Daily Archives: September 1, 2016

Terpuruknya TIK di Indonesia

http://wijayalabs.com/2016/08/01/terpuruknya-ict-dan-kompetensi-edukasi-indonesia/

Tahun 2016 ini susunan sepuluh orang terkaya didunia tidak banyak berubah, lima diantaranya masih dikuasai oleh para milyuner IT, yaitu : Bill Gates (Microsoft), Carlos Slim (Telecom), Jeff Bezos (Amazon), Mark Suckerberg (Facebook), dan Larry Ellison (Oracle). Bisa diartikan setengah orang terkaya didunia adalah dari orang yang mendulang uang didunia IT.

Dua puluh tahun terakhir ini dunia berubah oleh IT, mengakhiri era Modernisasi menjadi era Informasi. IT menjadi sumber kekayaan yang baru, sumber minyak yang baru, sumber emas yang baru dan sumber kekuasaan yang baru. Sumber daya kekayaan dan kekuasaan yang baru ini sudah tidak lagi menggunakan Sumber Daya Alam, seperti yang bangsa ini bangga-banggakan dengan kekayaan alamanya. Sumber daya yang satu ini hanya mengandalkan satu hal, otak kita sendiri… Brainware.

Adopsi Alat Digital untuk Pembelajaran Masih Rendah

JAKARTA, KOMPAS.com – Saat ini Indonesia masih terhitung ada pada tingkat rendah dalam mengadopsi alat digital. Namun, beberapa daerah telah menunjukan usaha cukup signifikan dan patut diapresiasi dalam penyebarannya.

Demikian menurut Craig Hansen, ahli pendidikan dan pembicara pada konferensi ‘Global Educational Supplies and Solutions’ Indonesia (GESS) yang akan digelar pada 14 – 16 September 2016 di Jakarta Convention Center. Craig akan membahas virtual learning di bersama para pelopor Google Educator Group lainnya, seperti Steven Sutantro dan Gusman Adi.

“Beberapa daerah memang sudah menunjukan kemajuan upayanya dan perlu diapresiasi. Sekolah dan para guru juga mulai berinventasi pada ide-ide kreatif yang akan meningkatkan penggunaan alat digital sehingga anggaran tidak terpengaruh secara drastis,” ujar Craig, yang juga ahli TIK dan e-learning, Kamis (31/8/2016).

Sementara itu, menurut Steven Sutranto, pendiri Google Educator Group Jakarta Barat, agar pendidikan digital bertumbuh subur di Indonesia diperlukan infrastruktur sangat stabil dan sumber daya manusia (SDM) yang mendukung. Untuk itu, banyak hal harus diperbaiki dalam sistem pendidikan di Indonesia.

“Potensi yang dimiliki Indonesia supaya dapat memetik manfaat pendidikan digital sangatlah besar dan pada saatnya akan memperbaiki kualitas pendidikan itu sendiri,” ujarnya.

Beberapa sinyal positif bahwa Indonesia telah merangkul penggunaan alat-alat digital salah satunya adalah penggunaan komputer yang sudah semakin meluas. Saat ini pun semakin banyak institusi memulai pendekatan bring-your-own-device dan menyediakan akses internet.

“Bahkan, Pemerintah Indonesia juga telah mempunyai ujian berskala nasional berbasis komputer dan penilaian dilakukan secara online,” ujar Hedy Lim, pengajar di Springfield School Jakarta, yang akan mempresentasikan penggunaan Ipad di kelas pada GESS nanti.

Sebagai pameran dan konferensi akbar pendidikan tingkat Asia Tenggara, GESS Indonesia memang mengumpulkan para pemerhati pendidikan dari dalam dan luar negeri untuk menjelaskan tantangan pendidikan digital dan peluang Indonesia bersamaan dengan China,  India, Brasil dan Amerika Serikat untuk kategori produk mobile learning pada 2017. Berdasarkan laporan Ambient Insight, diperkirakan pasar mobile learning global akan mencapai 12,2 miliar dollar AS dalam dua tahun ke depan.

Sorotan lain yang menarik dari GESS Indonesia tahun ini adalah presentasi mengenai ‘Create CyberSchool proyek IoT (internet of things) yang diharapkan menjadi dasar model MOOC, yaitu suatu pembelajaran yang menekankan penciptaan, kreativitas, otonomi dan jaringan sosial, dan pada akhirnya meningkatkan proses belajar-mengajar.

http://edukasi.kompas.com/read/2016/08/31/21202221/adopsi.alat.digital.untuk.pembelajaran.masih.rendah

Penulis : Latief
Editor : Latief

Pembelajaran Digital

 
 
KOMPAS.com
— Saat ini, kemajuan dunia teknologi tak terelakkan lagi. Era digital seakan “meresap”, mau tidak mau, ke sendi-sendi kehidupan kita.
 
Berita media massa, pembayaran transaksi, aplikasi penunjang kerja, dan sebagainya dapat diakses dengan mudah via telepon pintar atau smartphone yang kita genggam.
 
Untuk dunia pendidikan, khususnya bagi sekolah, penggunaan gadget (gawai) di kalangan pendidik ataupun siswa tentu semakin mudah dilihat. Penyesuaian untuk penerapannya, agar fungsinya positif, pun perlu persiapan yang baik dan matang.
 
Oleh karena itu, untuk menghadapi laju era digital yang kian deras, Penerbit Grasindo, Pesona Edu, dan Samsung berkolaborasi menyelenggarakan “Seminar Mempersiapkan Sekolah Memasuki Era Pembelajaran Digital” yang diadakan di Bentara Budaya Jakarta (BBJ), Rabu (31/8/2016).
 
Acara seminar ini dihadiri oleh Marketing Manager Kompas Gramedia Agustinus Harsono, Manager Education and Government Samsung Indonesia Banu Afwan Pribadi, Chief Marketing Officer Pesona Edu, Ira Anindita, dan Waka Kurikulum SD Yos Sudarso Batam Didiek Dwi A.
 
Dalam pemaparannya, Harsono mengatakan bahwa barang digital, termasuk buku digital, berkembang dengan cepat. Oleh karena itu, hal-hal pokok dalam pembelajaran sebaiknya dibuat menjadi digital.
 
“Barang digital, termasuk buku digital, itu perkembangannya sangat cepat dan nyaris tidak dapat diikuti oleh dunia pendidikan. Hal-hal yang pokok harus dibuat menjadi digital, bukan pengayaan lagi,” kata Harsono.
 
“Buku pokok dibuat menjadi digital. Dengan demikian, siswa bisa belajar dengan memakai tablet karena semua ada situ. Dengan catatan, safety (keselamatan dan keamanan) menjadi kunci,” ujarnya.
 
Adapun yang menjadi pilot project penerapan sekolah digital ini ialah SD Yos Sudarso Batam, Kepulauan Riau, dan SD Santa Theresia I Pangkal Pinang, Bangka Belitung, yang berada di bawah naungan Yayasan Tunas Karya.
 
Didiek mengatakan, penerapan pembelajaran digital ini membutuhkan persiapan dan sosialisasi yang matang.
 
“Sekolah mulai menerapkan pembelajaran digital mulai tahun ajaran sekarang, 2016-2017. Kami memulainya dari jenjang kelas IV. Sebelumnya, kami melakukan sosialisasi, baik kepada orangtua siswa maupun guru-guru,” ujar Didiek.
 
“Selain itu, kami melakukan psikotes terhadap siswa untuk mengetahui kondisi emosi dan intelektual dari siswa agar bisa mengikuti kelas media digital. Tak lupa, pelatihan terhadap guru pun dilakukan. Sejauh ini, respons orangtua dan siswa cukup antusias,” katanya.
 
Media pendukung
 
Dalam praktiknya, untuk pembelajaran digital ini, media yang digunakan ialah tablet. Tablet ini pun telah diatur atau di-setting sedemikian rupa sehingga aman digunakan oleh siswa.
 
“Dalam penerapan penggunaan tablet, ada geofencing area dan time based. Untuk geofencing area, ketika siswa keluar sekolah, device tabletnya akan terblokir. Jika tablet hilang pun, itu akan terblokir, tidak bisa digunakan. Intinya alat itu akan jadi barang rongsokan,” kata Banu.
 
“Untuk time based, penggunaan fungsi dari tabletnya diatur sesuai dengan ketentuan waktu, misalnya dari pukul 07.00-16.00 sore, Senin hingga Jumat,” katanya.
 
Dalam penyediaan konten edukasi dalam tablet tersebut, Pesona Edu mengambil peran. Selama ini, Pesona Edu memang fokus dalam pengembangan software di bidang pendidikan.
 
“Ketersediaan konten pendidikan sangat penting. Kami mengutamakan konten-konten yang paling butuh untuk disimulasikan. Penyediaan konten butuh proses yang panjang,” kata Ira Anindita, Chief Marketing Officer Pesona Edu.
 
Eris Peserta Seminar Mempersiapkan Sekolah Memasuki Era Pembelajaran Digital mengikuti simulasi proses pembelajaran digital yang berlangsung di Bentara Budaya Jakarta, Rabu (31/8/2016).
 
Dalam acara ini, peserta seminar pun mendapat kesempatan untuk mencoba menggunakan tablet yang dipakai dalam pembelajaran digital. Simulasi dilakukan layaknya ketika proses pembelajaran dilakukan.
 
Secara umum, proses praktiknya berjalan lancar, meski terkendala koneksi internet, dan peserta simulasi dapat mengikuti dengan baik.
 
Dengan adanya sinergi dan kolaborasi, seperti yang dilakukan oleh pihak–pihak yang disebutkan di atas dan juga perhatian pemerintah, pembelajaran digital, tentu dengan persiapan yang matang, dapat dilakukan dengan baik.
 
Hal ini terbukti dengan keberlangsungan pembelajaran digital di SD Yos Sudarso Batam, Kepulauan Riau, dan SD Santa Theresia I Pangkal Pinang, Bangka Belitung.
 
Bisa jadi sekolah-sekolah lain pun kemudian akan menyusul….
 

Kurikulum Mata Pelajaran TIK Terbaru

Usul yang bagus dari pak lucky di group WA KOGTIK:

Om Jay dan teman2 guru, usul saya utk kurikulum TIK adalah kita membatasinya dalam Framework sebagai sasaran dan fokus kita. Mengapa? karena dunia IT itu terlalu luas dan dinamis, tidak mungkin kita guru mengajarkan semuanya, dan tidak mungkin kita juga mengetahui semuanya.

Frameworknya juga hrs fleksibel, tidak hanya mempertimbangkan aplikasi termutakhir, tapi apakah apps itu bisa bertahan lama?

Saya usul framework kita terbagi tiga yaitu:
1. Attitude,
2. Knowledge
3. Skill.

Jadi tiap bab pelajaran kita terbagi tiga bagian, awalnya adalah Attitude apa yg ingin kita capai melalui bab tersebut? Baru Pengetahuannya, dan yang terakhir adalah Skill nya…

Jadi kurikulum walaupun tanpa komputer, seperti sekolah yg tidak memiliki infrastruktur tersebut, asal sudah mencapai Attitude dan Knowledge, dpt dianggap telah mencapai kompetensinya…

Bagian skill terbagi dua, yaitu skill dasar, dan skill pengembangan, sesuai kemampuan guru dan perangkat sekolah masing2…

Dibukunya hanya mencantumkun skill dasar sementara skill pengembangan hanya sebuah konsep apa yg bisa dilakukan. Umpama satu sekolah mengajarkan Pascal, yg lain bisa PHP, Phyton dsbnya…

jadi Kurikulumnya bisa menjangkau mulai dari yg tidak punya infrastruktur dan guru yg tidak punya skill, sampai pada sekolah yg memiliki keduanya dalam tahap lanjut…

Tahap lanjutnya tidak di cover atau akomodasi dalam bukunya, tapi diapresiasi dalam olimpiade TIK tahunan, seperti yg teman2 telah lakukan…

Kerinduan saya adalah sebuah kurikulum TIK yang kuat dalam karakternya. Menanamkan cinta bangsa dan tanah air melalui mencintai produk2 digital dalam negeri. Menghormati hak cipta, dan memotivasi kreativitas. Sebuah karakter yg menolak dijajah secara digital dan mulai mengembangkan teknologi yg sesuai dgn karakter bangsa…

Kita harus menekankan pada pembelajaran karakter dan diri kita sebagai pendidik, bukan pengajar. Karena kalau hanya pengajar, semua informasi internet dan aplikasi daring bisa mengajar… saat mereka telah sempurna dapat melakukannya maka peran para guru pengajar pun hilang.

Karakter dan atitude tidak bisa diajarkan melalui informasi… hanya bisa dididik dan dibentuk oleh manusia yg lain, yaitu kita pàra guru sebagai pendidik…