Aku Ingin Menulis

Aku Ingin Menulis

Oleh Remy Setyowati

 

Kata Om Jay, “Seorang guru harus bisa menulis”. Tentu dong! Kalau buta huruf tidak bisa jadi guru. He…he…he… piss Om Jay.

Saya adalah seorang guru SD. Menulis itu menjadi momok yang menakutkan bagi saya. Rasanya itu seperti dapat hukuman kalau di suruh menulis. Padahal dalam pelajaran Bahasa Indonesia saya sering menyuruh murid – murid untuk menulis pengalaman pribadi mereka yang menyenangkan atau menyedihkan.

Tiap habis liburan biasanya saya suruh menulis cerita pengalaman selama liburan. Tapi kenapa kok saya sebagai guru malah tidak bisa menulis. Sekarang ini semua guru dituntut untuk menulis, membuat buku, karya inovatif dan apalah itu. Serasa duniaku hancur. Putus harapan untuk bisa naik pangkat. Tapi, hanya berdiam diri saja tidak akan menyelesaikan masalah. Mau menulis tapi tidak tau harus mulai dari mana. Semoga dengan mengikuti “Belajar Menulis Bersama Om Jay” bisa menjadi solusi buat momok menakutkan bagi saya yaitu “Menulis”.

Pengalaman pertama ikut belajar menulis secara online bersama Om Jay sangat menyenangkan. Membaca tulisan Om Jay di WA bagaikan berdiri di depan kaca dan terlihat jelas jawaban kenapa saya tidak bisa menulis, ya itu karena saya tidak suka membaca. Dalam penjelasannya Om Jay berkata bahwa, “Menulis adalah pekerjaan seorang guru profesional. Salah satu tugas guru adalah menuliskan perencanaan pembelajaran”.

Alhamdulliah saya sudah mempunyai sertifikat profesi, bisa dikatakan saya adalah seorang guru profesional. Tapi bagaimana dengan menulis? Dalam benak saya menulis adalah membuat suatu karya yang bagus separti makalah, penelitian, menulis buku, novel, dan sejenisnya yang indah – indah. Ternyata menulis perencanaan pembelajaran itupun sudah bisa dikatakan menulis. Kalau menulis perencanaan pembelajaran sich sudah jadi makanan sehai – hari . Tiap hari juga membuat perencanan pembelajaran.

Pada penjelasannya yang ke dua Om Jay berkata bahwa, “ Tidak banyak guru yang mampu menulis dan menerbitkan buku. Hal ini dikarenakan guru kurang banyak membaca buku. Wawasan guru masih kurang karena enggan membaca. Ditambah lagi para guru jarang sekali beli buku baru. Padahal buku baru sangat penting dibaca guru untuk menambah ilmunya.” Wah, yang ini gue banget ! malu, senang, bangga, atau sedih ??? ternyata selama ini saya amat sangat payah sekali.

Bagi saya membaca adalah kegiatan yang membosankan. Males banget kalau disuruh membaca. Tapi saya termasuk orang yang beruntung dipertemukan dengan teman–teman yang gemar membaca dan menulis. Sedikit demi sedikit saya tertarik untuk ikut menulis. Ada teman yang meminjami buku agar saya baca. Bukunya bagus saya tertarik untuk membacanya.

Tapi memang perubahan itu tidak instant. Ada saja halangan untuk berubah. Buku yang tipis yang biasanya teman saya membacanya bisa selesai dalam sehari, tapi kenyataannya sudah lebih dari sebulan buku itu belum selesai juga. Saya memang payah sekali. Iya memang payah. Ingin berubah jadi gemar membaca tapi masih saja malas. Malas atau tidak sempat ya??

Itu alasan yang klise kata temanku yang gemar membaca. Kalau memang diniati pasti sempat. Tapi kenyataannya sampai saat ini bukunya belum juga selesai saya baca. Oh menulis dan membaca. Kenapa kau begitu sulit bagiku. Lalu ada teman yang satu lagi mengajak untuk menulis, saya langsung angkat tangan. Lalu teman saya menyarankan untuk ikut “Belajar Menulis Bersama Om Jay” dan akhirnya saya kenal sama Om Jay.

Pertama langsung diberi tugas menulis minimal 700 kata . Bagi saya wow banget. Shock itu wajib. Tapi tetap akan saya coba .dengan susah payah saya bertekad akan mencoba menulis. Dengan ucapan Basmallah saya bertekad untuk menulis. Pakoknya saya harus bisa.

Pada penjelasan Om Jay yang ketiga yaitu, mereka yang mampu menulis adalah para guru yang rajin membaca. Bagi mereka membaca dan menulis adalah sebuah kebutuhan. Namun sayangnya, masih banyak guru yang menganggap menulis adalah beban dan bukan kebutuhan. Untuk hal ini guru harus berani melawan dirinya sendiri dari kemalasan.

Setiap membaca kalimat ,“namun sayangnya, masih banyak guru yang menganggap manulis adalah beban dan bukan kebutuhan.” Saya merasa kalau saya termasuk golongan guru yang ini. Guru yang menganggap menulis adalah monster yang menakutkan. Saya bukan guru yang rajin membaca apakah saya akan mampu menulis. Tapi saya sudah bertekad melawan kemalasan diri saya sendiri. Sedikit demi sedikit saya akan mulai membaca dan menulis.

Pada penjelasan Om Jay yang keempat yaitu, mereka yang telah mampu menulis dan menerbitkan buku adalah mereka yang melatih dirinya dengan penuh kesabaran. Sebab menulis bukanlah pekerjaan instant. Ada proses yang harus dilalui dari mulai belajar menulis sampai kemudian menerbitkan bukunya. Akankah saya bisa menerbitkan buku? Mimpi kali ya…. setidaknya saya sudah mencoba untuk menulis. Entah nanti tulisan saya betul atau salah, Bagus atau jelek, apapun itu yang penting sudah mencoba.

Dengan susah payah saya menulis apa yang ada di dalam benak saya. Mencoba melawan kemalasan. Walaupun mungkin tak sebagus teman–taman yang lain, karena saya akui masih minim perbendaharaan kata. Mungkin karena jarang membaca buku baru. Buku yang dibaca Cuma buku pelajaran untuk siswa. Cukup di sini dulu tulisan saya Om Jay harap maklum karena saya memang pemula yang masih amatiran. Mohon kritik dan sarannya agar saya bisa menulis lebih baik lagi. Bila ada kesalahan saya dalam tulisan ini saya mohon maaf. Semoga saya bias menulis dan menerbitkan buku. Mohon doanya!

 

Iklan

One response to “Aku Ingin Menulis

  1. bagus sekali tulisannya…
    Jadi tertarik ingin ikut menulis…

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s