Kemenduaan Manusia

KEMENDUAAN MANUSIA

Oleh: Nusa Putra

Robin Hood adalah pahlawan. Meski kerjaannya merampok. Tetapi ia rampok spesialis. Merampok raja, keluarga raja dan para pejabat yang korup, dan membagikan hasil rampokannya pada orang-orang miskin. Itulah sebabnya masyarakat terbelah menyikapi Robin Hood. Banyak yang membelanya karena menolong orang miskin, tidak sedikit yang menghujat dan memusuhinya karena pekerjaannya sebagai rampok. Berbeda dengan Robin Hood yang perampok tetapi dermawan, ada Joker.

Joker adalah manusia sangat jahat. Ia kejam, raja tega dan mampu lakukan semua bentuk kejahatan. Ia membunuh manusia semudah membunuh kecoa. Tak pernah langsung membunuh, harus disiksa habis. Agar korbannya sungguh merasa sakit, menderita, marah, sakit hati, kesel, tak berdaya dan memohon kebaikan hati Joker. Joker sungguh seorang penakluk yang curang, licik, menghalalkan segala cara. Tetapi apakah tak ada secuil pun kebaikan pada diri Joker? Pastilah ada. Joker selalu kasihan pada Batman yang bekerja keras memberantas kejahatan. Joker sedih karena Batman terlalu letih dan kurang memperhatikan diri sendiri. Tak ada manusia, bahkan makluk yang sepenuhnya jahat, tanpa kebaikan. Inilah takdir semua makhluk, termasuk manusia.

Berdasarkan sejumlah besar penelitian terbukti bahwa semua psikopat, pembunuh sadis yang cenderung melakukan pembunuhan berantai, terutama yang suka membantai anak-anak, adalah para penyayang anak. Mereka sangat sayang dan memperhatikan anak-anak. Rasa sayang mereka pada anak-anaklah yang membuat anak-anak suka dan dekat dengan mereka.

Begitupun para psikopat yang berprofesi dalam bidang kesehatan seperti dokter dan perawat. Mereka dikenal sangat baik terhadap pasien atau kliennya. Namun, di balik semua kebaikan itu, mereka adalah pembunuh sadis. Dengan sadis membunuh para kliennya dan menikmati pemandangan mengerikan saat para klien itu meregang nyawa.

Tokoh-tokoh yang disebutkan di atas, apakah mereka setengah fiktif, atau fiktif seperti Robin Hood dan Joker, atau yang nyata seperti para psikopat itu menunjukkan sisi ekstrim dalam kepribadian manusia. Mereka seakan memiliki lebih dari satu kepribadian yang saling bertentangan.

Dalam psikologi dikenal sejumlah istilah untuk menunjukkan keberbedaan atau pertentangan kepribadian itu. Ada istilah keterbelahan atau keterpecahan pribadi, dan kepribadian ganda. Kasus paling terkenal terkait dengan kepribadian ganda pastilah Sybil.

Sybil adalah nama samaran dari Shirley Ardel Mason (1923-1998), wanita yang dipercaya memiliki enam belas kepribadian. Buku dan film yang memuat kisah hidupnya sangat laku. Sybil membawa kesadaran baru tentang rumitnya manusia. Betapa sangat sulit memahami manusia.

Sebenarnya bukan para psikopat atau orang-orang seperti Sybil saja yang masuk kategori bermasalah karena tidak normal, memiliki kelainan dalam pribadinya. Cobalah tilik dan cermati diri kita masing-masing. Bukankah setiap kita atau kita semua dalam menjalani kehidupan keseharian yang penuh masalah, tantangan dan godaan juga seringkali menjadi tidak konsisten dengan satu bentuk atau tipe kepribadian. Sangat sulit konsisten dengan satu kepribadian dan melaksanakan satu sistem nilai yang kita yakini dan pedomani.

Seringkali dalam berbagai situasi sulit, situasi batas, situasi yang memperhadapkan kita pada pilihan-pilihan yang yang sulit, kita jadi compang-camping, centang prenang, gak karu-karuan. Tak jarang kita menjilat ludah sendiri, menabrak apa yang pernah diucapkan, bertindak sebaliknya dari yang kita ajarkan. Seringkali kita jadi merasa asing dengan diri sendiri. Tiba-tiba merasa aneh dengan diri sendiri. Kerap kali, kita jadi merasa tak kenal pada diri sendiri.

Beberapa di antara kita malah menikmati situasi bertukar atau berpindah pribadi. Demi keselamatan atau keuntungan pribadi, untuk dapatkan jabatan atau keuntungan materi. Mengubah prinsip hidup seperti menukar sendal jepit. Tragisnya, menutupi ketidakkonsistenan dengan mengatakan bahwa dirinya adalah orang yang fleksibel atau adaptif. Padahal aslinya ialah bunglon yang berhati benalu. Menjadi manusia bendera yang sangat tergantung arah angin.

Tidak sedikit di antara kita yang hidup dengan satu wajah dan sekian topeng. Bahkan ada yang keseluruhannya adalah topeng yang terus diganti, sesuai dengan tuntutan keadaan. Tampilan dan topeng yang dikenakan disesuaikan dengan kepentingan sesaat, dan tujuan-tujuan jangka pendek.

Kita menjadi nano-nano penuh warna, warna yang selalu berubah. Karena terlalu sering berubah, sampai kita sendiri menjadi bingung sendiri. Siapakah kita sebenarnya?

Dalam psikologi dibuat sejumlah indikator untuk menentukan kapan seseorang masih dianggap normal, dan mulai tidak normal terkait dengan sejumlah perubahan pribadi, sikap dan sifat. Karena pada kenyataannya perubahan merupakan keniscayaan dalam hidup manusia sesuai dengan perkembangan usia. Perubahan-perubahan seperti apa yang dianggap normal dan seharusnya, dan perubahan-perubahan seperti apa yang bisa membuat seseorang bisa dikategorikan tidak normal, bahkan gila.

Hidup memang bukan jalan mendatar dan lurus lempang seperti jalan tol. Hidup lebih menyerupai samodra yang terus bergolak dan bergejolak. Masa tenang sangat terbatas waktunya, selebihnya adalah gelombang yang tak kenal henti. Wajar bila kita terus berubah sebagai ikhtiar untuk bertahan dan tumbuh mekar. Aku yang dulu merangkak pastilah berbeda dengan aku yang telah bisa berlari. Aku yang dulu SD tidak sama dengan aku yang kini sarjana. Namun, mestinya masih ada yang tetap bertahan dalam keakuan itu, sesuatu yang membuat orang mengenali kita sebagai aku yang unik, aku yang berbeda dari aku-aku yang lain.

Meski wajah kita bisa diubah total dengan operasi pelastik, namun ada yang sangat sulit atau tak bisa berubah, yang membuat orang-orang masih mengenali kita. Inilah fakta manusia. Ada yang berubah dan ada yang tetap. Dalam gejolak perubahan itulah, dari luar kita bisa terlihat sangat berbeda. Sungguh ini masalah yang sangat pelik.

Sigmund Freud berupaya menjelaskan akar perubahan itu. Ia mencoba menguraikan bahwa manusia itu terdiri dari alam bawah sadar (id), ego yang sadar, dan super ego yang dapat disebut sebagai pedoman dan kontrol. Alam bawah sadar itu buta, liar dan semaunya. Alam bawah sadar itu itu ibarat kuda liar. Ego adalah sais atau pengendalinya. Sementara super ego membuat aturan dan batasan yang harus dipatuhi ego. Dinamika dan diaklektika antara id, ego, dan super ego memunculkan perubahan, bahkan perubahan-perubahan yang tak terduga. Boleh jadi dialektika inilah yang mendorong kemenduaan manusia.

Tidak semua orang bisa menerima penjelasan Freud. Itulah sebabnya muncul berbagai reaksi dan respon atas pemikiran Freud, termasuk dari muridnya C. G. Jung. Reaksi juga muncul dari kaum behavioris dan humanis. Kaum behavioris sangat menekankan pengaruh nyaris mutlak dari lingkungan, sementara kaum humanis lebih menekankan kemampuan manusia untuk mengaktualisasikan diri.

  1. R. Rodgers salah seorang pelopor humanisme meyakini bahwa setiap makhluk, terutama manusia, memiliki dorongan alami untuk terus tumbuh mekar, mengaktualisasikan diri secara terus menerus. Pastilah dorongan itu memicu dan memacu perubahan. Perubahan-perubahan itu sangat potensial membuat manusia mengalami dan menjalani kemenduaan.

Sungguh manusia adalah problema, jelas para filsuf. Sejumlah filsuf lain menegaskan manusia adalah misteri, teka-teki tak bertepi. Hakikinya manusia adalah makhluk multidimensi. Manusia bukan sekadar kumpulan terstruktur daging, tulang, syaraf, hormon, enzim, dan kotoran hasil mekanisme metabolisme. Manusia menjadi manusia karena jiwa dan roh. Seluruh tubuhnya adalah sintesis akurat dari biologi, fisika, dan kimia. Namun, bukan hanya itu. Melampaui itu semua.

Kemultidimensian manusia justru membuatnya rumit dan tak mudah dimengerti. Tidak seperti batuan planet yang hanya terdiri dari satu dimensi, dan simpanse yang tak memiliki neokorteks yaitu otak berfikir. Karena itu manusia adalah satu-satunya makhluk yang melampaui. Melampaui alam, bahkan melampaui iblis dan malaikat. Manusia adalah makhluk istimewa. Injil menyebutnya citra Tuhan, dan Al Quran menegaskan bahwa manusia adalah perwakilan Tuhan, khalifah di bumi.

Penjumlahan atau agregasi dari semua fakta tentang manusia itu justru yang membuat manusia itu adalah samodra tak bertepi, gunung yang tak bisa didaki, danau yang tak bisa diseberangi, dan hutan yang tak bisa dimasuki. Manusia bukan sekadar buku terbuka, tetapi buku terbuka yang terus ditulis.

Longoklah malaikat atau iblis. Malaikat hanya berzikir membesarkan nama Allah dan mematuhi semua perintahNya. Sebaliknya iblis adalah pembangkang yang mendurhakai Allah. Iblis hanya berbuat kejahatan, menggoda manusia agar ikut bersamanya menempati pemukiman tetapnya yaitu neraka. Malaikat hanya kebaikan, dan iblis hanya kejahatan.

Manusia bisa menjadi sangat patuh, hamba yang penuh pengabdian pada Allah, melampaui malaikat. Namun bisa menjadi sebaliknya, pembangkang yang melampaui iblis, yang membuat iblis terheran-heran atas kejahatan yang mampu dilakukannya.

Tidak mengejutkan bila ada filsuf yang yakin bahwa manusia adalah makhluk paradoks. Ada kekuatan saling bertentangan dalam dirinya. Manusia adalah pertarungan tak bertepi antara kebaikan dan kejahatan. Manusia tak pernah sepenuhnya putih atau seluruhnya hitam. Ia sekaligus putih dan hitam, baur campur, penuh rona, warna warni.

Barangkali, manusia itu lebih mirip yin-yang. Ada titik putih dalam samudra hitam, dan ada titik hitam dalam bentangan putih. Batas-batasnya sering kali tak pernah jelas. Hanya bisa ditegaskan dalam ceramah-ceramah agama, pidato kenegaraan, dan penjelasan teoritis saat kuliah. Namun tidak dalam hidup nyata.

Hidup nyata menempatkan manusia dalam pilihan-pilihan yang tidak selalu mudah. Pilihan-pilihan terkadang memojokkan manusia untuk melakukan tindakan yang senyatanya bertentangan dengan hati nurani. Manusia diposisikan mirip pemilik buah simalakama.

Hanya sedikit manusia yang mampu bertahan tetap konsisten dengan prinsip-prinsip utama dan menampilkan topeng yang sama terus menerus. Seringkali berbagai topeng harus dipergunakan secara bergantian untuk tetap bisa selamat.

Banyak orang yang lebih memilih selamat daripada tetap berada dalam kebenaran. Karena bertahan dalam dan untuk kebenaran pasti sangat beresiko. Bisa kehilangan nyawa, bahkan dengan cara yang tragis dan mengerikan.

Karena itu, banyak orang berpendapat bahwa kemenduaan manusia merupakan keniscyaan dalam mengarungi hidup yang memang tidak pernah mudah dan sederhana. Akibatnya tak pernah mudah menjadi manusia. Ada dorongan kuat dari dalam diri, sekaligus godaan dari luar diri yang mendamparkannya pada sejumlah kesulitan yang tak selalu mudah mencari solusinya. Barangkali inilah takdir manusia, semua manusia tanpa kecuali.

Jika begitu keadaannya, siapakah manusia sejati? Barangkali,

MANUSIA SEJATI ADALAH YANG KONSISTEN DALAM KEBENARAN.

Komentar ditutup.