Berteman dengan Buku Membuatku Menjadi Berilmu

Sejak kecil aku sudah dikenalkan oleh ibuku dengan buku. Semua yang kubaca dari buku membuatku tahu tentang berbagai macam ilmu pengetahuan. Buku menjadi sumber ilmu yang pada akhirnya mengantarkanku menjadi orang yang berilmu. Orang yang dijadikan sebagai tempat bertanya, karena aku telah membuat buku. Dari berteman dengan buku membuatku menjadi seorang penulis buku. Tak terasa, satu demi satu bukuku tersusun dari mantra ajaibku. “Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi”.

Sumber Foto: Kurnia Septa, Pemenang Lomba Blog Pendidikan Wijayalabs.com 2011
Sumber Foto: Kurnia Septa, Pemenang Lomba Blog Pendidikan Wijayalabs.com 2011


Ketika aku masih kecil dan menginjak usia sekolah dasar (SD), ibu tak pernah lupa memberikan aku buku-buku yang kubutuhkan. Baik buku pelajaran sampai buku-buku dongeng dan komik yang membuatku suka membacanya. Ditambah lagi, ayahku adalah seorang pustakawan di kantornya. Dimana ayah seringkali membawa buku-buku atau majalah tentang kegiatan Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Laut (AL), Baik berupa tulisan kapal perangnya yang canggih sampai buku tentang perjuangan Pahlawan Yos Sudarso dalam merebut Irian Barat. Sayapun menjadi senang dengan buku-buku yang berbau militer.

Di rumah kami yang mungil, orang tua saya menyiapkan bufet atau lemari kaca yang diperuntukkan untuk meletakkan buku-buku. Kami pun menjadi mudah membacanya, dan tak terasa ayah dan ibu telah mengajarkan kami untuk berteman dengan buku.

Buku menjadikan aku menjadi orang yang serba tahu. Setidaknya aku selalu mendapatkan nilai bagus dari buku pelajaran yang aku baca. Tapi tidak seperti anak-anak sekarang ini, membaca buku hanya untuk dihafalkan. Sedangkan aku membaca buku untuk dipahami dan kemudian kuamalkan isinya dalam kehidupan sehari-hari. Tak heran bila aku sering terpilih menjadi juara kelas ketika aku masih di sekolah dasar (SD).

Bagiku, buku adalah teman yang menemani hari-hariku dalam menambah khasanah ilmu. Buku adalah teman yang tak pernah marah. Buku telah membuatku memiliki hobi membaca dan membaca. Dengan banyak membaca buku, aku serasa berkeliling dunia. Tak salah bila ada pepatah menuliskan, “Baca Buku Buka Dunia”. Akupun merasakan hal-hal baru setelah membaca sebuah buku.

Ketika ayahku membawa buku si Pitung anak betawi asli, akupun serasa mengikuti jejak pahlawan betawi ini setelah membacanya. Bahkan aku sampai bermimpi bertemu si Pitung dan berguru silat dengannya. Begitu besar pengaruh buku bila kita membacanya dengan hati dan secara mendalam. Artinya kita membacanya dengan penuh perhatian dan larut dalam cerita yang dibaut eh dibuat oleh penulisnya. Bahkan ketika kakakku membawa komik Wiro Sableng, Pendekar 212, aku sampai seharian berada di dalam kamar dan melumatnya sampai habis isi bacaannya. Akupun memuji Bastian Tito sebagai pengarangnya yang luar biasa.

Namun, kebanyakan baca buku komik atau cerita tak bagus juga. Aku terkadang suka lupa membaca buku pelajaran. Kalau sudah begitu, nilaiku langsung menurun karena aku kurang membaca buku materi pelajaran yang diujikan. Entah kenapa, aku malas banget membaca buku pelajaran. Mungkin karena buku pelajaran yang dibuat kurang menarik, dan membuat peserta didik sepertiku menjadi tak gemar membaca buku pelajaran. Aku lebih senang membaca komik Tintin atau majalah Bobo daripada membaca buku pelajaran.

Untunglah ada seorang guru di sekolah yang selalu memotivasi kami. Beliau mengatakan membaca buku akan membuatmu menjadi seorang yang berilmu. Kata-kata pak Muctar itulah yang sampai sekarang masuk dalam alam bawah sadarku, dan selalu memotivasiku untuk rajin membaca dan menjadi orang yang berpengetahuan. Orang disebut berilmu karena dia rajin membaca buku, dan sejak itu aku selalu berteman dengan buku.

Aku lulus SD dengan nilai terbaik, dan alhamdulillah diterima di salah satu SMP Negeri favorit di Jakarta Utara. Aku pun masuk kelas unggulan pada saat itu, dan bertemu dengan teman-teman yang senang membaca buku. Mereka hampir sama denganku. Senang membaca buku, dan suka pergi ke perpustakaan sekolah. Selama aku di SMP, rasanya begitu banyak buku yang kubaca di perpustakaan sekolahku. Akupun dijuluki si “kutu buku” dan oleh teman-temanku seringkali diberi hadiah buku bila aku ulang tahun. Begitu juga orang tuaku dan kakak serta adikku. Bila aku ulang tahun, pastilah hadiahnya sebuah buku.

Berteman dengan buku membuatku ingin melanjutkan ke sekolah teknologi menengah (STM). Waktu itu aku merasa sangat senang dengan kisah Thomas Alfa Edison yang menemukan listrik dan bohlam lampu. Akupun melanjutkan sekolah di sekolah kejuruan dengan jurusan listrik atau arus kuat dengan nilai yang terbaik.

Beasiswa dari kantor ayahku alhamdulillah kuperoleh, dan tak terasa 3 tahun lamanya aku sekolah di jurusan listrik yang siswa sekelasnya semuanya laki-laki. Ada 36 orang cowok ganteng menemani hari-hariku menggapai ilmu. Aku pun masih saja berteman dengan buku, dan seringnya aku ke perpustakaan sekolahku. Bahkan aku sering ke perpustakaan nasional di Salemba, dan menemukan hal-hal baru dari buku yang kubaca.

Sebagian Teman-temanku dari STM ketika Reunian di Cipinang Bali
Sebagian Teman-temanku dari STM ketika Reunian di Cipinang Bali


Meskipun aku tak menjadi juara pertama di sekolahku, ketika lulus dari STM aku langsung diterima bekerja. Senang sekali aku ketika diterima bekerja, karena prosesnya cuma wawancara saja. Berkas nilaiku dianggap cukup oleh perusahaan Jepang yang memanggilku untuk menjadi karyawan di sana.

Hanya beberapa bulan menikmati diri menjadi seorang karyawan atau buruh pabrik perusahaan Jepang, aku memutuskan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi dengan memilih IKIP sebagai kampus perjuanganku. Alhamdulillah aku mendapatkan beasiswa, sehingga mengurangi beban orang tuaku. Itu semua berkat aku berteman dengan buku. Sisa-sisa waktu luangku selalu aku habiskan untuk pergi ke perpustakaan atau toko buku dekat kampus. Dari kedua tempat itu aku banyak mendapatkan ilmu dari buku yang kubaca. Akupun menjadi pembaca teraktif di perpustakaan kampusku.

Alhamdulillah, aku lulus tepat waktu, dan lulus paling dulu dari teman-teman satu angkatan. Itu semua berkat berteman dengan buku. Kuhabiskan waktu luangku dengan banyak membaca buku. Akupun sempat menjadi ketua Himpunan Mahasiswa di jurusanku. Organisasi membuatku menjadi pandai memanaje atau mengatur waktu dengan baik. Aku pun direkomendasikan oleh almarhum Prof. Dr. Kusno, Dekan di fakultasku untuk menjadi guru di sekolah terkenal dekat kampusku. Gak kerasa, sudah 20 tahun aku menjadi guru di sekolah Labschool yang dikelola oleh Yayasan Pembina Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

Aku beruntung ditempatkan di sekolah yang mengerti akan pengembangan dan kualitas SDM-nya. Akupun terpilih untuk mendapatkan beasiswa S2 di Pascasarjana UNJ. Selama 2 tahun aku belajar ilmu teknologi pendidikan, dan selama itu pula aku menjadi paham bahwa belajar harus menyenangkan. Aku menjadi banyak tahu tentang metode dan model-model pembelajaran setelah kubaca banyak buku yang kudapatkan dari perpustakaan Pascasarjana. Kuhabiskan waktu luangku untuk berteman dengan buku, dan kulumat habis ilmu-ilmu pendidikan yang aku dalami.

Berteman dengan buku membuatku menjadi berilmu. Bukan itu saja, setelah aku mendalami ilmu pendidikan dan penelitian, aku berusaha untuk menyusun sebuah buku. Aku pun mengajak seorang teman yang sevisi untuk menyusun sebuah buku Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Berkat menulis buku itu, kami sering diundang berkeliling Indonesia menularkan virus PTK kepada teman-teman guru di seluruh Indonesia. Teman facebookku dari Aceh baru saja berkomentar di status terbaruku.

Aku tuliskan status di facebook. Berteman dengan buku membuatku menjadi orang yang berilmu, dan berteman dengan buku membuatku menjadi seorang penulis buku. Bagaimana denganmu??? Lalu banyaklah komentar yang salah satu komentarnya dari Syarifah Nurmasyithah Buchari menuliskan begini:

Sangat…benar…,.Buku..PTK yang diberikan sebagai..kenang2an..menjadi inspirasi..tuk saya menulis..dan Alhadullillah..bisa menambah…pendapatan,..terimakasih..bapak kusumah…

Salam Blogger Persahabatan

Omjay

Berteman dengan Buku Membuatku Menjadi Berilmu

Iklan

Komentar ditutup.