Menggugat Ujian Nasional (2)

Beberapa waktu lalu saya pernah menulis pendapat saya tentang menggugat ujian nasional di kompasiana http://public.kompasiana.com/2009/04/03/menggugat-ujian-nasional-1/. Pada hari ini saya akan coba melanjutkankannya yang secara kebetulan hari ini adalah hari kedua pelaksanaan UN di SMA yang secara kebetulan pula bertepatan dengan peringatan hari ibu kita Kartini.

Karena siswa SMA sedang UN, maka perayaan hari kartini di SMP ditiadakan. Itulah tidak enaknya bila dalam satu yayasan ada 2 sekolah yang berbeda jenjang sehingga bila melaksanakan kegiatan harus ada koordinasi agar tidak saling berbenturan kepentingan. Bayangkan saja bila di SMP dilaksakan perayaan hari kartini dengan meriah yang mengundang keramaian, sedangkan di ruang sebelahnya siswa SMA sedang berjuang serius demi masa depannya agar bisa lulus UN yang katanya menakutkan itu.

Mengapa UN menakutkan bagi siswa dan kepala sekolah? Sebab selama tiga tahun sekolah, selama 5 hari itu nasib mereka akan ditentukan. Bila mereka tidak lulus, maka mereka harus mengulang kembali tahun depan atau mengikuti program paket C yang kata anak-anak SMA sudah pasti lulus, cuma lucu juga. Sekolahnya dimana, ijazahnya dimana? Coba anda bayangkan ada siswa SMA yang sekolah 3 tahun hanya karena tak lulus UN, harus ikut ujian program paket C yang dijamin lulus? Kemana suara keadilan? Lalu kemana pula sura kebenaran yang katanya gugatan UN telah dimenangkan oleh para siswa korban UN? Kemana media yang meliput ini? Kemana para korban UN pergi? UN tetap ada lagi, dan UN tetap jadi primadona anak SMP dan SMA di Indonesia.

Kepala sekolah yang masih waras juga akan takut bila ada anak didiknya yang tidak lulus UN. Kredibilitas sekolah harus dijaga, karena itu gema UN membahana di awal-awal semester kedua, dan mulailah anak dijejali dengan latihan-latihan soal menghadapi UN. Pelajaran IPA yang seharusnya ada 40 % praktek, menjadi kurang prakteknya karena harus belajar teori lebih banyak. Makanya jangan heran kalau Indonesia kekurangan banyak peneliti muda. Karena waktu mereka hanya habis untuk berlatih soal UN daripada asyik di laboratorium fisika, kimia, dan biologi sebagai peneliti.

Ujian nasional (UN) bukanlah faktor utama peningkatan mutu pendidikan, tetapi pemerintah terlihat total dalam pendanaan dan pengawasan pelaksanaan UN tahunan ini dan diperlakukan sebagai penentu kelulusan siswa dari sekolah. (Kompas, Senin, 20 April 2009). Kalau pemerintah mau serius, lengkapi dan perbaiki sarana dan prasarana pembelajaran. Benahi laboratorium-laboratorium yang ada. Lengkapi peralatannya biar para siswa tahu bahwa segala sesuatu itu ada prosesnya. Mengapa begini dan mengapa begitu? Hal itu akan terungkap bila mana siswa melakukan praktikum. Guru pun menjadi malas ke laboratorium. Guru-guru IPA lebih asyik dengan pendalaman soal-soal UN yang berujung kepada penambahan pemasukan kantong mereka.

UN ada plus dan minusnya. Ada saja kejadian yang membuat kita miris. Seperti kejadian hari ini ada soal UN yang kurang di berbagai daerah. Nampaknya kita harus belajar dari sekolah international yang meniadakan UN. Contohnya sekolah Pelita Harapan. Di sekolah ini anak diarahkan untuk menjadi dirinya sendiri. Pada saat pelajaran IPA, anak dibebaskan untuk memilih topik yang diinginkan. Lalu mulailah anak itu menjadi peneliti yang dibimbing langsung oleh guru. Dengan cara seperti ini, minat anak tersalurkan dan janganlah heran apabila di luar negeri sana banyak anak remaja yang senang meneliti.

UN yang diselenggarakan dengan biaya besar harus terus dievaluasi pelaksanaannya. Jangan sampai kebermanfaatan UN hanya dirasakan oleh segelintir komunitas saja. UN harus bermanfaat untuk semua. Caranya? Seringlah pihak pemerintah berdialog dengan guru, siswa, dan orang tua siswa. Pemerintah harus mendengar keluhan mereka. Pemerintah harus mengambil suatu kesimpulan dari hasil dialog itu. Jangan korbankan generasi muda kita karena kebijakan pemerintah yang salah.

Saya masih percaya bahwa UN memang dilaksanakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan kita. Tetapi tidak adakah cara lain selain UN yang lebih mujarab dalam meningkatkan mutu pendidikan kita? Mari kita sama-sama cari tahu jawabannya.

Mari kita baca komentar berikut ini

syaifuddin sayuti,

— 21 April 2009 jam 12:46 pm

thx oom jay yang sudah curhat soal UN. saya sebagai ortu juga miris, sampai kapan anak2 berada dalam ketidakpastian sistem pendidikan kita? saya tak bisa membayangkan jika akhirnya anak-anak kita adalah pribadi yang hanya menghapal, tak pernah hirau dengan seni, olahraga, atau pendidikan budi pekerti. cepat atau lambat negeri ini akan hancur dengan sistem pendidikan yang kacau balau ini.

halo pemerintah, sampai kapan anak-anak akan mengenal apa itu proses dalam pendidikan? bagaimana paham proses, jika di sekolah belajar banyak mata pelajaran, tapi yang diujikan dalam UN cuma sekian mata pelajaran. seolah-olah dunia ini bisa selesai dengan matematika, bahasa inggris dan sains?

jika punya rejeki yang berlebih saya memilih menyekolahkan anak saya nantinya di sekolah internasional yang tak mengenal UN. tapi bukan itu kan solusi memecahkan persoalan ini. saya tak tahu apakah Capres-capres yang akan bertarung di pilpres nanti paham persoalan ini. apakah mereka sadar dunia pendidikan kita akan menuju kehancuran dan tak menghasilkan apapun?

halo SBY, Mega, SB, Prabowo, Wiranto, apa program anda untuk membenahi karut marutnya pendidikan kita? puluhan program capres tak akan ada artinya jika tak menyentuh persoalan pendidikan sama sekali. ayo cermati program capres. jangan pilih capres yang tak peduli pendidikan.

Iklan

Komentar ditutup.