Ibu dan Buku

Ibu adalah orang yang melahirkan kita ke dunia ini. Berkat jasa ibu kita membesar dan mandiri. Sedih sekali bila kita membesar tanpa kehadiran seorang ibu. Pasti ada sesuatu yang terasa hilang dari dalam diri. Sebab ibu adalah permata hati.

Ibu adalah orang yang paling dekat dengan anak-anaknya. Bila ibu sampai menjauh dengan anak yang dilahirkannya, pastilah ada “sesuatu” dari dalam diri yang perlu diperbaiki. Sebab menurut fitrahnya, seorang ibu harus dekat dengan perkembangan anak-anak yang dilahirkannya. Terkecuali ada suatu keadaan yang memaksa ibunda menjauh dari buah hatinya.

Bagi saya ibu adalah contoh keteladan hidup. Ibu membesarkanku dengan rasa kasih sayangnya yang tulus. Belum pernah kudengar ada keluhan keluar dari bibirmu yang mengajarkan kebaikan. Ibu senantiasa mendampingi hari-hariku dengan penuh keceriaan dan kebahagiaan. Meskipun aku tahu ada kesedihan di raut wajahmu yang cantik itu. Ada duka yang kau sembunyikan untuk kebahagiaan anak-anakmu.

Ibu mengajarkanku membaca dan menulis. Ibu mengenalkanku pada dunia buku. Buku yang harus kubaca dan kutuliskan kembali. Kubaca perlahan-lahan sampai akhirnya aku mengerti yang kubaca. Kutulis pelan-pelan angka dan huruf yang kukenal, sampai akhirnya aku bisa menulis. Menulis apa saja yang kulihat, dan ibu menyiapkan buku tulisnya. Ibupun menyiapkan waktunya untukku agar bisa membaca dan menulis.

Ibu dan buku tak pernah lepas dari duniaku. Ibu yang mengenalkan aku pada buku, lalu gurukulah yang menjelaskan tentang manfaat membaca buku. Akupun serasa berkeliling dunia bila mendapatkan buku karya-karya penulis handal dan terkenal. Pikiranku melayang jauh dan berimajinasi seolah-olah aku ikut bermain dalam cerita yang dibuat oleh penulisnya sekaligus juga pengarangnya.

Penulis berbeda dengan pengarang, ibuku menjelaskan waktu itu. Kata ibu pengarang jauh memiliki kreativitas menulis dan mampu berimajinasi dari alam pikirannya yang liar, sedangkan penulis baru pada tahap kreativitas menulis saja, dan belum mampu berimajinasi dengan liar. Itulah mengapa seorang pengarang disebut penulis handal. Sebab dia menciptakan sesuatu yang belum ada menjadi ada, dan membuat apa yang diceritakannya seolah-olah terjadi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Cerita superman dan batman adalah salah satu contohnya yang kutemukan dalam buku-buku yang dibelikan ibu kepadaku waktu itu. Belakangan aku tahu cerita fiksi jauh lebih sulit dibuat daripada cerita non fiksi.

Dari beberapa kopdar bogger, saya sangat menaruh hormat buat mereka yang sudah membuat dan menulis buku. Saya pun sangat senang bila mendapatkan hadiah berupa buku. Apalagi bila buku itu diberikan langsung oleh penulisnya secara gratis. Seperti yang saya alami dalam kopdar kompasiana di Taman Ismail Marzuki. Kami yang hadir mendapatkan oleh-oleh buku dari bang Julianto Simanjuntak.

Gambar

Bila melihat buku, entah kenapa saya menjadi teringat ibu. Ibu dan buku adalah sesuatu yang sangat dekat denganku. Ibuku akan memarahiku kalau aku lupa waktu. Apalagi bila meninggalkan sholat 5 waktu. Sedangkan buku adalah tempat curahan hatiku, dan buku adalah guru yang tak pernah marah. Aku merasakan buku yang kubaca sangat mempengaruhiku. Terutama buku-buku yang kusuka dan menjadi sahabatku.

Ibu mengajarkanku untuk bersahabat dengan buku. Dengan banyak membaca buku, banyak pengetahuan kuperoleh. Banyak pengalaman hidup orang lain kubaca sampai tuntas. Akupun belajar dari orang-orang hebat seperti sukarno-hatta. Belajar dari kisah hidup mereka dan berjuang demi kemerdekaan bangsanya.

Ibu tak pernah jauh dari buku. Itulah mengapa kulihat ibu selalu serba bisa menjawab pertanyaanku. Apa saja yang kutanyakan pastilah bisa terjawab oleh ibu. Itulah buah dari membaca, yang kutahu setelah aku dewasa. Ternyata banyak membaca buku membuat ibuku berbeda dengan ibu-ibu lainnya. Ibuku menjadi perpustakaan pertamaku.

Sepanjang hidupnya, ibu mengisi hari-hari luangnya dengan membaca buku. Kata ibu, buku adalah jendela ilmu. Dari proses membaca itulah didapatkan berbagai ilmu pengetahuan. Siapa yang rajin membaca akan mendapatkan pengetahuan lebih banyak daripada yang kurang membaca. Mereka yang gemar membaca akan merasakan sesuatu yang berbeda, karena pikirannya sudah dipengaruhi dari apa yang dibacanya. Bila bukunya bagus, maka akan banyak pengetahuan yang didapat. Namun bila bukunya kurang bagus, hanya akan mengecewakan pembaca saja. Itulah mengapa ibuku selalu selektif dalam membeli buku.

Ibu dan buku, selalu menyertai hari-hariku bersamanya. Tiada hari tanpa membaca buku. Tiada hari tanpa bersama ibu di sampingku. Itulah masa-masa indah ketika ibu masih ada di dunia. Sebuah kenangan manis yang tak akan kulupa sepanjang masa.

Salam Blogger Persahabatan

Omjay

Komentar ditutup.