Karya Tulis Jadi Kendala Kenaikan Pangkat Guru

Membaca Humaniora Kompas, Jumat, 27 Maret 2009 membuat saya tergugah untuk membuat sebuah tulisan. Bukan karena hendak membanggakan diri tapi bermaksud ingin berbagi. Sebab setiap kali dipercaya untuk menjadi pembicara penelitian tindakan kelas (PTK) dan diminta untuk membimbing teman sejawat dalam membuat karya tulis ilmiah memang bukan pekerjaan yang mudah. Selain karena para guru banyak yang kurang dalam membaca buku, mereka pun kurang berlatih dalam menulis. Sehingga wajar saja apabila banyak guru yang terhambat naik pangkatnya karena tak mampu membuat sebuah karya tulis.

Mari kita baca harian kompas, Edisi Jumat, 27 Maret 2009 berikut ini:

Guru-guru pegawai negeri sipil di tingkat pendidikan dasar dan menengah sulit mencapai golongan pangkat di atas IV A karena kemampuan mereka dalam membuat karya tulis masih lemah. Padahal, membuat karya tulis menjadi salah satu syarat kenaikan pangkat. Berdasarkan data Badan Kepegawaian Nasional Tahun 2005, sekitar 1,4 juta guru berstatus pegawai negeri sipil (PNS). Umumnya guru-guru tersebut berada di golongan pangkat III/A sampai III/D yang jumlahnya mencapai 996.926 guru. Adapun di golongan IV ada 336.601 guru, dengan rincian golongan IV/A sebanyak 334.184 guru, golongan IV/B berjumlah 2.318 guru, golongan IV/C sebanyak 84 guru, dan golongan IV/D ada 15 guru.

Melihat kenyataan itu, hati saya tergerak untuk membantu para guru dalam membuat karya tulisnya. Berbagai pelatihan atau workshop telah saya ikuti, dan berbagai seminar telah saya adakan bersama kawan-kawan agar teman-teman guru mengerti dan paham dalam melakukan penelitian. sehingga dapat naik pangkat. Bahkan saya telah membuat buku tentang PTK agar para guru lebih mengenal PTK. Namun, hati saya masih terasa galau melihat ada sebagian teman-teman guru yang sangat sulit dalam membuat karya tulis. Semua itu disebabkan karena teman-teman guru telah memvonis dirinya tak sanggup untuk menulis sebelum mencobanya. Banyak diantara mereka yang mengaku kalah sebelum bertempur. Kalau sudah begitu sulitlah buat saya untuk mengajarkan tentang materi penelitian. Saya pun berusaha merubah diri menjadi seorang motivator seperti bapak Mario Teguh atau Andri Wongso agar para guru berani menulis.

Sebenarnya ada delapan obat yang akan membuat guru mampu membuat karya tulis. Obat yang pertama adalah memahami profesinya sebagai guru. Kedua rajin membaca buku, ketiga rajin berlatih menulis, keempat menghargai waktu dengan baik, kelima tidak terjebak rutinitas kerja, keenam lebih kreatif dan inovatif, ketujuh mau meneliti, dan kedelapan memahami PTK yang bertujuan memperbaiki kinerjanya sebagai guru. Bila kedelapan obat ini telah menyatu dalam tubuh guru, saya yakin seyakin-yakinnya tak ada guru di Indonesia yang terhambat kenaikan pangkatnya karena tak mampu untuk membuat karya tulis.

Mari kita baca kembali informasi dari kompas berikut ini:

Jawane Malau dari Subdirektorat Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Latihan, Direktorat Pembinaan Pendidikan dan Pelatihan Depdiknas, mengatakan, pemerintah menyadari kondisi guru di SD, SMP, dan SMA/SMK yang kebanyakan hanya bisa meraih golongan IV/A. Untuk itu, peningkatan kompetensi penulisan karya ilmiah dan penelitian tindakan kelas terus ditingkatkan lewat pelatihan secara langsung maupun online lewat jaringan pendidikan nasional (jardiknas)

Sebenarnya telah ada upaya dari pemerintah untuk mengatasi kendala kenaikan pangkat guru. Berbagai pelatihan telah dilaksanakan dan berbagai kegiatan ilmiah telah pula dilakukan. Bahkan ada bimbingan secara Online. Belum lagi adanya lomba karya tulis ilmiah setiap tahunnya yang selalu rutin diadakan oleh depdiknas. Tapi mengapa masih banyak guru yang tidak bisa membuat karya tulis?

Sebuah pertanyaan yang harus dijawab sendiri oleh para guru. Sebuah pertanyaan yang hanya bisa dijawab dengan tindakan nyata dan bukan kata-kata. Semoga para guru nantinya akan dibimbing dan berkolaborasi dengan para pakar di perguruan tinggi untuk bisa membuat karya tulis ilmiah yang berkualitas. Bila para guru telah membuat karya tulis ilmiah yang berkualitas, maka akan meningkat pula mutu pendidikan yang ada di sekolah-sekolah kita.

Mari ciptakan khasanah ilmu pengetahuan baru dengan rajin meneliti dan membuat sebuah karya tulis. Masih banyak lahan penelitian di bidang pendidikan yang belum tergarap, dan masih banyak pintu terbuka untuk kita para guru menemukan metode-metode yang tepat dalam mengelola pembelajaran yang berkualitas. Mari menjadi guru profesional melalui Penelitian Tindakan Kelas. Semoga.

Iklan

5 responses to “Karya Tulis Jadi Kendala Kenaikan Pangkat Guru

  1. ireisha anindya

    Assalamu’alaikum, Pak.
    Mungkin para guru belum bisa membuat karya tulis karena pendidikan sekolah kita nggak mengajarkan menulis, dan budaya membaca yang nelum berkembang dengan luas.

  2. Saya prihatin juga dengan kaar semacam itu. Padahal, menulis itu penting.Bahkan, saya bisa hidup dengan menulis.
    Kebetulan, saya ini wartawan, penulis buku, penerjemah, dan sekarang juga jadi pengajar. Saya ingin mengajari siapa saja yang ingin menulis dengan enak dan baik.
    Cuma, saya tinggal di Surabaya. Jadi, kalau mau kontak lebih lanjut, kita musti atur dulu waktu pembelajarannya.
    Saya bisa dihubungi via ciluk_bha@hotmail.com atau cilukba_lah@yahoo.com.

  3. Aslm. Dulu wkt jam mengajar sy sedikit sy msh bs menulis di media, dg jam mengajar banyk sy jd keteteran. Bgm solusinya Pak? Ada PTN menyelenggarakan PTK, tp biayanya jutaan. Istilahnya PTK mandiri. Cukup buat 1 ptk angka kredit 4, msk jurnal dg judul sama nilai 6, diseminarkan krg lebih 15 menit nilai 4, akhirnya bs naik pangkat. Logis g Pak, mohon komentar? Waslm.

  4. solusinya cua satu, aturlah waktu dengan baik, dan kalahlah kemalasan diri. Jangan tergiur dengan hal-hal yang biayanya jutaan. Lebih baik kita andiri belajar sama yang sdh berhasil melakukan PTK. Saya sendiri ketika belajar mandiri, ternyata bisa juga asuk loba keberhasilan guru dala pebelajaran tingkat nasional. Kini saya sudah mebuat buku PTK agar para guru lebih mengenal PTK dengan baik. Selamat elakukan PTK dan jangan takut kalau gagal, saya siap ebantu ibu melalui dunia maya dan gratis. Salam

  5. solusinya cuma satu, aturlah waktu dengan baik, dan kalahlah kemalasan diri.

    Jangan tergiur dengan hal-hal yang biayanya jutaan. Lebih baik kita mandiri belajar sama yang sdh berhasil melakukan PTK.

    Saya sendiri ketika belajar mandiri, ternyata bisa juga masuk lomba keberhasilan guru dalam pembelajaran tingkat nasional.

    Kini saya sudah membuat buku PTK agar para guru lebih mengenal PTK dengan baik.

    Selamat melakukan PTK dan jangan takut kalau gagal, saya siap membantu ibu melalui dunia maya dan gratis lho . Salam