Ketika Senjata dalam Genggaman

Ketika Senjata dalam Genggaman

Resensi Buku

Oleh: Fitriyani

buku-menulis

Judul Buku               :Menulislah Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi

Penulis                       : Wijaya Kusumah, S.Pd.M.Pd.

Penerbit                     : PT. Indeks

Tahun Terbit             : 2012, Cetakan Pertama

Tebal Halaman         : xii + 290

Dari empat keterampilan berbahasa, yakni menyimak, berbicara, membaca dan menulis, yang terakhir disebut merupakan keterampilan berbahasa yang paling rumit dan jarang dimiliki banyak orang. Bukan saja karena pada faktanya, menulis menuntut keterampilan lain, terutama membaca, tapi juga karena banyak faktor yang mempengaruhinya, seperti rendahnya minat baca, rendahnya kualitas rasa ingin tahu, sikap cepat merasa puas, sikap suka membebek, alasan keterbatas waktu, dan sebagainya. Adapula yang sadar dalam dirinya ada minat dan bakat menulis, tapi merasa keterampilannya sangat rendah, sehingga akhirnya tidak merasa percaya diri untuk memulai.

Nah..bagi anda yang ingin mengetahui, menambah wawasan, dan melejitkan kemampuan menulis yang anda miliki, maka buku ini bagaikan senjata utama bagi para pengembara di rimba tulis menulis.

Buku yang dikemas dalam bahasa yang sangat renyah ini sangat menarik untuk dibaca, tidak ada kesan menggurui sama sekali. Di tambah dengan beberapa ilustrasi dan foto, yang bisa semakin memotivasi pembaca untuk menulis.

Terdiri dari 75 bahasan, buku ini benar-benar membahas tentang kita, bukan tentang orang lain. Inilah uniknya buku ini. Ketika kita membacanya, justru seakan kita menemukan titik pijak kita di sana, semacam ungkapan ini, “O iya, ini aku banget….” dan seketika itu terpantiklah ide-ide kita. Ini sesuai sekali dengan apa yang dinyatakan penulis, menulislah sesuatu yang anda kuasai, sehingga tulisan anda benar-benar renyah dan memikat pembaca. Tampak jelas bahwa penulis menguasai apa yang sedang dibahasnya, sehingga pembaca seakan-akan berada di alam buku itu, berselancar dalam pemikiran penulis, dan bukan sedang membaca kertas dengan sejumlah tulisan.

Meski buku ini sangat tebal, dan saking tebalnya, bisa langsung membuat ciut nyali orang yang memang malas membaca dan apalagi tidak mengerti teknik membaca efektif. Ditambah lagi dengan kualitas ilustrasi dan foto yang hanya hitam putih, menjadi terkesan kurang menarik. Padahal kalau disimak judul demi judul, sungguh buku ini bukan sekedar teori panduan, tapi benar-benar sanggup membawa kita pada “ke-diri-an” kita. Contoh, ketika penulis menyarankan, segeralah menulis ketika kita ada ide, tidak harus menunggu sambil merangkai kalimat sempurna, yang ada pada bagian berjudul “Menulislah Tiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi”, kita seakan diingatkan bahwa kita sering lho, dapat ide dan ingin menuliskannya, tapi..ah entar kalau memang ada waktu senggang. Akhirnya ide itu menguap begitu saja.

Tidak hanya bagi penulis pemula, buku ini bagaikan empat sehat lima sempurna bagi penulis yang terjun ke dunia penulisan dan ingin meningkatkan keterampilan menulisnya. Dan hebatnya lagi, buku ini juga membahas sisi ukhrawinya, di mana menulis tidak sekedar memiliki tujuan kepuasan duniawi, seperti materi, status sosial, dan sebagainya. Lebih dari itu, penulis menyarankan untuk bisa menulis sebagai bagian dari ibadah, di mana informasi yang dibagikan bisa membawa manfaat sebanyak mungkin bagi orang lain.

Akhirnya, salah satu poin pentingnya adalah bahwa menulis dan membaca adalah dua kegiatan yang tidak dapat dipisahkan. Tidak ada penulis yang tidak rajin membaca. Semua itu berproses yang dimulai dari adanya ide. Dan memang, tingkat minat baca orang Indonesia dikenal sangat rendah dibandingkan neara-negara lain di Asia Tenggara, apalagi dibandingkan negara maju, seperti Jepang. Oleh karenanya, bagi siapa saja yang ingin meningkatkan kemampuan menulis, maka wajib baginya untuk meningkatkan pula kemampuan dan minat bacanya.

Buku ini masuk kategori wajib punya bagi mereka yang ingin bergelut dalam rimba raya penulisan. Bagaikan senjata dalam genggaman, buku ini akan membantu kita bertahan dalam ganasnya rimba, baik sebagai senjata untuk memenuhi keperluan hidup, maupun sebagai alat perlindungan dari binatang buas. Maka, bacalah buku ini, resapi, berkomunikasilah, candailah…dan yang terpenting, buktikan cinta anda padanya, dengan hasil tulisan yang semakin intensif dan berkualitas. Maka, ketika senjata sudah dalam genggaman, apalagi yang anda tunggu?

Barabai, 26 September 2017

Fitriyani

Komentar ditutup.