Membuat tulisan yang mengalir bagai air

Nama             : Ai Imas Mustikawati, S.Pd

Instansi         : SMPN 1 Labuan

Tugas Resume Pertemuan Kedua Belajar Menulis Gelombang 4

Bismilahirrohmaanirrohiim.

Hari selasa tanggal 26 September, jam di dinding sudah menunjukan pukul 15.30 Wib., sebentar lagi akan dimulai kelas belajar menulis di grup WA bersama seorang coach handal Bapak Wijaya Kusumah atau lebih sering disapa Om Jay. Oh iya  pertemuan pertama dilaksanakan pada hari minggu tanggal 24 September, Om Jay menugaskan kami membuat resensi buku dengan judul “Menulislah Setiap Hari Dan Buktikan Apa Yang Terjadi”. Buku tersebut merupakan karangan Om Jay sendiri.

Setelah menunaikan sholat Ashar, saya sudah siap dengan handpone ditangan. Cukup lama menunggu,  akhirnya kelas menulis pertemuan kedua pun dimulai. Kami semua menuliskan nama kami masing-masing, sebagai bukti kehadiran dan siap mengikuti pembelajaran. Tapi sayang sekali, dari 60 peserta yang mendaftar hanya seperempatnya yang mengisi absensi. Barulah pada jam 20.10 menit, sekitar 30 orang peserta mengikuti pembelajaran. Saya mengerti sekali, semua peserta di grup menulis ini pasti memiliki kesibukan masing – masing. Tapi saya sudah berkomitmen, akan mengikuti kelas menulis ini sampai selesai, dan tentu saja saya akan berusaha mengerjakan tugas – tugas yang diberikan Om Jay.

Pada pertemuan kedua, kami diberikan materi yaitu  dasar – dasar menulis. Menurut Om Jay menulis adalah menyampaikan pesan melalui teks. Pesan akan sampai kalau dipahami pembaca. Saya baru tahu bahwa sebenarnya menulis itu tidak dibutuhkan keterampilan khusus. Kita hanya butuh ketekunan dalam menciptakan tulisan – tulisan. Tapi saya agak kurang yakin dengan pernyataan Om Jay, bahwa menulis tidak butuh keterampilan khusus, masa iya sih. Dan untuk itu, tentunya saya harus membuktikannya sendiri.

Mulai sekarang, Insyaalloh saya akan tekun menulis. Dan tak lupa membaca tentunya. Arahan dari Om Jay di pertemuan kedua benar – benar terdengar simple tapi tetap saja masih kesulitan untuk dengan segera menyetorkan tulisan karena memang saya terutama, belum terbiasa menulis. Tapi saya salut diantara teman – teman peserta, ada tulisannya yang sudah sangat bagus.

Saya tak habis pikir, kenapa beliau – beliau itu masih mau mengikuti belajar menulis, disatukan dengan orang seperti saya yang masih “lelengkah halu” (bahasa sunda:belajar berjalan).

Di pertemuan kedua ini Om Jay mengarahkan   kami untuk memulai menulis dengan tiga alinea. Alinea pembuka, isi dan penutup. Diakhir pembelajaran Om Jay menyuruh kami mencoba membuat tulisan dengan 3 alinea. Karena saya lebih suka tulisan yang berbentuk cerita, mirip – mirip cerpen gitu, makanya dalam waktu beberapa menit, taraaa…inilah hasil tulisan saya:

“Sepulang sekolah, setelah makan siang aku mengambil laptop. Aku belum sempat membuat resensi buku yang ditugaskan oleh seorang coach yaitu bapa Wijaya Kusumah di sebuah grup WA. ya aku ikut bergabung di grup itu, karena aku sangat ingin bisa menulis, apalagi memiliki buku, karyaku sendiri. Kalau iti kejadian wow…its wonderful.

Sedang asyik menulis, tiba – tiba konsentrasi menjadi buyar. Putri bungsuku yang baru berusia dua tahun setengah, tiba – tiba dating menghampiri. “Ma…mama, ayo main.”Rengeknya. Aku merasa terganggu, karena hari ini tugasku harus segera disetorkan. “Aduh dek, jangan ganggu, mama lagi sibuk, sana main diluar.” Kataku dengan suara tinggi. Putriku malah menjerit – jerit, aku sampai kewalahan menghadapi anakku yang satu ini. Aku melotot kearahnya, air matanya sudah memenuhi wajahnya. “Astagfirulohaladziim”, aku tersadar, tak semestinya aku membentak anak kecil. Kutinggalkan laptop, kupeluk anakku dengan perasaan bersalah. “Mama marah ya?” tanyanya polos. Aku menggeleng. “Enggak sayang, mama enggak marah, hanya ada sedikit kerjaan yang harus diselesaikan.” Ujarku lembut. Dia tersenyum. Sementara mataku berkaca – kaca. Aku mengutuk diriku sendiri. Ibu macam apa, aku ini. Dia hanya ingin sedikit diperhatikan tapi aku malah berlaku kasar. Kucium dia. Lalu asyik main lagi dengan bonekanya. Akupun melanjutkan pekerjaanku, membuat resensi buku.

Menurut Om Jay tulisanku beautiful, Om Jay sampai menitikan air mata membaca cerita dalam tulisanku. Tapi menurut feelingku Om Jay mau mengatakan sesuatu, bahwa bukan tulisan seperti itu yang seharusnya. Tapi gimana dong, saya benar – benar masih kurang mampu membuat tulisan yang mengalir bagai air dan isinya formal, serius dan informatif. Om Jay, saya benar – benar harus belajar lebih keras lagi nih Om, supaya bisa menghasilkan tulisan yang bagus seperti peserta lain.

Ya Alloh…, berilah saya kelancaran dan kemudahan untuk mengikuti kelas menulis ini sampai tuntas dan sampai saya benar – benar bisa menghasilkan tulisan yang bagus. Untuk Om Jay, semoga diberikan kesehatan agar bisa membimbing kami sampai selesai. Amiin Yaa Robbalaalamiin.

Komentar ditutup.