Adopsi Alat Digital untuk Pembelajaran Masih Rendah

JAKARTA, KOMPAS.com – Saat ini Indonesia masih terhitung ada pada tingkat rendah dalam mengadopsi alat digital. Namun, beberapa daerah telah menunjukan usaha cukup signifikan dan patut diapresiasi dalam penyebarannya.

Demikian menurut Craig Hansen, ahli pendidikan dan pembicara pada konferensi ‘Global Educational Supplies and Solutions’ Indonesia (GESS) yang akan digelar pada 14 – 16 September 2016 di Jakarta Convention Center. Craig akan membahas virtual learning di bersama para pelopor Google Educator Group lainnya, seperti Steven Sutantro dan Gusman Adi.

“Beberapa daerah memang sudah menunjukan kemajuan upayanya dan perlu diapresiasi. Sekolah dan para guru juga mulai berinventasi pada ide-ide kreatif yang akan meningkatkan penggunaan alat digital sehingga anggaran tidak terpengaruh secara drastis,” ujar Craig, yang juga ahli TIK dan e-learning, Kamis (31/8/2016).

Sementara itu, menurut Steven Sutranto, pendiri Google Educator Group Jakarta Barat, agar pendidikan digital bertumbuh subur di Indonesia diperlukan infrastruktur sangat stabil dan sumber daya manusia (SDM) yang mendukung. Untuk itu, banyak hal harus diperbaiki dalam sistem pendidikan di Indonesia.

“Potensi yang dimiliki Indonesia supaya dapat memetik manfaat pendidikan digital sangatlah besar dan pada saatnya akan memperbaiki kualitas pendidikan itu sendiri,” ujarnya.

Beberapa sinyal positif bahwa Indonesia telah merangkul penggunaan alat-alat digital salah satunya adalah penggunaan komputer yang sudah semakin meluas. Saat ini pun semakin banyak institusi memulai pendekatan bring-your-own-device dan menyediakan akses internet.

“Bahkan, Pemerintah Indonesia juga telah mempunyai ujian berskala nasional berbasis komputer dan penilaian dilakukan secara online,” ujar Hedy Lim, pengajar di Springfield School Jakarta, yang akan mempresentasikan penggunaan Ipad di kelas pada GESS nanti.

Sebagai pameran dan konferensi akbar pendidikan tingkat Asia Tenggara, GESS Indonesia memang mengumpulkan para pemerhati pendidikan dari dalam dan luar negeri untuk menjelaskan tantangan pendidikan digital dan peluang Indonesia bersamaan dengan China,  India, Brasil dan Amerika Serikat untuk kategori produk mobile learning pada 2017. Berdasarkan laporan Ambient Insight, diperkirakan pasar mobile learning global akan mencapai 12,2 miliar dollar AS dalam dua tahun ke depan.

Sorotan lain yang menarik dari GESS Indonesia tahun ini adalah presentasi mengenai ‘Create CyberSchool proyek IoT (internet of things) yang diharapkan menjadi dasar model MOOC, yaitu suatu pembelajaran yang menekankan penciptaan, kreativitas, otonomi dan jaringan sosial, dan pada akhirnya meningkatkan proses belajar-mengajar.

http://edukasi.kompas.com/read/2016/08/31/21202221/adopsi.alat.digital.untuk.pembelajaran.masih.rendah

Penulis : Latief
Editor : Latief

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s