Kesulitan Dalam Menulis

TUGAS 1-Vivin Elviriana-Gelombang5
Kesulitan dalam Menulis
Kesulitan apa dalam Menulis? Hmm, topik yang menarik di awal pertemuan pertama yang ditugaskan Omjay dalam pelatihan menulis online ini. Menarik karena saya  punya kesulitan tidak pernah menyelesaikan tulisan saya. Maksud Saya, tulisan pribadi yang saya karang. Kalau tulisan yang terpaksa dibuat dalam rangka pelatihan atau tugas-tugas semasa kuliah ya pasti selesai. Kalau tidak selesai, tidak dapat nilai atau tidak dapat sertifikat. Iya, kan?
Mengapa tidak selesai ya? Kesulitannya apa ya?. Saya mencoba menganalisis diri dalam menulis nih. Pertama, saya tidak PD alias tidak percaya diri kalau mengungkapkan pikiran. Terkadang saya lebih menghindari tulisan yang dapat menimbulkan perbedaan cara pandang terhadap sesuatu hal atau polemik. Saya khawatir mereka tidak dapat menangkap apa yang saya maksud. Dalam tulisan kita dibantu tanda baca untuk berekspresi. Berbeda dengan berbicara kita dibantu dengan ekspresi wajah dan gestur.

Terkadang ada peristiwa terjadi di sekitar saya yang menarik dan ingin sekali menuliskan pandangan saya, tetapi ada rasa khawatir akan komentar orang atau perbedaan cara pandang atau tulisan tidak disukai menimbulkan rasa khawatir. Pembaca ada yang merasakan hal. yang sama dengan yang saya rasakan?
Kedua, Saya termasuk kritikus paling pedas, terutama terhadap tulisan sendiri. Akhirnya saya tidak puas terhadap tulisan yang sedang dikerjakan. Topik yang ditulis dirasa tidak menarik lagi. Akhirnya, tidak ingin meneruskan tulisan.
Kalau ingin  menulis  tulisan nonfiksi,   sudah banyak ditulis orang. Tulisan dengan tema-tema terutama pembelajaran, pendidikan  itu banyak. Bahkan, tulisan-tulisan itu berisi referensi yang lengkap. Jadilah saya pembaca setia tanpa  keberanian melanjutkan tulisan hmm.
Ketiga, saya perhatikan diri ini mudah pecah konsentrasinya. Pemecahnya media sosial, nomor satu WA. Iya, buat saya WHATS APP pemecah konsentrasi yang menggoda. Saya selalu ingin tahu teman nulis apa yaa. Bayangkan punya WA grup lebih dari 14. WA grup Teman-teman sekolah, kuliah teman kerja, teman seprofesi teman sehobi, hhhh….. Pesan, kiriman teks, video, komentar-komentar mereka membuat dunia menulisku teralihkan dengan sukarela…hahahaha.
Ada juga pesan-pesan kedinasan atau pertanyaan-pertanyaan siswa yang harus saya jawab segera. Ketika melanjutkan tulisan sudah kehilangan ide atau mood.
Pesan-pesan  di  WA  yang  harus tek-Tok, maksudnya dibaca  dan  dibalas  segera, dibaca  lagi,  dibalas  lagi.  berulang.  ketika  sudah  selesai,  hilang  sudah  semangat menulisnya.
Mungkin saran penulis -penulis yang produktif itu, agar menulis di tempat Sepi tanpa gangguan memang mesti dilakukan. Bahkan, ada penulis yang mengatakan menulislah di tempat yang tidak ada akses internetnya, hihihihi…. Benar juga nih, sarannya cocok untuk saya.
Aduuh sudah 700 kata belum yaa, bantu hitung dong.. melirik ke pojok kanan bawah, hmm baru 459 words. Apalagi ya kesulitan saya dalam menulis… Hemm yang keempat, ide. Saya ingat-ingat dulu yaa apa lagi yang membuat saya tidak selesai menulis. Terkadang ide itu ada bahkan ada beberapa. Namun, ketika tulisan itu sudah berjalan tiba-tiba di tengah perjalanan tulisan, macet. Saya tidak tahu lagi apa yang harus ditulis. Saya kehilangan ide. Harus bagaimana lanjutan tulisan saya.
Barangkali, solusi membuat kerangka karangan bisa membantu dalam hal ini. Saya akan coba terapkan. Juga saran Omjay tentang paragraf pembuka, isi, dan penutup mengingatkankan saya kembali tentang teori menulis  tentang bagian-bagian isi  tulisan.
Kelima,..ini tentang  mood.  Bagaimana  ya membangun  mood  yang  konsisten  untuk menulis.  Karena  mood  menulis  saya  muncul  antara  lain kalau  sedang  ada  penugasan,  atau mood menulis yang lagi tinggi ( -ini jarang-).
Saya  pernah  baca  sih,  kalau  menulis  itu  seperti membangun Kebiasaan  positif. Hmm, Kebiasaan positif ya  tidak  muncul begitu saja  seperti rasa lapar  tapi harus dibiasakan, dilatih  dengan  tekad kuat.  Godaannya  besar  juga,  ketika  sudah menetapkan jadwal  menulis  pada  pukul  berapa  setiap  harinya.  Tiba-tiba rasa letih, bosan, dll  itu tidak  bisa  dielakkan.  Akhirnya saya memilih  menonton  TV   atau  malah tidur.
Saya  coba  ingat-ingat,  solusi  tentang  mempertahankan kebiasan  menulis. Ada penulis yang  memberi  saran  pokoknya  menulis  setiap  hari  kapan  saja.  Ada  juga  yang mengatakan menulislah seperti shalat.  Wah,  menarik,  seperti apa yaa, apakah  sehari lima  kali  menulis  dengan  satu  kali  menulis  satu  paragraf?  Omjay  mengatakan, Menulislah  setiap  hari  dan  buktikan  apa  yang  terjadi.  Ada  juga  penulis  yang mengatakan,  menulislah  selembar  sehari.   Semua  saran  menarik. Terus,  Saya mau  mencoba  yang mana yaa. Menulis  setiap hari,  lima kali sehari, satu paragraf  setiap kalinya, jadilah  sehari selembar.  Hmm, mau belajar  disiplin dalam  menulis. Semangaat aah….
Menulis 700  kata sehari dan membaca 70000  kata sehari  ini  yang  saya  baca  di  WA pelatihan  menulis  gelombang 5.  Ternyata  menulis   700  kata  itu  cukup  banyak  buat saya.  Tetapi  ini  tantangan  yang  menarik.  Semoga  saya  bisa mengikuti  pelatihan  ini sampai  selesai  dengan  mengerjakan  tugas-tugas  tepat  waktu  dan  dapat melanjutkan kebiasaan  menulis  setiap  harinya.
Terima  kasih  Omjay  dengan  kesempatan  belajar  ini.
Iklan

One response to “Kesulitan Dalam Menulis

  1. terima kasih Omjay untuk penyuntingan dan masukannya. VE

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s