Monthly Archives: Juni 2012

Penilaian Autentik di Buku Sekolahnya Manusia

Membaca buku sekolahnya manusia karya Munif Chatib membuat saya lebih memahami penilaian autentik. Dalam buku itu dituliskan pendapat Benyamin S. Bloom di halaman 154 yang menuliskan bahwa penilaian kompetensi memiliki batasan. Batasan-batasan itu terdiri dari:

Pengukuran tunggal tidak cukup untuk memberikan gambaran/informasi tentang kemampuan, keterampilan, pengetahuan, dan sikap seorang siswa
Hasil penilaian tidak mutlak dan tidak abadi karena siswa terus berkembang sesuai dengan pengalaman belajar yang dialaminya.
Atas dasar konsep tersebut, penilaian autentik merupakan paradigma baru yang sangat fundamental jika dibandingkan dengan cara penilaian sebelumnya. Penilaian ini lebih melihat kemampuan siswa secara keseluruhan yang bukan hanya dilihat dari nilai tes saja, tetapi juga non tes. Penilaian berorientasi pada 3 ranah yaitu, kognitif (pengetahuan), Psikomotor (Keterampilan), dan Afektif (Sikap). Penilaian juga menekankan pada kompetensi yang diajarkan sehingga membantu siswa yang lemah untuk berkembang dengan cara membangun semangat kerjasama atau kolaborasi.

Berbeda dengan paradigma penilaian tradisional. Dimana penilaian menekankan pada peringkat dan mengklasifikasikannya. Mengesampingkan siswa yang tidak mampu (lemah). Adanya peringkat dan klasifikasi cenderung mendorong kompetensi yang berlebihan. Ditambah lagi penilaian hanya menitikberatkan pada aspek kognitif (pengetahuan). Pengumpulan informasi nilai hanya dengan tes saja, dan tidak melihat aspek non tes.

Teori multiple Intelegences (MI) menawarkan perombakan yang sangat penting dan mengakar ke bawah dalam penilaian autentik yang menjadi dasar dalam penilaian. Dari sini akan didapatkan output yang baik dari sebuah proses pembelajaran.

Teori MI yang dituliskan dalam buku Sekolahnya manusia karya Munif Chatib halaman 155 menganjurkan sistem yang tidak bergantung pada tes standar atau tes yang berdasarkan pada nilai formal, tetapi lebih banyak didasarkan pada penilaian autentik yang mengacu kepada kriteria khusus dengan menggunakan tes yang memiliki titik acuan spesifik dan ipsative (tes yang membandingkan prestasi siswa saat ini dengan prestasinya yang lalu).

Terus terang saya terkesan dengan apa yang dituliskan munif chatib dalam bukunya yang berjudul sekolahnya manusia. Dalam buku ini dijelaskan bahwa soal yang sulit justru akan merusak mental siswa untuk maju. Sayapun terkejut, dan akhirnya bersetuju ketika Munif Chatib menuliskan bahwa cara cepat untuk membuat tes yang berkualitas adalah model open book. Yuk kita nikmati buku sekolahnya manusia.

Salam Blogger Persahabatan

Omjay

Penilaian Autentik di Buku Sekolahnya Manusia

Nilai Raport Siswa

Setiap anak adalah juara. kita harus mampu melihat potens potensi unii peserta didik dengan baik. Guru yang jeli dan memahami potensi siswa tentu akan mampu menemukan potensi unik yang dimiliki oleh peserta didiknya masing-masing.

Sebagai seorang guru, tentu kita harus mampu menilai siswa dari potensi unik yang dimilikinya dalam bentuk angka-angka yang dimasukkan sebagai nilai raport. Dari nilai raport inilah akan diketahui hasil belajar peserta didik selama satu semester.

Ketika kita melihat ada nilai raport peserta didik yang kurang dari Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), jangan kemudian langsung mencap  anak itu bodoh.  Kita harus mencari tahu dulu kenapa anak itu nilainya rendah. Bila kita tak mengajar anak tersebut, kita dapat menghubungi guru bidang studi  yang bersangkutan.

Ketika kita sudah tahu masalahnya, maka segeralah mencari strategi dan solusi agar anak tersebut mencapai nilai KKM. Bila sudah dilakukan beberapa kali remedial, dan anak tersebut belum juga bisa mencapai nilai KKM, maka guru bisa menggunakan hak preogatifnya untuk menaikkan nilai siswa sesuai dengan kerajinan siswa dan disetujui oleh rapat dewan guru.

Nilai raport siswa adalah gambaran prestasi siswa selama satu semester. Kita pun berharap nilai anak-anak itu telah mencapai KKM dan mereka menguasai standar kompetensi (SK) yang sudah ditentukan setiap mata pelajarannya.

Setiap anak adalah juara. Mari kita mengantarkan mereka menjadi juaranya dengan memberikan nilai yang sesuai dengan potensi unik yang dimilikinya. Tak ada anak yang bodoh, yang ada hanyalah anak yang malas. Kewajiban kitalah sebagai guru untuk memotivasi peserta didik agar tidak malas dan belajar. Guru harus belajar berbegai metode pembelajaran agar kesulitan dalam menyampaikan materi menjadi teratasi.

 

Salam Blogger Persahabatan

Omjay

Nilai Raport Siswa

Siapa yang Malas Tidak akan Pernah Naik Kelas

Semoga di saat anda membaca tulisan ini, anda dalam keadaan sehat. Semoga pula pintu-pintu rezeki dari Allah yang Maha Pemberi selalu terbuka bagi anda yang bertakwa. Saya pun berharap anda mampu melawan kemalasan diri dalam rangka menjemput rezeki. Sebab rezeki harus dijemput dengan kerja keras, kerjas cerdas, kerja ikhlas, dan kerja tuntas.

 

1340244105439919581

sumber foto: Presentasi.net

Setiap orang pasti pernah mengalami rasa malas. Biasanya itu terjadi ketika diri mulai jenuh atau bosan dengan akivitas sehari-hari yang kurang menggairahkan. Terutama bila aktivitas itu merupakan kegiatan keseharian yang terkadang menjemukan dan kurang inovasi. Kita pun akhirnya malas mengerjakannya. Padahal, kegiatan itu sangat penting dalam menunjang karir kita di masa depan. Mulailah sesuatu dengan gambaran akhirnya.

Kita memang harus mampu melawan kemalasan diri. Misalnya, bila anda malas menulis, maka obatnya adalah menulis. Bila anda malas bekerja, maka obatnya ya bekerja. Mengapa demikian? Mari kita mencoba merenung dan mengintrospeksi diri.

Ketika kita malas menulis, biasanya terjadi pertentangan di dalam diri. “Mau menulis apa ya?” . Begitupun dalam bekerja. Kita seringkali menunda-nunda pekerjaan. “Nanti saja, kan masih bisa dikerjakan besok!”. Begitu biasanya kita berbicara di dalam hati. Penundaan atau kebiasaan menunda membuat kita akhirnya menumpuk pekerjaan, dan kita akan dibuat kerepotan ketika deadlinenya sudah tiba. Itulah sifat manusia, terlalu gampang menyepelekan. Kita pun akhirnya menggunakan istilah the power of kepepet.

Begitupun dengan saya. Hampir saja saya melewatkan sholat Isya semalam. Badan saya terasa letih dan langsung tertidur. Untunglah istri saya membangunkan dan mengingatkan saya kalau belum sholat Isya. Saya pun bangun dan langsung mengambil air wudhu, meskipun rasanya berat sekali melawan rasa kantuk yang ada di dalam diri.

Selesai sholat Isya barulah saya menyadari bahwa begitu mudahnya orang lalai dalam sholat, dan diperlukan kesadaran hati untuk beristighfar memohon ampun atas segala dosa dan kekhilafan. Itulah akibat dari kalau saya tidak tepat waktu dalam mengerjakan sholat. Pahala sholat berjamaahpun hilang begitu saja, karena saya menunda panggilan Allah. Padahal sholat berjamaah sangat dianjurkan oleh Baginda nabi Muhammad SAW. Selama hidupnya, baginda nabi selalu melakukan sholat berjamaah bersama umatnya. Kecuali sholat tahajud yang beliau lakukan sendiri di sepertiga malam.

Kemalasan diri memang harus dilawan. Bukan orang lain yang harus melawannya, tetapi diri kita sendiri. Perlu kekuatan dari dalam diri bahwa malas akan membuatmu menjadi orang yang lemah. Malas akan membuatmu menjadi orang yang kalah. malas membuatmu menjadi tidak bergairah. Bila itu terjadi, maka hidupmu tak akan cerah.

Orang yang lemah biasanya tak akan sanggup menjadi seorang pemenang. Saya pun teringat dengan sebuah pepatah.Menaklukan ribuan orang belum tentu disebut sebagai pemenang. Tetapi mereka yang mampu melawan dirinya sendiri, itulah yang disebut penakluk gemilang.

Yuk lawan kemalasan diri! Berusaha tepat waktu dalam mengerjakan sesuatu, dan tidak menunda-nunda pekerjaan. Saya pun menjadi teringat dengan lagu ketika di sekolah dasar dulu. “Siapa yang malas tidak naik kelas”. Kitapun akan menjadi orang-orang yang biasa dan bukan luar biasa. Orang sukses adalah orang yang sanggup melawan kemalasan diri. Orang sukses adalah orang yang selalu naik kelas dalam mencapai kesuksesannya. Orang sukses adalah orang yang proaktif, dan selalu bergerak untuk memperbaiki diri.

 

 1340244679474600762 

Sumber: Presentasi.net

 

 

Salam Blogger Persahabatan

Omjay

http://wijayalabs.com

Siapa yang Malas Tidak akan Pernah Naik Kelas

Seandainya banyak Guru Menulis Buku

1302654867547091489

 

Siang itu saya begitu gembira sekali. Mengapa? Buku yang telah lama saya tulis dengan teman kuliah saya pak Dedi Dwitagama akhirnya dicetak ulang untuk kesekian kalinya. Buku yang kami dedikasikan untuk para guru di Indonesia agar mampu meneliti. Meneliti di kelasnya sendiri dengan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

 


Adanya sertifikasi guru dalam jabatan membuat para guru harus rajin menulis dan meneliti. Sebab dalam sertifikasi guru ada kompetensi yang meminta guru untuk mencantumkan karya tulisnya. Bisa berupa buku, modul atau laporan PTK yang ditulis sendiri oleh guru tersebut.

 


Keinginan menulis buku itu muncul ketika saya telah mengikuti Lomba Karya Tulis Tingkat Nasional tahun 2006 di Yogyakarta. Lomba ini dilaksanakan oleh direktorat pendidikan luar biasa Depdiknas. Pada saat itu saya belum tahu bagaimana cara menulis buku yang baik tentang penelitian. Hampir semua buku yang ada di toko buku tentang penelitian rata-rata ditulis oleh dosen atau para pengamat pendidikan. Jarang sekali ada guru yang menulis buku tentang penelitian. Apalagi penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang mengajak guru untuk meneliti di kelasnya sendiri. Memperbaiki cara mengajarnya dan meningkatkan kualitas pendidikan melalui PTK. Akhirnya gayung pun bersambut. Teman kuliah saya (Pak dedi Dwitagama) di pascasarjana UNJ bersetuju untuk bekerjasama membuat buku PTK.

 


Untuk menulis buku sendiri diperlukan semangat yang luar biasa. Saya dan teman saya pak Dedi mengalami bagaimana sulitnya kami membagi waktu dan bertemu dengan para ahli pendidikan. Sebagai contoh, untuk bisa bertemu dengan Prof. Dr. Arief Rachman, dan Prof. Dr. Conny R Semiawan saja kami perlu merencanakan dan melakukan kesepakatan kapan bisa bertemu. Belum lagi setelah itu, kamipun harus pula mengambil teori-teori yang relevan tentang buku yang akan kami tulis. Kelihatannya memang sulit, tapi kami menikmati prosesnya. Menulis buku tidak sekali jadi. Diperlukan kecermatan dalam menuliskannya. Perlu waktu setahun sampai tuntas.

 


Kini, di awal tahun 2012 buku kami dicetak ulang oleh penerbit indeks. Ada sebuah keinginan dari kami agar banyak guru juga aktif menulis buku. Dengan guru menulis buku akan banyak manfaat yang didapat. Selain menambah pemasukan isi kantong, Keilmuan dan profesionalitas guru menjadi terjaga. Guru pun semakin mahir dalam mengemas materi pelajaran. Sehingga lebih mantap dalam melakukan pembelajaran di sekolah.

 


Tak ada kebahagiaan tanpa pengorbanan. Dibutuhkan pengorbanan waktu, tenaga, pikiran dan juga sedikit dana dalam menulis buku. Bila guru mau menulis buku, maka dibutuhkan komitmen yang kuat dalam menulis. Gerakan menulis selembar setiap hari sudah harus kita canangkan. Tak perlu panjang-panjang. Hanya satu lembar. Isinya cerita tentang pengalaman mengajar hari ini. Kesulitan yang dihadapi dan bagaimana solusinya yang akan kita terapkan. Catatlah hasilnya lalu rundingkan dengan teman sejawat.

 


Masalah dalam pembelajaran pasti ada. Setiap guru pasti mengalaminya. Hanya tidak semua guru pandai menuliskan pengalamannya itu dalam bentuk tulisan. Semua harus berproses. Persis seperti kita belajar bicara waktu kecil. Tak ada karya tulis tanpa tindakan menulis. Tak ada buku dibuat kalau kita tak berbuat. Karena itu lekaslah menulis buku. Bila guru mau menulis buku, maka namanya akan terukir manis dalam katalog perpustakaan. Itulah warisan yang sangat berharga untuk anak cucu kita bila kita tiada.

 

 


Harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan kebajikan. Menulislah untuk berbagi kebajikan. Jangan biarkan ilmu para guru tenggelam dalam air dan tak pernah muncul ke permukaan karena diam saja dan tak mau bergerak. Bergerak dan berbuat dalam tindakan nyata adalah dengan mulai menulis.

 

 


Kalau guru bisa menulis dengan baik, guru tidak perlu mengeluarkan banyak uang untuk membayar ongkos menulis sebuah karya tulis untuk kenaikan pangkat. Banyak sekali keuntungan menulis bagi guru, kalau guru mau menulis. Betapa sayangnya, kalau guru malas, atau tidak bisa menulis. Padahal, kata Dylan Thomas "Menulislah, karena hanya itu cara untuk membuat dunia tahu apa yang engkau pikirkan"

 

 


Semoga banyak guru di tahun ini yang menulis buku. Menuangkan apa yang ada dalam pikirannya untuk kemajuan dunia pendidikan kita. Pendidikan di Indonesia harus lebih maju dari negara lainnya. Caranya? Perbanyaklah menulis buku yang bermutu, dan rajinlah membaca!

 

Salam Blogger Persahabatan

Omjay

http://wijayalabs.com

Seandainya banyak Guru Menulis Buku

Bullying: Sebuah Fenomena Negatif pada sekolah-sekolah di Indonesia

Awalnya saya tidak percaya kalau masih ada bullying di sekolah-sekolah kita di Indonesia. Tetapi setelah mendapatkan penjelasan yang disertai pemutaran film yang direkam oleh kamera tersembunyi membuat hati ini menangis dan menjerit pilu. Rupanya telah banyak anak muda kita yang tak berdosa akhirnya mati sia-sia akibat bullying yang ada di sekolah.

 

Hari Rabu sore kemarin, 18 Pebruari 2009 sekolah kami mendapatkan seorang tamu yang sangat bersahaja. Namanya ibu Diena Haryana dari SEJIWA. Dalam presentasinya beliau mengatakan bahwa telah banyak korban berjatuhan akibat adanya Bullying di sekolah-sekolah yang ada di Indonesia. Hasil penelitiannya menunjukkan hal itu.

 

Kekerasan yang sering terjadi di sekolah itu adalah corporal punishment, bullying, pelecehan seksual, penggunaan senjata, dan pembentukan geng-geng. Namun dari semuanya itu yang paling terbanyak adalah bullying dan corporal punishment.

 

Corporal punishment adalah hukuman yang paling banyak dilakukan oleh guru di sekolah terhadap siswa dengan menggunakan kekerasan dengan sebuah alasan karena hendak mendisiplinkan siswa. Misalnya memukul tangan dengan penggaris, menjambak rambut karena terlalu panjang, menyuruh push up karena terlambat, menampar kepala karena tak dapat membaca dengan lancar.

 

Apakah perilaku Bullying?

 

Bullying terjadi ketika seseorang merasa teraniaya, takut, terintimidasi, oleh tindakan seseorang baik secara verbal, fisik atau mental. Ia takut bila perilaku tersebut akan terjadi lagi, dan ia merasa tak berdaya mencegahnya. (Andrew Mellor, antibullying network, univ. of edinburgh, scotland).

 

Beberapa macam tindakan Bullying adalah:

  1. Psikologis seperti memfitnah, mempermalukan, menakut-nakuti, menolak, menghina, melecehkan, mengecilkan, mentertawakan, mengancam, menyebarkan gosip. mencibir, dan mendiamkan
  2. Fisik seperti menendang, menempeleng, memukul, mencubit, menjotos, menjewer, lari keliling lapangan, push up, bersihkan WC, dan memalak.
  3. Verbal seperti berteriak, meledek, mengata-ngatai, name calling, mengumpat, memarahi, dan memaki.


Bullying perlu kita cermati karena tak ada seorang pun punya hak dan alasan untuk membullying orang lain. Serta tak ada seorangpun layak menjadi korban bullying.

Gejala-gejala tengah terjadinya tindakan bullying pada anak kita di sekolah adalah:

  • Adanya penurunan pada penampilan akademisnya
  • Adanya penurunan pada kehadirannya di sekolah
  • Hilangnya minat pada pekerjaan sekolah / PR
  • Sulit berkonsentrasi pada pekerjaan sekolah
  • Berkurangnya minat pada kegiatan-kegiatan sekolah
  • Drop out dari kegiatan yang tadinya dia sukai


Lalu Apakah yang perlu dilakukan oleh orang tua untuk menghadapi hal itu?

  1. Cermati gejala-gejala perubahan anak, dan segeralah lakukan pendekatan padanya
  2. Tenanglah dalam bertindak, sambil meyakinkan anak bahwa ia telah mendapat perlindungan dari perilaku bullying mendatang
  3. Laporkan kepada guru/ pihak sekolah untuk segera dilakukan penyelidikan
  4. Meminta counsellor ( guru BK) sekolah melakukan penyelidikan tentang apa yang telah terjadi
  5. Meminta pihak sekolah untuk memberikan info tentang apa yang sebenarnya telah terjadi
  6. Mengajarkan anak cara-cara menghadapi bullying


Strategi Menghadapi Bullying di sekolah adalah:

  • Ajarkan anak kita untuk menyembunyikan kemarahan atau kesedihannya. Bila ia tampak bereaksi si bullying akan senang
     
  • Ajarkan anak berani memandang mata si bullying
     
  • Ajarkan anak berdiri tegak, kepala ditegakkan dalam menghadapi bullying
     
  • Tidak berjalan sendirian
     
  • Tetap tenang dalam situasi apapun
     
  • Bila dalam bahaya segera menyingkir.
     


Tulisan di atas semoga membantu para orang tua dan guru dalam menghadapi bullying yang terjadi di sekolah. Semoga bullying tak terjadi lagi di sekolah-sekolah kita, apabila kita mampu melakukan pengawasan. Selalulah berkomunikasi dan berdialog kepada anak-anak kita.

 

Salam Blogger Persahabatan

Omjay

Bullying: Sebuah Fenomena Negatif pada sekolah-sekolah di Indonesia

Pendidikan Berbasis Digital

Pendidikan Berbasi Digital
Pendidikan Berbasis Digital

Bicara tentang pendidikan, maka kita akan berbicara sangat luas sekali cakupannya. Namun bicara soal pendidikan berbasis digital, kayaknya menarik dan membuat pikiran saya melayang jauh untuk melihat kembali apa yang sudah saya lakukan. Ikut berrkontribusi dalam pendidikan berbasis digital demi kemajuan bangsa di era globalisasi. Teknologi informasi (TI) telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dunia, tak terkecuali di Indonesia

Pendidikan berbasis digital saat ini sudah mulai banyak digunakan oleh para praktisi pendidikan seperti guru dan dosen. E-learning adalah salah satu contoh dari produk pendidikan berbasis digital. Dengan pemanfaatan e-learning dalam pembelajaran membuat belajar tak lagi di dalam ruangan kelas, tetapi di luar kelas. Para guru dan dosen bisa menggunakan moodle atau blog sebagai media pembelajaran. Bisa juga menggunakan jejaring sosial seperti facebook dan twitter untuk berinteraksi dengan peserta didiknya.

Undang undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) menegaskan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermatabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Sisdiknas bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat , berilmu cakap, kreatif , mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Sebelum kita melangkah lebih jauh, kita defenisikan dahulu apa itu pendidikan berbasis digital. Pendidikan berbasis digital adalah pendidikan yang menggunakan media elektronik sebagai alat bantu untuk meningkatkan mutu pembelajarannya. alat bantu ini adalah produk dari Teknologi Informasi dan Komunikasi atau disingkat TIK. Dari produk TIK ini lahir TIK untuk pendidikan yang dapat dikembangkan menjadi jaringan internet dan intranet.

Pendidikan berbasis digital itu pada dasarnya sederhana. Kita bisa menggunakan media elektronik yang sederhana. Tak harus mahal, tapi sesuai dengan apa yang dibutuhkan. Contohnya, ketika seorang guru membutuhkan data siswa, maka data itu dapat diperoleh dengan cara-cara digital.

Lembaga riset dan analis Gartner bahkan memproyeksikan pada 2020 sekitar 60 persen lembaga pendidikan akan mentransformasi seluruh sistemnya secara online. Dengan demikian akan terlihat jelas bahwa pendidikan berbasis digital sangat diperlukan saat ini. Dengan 165 ribu sekolah dari tingkat SD hingga SMA dan 4.500 perguruan tinggi, Indonesia berpotensi besar untuk maju menuju sekolah era digital.

Dengan sistem operasi aopensource yang murah dan gratis, para guru dapat membuat jaringan intranet di sekolah dengan sebuah server yang dirakit sendiri sejhingga berbiaya murah. Untuk hal ini, seklah bisa berdiskusi dengan pakar internet pak Onno W Purbo melalui email onno@indo.net.id.

Digitalisasi pada sekolah memungkinkan setiap orang dapat berkomunikasi dan berinteraksi serta membangun jaringan dengan sekolah lain atau individu lain diseluruh dunia. Sedangkan jaringan kerja-sama bisa intra- sekolah ;meliputi siswa, orang tua siswa, guru-staf dan kepala sekolah. Ekstra sekolah hubungan jaringan kerjasama antar sekolah-instansi terkait dan dunia usaha. Oleh karena itu jaringan internet yang ada di sekolah diusahakan dengan kecepatan maksimal sehingga aksesnya cepat dan memudahkan kita saling berinteraksi dengan dunia luar.

Seiring dengan pesatnya perkembangan Information Communication Technology (ICT), sudah saatnya sekolah memanfaatkan ICT sebagai sarana pelayanan dan penopang kegiatan pendidikan di wilayah kerja masing masing. Sekolah dapat menyusun system informasi pendidikan dengan mudah dan praktis melalui program computer berbasis internet .

Dengan demikian sekolah dapat menerapkan aplikasi internet dengan sasaran peningkatan layanan prima pendidikan, terutama dari sisi waktu dan efektivitas. Sekaligus dapat mendukung System Informasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) tertutama dalam implementasi pembelajaran, manajemen kelas, mendukung monitoring, evaluasi, pelaporan, kebijakan strategis, perencanaan, penganggaran, dan kerja sama dengan pihak lain.

Ketika sekolah sudah men “digitalisasi” dirinya diharapkan semakin terus mengikuti perkembangan ICT sehingga dapat memberdayakan SDM dan Mutu siswa. Mengingat ICT memiliki dampak besar terhadap perubahan ekonomi, perilaku, struktur organisasi dan strategi yang diterapkan sekolah.

Pendidikan berbasis digital sebaiknya mampu menguatkan jaringan intranet sekolah lebih dahulu, baru kemudian jaringan internet. Dengan begitu, biaya akses internet dapat ditekan, dan sekolah dapat menikmati akses internet cepat dengan biaya murah. Kerjasama dengan pihak sponsor, tentu akan membantu sekolah dari sisi pembiayaan.

Pendidikan berbasis digital harus diimbangi dengan tersedianya SDM tenaga pendidik yang profesional, dan ini telah menjadi program dari organisasi ikatan guru Indonesia (IGI) dalam pelatihan-pelatihan berbasis ICT, dimana guru harus melek internet dan mampu menulis.

Salam Blogger Persahabatan

Omjay

http://wijayalabs.com

Pendidikan Berbasis Digital

Kenapa Guru Di Daerah Pedesaan Sulit Meneliti?

Saya termenung dan pikiran saya menerawang jauh setelah mendapatkan komentar dari teman saya seprofesi, bapak Sigit Mukriyadi di Madiun. Dalam komentarnya beliau menuliskan kenapa guru di daerah sulit untuk melakukan penelitian? Berikut ini komentar beliau yang saya ambil dari blog pribadi saya di sini.

Salam kenal pak wijaya.

Thanks fo sharing sir.

Disini saya hanya mau menyampaikan kondisi realitas sebenarnya yang kemudian saya hadapkan pada statement :

Untuk meningkatkan kualitas tenaga pendidik, guru yang sudah memperoleh sertifikasi dan tunjangan guru akan tetap dipantau. Pemantauan termasuk juga pemberian pelatihan metode pengajaran, materi pengajaran, dan melakukan penelitian.

Statement itu sangat baik sekali guna meningkatkan kualitas guru dengan memberikan pelatihan metode pengajaran ataupun dengan melakukan penelitian tindakan kelas dan saya sangat nenyetujui hal itu. akan tetapi alangkah baik lagi jika itu diterapkan pada guru-guru yang telah berstatus PNS dan guru yang berstatus Bersertifikasi karena kebutuhan ekonomi mereka tercukupi saat ini, dan mohon jangan sampai diterapkan pada guru bantu/honorer baik sekolah swasta/negeri .

Dan alangkah senangnya jika pelatihan-pelatihan tersebut gratis dan berlaku untuk semua guru baik guru PNS, guru bersertifikasi, ataupun guru bantu/ honorer agar dapat dinikmati & dirasakan bersama hasil pelatihan-pelatihan itu karena status kita adalah sama-sama berstatus guru, hanya kesejahteraan perekonomian yang berbeda.

Meskipun saya lulusan AKTA IV tetapi saya adalah orang yang selalu bersemangat untuk selalu belajar dalam keadaan apapun, setiap kali saya mengajar selalu menggunakan model-model pembelajaran yang berubah-berubah sesuai kondisi/ keadaan siswa beserta waktu yang cukup tersedia, baik STAD, TGT, problem solving dll yang intinya terus berusaha menciptakan suasana Pembelajaran yang Aktif, Kreatif, Efektif sekaligus Menyenangkan untuk saya pribadi selaku guru maupun anak-anak didik saya, yang kemudian sering pula saya menganalisis dan mengevaluasinya.

intinya, setiap kali mengajar saya selalu merencanakan, menerapkan, menganalisis serta mengevaluasi atas metode & materi yang telah saya implementasikan guna mengetahui sejauh mana keberhasilan dalam membimbing anak didik saya. berarti saya telah melakukan Penelitian Tindakan Kelas setiap kali mengajar, hanya saja tidak dituangkan kedalam tinta hitam diatas putih (dibukukan).

Sebabnya:
Kebetulan sekali saya adalah T.U salah satu SD Negeri di madiun dan merangkap sebagai guru bantu/honorer salahsatu SMP swasta di madiun yang setiap hari kerjanya terbagi 2 waktu.

Gaji guru swasta perbulan yang saya terima kurang dari Rp. 200.ooo perbulan (dua ratus ribu rupiah perbulan) tepatnya Rp. 185.000,-. mari kita kakulasi gaji tersebut untuk menuangkan atas apa yang telah saya terapkan dikelas kemudian peraturan-peraturan baru memaksa untuk menuangkannya kedalam kertas sehingga menjadi sebuah buku berupa PTK.

Kertas 1 Rem merk Sinar Dunia 70gram Rp 45.000,-
Tinta untuk printer merk Rainbow Rp. 30.000 ,-
Jika sewa rental komputer untuk ngetik perjam Rp. 2.500 (3 jam saja tidak cukup untuk mengetik sebuah PTK ), belum lagi ngeprintnya dirental yang perlembernya Rp. 500 (bayangkan jika PTK tebalnya 60 lembar, kalikan saja Rp. 500, sudah Rp. 30.000 tidak termasuk lama jam sewa rentalnya). jika beli komputer + printernya berapa juta tuh -D
Belum lagi Menjilid dan mengcover kemudian menggandakan (silahkan tanyakan harganya ke toko fotocopy).

Usai itu anda hitung total biaya yang harus dikeluarkan untuk sebuah PTK.

Akibatnya:
Naaah gaji Rp. 185.000,- perbulan cukupkah??? Lalu Anak, Istri saya membeli sembako, sabun, perlengkapan mandi dapat uang darimana??? Mau menabung uang darimana jika selalu gaji habis karena hal diatas??? lalu transportasi untuk esok harinya berangkat ke sekolah untuk bertugas membimbing anak-anak didik saya yang jaraknya sekitar 10km dari rumah??? (jalan kaki karena tidak punya uang untuk beli bensin??? -D 10km jalan kaki??? berapa jam tuh tiba disekolah?), kemudian, Pendidikan anak saya harus bayar pakai uang darimana, katanya sekolah sekarang gratiiiisss ada dimana-mana tapi kenyataannya sekolah-sekolah masih memungut biaya dengan cara melakukan mengumpulkan orang tua wali murid kemudian meminta pungutan dengan dalih sumbangan untuk kelengkapan administrasi sekolah dengan hukum sumbangan wajib (sumbangan kok wajib -D jika anda tidak percaya, silahkan anda survey lapangan dengan menyamar (seperti intel polisi) lalu datang kesekolah contohnya disekolah pinggiran kota madiun bukan dikota madiunnya tapi pinggiran kota).

Berarti saya harus kerja sampingan untuk mencukupi kebutuhan keluarga, Naaah waktu lagi khaaan yang berbenturan antara waktu untuk menyusun sebuah PTK dengan mencari uang lewat kerja sampingan, lalu kapan rampungnya sebuah PTK itu jika setiap bulan harus mencukupi kebutuhan keluarga guna mencari tambahan pendapatan dari Rp. 185.000,- perbulan itu.

Bagaimana mau meningkatkan kualitas guru jika gizi guru dan keluarganya tidak tercukupi??? jika gizi tercukupi maka akan menghasilkan otak yang sehat, apabila otak telah menjadi sehat maka otak akan mampu menerima transfer ilmu.

Renungkanlah

Monggo dengan senang hati dan sangat gembira jika peraturan di pendidikan diperkuat guna kemajuan pendidikan agar masyarakat kita tidak tertinggal dengan negara-negara lain, tetapi jangan hanya peraturan saja yang diperkuat , kesejahteraan guru yang belum PNS pun harus diperkuat, jangan asal cekik sana cekik sini.

Setiap kali pemerintah mengeluarkan kebijakan tentang pendidikan, semua pihak baik negeri maupun swasta mendapatkan dampaknya pula karena sekolah-sekolah swasta yang ada di indonesia bernaung dibawah departemen-departemen pemerintah.

Walau bagaimanapun dan apapun kebijakan pemerintah, saya tetap setia pada negara tercinta ini karena saya orang yang taat pada pemerintah dan saya orang yang takut sekaligus tidak rela apabila dibodohi oleh negara-negara lain.

Mohon dukungan dari rekan-rekan senior dan semoga guru bantu/ honorer tidak diwajibkan untuk menuangkannya kedalam buku kecuali pemerintah mau memberikan tunjangan untuk penelitian dan kesejahteraan yang sesuai terkhusus guru bantu/ honorer. Amin amin yaa rabbal alamin

Demikianlah komentar panjang yang saya dapatkan dari teman saya bapak Sigit Mukriyadi di Madiun. Saya terharu membacanya. Dengan gaji Rp.185.000,- guru dituntut harus kreatif dalam penelitian dan melaporkan hasil PTKnya. Pertanyaannya adalah apakah penelitian sederhana di kelas harus menggunakan dana? Apakah dana yang minim lalu membuat kita menjadi tidak kreatif? Coba mari kita renungkan!.

Saya jadi teringat dengan teman saya dari Aceh (saya lupa namanya) yang menjadi finalis LKTI (Lomba Karya Tulis Ilmiah) tingkat nasional bidang IMTAK di tahun 2005. Waktu itu beliau menjadi teman sekamar saya, karena sama-sama menjadi finalis LKTI tingkat nasional di Jakarta. Saya bertanya pada beliau, apa yang menyebabkan karya tulisnya bisa masuk final di tingkat nasional. Motivasi apa yang membuatnya sanggup menulis karya tulisnya? Bukankah Aceh baru saja terkena Tsunami? Beliau lalu bercerita panjang pada saya, semoga menjadi motivasi bagi teman-teman guru lainnya di seluruh Indonesia.

Sambil bercucuran air mata beliau bercerita. Setelah pasca tsunami, sekolahnya hancur porak poranda. Pada saat itu yang tersisa hanyalah satu buah komputer tua pentium 486. Sebagai sekolah yang berstatus swasta dan dengan jumlah siswa yang tidak banyak serta gaji yang minim pula, membuat teman saya itu tak pernah menyerah dengan keadaan. Beliau selalu memperbaiki kualitas pembelajarannya melalui penelitian kecil di kelasnya sendiri. Beliau rajin menuliskan apa-apa yang telah dikerjakannya. Beliau melakukan penelitian sederhana, dan nyaris tanpa biaya. Komputer yang hanya satu-satunya di sekolah itu, beliau pergunakan di sore hari setelah mengajar. Apa yang beliau tuliskan, di catatan kecil kemudan beliau ketik sendiri dengan menggunakan komputer tua itu.

Namun, ketika semua tulisannya jadi, tak ada printer di sekolah itu. Beliau pergi ke kabupaten yang jaraknya sekitar 50 km dari sekolah. Di sewa rental itulah beliau mencetak karya tulisnya. Lalu mengirimkan hasil penelitiannya ke panitia karya tulis di Jakarta. Beliau yakin dan sangat yakin, bila motivasi kita kuat, dan niat kita karena Allah pasti di dalam kesulitan itu ada kemudahan.

Gajinya yang kecil tak membuatnya pasrah dengan keadaan, beliau bekerja keras mencari tambahan penghasilan untuk bisa sewa printer dan biaya pengiriman KTI ke Jakarta.

Beberapa bulan kemudian, ada surat dari panita lomba KTI Jakarta. Karya tulis beliau terpilih masuk dalam final lomba karya tulis ilmiah tingkat nasional. Seluruh biaya transportasi dan akomodasi di tanggung oleh panitia. Beliau bersyukur kepada Allah karena telah diberikan kesempatan mewakili Aceh dan mengalahkan ribuan karya tulis lainnya. Beliau berangkatdari Aceh dengan pesawat terbang, dan baru kali itulah beliau bisa menikmati perjalanan ke jakarta dengan pesawat terbang. Gratis pula!.

Dari cerita teman saya di Aceh itu, saya menjadi termotivasi untuk selalu meneliti di kelas saya sendiri. Persoalan biaya tak pernah saya pikirkan. Sebab yang dibutuhkan guru dalam meneliti adalah semangat untuk memperbaiki diri dan semangat instropeksi diri untuk memperbaiki kualitas pembelajarannya di kelas. Manfaat yang bisa dipetik dari hasil penelitian itu jelas diri guru itu sendiri, dan juga peserta didik yang menjadi asuhannya. Persoalan dana, janganlah jadi kendala. Sebab, bila motivasi kita tinggi, persoalan dana itu pasti bisa kita atasi asalkan kita kreatif dan tidak pernah menyerah serta berputus asa.

Semoga para guru kita mau meneliti di kelasnya sendiri, dan tidak terus menerus mengeluh merenungi nasibnya yang bergaji guru Oemar Bakri. Guru harus menjadi motivator bagi para anak didiknya.

Salam Blogger Persahabatan

Omjay

Kenapa Guru Di Daerah Pedesaan Sulit Meneliti?