Monthly Archives: Februari 2010

Anak-anak Karbitan

Anak-anak karbitan

Oleh Dewi Utama Faizah

Anak-anak yang digegas menjadi cepat mekar, cepat matang, cepat layu?

Pendidikan bagi anak usia dini sekarang tengah marak-maraknya. Dimana mana orang tua merasakan pentingnya mendidik anak melalui lembaga persekolahan yang ada. Mereka pun berlomba untuk memberikan anak-anak mereka pelayanan pendidikan yang baik. Taman kanak-kanak pun berdiri dengan berbagai rupa, di kota hingga ke desa. Kursus-kursus kilat untuk anak-anak pun juga bertaburan di berbagai tempat. Tawaran berbagai macam bentuk pendidikan ini amat beragam. Mulai dari yang puluhan ribu hingga jutaan rupiah per bulannya.

Baca lebih lanjut

Iklan

Ada Pohon Tumbuh di Dalam Kelas

ibu Guruku

ibu Guruku

Bulan Januari lalu ada hal yang membuat kami kaget plus senang. Di dalam kelas telah tumbuh sebatang pohon.  Daunnya yang rimbun serta batangnya yang kokoh selalu menjadi tontonan kami setiap hari. Kami selalu menantikan pohon itu berbuah. Setiap hari kami selalu memperbincangkan bagaimana bentuk buah pohon itu. Setiap hari selalu ada saja anak-anak yang berkerumun di depan pohon . Tak hanya anak-anak perempuan yang menyenangi pohon itu, anak laki-laki pun suka sekali memandangi pohon yang tumbuh di dalam kelas. Bahkan teman kami yang terkenal suka jahil, terpincut juga hatinya untuk sekedar melihat pohon itu dari kejauhan.

Baca lebih lanjut

Internet dan Minimnya Content Edukatif

Sumber: Google

Membaca tulisan bagus dari pak Onno W Purbo di kolom opini kompas cetak, Senin, 8 Februari 2010 membuat saya merenung dan merasakan bahwa perkembangan internet begitu dahsyat dan cepat. Namun sayangnya, kedahsyatan dan kecepatan internet itu tidak diimbangi dengan pesatnya pula content-content edukatif yang membawa para peserta didik atau anak sekolahan menjadi senang untuk membaca di dunia maya. Mereka lebih asyik dengan kegiatan-kegiatan chating dan mengetikkan status mereka di facebook. Alhasil mereka hanya menjadi bangsa pemakai teknologi yang menina-bobo-an itu. Kita pun terperanjat melihat besarnya uang untuk membeli pulsa anak-anak kita.

Baca lebih lanjut

Mahalnya Biaya Sekolah

Sumber: Google
Sumber: Google

Saya terperanjat mendengar tingginya biaya pendidikan masuk ke SMP swasta favorit, ketika ingin mendaftarkan anak saya itu ke jenjang yang lebih tinggi dalam penerimaan siswa baru. Saya mencoba berhitung penghasilan saya sendiri sebagai seorang guru. Malu rasanya pada diri saya sendiri karena ternyata saya tak sanggup membiayai anak sendiri ke sekolah favorit pilihan anak sendiri.

Karena mahal, saya mencoba menyekolahkan  anak sendiri ke tempat saya mengabdikan diri menjadi seorang pendidik. Alhamdulillah mendapatkan discount 50 % dari yayasan, karena guru dan karyawan mendapatkan keringanan biaya dan dapat dicicil. Tetapi lagi-lagi saya harus mengurutkan dada begitu melihat angka-angka yang ada di formulir itu. Membuat saya berpikir betapa mahalnya biaya pendidikan di negeri ini bila ingin anak kita mendapatkan pelayanan yang baik di bidang pendidikan.

Pemerintah bukan tidak tahu masalah ini. Bahkan dalam kampanye parpol-parpol selalu didengung-dengungkan tentang masalah pendidikan ini. Mereka, para politikus itu berjanji pada rakyat untuk memberikan pendidikan gratis dan juga kesehatan gratis. Tetapi apa mau dikata, janji itu hanya tinggal janji. Seperti sepasang pengantin baru yang dijanjikan akan bulan madu, tapi ternyata hanya mimpi.

Saya pun mencoba mencari alternatif sekolah negeri. Alhamdulillah sekolah negeri sudah banyak yang gratis, sampai-sampai saking gratisnya, pelayananan pun akhirnya tak memadai. Bangku dan meja sekolah banyak yang rusak. Papan tulis yang bolong-bolong dan kondisi sekolah yang terlihat kumuh dan kusam. WCnya pun baunya minta ampun. Maklumlah sekolah gratis. Gurunya pun melayani peserta didiknya dengan minimal pula. Maklum Gratis! Akhirnya, saya pun tersenyum kecut, inikah yang dinamakan  sekolah gratis????

Mahalnya biaya pendidikan sekolah-sekolah kita membuat saya ingin bertanya. Bertanya kepada orang yang peduli dengan dunia pendidikan. Mengapa biaya pendidikan kita mahal??? Bisakah biaya pendidikan itu murah dengan pelayanan yang prima???? Mungkin pertanyaan saya hanya mimpi di siang bolong. Mimpi layaknya“negeri di awan” seperti lagu katon bagaskara yang terkenal itu atau bernyanyi tentang nasib guru “Oemar Bakri” yang dinyanyikan penyanyi kondang Iwan Fals itu. Saya pun hanya bisa menulis dan berusaha mencari tambahan di sana-sini agar anakku bisa sekolah dengan pelayanan yang prima dan mendapatkan layanan pendidikan yang bermutu dan berkualitas unggul. Lagu dangdutpun saya nyanyikan kembali sambil bergoyang,“gali lubang tutup lubang”.

Saya pun hanya bisa tersenyum, ketika ada salah seorang pembantu rektor di salah satu PTN yang menghasilkan tenaga guru berkata, “kalau mau pelayanannya bagus, pendidikan itu ya harus mahal!”

Salam Blogger Persahabatan

Omjay

http://wijayalabs.com

Belajar dan Berbagi Ilmu PTK di Pusdiklat Depag

Senin, 8 Februari 2010 saya diundang oleh Panitia Penataran Pusdiklat Departemen Agama untuk memberikan materi pelatihan tentang Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Para peserta pelatihan adalah para guru agama bidang Studi BahasaArab di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) dari 33 propinsi yang ada di Indonesia.

Baca lebih lanjut

Guru Bukan Pemburu

Guru adalah orang yang mengajarkan ilmunya kepada para peserta didiknya di sekolah. Sedangkan pemburu adalah orang yang berusaha untuk menangkap binatang buas hasil buruannya. Guru dan pemburu jelas tidaklah sama. Tetapi mengapa ketika ada sertifikasi guru, banyak guru yang berubah menjadi pemburu?

Baca lebih lanjut

Presentation is Your Show

Presentation is Your Show – Selesai

Presentation is your show!’ Ini adalah mahzab yang saya percayai dan akan terus saya anut. Saya teringat pada sebuah peristiwa yang terjadi di tahun 1991. Wah? Udah 19 tahun yang lalu ya? Gile…cepet bener waktu berlalu ck…ck…ck…

Baca lebih lanjut