Monthly Archives: Juni 2013

Layanan Video Sharing

ZERO by ZERO

Youtube adalah salah satu layanan “video sharing” paling populer di internet, layanan milik google yang baru-baru ini telah meluncurkan channel khusus bernama “Youtube Edu”  khusus diperuntukkan menayangkan video-video dengan konten edukasi, mengeliminir dan memfilter video dan advertising yang kontra produktif terhadap edukasi. Suatu inovasi yang mendahului provider pesaingnya.
Guru-guru bisa memanfaatkan ini sebagai sarana edukasi audio visual, memanfaatkan untuk sarana pembelajaran interaktif dan menarik bagi peserta didik. Bagaimana dengan kendala koneksi internet? Youtube sudah menyiapkan tindakannya, tidak lama lagi youtube bisa akses tanpa buffering, tayang video yang mulus tanpa jeda akan bisa dengan segera kita nikmati.

Lihat pos aslinya 202 kata lagi

Tips menghadapi anak ‘nakal’ dan ‘bandel’

Blog Agus Sampurno

Kalau saja guru tahu latar belakang masalah perilaku muridnya, maka ia akan merasa iba dan kasihan

Saya pribadi tidak setju dengan judul diatas karena cap atau label nakal mudah sekali diberikan guru jika ia merasa tidak sanggup mengendalikan perilaku siswanya. Siswa yang nakal kebanyakan akan menanggung cap tersebut selama tahun-tahun ia berada di sekolah yang sama. Jika seorang anak mendapat cap nakal di tahun pertama ia bersekolah maka lazimnya cap itu akan melekat terus.

Uniknya ukuran nakal tiap guru berbeda-beda. Bagi seorang guru yang mengajar di sekolah yang berbasiskan agama maka semua anak ‘jalanan’ atau yang hidupnya di jalan akan dikatakan sebagai anak nakal. Tidak heran karena di sekolah tsb segala perkataan anak dijaga dan diperhatikan. Anak tidak boleh berkata kasar dan sebagainya. Sedangkan untuk anak yang hidup di jalan, bahasa sehari-hari mereka memang kata-kata yang menurut kita ‘kasar’ dan tidak pada tempatnya.

Dengan demikian mari sebagai pendidik mulai untuk…

Lihat pos aslinya 419 kata lagi

Guru Berprestasi : Tidak Ada atau Tidak Mau ?

Siti Mugi Rahayu

 

inSh“Jika ingin muridnya pintar, guru harus lebih pintar. Jika ingin gurunya pintar, kepala sekolah harus lebih pintar. Jika ingin kepala sekolah pintar, kepala dinas harus lebih lebih pintar. Sesungguhnya air itu akan mengalir ke bawah dan memengaruhi kualitasnya”, begitulah sepenggal tulisan Pak Johan Wahyudi, seorang guru Bahasa Indonesia dari Sragen dan telah menelurkan 62 buah buku/jurnal/modul dari tulisannya yang berjudul : Sulitnya Mencari Guru Berprestasi di Kompasiana.

Menurut Pak Johan, fenomena yang terjadi sekarang adalah guru-guru tak lagi bergairah untuk mengikuti kompetisi Guru Berprestasi karena apa yang didapat tidak sepadan dari apa yang dikeluarkan. Dengan kata lain, pengorbanan yang dikeluarkan jauh lebih tinggi dari apa yang diperoleh. Masih mending kalau menang, dapat piagam penghargaan atau bisa bertemu presiden, kalau tidak ?

Pengorbanan yang pertama menurut Pak Johan adalah : pengorbanan materi  untuk mempersiapkan dokumen portofolio. Panitia mengharuskan peserta mengumpulkan 3 jenis dokumen rangkap 3, yaitu portofolio…

Lihat pos aslinya 436 kata lagi

Ikatan Profesi Teknologi Pendidikan Indonesia (IPTPI)

seminar iptpi

Ikatan Profesi Teknologi Pendidikan (IPTP) didirikan pada tanggal 27 September 1987. Selanjutnya ikatan profesi ini disempurnakan pada Kongres I yang diadakan pada tanggal 15 Pebruari 1989, bertepatan dengan diselenggarakannya Temu Karya Nasional Teknologi Pendidikan oleh Pusat Antar Universitas untuk Peningkatan Aktivitas Instruksional (PAU-PAI) Universitas Terbuka bekerja sama dengan IPTP. Pada Kongres I itu dikukuhkan berdirinya organisasi profesi dengan penambahan nama Indonesia, sehingga menjadi Ikatan Profesi Teknologi Pendidikan Indonesia (IPTPI), disusun Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, Kode Etik, Logo, dan Pembentukan Pengurus.

Legalisasi organisasi ditunjukkan dengan telah diperolehnya akta pendirian organisasi profesi pada tanggal 7 September 1989 dengan akta nomor 5. Keberadaan organisasi telah didaftarkan ke Direktorat Jenderal Sosial Politik Departemen Dalam Negeri pada tanggal 14 September 1990 dan dengan surat dari Direktur Pembinaan Masyarakat untuk Direktorat Jenderal Sosial Politik telah diterbitkan surat nomor 220/1110 tertanggal 18 September 1990 tentang terdaftarnya keberadaan organisasi IPTPI. IPTPI berkedudukan dan berkantor pusat di Jakarta.

Kongres II IPTPI diadakan di Malang pada tanggal 17-19 Nopember 1992, bertepatan dengan Seminar Nasional dengan tema: Sumbangan Profesi Teknologi Pendidikan untuk Peningkatan Sumber Daya Manusia dalam Pembangunan Jangka Panjang II. Kongres III diadakan di Yogyakarta tanggal 28 Nopember sampai dengan 2 Desember 1995, bertepatan dengan Simposium Pendidikan Jarak Jauh. Sampai dengan Konggres III, IPTPI memiliki delapan cabang yang telah disahkan, yaitu cabang Malang, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Jakarta, Padang, Ujungpandang, dan Tuban. Kongres IV dilaksanakan di Surabaya pada bulan Nopember 1999, bertepatan juga dengan Simposium Pendidikan Jarak Jauh. Dalam Kongres IV di Surabaya, dipilih pengurus baru dan ditetapkan bahwa dalam periode kepengurusan 1999-2004 sekretariat IPTPI berempat di Universitas Negeri Jakara, Kampus A Gedung C, Rawamangun, Jakarta Timur 13220, telepon dan faximile (021) 476867530 dan e-mail: iptpi@yahoo.com. Pada setiap konggres dibahas penyempurnaan organisasi profesi, baik mengenai Angaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, Kode Etik, dan berbagai upaya peningkatan kegiatan organisasi.

IPTPI menjalin kerja sama dengan Universitas Negeri Jakarta, khususnya Jurusan Teknologi Pendidikan pada Fakultas Ilmu Pendidikan dan Pusat Sumber Belajar. Kerja sama itu diwujudkan dengan membentuk bersama suatu lembaga berbadan hukum berbentuk yayasan yang disebut Lembaga Pengembangan Teknologi Kinerja (LPTK) yang merupakan usaha penerapan dan pengabdian masyarakat dari bidang studi dan profesi Teknologi Pendidikan.

IPTPI merupakan suatu organisasi profesi yang berasaskan Pancasila dan bertujuan menghimpun sumber daya untuk menyumbangkan tenaga dan pikiran bagi pengembangan Teknologi Pendidikan sebagai suatu teori, lapangan/bidang, dan profesi di tanah air bagi kemanfatan kemajuan bangsa Indonesia.

Program kerja jangka panjang IPTPI adalah sebagai berikut

  1. Menyebarluaskan konsep, prinsip, dan prosedur Teknologi Pendidikan ke seluruh lembaga pendidikan dan pelatihan di Indonesia.
  2. Menyebarkan aplikasi Teknologi Pendidikan kepada masyarakat dengan maksud agar tiap warga negara memperoleh pengajaran seumur hidup, secara tepat dan cepat, yang mudah dicerna dan diresapi, yang memikat, pada tempat dan waktu yang tersebar, dengan memanfaatkan teknologi.
  3. Mengusahakan dan membina identitas profesi Teknologi Pendidikan sebagai suatu lapangan pengabdian dengan menunjukkan kepemimpinan dalam melaksanakan fungsi, tanggung jawab, jabatan, dan kompetensi sehingga memperoleh pengakuan dan pengukuhan dari pemerintah dan masyarakat.
  4. Bekerja sama dengan lembaga pendidikan dan pelatihan dalam menyelesaikan masalah pendidikan dan pembelajaran dengan melalui dan menggunakan Teknologi Pendidikan.
  5. Bekerja sama dengan lembaga profesi dan pendidikan tinggi di dalam maupun luar negeri dalam rangka meningkatkan pengetahuan, pengalaman, dan kinerja, serta menghindarkan adanya tumpang tindih dan pertentangan kepentingan (Miarso, 2004).

Sebagai organisasi yang relatif masih muda, profesi Teknologi Pendidikan masih belum banyak dikenal dan belum mendapat pengukuhan secara meluas, termasuk dari pemerintah. Untuk itu IPTPI senantiasa bertindak proaktif dalam penyelenggaraan pertemuan profesi tahunan dengan mendukung atau bekerja sama dengan lembaga lain, khususnya Pustekkom Dikbud yang telah membuka jalan perlunya tenaga ahli Teknologi Pendidikan. Pertemuan tersebut kecuali untuk membuka wawasan dan meningkatkan kemampuan, juga untuk memasyarakatkan keberadaan profesi.

Sumber: buku IPTPI

Ide Itu Murah

Padepokan Budi Rahardjo

Salah satu poin yang saya sampaikan pada presentasi saya kemarin adalah ide itu murah. Ternyata tidak mudah untuk meyakinkan orang-orang bahwa ide itu murah.

Bagi saya yang mahal adalah mewujudkan ide itu menjadi kenyataan, dalam bentuk produk atau layanan. Ini yang mahal. Ketika kita mencoba mewujudkan ide tersebut maka mulailah muncul hambatan, masalah, tantangan, dan yang sejenisnya. Kalau kata orang sono, “the devils are in details”. Begitulah.

Sebagai contoh, saya punya ide untuk membuat buku yang membahas bahwa “ide itu murah”. Nah gampang kan menghasilkan ide. Yang susah – dan mahal – adalah betulan membuat buku tersebut. Kalau saya yang membuat buku itu mungkin butuh waktu tahunan. Berapa biaya yang saya butuhkan untuk membuat buku tersebut? Nah itu yang mahal.

Berapa banyak orang yang punya ide membuat buku tetapi tidak menjadi kenyataan? Saya yakin banyak! Mungkin Anda juga termasuk yang ingin buat buku tetapi belum terlaksana? 🙂

Mencari ide…

Lihat pos aslinya 191 kata lagi