Mencoba menorehkan pena di atas kertas

RESUME KEGIATAN PERTAMA

GROUP GURU MENULIS GELOMBANG III

JUM’AT 21 SEPTEMBER 2017

Tema kegiatan ‘tatap layar’ group hari ini adalah menjadi guru yang mampu menulis dan menerbitkan buku. Menulis adalah wahana alternatif bagi seorang guru untuk membagi ilmunya kepada orang lain, karena tidak ada sekat waktu dan ruang antara dirinya dengan peserta didik maupun pihak lain yang berkepentingan. Namun peluang ini belum secara maksimal oleh setiap guru. Salah satu penyebabnya adalah guru belum sepenuhnya memahami proses dan prosedur penulisan buku.

Guru mau menulis buku bila sudah tahu tujuan menulis dan akan tumbuh budaya menulis akan tercipta suasana kolaboratif antar sesama guru.  Menurut hasil pengamatan Pak Wijaya Kusumah bahwa beberapa guru telah memiliki kemampuan dasar menulis dan masih dibutuhkan peningkatan kemampuan ‘menjual’ agar tulisannya ‘laku’.

Dampaknya adalah diperolehnya kepuasan batin dan diperolehnya peningkatan kesejahteraan serta status sosial guru.  Modal utamanya adalah kesehatan jiwa yang dapat bertambah pada domain IQ dan ESQ-nya akibat budaya menulis. Hal ini disebabkan karena menulis adalah sebuah proses yang berkelanjutan dengan titik awal sebuah kesukaran atau keengganan untuk memulai proses penulisan.

Titik awal itu acapkali diperkaya oleh rasa gagap terhadap potensi diri yang dimiliki.  Untuk itulah dibutuhkan kesadaran diri untuk selalu berusaha menulis dengan modal kata seadanya dulu tetapi dilakukan secara terus menerus.  Dimulai dengan pemikiran dan konsepsi yang sesederhana mungkin tapi terus beranjak ke proses selanjutnya melalui proses pengayaan yang melibatkan banyak orang dan banyak buku.

Menulis merupakan sisi lain dari kemampuan membaca.  Dapat dikatakan bahwa membaca adalah pembuka atau sumber menulis.  Sehingga dibutuhkan upaya ekstra untuk membiasakan diri menjadi pembaca terlebih dahulu baru dapat menikmati profesi sebagai penulis.  Tetapi fenomena ini dapat dibalik dengan berupaya menjadi penulis dulu sambil menumbuhkembangkan budaya baca kemudian.

Kuncinya adalah jangan takut untuk mencoba menorehkan pena di atas kertas. Tulislah apa yang ada dalam kepala, lalu baca, baca, dan baca lagi. Maka akan muncul kemampuan editing kata, kalimat, paragraph dan seterusnya.  Menulis adalah menyampaikan pesan dan kemampuan itu harus dipaksakan agar terus ada dan tumbuh sehingga menjadi suatu budaya yang ujungnya adalah profesi.

By : Saleh Rusbandi, SMP Negeri 2 Jejawi OKI Sumsel

Komentar ditutup.