi ketua RT. Saya mempersilahkan ibu Siti memilih pak tentara atau pak pengusaha untuk menjadi ketua RT.

Melihat itu, pak tentara dan pak pengusaha pun tersadarkan. Mereka tak berambisi lagi menjadi ketua RT. Mereka pun akhirnya mengangkat pak guru menjadi ketua RT yang baru.

Guru bekerja untuk rakyat

Tentara bekerja untuk rakyat

Pengusaha bekerja untuk rakyat

Semua profesi bekerja untuk rakyat

Karena kita adalah bagian dari rakyat.

 

(Sebuah kisah yang diambil dari pemilihan ketua RT di daerah kami yang disampaikan dengan gaya humor, mohon maaf bila ada yang tersinggung)

 

 

 

Tags: , ,

<!–This entry was posted on Thursday, Februari 5th, 2009 at 6:14 am and is filed under Uncategorized. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site. –>

Share on Facebook

4 tanggapan untuk “Guru, Tentara, dan Pengusaha (Sebuah Kisah Pemilihan Ketua RT)”
  1. Nufransa Wira Sakti,
    — 5 Februari 2009 jam 8:27 am
    D Terima kasih pak guru untuk pagi yang ceria dengan ceritanya yang menarik.
    Sepertinya ending cerita tergantung siapa yang menulisnya nih, kalau yang menulis pak
    guru yah begini jadinya. Tapi kalau yang menulis tentara atau pengusaha ending pasti lain
    lagi ya pak? Btw, baru terpilih jadi ketua RT pak? Selamat ya…
  2. Ary Tri Setyanto,
    — 5 Februari 2009 jam 8:53 am
    .. Pak Guru Wijaya Kusumah yang baik dan konsisten…
    Parodi yang menggelitik, namun cukup mengena. Merupakan cerminan kondisi negara kita..Apakah semua calon presiden dan para Caleg akan berkampanye dengan semangat dan mengeluarkan dana yg banyak bila nantinya mereka bekerja seperti Ketua RT? Bekerja sosial, meluangkan waktunya untuk warga, mungkin juga menjadi mediator bila ada warganya yg berselisih dll, di samping juga mengurusi RT (Rumah Tangga)nya?

    Salam,

  3. Pepih Nugraha,
    — 5 Februari 2009 jam 9:01 am
    Hehehehe…. lucu dan dalem banget ceritanya, Pak Guru…. Terima kasih!
  4. wijaya kusumah,
    — 5 Februari 2009 jam 10:35 am
    Terima kasih Mas Nufransa Wira Sakti, Mas Ary Tri Setyanto, dan Kang Pepih Nugraha, atas komentarnya. Tulisan ini saya buat sambil terkantuk-kantuk demi sebuah komitmen menulis satu lembar sehari.Alhamdulillah saya pernah terpilih jadi ketua RT, dan itulah yang terjadi, dengan sedikit modifikasi supaya bangsa kita belajar dari pemilihan ketua RT yang demokratis dan tanpa Narsis, harmonis, logis, dan romantis. Sehingga iblis tak membuat manusia menjadi tragis. Terlena oleh rayuan iblis untuk menjadi caleg narsis yang agak pesimis, bila dananya menipis.

    Diiringi hujan gerimis, sya optimis tulisan ini dapat merubah drastis pemilihan RT serba Gratis dan tanpa berpakaian necis.

    Kita harus banyak belajar dari pemilihan ketua RT yang humanis. Semoga.

Iklan

Komentar ditutup.