Terjebak Rutinitas Kerja

Gambaran Rutinitas

Berangkat dari rumah ke sekolah hanya berbekal ballpoint. Sampai sekolah keluarkan ballpoint langsung isi absen. setelah isi absen,  duduk-duduk dulu di kantor sambil ngobrol ringan berita-berita terhangat di tv. Pukul 07.15 bel tanda masuk berbunyi. Siswa bergegas masuk kelas dan duduk manis siap menerima pelajaran. Tak lama berselang guru datang, siswa berdoa dan memberi salam. Dan Kegiatan Belajar Mengajar pun di mulai…

“Siapa teman mu yang tidak masuk hari ini?” atau “Ada PR?”…adalah pertanyaan rutin yang cenderung basa basi. Siswa menjawab si A sakit…atau si B malas…, namun tidak ditanggapi lebih lanjut oleh guru.

“Hari ini pelajaran Bahasa Indonesia….buka halaman 123″. Siswa bersemangat mengambil buku paket dan membuka halaman yang diperintahkan guru. “Baca narasinya dalam hati, setelah itu kerjakan latihan 1-10″.

Setelah memberi tugas kepada siswa, guru ke luar kelas sekedar cari sarapan atau baca koran. Beberapa waktu kemudian siswa selesai mengerjakan tugas. Guru menerangkan pokok bahasannya sekilas, setelah itu berkata, “Ada pertanyaan?” atau “Mengerti anak-anak?”.  Dan siswapun diam seribu bahasa…

Buku hasil pekerjaan siswa dikumpulkan, lalu dibawa ke kantor guru. Di kantor, guru bisa langsung memeriksa pekerjaan siswa atau buku siswa dibiarkan saja menumpuk di meja, karena ada aktifitas lain yang dikerjakan guru.

Singkat cerita, bel tanda usai sekolah berbunyi. Siswa berhamburan keluar kelas…bergegas ingin pulang, karena sudah bosan di sekolah. Guru juga tak kalah gesit oleh siswa, bergegas membereskan buku-buku yang berserakan di mejanya, kemudian wuuzz….wuuzz…satu demi satu pulang tanpa kesan…

Rutinitas=Hilangnya Sikap Kritis

Pola kerja/aktivitas seperti digambarkan diatas yang dilakukan terus-menerus secara berulang-ulang dan membentuk sebuah kebiasaan disebut rutinitas. Dampak yang paling bahaya dari kerja/aktivitas yang dilakukan secara rutinitas adalah hilangnya sikap kritis. Orang yang terjebak pada rutinitas seringkali abai terhadap hal-hal lain yang terjadi di luar pekerjaan yang rutin ia lakukan. Ia menjadi tidak peka, tidak empati, cuek atau bahkan apatis.

Pekerjaan guru adalah mengajar dan mendidik siswa di sekolah. Itu berarti guru berhadapan dengan siswa sebagai mahluk hidup yang punya akal, punya rasa, punya karsa dan  punya karya. Siswa bukan benda mati yang dapat diperlakukan seperti komputer oleh orang-orang yang bekerja di kantoran. Bekerja menghadapi manusia dibutuhkan konsentrasi, perhatian dan kasih sayang yang tulus. Setiap hari, bahkan setiap detik sikap dan emosi siswa dapat berubah-ubah tanpa kita duga. Tadi pagi masih terlihat ceria, dua-tiga jam kemudian bisa berubah menjadi murung dan pendiam.

Perubahan sikap/perilaku/emosi siswa yang dapat terjadi tanpa kita duga-duga di dalam kelas, butuh penanganan ekstra dari guru yang tidak dapat ditangani dengan cara-cara yang biasa atau rutin dilakukan. Karena sikap, perilaku dan emosi setiap siswa berbeda dan berubah-ubah, maka cara penanganannya pun harus berbeda dan berubah-ubah pula. Disinilah letak pentingnya  sikap kritis yang harus dimiliki guru dalam menghadapi perubahan sikap perilaku dan emosi siswa didiknya day by day. Tinggalkan kebiasaan lama guru datang-menerangkan-mencatat-pulang. Ubah dengan aktivitas yang lebih bervariasi agar siswa tidak boring di sekolah dan tidak ingin cepat-cepat pulang ke rumah. Ganti perhatian yang biasanya basa-basi dengan perhatian yang lebih personal/individual sesuai dengan suasana hati siswa kita. Ingat, Jangan pernah pakai pola yang sama untuk situasi yang berbeda! Catat dan amati dengan seksama keadaan kelas kita dengan cara melihat, mendengar, merasakan apa-apa yang terjadi dan dilakukan oleh siswa. Budayakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) agar tugas dan pekerjaan guru semakin lebih bermakna.

Sebagai penutup, saya ingin mengatakan bahwa sejatinya guru tidak terjebak dalam rutinitas mengajar monoton yang dapat membutatulikan mata hati dan pikiran kita. Karena patut disadari bahwa yang dihadapi guru adalah manusia makhluk hidup ciptaan tuhan yang paling sempurna di muka bumi…….

Oleh: Nina Krisna Ramdhan

http://edukasi.kompasiana.com/2010/01/26/terjebak-rutinitas-mengajar/


Iklan

One response to “Terjebak Rutinitas Kerja

  1. Semoga guru seperti ini hanya ada di negara antah berantah. Amin.

    Harapan ke depan semoga guru-guru di Indonesia punya semangat mengembangkan diri sehingga mampu mengembangkan potensi yang dimiliki siswa-siswanya. Amin.