Bagaimana Media Sosial Berpartisipasi Aktif Terhadap Perubahan Iklim yang Tidak Menentu?

Senin, 24 September 2012, saya bersama blogger lainnya diundang untuk mengikuti diskusi “Climate Change” pada event Sosial Global Summit 2012 UNDP di Menara Thamrin Lantai 7. Mbak Mubarika dari idblognetwork (IBN) menelepon saya untuk mengikuti acara ini. Tepat pukul 18.00 wib kami semua sudah berada di ruang pertemuan yang memang dipersiapkan untuk acara diskusi. Mas Tomi dan Mbak Tina dari UNDP Indonesia menyambut kami dengan sangat ramah.

Diskusi yang dipimpin oleh Mas Anjari sebagai moderator

Diskusi yang dipimpin oleh Mas Anjari sebagai moderator

Ada 10 orang blogger terpilih untuk mengikuti acara diskusi ini, yaitu:

  1. Ahmad Gener Wakulu, Mr.
  2. Amril TG, Mr.
  3. Anjari Umarjianto, Mr.
  4. Bradley Marissa, Mr.
  5. Eka Situmorang, Ms.
  6. Fadhli, Mr.
  7. Irayani Queencyputeri, Ms.
  8. Luvie Melati, Ms.
  9. Mira Sahid, Ms.
  10. Wijaya Kusumah, Mr.
Foto Bareng usai Diskusi di Kantor UNDP

Foto Bareng usai Diskusi di Kantor UNDP

Mas Anjari Umarjianto (blogger gaek yang terkenal) bertugas sebagai moderator. Beliau mengajak kami semua yang hadir untuk berdiskusi tentang perubahan iklim yang saat ini sudah mulai tak menentu. Kemudian Mas Tomi selaku tuan rumah menjelaskan sedikit tentang inti pertemuan ini, dan memutarkan kami sebuah film pendek sambutan Helen Clark dari UNDP Administrator tentang isu yang sedang berkembang saat ini.

Mas Anjari membuka diskusi dengan sebuah pertanyaan, “apa sesungguhnya yang terjadi tentang global warming?”. Apa yang harus dilakukan dengan keadaan ini? Hal itu telah menjadi pembicaraan hangat dalam kegiatan Global Social Good Summit 2012. Masing-masing BLOGGER, dan undangan yang hadir diminta pendapatnya oleh mas Anjari, dan terjadilah diskusi ringan mengenai hal ini. Teman-teman blogger mengungkapkan pendapatnya. Tak terkecuali saya sendiri yang diminta pendapatnya sebagai seorang pendidik.

Mas Tomi Soetipto dari Communication Analyst UNDP Indonesia memberikan presentasinya. Intinya adalah Perubahan iklim di depan kita. Satu Planet milik bersama. Bumi sudah tak seperti dulu lagi. Kita harus menjaga alam ini dengan baik. Hampir di setiap daerah di Indonesia terasakan perubahan iklim yang tak menentu ini. Bagi saya yang bekerja di jakarta, dan tinggal di Bekasi sangat merasakan udara yang begitu panas, dan mulai sulitnya air karena kemarau panjang.

UNDP berpendapat bahwa manusia sebagai penjaga dan penghuni bumi harus memanfaatkan alam dan lingkungannya secara bertanggungjawab.
Pertumbuhan dan pembangunan di bidang ekonomi harus diiringi dengan keterlangsungan alam lingkungan dan manusia demi masa depan. Mas Tomi memutar video di Youtube yang cukup menarik, dan mendapatkan tanggapan positif dari teman-teman blogger yang hadir.

Isu yang dilemparkan oleh negera adidaya ke negara berkembang seperti Indonesia faktanya memang terjadi. Kita merasakan perubahan cuaca di Asia Pasifik yang begitu ekstrim. Ada 950 juta rakyat miskin hidup di asia asifik. Sekitar 45 % bencana alam terjadi di Asia pasifik. Intensitas bencana alam, wabah penyakit meningkat tajam di 10 tahun terakhir ini. Akibatnya adalah masyarakat miskin paling rentan terkena dampaknya dalam perubahan iklim yang tak menentu ini. Mereka akan sensitif kehilangan mata pencaharian, dan  kekurangan bahan pangan. Hal itu disampaikan mas Tomi dari UNDP di sela-sela acara diskusi.

Berbagai pendapat bermunculan dari teman-teman blogger. Banyak hal yang dilontarkan dalam diskusi ini. Intinya adalah kita harus mulai dari diri sendiri, dan segeralah memulai menanam pohon di lingkungan kita masing-masing. Kampanye gerakan penghijauan harus digalakkan kembali untuk mengatasi global warming. Upaya pencegahan dengan “meditasi dan adaptasi” harus dilakukan. Di sinilah media sosial berperan untuk mempublikasikannya. Banyak orang harus diberikan informasi penting tentang terjadinya perubahan iklim ini dengan sebuah program yang fun dan menarik. Kreativitas menjadi kunci apa yang harus dilakukan.

Berpikir ulang, melakukan penyadaran kepada semua orang, kebijakan publik dari pemerintah, dan bagaimana menciptakan kampanye yang fun menjadi diskusi hangat kami malam itu. Semua yang hadir menyadari kalau semua itu harus dimulai dari diri sendiri. Perlu ada kegiatan atau aksi yang kreatif untuk mengajak orang lain menjaga lingkungannya masing-masing seperti tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi pemakaian kantong plastik, gerakan menanam pohon, gerakan 1000 langkah di setiap perusahaan, dan mengurangi pemakaian kendaraan bermotor, dan lain-lain.

Masih banyak hal lain sebenarnya yang disampaikan oleh teman-teman blogger dalam diskusi ini. Hal menarik disampaikan oleh mbak Eka Situmorang bahwa harus ada perubahan  paradigma, tentukan market untuk siapa program ini dilakukan, cara yang dipakai, dan kampanye apa yang tepat sehingga semakin banyak orang yang membicarakannya. Semakin banyak arsip di google, dan semakin banyak aksi nyata yang membuat orang peduli dengan perubahan iklim yang tak menentu ini.

Mbak Eka Menyampaikan pendapatnya

Mbak Eka Menyampaikan pendapatnya

Peran blogger tentu sangat penting, dan mereka diharapkan mampu menulis tentang perubahan iklim ini dengan “kacamatanya” masing-masing. Sayapun menjadi teringat dengan blog murid saya  Rasydan di http://www.rasydanlabs.co.cc/ dalam blog pribadinya. Di tahun 2070, diperkirakan sangat sulit sekali didapatkan air bila kita tak menjaganya dengan baik. Sayapun melihat dengan mata kepala saya sendiri, tentang bahaya abrasi ketika kita tak melakukan penghijauan di pinggiran pantai. Banyak daratan atau kampung di Muara Gembong yang kini hilang ditelan bumi.

Salam Blogger Persahabatan

Omjay

http://wijayalabs.com

Bagaimana Media Sosial Berpartisipasi Aktif Terhadap Perubahan Iklim yang Tidak Menentu?

Iklan

Komentar ditutup.