Inilah Penghambat Kegiatan Menulis

Artikel 3  : Penghambat kegiatan  tulis  menulis dan solusinya

Penulis    :  Indah Wiharti

Selamat pagi Omjay dan semua teman pelatihan menulis gelombang 2. Tema yang diangkat dalam pelatihan  kali ini adalah penghambat kegiatan tulis menulis dan solusinya.  Tema yang bagus karena menyadarkan saya bahwa menulis memang tidak mudah namun perlu diasah dan latihan berulang-ulang. Tidak ada kata menyerah dalam berlatih, apalagi berputus asa, sekalipun ketika saya membaca hasil tulisan sendiri, kadang terasa lucu dan banyak sekali kesalahan dalam pemilihan kosa kata sehingga terasa sedikit aneh.

Membaca tulisan Om Jay dan tulisan beberapa teman  sepertinya sangat  mudah bagi mereka merangkai kata demi kata sampai menjadi tulisan yang mengalir begitu indah mewakili pikiran sang penulis. Bahkan tulisan mereka mampu membawa pikiran pembaca, seakan  peristiwa yang terjadi  melibatkan pembaca, mampu mengacak – acak emosi dan imajinasi. Sungguh,  tidak mudah untuk dapat menulis yang demikian itu.

Malas berlatih menulis dan membaca karya orang lain menjadi salah satu penyebab mengapa hasil tulisan  kita tidak baik. Deni Damayanti mengatakan  bahwa kita harus melawan rasa malas, yaitu dengan cara menaklukan diri sendiri.

Menakhlukkan diri sendiri dan membuang jauh-jauh sifat malas dari kehidupan sehari-hari ternyata sulit dilakukan, namun dengan kebulatan tekad menjadi penulis yang handal akhirnya  saya pun dapat menaklukan rasa malas tersebut. Saya dapat membuktikan dengan karya yang luar biasa, yang saya tulis tidak seperti biasanya pula, sampai-sampai heran saya dibuatnya. Bagaimana tidak heran, tiba-tiba saya terkenal (imajinatif) karena tulisan saya yang luar biasa tersebut. Padahal saya baru menjadi seorang penulis pemula….”begitu indah”.

Sore itu, kurang lebih pukul 15.23 WIB saya membaca pesan dari salah satu teman alumni seminar nasional beliau menyebut nama saya untuk segera mengirim kembali naskah buku ke kesharlindungdikdas, waktu itu saya tidak menanggapi begitu serius sebab bagaimana mungkin saya mengirim naskah kalau beberapa jam sebelumnya saya melihat sudah tidak ada tempat untuk upload naskah. Masih teringat kejadian malam senin, 24 September 2017 hingga detik terakhir pukul 24.00 WIB saya berjuang sekian kali mencoba mengirim naskah sampai akhirnya harapan kandas begitu saja. Rupanya sinyal tidak bersahabat malam itu.  Saya pun menyerah, pergi ke tempat tidur berharap segera tidur pulas karena pukul 03.00 dini hari saya harus bangun untuk memasak menyiapkan makan sahur anak-anak.

Rasa kecewa membuat saya tidak dapat tidur segera, perjuangan edit naskah beberapa hari hingga dini hari tampaknya sia-sia, walau saya tahu pasti ada rencana yang lebih indah dari Tuhan Yang Maha Kuasa untuk hamba-Nya. Jika saya dapat memutar kembali waktu dan Kesharlindungdikdas tidak memajukan waktu deadline pengiriman naskah (semula saya membaca pengiriman naskah terakhir 25 September 2017) mungkin cerita akan lain, bisa lebih baik bisa pula lebih buruk. Wallahualam.

Kabar Kesharlindungdikdas memberi kesempatan kepada peserta yang belum mengirim naskah untuk mengirimkan kembali ternyata bukan kabar bohong, terima kasih Kesharlindungdikdas telah memberi kesempatan kepada kami. Sekalipun saya yakin tulisan saya jauh dari yang diharapkan, itu karena keterbatasan kemampuan saya. Terpenting adalah bahwa ada kesempatan mengirim naskah, dan syukur-syukur diberi kesempatan untuk mendapatkan pembinaan, pelatihan, workshop atau apapun  namanya demi sempurnanya karya tulis saya. Apapun hasil yang akan saya terima nanti, saya siap menerima dengan legawa atau lapang dada. Bagi saya hasil akhir adalah masalah rezeki, sedang rezeki itu urusan Allah, keyakinan itu menjadikan saya tidak ambisisius meskipun demikian  saya tetap manusia biasa yang mempunyai harapan dan impian, yaitu dapat menghasilkan karya monumental ( seperti buku tentunya!!!).

Pertemuan saya dengan Om Jay dan teman-teman guru hebat di seluruh Indonesia, menambah semangat membuat karya. Melalui media sosial kami berdiskusi, saling asah, asih, dan asuh. Yang lebih dulu mendapatkan ilmu dan berprestasi tidak pernah ragu berbagi, kami yang baru mulai selalu mendapatkan penyegaran dan  wawasan baru. Bersyukur dan selalu bersyukur,  Allah mempertemukan saya dengan komunitas guru dikdas berprestasi. Semoga ilmu yang kami dapatkan berkah serta dapat mengantarkan kami menjadi guru yang memiliki jati diri, kompeten, dan professional.

Kembali pada tema di awal tadi, malas menjadi penghambat kegiatan tulis menulis sudah saya patahkan dan taklukan melalui tulisan ini. Tak terasa sudah hampir 700 kata mampu saya susun disela-sela waktu istirahat antar jam ulangan tengah semester. Oh ya, di sekolah kami minggu ini sedang ada kegiatan ulangan tengah semester (UTS), jadwal uts jam pertama tadi adalah Bahasa Inggris,  anak-anak cepat mengerjakan soal sehingga menjadi berkah tersendiri bagi saya. Memanfaatkan waktu luang yang biasanya saya gunakan untuk ngerumpi, ngobrol yang kadang kurang ada manfaatnya kini betul-betul luar biasa. Bagaimana tidak luar biasa, saya mampu konsentrasi dan tetap menarikan jari-jari diatas papan ketik, tak sedikitpun tergoyahkan oleh senda gurau teman-teman guru, sekali lagi sungguh luar biasa, apakah itu yang dinamakan inspirasi muncul,  lagi mood atau apapun namanya yang pasti saya fokus pada tujuan semula yaitu mampu menulis minimal 700 kata.

Jadi, salah satu cara melawan kemalasan adalah memanfaatkan waktu kosong. Memanaje  waktu sedemikian rupa, menghargai setiap detik berlalunya waktu sebab waktu tak akan pernah kembali.

Om Jay dalam paparannya kemarin mengatakan ada sepuluh cara melawan kemalasan, beliau membaca buku karya Deni Damayanti (buku yang ingin segera saya beli), yaitu jadikan prioritas, manfaatkan waktu luang, pikirkan konsekwensi dari kemalasan, jika bermanfaat segera kerjakan dan jangan tunda, mulai dari sekarang, sesulit apapun harus dikerjakan, perhatikan apa yang diraih orang lain, dan beri diri sendiri hadiah. Sepuluh point penting tersebut sangat membantu saya keluar dari rasa malas.

Akhir kata, tak ada gading yang tak retak. Di dunia ini tak ada yang sempurna, kesempurnaan itu hanya milik-Nya. Itu sebabnya saya ssdar tulisan ini jauh dari kata sempurna, untuk layak dibaca saja masih perlu perjuangan. Semoga pelatihan menulis bersama Om Jay mengantarkan saya meraih mimpi.

                                                            Temanggung, 27 September 2017. Pukul. 11.07 WIB

                                                                                                    Penulis

                                                                                                Indah Wiharti

 

Iklan

One response to “Inilah Penghambat Kegiatan Menulis

  1. Saya sangat setuju kl menulis adalah sebuah keterampilan yg hrs sllu diasah dan dilatih. Dan saya jg setuju kl kita hrs bs memanage waktu kita yg hy 24 utk semua tanggung jawab dan hal2 yg hrs kita lakukan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s