Rabun Membaca Lumpuh Menulis

1301577424273255918

Rabun Membaca Lumpuh Menulis. Kalimat itu muncul ketika saya bertemu langsung dengan pak Taufik Ismail. Waktu itu kami semua berkumpul di stasiun TVRI Pusat Jakarta yang sudah terlihat kumuh. Kami dikumpulkan untuk mengikuti siaran langsung pengumuman pemenang lomba naskah buku pengayaan tingkat nasional tahun 2009. Lomba itu diadakan oleh Pusat Perbukuan kemendiknas, yang kini sudah dibubarkan. Kami bangga pada saat itu, karena akan banyak penonton dari daerah yang mungkin akan menonton acara TVRI. Namun kebanggaan itu nampaknya hanya tinggal kenangan manis, sebab sampai detik ini 54 buku pengayaan yang terpilih belum juga dicetak.

Rabun membaca lumpuh menulis. Semoga itu tak terrjadi pada guru-guru kita. Bila guru malas membaca, maka akan sedikit sekali guru yang bisa menulis. Bila sedikit guru yang menulis, maka ilmu pengetahuan tak akan beragam jadinya.

Pengalaman saya memberikan materi creative writing dan penelitian tindakan kelas (PTK) menunjukkan, sedikit sekali guru yang mampu menulis. Hal ini disebabkan karena para guru yang mengikuti pelatihan saya rata-rata kurang membaca buku. Hal itu mereka akui sendiri kita kami saling berdiskusi dan bertegur sapa.

Sebagai sesama guru tentu saya tak tinggal diam. Saya terus memotivasi mereka agar rajin membaca. Bila guru rajin membaca, maka pengetahuannya menjadi luas, dan apabila mampu mengkontruksikannya kembali dalam bentuk tulisan, maka guru tersebut adalah guru yang tak lumpuh menulis. Tulisannya terus mengalir menginspirasi orang lain agar mampu untuk menulis.

Menulis adalah suatu ungkapan rasa dari masing-masing individu dalam menuangkan keluh kesah, masalah, senang, gembira, dan sebagainya ke dalam bentuk tulisan. Bisa juga berbentuk curhat. Tapi hati-hati ya kalau curhat. jangan curhat dalam kedaan emosi. Sebab tulisanmu itu akan bernada amarah.

Kembali kepada rabun membaca dan lumpuh menulis. Sudah berapa banyak buku yang kamu baca minggu ini? Bila jawabmu belum, maka segeralah cari buku yang menurutmu bagus untuk dibagikan. Tetapi jika jawabmu sudah, maka mulailah sedikit demi sedikit meresensi buku yang kamu baca itu. Dengan melakukan resensi buku, maka akan ada ilmu yang akan masuk ke otakmu.

1301577815544097572

Beberapa waktu lalu, saya mendapatkan buku dari kang Iden Wildensyah. Beliau memberikan saya buku yang berjudul rangka atap baja ringan untuk semua. buku ini ditulis dengan pendekatan yang sederhana namun didukung oleh data teknis dan sarat pengalaman lapangan. Sangat cocok sekali bagi anda sebagai panduan untuk memilih produk atau kontraktor rangka atap baja ringan.

Buku rangka atap baja Ringan untuk semua menawarkan berbagai macam pengalaman berguna, ini bisa membantu siapa saja yang berminat untuk mengerti seluk beluk dunia rangka atap baja ringan di Indonesia sekarang ini. Para pembaca diajak untuk pintar mengenai material bangunan yang sedang ngetrend dewasa ini.

Buku yang disusun oleh kang Iden Wildensyah (salah seorang kompasianer) ini sangat menarik. Khususnya bagi saya yang masih awam tentang rangka atap baja ringan. Tak salah kalau beliau menjadi konsultan kontruksi rangka atap baja ringan yang terkenal di Bandung.

Dari membaca buku karya lulusan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) jurusan pendidikan teknik bangunan, dan lulusan program studi magister ilmu lingkungan Universitas Padjajaran (UNPAD) ini saya menjadi tahu tentang struktur rangka atap baja ringan. Struktur yang terjamin kuat akan memberikan tingkat keamanan dan kenyamanan. Oleh karena itu pastikan bahwa kontruksi atap bangunan yang akan dibeli memenuhi kaidah struktur yang bisa dipertanggungjawabkan agar struktur rangka atap yang dibeli memberikan kenyaman bagi customernya.

Dari membaca buku rangka atap baja ringan, saya menjadi tak lumpuh menulis. Setidaknya saya menjadi tak rabun lagi tentang memasang rangka atap baja ringan, dan saya bisa berkonsultasi dengan ahlinya. Bila nanti waktunya agak luang, saya akan kupas buku ini secara mendalam.

Akhirnya, rajin membaca akan membuatmu kuat menulis. Ada saja ide datang seketika untuk menulis. Apa yang kamu baca, apa yang kamu lihat, bila kamu terbiasa menuliskannya kembali akan memberikan manfaat untuk pembaca. Biarlah pembaca menilai sendiri tulisanmu. Kalau masih sepi pembaca, itu artinya tulisanmu belum menarik, dan kamu harus terus menerus menulis agar dapat digubris oleh calon pembaca setiamu. Ibarat orang berdagang, mungkin awalnya sepi. Namun ketika kamu menyadari bahwa berdagang itu memerlukan strategi bisnis yang jitu untuk laku, maka kamupun tentu mempelajarinya dengan menggebu-gebu. Begitupun dengan tulisanmu. Bila kamu tidak rabun membaca, maka kamu tidak akan pernah lumpuh menulis, dan tulisanmupun akan laku sepanjang jaman untuk dikenang.

Salam blogger persahabatan

omjay

http://wijayalabs.com

Iklan

Komentar ditutup.