Mudik Asyik dan Unik di Desa Taraju (Kisah Perjalanan Mudik Omjay)

Selama saya mudik di Bandung, pekerjaan saya hanya hardolin (dahar, modol, ulin). Oleh karena itu, kakak ipar mengajak saya untuk mudik lebaran juga ke Garut dan Tasikmalaya.  Tempat asli kakak ipar saya. Perjalanan dari Bandung menuju Tasikmalaya cukup jauh juga. Apalagi tempat yang kami kunjungi lebih dulu adalah desa taraju tasikmalaya yang berada di atas gunung. Di kawasan kebun teh yang luas dan dingin. Suasana perjalanannya mirip seperti kita berkunjung ke bukittinggi, padang dan melewati kelok 44 yang terkenal itu. Naik, turun lalu belok lagi, lalu naik lagi begitu seterusnya. Bila anda yang tak terbiasa mengendarai mobil di daerah seperti ini, sebaiknya berikan kepada yang lain saja, karena resikonya cukup tinggi. Bisa-bisa anda mendapatkan kecelakaan pada saat mudik.

Perjalanan dari Bandung ke taraju yang hari biasa bisa ditempuh dalam waktu 3 jam, kini berubah menjadi 6 jam karena macetnya jalan selama mudik lebaran. Kami mengalami macet total mulai dari nagrek sampai Limbangan. Cukup lelah dan letih juga ketika sampai di taraju. Kami sampai pada saat adzan magrib.  Cukup letih juga Euy!. Namun, karena pemandangannya yang sangat indah dan udara dingin yang terasa di kulit membuat kami justru tak mengalami keletihan. Kami justru sangat senang berada di desa ini. Desa Taraju yang berada di kawasan kebun teh milik teh botol sosro di daerah tasikmalaya. Anda akan terpesona melihat daerahnya dan membuat anda pasti akan betah berada di desa ini. Melakukan refreshing sejenak dari kepenatan kerja di ibu kota Jakarta. Apalagi bila anda pergi rekreasi ke ACD. Ehhmmm! Mantap!.

Mang Mamad dan Bi Entin menyambut kedatangan kami dengan gembira. Mereka telah siap menyambut kami dengan telah tersedianya hidangan yang sudah siap di atas meja. Kami dipersilahkan untuk langsung makan, dan rasanya kami benar-benar berada di surga. Menikmati makanan yang enak banget dengan sambel cibiuk dari garut yang terkenal itu. Belum lagi, teh hangat yang asli taraju, serasa minum teh botol sosro, hehehe. Makanya saya sangat setuju dengan iklan teh botol sosro. “Apapun makanannya, minumnya teh botol sosro”. Hehehehe, maaf ya jadi iklan nih. Mohon maaf admin kompasiana jangan bertengkar ya???. Sudah baca tulisan mas dwiki?.

Karena lapar, kami tak lihat lagi suasana rumah. kami baru engeh justru setelah makan kami selesai dan mengobrol dengan tuan rumah. Ternyata desa Taraju juga terkena musibah gempa bumi yang baru lalu. Rumah mang mamad dan bi entin terlihat sekali baru diperbaiki di sana-sini. banyak retakan akibat gempa yang menyebabkan tembok rumah itu retak dan harus ditambal. Hampir semua ujung rumah mengalami keretakan. Televisipun rusak karena jatuh dari meja. Rupanya, gempa bumi di daerah ini cukup dahsyat juga dan terjadi dua kali sampai-sampai banyak rumah yang roboh akibat gempa itu Dari informasi mang mamad, dan saya lihat perinciannya secara tertulis dari kepala desa, ternyata kerugian yang ditanggung oleh desa ini sekitar 2 milyar lebih. Cukup banyak Euy!. Apalagi banyak sekolah yang atapnya roboh akibat gempa. Hal ini saya ketahui lebih jelas setelah esok harinya saya berkeliling di sekitar daerah ini. Bahkan ada rumah yang baru tiga hari ditempati sudah langsung roboh oleh gempa. Untunglah tak ada korban jiwa di sini, karena semua sudah dalam keadaan siap sedia dan langsung keluar ketika terjadi gempa.

Saya sungguh tak menyangka daerah gunung juga bernasib sama dengan daerah yang dekat laut. Namun kerusakan daerah ini tak begitu besar seperti daerah yang ada di dekat laut dimana terjadinya pusat gempa. Ternyata benar dalam pelajaran geografi dulu, kalau laut dan gunung memiliki keterkaitan. Makanya jangan heran bila ada pepatah yang mengatakan, asam di gunung, garam di laut. bertemu dalam satu belanga. (Hehehe nggak nyambung bok!) Ternyata bumi ini memang bulat. Antara satu daerah dengan lainnya saling ada keterikatan. Apa yang diikat ya?, coba tanyakan sama mbak Mariska Lubis, hehehehe.

Kembali kepada desa Taraju yang indah, tempat saya mudik bersama kakak ipar dan keluarga. Desa ini sangat unik. kenapa saya katakan unik?. Sebab, setelah saya berkeliling di pagi hari, pasar pagi hanya buka hari selasa dan sabtu. Angkutan umum sangat jarang sekali, dan ojek selalu ada 24 jam. Jadi kalau kita mau naik angkok, harus sabar menunggunya karena jumlahnya yang terbatas. keunikan lainnya dari desa ini adalah hawanya yang sangat dingin. Jangan coba-coba anda langsung mandi  di pagi hari bila tak terbiasa. anda bisa menggigil kedinginan seperti Omjay yang berasa banget sampai ke tulang sumsum dinginnya. Padahal Omjay sdh cukup gemuk Loh! tapi masih juga kedinginan. Makanya wajar aja kalau orang gunung rata-rata memiliki anak lebih dari dua orang. Karena perlu saling menyelimuti, hehehehehe. (Huuuss jangan ngomongin soal sex di kompasiana, nanti tulisan anda masuk jadi tulisan populer loh!).

Sebenarnya banyak keunikan lain yang saya temukan, seperti banyak bunga atau tanaman hias yang tumbuh subur di daerah ini, tetapi akan mati bila di bawa ke tempat lain. Tumbuhan itu perlu suhu khusus untuk bisa tumbuh, dan di desa taraju inilah saya melihat keindahan tanaman hias dan indahnya bunga beraneka warna. Seperti lagu lihat kebunku penuh dengan bunga yang suka dinyanyikan oleh ibu kasur waktu saya TK dulu. Memandangi tanaman di sini membuat saya merasakan kebesaran Allah. Allahu Akbar. Allah Maha Besar. Apalagi sambil mendengarkan lagu-lagu ST12. Saya serasa berada di surga. Tempat berkumpulnya orang-orang baik dan selalu menebarkan kebaikan kepada sesama. Hanya memberi tak harap kembali.

Sebenarnya banyak sekali yang ingin Omjay ceritakan tentang perjalanan mudik omjay dalam blog kompasiana ini, namun karena kompasiana adalah blog keroyokan, omjay akan menuliskannya lebih komplit di blog pribadi Omjay supaya tidak kelihatan terlalu terlihat narsis, hehehehe. (Emang blogger itu terkenal narsis kok!). Mohon maaf kalau ada yang tersinggung yah!. Mumpung masih suasana lebaran, euy!

omjay-sedang-santai-di-taraju
omjay-sedang-santai-di-taraju

Setelah membaca tulisan Mas Budiman hakim, akan banyak plesetan yang akan omjay tuliskan. Masih ada tulisan lainnya, “Mudik unik di kampung Naga”. Mohon bersabar ya, omjay masih harus juga baca tulisan orang lain. sebab penulis yang baik adalah pembaca yang baik pula. seperti pak pray dan pak CH yang selalu menjawab setiap komentar satu persatu dari postingannya. Sayang, Omjay belum masuk usia pensiun. jadi mohon maaf kalau komentarnya agak lambat di respon atau malah tak ditanggapi sama sekali. Cuma ada artikel menarik nih, ternyata kelamaan di internet bisa bikin kegemukan loh. Bacalah!.

Bersambung

Iklan

8 responses to “Mudik Asyik dan Unik di Desa Taraju (Kisah Perjalanan Mudik Omjay)

  1. nepangkeung sumkuring yadi…kawit asli urang taraju..haturnuhun parantos dimuat perjalanan mudikna di desa Taraju.

  2. abdi urang Taraju asli…..
    walaupun Taraju Gunung …….
    tapi saha wae anu ntos nyobian ka Taraju pasti akan terkenang sampe kapan pun dan tak akan terlupakan ……..
    kata orangh Bandung mah jalannya dina pucuk awi ………
    saya jamin pasti terkesan dech …..

  3. Banyak kenangan yg tak terlupakan di Taraju.msa kecil ku lma dsana.cuaca nya yg dingin n msyarakat dsana ckup gwe breng.mudik ska plang kesana.pph ku asli rang sana.trimakash ku ucapakan buat sdra ku di sana.kluarga bsar almrhm Yoyo sukarya.yg tlah mrwat n mendidik smpi ku sgede gni.nene yg sllu mrwat ku slgi ku tinggal di taraju ,smoga nene shat slalu.smua guru2 smpn Taraju dan alumni.slam kangen.

  4. pasti banyak kenangan di taraju ya kang bargawa.

    salam
    Omjay

  5. Sepertinya Om jay ini begitu antusias dgn Taraju. Salam kenal saya Tpk Taraju baru selesai membangun Gedung Pertemuan Desa dan Mandrasah di Cibuntu. Trim’s

  6. R.okke Prawirakusumah

    Ok.

  7. lebaran isuk mudik ei teu euy…?
    salam ah ti urang puspahiang bijong randeg mekarsari tasikmalya tea,hahahahahahah…..!

  8. jalanna ancur ayeuna mah kuring sok ngalonggokan pamajikan ka lembur pejalanan jadi beuki lila da jalanna butut!!!! kumaha pemkab tasikmalaya???