Refleksi Guru Melalui PTK

Siswa Praktek Komputer

Siswa Praktek Komputer

Mungkin untuk sebagian orang menganggap memilih profesi guru adalah pekerjaan yang menjemukan sekaligus menjengkelkan. Tapi tidak bagi penulis. Profesi guru adalah pekerjaan yang sangat mulia. Di tangannya tercipta para generasi penerus bangsa yang memiliki akhlaqul karimah, akhlak yang mulia. Karena kemulian itu, maka guru dituntut untuk senantiasa memberikan contoh bagi para peserta didiknya. Mampu memberikan keteladanan dalam kehidupannya sehari-hari. Setiap ucapan dan tindakan membuat dirinya menjadi cermin bagi para siswanya.

Para guru yang terhimpun dalam suatu wadah yang bernama sekolah harus mempunyai visi dan misi yang jelas dalam mengantarkan anak didiknya ke masa depan. Sekolah harus mampu memiliki visi mempersiapkan calon pemimpin masa depan yang bertakwa, berintegrasi tinggi, mempunyai daya juang yang kuat, mempunyai kepribadian yang utuh, berbudi pekerti luhur, mandiri, serta mempunyai kemampuan intelektual yang tinggi. Visi itu harus diterjemahkan dalam bentuk misi.

Sekolah yang baik seharusnya mempunyai misi sebagai berikut: Menciptakan lingkungan belajar yang menantang dan menyenangkan, adil, kreatif, terintegratif, dan dedikatif terhadap pencapaian misi. Menghasilkan lulusan yang berkualitas tinggi dalam perkembangan intelektualnya, dan mempunyai karakter takwa, jujur, kreatif, mampu menjadi tauladan, bekerja keras, toleran, dan cakap dalam memimpin. Menjawab tantangan akan kebutuhan pengembangan sumber daya manusia (SDM) yang dapat menjawab tantangan dan berperan dalam perkembangan ilmu pengetahuan (iptek) dan juga menanamkan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan (imtak) dalam setiap mata pelajaran.

Karena visi dan misi itulah, guru dituntut untuk menjadi agen perubahan dan pembelajaran serta senantiasa kreatif dalam proses pembelajaran di sekolah sehingga pada proses evaluasi dan penilaian akan menghasilkan peserta didik yang mampu untuk bersaing, mandiri, serta berkualitas.

Untuk mencapai itu tidaklah mudah. Diperlukan kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas, dan kerja tuntas (K4) dari seorang guru dengan selalu melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Ketika K4 mampu dikerjakan oleh seorang guru, maka guru tersebut akan senantiasa melakukan refleksi melalui PTK. Guru akan bercermin diri tentang apa yang telah dilakukannya di kelas.

Kerja keras itu dimulai pada saat pembuatan atau penyusunan Rencana Program Pembelajaran (RPP). RPP yang baik adalah RPP yang tidak hanya sekedar copy and paste, tetapi RPP yang benar-benar dibuat dan di susun oleh guru dalam melaksanakan pembelajarannya di kelas.

Ketika seorang guru telah benar-benar merencanakan pembelajarannya dengan baik, selama satu tahun ajaran yang dilengkapi dengan handout dan jobsheet, maka dalam proses pembelajaran diperlukan apa yang disebut pembelajaran kreatif.

Pembelajaran kreatif tidak muncul sendiri begitu saja. Ketika guru mengalami permasalahan di kelas, dimana telah terjadi kesenjangan antara harapan dengan kenyataan. Masalah pasti terjadi dimana-mana, tak terkecuali dalam proses pembelajaran. Apalagi pada saat proses penyampaian materi ditemukan kesulitan-kesulitan, maka akan timbullah pembelajaran kreatif.

Pembelajaran yang kreatif dilahirkan oleh guru yang kreatif pula. Guru yang kreatif tentu akan mencari cara yang efektif agar materi yang diberikan sampai ke otak siswa dengan cepat. Diperlukan strategi, metode, pendekatan, dan pembuatan media pembelajaran atau alat peraga agar materi yang disampaikan menarik dan tidak membosankan.

Zaman sekarang, metode ceramah, sedikit demi sedikit sudah mulai digantikan oleh metode yang lainnya. Guru yang kreatif adalah guru yang tidak pernah pasrah dengan keadaan dan tidak membiarkan peserta didiknya seperti “ayam kehilangan induknya”. Di sinilah guru kreatif berperan menjadi motivator, fasilitator, aktor, director, dan konselor bagi anak didiknya. Kehadirannya sangat dirindukan dan ketidakhadirannya membuat peserta didik kecewa dan sedih. Sudahkah kita sebagai guru menjadi sosok yang dirindukan oleh anak didik kita?

Setelah proses pelaksanaan pembelajaran berhasil, tentu diperlukan pula sebuah proses yang bernama evaluasi. Evaluasi pembelajaran dilakukan agar guru mengetahui sampai sejauh mana materi yang disampaikan dikuasai oleh siswa. Melakukan sebuah refleksi dan perenungan diri apakah telah terjadi proses pembelajaran yang menantang dan menyenangkan. Ketika belum terjadi proses keberhasilan, maka lakukanlah penelitian tindakan kelas (PTK).

PTK adalah sebuah penelitian yang dilakukan oleh guru itu sendiri dengan cara merencanakan pembelajaran, melaksanakan tindakan perbaikan, mengamati proses pembelajaran dengan seksama dengan selalu mencatat kejadian-kejadian yang dialami dan melakukan suatu refleksi diri tentang pembelajaran yang telah terjadi bersama rekan sejawat, sehingga terjadi kolaboratif, dan partisipatif dalam rangka memperbaiki kinerjanya sebagai guru di sekolah.

Bila para guru telah berhasil melaksanakan PTK dengan baik, dan telah diujicobakan melalui beberapa siklus, maka kualitas dari lulusan sekolah itu akan tinggi. Baik dari sisi perkembangan intelektualnya sampai dengan pembentukan karakter siswa yang takwa, jujur, kreatif, mampu menjadi tauladan dan cakap dalam memimpin.

Di era super canggih saat ini, dimana teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah menguasai dunia, diperlukan SDM unggul yang mampu menjawab tantangan akan pengembangan SDM yang berkualitas. Semua itu akan dapat diciptakan dari seorang guru yang senantiasa melakukan proses refleksi diri dalam setiap pembelajarannya di sekolah.

PTK akan menghantarkan para guru untuk mengerti dan memahami visi dan misi sekolah. Setiap sekolah tentu mempunyai visi dan misi yang berbeda-beda. Di sanalah terlihat keragaman bukan keseragaman. Namun, dari perbedaan itu, dapat kita lihat persamaannya. Persamaan itu terlihat dari tujuan sekolah yang menghantarkan anak didiknya untuk menjadi takwa dan berakhlaqul karimah atau akhlak yang mulia.

Oleh karena itu, harus terjadi proses pembelajaran yang dapat memadukan iptek dan imtak secara terpadu. jangan biarkan anak didik kita cerdas dan berilmu, tetapi miskin aqidah dan malas beribadah. PTK seharusnya mengantarkan guru untuk senantiasa melakukan refleksi diri dalam rangka terus menerus memperbaiki kinerjanya sebagai guru sehingga dapat mengangkat citra sekolahnya yang memiliki visi dan misi yang telah dikemukakan di atas.

Profesi guru adalah profesi yang mulia. Jangan biarkan kemuliaan itu hilang karena kita tak belajar sepanjang hayat. Harus kita tanamkan pada diri kita yang berprofesi sebagai guru bahwa ilmu adalah cahaya. Guru adalah cerminnya. Karena itu jangan biarkan cermin itu kotor karena kita tak pernah melakukan pembersihan diri melalui PTK.

Dengan banyak bercermin diri, maka guru akan menjadi bintang. Bintang yang gemerlap di malam hari sehingga mampu menyinari dunia yang gelap gulita. Sudahkah anda yang berprofesi sebagai guru menjadi bintang? Jadilah bintang dengan melakukan PTK di sekolah anda. Cobalah!.

Iklan

2 responses to “Refleksi Guru Melalui PTK

  1. Eka Dianti U, S.Pd

    Tulisannya sangat bermanfaat sekali bagi saya. Saya sudah 2kali ikut bimbingan membuat PTK lewat KTI ONLINE tapi kenapa ya ubtuk memulai yang berikutnya selepas bimbingan kok jadi mandek. Tak seperti waktu bimbingan berlangsung saya sangat bersemangat. Apa saya terlalu bergantung dengan pembimbing????

  2. guru kreatif, bisakah melakukannya setiap hari di semua kelas yang diajarnya ? Atau hanya untuk memenuhi tuntutan tugas MBE, DBE atau semacamnya ?