Abah

Abah

Oleh:Ririn Arini

Abah. itulah panggilanmu saat ini. saat anak perempuanmu melahirkan anak laki-laki. sekarang kau sudah memiliki cucu. abah kau sudah semakin tua, rambutmu yang hitam kini berubah menjadi putih. Tubuhmu yang kekar kini mulai mengeluh lelah.

Abah, kau sosok laki-laki terhebat yang pernah aku temui di dunia ini. kau bukan perwira TNI, kau bukan pejabat, bukan polisi atau pun PNS yang hebat. kau hanya seorang petani yang merangkap sebagai penjual kacang tanah di pasar tradisional.

Setiap pukul 03.00 dini hari kau selalu terbangun untuk bercerita kepada sang pemilik jagat raya tentang kehidupan yang kau dijalani. Waktu subuh kau isi dengan berjamaah di mesjid. Kemudian sebelum matahari terbit kau sudah membawa motor odong-odong itu sebutan kami sekeluarga, untuk menjajakan satu sampai dua karung kacang tanah ke pasar.

Ketika matahari sudah mulai berada di atas kepala kau pulang dari pasar membawa hasil dagangan yang telah laku terjual. Terkadang jika pasar sedang ramai kacang tanah yang kau bawa habis terjual, tapi jika pasar sepi  kau hanya membawa uang hasil beberapa liter kacang yang laku bahkan terkadang sama sekali tak ada yang laku terjual.

Tak lupa kau selalu menympatkan untuk datang ke rumah tepat waktu sebelum adzan dzuhur tiba agar bisa sholat berjamaah di mesjid. Sungguh waktu dirumah kau gunakan untuk bercengkarama dengan keluarga dan beristirahat.

Ketika sore harinya kau bawa peralatan tempurmu untuk mengolah tanah di sawah menanam padi dan tanaman lain. Hari-hari kau lalui tanpa mengeluh. cucuran keringatmu yang begitu mulia kau sembahkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan membiayai anak-anakmu sekolah.

Abah, kau bukan orang hebat dimata dunia, kau bukan orang yang banyak berbicara dan bercanda. Di keluarga besarmu, kau hanya sebagai pendengar karena kakak dan adikmu berhasil menjadi PNS. Hanya kau saja yang bukan siapa-siapa kata mereka. Kau juga bukan orang yang suka bergaul ngobrol ngalor ngidul. Di masyarakat terkadang kau dinomor duakan seperti tak dihargai. sebagai contoh saat akan naik khutbah buku teks yang sudah kau siapkan disabotase. Tetapi kesebaranmu yang luar biasa membuat tekad anak-anakmu berubah menjadi sumpah.

Abah, teladan yang kau berikan tak habis sampai disini. tahun 2007 bagaimana kita sekeluarga mendapat anugrah sekaligus ujian hidup yang membuat kita belajar sampai saat ini. saat itu lahir anak ketigamu, berjenis kelamin perempuan yang merupakan kebahagiaan terbesar karena kedua anakmu sudah besar-besar. tangis haru bahagia pecah  saat itu.

Selang beberapa hari abah dilanda ujian, abah ditipu sebanyak 4 juta oleh seseorang yang katanya memiliki kacang tanah banyak. Uang 4 juta bagi keluarga kami sangat besar. Tak lama setelah itu anak perempuanmu yang masih duduk di bangku SMA kelas 2 jatuh sakit, sakit yang tak tertahankan dibagian pinggul sampai tidak bisa berjalan bahkan tidak bisa menggerakan kaki kanannya.

Entah apa penyakitnya. Menurut diagnosa dokter tidak ada yang salah dibagian pinggul. hasil rontgen tidak menunjukan apa-apa. pengobatan dokter trus dijalani tak lupa pula berobat menggunakan alternatif lain.

Sebulan berobat jalan tidak ada perubahan yang signifikan. Anak perempuannya hampir menyerah dan putus asa, namun dengan kesabaran dan doa abah dan mamah, akhirnya ada jalan melalui pengobatan alternatif di kampung yang Alhamdulillah anak perempuannya sembuh dari rasa sakit yang diderita. Anaknya bisa berdiri kembali dan bisa berjalan seperti sedia kala.

Rasa kegundahan dan kekhawatiran sudah mulai memudar pada saat itu. namun satu minggu kemudian anak perempuanmu mengalami sakit kembali dibagian punggung. Sakit yang teramat sakit, panas seperti dibakar. tangisan ketakutan kembali pecah. akan tetapi dari alternatif dikampung pula alhamdulillah Allah memberi jalan kesembuhan.

Selang beberapa jam, waktu itu adzan maghrib berkumandang, anak perempuannya mengalami batuk tanpa jeda. Hingga pada jam 12 malam keluarlah bercak darah. Tangisan kembali pecah, raut kekhawatiran terlihat diwajah abah saat itu.

Dilarikanlah anaknya ke mantri terdekat. Namun ditolak karena tidak menerima pasien. Akhirnya abah pergi ke puskesmas, masuk ruang IGD dan akhirnya mendapat rujukan ke rumah sakit daerah.

Rumah sakit daerah pun merujuk ke rumah sakit provinsi. Tetapi abah dan keluarga lain tetap bersikeras ingin dirumah sakit daerah saja dengan berbagai pertimbangan dan kondisi saat itu.

Abahlah yang menemani selama anak perempuannya dirawat tanpa pulang kerumah. saat mengalami kritis abah yang ada di samping menemani. ibu pulang pergi menengok dan membawakan bekal pakaian dan makanan karena saat itu ibu harus mengurus adik bayi yang usianya belum genap satu bulan. akhirnya pertolongan Allah selalu hadir, setelah 10 hari dirawat, alhamdulillah anak perempuan abah dinyatakan sehat dan boleh pulang, dengan catatan harus melakukan kontrol selama 3 kali  ke rumah sakit tersebut.

apakah yang terjadi selanjutnya????

Komentar ditutup.