Saatnya Berubah

Segala sesuatu, apa saja, ada saatnya di bawah, kemudian menggeliat tumbuh, merangkak naik, terus naik seperti huruf “S”, ada yang menamakan kurva sigmoid, kurva pertumbuhan, kalau sudah bosan di atas, ia nya akan turun sedikit demi sedikit. Kalau tidakbosan berada di atas, akan ada yang menurunkan, secara sukarela atau secara terpaksa.  Begitu juga kalau anda sedang berada di bawah, tidak mungkin anda akan berada di bawah terus.  Pasti anda akan naik, terpaksa naik atau sukarela.  Perlahan bagai siput merangkak atau cepat bagai roket.   Silahkan periksa sendiri, dimana posisi kita, saya dan anda saat ini.  Sebagai individu, sebagai lembaga/institusi, bahkan sebagai bangsa, Bangsa Indonesia.

Perubahan pada diri sendiri, otomatis akan membuat perubahan pada lembaga atau institusi, dan akhirnya merubah bangsa dan negara, Indonesia.  Kini saatnya untuk berubah.  Berubah ke arah perbaikan tentu saja.  Untuk perbaikan diri sendiri sebagai individu, lembaga/ institusi, dan akhirnya Bangsa (tentu saja).

Saya pernah duduk satu meja dengan orang Jepang (Konsulat pendidikan dari Kedutaan Besar Jepang untuk Malaysia), orang Perancis (Profesor) dan orang Singapura (Pensiunan Guru dan Departemen Pendidikannya Singapura).  Si Jepang bilang kalo Jepang bisa maju itu gara2 penduduknya senang bekerja keras, rata2 per tahunnya 2500 jam.  Sementara orang Amerika dan Inggris cuma 1900an jam/ tahun, Jerman 1800an jam, Perancis 1600an jam, sementara Indonesia walaupun belum ada penelitian, bisa dihitung sendiri oleh masing2 kita.

Dalam setahun ada 52 minggu, satu minggu ada 7 hari, satu hari ada 24 jam, satu jam ada 60 menit.  Dalam satu minggu kita kerja cuma lima hari.  Dalam satu hari kita (orang Indonesia pada umumnya) bekerja masuk kantor jam 8 pagi, pulang jam 4 sore.  Dalam jam kerja tersebut, ada yang sibuk baca koran sendiri, ada yng cuma ngobrol, ada yang ngegosip, ada yang nyambi dagang, ada yang macem2 dan lain2 hal, mungkin efektifnya cuma kerja 2-4 jam saja.  Berarti dalam setahun orang Indonesia cuma kerja (52×5x2jam sampai 52×5x4jam) atau 520-1040 jam saja.  Kalau dirata2 dengan tingkat pengangguran, baik yang terselubung, maupun maupun pengangguran yang nyata, tentu rata2 jam kerja orang Indonesia lebih rendah lagi.

Rata2 orang yang sukses itu kerja mulai jam 5 pagi selesai kerja ada yang jam 10 malam, bahkan ada yang sampai jam 12 malam.  Rata2 tidur mereka sedikit sekali.   Kalau tidak sedang kerja, mereka membaca.  Sedang makan juga kadang sambil membaca.  Tiada hari tanpa membaca.  Ada saja kegiatan yang dikerjakan.  Semua itu untuk menuju kesuksesan diri sendiri, lembaga/institusi dan tentu saja Bangsanya masing2.  Mampukah kita merubah jam kerja kita ???  Kinilah saatnya untuk berubah.  Kalau tidak mau anda akan dipaksa untuk berubah.  Dipaksa oleh situasi dan kondisi.  Sebelum dipaksa, lebih baik beubah secara sukarela.  Toh kita juga tahu, sesuatu yang dipaksa itu tidak membawa kenikmatan.  Pemaksaan akan membawa keperihan.  Keperihan akan mengakibatkan “pendarahan”. kemudian membawa kesengsaraan dan akhirnya kematian.

Anak2 Jepang diajari kerja keras dan hidup mandiri sejak kecil.  Anak TK saja, bawaan bekal ke sekolahnya macam2, ada makan siang, baju ganti, sandal atau sepatu ganti, buku2 dan lain2.  Mungkin 2 tas besar masih kurang untuk membawa bekal dan perlengkapan di sekolah TK.  Dari kecil sudah mandiri dan kerja keras, sudah besar nanti akan terbiasa.  Siapkah kita mengajari anak2 kita untuk mandiri dan kerja keras dari sekarang ?  Kalau tidak siap, maka siap2 lah untuk kalah dalam persaingan, persaingan lokal, nasional, dan internasional.  Persaingan Global.  Mungkin kalau ada yang cuek akan berkata, persaingan gombal.  Globalisasi diplesetkan jadi Gombalisasi.  Tapi tanggunglah sendiri nanti akibatnya.

Si Jepang tadi tanya sama saya, kenapa orang melayu itu males2.  Tanah banyak yang nganggur, sumber air ada, subur, cuaca relatif bagus, tidak ada angin ribut, tidak ada gempa.  Di Jepang ada suatu daerah yang terkenal dengan angin ribut, tetapi di daerah tersebut ada persahaan bunga potong.  Seringkali beberapa hari menjelang panen bunga potong, terjadi angin ribut.  Kerugian sudah sering dialami oleh petani bunga di sana akibat iklim yang tidak bersahabat, tetapi toh daerah itu tetap terkenal dengan pengekspor bunga.

Si Jepang tadi juga terheran-heran melihat anak melayu terlalu dimanja oleh orang tuanya.  Kurang diajarkan kerja keras dan kemandirian sejak kecil.  Ia juga menambahkan, menanamkan rasa malu harus dimulai sejak dini.  Kalau di kantor tidak ada kerjaan, terus pulang cepat, adalah merupakan aib bagi mereka.  Suami yang pulang cepat akan dimarahi oleh istrinya, karena itu menandakan bahwa si suami tidak dipakai oleh perusahaan atau kantor tempat dia bekerja.

Jepang tidak punya sumberdaya alam, tetapi orangnya rajin2 sehingga Jepang bisa menjadi menjadi bangsa yang terkemuka.  Orang Jepang bukan lah orang yang Inovator, ya bangsa Jepang bukan bangsa inovator.  Bahkan orang Jepang terkenal sebagai bangsa penjiplak, tetapi terus dimodifikasi, diperbaiki, sehingga terciptalah mobil Jepang yang super irit dibanding mobil2 Eropa.  Padahal asalnya, ada orang Jepang yang beli satu mobil Eropa, kemudian dipreteli satu per satu, untuk kemudian dijiplak.  Dengan “kelicikannya” Jepang mendapat pasar untuk menampung mobil2 nya.

Orang Eropa merasa kesal, mungkin sama kesalnya dengan orang Indonesia terhadap negara jirannya. Malaysia tidak punya sumber daya alam dan tidak punya tenaga ahli juga.  Tetapi Malaysia bisa punya Petronas yang sumber daya alamnya diambil dari 27 negara lain.  Tenaga ahlinya juga dari beberapa negara, termasuk tenaga ahli Indonesia.  Lalu apa yang dipunyai Malaysia ?  Ilmu Manajemen !!!  Selain itu Malaysia juga punya pemimpin yang jujur, berkarakter, kalau sudah nggak mampu, mundur !!!  Malaysia banyak belajar dari Jepang, Korea dan Cina, serta mungkin juga belajar dari Indonesia.

Sementara kita (bangsa Indonesia) tidak pernah mau belajar.  Cobalah belajar dari filem kartun Jepang, si Power Ranger itu, ketika jagoannya berteriak dengan lantang :  SAATNYA BERUBAH….

Kita cuma bergumam :  Emangnya gue pikirin……

Tulisan ini diambil dari:

http://public.kompasiana.com/2009/02/15/saatnya-berubahngelmu-13/#comment-4417

Iklan

Komentar ditutup.