Gagal Bukan Berarti Kiamat

Gagal Bukan Berarti Kiamat

Sangat wajar jika orang ingin sukses dan berhasil. Lumrah pula jika orang tak ingin kalah, apalagi gagal. Harus berhasil dalam studi, pekerjaan, sampai berhasil dalam kisah asmara. Padahal, dalam hidup ini hampir tak ada sesuatu yang berjalan mulus-mulus saja. Begitu pula perjalanan hidup kita, selalu ada hambatan, kendala, serta halangan.

Calon mahasiswa Universitas Sam Ratulangi, Manado, Sulawesi Utara, yang diterima melalui Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri jalur undangan antre untuk daftar ulang di kampus tersebut, beberapa waktu lalu.

KOMPAS/YUNIADHI AGUNGCalon mahasiswa Universitas Sam Ratulangi, Manado, Sulawesi Utara, yang diterima melalui Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri jalur undangan antre untuk daftar ulang di kampus tersebut, beberapa waktu lalu.

Sedih, galau, kecewa, marah, sebal, jengkel, kesal, dan pusing pasti muncul ketika menemui kegagalan dan menghadapi kekalahan. Wajar jika semua perasaan negatif itu mengemuka karena banyak orang tidak pernah mempersiapkan diri menerima kekalahan dan kegagalan.

Dalam hidup anak muda, kekalahan dan kegagalan sering kali terjadi. Contoh paling gampang, gagal meraih peringkat atas, gagal masuk sekolah favorit, gagal melanjutkan studi ke perguruan tinggi impian, sampai kalah dalam kompetisi.

Mereka yang lebih berpengalaman akan bilang, gagal ketika muda justru bagus karena masih punya energi banyak untuk bangkit. Masih pula memiliki orangtua dan guru yang mendampingi untuk membantu kita mengatasi kegagalan.

Banyak buku tentang kisah hidup orang sukses yang mengisahkan jatuh bangun orang tersebut. Kesulitan demi kesulitan datang mendera, tetapi bagi mereka kekalahan dan kegagalan adalah batu pijakan menuju kemenangan akhir. Seperti kata Robert Collier dalam buku The Secret of The Ages, mereka mampu bangkit dengan menang dari kejatuhan.

Kisah paling terkenal mengatasi kegagalan adalah kisah Thomas Alva Edison kala berusaha menemukan lampu pijar. Dia ribuan kali tak berhasil, tetapi dia tak pernah menyebutnya kegagalan. Dia malah merasa sudah menemukan ribuan cara yang tidak akan berhasil.

Coba lagi

Ketika menemui kegagalan dan kekalahan, ada beberapa jurus jitu mengatasinya. Segera bangkit, berusaha lebih keras lagi, hingga mencoba lagi. Pantang menyerah, tidak mudah putus asa, dan terus maju. Seperti pengalaman Kristoforus Bagas Romualdi, mahasiswa Jurusan Sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Salah satu kegagalan yang membekas di dirinya adalah ketika artikel karyanya gagal dimuat di media cetak.

”Gagal berarti saya harus mencoba lagi, tentu dengan meningkatkan kualitas tulisan saya agar dapat dimuat di media massa,” kata Bagas.

Begitu pula pengalaman Ahmad Azwar Batubara, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Universitas Islam Negeri Sumatera Utara. Bagi dia, bukan hidup jika sebagai manusia tidak mengalami kegagalan. Dia pernah gagal mengikuti ujian seleksi masuk universitas negeri. Dia pun sangat kecewa dan tak ingin melanjutkan studi.

”Namun, Yang Mahakuasa memberikan jalan dan akhirnya saya diterima di universitas negeri di kota saya. Ini adalah pilihan terbaik buat saya. Di situ, saya baru tahu kegagalan akan berbuah manis jika kita sabar menjalani prosesnya,” ujar Ahmad.

Simak juga pengalaman Dwi Susanti, mahasiswa Jurusan Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto. Dia dua kali gagal ujian seleksi masuk PTN, yaitu jalur SNMPTN dan SBMPTN, serta satu kali di seleksi masuk Sekolah Tinggi. Setelah itu, Dwi segera bangkit untuk mengikuti jalur seleksi lain masuk PTN. Dwi pun mengikuti tiga jalur seleksi masuk Ujian Masuk Bersama Perguruan Tinggi (UMB-PT), Mandiri Universitas Negeri Jakarta (UNJ), dan Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) Unsoed.

Usaha pantang menyerah itu membuahkan hasil dan dia pun lolos di ketiga jalur tersebut. ”Kegagalan mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang kuat, mendorong untuk terus maju. Kegagalan bukan berarti kita harus berhenti di situ, tetapi harus bangkit,” ujar Dwi yakin.

Dukungan keluarga

Kala menemui kegagalan, beban akan lebih ringan jika ada yang mendampingi, misalnya keluarga. Penghiburan dan dukungan mereka menjadi bahan bakar semangat untuk bangkit dan bertarung lagi.

Nasikhotun Nadiroh, mahasiswa Program Studi Ilmu Pendidikan Dasar Islam, Fakultas Tarbiyah, Institut Agama Islam Negeri Purwokerto, Purwokerto, bersyukur memiliki orangtua yang memberi motivasi ketika dia gagal seleksi masuk universitas ternama. Padahal, dia ikut beragam seleksi demi kuliah di universitas impian. ”Kedua orangtua saya menyadarkan untuk tetap melanjutkan kuliah meski bukan di universitas ternama,” ujarnya.

Jadi, kalah dan gagal bukan perkara besar selama kita mampu memelihara semangat, percaya diri, dan tak goyah menggapai impian. Kekalahan dan kegagalan justru membuat kita makin bijak, bertambah kuat, dan makin pandai. Setuju? (TIA)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 12 Februari 2016, di halaman 25 dengan judul “Gagal Bukan Berarti Kiamat”.

http://print.kompas.com/baca/2016/02/12/Gagal-Bukan-Berarti-Kiamat

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s