Bagaimanakah Memanfaatkan Media Massa Sebagai Sumber Pembelajaran?

13013082521396045310

Sebuah pertanyaan dalam judul artikel di atas muncul ketika saya diminta untuk menjadi pembicara atau nara sumber “Memanfaatkan media Massa sebagai sumber pembelajaran bagi siswa dan guru“. Tentu saya harus merenung, dan melakukan feed back atau kembali ke belakang tentang apa-apa yang telah saya lakukan selama 17 tahun menjadi seorang guru. Alangkah indahnya bila pengalaman ini saya sharingkan kepada teman-teman guru yang akan mengikuti kegiatan seminar memanfaatkan media massa sebagai sumber belajar, Minggu,27 Maret 2011 di gedung D kementrian pendidikan nasional, Senayan Jakarta.

Memanfaatkan media massa

Memanfaatkan media massa

Kegiatan yang dilaksanakan oleh Ikatan Guru Indonesia (IGI) memacu dan memicu saya untuk berpikir kreatif tentang materi yang akan saya berikan kepada teman-teman guru yang luar biasa. Mereka adalah pahlawan insan cendekia yang mau meluangkan waktu libur mereka untuk belajar dan berbagi.

Hal pertama yang saya pikirkan adalah kita terlalu tergantung kepada media massa, khususnya koran. Padahal di era cyberspace atau era global sekarang ini, sumber belajar ada dimana-mana. Bahkan pengalaman diri sendiri bisa menjadi sumber belajar. Hanya saja, kita sering tak percaya dengan kemampuan diri, sehingga ketergantungan kita kepada informasi dari media massa begitu tinggi. Padahal, kita bisa menciptakannya sendiri dengan cara menulis di blog, dan mensharingkannya di berbagai jejaring sosial seperti facebook, dan twitter. Dengan aktivitas blogging, kita bisa menjadi seorang blogger handal di era global.

13013088681201491317

Pengalaman seorang guru yang bernama Aripin, guru SD Al Hikmah Teladan Cimahi, Bandung yang kini telah menjadi staf litbang di sekolahnya dapat dijadikan contoh. Beliau memanfaatkan kompas anak untuk peserta didiknya sebagai sarana sumber belajar. Inovasi yang dilakukannya dalam pembelajaran di sekolah dasar telah meyakinkan dirinya untuk meninggalkan buku paket. Wow, sebuah keberanian  yang luar biasa. Sebab di sekolah negeri hal itu sangat sulit bahkan mustahil dilakukan. Hal itu saya ketahui dari pertanyaan dan pernyataan salah seorang guru SD yang bertanya langsung kepada pak Aripin tentang kondisi sekolahnya.

Bagi saya, apa yang dilakukan oleh teman-teman guru seperti pak Aripin bagus sekali, dan Indonesia membutuhkan guru-guru yang berani mengambil resiko tinggi agar anak menjadi cerdas. Alhasil, apa yang dilakukan pak Aripin mendapatkan dukungan dari para orang tua muridnya. Sebab apa yang dilakukannya adalah sebuah pelurusan konsep yang kurang pas, menjadi pas, dan sesuai dengan Kurikulum Tingkat satuan pelajaran (KTSP) Bahasa Indonesia di tingkat SD. Jelas sekali penekanannya kepada pengalaman berbahasa bukan pengetahuan bahasa.

Berbeda dengan kurikulum 1994 yang masih melampirkan tema (yang kemudian karena kepentingan penerbit menjadi tema wajib). KTSP tidak menyertakan apapun, termasuk indikator. Artinya lebih tepat dikatakan, seharusnya ini menjadi kesempatan bagi setiap sekolah untuk menjajaki pembelajaran kontekstual atau Contekstual Teaching learning (CTL).

13013090581093461607

Dulu, sebagai seorang guru TIK saya seringkali mengambil tulisan di kolom HIKMAH dari koran Republika. Bagi saya pada waktu itu isinya sangat bagus untuk pendidikan karakter anak-anak di tingkat SMP. Seperti jangan berbohong, Jauhi Kesombongan, Kerendahan Hati, dan lain-lain. Namun, pada saat melakukan evaluasi, dan refleksi diri, saya harus siap menerima kenyataan bahwa sekolah saya bukanlah sekolah yang berbasis keagamaan khususnya Islam. Sekolah saya adalah sekolah umum yang semua agama resmi negara ada di sekolah itu.

Berdasarkan saran dari teman sejawat, akhirnya setiap bacaan bagus dari koran perpustakaan sekolah saya lahap sampai habis, lalu pada akhirnya membuat saya menjadi gemuk menulis. Saya menuliskan sesuatu yang berbeda dari isi koran tersebut, dan sayapun akhirnya menjadi mampu menulis. Menulis modul pembelajaran dari hasil karya tulis sendiri, dan pada akhirnya di tahun 2005 saya mendapatkan juara karya tulis ilmiah bidang Imtak di tingkat nasional. Judul karya tulis ilmiah saya pada saat itu adalah Proses Pembelajaran Internet dalam meningkatkan Imtak Siswa.

Di tahun 2006, saya mulai menperdalam lagi dalam memanfaatkan media massa ke dalam pembelajaran yang ada dalam pelajaran TIK. Saya membuat inovasi tentang Optimalisasi pembelajaran berbasis ICT dalam meningkatkan imtak dan Iptek secara terpadu. Hasilnya, karya tulis ilmiah saya masuk final di tingkat nasional, dan saya terbang ke Yogyakarta untuk mempresentasikan apa yag telah saya lakukan. Di depan dewan juri saya berusaha meyakinkan apa yg telah saya tuliskan. Namun, karena saya lemah di bidang metodologi penelitian, maka saya tak mendapatkan juara. Rupanya para finalis lomba karya tulis ilmiah lainnya lebih jago dalam metodologi penelitian khususnya penelitian Tindakan Kelas (PTK). Mereka telah dilatih oleh direktorat, dan membawa mereka masuk final di tingkat nasional.

Pada tahun 2007, saya memanfaatkan kembali media massa. Tulisan-tulisan terbaik  di koran Kompas menurut saya dalam bidang iptek saya ambil. Lalu saya bagikan kepada peserta didik dalam bentuk modul praktik. Sambil belajar microsoft office, anak-anak juga mengetahui teknologi baru, khususnya yang bertautan dengan ICT. Hasilnya saya kirimkan ke microsoft. Namun sayang, lagi-lagi saya belum masuk final di tingkat nasional. Saya baru bisa mencapai di tingkat propinsi, karena banyak guru yang lebih bagus karya inovasinya. Dari situlah saya belajar dengan lebih baik untuk benar-benar memanfaatkan ICT dalam mendukung pembelajaran. saya pun belajar program camtasia, dan macromedia flash.

Pada tahun 2008, saya melihat bahwa anak-anak SMP kurang sekali dalam menciptakan informasi. Khususnya informasi tentang apa yang mereka sukai dan kuasai. Melalui media blog, anak-anak saya latih untuk mampu mengelola blognya dengan baik. Alhamdulillah, ternyata apa yang saya lakukan membawa berkah, laporan kegiatan pembelajaran yang saya lakukan saya tuliskan dalam laporan penelitian tindakan kelas (PTK), dan berhasil masuk final di tingkat nasional dalam lomba keberhasilan guru dalam pembelajaran tingkat nasional.

Dari pengalaman saya di atas, dapat ditarik benang merah bahwa guru harus kreatif dalam memanfaatkan media massa sebagai sumber belajar. Silahkan saja mengembangkan media pembelajaran yang ada. Hanya saja guru harus mampu melakukan inovasi baru sesuai dengan kondisi sekolahnya. Inovasi itu tak selalu mahal. Mungkin saja kita bisa memanfaatkan koran bekas atau kertas kosong sebagai sarana belajar membaca dan menulis.

Bagi saya, menulis harus dikuasai oleh peserta didik. Sebab menulis adalah kemampuan berbahasa yang paling tinggi. Kita memang harus mampu mendengar. Kita memang harus mampu berbicara. Kita pun harus rajin membaca karena membaca adalah jendela dunia pengetahuan. Tanpa membaca kita tak memiliki pengetahuan lebih. Namun demikian kemampuan menulis harus benar-benar mampu dikuasai agar kita mampu mengeluarkan ide-ide kreatif kita dalam bentuk tulisan, dan bukan hanya lisan. Dengan menulis ada bukti otentik yang bisa kita banggakan kepada khalayak ramai. Guru Harus mampu menulis.

1301309447499670570

Akhirnya, bagaimanakah memanfaatkan media massa sebagai sumber belajar? Caranya jadilah guru yang kreatif, dan tidak pernah puas dengan kondisi yang ada. Selalu berpikir sesuatu yang baru, dan yakinkan kepada diri bahwa sumber belajar sebenarnya banyak sekali di sekitar kita. Bila koran, majalah, atau internet yang saat ini kita manfaatkan, silahkan saja. Namun ada baiknya kita menciptakan sendiri media pembelajaran di kelas-kelas kita. Dari situ kita akan menjadi guru yang kreatif.

Salam Blogger Persahabatan

Omjay

http://wijayalabs.com

Iklan

2 responses to “Bagaimanakah Memanfaatkan Media Massa Sebagai Sumber Pembelajaran?

  1. Qomaruddin Rizal

    Assalamu alaykum..
    Saya sangat sepakat. menggunakan media massa sangat menyenangkan..dan telah saya praktikkan sejak 2002 ketika di Semarang. Namun, ketika bertugas di Tabalong Kalsel, saya mengalami kesulitan sebab surat kabar hadir di perpustakaan sekolah tiap seminggu sekali. Alhamdulillah siaran TV nasional masih bisa kami manfaatkan sbg media belajar.
    OK. Salam Kenal dari saya..wassalamu alaykum..

  2. salam kenal kembali.

    salam
    omjay