Meningkatkan Keterampilan Menulis Melalui Pembuatan Buku Fiksi dan Non Fiksi

makalah-wijaya-kusumah-labschool-1

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang

SMP Labschool Jakarta adalah salah satu sekolah yang ikut  serta mengkampanyekan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) dari kementrian pendidikan dan kebudayaan. Di sekolah kami, siswa tidak hanya sekedar membaca buku, tapi juga sudah mulai menulis dan menerbitkan buku. Sebuah kegiatan yang masih jarang dilakukan di sekolah lainnya.

Hasil pengamatan kami sebagai guru TIK dan Bahasa Indonesia di SMP Labschool Jakarta, rata-rata keterampilan menulis siswa masih rendah. Khususnya siswa-siswa di kelas 7 yang belum tahu cara menulis cerita fiksi dan non fiksi. Lebih dari 85 % (214) siswa dari 252 orang siswa diketahui belum terlatih menulis, sehingga tulisannya masih kurang enak dibaca.

Berdasarkan observasi itu, perlu ditingkatkan dengan cara berlatih menulis. Siswa diajari cara menulis yang sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Guru Bahasa Indonesia, berkolaborasi dengan guru TIK di sekolah. Guru Bahasa Indonesia menyiapkan materi dan tugas-tugasnya, dan guru TIK membantu mewujudkannya dalam kegiatan praktik pengolah kata, dan disain grafis di lab komputer sekolah.

Siswa diajari cara menulis cerita hayalan, dan cerita nyata. Siswa diminta menulis cerita fantasi berbentuk fiksi dan cerita liburan berbentuk non fiksi. Pembuatan buku fiksi dan non fiksi dilakukan dari kumpulan karya siswa yang dikirimkan ke email kelas masing-masing. Pembuatan cover dan background buku dilakukan oleh siswa sendiri.

Dari buku kelas yang diterbitkan, diharapkan siswa dapat menjual karyanya dalam pameran buku yang diadakan di sekolah. Hal ini juga melatih jiwa kewirausahaan siswa dalam memasarkan buku yang sudah dituliskannya. Sekaligus melatih siswa dalam menerapkan 4C, yaitu: communicating, collaborating, critical thinking, dan creativity.

Selain itu, terjadi kolaborasi guru Bahasa Indonesia dengan guru TIK di sekolah dalam mengajari siswa menerapkan pembelajaran tematik yang terintegrasi ke mata pelajaran. Pembuatan buku fiksi dan non fiksi ini diharapkan dapat meningkatkan keterampilan menulis siswa di sekolah. Siswa semakin senang membaca dan menulis. Kegiatan Literasi di sekolah terus dikembangkan dengan kegiatan literasi digital.

 

  1. Rumusan Masalah

Bagaimanakah meningkatkan keterampilan menulis siswa melalui pembuatan buku fiksi dan non fiksi?

 

  1. Tujuan
  2. Meningkatkan keterampilan menulis siswa melalui pembuatan buku cerita fiksi dan non fiksi dengan cara bekerjasama di kelasnya masing-masing
  3. Mengajak siswa menyenangi kegiatan membaca dan menulis
  4. Menjual produk karya tulis mereka ke masyarakat sekolah dalam bentuk pameran karya siswa
  5. Mengkampanyekan gerakan Literasi Sekolah (GLS) dan Literasi Digital

 

  1. Manfaat
  2. Meningkatkan keterampilan menulis dan melatih siswa belajar membuat buku cerita fiksi dan non fiksi di kelas masing-masing.
  3. Membuat siswa mampu berkolaborasi atau bekerjasama dalam tim sekaligus belajar berjualan buku hasil karya siswa dalam pameran buku di sekolah
  4. Membuat siswa menjadi semakin kreatif dan terampil dalam menulis dan mengembangkan imajinasinya.
  5. Bagi guru akan memperkaya khasanah pengetahuan tentang praktik gerakan literasi di sekolah dan mengembangkan kemampuan literasi digital
  6. Bagi sekolah akan menambah jumlah buku di perpustakaan sekolah dengan hasil karya tulis siswa yang original.

 

  1. Dampak
  2. Siswa menjadi gemar membaca buku dan menjadi rajin ke perpustakaan sekolah
  3. Siswa menjadi tahu bahwa menulis buku bukanlah pekerjaan yang sia-sia
  4. Gerakan literasi sekolah (GLS) dan digital literasi semakin dikembangkan
  5. Siswa memiliki pengalaman menulis dan menerbitkan bukunya sendiri serta kendala-kendala yang dihadapinya
  6. Siswa lebih percaya diri dalam menuliskan imajinasi dan mengembangkan kreativitas menulisnya.

 

 

BAB II

METODE

  1. Desain Penelitin

Desain  penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dimana setiap siklus dilakukan dari mulai perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Peneliti menggunakan 2 siklus, dimana setiap siklus berjalan selama 3 bulan.

 

  1. Subyek dan Obyek Penelitian

Subyek dan obyek penelitian ini adalah siswa kelas 7 SMP Labschool Jakarta dari kelas 7A sampai kelas 7G dengan jumlah 252 orang siswa. Setiap kelas diisi oleh 36 orang siswa.

Buku fiksi dikerjakan siswa dari bulan Oktober sampai bulan Desember 2016. Sedangkan buku cerita non fiksi dikerjakan siswa dari bulan Februari sampai bulan April 2017.

Pameran buku dilaksanakan pada bulan Januari 2017 untuk buku fiksi dan bulan Mei 2017 untuk buku non fiksi.

 

  1. Instrumen Pengumpulan Data

Di dalam penyusunan instrumen pengumpulan data suatu penelitian, data yang dihasilkan harus mempunyai kebenaran yang dapat diukur serta mempunyai konsistensi kebenaran terhadap suatu objek sehingga adanya relevansi antara hipotesa dan kenyataan yang diperoleh melalui pengalaman secara optimal yang dengannya kesahihan penelitian dapat  diterima secara logis oleh akal.

Jenis instrumen pengumpulan data, disebut juga alat evaluasi. Menurut Mulyasa, secara garis besar terbagi menjadi dua macam, yaitu : (1) Instrumen Tes, (2) Instrumen Non Tes. Instrumen tes merupakan serentetan pertanyaan, lembar kerja atau sejenisnya yang dapat dipergunakan untuk mengukur pengetahuan, keterampilan, bakat, dan kemampuan dari subjek penelitian.

Lembar instrumen berupa tes ini berisi soal-soal tes yang terdiri dari butir-butir soal, baik itu yang ada pada angket, observasi atau wawancara. Contohnya adalah tes formatif, baik yang bersifat objektif (multiple choice) atau Essay. Sedangkan instrumen non tes  merupakan instrumen yang berupa selain dari pada bentuk pertanyaan-pertanyaan, tetapi biasanya berupa dokumentasi sebagai portofolio, dan menurut Basuki Wibawa (2012 : 141) ditambahkan dengan Focus Group Discussion (FGD) yaitu teknik pengumpulan data yang umumnya dilakukan pada penelitian kualitatif dengan tujuan menemukan makna sebuah tema menurut pemahaman sebuah kelompok.

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan data pengamatan secara langsung dan wawancara siswa, baik secara lisan maupun tulisan. Contoh wawancara berbentuk tulisan, dapat dibaca seperti di bawah ini.

 

Soal wawancara tertulis TIK:

  1. Jelaskan apa yang di maksud dengan teknologi informasi dan sebutkan contohnya! Jawab: Istilah umum untuk teknologi apa pun yang membantu manusia dalam membuat, mengubah, menyimpan, mengomunikasikan dan/atau menyebarkan informasi. TI menyatukan komputasi dan komunikasi berkecepatan tinggi untuk data, suara, dan video. Contoh dari Teknologi Informasi bukan hanya berupa komputer pribadi, tetapi juga telepon, TV, peralatan rumah tangga elektronik, dan peranti genggam modern (misalnya ponsel)

 

  1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan teknologi komunikasi dan sebutkan contohnya! Jawab: Peralatanperangkat keras (hardware) dalam sebuah struktur organisasi yang mengandung nilai-nilai sosial yang memungkinkan setiap individu mengumpulkan, memproses dan saling tukar menukar informasi dengan individu-individu lain.contohnya handphone dan faxsimile

 

  1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan teknologi informasi dan komunikasi (Tik) dan sebutkan contohnya!

Jawab: adalah payung besar terminologi yang mencakup seluruh peralatan teknis untuk memproses dan menyampaikan informasi. TIK mencakup dua aspekyaitu teknologi informasi dan teknologi komunikasiTeknologi informasi yang meliputi segala hal yang berkaitan dengan proses, penggunaan sebagai alat bantu, manipulasi, dan pengelolaan informasi. Contohnya, laptop dan computer.

  1. Apa saja manfaat TIK dalam kehidupan sehari-hari? (minimal 3) Jawab:
  • Dengan Televisi manusia dapat melihat peristiwa yang terjadi ditempat lain.
  • Dengan Telephone genggam manusia dapat berkomunikasi dengan orang lain yang jaraknya jauh.
  • Dengan Komputer manusia dapat menyimpan serta memperoleh data sebagai informasi.
  • Dengan internet manusia bisa saling berkomunikasi dan berbagi informasi dari jarak yang sangat berjauhan.

 

  1. Mengapa mata pelajaran TIK penting untuk siswa SMP! Jelaskan! Jawab:

Sebab dalam pelajaran TIK anak-anak akan diajarkan menjadi seorang produsen pengetahuan di bidang Teknologi komunikasi, dan Informasi (TIK). Mereka akan mampu memanfaatkan TIK dalam kehidupan sehari-hari. Akan banyak proggamer muda lahir, dan akan banyak anak muda yang mampu menggunakan internet secara sehat. Mereka tidak lagi menjadi konsumen tetapi sudah menjadi produsen.

 

  1. Mengapa keterampilan menulis siswa semakin meningkat setelah membuat buku fantasi dan liburan sekolahku? Jelaskan!.

Jawab:

Karena dengan menulis itu siswa akan mengembangkan ide yang sudah lama ia ingin tuliskan, tetapi tidak ada waktu untuk menulis akhirnya dengan ada pembuatan buku ia bisa menuliskan ide-ide tersebut.

 

  1. Apa dampak dari pembuatan buku fiksi dan non fiksi dalam kelasmu?

Jawab:

Dampak positifnya itu kita dapat bekerja sama, saling melengkapi tulisan, dan belajar untuk disiplin soal waktu.

 

  1. Kesulitan kesulitan apa saja yang kamu temui dalam proses pembuatan buku?

Dalam mengatur waktu bertemu, editing artikel, cover yang belum jadi, dan pencetakan buku.

 

  1. Mengapa menulis cerita fiksi lebih sulit dari cerita non fiksi?

Jawab:

Karena cerita fiksi itu harus dari imajinasi kita dan imajinasi itu datangnya tidak tahu kapan sedangkan non fiksi itu berdasarkan kehidupan nyata.

 

  1. Apakah TIK membantumu dalam proses pembuatan buku? Jawab:

Ya, Karena mempersingkat waktu dalam pembuatannya dan memudahkan kita dalam proses pembuatan buku.

 

Wawancara tertulis: Niswah nur Sabrina 7C/29

 

 

 

 

  1. Teknik analisis data

 

Teknik Analisis Data adalah suatu metode atau cara untuk mengolah sebuah data menjadi informasi sehingga karakteristik data tersebut menjadi mudah untuk dipahami dan juga bermanfaat untuk menemukan solusi permasalahan, terutama adalah masalah tentang sebuah penelitian. Analisis data juga bisa diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan untuk merubah data hasil dari sebuah penelitian menjadi informasi yang nantinya bisa dipergunakan untuk mengambil sebuah kesimpulan.

Tujuan dari analisis data adalah untuk mendeskripsikan sebuah data sehingga bisa di pahami, dan juga untuk membuat kesimpulan atau menarik kesimpulan mengenai karakteristik populasi yang berdasarkan data yang diperoleh dari sampel, yang biasanya ini dibuat dengan dasar pendugaan dan pengujian hipotesis.

Dari data penelitian yang didapatkan, hampir 100 persen siswa mengerjakan tulisannya dengan baik. Bila terlambat, maka proses pembuatan buku menjadi lama dan ini akan menjadi kelas tersebut terlambat menerbitkan buku.

 

  1. Hasil Penelitian

Siswa sekolah kami mencoba membuat buku sendiri. Anak anak SMP Labschool Jakarta kelas 7 kami ajari membuat dan menerbitkan buku sendiri. Ada dua buku yang kita buat. Cerita fiksi dan non fiksi. Itulah cara kami dalam mengkampanyekan Gerakan Litetasi Sekolah atau GLS.

Cerita fiksi berisi tentang cerita fantasi yang mereka buat dari imajinasi mereka. Cerita non fiksi berisi tenantg cerita liburan sekolah mereka. Cerita diangkat dari kisah nyata mereka melaksanakan liburan sekolah. Kedua buku ini menjadi menarik. Sebab proses pembuatannya dilakukan dengan cara keroyokan atau bersama sama. Isinya pun menarik karena ditulis oleh siswa SMP kelas 7.

Mereka saling berkerjasama dalam kelompok untuk menyelesaikan bukunya masing masing. Mulai dari proses penulisan cerita sampai editing dilakukan oleh mereka. Bagian cover buku dibuat oleh setiap siswa. Cover terbaik akan dipilih untuk menjadi cover buku utama. Begitu juga bagian belakang buku. Perlu waktu sekitar 3 bulan untuk menyelesaikan satu buku. Jadi perlu waktu 6 bulan untuk menyelesaikan 2 buah buku. Hal yang paling lama dilakukan adalah proses editing dan menunggu siswa lainnya selesai menulis artikelnya. Menulis kolaborasi terjadi diantara siswa.

Kemampuan menulis siswa ternyata berbeda beda. Jadi dibutuhkan semangat dan keterampilan menulis yang diajarkan oleh guru. Bimbingan dan motivasi guru sangat diperlukan. Oleh karena itu kolaborasi guru bahasa indonesia dengan guru TIK sangat diperlukan dalam proses pembuatan buku ini. Setelah draft buku jadi dikirimkan ke percetakan untuk dicetak. Lalu dari percetakan dikirimkan ke sekolah. Pihak percetakan akan mencetak buku bila sudah tidak ada perbaikan lagi di sana sini.

Dari hasil penelitian didapatkan peningkatan keterampilan menulis siswa melalui pembuatan buku cerita fiksi dan non fiksi. Hampir 100 persen siswa dapat menulis artikelnya dengan baik. Setiap siswa akan saling terbantu dengan menulis secara kolaborasi. Tulisan siswa kemudian disusun untuk menjadi buku dengan judul buku sesuai kesepakatan mereka. Setiap kelas memiliki judul buku yang berbeda.

Buku kemudian dipamerkan pada bulan Januari 2017 dalam pameran buku di sekolah dalam rangka mengkampanyekan gerakan literasi di sekolah. Alhamdulillah hasil penjualan buku dan keuntungannya masuk ke kas kelas mereka masing masing. Itulah cara kami menggerakkan budaya literasi di sekolah dan literasi digital di kalangan sisw. Sekaligus juga meningkatkan keterampilan menulis siswa.

Dari angket secara tertulis yang disebarkan, siswa sangat senang dalam proses pembuatan buku ini. Mereka jadi tahu cara membuat buku dan prosesnya. Semoga ke depan buku mereka sudah ber-ISBN dan dijual ke publik di luar sekolah.

BAB III

PEMBAHASAN

 

Keterampilan menulis dapat ditingkatkan dengan cara menulis secara berjamaah. Artinya kegiatan menulis dilakukan secara bersama-sama atau keroyokan. Setiap.siswa.di sekolah dapat diajarkan cara menulis secara kolaborasi. Mereka.dapat saling bekerja sama dengan siswa.di kelasnya masing-masing. Setiap kelas wajib memproduksi 2 buah buku, yaitu buku cerita fiksi dan buku cerita non fiksi.

Hal itulah yang kami lakukan dalam mengkampanyekan gerakan literasi di sekolah. Siswa.tidak hanya.sekedar diajak membaca buku di sekolah. Namun sudah diajari cara membuat buku.

Mereka yang ingin menulis buku harus rajin membaca buku. Sebab.perbendaharaan katanya tak akan pernah habis. Banyak kata dan kalimat yang bisa dikembangkan dari apa yang dibacanya. Kemampuan berpikir secara logis dan analisis memjadi semakin terjaga bila.siswa.senang dan gemar membaca buku. Kemampuan nalarnya akan hidup bila menulis cerita fiksi dan non fiksi.

Di SMP Labschool Jakarta, siswa.kelas 7 sudah diajari cara menulis dan menerbitkan buku. Siswa dibagi dalam beberapa kelompok. Setiap siswa diwajibkan menulis.cerita fiksi.dan non fiksi. Lalu mereka.saling menjadi editornya Dengan menulis secara kolabosi mereka dapat saling melengkapi dan membaca hasil.karya teman teman sekelasnya. Pembuatan cover buku.atau bagian depan dikerjakan oleh mereka sendiri. Juga bagian background atau.bagian belakang buku.

Buku Pokoknya Menulis karya A. Chaedar Alwasilah dan Senny Suzanna Alwasilah menjadi.pedoman kami dalam mengajari siswa.menulis secara kolaborasi. Cara baru menulis dengan metode kolaborasi ini ternyata sangat cocok diterapkan dalam menawarkan cara dan pendekatan non konvensional dalam menulis.

Siswa diarahkan untuk berlatih menulis dari apa yang ada dalam alam pikirannya. Siswa diberikan kesempatan mengembangkan kreativitas dan imajinasinya dalam menulis. Kegiatan menulis ini kami yakini dapat meningkatkan kemampuan siswa menulis secara kolaborasi. Mereka menulis tentang kisah nyata liburan mereka dan menulis cerita fantasi. Catatan harian ini memungkinkan siswa.belajar menulis setiap.hari. Siswa akan berlatih menyatakann pikiran dan imajinasinya dari berlatih menulis.

Setelah semua siswa.menulis, lalu dirajutkan tulisan itu menjadi sebuah buku. Bila dalam sekelas jumlah siswa 40 orang dan masing masing siswa menulis 5 lembar kertas ukuran A4 maka akan ada 200 halaman yang siap jadi buku.

Dengan program pengolah kata seperti microsoft word, mereka dapat menyusunnya dari halaman pertama sampai halaman terakhir. Tak lupa dituliskan biodata penulisnya lengkap dengan foto. Lalu kemudian daftar isi.buku.

Kata pengantar buku dan undang-undang hak cipta nomor 28 tahun 2014 dibuatkan. Kemudian mereka meminta kata pengantar guru pembimbing dan kepala sekolah. Setelah proses editing selesai, maka.ketua kelas menyampaikan kepada guru pembimbing perihal draft bukunya sudah siap untuk dicetak.

Guru pembimbing memberikan naskah siswa.kepada pihak percetakan untuk dicetak menjadi sebuah buku yang punya nilai jual. Begitu buku selesai siswa.diminta memamerkan hasil karyanya.dalam pameran buku di sekolah. Setiap siswa.wajib membeli buku hasil karyanya dan menjualnya kepada siswa.kelas lainnya dalam pameran buku yang diadakan oleh sekolah.

Hasil keuntungan penjualan buku menambah pemasukan kas kelas mereka. Begitulah sedikit kisah cara kami membuat buku secara kolaborasi. Semoga dapat dipahami oleh pembaca. Modal pembuatan buku dilakukan secara bersama sama. Sehingga siswa keluar biaya tidak lebih dari Rp. 50.000,- (Lima puluh ribu rupiah).
A. Ide Dasar

Ide dasar ini dimulai ketika penulis melihat pameran buku di Book Fair Senayan Jakarta Pusat. Banyak buku dijual dan dipamerkan di sana. Namun hanya sedikit buku yang dibuat oleh siswa SMP. Dari hasil observasi dan wawancara, kemampuan keterampilan menulis siswa ternyata masih rendah. Perlu diajarkan langsung cara menulis agar keterampilan menulisnya meningkat. Caranya dengan membuat buku secara kolaborasi.

Sebagai seorang guru TIK, penulis merasa terpanggil untuk mengajari siswa membuat bukunya sendiri. Dari ide itu penulis berkolaborasi dengan guru Bahasa Indonesia. Kebetulan ada topik tentang cerita fantasi di Bab 2 halaman 43 kelas 7 dalam buku mata pelajaran Bahasa Indonesia. Gayungpun bersambut, lalu guru Bahasa Indonesia membantu membuat proyek ini agar terwujud.

Siswa Belajar Membuat buku cerita Fiksi dan non fiksi. Guru TIK dan Guru Bahasa Indonesia saling berkolaborasi. Cerita fiksi dibimbing oleh pak Ahmad Mulyadi, Guru Bahasa Indonesia SMP Labschool Jakarta, dan Cerita Non Fiksi dibimbing olehWijaya Kusumah selaku guru TIK SMP Labschool Jakarta.

Dalam buku Bahasa Indonesia kelas 7 halaman 44 dituliskan tentang cerita fantasi. Cerita fantasi merupakan salah satu genre cerita yang sangat penting untuk melatih kreativitas. Berfantasi secara aktif bisa mengasah kreativitas. Kamu bisa menjadi penulis hebat. Harry Potter termasuk cerita fantasy yang sangat terkenal. Di Indonesia kita memiliki penulis hebat  yang menulis berbagai cerita fantasi. Di antara penulis hebat cerita fantasi itu adalah Ugi Agustono dan Joko Lelono. Ugi Agustono menulis cerita fantasi berdasarkan pengamatan terhadap komodo dan suasana di pulau Komodo. Joko Lelono juga menulis cerita fantasi dengan nuansa lokal. Kamu juga dapat belajar menulis fantasi dengan belajar secara tekun dan tidak takut berkreasi. Kamu dapat seperti mereka.

Dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMP, ada 2 jenis karangan atau cerita yang kita kenal yaitu:

  1. Karangan Fiksi
    Karangan Fiksi yaitu karangan yang berisi kisahan atau cerita yang dibuat berdasarkan khayalan atau imajinasi pengarang. Fiksi atau cerita rekaan biasanya berbentuk novel, dan cerita pendek (cerpen). Fiksi ilmiah fiksi ilmu pengetahuan adalah fiksi yang ditulis berdasarkan ilmu pengetahuan, teori, atau spekulasi ilmiah. Karangan fiksi berusaha menghidupkan perasaan atau menggugah emosi pembacanya. Itulah sebabnya, tulisan ini lebih dipengaruhi oleh subjektifitas pengarangnya.
    Bahasa tulisan fiksi selain bermakna denoktatif juga konotatif, dan asosiatif yaitu makna tidak sebenarnya. Selain itu juga bermakna ekspresif yaitu membanyangkan suasana pribadi pengarang. Bahasa tulisan fiksi juga sugestif yaitu bersifat mempengaruhi pembaca dan plastis yaitu bersifat indah untuk menggugah perasaan pembaca.

Contoh cerita Fiksi:

Ruang Dimensi Alpha

Karya: Ratna Juwita

“Kau harus membawanya kembali!” Erza berteriak kalang kabut. Aku gugup. Bingung. Tak tau apa yang harus kuperbuat, sedangkan manusia dengan wajah setengah kera itu memandang sekeliling. Manusia purba itu menemukanku ketika aku memasuki dimensi alpha. Tanpa kusadari ia mengikutiku. Manusia purba itu akan mati jika tidak kembali dalam waktu 12 jam.

“Aku harus membawa dia kembali!” teriakku.

Erza menghempaskan tubuhnya pada meja kontrol laboratorium dengan kesal. Ardi berteriak lantang ”Jangan main-main Don!” Ardi menatapku dengan tajam. “Padahal..,” Erza tercekat, “Aku tahu Er kita tinggal punya waktu 8 jam”. Aku terus berusaha meyakinkan sabahatsahabatku.

“ Jika kamu mengembalikan manusia purba melebihi 8 jam, berarti tamat riwayatmu.” Kembali Erza dan Ardi  menatapku tajam.

Aku mengotak-atik komputer Luminaku dengan cepat. Aku memutuskan untuk tetap mengembalikan manusia purba itu.

“Sistem oke!”

Manusia purba itu harus hidup. Setiap mahkluk berhak untuk hidup. Aku yang membawanya, aku juga yang harus mengembalikannya. Orang tuaku tak pernah mengajarkanku untuk melarikan diri sesulit apapun masalah yang kuhadapi.

Ku klik tombol ‘run’ pada layar monitor Lumina di depanku dan diikuti gelombang biru mirip Aurora memenuhi ruangan. Pagar Asteroid terbuka lebar, memberikan ruang cukup untuk kulewati bersama manusia purba itu. Ruangan penuh asap dengan pohon-pohon yang meranggas. Hampir 8 jam, manusia purba tetap memegang tanganku. Kurang 10 menit aku lepaskan tangan manusia purba.  Kujabat erat dan aku lari menuju lorong dimensi alpha.  Kurang 10 menit lagi waktu yang tersisa dan aku masih di lorong dimensi alpha. Aku berpikir ini takdir akhir hidupku. Tiba-tiba kudengar teriakan keras dan goncangan hebat. Aku terlemapar kembali ke laboratoriumku.   

Alarm berbunyi. Gelombang dimensi alpha semakin mengecil.

Badanku lemas seakan rontok semua sendiku. Aku menengadah dan kulihat sahabat-sahabatku mengelilingiku. Semua alat di laboratorium ini pecah berantakan. Tinggal laptop Luminaku yang masih menyala. “Ardi maafkan aku! Maaf telah merusak labolatorium untuk penelitian ini,” kataku mengiba.

“Gak apa-apa asalkan dirimu bisa selamat,” Ardi memelukku dengan erat. Kulihat Erza membawa air minum untukku. Tidak menyangka aku bisa berhasil dikembalikan dan hidup lagi secara biasa. Manusia purba itu juga berhasil kembali ke habitatnya pada 500 tahun sebelum masehi. Aku dapat melihatnya dengan jelas di layar laptop. Manusia purba itu tersenyum sambil melambaikan tangan ke arahku.

 

  1. Karangan nonfiksi

Karangan non fiksi yaitu karangan yang dibuat berdasarkan fakta, realita, atau hal-hal yang benar-benar dan terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Tulisan nonfiktif biasanya berbentuk tulisan ilmiah dan ilmiah populer, biografi, laporan, artikel, feature, skripsi, tesis, desertasi, makalah, dan sebagainya.
Karangan nonfiktif berusaha mencapai taraf objektifitas yang tinggi, berusaha menarik, dan menggugah nalar (pikiran) pembaca. Bahasa karangan nonfiktif bersifat denotative dan menunjukan pada pengertian yang sudah terbatas sehingga tidak bermakna ganda.

Contoh karangan non Fiksi:

LIBURAN SEKOLAHKU YANG MENYENANGKAN

          

Tanggal 20 Desember 2016 adalah hari libur semester 1 SMP Labschool Jakarta. Pada hari pertama libur sekolah, saya pergi ke Kuningan untuk membuat visa ke UK. Di sana saya ditanyakan beberapa informasi tentang diri saya. Setelah membuat visa, saya dan keluarga saya pergi jalan jalan ke Plaza Senayan. Disana kami berbelanja,makan-makan,dan lain-lain.

           Tanggal 22-31 Desember 2016 adalah hari yang cukup membosankan karena saya tidak pergi kemana-mana. Saya hanya pergi jalan jalan ke mall untuk makan dan berbelanja. Setelah pergi ke mall saya hanya bermain video game di rumah. Pada jam 16.00 WIB sore, saya keluar rumah dan menuju lapangan basket dan bermain basket sampai jam 18:30 WIB.

           Tanggal 1-8 Januari 2017 adalah hari libur yang sangat menyenangkan. Saya dan keluarga saya pergi ke malang. Sesaat kami sampai di malang kami menaiki taxi ke hotel. Sesampainya di hotel saya dan keluarga saya langsung pergi makam. Pemandangan di malang sangat bagus sehingga saya banyak sekali mengambil foto. Keesokan harinya saya pergi ke Jawa Timur Park 2. Di sana saya dan keluarga pergi ke Batu Secret Zoo. Di Batu Secret Zoo kami melihat banyak binatang yang langka dan terancam punah. Saya mengambil banyak foto dari kebun binatang tersebut.

          Di Jatim Park 2 juga ada banyak wahana permainan yang seru seperti roller coaster, panahan, dan lain-lain. Setelah menyelesaikan jatim park 2, keesokan harinya saya pergi ke museum angkut. Di museum itu saya melihat barang barang antik yang dipajang dan juga ada beberapa tempat untuk berfoto-foto. Di dalam museum angkut ada beberapa bagian yaitu bagian eropa, Buckingham, Hollywood, Las Vegas, dan lain-lain.

          Keesokan harinya saya pergi ke Predator Fun Park. Di sana terdapat beberapa hewan buas, reptil,dll. Salah satunya adalah buaya, ular, piranha, alligator,dll.

          Setelah selesai liburan ke Malang saya menaiki lion air untuk menuju Jakarta. Sesampainya di Jakarta saya langsung pulang menaiki taxi dan beristirahat di rumah. Liburan semester 1 ini sangat menyenangkan tetapi sedikit membosankan.

 

  1. Rancangan Karya Inovasi Pembelajaran

Sampai saat ini belum banyak sekolah yang menulis dan menerbitkan buku sendiri. Dari hasil survey di media social facebook dan wawancara guru di sekolah lainnya, penulis belum menemukan sekolah yang mengajari siswanya membuat buku sendiri. Dari materi memahami dan mencipta cerita fantasi di mata pelajaran Bahasa Indonesia SMP kelas 7, ide itu muncul. Materi TIK yaitu pengolah kata bisa masuk ke dalam tema tersebut sehingga guru dapat menerapkan metode tematik integratif.

Rancangan karya inovasi pembelajaran ini berbentuk buku fiksi dan non fiksi. Ada 7 buah buku fiksi dan ada 7 buah buku non fiksi dari 7 kelas yang kami ajarkan. Jumlah seluruh karya adalah 14 buah buku. Semua buku itu diharapkan dapat menambah jumlah buku di perpustakaan sekolah. Guru merancang proses pembuatan buku fiksi dan non fiksi. Masing-masing buku dikerjakan dalam waktu 3 bulan.

 

  1. Proses Penemuan/Pembaharuan

Penemuan dan pembaharuan yang didapatkan dari proses pembuatan buku fiksi dan non fiksi adalah peneliti mendapatkan ilmu baru tentang menulis kolaborasi. Siswa yang belum bisa menulis menjadi terbantu untuk menulis hasil karya tulisnya. Originalitas tulisan siswa lebih terjaga karena bila siswa copy paste dari internet akan ketahuan oleh siswa lainnya.

Selain itu, buku fiksi dan non fiksi ini dapat menjadi model untuk sekolah lainnya. Hal ini penulis komunikasikan dengan pakar literasi Indonesia, bapak Satria Dharma. Beliau juga siap membantu untuk membinanya.

 

  1. Aplikasi Praktis dalam Pembelajaran

Aplikasi praktis dalam pembelajaran ini dibagi ke dalam 2 siklus yaitu:

Siklus 1: Siswa Membuat Cerita Fantasi

Bulan Oktober 2016 Nopember 2016 Desember 2016
Kegiatan Penulisan Fiksi Editing Pencetakan Buku
Bulan Januari 2017 Pameran Buku Karya Tulis Siswa Kelas 7

 

Siklus 2: Siswa Membuat Cerita Liburan

Bulan Februari 2017 Maret 2017 April 2017
Kegiatan Penulisan non Fiksi Editing Pencetakan Buku
Bulan Mei 2017 Pameran Buku Karya Tulis Siswa Kelas 7

 

  1. Data Hasil Aplikasi Praktis Inovasi Pembelajaran

Dari data hasil aplikasi praktis inovasi pembelajaran, didapatkan data bahwa siswa sangat menyukai belajar menulis buku. Selain itu kemampuan siswa dalam keterampilan komputer atau belajar TIK menjadi lebih terasah. Terutama untuk materi pengolah kata dan disain grafis. Siswa sangat senang karena bisa berimajinasi yang tinggi, bekerjasama dalam kelompok, dan terinspirasi untuk membuat buku lagi secara kolaborasi.

Kesulitan yang dialami siswa adalah memikirkan kata-kata yang cocok atau tepat untuk dituliskan dalam artikel arau cerpen yang mereka buat. Belajar menulis dengan baik dan benar ternyata tidak mudah. Perlu belajar dan berlatih terus menerus dalam bentuk menulis. Sehingga mereka merasakan tulisannya semakin baik dengan cara belajar menulis secara kolaborasi. Perbedaan pendapat dari siswa sulit sekali disatukan. Terutama dalam penentuan cover buku hingga masalah isi buku. Peran guru sangat diperlukan dalam hal ini.

 

  1. Analisis Data Hasil Aplikasi Praktis Inovasi Pembelajaran

Berdasarkan data hasil aplikasi praktis inovasi pembelajaran didapatkan hasil sebagai berikut:

Siklus 1 Pembuatan

Buku Fiksi

Imajinasi dan kreativitas siswa dalam menulis mulai terlihat Menulis cerita fiksi lebih sulit dari cerita non fiksi. Buku fiksi ditulis berdasarkan imajinasi siswa
Siklus 2 Pembuatan

Buku Non Fiksi

Daya ingat siswa dalam menuliskan kegiatan yang telah dilakukannya akan terbaca dalam tulisannya. Menulis cerita non fiksi lebih mudah dari cerita fiksi. Buku non fiksi berdasarkan fakta dan kisah nyata

 

  1. Diseminasi

Laporan kegiatan penelitian ini telah kami diseminasikan dalam kegiatan workshop elearning komunitas guru TIK dan KKPI. Juga sudah kami sebarkan dalam kalangan terbatas di facebook group Komunitas Guru TIK dan KKPI (KOGTIK).

 

 

BAB IV PENUTUP

 

  1. Simpulan

Berdasarkan rumusan masalah dan tujuan penelitian didapatkan kesimpulan bahwa untuk meningkatkan keterampilan menulis siswa dapat dilakukan dengan cara mengajari siswa membuat buku cerita fiksi dan non fiksi secara kolaborasi. Dari kegiatan ini siswa menjadi lebih termotivasi, memiliki imajinasi yang kuat, mempunyai ide yang kreatif, lebih sering bercerita banyak hal, dan lebih gemar membaca buku karena rasa ingin tahu.

 

  1. Saran

Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan disampaikan beberapa saran sebagai berikut:

  1. Pembuatan buku fiksi dan non fiksi akan berhasil bila guru mampu memotivasi dan menginspirasi siswa
  2. Kondisi siswa yang belum terlatih dalam menulis dapat ditingkatkan dengan terus menerus belajar menulis secara kolaborasi dengan materi yang sesuai dengan kompetensi dasar yang diajarkan di sekolah
  3. Dukungan sekolah, guru, dan orang tua siswa sangat penting dalam mengembangkan imajinasi dan kreativitas siswa di bidang karya tulis ini
  4. Dalam berjamaah (berkolaborasi) selalu ada imam atau seseorang yang dianggap paling senior yang bertindak sebagai model. Kolaborasi adalah ajang bertegur sapa dan bersilaturahmi ilmu pengetahuan. Dalam kolaborasi setiap orang dibiarkan mengembangkan potensi dan kesenangannya, mungkin menulis puisi, fiksi, atau artikel opini. Puisi ditulis untuk menyapa perasaan bukan pikiran. Memaknainya bukan melalui terjemahan kata per kata, tetapi melalui penggerahan batiniah sehingga pembaca dibawa tenggelam hanyut ke dasar samudera pengalaman.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Alwasilah, A. Chaedar. Pokoknya Menulis. Bandung: Kiblat, 2010

Dewi, Ratna. Cara dan Tip Produktif Menulis Buku. Jakarta: Elex Media Komputindo, 2014

Elizabert. E Barkley. Teknik-teknik pembelajaran Kolaboratif. Bandung: Nusa Media, 2012

Emzir. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rajagrafindo, 2009.

Gong, Gola. Jangan Mau Gak Nulis Seumur Hidup. Jakarta: Maximalis, 2007

Hamruni. Strategi Pembelajaran. Yogyakarta: Insan Madani, 2012.

Johnson, David. Collaborative Learning, Bandung: Nusa Media, 2012

Kusumah, Wijaya. Mengenal Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta, 2009.

Naim, Ngainun. The Power of Writing.Yogyakarta: Lentera Kreasindo, 2015.

Prasetyo, Eko. Kekuatan Pena. Jakarta: Indeks, 2012

Putra, Nusa. Menulislah Seperti Sholat. Jakarta, Rajagrafindo, 2014

Sanjaya, Wina. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2015.

Sitepu, B.P. Penulisan Buku Teks Pelajaran. Bandung: Rosda, 2012.

Suparman, M. Atwi. Desain Instruksional Modern. Jakarta: Erlangga, 2012

Tarigan, Henry Guntur. Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa, 2008

Wibawa, Basuki. Metode Penelitian Pendidikan. Jakarta: Universits Terbuka, 2014

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s