Daily Archives: September 24, 2017

Empati Versi Kami

Tugas 2 menulis buku bersama Om Jay

Judul : Empati Versi Kami

Kumpulan Best Practise

Oleh ; Ima. Cimahi

Setiap guru pasti memiliki pengalaman dalam melaksanakan tugasnya. Pengalaman yang kadang tanpa disadari justru sangat berkesan dan mampu mengubah banyak hal dalam perjalanan karier guru tersebut. Pengalaman akan semakin berwarna tatkala seorang guru berada dilingkungan sekolah inklusif. Sekolah yang diwajibkan menerima peserta didik berkebutuhan khusus ini tentu harus memiliki guru yang cekatan dan berintegritas agar tidak terjadi permasalahan dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah. Permasalahan akan muncul karena peserta didik bukan hanya anak normal seperti pada umumnya, tetapi juga adanya peserta didik berkebutuhan khusus yang bercampur didalamnya.

Baca lebih lanjut

Resensi Buku Omjay

RESENSI BUKU MENULISLAH TIAP HARI DAN BUKTIKAN APA YANG TERJADI

Oleh : Khairun Nisa, M. Pd

buku-menulis

  1. Identitas Buku

 

Judul                         : Menulislah Tiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi

Penulis                      : Wijaya Kusumah, S.Pd, M. Pd

Penerbit                    : PT Indeks

Kota terbit                 : Jakarta

Tahun terbit               : 2012

Cetakan                    : Pertama

Deskripsi Fisik          : 290 halaman

ISBN (10)                   : 979-062-339-9

ISBN (13)                   : 978-979-062-339-2

Baca lebih lanjut

Guru Bertanya, Omjay Menjawab

Tugas Mandiri Part-1

GURU BERTANYA, OM JAY MENJAWAB

Oleh: Deny Rochman

Guru SMP Negeri 4 Kota Cirebon

Pelatihan Menulis Group 3 WA / 08122064604

Guru-guru Indonesia lagi sakaw literasi. Mereka yang sadar akan profesinya sebagai guru harus terus belajar, belajar dan belajar. Belajar mengembangkan kompetensi pedagogiknya, sosial, profesional dan kepribadiannya. Penumbuhan budaya literasi guru merupakan harga mati. Meningkatnya budaya literasi guru akan mampu menyulap dan mengejar ketertinggalan kualitas pendidikan bangsa Indonesia dalam mensejajarkan diri dengan negara-negara lain yang sudah bertengger dipapan atas dunia pendidikan. Dengan geliat literasi, guru yang lahir dan berkembang di abad 20 mampu membekali anak didiknya dengan kemampuan abad 21.

Baca lebih lanjut

Alah Bisa Karena Terpaksa

ALAH BISA KARENA TERPAKSA

Kegiatan menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang penting untuk dikuasai. Dengan menulis, kita dapat menyampaikan ide ide kita dan berkomunikasi secara tertulis dengan orang lain. Dengan menulis pula, kita mendapat sarana rekreasi untuk melepaskan diri dari berbagai kepenatan pikir.

Namun, keterampilan menulis ternyata bukanlah keterampilan yang mudah dikuasai. Jika seseorang diminta menulis, pasti berbagai alasan akan disampaikan. Terkadang orang tidak tahu harus mulai dari mana menulisnya.   Terkadang ketika seseorang mulai menulis, malahan  bingung mau tulis apa. Ada juga yang urung menulis karena idenya sama dengan yang sudah ada.

Itu adalah masalah yang sering dialami oleh penulis pemula. Sebuah masalah yang pasti ada jalan keluarnya. Saran dari seorang pakar menulis, Bapak Wijaya Kusumah, yang terkenal dengan panggilan OmJay, kita mulai menulis dari yang disukai dan kuasai. Kegiatan menulis diawali dengan 3 alinea yaitu alinea pembukaan, isi, dan penutup. Kegiatan itu dilakukan pelan tanpa beban sebab menulis adalah menyampaikan pesan.

Kegiatan menyampaikan pesan sering pula dilakukan oleh seorang guru. Bagi seorang guru, penyampaian secara lisan, pasti sangatlah lihai. Namun, tidak semua guru dapat menyampaikan pesan secara tertulis. Oleh sebab itu, pada kegiatan Guru Menulis Gelombang 3 yang diprakarsai oleh Om Jay diangkat tema “Menjadi Guru yang Mampu Menulis dan Menerbitkan Buku”.

Menurut Om Jay, seorang guru akan terbatas dalam  berbagi ilmu jika dilakukan di kelasnya saja. Akan tetapi, jika guru mau menulis dan mengemas ilmunya menjadi buku, tentu akan lebih bermanfaat karena tersebar ke seluruh dunia dan dibaca banyak orang. Semua guru bisa menulis dan menerbitkan buku asal tahu caranya. Sayangnya, belum semua guru tahu bagaimana caranya.

Lebih lanjut Om Jay menuturkan bahwa guru mau menulis buku bila guru sudah tahu tujuan menulis.  Selain itu, budaya menulis di kalangan guru akan tercipta bila guru semua saling berkolaborasi dan menjadi editor kawan guru lainnya. Guru mau saling bekerja sama. Sharing and growing together.

Om Jay melihat bahwa dasar dasar menulis sebenarnya sudah dimiliki guru. Guru  hanya harus mengasah jiwa marketing sehingga tulisan guru layak jual dan dinikmati publik. Batin puas dan jiwa sehat adalah modal utama guru sehingga pemasukan bertambah dan menaikkan derajat sosial guru. Menulis akan membuat guru meningkatkan kemampuan IQ dan ESQ. Oleh karena itu guru harus mengenal rangkaian kerja kepenulisan. Dari situ guru akan bergairah untuk menulis buku.

Menulis itu sebuah proses. Om Jay menekankan bahwa menulis  harus dimulai dari kesabaran. Dari kesabaran itulah berbuah kesuksesan. Jadi tidak ada yang instan , tetapi dimulai dengan perencanaan yang matang dari sebuah proses yang berjalan terus menerus. Itulah rangkaiannya.

Sayangnya, terkadang sabar itulah yang menjadikan pemakluman untuk tidak menulis. “Ntarsok…ntarsok…  entarlah besok, kan belum penting sekarang.” Kalimat itu sering terucap untuk pembelaan diri.  Oleh karena itu ada kalanya pemaksaan untuk menulis perlu dilakukan. Terkadang hal ini berhasil melecut seseorang untuk mau menulis.

Jadi mulai dari sekarang guru harus bisa memaksa diri untuk menulis. Jika guru mau memaksa pada diri sendiri untuk menulis, pasti akan jadi tulisan. Guru hendaknya bisa mengatur waktu dalam menulis. Deadline waktu batas penulisan, biasanya menjadi jurus ampuh untuk memaksa guru menulis.  Jadi, alah bisa karena terpaksa.

Pengenalan Literasi Sekolah

PENGENALAN LITERASI SEKOLAH MELAUI READATHON DI KEGIATAN MASA PENGENALAN LINGKUNGAN SEKOLAH (MPLS) DI SMPN 2 KOTA CIREBON

Oleh: Kartino, M.Pd

Pengenalan Literasi melalui Readathon

Guru SMPN 2 Kota Cirebon Jawa Barat

 

 

Literasi bukanlah merupakan barang baru di dunia pendidikan kita dari zaman dahulu sampai saat ini, keberadaannya mencakup di berbagai bidang. Hanya kita tidak menyadari bahwa kegiatan yang sudah kita laksanakan selama ini adalah kegiatan literasi. Literasi di maknai sebagai melek pada suatu bidang atau suatu kecakapan dalam mengolah teks. Teks disini tidak hanya  berbentuk tulisan dan  lisan tetapi bisa pula dalam bentuk mencakup bagaimana seseorang berkomunikasi dalam masyarakat. Literasi juga bermakna praktik dan hubungan sosial yang terkait dengan pengetahuan, bahasa, dan budaya.

Baca lebih lanjut

Pendidikan Hoax

Tugas ke 2.

Pendidikan Hoax (Menyiapkan Generasi Cerdas Besosmed)

Oleh: Nanasmart

Tantangan di abad 21 sangat berbeda dengan apa yang kita alami di masa-masa kita kecil yaitu abad 20. Era digital dan sosmed sudah menjadi teman setia dan akrab bagi kalangan muda maupun tua. Semua mengenal benda yang mudah digenggam dan super canggih. Handphone atau gadget sebutan benda tersebut. Setiap detik silih berganti status, informasi, dan berita berseliuran di dunia maya. Dunia bebas dan tanpa batas. Siapapun bisa melakukan hal yang ia inginkan. Dari sekedar mencari tahu, berbagi cerita, atau bahkan berargumen sesuka hatinya. Mulai dari yang bermutu dan bermanfaat bahkan ada juga yang berbagi berita tidak bermutu atau tidak sahih kebenaran dan sumbernya, yang akhir-akhir ini dikenal dengan istilah hoax.

Baca lebih lanjut

Membaca & Menulis

Membaca dan Menulis Sebuah Kewajiban

Oleh: Nurwidati

SMP Negeri 1 Godean Sleman

nur.widati@yahoo.com atau nur.widatiedy@gmail.com

            Manusia memiliki berbagai macam sifat. Salah satunya ingin diperhatikan banyak orang. Mereka ingin diakui keberadaannya dan kebermanfaatannya, setidaknya oleh orang-orang disekitar kita, baik itu rekan kerja ataupun masyarakat pada umumnya. Oleh karena itu, manusia berlomba-lomba untuk menjadi pribadi yang lebih dikenal oleh publik, terlebih lagi keberadaannya manusia di bumi ini mencapai milyaran jumlahnya.

Baca lebih lanjut