Penghambat Kegiatan Tulis Menulis dan Solusinya

TUGAS 3 KELAS GURU BELAJAR MENULIS BERSAMA OMJAY

A.n KHOIRIAH, SMP NEGERI 16 BANDAR LAMPUNG

PROVINSI LAMPUNG

 “Penghambat Kegiatan Tulis Menulis dan Solusinya”

Menulis merupakan keterampilan berbahasa dalam bentuk tulisan yang melibatkan penggunaan aksara. Pada umumnya sejak duduk di bangku sekolah dasar banyak orang yang telah bergelut dengan dunia menulis. Bahkan kala memasuki usia remaja, saat masa pubertas tiba biasanya jari jemari tangan dengan begitu mudahnya menguntai kata dalam rangkaian ungkapan kalimat cinta.  Atau ketika berjibakau dengan urusan lamaran pekerjaan, tak segan-segan keunggulan diri dengan lancar dideskripsikan dalam bentuk tulisan.

Kegiatan menulis sepertinya begitu dekat dan mudah, namun sebagian besar orang masih mengalami kesulitan dalam hal menulis. Terlebih lagi, apabila produk hasil tulisan dibaca oleh khalayak ramai.  Dalam kondisi seperti ini, biasanya tumbuh rasa tidak percaya diri bagi penulis. Menulis sebenarnya bukan merupakan keterampilan yang bersifat alamiah.  Menulis bukan termasuk keterampilan eksklusif yang hanya dimiliki oleh kelompok orang tertentu saja. Menulis termasuk keterampilan yang bisa dilatihkan dan dikembangkan oleh seseorang.

Dalam melakukan berbagai bentuk kegiatan sudah pasti selalu ada hambatan, tak terkecuali pula dalam kegiatan menulis.  Bagi penulis yang berjiwa besar, sejatinya hambatan adalah tantangan yang  harus ditaklukkan. Namun, untuk penulis pemula justru kehadiran hambatan tersebut dapat dijadikan alasan untuk tidak menulis.  Oleh karena itu, agar agenda menulis menjadi kegiatan yang menarik dan berkesan, ada beberapa hambatan yang perlu diketahui oleh penulis pemula.

Pertama, Malas

Secara harfiah, rasa malas termasuk sense of individual karena di alam pikiran bawah sadar sudah terekam penilaian negatif tentang sesuatu sehingga merasa enggan untuk melakukan agenda kegiatan tersebut.  Rasa malas bisa juga diartikan sebagai penurunan motivasi untuk melakukan sesuatu.  Rasa malas sering pula dikatakan sebagai salah satu penyakit mental, yang mempunyai ciri sering menunda-nunda pekerjaaan. Dalam aktivitas kehidupan malas adalah sifat yang perlu dihindari. Terlebih lagi, bila seseorang berkeinginan menjadi penulis maka rasa malas harus segera dijauhkan dari dalam diri. Memang tidak mudah untuk melawan rasa malas tersebut. Namun rasa malas bisa dilawan dengan cara menaklukan diri sendiri. Karena pada hakikatnya menaklukkan ribuan orang belum tentu bisa disebut sebagai pemenang tapi mampu mengalahkan diri sendiri adalah sang penakluk sejati.

Menurut buku buah karya Ibu Deni Damayanti yang disampaikan oleh OmJay dalam agenda kegiatan WA Grup Guru Belajar Menulis, ditegaskan bahwa ada 10 cara yang bisa dilakukan seseorang untuk melawan rasa malas tersebut, yakni (1) Menjadikan menulis sebagai agenda prioritas; (2) Memanfaatkan waktu kosong secara maksimal; (3) Pikirkan konsekuensi dari kemalasan atau effect of lazy; (4) Jika bermanfaat maka bersegaralah untuk melakukan dan tidak perlu menunda-nunda pekerjaan; (5) Mulai dari sekarang; (6) Sesulit apapun harus dilakukan alias “pantang menyerah”; (7) Perhatikan yang diraih oleh orang lain sehingga menjadi pemicu diri; (8) Memberi hadiah pada diri sendiri atau self gift; (9) Lakukan olahraga secara rutin; (10) Jangan lupa cukup istirahat.

Kedua, Tidak Tahu Manfaat Menulis

Ada kutipan bijak yang bilang,” Jika ingin mengenal dunia maka membacalah, dan jika ingin dikenal dunia maka menulislah”.  Banyak orang yang belum mengetahui manfaat dari menulis. Seperti misalnya, sebelum novel “Ayat-Ayat Cinta” menjadi best seller bahkan sampai dibuatkan versi filmnya, orang tidak mengenal siapakah itu Habiburrahman El-Shirazy. Tapi ketika buku tersebut mencapai rating tertinggi, orang banyak berebut ingin mengenal sosok sang penulis dari buku best seller itu.

Saat ini keterampilan menulis menjadi begitu penting. Karena ada banyak manfaat yang dapat diperoleh dari skill menulis, antara lain (1) Kepuasan batin; (2) Mendapat penghasilan tambahan; (3) Popularitas; (4) Lebih memahami pengetahuan; (5) Mampu membangun kecerdasan bangsa.

Ketiga, Tidak Ada Semangat Belajar

Kemahiran menulis berbanding lurus dengan seringnya melakukan kegiatan menulis. Oleh karena itu, penulis pemula harus terus memupuk semangat belajar secara kontinu. Apabila tidak ada semangat belajar dalam menulis, maka ada beberapa hal yang bisa dilakukan, antara lain (1) Menciptakan masa depan; (2) Menciptakan sensasi; (3) Mulailah dengan rasa senang; (4) Kembangkan tujuan menulis; (5) Ingat akan kematian; (6) Tinggalkan teman yang tidak perlu; (7) Hampiri bayangan kecemasan; (8) Berlatih dengan keras.

Keempat, Merasa Tidak Punya Waktu

Pada umumnya setiap orang memiliki rutinitas pekerjaan yang tinggi. Tapi kesuksesan hanyalah akan diraih oleh orang-orang yang berhasil mengatur waktunya secara baik. Bila ada orang mengatakan tidak punya waktu buat menulis, biasanya orang tersebut belum memiliki tujuan menulis. Karena apabila telah memiliki tujuan, maka secara otomatis akan mengerahkan tenaga dan pikiran guna mencapai tujuan tersebut. Bila belum memiliki waktu untuk menulis, berikut cara mudah mengatur waktu agar agenda menulis dapat terealisasi dengan baik, yaitu (1) Buang jam karet; (2) Gunakan waktu seefektif mungkin; (3) Memanfaatkan waktu produktif.

Kelima, Buta Bahasa Tulis

Seseorang yang piawai dalam menggunakan bahasa lisan, belum tentu mahir menyusun bahasa tulisan.  Bila buta bahasa tulis bukan berarti seseorang lantas memutuskan berhenti menulis, justru malah sebaliknya harus terus berlatih menulis. Salah satu yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan tanda baca dan mempelajari cara orang lain menulis. Seiring berjalan waktu, lama kelamaan menulis akan terasa lebih mudah.

Keenam, Merasa Tidak Punya Ide

Mencetuskan ide menulis bukanlah hal yang gampang.  Kebuntuan dalam menemukan ide sering menghinggapi penulis pemula.  Apabila seseorang tidak mempunyai ide menulis, maka disarankan untuk membaca buku “Menulislah Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi”, buku tersebut buah karya dari Bapak Wijaya Kusumah, M.Pd.  Dalam buku tersebut telah dideskripsikan cara memunculkan ide menulis.

Untuk menemukan sumber ide dalam menulis, seseorang perlu berada dalam kondisi fresh dan stabil sehingga memudahkan menangkap ide-ide yang bertebaran di lingkungan sekitar dan sebaiknya menghindarkan diri dari tingkat stressing yang tinggi. Menulis merupakan pelepasan jiwa seseorang dalam bentuk tulisan, namun untuk menemukan ide menulis terkadang juga cukup melelahkan.  Melalui tulisan, penulis mampu memecah kesunyian jiwa.  Asalkan seseorang berupaya dengan tekad yang kuat, maka agenda menulis sesungguhnya benar-benar dapat menjadi pelepasan dari kepenatan jiwa seseorang.

Wallahuaqlam bishawab.

Komentar ditutup.