Monthly Archives: September 2012

Blog Urip Guru Kimia

Berikut beberapa video menarik terkait pendidikan dan pengajaran generasi masa kini, tentang nasib dirinya, pengamatannya, pengharapannya dan juga pengalaman rekan-rekan guru dipelosok dunia. Jika kita mencari video terkait judul tulisan saya ini dengan menggunakan kata kunci “21st century education” pada youtube dan kita memahami maksud isi video tersebut kemudian menarik garis ke diri kita, apa yang Anda pikirkan untuk diri Anda? Di manakah posisi koordinat kita saat ini, saat abad 21? Silahkan simak video yang saya ambil taut-kaitkan dari Youtube.

Lihat pos aslinya 70 kata lagi

Iklan

Blog Urip Guru Kimia

Menyisipkan sebuah animasi dengan format flash swf sekarang bukanlah hal sulit, karena kalau belum biasa bisa mencari caranya di internet. Namun ada animasi yang menggunakan format lain, misalnya berformat dcr, file animasi format dcr ini dibuat dengan menggunakan Adobe Macromedia Director dan biasanya bisa dibuka dengan menggunakan shockwave player yang merupakan tambahan dari browser. Karena saya sudah mendownload beberapa file animasi kimia dengan format dcr itu akhirnya terpikir untuk bisa bagaimana cara menyisipkannya dalam tayangan/presentasi. Setelah saya ubek-ubek di google dengan kata kunci menggunakan Bahasa Indonesia ternyata sulit didapat, namun dengan menggunakan Bahasa Inggris itu diperoleh seketika.

Ok berikut pengalaman saya yang akan saya jadikan tutorial, dan semoga tidak malah membingungkan pembaca yang juga ingin melakukan hal yang sama seperti yang sudah saya praktikkan.

Lihat pos aslinya 370 kata lagi

Menjadi Guru Kreatif

Mari Menjadi Guru Kreatif

Mari Menjadi Guru Kreatif

Menjadi guru kreatif ternyata tidak mudah. Perlu perjuangan dan pengorbanan. Bahkan mungkin anda akan mengalami sebuah penderitaan dahulu yang akan membawa anda kepada puncak kebahagiaan dan ketenaran. Saya banyak belajar dari Prof. Dr. H. Arief Rachman, bapak sekaligus guru saya di sekolah Labschool. Beliau adalah tokoh pendidkan dan contoh guru kreatif yang ada di Indonesia. Dari tangan beliaulah lahir tenaga-tenaga pendidik seperti saya yang berusaha keras untuk menjadi guru kreatif.

Guru kreatif tidak pernah puas dengan apa yang ada pada dirinya. Dia terus belajar, dan belajar sampai ajal menjemputnya. Baginya, menemukan sesuatu yang baru dalam pembelajaran adalah sesuatu hal yang harus dicari dan kemudian dibagikan kepada teman-teman guru lainnya. Tak mudah memang, tapi disinilah tantangannya bila kita mau terus instropeksi diri dalam pembelajaran yang kita lakukan di sekolah.

Selalu berusaha terus-menerus memperbaiki kinerjanya sebagai guru dengan terus melakukan penelitian tindakan kelas (PTK) dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajarannya.

Saya teringat pesan pak Arif, bila anda ingin menjadi guru yang kreatif, maka anda harus berhenti untuk menjadi guru “pengeluh”. Berusahalah semaksimal mungkin memberdayakan apa yang dimiliki sekolah untuk anda gunakan dalam menunjang pembelajaran anda.  Bila kemudian anda menemukan alat bantu atau media pembelajaran yang membantu anda menyampaikan materi ke otak siswa dengan cepat, maka harus anda buktikan media itu dengan terlebih dahulu dengan melakukan PTK.

Dengan melakukan PTK anda akan menjadi guru yang kreatif. Di dalam PTK itulah akan anda dapatkan refleksi diri yang anda lakukan melalui siklus-siklus yang anda lakukan sendiri sampai anda merasa yakin bahwa yang anda lakukan telah berhasil.

Penelitian kualitatif cenderung berbasis kata, misalnya hasil wawancara, sedangkan penelitian kuantitatif cenderung berbasis angka misalnya skor uji. Anda dapat pelajari hal itu dengan membaca buku Action Research di ruang Kelas karya Vivienne Baumfield, dkk. Buku ini dapat anda dapatkan dengan mudah di toko buku Gramedia atau bisa juga anda pesan langsung ke penerbit Indeks.

Action Research di ruang kelas atau PTK merupakan panduan penting untuk semua guru kreatif yang tertarik melakukan riset di dalam ruang kelas. Penulisnya memberikan gambaran pendekatan yang mudah diikuti sehingga dapat membantu guru meningkatkan praktik profesional mereka dan mengevaluasi kebutuhan murid di sekolah. Terdapat banyak kiat praktis dan contoh proyek riset tindakan nyata dari berbagai tipe sekolah yang menjadikan PTK sebagai buku wajib bagi guru dan mahasiswa keguruan.

Menjadi guru kreatif harus mampu meneliti. Meneliti di kelasnya sendiri sehingga kualitas pembelajarannya semakin berkualitas. Banyak masalah yang bisa anda teliti, banyak masalah yang harus dicari segera solusinya. Melalui PTK anda akan mendapatkan rahasia-rahasia baru dalam khasanah ilmu pendidikan yang dapat anda kembangkan menjadi sesuatu yang berarti dalam kegiatan pembelajaran. Setiap kegiatan yang anda lakukan harus dicatat dan diamati benar bersama teman sejawat sehingga apa yang anda lakukan dalam PTK benar-benar solusi baru dalam pembelajaran di sekolah yang berujung kepada peningkatan mutu pendidikan.

Jangan biarkan diri anda menjadi guru pengeluh dan terus mengeluh karena anda tidak kreatif. Mari ciptakan khasanah ilmu pengetahuan baru dengan menjadi guru kreatif. Kalau bukan kita sendiri yang menjadi guru kreatif, lalu siapa lagi?

Yuk Menjadi Guru Kreatif

Salam Blogger Persahabatan

Omjay

http://wijayalabs.com

Menjadi Guru Kreatif

Pemanfaatan Sumber Belajar di Sekolah

Pengertian pemanfaatan adalah aktivitas menggunakan proses dan sumber belajar (Seels and Richey, 1994:14). Menurut Clark, ada lima aspek pemanfaatan yaitu: Media sebagai teknologi mesin; Media sebagai tutor ; Media sebagai pengubah perilaku ; Media sebagai pemotivasi belajar ; Media sebagai alat berpikir dan memecahkan masalah.

Pengertian sumber belajar adalah apa saja (orang, bahan, alat, teknik, lingkungan) yang mendukung serta memungkinkan memberikan kemudahan dan kelancaran terjadinya belajar, serta memungkinkan terjadinya interaksi antara pemelajar dengan sumber belajar tersebut.

Kegiatan belajar, sering dikaitkan dengan kegiatan mengajar. Begitu eratnya kaitan itu, sehingga keduanya sulit dipisahkan. Dalam percapakan sehari-hari kita secara spontan sering mengucapkan istilah kegiatan “belajar-mengajar” menjadi satu kesatuan. Bahwa kedua kegiatan tersebut berkaitan erat adalah benar. Namun, benarkah bahwa agar terjadi kegiatan belajar harus selalu ada orang yang mengajar? Benar pulakah bahwa setiap kegiatan mengajar pasti selalu menghasilkan kegiatan belajar? Jawabannya: belum tentu. Artinya, dalam setiap kegiatan belajar tidak harus selalu ada orang yang mengajar.

Kegiatan belajar bisa saja terjadi walaupun tidak ada kegiatan mengajar. Begitu pula sebaliknya, kegiatan mengajar tidak selalu dapat menghasilkan kegiatan belajar. Ketika Anda menjelaskan pelajaran di depan kelas misalnya, memang terjadi kegiatan mengajar. Tetapi, dalam kegiatan itu tak ada jaminan telah terjadi kegiatan belajar pada setiap siswa yang Anda ajar. Kegiatan mengajar dikatakan berhasil hanya apabila dapat mengakibatkan / menghasilkan kegiatan belajar pada diri siswa. Jadi, sebenarnya hakekat guru mengajar adalah usaha guru untuk membuat siswa belajar. Dengan kata lain, mengajar merupakan upaya menciptakan kondisi agar terjadi kegiatan belajar.

Pembelajaran lebih menggambarkan usaha guru untuk membuat belajar para siswanya. Kegiatan pembelajaran tidak akan berarti jika tidak menghasilkan kegiatan belajar pada para siswanya. Kegiatan belajar hanya bisa berhasil jika si belajar secara aktif mengalami sendiri proses belajar. Seorang guru tidak dapat “mewakili” belajar untuk siswanya. Seorang siswa belum dapat dikatakan telah belajar hanya karena ia sedang berada dalam satu ruangan dengan guru yang sedang mengajar.

Ada satu syarat mutlak yang harus dipenuhi agar terjadi kegiatan belajar. Syarat itu adalah adanya interaksi antara pebelajar dengan sumber belajar. Jadi, belajar hanya terjadi jika dan hanya jika terjadi interaksi antara pebelajar dengan sumber belajar. Tanpa terpenuhi syarat itu, mustahil kegiatan belajar akan terjadi.

Pekerjaan mengajar tidak selalu harus diartikan sebagai kegiatan menyajikan materi pelajaran. Meskipun menyajikan materi pelajaran memang merupakan bagian dari kegiatan mengajar, tetapi bukanlah satu-satunya. Masih banyak cara lain yang dapat dilakukan guru untuk membuat siswa belajar. Peran yang seharusnya dilakukan guru adalah mengusahakan agar setiap siswa dapat berinteraksi secara aktif dengan berbagai sumber belajar yang ada. Guru hanya merupakan salah satu (bukan satu-satunya) sumber belajar bagi siswa. Selain guru, masih banyak lagi sumber-sumber belajar yang lain. Lalu, apa sebenarnya sumber belajar itu?

Menurut Asosiasi Teknologi Komunikasi Pendidikan (AECT), sumber belajar adalah semua sumber (baik berupa data, orang atau benda) yang dapat digunakan untuk memberi fasilitas (kemudahan) belajar bagi siswa. Sumber belajar itu meliputi pesan, orang, bahan, peralatan, teknik dan lingkungan.

Ditinjau dari asal usulnya, sumber belajar dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: sumber belajar yang dirancang yaitu sumber belajar yang memang sengaja dibuat untuk tujuan pembelajaran. Contohnya adalah : buku pelajaran, modul, program audio, transparansi (OHT). Jenis sumber belajar yang kedua adalah sumber belajar yang sudah tersedia dan tinggal dimanfaatkan yaitu sumber belajar yang tidak secara khusus dirancang untuk keperluan pembelajaran, namun dapat ditemukan, dipilih dan dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Contohnya: pejabat pemerintah, tenaga ahli, pemuka agama, olahragawan, kebun binatang, waduk, museum, film, sawah, terminal, surat kabar, siaran televisi, dan masih banyak lagi yang lain. Jadi, begitu banyaknya sumber belajar yang ada di seputar kita yang semua itu dapat kita manfaatkan untuk keperluan belajar. Sekali lagi, guru hanya merupakan salah satu dari sekian banyak sumber belajar yang ada. Bahkan guru hanya salah satu sumber belajar yang berupa orang, selain petugas perpustakaan, petugas laboratorium, tokoh-tokoh masyarakat, tenaga ahli/terampil, tokoh agama, dll.

Oleh karena setiap anak merupakan individu yang unik (berbeda satu sama lain), maka sedapat mungkin guru memberikan perlakuan yang sesuai dengan karakteristik masing-masing siswa. Dengan begitu maka diharapkan kegiatan mengajar benar-benar membuahkan kegiatan belajar pada diri siswa. Hal ini dapat dilakukan kalau guru berusaha menggunakan berbagai sumber belajar secara bervariasi dan memberikan kesempatan sebanyak mungkin kepada siswa untuk selalu berinteraksi dengan sumber-sumber belajar yang ada.

Hal yang perlu diperhatian agar bisa terjadi kegiatan belajar pada siswa, maka siswa harus secara aktif melakukan interaksi dengan berbagai sumber belajar. Perubahan perilaku sebagai hasil belajar hanya mungkin terjadi jika ada interaksi antara siswa dengan sumber-sumber belajar. Dan inilah yang seharusnya diusahakan oleh setiap pembelajar dalam kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu para guru dituntut untuk kraetif dalam menciptak sumber belajar berupa media yang dapat digunakan oleh siswa dalam memahami materi pelajaran

Peran guru adalah menyediakan, menunjukkan, membimbing dan memotivasi siswa agar mereka dapat berinteraksi dengan berbagai sumber belajar yang ada. Bukan hanya sumber belajar yang berupa orang, melainkan juga sumber-sumber belajar yang lain. Bukan hanya sumber belajar yang sengaja dirancang khusus, melainkan juga sumber belajar yang tinggal dimanfaatkan. Semua sumber belajar itu dapat kita temukan, kita pilih dan kita manfaatkan sebagai sumber belajar bagi siswa kita.

Wujud interaksi antara siswa dengan sumber belajar dapat bermacam-macam. Cara belajar dengan mendengarkan ceramah dari guru memang merupakan salah satu wujud interaksi tersebut. Namun belajar hanya dengan mendengarkan saja, patut diragukan efektifitasnya. Belajar hanya akan efektif jika si belajar diberikan banyak kesempatan untuk melakukan sesuatu, melalui multi-metode dan multi-media.

Melalui berbagai metode dan media pembelajaran, siswa akan dapat banyak berinteraksi secara aktif dengan memanfaatkan segala potensi yang dimiliki siswa.

Namun sangat disayangkan, belum semua guru yang ada di sekolah memanfaatkan sumber belajar ini secara optimal. Masih banyak guru yang mengandalkan cara mengajar dengan paradigma lama, dimana guru merasa satu-satunya sumber belajar bagi siswa. Inilah yang terjadi pada kebanyakan guru-guru di sekolah kita. Pemanfaatan sumber belajar lainnya dirasakan kurang. Sumber belajar yang sudah tersedia dan tinggal dimanfaatkan ( learning resources by utilization), juga belum sepenuhnya dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Padahal banyak sumber belajar yang dapat dimanfatkan oleh guru guna membantu proses pembelajarannya. Contohnya, dalam film Laskar Pelangi. Ibu muslimah tidak hanya sebagai pusat sumber belajar berupa orang, tetapi juga dapat mengarahkan siswanya untuk melihat sumber belajar yang lain, seperti Langit yang kebetulan ada pelanginya, Laut yang luas, dan suasana kedaerahan Belitong dijadikan juga sumber belajar

Pengamatan penulis di beberapa sekolah, termasuk sekolah tempat penulis bekerja, pemanfaatan sumber belajar di sekolah baik yang dirancang maupun yang tinggal dimanfaatkan belum berjalan secara baik dan optimal. Masih banyak guru yang masih menggunakan paradigma lama dan belum sepenuhnya percaya akan adanya sumber belajar lainnya yang dapat membantu guru dalam menyampaikan materi pelajarannya. Guru pun kurang kreatif dalam membuat sendiri media pembelajarannya, sehingga ketiadaan dana sering menjadi kambing hitamnya.

Solusinya adalah yuk kita manfaatkan fasilitas yang ada dengan kreativitas seorang guru. Jangan pernah mengeluh jadi guru hanya karena fasilitas yang kurang memadai. Justru di saat fasilitas yang serba terbatas itulah kita menjadi orang yang kreatif.

 

Salam Blogger Persahabatan

Omjay

http://wijayalabs.com

Pemanfaatan Sumber Belajar di Sekolah

Bagaimana Media Sosial Berpartisipasi Aktif Terhadap Perubahan Iklim yang Tidak Menentu?

Senin, 24 September 2012, saya bersama blogger lainnya diundang untuk mengikuti diskusi “Climate Change” pada event Sosial Global Summit 2012 UNDP di Menara Thamrin Lantai 7. Mbak Mubarika dari idblognetwork (IBN) menelepon saya untuk mengikuti acara ini. Tepat pukul 18.00 wib kami semua sudah berada di ruang pertemuan yang memang dipersiapkan untuk acara diskusi. Mas Tomi dan Mbak Tina dari UNDP Indonesia menyambut kami dengan sangat ramah.

Diskusi yang dipimpin oleh Mas Anjari sebagai moderator

Diskusi yang dipimpin oleh Mas Anjari sebagai moderator

Ada 10 orang blogger terpilih untuk mengikuti acara diskusi ini, yaitu:

  1. Ahmad Gener Wakulu, Mr.
  2. Amril TG, Mr.
  3. Anjari Umarjianto, Mr.
  4. Bradley Marissa, Mr.
  5. Eka Situmorang, Ms.
  6. Fadhli, Mr.
  7. Irayani Queencyputeri, Ms.
  8. Luvie Melati, Ms.
  9. Mira Sahid, Ms.
  10. Wijaya Kusumah, Mr.
Foto Bareng usai Diskusi di Kantor UNDP

Foto Bareng usai Diskusi di Kantor UNDP

Mas Anjari Umarjianto (blogger gaek yang terkenal) bertugas sebagai moderator. Beliau mengajak kami semua yang hadir untuk berdiskusi tentang perubahan iklim yang saat ini sudah mulai tak menentu. Kemudian Mas Tomi selaku tuan rumah menjelaskan sedikit tentang inti pertemuan ini, dan memutarkan kami sebuah film pendek sambutan Helen Clark dari UNDP Administrator tentang isu yang sedang berkembang saat ini.

Mas Anjari membuka diskusi dengan sebuah pertanyaan, “apa sesungguhnya yang terjadi tentang global warming?”. Apa yang harus dilakukan dengan keadaan ini? Hal itu telah menjadi pembicaraan hangat dalam kegiatan Global Social Good Summit 2012. Masing-masing BLOGGER, dan undangan yang hadir diminta pendapatnya oleh mas Anjari, dan terjadilah diskusi ringan mengenai hal ini. Teman-teman blogger mengungkapkan pendapatnya. Tak terkecuali saya sendiri yang diminta pendapatnya sebagai seorang pendidik.

Mas Tomi Soetipto dari Communication Analyst UNDP Indonesia memberikan presentasinya. Intinya adalah Perubahan iklim di depan kita. Satu Planet milik bersama. Bumi sudah tak seperti dulu lagi. Kita harus menjaga alam ini dengan baik. Hampir di setiap daerah di Indonesia terasakan perubahan iklim yang tak menentu ini. Bagi saya yang bekerja di jakarta, dan tinggal di Bekasi sangat merasakan udara yang begitu panas, dan mulai sulitnya air karena kemarau panjang.

UNDP berpendapat bahwa manusia sebagai penjaga dan penghuni bumi harus memanfaatkan alam dan lingkungannya secara bertanggungjawab.
Pertumbuhan dan pembangunan di bidang ekonomi harus diiringi dengan keterlangsungan alam lingkungan dan manusia demi masa depan. Mas Tomi memutar video di Youtube yang cukup menarik, dan mendapatkan tanggapan positif dari teman-teman blogger yang hadir.

Isu yang dilemparkan oleh negera adidaya ke negara berkembang seperti Indonesia faktanya memang terjadi. Kita merasakan perubahan cuaca di Asia Pasifik yang begitu ekstrim. Ada 950 juta rakyat miskin hidup di asia asifik. Sekitar 45 % bencana alam terjadi di Asia pasifik. Intensitas bencana alam, wabah penyakit meningkat tajam di 10 tahun terakhir ini. Akibatnya adalah masyarakat miskin paling rentan terkena dampaknya dalam perubahan iklim yang tak menentu ini. Mereka akan sensitif kehilangan mata pencaharian, dan  kekurangan bahan pangan. Hal itu disampaikan mas Tomi dari UNDP di sela-sela acara diskusi.

Berbagai pendapat bermunculan dari teman-teman blogger. Banyak hal yang dilontarkan dalam diskusi ini. Intinya adalah kita harus mulai dari diri sendiri, dan segeralah memulai menanam pohon di lingkungan kita masing-masing. Kampanye gerakan penghijauan harus digalakkan kembali untuk mengatasi global warming. Upaya pencegahan dengan “meditasi dan adaptasi” harus dilakukan. Di sinilah media sosial berperan untuk mempublikasikannya. Banyak orang harus diberikan informasi penting tentang terjadinya perubahan iklim ini dengan sebuah program yang fun dan menarik. Kreativitas menjadi kunci apa yang harus dilakukan.

Berpikir ulang, melakukan penyadaran kepada semua orang, kebijakan publik dari pemerintah, dan bagaimana menciptakan kampanye yang fun menjadi diskusi hangat kami malam itu. Semua yang hadir menyadari kalau semua itu harus dimulai dari diri sendiri. Perlu ada kegiatan atau aksi yang kreatif untuk mengajak orang lain menjaga lingkungannya masing-masing seperti tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi pemakaian kantong plastik, gerakan menanam pohon, gerakan 1000 langkah di setiap perusahaan, dan mengurangi pemakaian kendaraan bermotor, dan lain-lain.

Masih banyak hal lain sebenarnya yang disampaikan oleh teman-teman blogger dalam diskusi ini. Hal menarik disampaikan oleh mbak Eka Situmorang bahwa harus ada perubahan  paradigma, tentukan market untuk siapa program ini dilakukan, cara yang dipakai, dan kampanye apa yang tepat sehingga semakin banyak orang yang membicarakannya. Semakin banyak arsip di google, dan semakin banyak aksi nyata yang membuat orang peduli dengan perubahan iklim yang tak menentu ini.

Mbak Eka Menyampaikan pendapatnya

Mbak Eka Menyampaikan pendapatnya

Peran blogger tentu sangat penting, dan mereka diharapkan mampu menulis tentang perubahan iklim ini dengan “kacamatanya” masing-masing. Sayapun menjadi teringat dengan blog murid saya  Rasydan di http://www.rasydanlabs.co.cc/ dalam blog pribadinya. Di tahun 2070, diperkirakan sangat sulit sekali didapatkan air bila kita tak menjaganya dengan baik. Sayapun melihat dengan mata kepala saya sendiri, tentang bahaya abrasi ketika kita tak melakukan penghijauan di pinggiran pantai. Banyak daratan atau kampung di Muara Gembong yang kini hilang ditelan bumi.

Salam Blogger Persahabatan

Omjay

http://wijayalabs.com

Bagaimana Media Sosial Berpartisipasi Aktif Terhadap Perubahan Iklim yang Tidak Menentu?

Padepokan Budi Rahardjo

Satu hal yang menarik untuk diperhatikan dalam menuliskan blog adalah waktu untuk mempublikasikannya, menampilkannya. Ternyata weekend bukan waktu yang terbaik. Sebagian besar pembaca blog mengakses blog dari kantor atau sekolah (kampus). Artinya pada weekend akan sedikit yang membaca.

Meskipun tulisan di blog tidak hilang, hari berikutnya orang akan lebih tertarik untuk membaca apa yang muncul hari ini. Blog yang kemarin muncul akan dibaca nanti. Itu kalau tidak terlupa atau terdesak oleh kegiatan lain yang lebih prioritas. Akibatnya, banyak orang yang lupa membaca tulisan kita. Orang yang benar-benar mengikuti kita saja yang akan menyempatkan diri untuk membaca tulisan yang kita tampilkan kemarin atau dua hari lalu.

Yang paling menarik mungkin menampilkan tulisan hari Senin menjelang siang. Pas orang-orang sedang istirahat di kantor, tiba-tiba muncul tulisan kita (yang sudah kita persiapkan sebelumnya). Langsung dibaca oleh mereka. Jadi timing itu penting.

Saya sendiri tidak menggunakan strategi ini – posting pada waktu tertentu –…

Lihat pos aslinya 42 kata lagi

Yudhi Hendro Berbagi Cerita

Bertemu wartawan adalah kesempatan yang tak boleh disia-siakan. Apalagi wartawan dari media cetak nasional “ Kompas” yang oplahnya sekitar 500 ribu eksemplar per hari. Terbanyak pembacanya dibandingkan media cetak lainnya di nusantara.

Kesempatan itu datang tiga hari lalu (20/9) saat wartawan Kompas, Aloysius Budi Kurniawan atau biasa dipanggil Wawan berkunjung ke lokasi kerja. Wartawan Kompas biro Jogja tersebut tergabung dalam rombongan tamu dari UGM dan Kementerian Keuangan.

Tujuannya melihat pembibitan dan penanaman meranti. Dia satu-satunya wartawan diantara para tamu yang sebelumnya mengikuti workshop di Jogja membahas perkembangan penanaman meranti.

Ada hal menarik dari sang wartawan yang saya amati selama di lapangan. Apa itu?

1. Memotret
Setiap kali singgah di suatu tempat, pasti dia memotret. Kamera lensa panjang tidak pernah lepas dari pundaknya. Mobil berjajar dan siap berangkat dipotret, waktu pagi ketika tamu lainnya masih di dalam ruang tamu, dia sudah sibuk memotret pepohonan. Apalagi waktu di lokasi pembibitan dan penanaman…

Lihat pos aslinya 437 kata lagi