PENGHAMBAT MENULIS DAN CARA MENGATASINYA

PENGHAMBAT MENULIS DAN CARA MENGATASINYA

*Resume Kegiatan Menulis Buku Bersama Om Jay

Oleh: Ria Rochmi Safitri

Banyak orang beranggapan bahwa menulis adalah pekerjaan yang sulit, termasuk saya sendiri juga merasakannya. Sehingga ketika keinginan menulis itu muncul, dan mulai diwujudkan, pada titik tertentu akan mengalami yang namanya capek, bosan karena tulisan tidak selesai-selesai, dan yang paling sering adalah merasa mentok, tidak tahu lagi apa yang akan dituliskan. Hingga pada akhirnya kegiatan menulis dihentikan.

Pada pertemuan ketiga pelatihan menulis bersama Om Jay, saya mendapat banyak ilmu tentang ini, karena sebenarnya kesulitan dalam menulis dapat diantisipasi kalau kita menyadari faktor penghambat yang muncul. Menurut hasil yang dipaparkan beliau, sedikitnya ada 6 faktor penghambat kegiatan menulis, yaitu sebagai berikut.

  1. Malas

Malas adalah sifat yang hanya dimiliki oleh seseorang yang tidak menginginkan adanya perubahan pada dirinya. Seperti kita ketahui, hidup kita akan terus berjalan, entah kita bersinergi untuk mengikutinya atau tidak. Oleh karena itu, kita harus selalu meyakini bahwa kalau masih tetap pada sifat malas yang kita miliki, maka kita akan ketinggalan dengan yang lain. Siapa yang rugi? Tentu kita sendiri!

Sifat malas cenderung muncul dikarenakan oleh diri sendiri yang tidak memiliki dorongan kuat untuk memperoleh hasil yang baik dan cenderung mudah puas dengan keadaan yang ada. Tidak salah jika kita merasa puas dalam arti bersyukur atas karunia Allah, namun jika kita menuruti rasa malas sehingga membuat kita tidak berkembang, itu sama artinya dengan tidak bersyukur atas anugerah/ potensi yang Allah karuniakan kepada kita, yang mengakibatkan potensi itu tidak dimanfaatkan.

Oleh karena itu, rasa malas harus kita lawan. Salah satu caranya adalah dengan menetapkan keyakinan dalam hati untuk selalu terus maju.

  1. Tidak tahu manfaat menulis

Seorang yang memulai menulis harus menetapkan terlebih dahulu tujuan menulis. Mengapa? Jika kita tidak tahu tujuan menulis, maka tulisan kita bisa jadi tidak bermakna, karena kita tidak tahu arah tulisan kita nantinya.

Menulis yang paling sederhana adalah untuk mengungkapkan isi hati. Contohnya seseorang yang menuliskan status di media sosial. Ada beberapa orang yang tidak dapat mengungkapkan isi hati secara lisan, maka dengan menuliskannya dapat menyelesaikan masalah. Ketika dia telah menuliskan isi hatinya, kelegaan baru akan tercipta.

Beberapa saat lalu, saat saya melihat sebuah tayangan di televisi, seseorang mengatakan bahwa pendapat yang disampaikannya secara lisan tidak pernah didengarkan orang lain. Akhirnya, dia tuangkan ke dalam buku yang kemudian bisa dibaca banyak orang. Kini, dia telah meras puas karena isi hatinya telah mendapat perhatian banyak orang.

  1. Tidak ada semangat belajar

Menulis membutuhkan kesabaran dan ketelatenan sehingga membutuhkan waktu lama untuk menghasilkan sebuah karya yang berkualitas. Ada kalanya, dalam proses tersebut, semangat untuk menulis tiba-tiba hilang.

Ketika terjadi penurunan semangat dan merasa lelah, ada baiknya kita menghentikan proses menulis terlebih dahulu. Mengapa? Untuk memberikan waktu sejenak bagi kita untuk istirahat. Menulis tidak bisa dipaksakan ketika lelah, karena hanya akan menghasilkan tulisan yang buruk. Maka tidak ada salahnya kita memberikan waktu istirahat sebentar untuk kemudian melanjutkan kegiatan menulis kembali.

Namun bagaimana ketika semangat itu turun dan sulit untuk dikembalikan lagi?

Maka yang biasanya saya lakukan adalah dengan melihat orang lain yang sudah berhasil dengan kegiatannya menulis. Dari situ, saya akan termotivasi kembali. Oleh sebab itu, saya merasa penting sekali untuk mempunyai teman yang sama-sama mempunyai hobi menulis untuk menjaga semangat kita.

  1. Merasa tidak punya waktu

Beberapa orang yang memiliki aktivitas yang sangat padat merasa tidak punya waktu untuk menulis. Padahal, aktivitas-aktivitas itu kita sendiri yang mengatur. Kalau kita mempunyai keyakinan hati untuk tetap bisa menulis, maka tidak ada yang tidak mungkin.

Apalagi dengan perkembangan teknologi sekarang, kegiatan menulis bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja. Misalnya saja saat kita sedang menunggu antrian, kita bisa memanfaatkan gadget kita untuk menulis, karena menulis sekarang tidak harus menggunakan pena atau komputer. Cukup dengan memanfaatkan ponsel, kita pun sudah bisa menghasilkan karya.

  1. Buta bahasa tulis

Seseorang yang buta bahasa tulis sehingga merasa tidak bisa menghasilkan karya yang bagus sebenarnya dikarenakan oleh kurangnya literasi bahan bacaan yang dimilikinya. Dengan banyak membaca, seseorang akan secata otomatis mengasah kemampuannnya untuk menilai karya yang bagus dan tidak. Karena itu, memperkaya jenis dan bahan bacaan dapat dijadikan solusi untuk seseorang yang merasa buta bahasa tulis.

  1. Merasa tidak punya ide

Sering orang tidak segera menulis karena merasa tidak punya ide, termasuk diri saya sendiri. Padahal, ide sebenarnya ada di mana-mana, ada di sekeliling kita, baik dari buku maupun lingkungan sekitar. Bahkan ketika kita berinteraksi dengan orang lain, kita dapat memunculkan ide. Yang paling penting adalah mengasah diri kita untuk lebih peka terhadap lingkungan sehingga apa yang kita amati dapat kita tuliskan.

Setiap ide yang muncul harus segera dituliskan kalau tidak ingin lupa atau hilang, apalagi jika saat ide muncul, kita masih disibukkan dengan kegiatan yang lain. Kita harus mempunyai catatan sendiri tentang ide-ide yang belum sempat dikembangkan. Ketika sudah ada waktu, meskipun sempit, kita bisa mulai menuliskan sedikit demi sedikit.

Pada akhirnya, kegiatan menulis tidak bisa kita pisahkan dari kegiatan membaca. Semakin banyak bahan bacaan, hasil tulisan kita juga semakin kaya isinya. Maka, jika menulis itu dilakukan 1 x, sebelumnya harus membaca paling tidak 3 x.

Selamat menulis!

Selamat berkarya!

Selamat mengguncang dunia dengan tulisan!

26 September 2017

Komentar ditutup.