Seandainya banyak Guru Menulis Buku

1302654867547091489

 

Siang itu saya begitu gembira sekali. Mengapa? Buku yang telah lama saya tulis dengan teman kuliah saya pak Dedi Dwitagama akhirnya dicetak ulang untuk kesekian kalinya. Buku yang kami dedikasikan untuk para guru di Indonesia agar mampu meneliti. Meneliti di kelasnya sendiri dengan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

 


Adanya sertifikasi guru dalam jabatan membuat para guru harus rajin menulis dan meneliti. Sebab dalam sertifikasi guru ada kompetensi yang meminta guru untuk mencantumkan karya tulisnya. Bisa berupa buku, modul atau laporan PTK yang ditulis sendiri oleh guru tersebut.

 


Keinginan menulis buku itu muncul ketika saya telah mengikuti Lomba Karya Tulis Tingkat Nasional tahun 2006 di Yogyakarta. Lomba ini dilaksanakan oleh direktorat pendidikan luar biasa Depdiknas. Pada saat itu saya belum tahu bagaimana cara menulis buku yang baik tentang penelitian. Hampir semua buku yang ada di toko buku tentang penelitian rata-rata ditulis oleh dosen atau para pengamat pendidikan. Jarang sekali ada guru yang menulis buku tentang penelitian. Apalagi penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang mengajak guru untuk meneliti di kelasnya sendiri. Memperbaiki cara mengajarnya dan meningkatkan kualitas pendidikan melalui PTK. Akhirnya gayung pun bersambut. Teman kuliah saya (Pak dedi Dwitagama) di pascasarjana UNJ bersetuju untuk bekerjasama membuat buku PTK.

 


Untuk menulis buku sendiri diperlukan semangat yang luar biasa. Saya dan teman saya pak Dedi mengalami bagaimana sulitnya kami membagi waktu dan bertemu dengan para ahli pendidikan. Sebagai contoh, untuk bisa bertemu dengan Prof. Dr. Arief Rachman, dan Prof. Dr. Conny R Semiawan saja kami perlu merencanakan dan melakukan kesepakatan kapan bisa bertemu. Belum lagi setelah itu, kamipun harus pula mengambil teori-teori yang relevan tentang buku yang akan kami tulis. Kelihatannya memang sulit, tapi kami menikmati prosesnya. Menulis buku tidak sekali jadi. Diperlukan kecermatan dalam menuliskannya. Perlu waktu setahun sampai tuntas.

 


Kini, di awal tahun 2012 buku kami dicetak ulang oleh penerbit indeks. Ada sebuah keinginan dari kami agar banyak guru juga aktif menulis buku. Dengan guru menulis buku akan banyak manfaat yang didapat. Selain menambah pemasukan isi kantong, Keilmuan dan profesionalitas guru menjadi terjaga. Guru pun semakin mahir dalam mengemas materi pelajaran. Sehingga lebih mantap dalam melakukan pembelajaran di sekolah.

 


Tak ada kebahagiaan tanpa pengorbanan. Dibutuhkan pengorbanan waktu, tenaga, pikiran dan juga sedikit dana dalam menulis buku. Bila guru mau menulis buku, maka dibutuhkan komitmen yang kuat dalam menulis. Gerakan menulis selembar setiap hari sudah harus kita canangkan. Tak perlu panjang-panjang. Hanya satu lembar. Isinya cerita tentang pengalaman mengajar hari ini. Kesulitan yang dihadapi dan bagaimana solusinya yang akan kita terapkan. Catatlah hasilnya lalu rundingkan dengan teman sejawat.

 


Masalah dalam pembelajaran pasti ada. Setiap guru pasti mengalaminya. Hanya tidak semua guru pandai menuliskan pengalamannya itu dalam bentuk tulisan. Semua harus berproses. Persis seperti kita belajar bicara waktu kecil. Tak ada karya tulis tanpa tindakan menulis. Tak ada buku dibuat kalau kita tak berbuat. Karena itu lekaslah menulis buku. Bila guru mau menulis buku, maka namanya akan terukir manis dalam katalog perpustakaan. Itulah warisan yang sangat berharga untuk anak cucu kita bila kita tiada.

 

 


Harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan kebajikan. Menulislah untuk berbagi kebajikan. Jangan biarkan ilmu para guru tenggelam dalam air dan tak pernah muncul ke permukaan karena diam saja dan tak mau bergerak. Bergerak dan berbuat dalam tindakan nyata adalah dengan mulai menulis.

 

 


Kalau guru bisa menulis dengan baik, guru tidak perlu mengeluarkan banyak uang untuk membayar ongkos menulis sebuah karya tulis untuk kenaikan pangkat. Banyak sekali keuntungan menulis bagi guru, kalau guru mau menulis. Betapa sayangnya, kalau guru malas, atau tidak bisa menulis. Padahal, kata Dylan Thomas "Menulislah, karena hanya itu cara untuk membuat dunia tahu apa yang engkau pikirkan"

 

 


Semoga banyak guru di tahun ini yang menulis buku. Menuangkan apa yang ada dalam pikirannya untuk kemajuan dunia pendidikan kita. Pendidikan di Indonesia harus lebih maju dari negara lainnya. Caranya? Perbanyaklah menulis buku yang bermutu, dan rajinlah membaca!

 

Salam Blogger Persahabatan

Omjay

http://wijayalabs.com

Seandainya banyak Guru Menulis Buku

Iklan

One response to “Seandainya banyak Guru Menulis Buku

  1. …seandainya banyak guru menulis buku, tentu banyak lahir bibit muda penulis baru…
    salam kenal pak