Pembelajaran Aktif

Pembelajaran Siswa Aktif

Saya sempat bertanya kepada diri saya sendiri, apakah yang dimaksud dengan  pembelajaran siswa aktif? Pembelajaran yang kata orang membuat siswa aktif. Aktif bertanya, aktif melakukan gerakan tangan dan mata, lalu gurunya asyik memandangi para siswanya. Benarkah yang aktif itu hanya siswa saja? Benarkah guru tak dituntut juga aktif seperti siswa? Ah, rasanya saya lihat di persekolahan kita gurulah yang aktif, dan siswa pasif mendengarkan guru berbicara. Guru masih menjadi pusat sumber belajar siswa.

Pembelajaran siswa aktif bukanlah pembelajaran baru. Dia telah ada dalam sistem pendidikan nenek moyang kita. Hanya saja, pengemasannya ditulis dengan cara yang berbeda. Kalau guru dulu itu menuliskannya dengan sepenuh hati, tapi sekarang banyak guru yang tak menulis dengan hati. Lebih banyak kepada praktek mengajar tetapi tak memikirkan apa yang dialami siswa selama proses pembelajaran itu. Apakah peserta didik ada problem ataukah tidak, hantam kromo saja, yang penting SK (Standar Kompetensi) dan KD (kompetensi Dasar) terlampaui. Persetan dengan kondisi siswa, pokoknya materi tersampaikan. Bila itu terjadi, apa yang dimaksud dengan pembelajaran siswa aktif tak akan pernah terjadi.

Siswa dan Guru sama-sama Aktif

Dalam pembelajaran siswa aktif, guru dan siswa sama-sama aktif. Masing-masing tahu akan tugasnya masing-masing. Guru mengajar siswa diajar. Mereka sama-sama senang karena sama-sama memahami materi yang disampaikan. Siswa senang karena memahami materi yang disampaikan guru, dan guru pun senang karena berhasil menyampaikan materinya ke otak siswa. Suasana riang gembira pun terjadi, siswa tak merasa seperti dikebiri. Muncullah kreativitas. Kreativitas siswa dan guru. Siswa dan guru sama-sama menemukan potensi dirinya masing-masing dari pembelajaran aktif itu.

Dalam buku Ki Hajar Dewantara, dikatakan bahwa pembelajaran aktif pada hakekatnya adalah pembelajaran yang direncanakan oleh guru dan dilaksanakan oleh siswa dengan penuh riang gembira tanpa beban. Mampu mengekspresikan dirinya dan mengeluarkan potensi unik yang ada dalam dirinya sehingga menghantarkan dirinya menemukan minat dan bakatnya secara alami.

Seandainya banyak guru yang telah melakukan pembelajaran siswa aktif dengan benar di sekoah-sekolah kita, tentu akan banyak kreativitas tercipta, akan banyak peserta didik yang menemukan potensi uniknya. Namun sayang, tak semua guru mampu melakukannya. Kalau sudah begitu lebih baik ganti saja pembelajaran siswa aktif menjadi pembelajaran guru aktif agar para guru terus memperbaiki proses pembelajarannya di kelasnya sendiri.

Salam Blogger Persahabatan

Omjay

http://wijayalabs.com

Iklan

Komentar ditutup.