Belajar Dari Pak Timbul

Hari ini, saya mengawas dengan Pak Timbul. Bukan Pak Timbul pelawak Srimulat yang kocak itu, tapi mengawas dengan seorang guru yang bernama Pak Timbul. Usianya sudah 59 tahun dan tahun ini adalah tahun terakhirnya beliau mengawas UN. Tahun depan beliau pensiun jadi PNS.

Tampak jelas dari raut wajahnya, kalau beliau adalah orang yang pantang menyerah. Ini terbukti ketika beliau bercerita tentang kisah hidupnya yang luar biasa kepada saya. Gajinya sebagai guru hanya cuma tanda tangan (baca habis). Hidupnya hanya gali lubang tutup lubang. Untuk menutupi itu beliau berdagang IndoMi bersama istrinya di bilangan Jakarta Pusat.

Beliau berani pinjam uang ke bank untuk modal usaha, alhasil beliau dapat menyekolahkan kedua orang putranya kuliah di perguruan tinggi ternama. Anak pertama di UI, dan anak kedua di IPB. Beliau mempunyai anak-anak yang cerdas. Beliau cerita, jarak antara anak pertama dan kedua 3 tahun, sehingga dalam waktu yang bersamaan beliau harus masukkan anak ke UI dan SMA Kelas X. Untunglah ada orang tua asuh yang mau membiayai kuliah anaknya. Sehingga beban hidup tidak terlalu besar.

Di rumah, pak Timbul punya komputer dan laptop tapi tidak tahu cara memakainya. Kalau mau pakai, beliau harus menghubungi anaknya dulu.Modal utama beliau adalah kejujuran. Kejujuran Kunci keberhasilan itu moto hidupnya.

Kebetulan tahun ini beliau mendapat Bea Siswa Gratis untuk melanjutkan sekolah dari diploma dua ke S!. Selamat ya pak Timbul. Anda telah menerapkan belajar sepanjang hayat.

Iklan

2 responses to “Belajar Dari Pak Timbul

  1. Nah loe…. dalam POS UN, pengawas kan dilarang ngobrol?! Lha ini hasil ngobrolnya malah jadi cerita. Hayo, nanti terbaca Mendiknas bisa kena sangsi, lho!

  2. Itulah yang terjadi pak, sambil menyelam minum air. Rasanya sulit untuk tidk mengobrol karena kita baru saling kenal sehingga kita saling memperkenalkan diri. Tentu sambil mengawasi anak-anak dan bicaranya pun pelan-pelan, hehehehehe. Salam