Pendidikan Hoax

Tugas ke 2.

Pendidikan Hoax (Menyiapkan Generasi Cerdas Besosmed)

Oleh: Nanasmart

Tantangan di abad 21 sangat berbeda dengan apa yang kita alami di masa-masa kita kecil yaitu abad 20. Era digital dan sosmed sudah menjadi teman setia dan akrab bagi kalangan muda maupun tua. Semua mengenal benda yang mudah digenggam dan super canggih. Handphone atau gadget sebutan benda tersebut. Setiap detik silih berganti status, informasi, dan berita berseliuran di dunia maya. Dunia bebas dan tanpa batas. Siapapun bisa melakukan hal yang ia inginkan. Dari sekedar mencari tahu, berbagi cerita, atau bahkan berargumen sesuka hatinya. Mulai dari yang bermutu dan bermanfaat bahkan ada juga yang berbagi berita tidak bermutu atau tidak sahih kebenaran dan sumbernya, yang akhir-akhir ini dikenal dengan istilah hoax.

Padahal dampak yang ditimbulkan dari berita hoax dapat mengancam dan membahayakan stabilitas keamanan nasional. Menipu dan membodohi generasi muda. Karena kebanyakan pengguna sosmed yang belum terdidik atau dewasa, ketika mendapat berbagai informasi berita menelan mentah-mentah informasi tersebut tanpa melakukan kroscek terlebih dahulu. Sebar atau berbagi berita biasa dilakukan, sehingga jutaan orang dapat mengetahui dan mengadopsi berita hoax tersebut.

Menyebarkan berita hoax adalah sebuah perbuatan yang dilarang oleh agama dan orang yang melakukannya dikategorikan sebagai orang munafik. Larang menyebar berita hoax dipadankan sebagai menyebar fitnah menurut pandangan ulama. Fitnah dikenal lebih kejam dibandingkan membunuh. Betapah sangat berbahayanya menyebar berita-berita fitnah.

Kecepatan informasi di abad 21 belum diimbangi dengan penanaman pendidikan karakter atau akhlak. Perlu kirannya pendidikan hoax menjadi muatan dalam kurikulum sekolah. Agar kita punya generasi bangsa yang dewasa dalam bersosmed di dunia maya, sehingga berita-berita hoax yang dapat memecah persatuan bangsa dapat ditangkal dan dibuang dalam tong sampah sosmed. Generasi muda yang terdidik dalam berselancar di dunia maya khususnya sosmed, akan memiliki mesin filter sendiri terhadap berita-berita yang mengandung hoax.

Langkah cepat harus dilakukan oleh semua komponen bangsa dari pemerintah sampai lingkungan keluarga. Kecepatan sebaran berita hoax sulit dibendung jika tidak ada aksi nyata yang cepat. Jangan sampai dampak buruknya mendahului dari aksi penanggulangannya.

Penguatan pendidikan karakter harus bisa merambah segala aspek, terlebih aspek dalam bersosmed yang sudah menjadi budaya di abad 21. Walaupun sudah ada Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik. Selalu ada celah yang bisa dilakukan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab dalam menyebarluaskan berita-berita hoax. Akan tetapi, jika pendidikan dan kesadaran bersosmed secara baik dan dewasa kita tanamkan sejak usia dini maka ada harapan nyata generasi bangsa menjadi generasi cerdas dalam bersosmed.

Keutuhan dan persatuan bangsa sangat mahal harganya serta tidak bisa ditawar-tawar lagi. Beda zaman beda masalah dan solusi. Di abad 21 kecanggihan alat komunikasi yang digunakan secara tidak bertanggungjawab membuat berbagai masalah yang dapat meresahkan masyarakat serta kehidupan berbangsa dan bernegara. Stabilitas politik, ekonomi, dan keamanan ikut goyah oleh dampak yang ditimbulkan dari berita hoax.

Strategi jitu harus segera diramu sedemikian rupa. Agar tidak kalah oleh ganasnya virus-virus hoax. Dunia pendidikan menjadi jawaban yang tepat melakukan diagnosa dan pengobatan yang holistik. Merambah dunia pendidikan tentu terasa lama hasil yang ingin segera didapat, akan tetapi imun yang hebat dapat tertanam kokoh dalam akar pola pikir generasi terdidik. Jangankan berita hoax, isu-isu murahanpun dapat diacuhkan dan hanya lewat tanpa mendapat perhatian dari masyarakat yang terdidik berselancar di dunia sosmed.

Ramuan cerdas penangkal hoax itu adalah:

  1. Tanamkan akidah sejak dini.
  2. Budayakan anak mencari tahu dan bertanya.
  3. Budayakan anak membaca dan menulis.
  4. Ajak anak cara berkomunikasi didalam kehidupan sehari-hari dan cara komunikasi dalam sosial media.

Ramuan tersebut secara teknis dituangkan dalam pembelajaran di sekolah, sehingga generasi muda kita menjadi generasi cerdas dalam bersosmed. Virus hoax akan lemah dan mati tanpa harus dilawan oleh klarifikasi dan bantahan.

Iklan

One response to “Pendidikan Hoax

  1. Guru harus menulis untuk meningkatkan kemampuan nya. Guru harus menulis, sebagai alat untuk latihan kesabaran. Guru harus menulis, agar mampu mengemas ilmunya menjadi lebih bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s