Ketika Naskah Bukumu Ditolak Penerbit

Sambil menunggu dijemput oleh ibu kris budiyani (teman mengajar di smp labschool), saya menuliskan ini.

197143_163860443668176_100001326649134_332276_112624_n
Seorang penulis baru merasa sedih ketika naskah bukunya ditolak oleh penerbit. Padahal dia merasa yakin bahwa naskah bukunya sangat bagus dan akan menjadi buku best seller. Tapi apa mau dikata, tak ada satu penerbitpun yang mau menerbitkan bukunya. Sementara untuk mencetak sendiri, dia tak punya modal untuk itu.

Saya tersenyum-senyum saja membaca curhatnya di email saya. Bagi saya ditolak penerbit adalah hal biasa. Sebab otak penerbit adalah bisnis dan kita harus mampu meyakinkan mereka bahwa buku yang kita buat mempunyai nilai jual.

Saya teringat kembali ketika naskah buku penelitian tindakan kelas (ptk) yang saya buat bersama pak dedi ditolak beberapa penerbit. Alasannya kami bukan dosen dan dianggap tidak kredibel menulis buku itu. Namun siapa sangka setelah kami membongkar habis naskah buku kami, dan diterbitkan oleh penerbit buku indeks, buku ptk kami ternyata banyak disukai pembaca. Bahkan kami sempat keliling indonesia menularkan virus ptk agar teman-teman guru senang meneliti dan meningkatkan kualitas pembelajarannya di kelas.

Jadi, bila naskah bukumu ditolak penerbit, coba baca kembali naskahmu dan perbaiki kembali dengan selera pasar dan penerbit. Bila itu anda lakukan, niscaya buku anda akan diterbitkan. Lalu jangan kaget kalau kemudian bukumu diterima oleh pasar dan pembaca setiamu.

Menjadi penulis buku itu tidaklah sulit. Hal yang sulit justru memasarkan buku. Oleh karena itulah saya selalu bekerjasama dengan penerbit untuk memasarkannya. Hitung-hitung bagi-bagi rezekilah! Kecuali bila anda sudah seperti penulis senior mas budiman hakim atau golagong yang bisa memasarkan bukunya sendiri.

Sampai saat ini saya selalu percaya bahwa buku yang bagus itu adalah sebuah buku yang mampu mencerahkan pembaca, dan diterbitkan di saat yang tepat. Terkadang timing atau waktu memegang peranan penting dalam memasarkan sebuah buku.

Seringkali kita melihat sebuah buku diluncurkan dengan undangan yang ramai namun kemudian menyepi ketika pasar tak menyambutnya dengan baik.

Ada juga keajaiban. Sebuah buku tidak diluncurkan dengan keramaian, tetapi justru malah buku itu diterima pasar dengan baik.

Kekuatan jaringan media sosial saat ini adalah salah satu cara memasarkan dan mempublikasikan sebuah buku.

Akhirnya, karena mobil ibu kris budiyani yang menjemput saya di tol jatibening sudah datang, saya akhiri tulisan saya dengan sebuah pesan. Teruslah menulis setiap hari dan jangan pantang menyerah ketika naskah bukumu ditolak oleh penerbit.


Buku Omjay yang keren

Salam blogger persahabatan
Omjay
http://wijayalabs.com

Ketika Naskah Bukumu Ditolak Penerbit

Iklan

Komentar ditutup.