Tugas Pertemuan Kedua: Hijrah dan Prasangka Baikku Kepada Allah

TUGAS PERTEMUAN KE DUA

Oleh : @arumpuri78

 

Assalamualaikum, Wr. Wb

Hari ini, Sabtu 23 September 2017, adalah dead line tugas 2 yang diberikan oleh Bapak Wijaya Kusumah selaku coach kami pada pelatihan menulis online melalui WA.  Sejujurnya belum ada ide dan tema yang terlintas untuk saya tuliskan pada tugas kali ini, entah memang dasarnya saya belum terbiasa menulis atau memang ide untuk menulis kali ini buntu total, mungkin karena waktunya bersamaan dengan deadline workshop literasi, dimana untuk mendapatkan kesempatan mengikuti workshop ini kami diwajibkan mengirim naskah buku dengan minimum 60 halaman, itupun masih harus diseleksi…alamakk…mmm 60 halaman dalam waktu 5 hari…buat saya itu berattt jenderalll…seloroh beberapa teman grup di wa, termasuk saya yang pemula ini juga merasakan hal yang sama.

Jadi pada intinya saya harus tetap menyelesaikan tugas dari Om Jay (panggilan kami untuk Bapak Wijaya Kusumah).  Sampai jam 13.00 WIB  sudah ada 10  tulisan lebih yang terkirim ke email om Jay, dan itu membuat saya gemetarrr terlebih membaca karya teman teman yang diupload Om Jay di grup WA kami, Subhanallah tidak bisa dikatanya “biasa” tulisan teman teman ini, dari yang menulis dari hati yang paling dalam sehingga “pesan” nyapun sampai ke dalam lubuk hati, hingga yang bahasanya “tingkat tinggi” yang membacanyapun perlu konsentrasi …Oh My God, semakin sadarlah diri ini bahwa ilmu menulis yang dipunyai belum seujung kuku dibanding teman teman yang lain.

Menulis adalah keterampilan yang tidak bisa “sim salabim”, orang yang terbiasa menulis akan terlihat dari caranya menorehkan dan merangkai kata kata di atas kertas, betapa alurnya teratur sesuai dengan alur berpikirnya, dan itu didapat dengan berlatih lama, tekun, komitmen  dan  tidak mengenal lelah.

Jadi, disinilah saya, sampai pada waktunya untuk membuat tulisan yang akan saya kirim untuk Om Jay.  Seperti Om jay bilang, paling mudah menulis adalah menulis dari keseharian atau dari pengalaman yang pernah kita jalani, pernah kita lewati.  Sayapun berpikir inilah yang akan saya bagi kepada Om Jay sebagai latihan menulis saya di pertemuan kedua ini.

15 tahun yang lalu saya berdua suami hijrah ke kota metropolitan ini, mengadu nasib dengan berbekal ijazah yang kami punyai, alhamdulillah suami mendapatkan pekerjaan di perusahaan farmasi sesuai dengan bidangnya, sedang saya mendapat pekerjaan sebagai staff PPIC (Planning Production and Inventory Control) disebuah pabrik acrilic di kota ini, dimana pekerjaan ini sangat tidak sesuai dengan ijazah yang saya punyai sebagai seorang sarjana biologi, sering saya mengeluh bahwa saya harus belajar cepat untuk pekerjaan ini karena seharusnya pekerjaan ini adalah “lahan” untuk orang-orang lulusan teknik Industri, belum lagi bos saya yang orang korea yang selalu marah tiap hari dengan kami para staffnya yang membuat saya semakin tidak nyaman bekerja di kantor ini. Tetapi suami selalu menguatkan, beliau selalu bilang “ ini hanya sementara ya bunda” sampai nanti bunda mendapat pekerjaan yang sesuai dengan minat bunda.  Terkadang ada rasa “sedih” di dalam hati, mau keluar dari pekerjaan sepertinya tidak mungkin melihat “perekonomian”  kami yang masih “merangkak”, (saat itu kami masih mengontrak di sebuah rumah sederhana), tapi untuk bertahan juga betapa beratnya.

Dua tahunpun berlalu saya menguatkan diri untuk bekerja di tempat tersebut sampai saya melahirkan si sulung.  Setelah melalui masa cuti tiga bulan tiba saatnya saya harus masuk bekerja kembali, rasanya berat ya Allah meninggalkan bayi mungil saya di rumah seharian dengan seorang pengasuh rumah tangga.  Semakin sedih tiap hari saat pagi hari mobil jemputan dari perusahaan sampai di kontrakkan kami (karena saya staff maka saya dapat fasilitas mobil jemputan dari kantor untuk pulang pergi bekerja), dan bayi saya sedang asik asiknya menyusui, saya pun harus melepaskan susuannya dengan paksa karena klakson mobil jemputan yang sudah tidak sabar untuk menanti. Dengan diiringi tangisan bayi kecil saya, saya pun berangkat kekantor dengan tangisan saya yang juga berderai, sampai 2 minggu seperti itu hingga akhirnya saya sadar saya harus “memilih”, ya memilih.  Walaupun terbayang bahwa nanti akan berkurang penghasilan padahal baru punya bayi yang pasti membutuhkan banyak biaya. Bismillahirrohmanirrohim, dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,  saya memutuskan untuk resign dari pekerjaan ini.

Saat saya menyampaikan niat saya untuk resign dari pekerjaan, alhamdulillah suamipun menyetujuinya, beliau mengatakan “ndak apa apa bunda, nanti ayah akan bekerja lebih giat, InshaAllah kalau sudah rezeki kita, tidak akan kemana”.  Alhamdulillah saya sangat bersyukur mempunyai suami yang sangat pengertian. Satu bulan saya menjadi full day mother, pada awal juli ada panggilan interview dari salah satu sekolah SMA swasta di kota kami, alhamdulillah singkat cerita saya diterima mengajar menjadi guru biologi honorer di  SMA tersebut, dengan penghasilan 1/7 dari penghasilan saya di tempat kerja yang dulu.  Tapi anehnya saya bahagia, tiap berangkat mengajar saya bersemangat, mungkin ini yang dikatakan Allah sebagai “berkah”.

Awal mengajar menjadi ujian tersendiri buat saya, karena saya mengajar kelas 12 SMA, sedangkan saya sudah lama tidak membuka lagi buku buku “pelajaran”, alhasil setiap hari sebelum mengajar saya selalu “belajar” dulu di rumah, buat saya hal itu jauh lebih mudah dibanding dengan dahulu saya harus melepaskan susuan anak saya dengan paksa.

Enam  Bulan menjadi guru honor di SMA tersebut, ada pendaftaran CPNS di kota kami, saya minta izin ke suami untuk mencoba peruntungan, disaat itu banyak teman yang bilang, “percuma ikut, ada yang sudah puluhan kali ikut juga tidak lolos, kalau tidak punya koneksi atau uang jutaan mah ga akan lolos”.  Saya hanya diam, saya pikir biarlah saya mencoba, sembari selalu berdoa kepada yang kuasa, saya serahkan perjalanan hidup saya dan keluarga saya padaNya. Dan mungkin memang rezeki anak saya kalau orang jawa bilang, alhamdulillah saya lolos tes tersebut, dan alhamdulillah lolos dengan jalan yang juga lurus, dari 2 orang guru Biologi SMA yang dibutuhkan saat itu, saya salah satunya, saat banyak orang bilang mustahil jadi PNS kalo tidak bayar berjuta juta, tetapi nyatanya seperti itu yang saya alami, apalah kami, kami hanya orang perantauan yang tidak punya saudara satupun di kota ini, Allah memang tidak tidur, dan Allah memang selalu sesuai dengan prasangka hambanya.

Pengalaman memang guru yang paling baik, pengalaman memang selalu indah untuk dikenang, mohon maaf  Om Jay saya jadi ngelantur, sebetulnya masih panjang cerita saya, lain kali dilanjutkan ya Om jay, mengingat saya masih harus menyelesaikan naskah buku literasi saya…hehehe.  Semoga sekelumit perjalanan hidup saya dapat diambil ibrahnya, saat kita berusaha untuk “hijrah” ke arah yang lebih baik, hijrah dengan alasan yang lebih baik, tidak usah ragu, Allah akan selalu bersama kita.

Jangan takut tidak punya rizki, tapi takutlah tak punya berkah karena tak jujur dan tak sungguh sungguh di jalan Allah menjemputnya, takutlah tak punya syukur saat sudah mendapatkannya, dan takutlah tak punya sabar ketika sedang ditahan atau disempitkan rezekinya. Dan satu hal lagi selalu berprasangka lah yang baik kepada Allah, karena Allah sesuai dengan prasangka hamba hambaNya.

Wassalamualaikum, Wr.Wb.

Komentar ditutup.