Kesantunan Seorang Boediono

Boediono/Admin (KOMPAS)
Boediono/Admin (KOMPAS)

Dalam beberapa hari kemarin, kita telah menyaksikan wakil-wakil rakyat kita di gedung DPR/MPR. Para wakil rakyat telah mengambil opsi C dan mengalahkan opsi A. Tentu akan ada proses hukum yang terus berjalan sementara proses politik telah sama-sama kita saksikan.

Presiden SBY telah berpidato menanggapi hasil Voting di DPR, dan Pak Boediono dan Ibu Sri Mulyani pun telah juga memberikan pernyataan sikap. Namun dari semua itu, ada hal yang menarik dari seorang Boediono. Kesantunan beliau berbicara membuat banyak orang terkagum-kagum dan menyukainya. Melihatnya bicara dengan penuh ketenangan menyikapi problematika persoalan dengan penuh kesabaran dan kebapakan.

Buat saya pribadi, Inilah seorang guru yang layak diacungi jempol. Seorang negarawan sejati yang matang dalam berpikir dan bijak dalam bertindak. Bagi saya, pak Boediono adalah guru ekonomi Indonesia yang super, dan tidak sombong dengan keilmuannya.

Sebagai seorang guru, saya merasakan apa yang dirasakan oleh pak Boediono. Merasakan sebuah kepahitan dari sebuah jabatan yang diembannya. Saya tetap percaya kalau pak Boediono itu adalah orang jujur dan kepercayaan saya tak akan luntur dan semakin mantap ketika melihat pak Boediono berbicara tenang di televisi dengan bahasa yang sangat santun dan menunjukkan kecerdasannya. Bagi beliau, jabatan itu adalah sebuah amanah dan bila rakyat tak menghendakinya, beliau pasti siap mundur. Terlihat sekali tak ada beban di sorot mata orang yang sangat bersahaja itu.

Rasanya, saya tak rela bila seorang Boediono yang santun itu menjadi korban konspirasi orang-orang yang menginginkannya jatuh. Rasanya saya tak rela bila ada orang yang meneriakinya “maling” sebab beliau bukan “maling”. Beliau adalah seorang anak manusia sama seperti kita, yang sedang diberikan amanah besar menjadi wakil presiden RI 2009-2014. Bukankah kita telah legowo memilihnya menjadi wakil presiden mendampingi pak SBY sebagai presiden?

Saya bukanlah orang partai. Bukan pula orang yang ikut memilih SBY- Boediono menjadi presiden dan wakil presiden, tetapi saya tak rela bila orang yang sangat santun seperti pak Boediono itu diperlakukan seperti orang jahat yang berbuat kejahatan.

Semoga saja angin kencang yang menerpa Pak Boediono dan juga Ibu Sri Mulyani (dua orang profesional hebat ini) segera hilang. Kita berharap keras kasus century ini terus berjalan tuntas seiring dengan opsi C yang sudah bergulir dari hasil voting terbuka. Kita pun terbelalak melihat ulah para anggota dewan yang terhormat yang terkadang kurang santun dan tak kenal adat. Menganggap dirinya paling pintar dan paling benar.

Orang baik berbeda dengan orang jahat. Kejahatan jelas berbeda dengan kebaikan. Saya melihat seorang Boediono adalah orang baik yang sedang dijebak oleh orang jahat. Orang yang selalu menebarkan kebaikan, tetapi sedang diuji oleh kejahatan orang berdasi yang memiliki intelektual tinggi tapi tak berbudi. Cerdas otak tapi tak cerdas watak. Membuat saya setuju akan pentingnya pendidikan karakter ditanamkan sejak dini di sekolah-sekolah kita. Bila karakter baik itu tumbuh, dia tak akan pernah mencelakakan orang lain.

Pak Boediono bukanlah orang partai. Dia hanyalah seorang profesional yang menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai abdi negara. Beliau hanyalah korban dari ketidaktegasannya seorang pemimpin. Bawahan selalu terkena getah, bila pimpinan bersalah. Sebab dalam dunia kepemimpinan kita, hanya menganut dua pasal. Pasal pertama adalah seorang pemimpin tidak pernah bersalah. Pasal kedua adalah bila pemimpin bersalah, lihatlah pasal satu. Kalau sudah begitu, bawahan harus siap melayani apa yang dititahkan oleh seorang pimpinan. Hahahahahhaa.

Kesantunan seorang Boediono masih sangat diperlukan di negeri Indonesia yang terkenal keramah-tamahan ini. Biarlah rakyat yang akan menilai, mana pemimpin yang jahat, dan mana pemimpin yang baik. Mana pemimpin yang benar-benar bekerja untuk rakyat, dan mana pemimpin yang bekerja untuk partai. Silahkan anda menilainya sendiri.

Akhirnya, saya hanya bisa berdoa kepada Allah yang Maha Adil agar menjaga hambanya yang bernamaBoediono dari tangan-tangan orang jahat yang tak mengeinginkannya menjadi seorang wakil presiden. kasus Century memang berduri, dan semoga saja duri itu tak menempel dalam diri seorang Boediono yang santun dan lemah lembut dalam berbicara ini. Membuat kita terpesona akan kesantunannya. Membuat saya semakin percaya bahwa pak Boediono adalah orang hebat di tengah-tengah orang yang tersesat. Semoga saja tak menjadi “bangsat” seperti ucapan seorang anggota DPR yang tak santun itu.

Salam Bloger Persahabatan

Omjay

http:/wijayalabs.com

Iklan

4 responses to “Kesantunan Seorang Boediono

  1. ada apa dengan mu ?

  2. pak.. guru ada apa dengan anda. menilai orang bukan dari luarnya, tidak ada yang sempurna di dunia ini he he he

  3. saya sutju dengan argumen bapak.saya juga menilaim sperti itu dengan sosok seorang bapak sperti Boediono

  4. Semua akan jelas jika Kasus Bank Century terbuka .. dan itu baru akan terjadi setelah 2014.